Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Prodi Pendidikan Sosiologi Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 Sosiologi http://journal. id/index. php/equilibrium Segmentasi Gender dalam Pasar Kerja Guru PAUD (Studi Kasus di Sidoarj. Wahyudhia Zalpa MZ Sosiologi. Universitas Airlangga Email: wahyudhiazalpamz@gmail. Abstract. Early childhood education is one of the main educational pillars for children's development. However, the job market as educators in this field is dominated by women. One example is in Sidoarjo. In Sidoarjo, the kindergarten education unit itself has 2,813 teachers and amongst that number, there are only eight male kindergarten teachers. This shows gender inequality. This study seeks to explain why that phenomenon This research is a qualitative study of kindergarten teachers in Sidoarjo. Michel Foucault's theory of power and Karl Marx's capitalism are used as the basic theory to explain this phenomenon. The results of this study indicate the discourses that arise in society are the main cause of gender segmentation in this labor The discourse is related to the motherly attitudes that women have so that women are considered as the best caregivers for children. The kindergarten curriculum also tends to strengthen the power of this In addition, there are also discourses related to women as second breadwinners. This discourse makes women who work as kindergarten teachers earn a relatively low salary, and this tends to exploit These existing discourses are disseminated and internalized into individuals through various aspects of Keywords : Discourses. Gender Segmentation. Labor Market Abstrak. Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan salah satu pilar pendidikan utama bagi perkembangan Akan tetapi, pasar kerja sebagai pendidik anak usia dini ini didominasi oleh perempuan. Salah satu contohnya adalah di Sidoarjo. Di Sidoarjo untuk satuan pendidikan TK sendiri mempunyai 2,813 guru dan di antaranya hanya terdapat delapan orang guru TK laki-laki. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan gender dalam pasar kerja. Penelitian ini berusaha untuk menjawab fenomen tersebut. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dari realita guru TK di Sidoarjo. Teori kekuasaan Michel Foucault dan kapitalisme Karl Marx digunakan sebagai landasan untuk menjelaskan fenomena ini secara teoritik. Hasil penelitian ini menunjukkan wacana yang timbul di masyarakat yang menjadi penyebab utama segmentasi gender dalam pasar kerja ini Wacana terkait sikap-sikap keibuan yang dimiliki perempuan, sehingga perempuan dianggap sebagai pengasuh terbaik untuk anak. Kurikulum yang terdapat di TK juga cenderung menguatkan kekauasaan wacana ini. Selain itu, juga ditemukan wacana terkait perempuan sebagai pencari nafkah kedua. Wacana ini membuat perempuan yang bekerja sebagai guru TK mendapatkan gaji yang cukup rendah. Wacana ini cenderung mengeksploitasi perempuan. Wacana- wacana yang ada ini disebarkan dan diinternalisasi ke dalam diri individu melalui berbagai aspek dalam masyarakat. Kata Kunci : Pasar Kerja. Segmentasi Gender. Wacana PENDAHULUAN Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu pilar pendidikan utama bagi anak. Pendidikan anak usia dini memiliki pengaruh krusial dalam pembentukan karakter anak. Pendidikan anak usia dini menjadi salah satu tempat awal dimana anak diperkenalkan dengan dunia sosial. Anak melalui pendidikan usia dini mengenal dan belajar untuk dapat saling berinteraksi dengan orang lain, baik guru maupun teman sebaya. Pengenalan nilai dan norma yang ada di masyarakat juga terjadi saat anak memasuki jenjang pendidikan anak usia dini. Selain itu, anak juga diajarkan terkait nilai moral Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 dalam masyarakat sejak tahap pendidikan ini (Muhinat, 2. Hal tersebut mengakibatkan pendidikan anak usia dini menjadi hal yang sangat penting bagi perkembangan anak. Indonesia memiliki beberapa jenis bentuk yang termasuk dalam jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), yaitu taman kanak-kanak (TK), kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), dan satuan PAUD sejenis (SPS). Berdasarkan data Kemendikbud tahun 2021/2022, di Indonesia terdapat 189,503 PAUD yang terdiri dari 91,375 TK, 76,301 KB, 2,202 TPA, dan 19,625 SPS baik berstatus swasta maupun negeri. Total jumlah siswa pada jenjang PAUD di Indonesia pada tahun ajaran 2021/2022 mencapai 6,307,870 siswa. Jumlah tersebut terdiri dari 3,225,730 siswa laki-laki dan 3,082,140 siswa perempuan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, 2. Data tersebut menunjukkan cukup tingginya angka peserta didik pada jenjang sekolah PAUD. Hal ini mengingat jenjang sekolah ini tidak termasuk dalam jenjang sekolah pada AuProgram Wajib BelajarAy yang dicanangkan pemerintah (SD dan SMP) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. Tahun 2008. Cukup tingginya angka peserta didik PAUD ini juga menunjukkan bagaimana sebagian masyarakat menganggap penting jenjang pendidikan ini bagi anak. Sebagian masyarakat menyekolahkan anaknya ke jenjang PAUD terlebih dahulu sebelum anak memasuki jenjang sekolah dasar (SD). Hal ini dilakukan sebagai upaya persiapan anak untuk dapat berbaur pada lingkungan sosial yang lebih besar ke depannya. Urgensi pendidikan anak usia dini dalam perkembangan anak menyebabkan cukup tingginya angka peserta didik pada jenjang ini. Urgensitas tersebut pula yang membuat cukup banyaknya penyedia jasa pendidikan anak usia dini baik negeri maupun swasta. Jumlah tenaga kerja pendidik pada jenjang ini berdasarkan data Kemendikbud tahun 2021/2022 adalah sebesar 683,817 pendidik. