ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Volume 1 . Juni 2025, 37-52 ISSN: x-x (Onlin. x-x (Prin. Tersedia online: https://rumahjurnal. id/index. php/arted Respon Generasi Z terhadap Pertunjukan Wayang Orang: Sebuah Kajian Systematic Review atas Preferensi Budaya di Era Digital Shely Faurizkha1*. Agus Cahyono2 Universitas Negeri Semarang. Indonesia1,2 Email: shelyfaurizkha26@students. Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji respons generasi Z terhadap pertunjukan wayang orang dalam konteks budaya digital masa kini. Metode yang digunakan adalah systematic review terhadap 30 artikel ilmiah terbitan 2019Ae2024, dengan pendekatan kualitatif dan analisis Hasil menunjukkan bahwa generasi Z lebih tertarik pada pertunjukan yang menampilkan visual kuat, interaktivitas, dan pengalaman yang personal. Namun, wayang orang dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab ekspektasi mereka yang akrab dengan media Meskipun demikian, peluang pelestarian tetap terbuka melalui strategi digitalisasi, kolaborasi lintas bidang seni, dan pendekatan pendidikan berbasis teknologi. Temuan ini menunjukkan bahwa generasi Z tidak acuh terhadap budaya tradisional, tetapi membutuhkan bentuk penyajian yang lebih kontekstual dan komunikatif. Penelitian ini merekomendasikan inovasi dalam penyajian wayang orang agar tetap relevan dan mampu hidup berdampingan dengan budaya populer di tengah arus modernisasi. Kata Kunci: Generasi Z. Wayang Orang. Digitalisasi Budaya. Tinjauan Sistematis. Abstract: This study aims to examine Generation Z's response to wayang orang performances in the context of today's digital culture. The method used was a systematic review of 30 scientific articles published in 2019-2024, with a qualitative approach and thematic analysis. The results show that generation Z is more interested in performances that feature strong visuals, interactivity, and personalized However, wayang orang is considered not fully able to answer the expectations of those who are familiar with digital media. Nonetheless, preservation opportunities remain open through digitalization strategies, cross-arts collaborations and technology-based educational approaches. The findings show that generation Z is not indifferent to traditional culture, but requires a more contextualized and communicative form of presentation. This research recommends innovations in the presentation of wayang orang to remain relevant and able to coexist with popular culture in the midst of modernization. Keywords: Generation Z. Puppetry. Cultural Digitization. Systematic Review. DOI: 10. 70078/arted. A Penulis. Diterbitkan oleh CV ALFA EDU KARYA. CC BY SA: Artikel ini didistribusikan di bawah ketentuan Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Pendahuluan Wayang orang, sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Indonesia, telah menjadi bagian integral dari warisan budaya yang sangat kaya dan beragam. Dalam pertunjukan wayang orang, unsur-unsur seni drama, tari, dan musik dipadukan secara harmonis untuk menyampaikan cerita-cerita epik, terutama yang berkaitan dengan kisah-kisah dalam Mahabharata dan Ramayana (Karoso dkk. , 2. Wayang orang tidak hanya sekadar bentuk hiburan, melainkan juga sarana pembelajaran moral dan pengajaran kehidupan yang memiliki nilai filosofi yang dalam. Seni ini mengandung pesan tentang kebaikan, keadilan, kebijaksanaan, dan pengorbanan, yang sering kali dihadirkan melalui karakter-karakter dalam cerita yang disuguhkan. Dalam konteks sosial budaya, wayang orang menjadi cermin dari kehidupan masyarakat, yang menggambarkan konflik, nilai-nilai, serta perjuangan antara kebaikan dan kejahatan (Widyastitieningrum & Herdiani, 2. Wayang orang meskipun memiliki kedalaman nilai yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, keberadaannya kini tengah menghadapi tantangan besar. Salah satu tantangan utama adalah penurunan minat dari kalangan generasi muda, terutama generasi Z, yang merupakan kelompok usia yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Generasi Z, sering kali dianggap sebagai generasi yang lebih modern dan cenderung lebih terhubung dengan dunia digital, memiliki cara yang sangat berbeda dalam mengonsumsi hiburan dan informasi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh BPS . , lebih dari 90% generasi Z di Indonesia memiliki akses internet dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka dengan mengakses platform hiburan digital, seperti YouTube. TikTok, dan berbagai media sosial lainnya. Dengan kecenderungan ini, generasi Z lebih memilih hiburan yang bersifat instan, praktis, dan mudah diakses, yang seringkali jauh berbeda dengan pengalaman yang ditawarkan oleh seni tradisional seperti wayang orang. Ketertarikan generasi Z terhadap budaya tradisional cenderung menurun akibat gempuran budaya populer global yang lebih mudah diakses dan relevan dengan gaya hidup mereka. Meskipun begitu, beberapa studi menunjukkan bahwa generasi ini tetap memiliki rasa ingin tahu terhadap budaya lokal, namun membutuhkan pendekatan penyajian yang lebih kreatif dan kontekstual (Cohen, 2019. Kasinathan dkk. , 2. Dalam konteks pertunjukan tradisional seperti wayang orang, hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam membangun keterhubungan emosional dan intelektual antara karya seni dan audiens mudanya. Salah satu contoh konkret yang dapat diamati adalah keberadaan Wayang Orang Ngesti Pandawa di Kota Semarang. Sebagai salah satu kelompok wayang orang legendaris yang berdiri sejak tahun 1937. Ngesti Pandawa pernah mengalami kejayaan sebagai ikon budaya Jawa Tengah. Namun, dalam dua dekade terakhir, kelompok ini mengalami penurunan jumlah penonton, terutama dari kalangan remaja dan dewasa Penelitian yang dilakukan oleh Khawismaya dkk. mencatat bahwa sebagian besar penonton pertunjukan Ngesti Pandawa berasal dari kalangan usia dewasa dan lansia, sedangkan kehadiran generasi muda sangat terbatas. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan generasi dalam apresiasi terhadap pertunjukan tradisional tersebut. Vol. No. Juni 2. 38 Faurizkha & Cahyono Upaya revitalisasi sebenarnya telah dilakukan, seperti melalui pertunjukan tematik, kolaborasi dengan seniman kontemporer, hingga promosi melalui media sosial. Namun demikian, daya tariknya belum sepenuhnya menyentuh karakteristik khas generasi Z yang mengedepankan interaktivitas, visualisasi yang kuat, serta kecepatan dalam penyampaian pesan. Oleh karena itu, penting untuk menelaah bagaimana sebenarnya pola pikir, preferensi, dan bentuk respon generasi Z terhadap pertunjukan seperti wayang orang, apakah mereka melihatnya sebagai artefak budaya yang usang, atau sebagai potensi kreatif yang masih dapat diolah secara inovatif. Penelitian ini menjadi penting dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan memahami respon generasi Z terhadap pertunjukan wayang orang, para pelaku seni, pengelola komunitas budaya, hingga pembuat kebijakan dapat menyusun strategi pelestarian budaya yang lebih relevan dengan zaman. Penelitian ini tidak hanya berfungsi sebagai bentuk dokumentasi terhadap perubahan persepsi generasi muda, tetapi juga sebagai dasar penyusunan langkah-langkah konkret dalam mengomunikasikan kembali nilai-nilai budaya melalui medium seni pertunjukan Penelitian ini berfokus pada respons generasi Z terhadap pertunjukan wayang orang dengan menekankan bagaimana preferensi budaya digital memengaruhi keberterimaan seni tradisional. Keunikan penelitian ini terletak pada pendekatannya yang memadukan metode systematic review dengan perspektif teori resepsi untuk memahami pergeseran selera dan ekspektasi audiens muda terhadap bentuk seni pertunjukan klasik. Penelitian ini mengacu pada reception theory yang menekankan pentingnya pengalaman dan interpretasi audiens dalam membentuk makna sebuah karya seni (Jauss dalam Singh & Pratima, 2. Dalam konteks pertunjukan tradisional, teori ini relevan untuk menganalisis bagaimana persepsi dan ekspektasi penonton modern, khususnya generasi Z, memengaruhi makna dan keberterimaan pertunjukan seperti wayang orang. Berdasarkan latar belakang, tujuan penelitian ini untuk menganalisis secara sistematis berbagai studi yang membahas respons generasi Z terhadap pertunjukan wayang orang, serta merumuskan rekomendasi strategis yang dapat digunakan oleh pelaku seni, lembaga budaya, dan pembuat kebijakan dalam mengembangkan pendekatan pertunjukan tradisional yang adaptif, relevan, dan berkelanjutan di tengah perubahan zaman. Metode Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis berbagai hasil penelitian terdahulu terkait respons generasi Z terhadap pertunjukan wayang Pemilihan metode ini tidak hanya bertujuan untuk menggambarkan tren penelitian sebelumnya, melainkan juga untuk menelaah lebih dalam mengenai temuan utama, kecenderungan preferensi audiens muda, serta tantangan dan peluang pelestarian seni tradisional dalam konteks budaya digital. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat merumuskan pola-pola temuan dari berbagai studi sebagai dasar untuk menyusun kesimpulan dan rekomendasi berbasis bukti. Vol. No. Juni 2025 | 39 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Data dikumpulkan melalui penelusuran literatur dalam rentang tahun 2019Ae2024 pada beberapa database akademik, yakni Google Scholar. SINTA. DOAJ, dan ResearchGate. Kata kunci yang digunakan meliputi: wayang orang, generasi Z, seni pertunjukan tradisional, digitalisasi budaya, dan preferensi audiens muda. Penelusuran ini difokuskan pada publikasi yang memiliki keterkaitan langsung dengan topik Dari 57 artikel yang ditemukan pada tahap awal, sebanyak 30 artikel dipilih sebagai sampel akhir setelah melalui proses seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan Kriteria inklusi meliputi artikel yang membahas generasi Z dalam konteks seni pertunjukan atau budaya digital, ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris, serta dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terakreditasi selama periode 2019Ae2024. Sementara itu, kriteria eksklusi mencakup artikel yang tidak tersedia secara penuh . ull tex. , tidak melalui proses peer-review, hanya berupa opini, esai, dan editorial tanpa dasar metodologis yang jelas. Analisis data dilakukan dengan membaca secara mendalam setiap artikel untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul, seperti minat generasi Z terhadap seni tradisi, tantangan pelestarian budaya di tengah arus digital, dan strategi penyajian yang relevan dengan karakteristik audiens muda. Artikel dianalisis secara komparatif untuk menemukan pola-pola umum, perbedaan pendekatan, serta kontribusi teoritis yang dapat memperkuat pemahaman mengenai posisi wayang orang di tengah dinamika budaya kontemporer. Langkah ini dilakukan untuk membangun narasi yang menyeluruh tentang respons generasi Z serta peluang dan hambatan dalam menjaga eksistensi wayang orang di era digital. Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons generasi Z terhadap pertunjukan wayang orang di era digital sangat kompleks dan multidimensional, mencerminkan beragam dinamika sosial, budaya, dan teknologi yang membentuk preferensi mereka. Respons ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor media penyampaian seperti platform digital dan media sosial, tetapi juga oleh bagaimana nilai-nilai budaya dikomunikasikan serta sejauh mana strategi pelestarian seni tradisional disesuaikan dengan karakteristik generasi muda. Media digital, seperti YouTube. Instagram, dan TikTok, menjadi medium utama bagi generasi Z dalam mengakses informasi dan hiburan, termasuk konten Dalam konteks ini, cara pertunjukan wayang orang dikemas menjadi sangat krusial, mulai dari pemilihan narasi yang relatable, visualisasi yang menarik, hingga adanya ruang partisipasi audiens yang lebih besar. Preferensi budaya generasi Z terhadap pertunjukan tradisional seperti wayang orang mengalami pergeseran yang signifikan, yang tidak lepas dari dampak globalisasi, digitalisasi, serta perubahan gaya hidup yang menuntut segalanya serba cepat dan Keterbatasan waktu, banyaknya pilihan hiburan alternatif, serta dominasi budaya populer global menjadikan seni tradisional berada dalam posisi yang semakin terpinggirkan di ruang keseharian mereka. Namun, penelitian oleh DIbrowski & orodaMurawska . menunjukkan bahwa meskipun globalisasi mendorong homogenisasi budaya, terdapat keinginan di kalangan generasi Z untuk mempertahankan identitas Vol. No. Juni 2. 40 Faurizkha & Cahyono budaya lokal melalui aktivitas yang bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, seni tradisional masih memiliki tempat di hati generasi muda. Menariknya, temuan juga menunjukkan bahwa ada segmen dari generasi Z yang justru memiliki rasa ingin tahu dan minat yang tinggi terhadap budaya lokal, termasuk wayang orang, terutama bila pertunjukan tersebut dikemas secara kreatif dan Penelitian Nor dkk. memperkuat temuan ini dengan menyoroti bahwa generasi Z memiliki kecenderungan kuat terhadap bentuk seni yang bersifat lintas-media dan mendukung kebebasan ekspresi visual, seperti yang tercermin dalam tren pameran seni internasional yang menampilkan kolaborasi antara tradisi dan teknologi digital. Generasi Z cenderung tertarik pada karya seni yang dapat diinterpretasikan secara personal dan memiliki relevansi terhadap isu kontemporer, yang dalam konteks wayang orang dapat diwujudkan melalui narasi modern dan pendekatan visual yang segar. Fitria . menekankan bahwa pertunjukan Wayang Orang Sriwedari di Surakarta mampu menarik minat generasi muda ketika dikemas dengan pendekatan yang sesuai dengan selera dan kebutuhan mereka, seperti penggunaan media sosial dan penyajian yang lebih interaktif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa dengan strategi yang tepat, seni tradisional dapat tetap relevan di era digital. Pendekatan yang menggabungkan unsur-unsur modern seperti penggunaan teknologi augmented reality, pementasan dalam format film pendek, atau integrasi dengan genre musik popular terbukti mampu membangun kembali daya tarik wayang orang di mata generasi muda. Hubert & Santyaputri . menunjukkan bahwa penggunaan media film pendek dalam menyajikan tarian wayang orang dapat meningkatkan kepekaan generasi muda terhadap seni tradisional, sekaligus menjembatani kesenjangan antara generasi tua dan muda dalam memahami nilai-nilai Selain itu, keterlibatan generasi Z dalam proses kreatif, misalnya sebagai konten kreator, penonton aktif, atau bahkan pelaku pertunjukan menjadi faktor penting dalam menumbuhkan sense of ownership dan afiliasi budaya (Cohen, 2019. Kasinathan , 2. Pelestarian seni tradisional di era digital tidak bisa hanya berfokus pada konservasi bentuk, tetapi juga harus memperhatikan cara-cara baru dalam membangun koneksi emosional dan sosial antara generasi muda dengan warisan budaya tersebut. Taiman . menekankan pentingnya nilai-nilai edukatif dalam pertunjukan wayang wong Cirebon sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan budaya kepada generasi muda, sehingga mereka tidak hanya menjadi penonton pasif tetapi juga memahami makna di balik pertunjukan tersebut. Beberapa studi mencatat bahwa generasi Z memiliki kecenderungan rendah dalam mengakses pertunjukan tradisional secara langsung karena lebih menyukai bentuk hiburan visual yang cepat, interaktif, dan instan, seperti video singkat yang beredar luas di media sosial (Asrita dkk. , 2022. Harahap dkk. , 2. Karakteristik media sosial yang serba cepat dan mudah dikonsumsi sangat sesuai dengan gaya hidup generasi ini yang tumbuh di tengah derasnya arus digital. Akibatnya, pertunjukan konvensional seperti wayang orang yang bersifat panjang, formal, dan membutuhkan konsentrasi tinggi, menjadi kurang menarik bagi mereka yang terbiasa dengan hiburan berdurasi singkat Vol. No. Juni 2025 | 41 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni dan sarat visual. Namun, penelitian oleh De la Vega dkk. menunjukkan bahwa keterbatasan akses dan kurangnya promosi yang efektif juga menjadi faktor yang mempengaruhi rendahnya minat generasi muda terhadap pertunjukan seni tradisional. Oleh karena itu, strategi pemasaran yang tepat sangat diperlukan untuk menjangkau audiens muda. Perkembangan teknologi digital, juga justru membuka ruang baru bagi pelestarian kesenian tradisional, termasuk wayang orang. Upaya digitalisasi dan adaptasi konten seni ke dalam platform-platform modern mulai menunjukkan hasil yang Chen . dalam penelitiannya menyoroti pentingnya inovasi produk budaya dalam industri seni pertunjukan untuk tetap relevan di tengah persaingan global, termasuk melalui kolaborasi dengan teknologi dan media digital. Sintawati & Yasfin . menekankan bahwa media digital, terutama YouTube dan Instagram, tidak hanya menjadi kanal penyebaran informasi, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan emosional antara generasi muda dan nilai-nilai budaya lokal. Melalui konten kreatif seperti video dokumenter pendek, cuplikan pertunjukan, atau behind-thescenes pementasan, nilai-nilai budaya yang terkandung dalam wayang orang dapat dikemas secara menarik dan relevan dengan minat generasi Z. Senada dengan itu. Dhiana & Hermawati . menyoroti strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta dalam meningkatkan minat kunjungan ke pertunjukan Wayang Orang Sriwedari melalui media sosial dan kampanye digital yang terarah. Nugroho dkk. juga menunjukkan bahwa akun Instagram resmi milik Wayang Orang Sriwedari memiliki pengaruh signifikan dalam menumbuhkan kembali minat dan rasa cinta terhadap seni tradisional di kalangan anak muda. Tidak hanya menampilkan visual pertunjukan yang estetik, akun tersebut juga aktif mengedukasi pengikutnya tentang tokoh-tokoh wayang, cerita pewayangan, hingga makna filosofis yang terkandung dalam tiap Interaktivitas media sosial, seperti fitur komentar, polling, atau sesi live streaming, memungkinkan generasi Z merasa terlibat langsung dalam dinamika pelestarian budaya, bukan sekadar sebagai penonton pasif. Suandita dkk. menekankan bahwa peran generasi Z dalam melestarikan budaya tradisional sangat penting, terutama dalam era Society 5. 0 yang menuntut integrasi antara teknologi dan budaya. Dengan demikian, media digital menjadi ruang baru yang potensial untuk membentuk ulang cara generasi muda berinteraksi dan mengapresiasi seni tradisional, asalkan dikelola dengan pendekatan yang kreatif, strategis, dan inklusif. Dalam konteks strategi pertunjukan, berbagai penelitian menegaskan bahwa inovasi dalam bentuk artistik bukan hanya sekadar pelengkap, melainkan menjadi elemen krusial yang mampu menjembatani jarak antara nilai-nilai tradisi dan minat estetika generasi Z. Generasi ini hidup di tengah era hiper-digital, di mana ekspektasi terhadap pertunjukan tidak lagi terbatas pada penyampaian naratif, tetapi juga mencakup pengalaman visual, interaktif, dan emosional yang lebih intens. Widyastitieningrum & Herdiani . serta Dewanggi dkk. menyatakan bahwa revitalisasi pertunjukan wayang orang dapat dilakukan melalui berbagai strategi artistik seperti eksplorasi koreografi yang lebih dinamis, integrasi multimedia dalam Vol. No. Juni 2. 42 Faurizkha & Cahyono pementasan, serta adaptasi alur cerita dengan isu-isu kontemporer yang relevan dengan realitas sosial anak muda masa kini, misalnya isu lingkungan, identitas gender, atau kecemasan digital. Pendekatan ini tidak hanya menyegarkan tampilan visual dan naratif, tetapi juga memperluas daya jangkau pertunjukan ke kelompok audiens yang lebih beragam. Ruastiti dkk. dalam penelitiannya tentang pertunjukan Wayang Wong Bali selama pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa adaptasi terhadap situasi krisis dengan memanfaatkan teknologi digital dapat menjadi solusi untuk tetap menjaga eksistensi seni tradisional. Kasinathan dkk. memberikan contoh konkret bagaimana penggunaan teknologi seperti augmented reality (AR) dalam pertunjukan wayang kulit dapat mengubah pengalaman menonton menjadi lebih imersif dan menyenangkan. Teknologi ini memungkinkan penonton untuk melihat tokoh-tokoh pewayangan secara tiga dimensi melalui perangkat digital mereka, menciptakan pengalaman yang lebih dekat dengan kebiasaan konsumsi visual generasi Z. Inovasi serupa berpotensi besar untuk diadopsi oleh pertunjukan wayang orang sebagai bagian dari strategi digitalisasi seni Misalnya, penggunaan AR untuk memperlihatkan latar kerajaan yang hidup atau efek visual magis dalam adegan peperangan dapat membangkitkan kembali daya tarik dan keterlibatan audiens muda yang terbiasa dengan dunia gim dan efek Penelitian Cohen . dan Yun . memperkuat pentingnya integrasi teknologi dalam penyajian kesenian tradisional dengan menyoroti peran digitalisasi sebagai medium transformasi budaya. Cohen menyebut konsep Aurefleksivitas tradisionalAy sebagai bentuk kemampuan tradisi untuk beradaptasi dengan konteks zaman tanpa kehilangan akar budayanya, dan menyatakan bahwa wayang, termasuk wayang orang, memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari jaringan budaya global melalui digitalisasi. Artinya, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam wayang tetap bisa disebarkan secara luas dan lintas generasi dengan pendekatan yang lebih modern dan Yun . meneliti penggunaan pengalaman bermain berbasis lokasi . ocation-based cultural gamin. yang menggabungkan teknologi, budaya lokal, dan elemen interaktif untuk membentuk keterikatan emosional antara budaya dan generasi digital. Pendekatan ini tidak hanya menyajikan budaya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai pengalaman yang dapat diakses, dijelajahi, dan dimaknai secara personal oleh pengguna muda. Hal ini membuka kemungkinan baru bagi pertunjukan wayang orang untuk tidak lagi sekadar hadir di atas panggung, tetapi juga merambah ke dunia virtual dan ruang-ruang digital yang menjadi habitat keseharian generasi Z. Dengan demikian, inovasi dalam strategi pertunjukan bukan hanya soal adaptasi bentuk, tetapi juga tentang bagaimana membangun kembali hubungan emosional, intelektual, dan estetis antara generasi muda dan seni pertunjukan tradisional di tengah tantangan era digital. Dalam konteks ini. Rifanza dkk. menemukan bahwa keterlibatan generasi Z dalam kesenian tradisional seperti arak-arakan Kuntau meningkat ketika nilai-nilai lokal dikaitkan dengan identitas komunitas dan pengalaman hidup mereka. Hal ini menunjukkan bahwa generasi Z lebih merespons pertunjukan yang memberikan Vol. No. Juni 2025 | 43 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni makna personal dan sosial, bukan sekadar tampilan visual semata. Temuan ini mempertegas bahwa keberhasilan pertunjukan wayang orang di era digital juga bergantung pada seberapa dalam keterhubungan budaya itu dengan keseharian dan nilai-nilai generasi muda. Respon positif generasi Z terhadap seni pertunjukan tradisional semakin terlihat ketika pendekatan yang dilakukan melalui pendidikan, terutama yang mengintegrasikan metode pembelajaran kontekstual dan berbasis proyek. Pendekatan ini memberi ruang bagi generasi muda untuk melihat seni tradisional tidak hanya sebagai subjek akademis, tetapi sebagai pengalaman yang relevan dan aplikatif dalam kehidupan mereka. Nugraheni dkk. menunjukkan bahwa penggunaan media wayang beber sebagai alat pembelajaran berbasis karakter, yang menggabungkan cerita pewayangan dengan pengembangan nilai-nilai karakter seperti kejujuran, keberanian, dan kebijaksanaan, mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dengan demikian, seni tradisional seperti wayang, berfungsi sebagai alat untuk mengasah kecerdasan kognitif dan moral siswa, serta membuka pemahaman mereka terhadap nilai-nilai kehidupan yang relevan dengan konteks sosial mereka. Penelitian lokal yang dilakukan di Semarang, seperti yang dipaparkan oleh Khawismaya dkk. mencatat bahwa pertunjukan Wayang Orang Ngesti Pandawa menghadapi tantangan signifikan dalam mempertahankan penonton muda. Meskipun begitu, ketika pertunjukan tersebut diberi ruang di media digital dan diintegrasikan dalam konteks pembelajaran sekolah, respons dari generasi Z cenderung lebih positif. Media digital, dengan kemampuannya untuk menghadirkan pertunjukan dalam format yang lebih interaktif, mengurangi hambatan jarak dan waktu yang sering menjadi kendala dalam mengakses pertunjukan tradisional. Hal ini diperkuat oleh temuan dari Putra dkk. , yang menunjukkan bahwa event seperti Pekan Wayang Jawa Timur berhasil menarik minat generasi muda karena disertai dengan promosi digital yang luas, serta pendekatan interaktif seperti sesi tanya jawab dan pembuatan konten TikTok yang memungkinkan audiens untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan tersebut. Membahas dari sisi motivasi. Zulaili dkk. dan Dewi dkk. menggarisbawahi pentingnya keterlibatan emosional dan rasa memiliki terhadap budaya sebagai faktor pendorong utama dalam partisipasi generasi Z terhadap seni pertunjukan tradisional. Ketika kesenian seperti wayang orang dikaitkan dengan identitas lokal dan kebanggaan budaya, partisipasi generasi muda cenderung Generasi Z cenderung lebih terbuka terhadap bentuk seni yang dapat memberikan mereka rasa identitas dan kebanggaan, yang menyentuh aspek-aspek personal dan emosional mereka. Namun demikian, tidak sedikit pula studi yang menunjukkan adanya jarak antara generasi Z dan budaya tradisional. Penelitian oleh (Ayanti dkk. , 2022. Jantin dkk. , 2022. Risky dkk. , 2. menunjukkan bahwa persepsi generasi Z terhadap budaya tradisional sering kali terbatas pada nilai historis semata, tanpa keterhubungan personal yang kuat. Mereka melihat budaya tradisional sebagai warisan masa lalu yang tidak lagi relevan dengan dinamika kehidupan modern mereka yang cepat berubah. Menariknya, beberapa studi menunjukkan bahwa pendekatan interdisipliner yang menggabungkan budaya, psikologi, dan teknologi dapat membuka jalan baru dalam Vol. No. Juni 2. 44 Faurizkha & Cahyono memperkuat pelestarian budaya dan mempertemukan seni tradisional dengan kebutuhan emosional dan psikologis generasi Z. Zafila & Purnairawan . menemukan bahwa budaya lokal seperti wayang dapat digunakan sebagai media pemulihan trauma pada generasi muda. Dalam konteks ini, kesenian tradisional tidak hanya dipandang sebagai warisan yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai alat yang dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan pribadi dan kesejahteraan mental generasi Z. Penggunaan seni tradisional dalam konteks penyembuhan atau pengembangan diri, misalnya melalui terapi seni, dapat menjadi pintu masuk yang strategis untuk mengaitkan budaya dengan kebutuhan aktual generasi muda yang sering kali menghadapi tekanan psikologis dan emosional akibat gaya hidup modern yang serba cepat dan penuh tantangan. Pendekatan ini tidak hanya membuka peluang untuk revitalisasi budaya, tetapi juga menawarkan dimensi baru dalam pelestarian budaya yang lebih adaptif dan relevan dengan zaman. Dengan menghubungkan seni tradisional dengan kebutuhan emosional dan psikologis generasi Z, serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana ekspresi dan interaksi, kita dapat menciptakan ruang di mana seni tradisional tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan menginspirasi generasi muda. Secara keseluruhan, hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan pelestarian pertunjukan wayang orang di era digital sangat bergantung pada kemampuan adaptasi dan inovasi dalam penyajian. Interaktivitas, digitalisasi, pendidikan kontekstual, hingga pendekatan psikologis menjadi kunci utama dalam membentuk respon positif generasi Z terhadap kesenian tradisional ini. Studi-studi yang ditelaah memberikan bukti bahwa generasi Z tidak sepenuhnya menolak budaya tradisional, namun mereka membutuhkan medium yang lebih kontekstual, partisipatif, dan sesuai dengan karakteristik mereka sebagai generasi digital-native. Pembahasan Hasil temuan menunjukkan bahwa generasi Z memiliki relasi yang kompleks terhadap seni tradisional: terdapat ketertarikan, sekaligus hambatan dalam konsumsi budaya Temuan ini memperkaya pemahaman tentang bagaimana pelestarian budaya perlu menyesuaikan pendekatan dengan karakteristik generasi digital. Pembahasan ini akan dibagi menjadi tiga sub bagian: . ketertarikan generasi Z terhadap seni tradisi, . tantangan pelestarian budaya, dan . strategi penyajian yang efektif. Ketertarikan Generasi Z Terhadap Seni Tradisi Meskipun gaya hidup cepat dan instan mendominasi keseharian generasi Z, sebagian dari mereka menunjukkan ketertarikan terhadap seni tradisi seperti wayang orang. Ketertarikan ini muncul terutama ketika pertunjukan dikemas secara kontekstual dan Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa media digital seperti YouTube. Instagram, dan TikTok menjadi gerbang utama mereka dalam mengenal seni tradisional (Cohen, 2019. Kasinathan dkk. , 2. Penggunaan media ini mampu menjembatani jarak antara generasi muda dengan pertunjukan tradisional yang sebelumnya dianggap kuno atau membosankan. Vol. No. Juni 2025 | 45 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Respon positif juga ditunjukkan ketika wayang orang dikaitkan dengan isu-isu yang dekat dengan kehidupan generasi muda, seperti identitas, lingkungan, dan relasi Ini memperkuat temuan Nugroho dkk. dan Yun . yang menekankan pentingnya relevansi emosional dan sosial dalam membangun keterikatan dengan Wayang orang tidak hanya dilihat sebagai warisan, tetapi sebagai ekspresi yang bisa berbicara tentang masa kini. Lebih jauh, adaptasi pertunjukan ke dalam format digital maupun kolaborasi lintas genre menjadi kunci dalam menarik perhatian generasi ini. Misalnya, kolaborasi antara pertunjukan wayang orang dengan musik modern, tari kontemporer, atau narasi sinematik terbukti mampu menarik minat lebih luas dan memperluas basis audiens. Generasi Z yang tumbuh dalam budaya visual dan narasi singkat sangat mengapresiasi bentuk penyampaian yang kreatif dan komunikatif. Dengan demikian, seni tradisional mengalami transformasi bukan hanya dalam bentuk penyajiannya, tetapi juga dalam makna dan cara penyampaiannya. Generasi Z juga mulai melihat seni tradisi sebagai sarana refleksi diri dan pencarian jati diri budaya. Di tengah derasnya arus globalisasi, sebagian dari mereka justru menemukan rasa kebanggaan ketika mampu memahami atau bahkan terlibat langsung dalam pelestarian seni tradisi. Hal ini mengindikasikan adanya potensi regenerasi penikmat maupun pelaku seni tradisional jika pendekatan yang digunakan mampu menyentuh dimensi personal dan sosial mereka. Tantangan Pelestarian Budaya Meski menunjukkan ketertarikan, generasi Z juga menghadapi hambatan dalam mengakses seni tradisional. Gaya hidup serba cepat, dominasi budaya populer, dan terbatasnya eksposur terhadap seni tradisi menjadi tantangan utama. Pertunjukan yang panjang, formal, dan membutuhkan konsentrasi tinggi sering kali dianggap tidak sesuai dengan preferensi visual dan durasi singkat yang biasa mereka konsumsi (Asrita dkk. Harahap dkk. , 2. Pola konsumsi konten yang instan melalui platform seperti TikTok dan Instagram Reels menyebabkan berkurangnya ketertarikan terhadap sajian seni tradisi yang memerlukan waktu, ruang, dan kedalaman apresiasi. Persepsi generasi Z terhadap seni tradisional sering kali terbatas pada aspek historis semata, tanpa koneksi emosional yang kuat (Jantin dkk. , 2022. Risky dkk. , 2. Seni tradisional dianggap sebagai sesuatu yang "milik masa lalu", bukan bagian dari realitas Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan pemaknaan antara nilai-nilai budaya dengan kehidupan generasi muda. Ketika budaya hanya diperkenalkan dalam bentuk hafalan atau formalitas, maka peluang untuk membangun kedekatan emosional dan makna personal menjadi kecil. Padahal, generasi Z cenderung mencari makna yang bersifat personal dan kontekstual dalam setiap aktivitas yang mereka lakukan. Minimnya ruang edukasi budaya di lingkungan keluarga, sekolah, maupun media arus utama juga memperburuk kondisi ini. Kegiatan kebudayaan seringkali tidak mendapatkan tempat strategis dalam sistem pendidikan formal, dan tidak pula secara masif hadir di media populer. Akibatnya, kesenjangan akses dan informasi tentang seni tradisi semakin melebar. Kalaupun tersedia, sajian yang diberikan cenderung normatif dan kurang mampu berinteraksi dengan realitas hidup generasi muda. Vol. No. Juni 2. 46 Faurizkha & Cahyono Pelestarian tidak hanya soal konservasi bentuk, tetapi juga harus menjawab kebutuhan emosional, psikologis, dan eksistensial generasi digital-native. Pendekatan yang lebih humanistik dan partisipatif diperlukan, di mana generasi muda tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga dapat berperan sebagai kreator, kurator, dan inovator dalam praktik kebudayaan. Hal ini menuntut adanya sinergi antara pelaku seni, pendidik, pembuat kebijakan, dan platform digital untuk menciptakan ekosistem budaya yang hidup, dinamis, dan relevan dengan zaman. Dengan memahami tantangan ini secara menyeluruh, upaya pelestarian budaya tidak lagi sebatas mempertahankan bentuk-bentuk lama, melainkan mentransformasikannya menjadi ruang dialog lintas generasi yang memberi tempat bagi kreativitas dan identitas baru tanpa kehilangan akar budayanya. Strategi Penyajian yang Efektif Inovasi menjadi kunci utama dalam menjembatani pertunjukan wayang orang dengan generasi Z. Penggunaan teknologi seperti augmented reality (AR), virtual reality (VR), format film pendek, integrasi multimedia, serta adaptasi cerita menjadi pendekatan strategis yang sangat efektif (Kasinathan dkk. , 2024. Widyastitieningrum & Herdiani. Ketika pertunjukan dipadukan dengan efek visual, tata cahaya modern, hingga narasi yang dikemas secara sinematik, wayang orang mampu menarik perhatian audiens muda yang terbiasa dengan estetika digital dan pengalaman visual yang Dengan demikian, pertunjukan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengalaman yang interaktif dan emosional, yang membangun kedekatan antara penonton dan konten budaya secara lebih dalam. Adaptasi cerita menjadi aspek lain yang tak kalah penting. Wayang orang yang mengangkat isu-isu kontemporer seperti perubahan iklim, kesetaraan gender, atau dinamika sosial anak muda, dinilai lebih relevan oleh generasi Z. Hal ini menciptakan ruang untuk reinterpretasi nilai-nilai tradisional ke dalam bahasa yang dapat dipahami oleh audiens masa kini, tanpa menghilangkan esensi budaya yang melekat pada seni pertunjukan tersebut. Pendekatan pendidikan juga menjadi jalur penting dalam membangun apresiasi Metode pembelajaran berbasis proyek dan karakter melalui wayang mampu mengembangkan empati, berpikir kritis, serta memperkuat afiliasi budaya sejak dini (Nugraheni dkk. , 2. Misalnya, melalui pementasan sederhana atau analisis karakter wayang di kelas, siswa tidak hanya memahami nilai-nilai moral, tetapi juga belajar mengekspresikan dirinya melalui medium seni. Dalam jangka panjang, strategi ini akan memperkuat ketahanan budaya dengan membangun keterikatan emosional dan intelektual terhadap warisan tradisional sejak usia sekolah. Temuan ini sejalan dengan teori refleksivitas tradisional (Cohen, 2. , yang menyatakan bahwa tradisi harus mampu bertransformasi mengikuti konteks zaman agar tetap relevan. Tradisi yang kaku dan tidak terbuka terhadap perubahan cenderung kehilangan maknanya di mata generasi baru. Sebaliknya, tradisi yang fleksibel, adaptif, dan mampu berdialog dengan realitas kontemporer akan lebih mudah diterima dan diwariskan secara berkelanjutan. Vol. No. Juni 2025 | 47 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Pendekatan interdisipliner seperti yang ditawarkan oleh Zafila & Purnairawan . membuka peluang bahwa seni tradisional dapat digunakan sebagai media terapi, refleksi diri, hingga alat penguatan identitas generasi muda. Dalam dunia yang kerap membingungkan secara sosial dan emosional, pertunjukan wayang orang bisa menjadi ruang aman bagi anak muda untuk mengeksplorasi nilai, makna hidup, serta membangun narasi personal yang bersumber dari akar budaya mereka sendiri. Dengan demikian, strategi penyajian yang efektif harus mencakup tiga pilar utama: inovasi teknologi, kontekstualisasi