EDUPEDIKA Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran https://journal. id/index. php/edupedika DOI: Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 ISSN 2829-4319 ETNOMATEMATIKA DALAM PERDAGANGAN TRADISIONAL KAIN TENUN DESA SUKARARA. KABUPATEN LOMBOK TENGAH Heti Septiana1*. Raehana Qolbi2. Nurmala Andika Aysah3 1,2,3 Pendidikan Matematika. Universitas Mataram Corresponding Author: hetiseptiana1306@gmail. Kata Kunci: Etnomatematika. Budaya. Kain Tenun. Perdagangan. Abstrak: Budaya lokal sering menjadi wadah berkembangnya konsep-konsep ilmu pengetahuan, termasuk matematika. Salah satunya tercermin dalam praktik perdagangan tradisional di masyarakat. Aktivitas sehari-hari yang dilakukan mengandung unsur matematis yang kaya namun sering tidak disadari. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan konsep matematika dalam aktivitas perdagangan tradisional kain tenun di Sukarara. Lombok Tengah khususnya pada penerapan konsep perbandingan, aritmatika sosial, dan prinsip ekonomi mikro yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Metode penelitian yang digunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah menggunakan data hasil wawancara, observasi, dokumentasi dan kajian literatur. Hasil pada penelitian menunjukkan bahwa pada aktivitas perdagangan kain tenun di Sukarara ini melibatkan konsep perbandingan harga berdasarkan ukuran, motif, kualitas, dan lama pengerjaan kain tenun. Penggunaan aritmatika sosial dalam tawar menawar harga, dan pemberian diskon oleh penjual, serta penerapan konsep ekonomi mikro terkait dengan permintaan dan penawaran. Matematika telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya perdagangan tradisional, dan dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran matematika berbasis etnomatematika. Keywords: Ethnomathematics. Culture. Woven Fabric. Trading Abstract: Local culture often serves as a foundation for the development of scientific concepts, including mathematics. One such manifestation is found in traditional trade practices within society. Daily activities are rich in mathematical elements, although they are often unnoticed. This study aims to examine the application of mathematical concepts in traditional woven cloth trading activities in Sukarara. Central Lombok, particularly in relation to the concepts of ratio, social arithmetic, and microeconomic principles practiced by the local community. The research method employed is qualitative research with an ethnographic approach. Data collection in this study involves interviews, observations, documentation, and literature reviews. The results indicate that woven cloth trading activities in Sukarara incorporate the concepts of price comparison based on size, motif, quality, and the length of time required to produce the woven cloth. the use of social arithmetic in price offers and discounts by and the application of microeconomic concepts related to supply and demand. Mathematics has become an inseparable part of traditional trading culture and can serve as a source for ethnomathematics-based mathematics learning. PENDAHULUAN Budaya menjadi identitas yang membedakan satu komunitas dari komunitas lainnya, yang mencakup bahasa, kuliner, adat istiadat, kepercayaan, serta pola hidup yang diwariskan dan dipraktikkan secara kolektif. Setiap daerah di Indonesia memiliki kekayaan seni dan budaya yang beragam, yang meliputi berbagai dimensi kehidupan seperti nilai dan norma sosial, agama, ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan estetika, struktur sosial, hingga sistem ekonomi yang terlihat dari cara masyarakat memenuhi kebutuhan hidup melalui kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 (Hasan, 2. Indonesia sendiri dikenal sebagai negara yang kaya akan warisan budaya, salah satunya adalah kerajinan kain tenun tradisional yang ada di Sukarara. Lombok Tengah. NTB. Kain tenun tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga menjadi bagian dari praktik ekonomi masyarakat disana termasuk dalam perdagangan tradisional (Febriantini, 2. Pendidikan berbasis budaya lokal menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter peserta didik di tengah tantangan globalisasi saat Integrasi budaya lokal dalam proses pembelajaran tidak hanya memperkuat identitas budaya peserta didik, tetapi juga meningkatkan relevansi materi yang diajarkan dengan kehidupan nyata mereka (Murdiono, 2. Salah satu pendekatan yang efektif dalam mengaitkan budaya lokal dengan pembelajaran adalah etnomatematika, yaitu kajian yang meneliti bagaimana konsep matematika berkembang dalam berbagai praktik budaya masyarakat (Sunandar, 2. Dengan menggunakan pendekatan ini, pembelajaran matematika menjadi lebih kontekstual dan dekat dengan pengalaman peserta didik. Desa Sukarara di Kecamatan Jonggat. Kabupaten Lombok Tengah, merupakan contoh nyata komunitas yang masih mempertahankan budaya lokal melalui tenun tradisional. Tenun di Sukarara tidak hanya berfungsi sebagai produk seni, tetapi juga menjadi sarana aktivitas ekonomi yang kaya dengan praktik matematika tradisional (Toyib et al. , 2. Dalam proses produksi dan perdagangan kain tenun, ditemukan berbagai aktivitas matematis seperti perbandingan harga antar motif, penghitungan laba rugi dari hasil penjualan, hingga analisis sederhana ekonomi mikro tentang penawaran dan permintaan di pasar tradisional lombok ini (Fajriyah, 2. Kegiatan ini menunjukkan bahwa matematika bukanlah bidang yang terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan hadir secara alami dalam aktivitas sehari-hari. Sejalan dengan pendapat Komalasari . , pembelajaran yang mengaitkan materi pelajaran dengan realitas sosial dan budaya peserta didik akan membuat proses belajar menjadi lebih efektif, bermakna, dan berpusat pada pengalaman peserta didik. Etnomatematika menjadi jembatan penting untuk memperkenalkan matematika tidak sebagai ilmu abstrak semata, tetapi sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat (Rahayu et al. , 2. Pendekatan ini memungkinkan peserta didik untuk memahami konsep-konsep matematika melalui konteks yang dekat dengan kehidupan mereka, sehingga meningkatkan minat dan keterlibatan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, mengkaji praktik etnomatematika dalam perdagangan tradisional di Desa Sukarara menjadi langkah penting dalam mengembangkan model pembelajaran matematika yang kontekstual dan berbasis budaya lokal. Tradisi menenun di Sukarara tidak hanya mencerminkan nilainilai budaya, tetapi juga mengandung konsep-konsep matematika (Purnama et al. , 2. Konsepkonsep ini muncul secara alami dalam aktivitas masyarakat, seperti saat mereka mengatur motif, menentukan ukuran kain, hingga menetapkan harga jual dalam proses perdagangan sehari-hari. EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan etnografi dalam penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan dan mengeksplorasi konsep matematika yang terdapat dalam aktivitas perdagangan tradisional kain tenun yang terletak di Desa Sukarara. Kecamatan Jonggat. Lombok Tengah. Nusa Tenggara Barat (Rakhmawati, 2. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengungkapkan atau memperoleh informasi dari data penelitian yang dilakukan secara langsung di tempat (Octaviani & Komalasari, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan salah satu penjual kain tenun dan dokumentasi pada penjual serta motif kain tenun. Sedangkan hasil observasi sebagai pendukung dalam penelitian. Data yang terkumpul kemudian dianalisi secara bertahap untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai etnomatematika pada perdagangan kain tenun. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan kain tenun di Sukarara telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari budaya serta mata pencaharian masyarakat setempat. Proses pembuatan kain melibatkan teknik tradisional menyilangkan benang secara memanjang dan melintang, yang dikenal sebagai proses menenun. Bahan baku yang digunakan mencakup benang mesin, benang alami, dan pewarna sintetis maupun alami. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Ibu Fitri yang merupakan salah satu staf perdagangan kain tenun di Sukarara. Pembuatan kain tenun sudah banyak dilakukan khususnya di wilayah Lombok yang terletak di Sukarara. Kabupaten Lombok tengah. Pembuatan kain tenun ini sudah berjalan sejak dulu dan sudah turun temurun hingga saat ini. Kain Tenun adalah hasil kerajinan tangan dengan teknik pembuatan kain yang dilakukan dengan prinsip sederhana, yaitu menyilangkan benang secara memanjang dan melintang. Proses ini melibatkan pertemuan antara benang lusi dan benang pakan secara bergantian. Kain tenun umumnya dibuat dari bahan seperti serat kayu, kapas, sutra, dan lain-lain (Gitanjali, 2. Adapun hasil wawancara yang telah dilakukan: Peneliti : Bagaimana pembuatan kain tenun ini dari awal hingga akhir? Subjek : Pembuatan awal tenun itu pastinya ada bahan bakunya seperti benangnya dulu yang seperti model benang mesin itu harus dibuka dulu digelar dulu dibentangkan itu ada prosesnya sendiri namanya ngani itu yang pertama kali setelah itu ada namanya measuring baru nanti masuk ke dalam alatnya itu namanya tutup dimasukkan benang yang sudah dibentang tadi baru setelah itu penggulungan benang setelah selesai penggulungan benang baru pilih motifnya pilih motif setelah itu ditenun proses EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 akhirnya itu ya proses nenun itu sendiri motifnya sendiri ya karena kan kalau motif itu beda orang yang mengerjakan dan orang yang memilih motif itu sudah pasti di sana tapi kalau orang yang bisa nenun belum tentu bisa bikin motif itu kuncinya yang memilih motif tenun itu sendiri. Gambar 1. Berbagai Jenis Motif Kain Tenun Oleh karena itu dari bahan baku dan pembuatan kain tenun yang menjadi pertimbangan para pedagang kain tenun dalam menentukan harganya. Setelah pembuatan kain tenun tersebut sudah jadi akan langsung dipasarkan langsung di toko pemilik dari kerajinan kain tenun tersebut. Dari hasil pembuatan kain tenun tersebut perdagangan tradisional di Lombok ini menjadi meningkat. Tingkat harga dari kain tenun sendiri ditentukan tergantung pembuatan motif yang dibuat. Adapun hasil wawancara yang dilakukan: Peneliti: Bagaimana Ibu menentukan perbandingan harga antara kain bermotif sederhana dan kain bermotif rumit? Subjek: Kalau perbandingan harga dilihat dari lama waktu pengerjaannya, kemudian motifnya ketika lebih banyak motif otomatis lebih lama pengerjaannya jadinya harganya lebih mahal seperti itu sih sama kebanyakan warna biasanya kan ada benang yang kita celup pakai celupan sintetis biasa sama pewarna alami kalau pewarna alami itu bisa lebih dicuci biasa jadinya tidak luntur sehingga lebih awet dan lebih mahal. Peneliti: Menurut ibu mana yang lebih menguntungkan motif sederhana atau motif rumit? Subjek: Sama sama menguntungkan sih karena masing masing motif sudah diperhitungkan bahan bakunya semuanya Peneliti: Apakah bisa diberitahu untuk bahan bakunya berapa dan kisaran harga kain tenun? Subjek: Untuk kain tergantung dari tugasnya nanti kalau kurang lagi ditambah lagi gitu kemudian untuk harganya kisarannya paling murah rp300 hingga 1,5. Peneliti: Apakah ibu pernah memberi diskon kepada pembeli? Subjek: Kalau itu tergantung sih pernah tapi dalam bentuknya misalkan mereka beli tiga atau empat item dengan harga yang nggak nawar-nawar nih biasanya seperti mainan kunci EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 itukalau biasanya tapi kalau pemberian diskon jarang tapi pernah biasanya paling sedikit 10%. Peneliti: Kapan sih waktu pembelian ini ramai dikunjungi oleh pembeli? Subjek: Biasanya akhir desember sama awal januari ya karena disana musim panas kan terus para bule bule berdatangan ke lombok untuk liburan terus kesini buat beli misalnya baju yang sudah jadi, selendang bermotif dll. Selain memiliki nilai budaya, kain tenun ini juga mengandung unsur matematis pada aktivitas perdagangan kain tenun di Sukarara yang dinamakan dengan etnomatematika (Auliani & Suripah. Dengan mengintegrasikan etnomatematika, diharapkan kemampuan siswa dalam mempelajari matematika dapat berkembang secara optimal (Siregar et al. , 2. Selama proses pembelajaran, siswa diberikan soal atau masalah yang berhubungan dengan budaya yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari (Pratiwi et al. , 2. Adapun konsep matematis yang bisa digunakan pada sistem perdagangan kain tenun ini antara lain. Konsep Matematika pada Perdagangan Kain Tenun dilihat dari Perbandingan Konsep perbandingan pada perdagangan kain tenun bisa dilihat dari harga yang diberikan oleh penjual kain tenun. Harga ditentukan dari bahan baku, motif, dan waktu pengerjaan kain tenun tersebut. Adapun konsep kain tenun yang bisa bisa dibandingkan yaitu motif subahnale dan motif kembang Gambar 2. Motif Subahnale Motif subahnale adalah salah satu motif tenun songket khas suku Sasak di Desa Sukarara. Lombok Tengah, yang memiliki makna spiritual mendalam. Nama "Subahnale" berasal dari ucapan "Subhanallah" yang berarti "Maha Suci Allah," diucapkan oleh masyarakat sebagai ungkapan kekaguman terhadap keindahan motif ini (Putri et al. , 2. Berdasarkan dari hasil wawancara yang dilakukan harga kain tenun subahnale ini memiliki harga kisaran Rp 900. 000,00. Dalam hal ini kaitan konsep matematis perbandingan bisa dilihat dari harga yang diberikan penjual kepada pembeli. EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 Gambar 3. Motif Kembang Komak Adapun motif dengan pembuatan sederhana yaitu motif kembang komak. Motif kembang komak adalah salah satu motif kain tenun yang berarti Aubunga komakAy, dimana AukomakAy merujuk pada jenis sayuran kacang kacangan yang berbunga saat musim dingin (Hapipah et al. , 2. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan harga kain tenun motif kembang komak ini kisaran Rp 300. 000,00- . Selain perbandingan harga adapun konsep matematis yang bisa dibandingkan yaitu perbandingan lama waktu pengerjaan kain tenun (Purbaningrum et al. , 2. Perbandingan dari kedua motif bisa dilihat pada tabel dibawah. Tabel 1. Perbandingan Motif Kain Tenun Aspek yang Kain Motif Subhanale Kain Motif Kembang Komak Harga Rp 900. Waktu A 3 minggu Rp 300. 000,00A 2 minggu Kompleksitas Motif banyak, sangat Motif rumit, banyak warna dan sederhana, bentuk geometris Secara matematis dapat ditulis: Perbandingan harga yaycaycyciyca ycoycaycnycu ycyceycuycycu ycoycuycycnyce ycycycaycaEaycuycaycoyce Perbandingan harga = yaycaycyciyca ycoycaycnycu ycyceycuycycu ycoycuycycnyce ycoyceycoycaycaycuyci ycoycuycoycayco = 300. =3:1 Perbandingan lama waktu pengerjaan ycoycaycoyca ycycaycoycyc ycyyceycuyciyceycycycaycaycu ycoycaycnycu ycyceycuycycu ycoycuycycnyce ycycycaycaEaycuycaycoyce Perbandingan waktu pengerjaan = ycoycaycoyca ycycaycoycyc ycyyceycuyciyceycycycaycaycu ycoycaycnycu ycyceycuycycu ycoycuycycnyce ycoyceycoycaycaycuyci ycoycuycoycayco EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 =3:2 Setelah kain selesai diproduksi, pedagang akan menentukan harga jual berdasarkan beberapa faktor: jenis bahan, kompleksitas motif, dan lama waktu pengerjaan. Informasi ini diperoleh dari wawancara, di mana Ibu Fitri menyatakan bahwa motif yang lebih rumit cenderung memiliki harga lebih tinggi karena memerlukan waktu pengerjaan yang lebih lama dan menggunakan pewarna alami yang lebih mahal dan tahan lama. Sebagai contoh, kain motif Subahnale dapat mencapai harga Rp900. 