naratif, dan integrasi pendidikan. Ketiga pendekatan ini berpotensi besar tidak hanya untuk mempertahankan eksistensi seni tradisional, tetapi juga menjadikannya sebagai kekuatan kultural yang relevan, dinamis, dan bermakna bagi generasi muda Indonesia. Desain penelitian systematic review memungkinkan peneliti menggabungkan berbagai perspektif empiris yang kaya dari sejumlah studi yang relevan. Pendekatan ini memberikan fondasi teoritis dan praktis yang kuat, serta memperkuat validitas temuan dengan mengeliminasi bias individual melalui analisis lintas sumber. Selain itu, systematic review berkontribusi dalam menyusun gambaran menyeluruh mengenai respons generasi Z terhadap pertunjukan seni tradisional, khususnya wayang orang, dengan merangkum tren, pola, dan kecenderungan dari berbagai konteks sosial dan Pendekatan ini juga memiliki keterbatasan inheren, terutama dalam hal ketergantungan terhadap ketersediaan data sekunder. Karena tidak melakukan pengumpulan data primer, penelitian ini tidak dapat menangkap dinamika kontekstual secara mendalam, termasuk nuansa lokal, pengalaman personal, maupun narasi individu yang bersifat emosional dan subjektif. Studi ini belum menggali secara langsung persepsi atau pengalaman hidup generasi Z dalam berinteraksi dengan seni Padahal, dimensi afektif seperti kedekatan emosional, ingatan budaya, dan pengalaman estetis bersifat sangat penting dalam memahami keterlibatan mereka secara utuh. Secara praktis, temuan dari studi ini memberikan sejumlah rekomendasi bagi pelaku seni, pendidik, dan pembuat kebijakan budaya. Pertama, penting untuk mengintegrasikan teknologi dalam penyajian seni tradisional secara kreatif dan adaptif. Digitalisasi harus diarahkan untuk memperluas akses, meningkatkan interaktivitas, dan memperhatikan karakteristik media sosial yang digemari generasi Z, seperti visual yang menarik, narasi ringkas, dan format partisipatif. Kedua, pelestarian seni tradisional perlu melibatkan generasi muda secara aktif, tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai bagian dari proses penciptaan, kurasi, dan diseminasi. Ketiga, sektor pendidikan harus memainkan peran strategis dengan mengembangkan metode pembelajaran berbasis proyek, karakter, dan nilai budaya yang kontekstual agar keterikatan dengan budaya lokal dapat ditanamkan sejak usia dini. Secara teoretis, studi ini menguatkan pentingnya pendekatan adaptif dalam pelestarian budaya dan memperluas cakupan teori refleksivitas tradisional ke dalam ranah digital. Tradisi tidak boleh dipandang sebagai entitas statis yang hanya perlu dilestarikan dalam bentuk aslinya, melainkan sebagai ruang dinamis yang dapat berdialog dengan zaman, berevolusi, dan merespons perubahan sosial maupun Vol. No. Juni 2. 48 Faurizkha & Cahyono Studi ini juga membuka jalan untuk pembacaan baru terhadap praktik budaya tradisional sebagai bentuk interaksi sosial yang terus berkembang seiring waktu dan media. Untuk penelitian selanjutnya, pendekatan kualitatif sangat disarankan guna menggali lebih dalam dimensi personal dan subjektif generasi Z dalam memaknai seni Wawancara mendalam, observasi partisipatif, atau studi naratif dapat digunakan untuk menangkap pengalaman, motivasi, serta hambatan aktual yang mereka hadapi. Selain itu, eksplorasi terhadap penggunaan teknologi imersif seperti virtual reality atau interactive performance dalam pertunjukan seni tradisional menjadi area yang menjanjikan, terutama dalam konteks menciptakan pengalaman budaya yang mendalam dan berkesan. Penelitian juga dapat difokuskan pada analisis kebijakan pendidikan budaya di sekolah formal dan informal, untuk melihat sejauh mana regulasi dan praktik di lapangan mampu mendorong generasi muda agar lebih terlibat aktif dalam pelestarian seni tradisi. Kesimpulan Temuan utama menunjukkan bahwa generasi Z memiliki preferensi yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dan gaya hidup digital, di mana media sosial dan inovasi digital menjadi kunci dalam menarik minat mereka terhadap seni tradisional. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam bidang studi budaya dan seni pertunjukan dengan menegaskan peran digitalisasi sebagai jembatan antara tradisi dan generasi Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan dalam praktik pelestarian budaya melalui pengembangan media dan metode penyajian pertunjukan yang lebih interaktif dan sesuai dengan kebutuhan audiens modern. Namun, keterbatasan penelitian ini terletak pada penggunaan data sekunder dan fokus studi lokal yang mungkin membatasi generalisasi hasil. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan data primer yang lebih luas dan metode campuran sangat dianjurkan untuk memperdalam pemahaman ini. Penelitian selanjutnya juga dapat mengeksplorasi dampak teknologi digital dalam konteks yang lebih spesifik, seperti intervensi pendidikan atau terapi berbasis seni. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan pentingnya adaptasi seni tradisional dalam menghadapi perkembangan zaman dan memberikan harapan bahwa kolaborasi antara budaya dan teknologi dapat menjaga keberlangsungan warisan budaya bagi generasi mendatang. Referensi