000 dengan waktu pengerjaan tiga minggu, sedangkan motif sederhana seperti Kembang Komak hanya membutuhkan waktu dua minggu dengan harga sekitar Rp300. Konsep Aritmatika Sosial pada Perdagangan Kain Tenun Konsep aritmatika sosial pada perdagangan kain tenun ini yang bisa kita kaitkan dengan matematis yaitu mengenai pemberian diskon kepada pembeli (Sekarndary et al. , 2. Aritmatika sosial dalam perdagangan kain tenun di Desa Sukarara tercermin dalam berbagai aktivitas jual beli yang melibatkan perhitungan harga, diskon, laba, dan modal produksi. Penjual kain tenun menghitung harga jual berdasarkan biaya produksi seperti harga bahan baku . enang dan pewarna alam. , biaya tenaga kerja . pah pengeraji. , serta biaya tambahan seperti sewa tempat atau alat tenun. Selain itu, dalam menentukan keuntungan, pedagang menambahkan margin tertentu terhadap modal yang Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, konsep aritmatika sosial juga terlihat ketika pedagang memberikan diskon kepada pembeli, terutama pada saat musim ramai wisatawan. Misalnya, untuk kain motif Subahnale yang dihargai Rp 900. 000, pedagang dapat menawarkan potongan harga sebesar 10%. Secara matematis dapat ditulis: Harga setelah diskon = . % - 10%) x Rp 900. 000,00= 90% x Rp 900. 000,00= 90 x Rp 9. 000,00= Rp 810. 000,00Konsep Ekonomi Mikro Kain tenun di Desa Sukarara diketahui bahwa puncak pembelian kain tenun biasanya terjadi pada akhir bulan Desember hingga awal Januari. Hal ini disebabkan oleh kondisi cuaca di Lombok yang sedang memasuki musim panas, sehingga banyak wisatawan mancanegara, berkunjung ke Lombok untuk pergi ke tempat wisata (Rohmayanti, 2. Para wisatawan ini memanfaatkan waktu liburan mereka untuk membeli produk lokal seperti kain tenun yang telah dijadikan pakaian siap pakai. EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 Fenomena ini menunjukkan adanya peningkatan permintaan secara musiman, yang merupakan salah satu karakteristik dalam konsep ekonomi mikro, khususnya dalam analisis permintaan dan perilaku konsumen terhadap barang lokal yang bernilai budaya tinggi (A Syafir Rahman & Abd. Rahman. Kondisi ini mendorong pelaku usaha tenun di Desa Sukarara untuk menyusun strategi produksi dan pemasaran yang responsif terhadap fluktuasi permintaan. Dalam ekonomi mikro, produsen harus mampu membaca pola permintaan pasar agar tidak mengalami kelebihan atau kekurangan stok. Oleh karena itu, para pengrajin biasanya mulai meningkatkan produksi beberapa bulan sebelum musim liburan tiba sebagai bentuk antisipasi terhadap lonjakan pembelian. Strategi ini juga mencakup penyesuaian harga, penawaran diskon, serta variasi produk yang lebih sesuai dengan selera wisatawan Praktik ini mencerminkan pentingnya efisiensi produksi dan manajemen usaha dalam skala mikro demi mempertahankan daya saing produk lokal. KESIMPULAN Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan tradisional kain tenun di Desa Sukarara mengandung berbagai konsep matematika yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya dalam aspek perbandingan, aritmatika sosial, dan ekonomi mikro. Konsep perbandingan digunakan dalam menentukan harga berdasarkan jenis bahan, kompleksitas motif, dan lama pengerjaan kain. Dalam penelitian ini konsep perbandingan yang didapat yaitu motif subahnale dan motif kembang komak dengan membandingkan harga pembelian. Aritmatika sosial tampak dalam aktivitas tawar-menawar dan pemberian diskon kepada pembeli yaitu sebanyak 10%. Sementara itu, prinsip ekonomi mikro diterapkan dalam pengelolaan permintaan dan penawaran kain, terutama pada musim ramai wisatawan. Temuan ini menegaskan bahwa matematika bukan hanya ilmu abstrak, tetapi hadir dalam praktik budaya masyarakat dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran matematika berbasis etnomatematika yang kontekstual dan bermakna bagi peserta didik. DAFTAR REFERENSI A Syafir Rahman. , & Abd. Rahman. Peran Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Di Desa Bonto Tiro Kecamatan Sinoa Kabupaten Bantaeng. SEIKO : Journal Of Management & Business, 6. Article 2. Https://Doi. Org/10. 37531/Sejaman. V6i2. Auliani. , & Suripah. Konsep Fundamental Matematika Pada Tenun Songket Siak | JPMI (Jurnal Pembelajaran Matematika Inovati. Https://Journal. Ikipsiliwangi. Ac. Id/Index. Php/Jpmi/Article/View/22010 Fajriyah. Peran Etnomatematika Terkait Konsep Matematika Dalam Mendukung Literasi. PRISMA. Prosiding Seminar Nasional Matematika, 1, 114Ae119. EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 Febriantini. Perlindungan Hukum Internasional Terhadap Warisan Budaya Indonesia Yang Di Klaim Oleh Nagara Lain. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 10. , 206Ae213. Https://Doi. Org/10. 23887/Jpku. V10i3. Gitanjali. Peran UMKM Kwace Bali Dalam Mempertahankan Eksistensi Kain Tenun Endek Di Provinsi Bali. Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni, 12. Article 1. Https://Doi. Org/10. 31091/Sw. V12i1. Hapipah. Rejeki. , & Muttaqin. Menggali Tenun Sasak Dan Kearifan Lokal Untuk Pendidikan Karakter: Sebuah Kajian Etnocivic. Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 9. Article 04. Https://Doi. Org/10. 23969/Jp. V9i04. Hasan. Pelestarian Budaya Lokal Masyarakat Dalam Pernikahan Di Desa Gunung Tiga Kecamatan Batang Hari Nuban Lampung Timur [Undergraduate. IAIN Metr. Https://Repository. Metrouniv. Ac. Id/Id/Eprint/9256/ Murdiono. Strategi Pembelajaran Pendidikan Multikultural Berbasis Budaya Lokal. Octaviani. , & Komalasari. Kain Tenun Ikat Sebagai Wisata Budaya Kabupaten Sikka. Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah, 14. Article Https://Doi. Org/10. 47256/Kji. V14i3. Pratiwi. Nurmaina. , & Aridho. Penerapan Etnomatematika Dalam Pembelajaran Matematika Pada Jenjang Sekolah Dasar. Himpunan: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Matematika, 2. Article 1. Purbaningrum. Cahyani. Bilad. Wulandari. Dewi. Afifah. Rahma. Chofifah. Lestari. Arliana. Aufa. Aprilio. Aprilianda. Wulandari. Nuryana. Istinabila. , & Kusuma. Etnomatematika Beberapa Sistem Budaya Di Indonesia. Zifatama Jawara. Purnama. Utami. , & Prihatiningtyas. Eksplorasi Etnomatematika Dalam Motif Tenun Kain Lunggi Sambas Kalimantan Barat Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Matematika. Putri. Dr. Drs. Hardiman. , & Dr. I Nyoman Sila. Analisis Ikonografi Motif Subahnale Kain Songket Sukarara Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah. Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha, 10. Article Https://Doi. Org/10. 23887/Jjpsp. V10i1. Rahayu. Snae. , & Bani. Etnomatematika Pada Kain Tenun Lipa Kaet. Mega: Jurnal Pendidikan Matematika, 1. , 16Ae24. Https://Doi. Org/10. 59098/Mega. V1i1. Rakhmawati. Aktivitas Matematika Berbasis Budaya Pada Masyarakat Lampung. AlJabar : Jurnal Pendidikan Matematika, 7. , 221Ae230. Https://Doi. Org/10. 24042/Ajpm. V7i2. Rohmayanti. Strategi Komunikasi Pelaku Jasa Wisata Dalam Mempertahankan Eksistensi (Studi Pada Pelaku Jasa Wisata Pantai Senggig. Https://Etheses. Uinmataram. Ac. Id/4949/1/Laela Rohmayanti 180301069. Pdf EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 Sekarndary. Mirza. , & Ahmad Bs. Kajian Etnomatematika Pada Pembuatan Tenun Ikat Kabupaten Sintang. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa (Jpp. , 11. Https://Doi. Org/10. 26418/Jppk. V11i7. Siregar. Pakpahan. Siregar. Giawa. Siregar. Ramadhani. Matondang. Karo. Simarmata. , & Hasibuan. Etnomatematika Sebagai Sarana Penguatan Budaya Lokal Melalui Kurikulum Merdeka Belajar. Prosiding Mahasaraswati Seminar Nasional Pendidikan Matematika, 3. Article 1. Sunandar. Pembelajaran Matematika SMK Bernuansa Etnomatematika. PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika, 95Ae105. Toyib. Faiziyah. , & Yuliana. Pelatihan Dan Pendampingan Mgmp Guru Matematika Kabupaten Sukoharjo Dalam Pengelolaan Pembelajaran Bermuatan Ethnomathematics Berbasis Google Sites. Jurnal Terapan Abdimas, 9. Article Https://Doi. Org/10. 25273/Jta. V9i2.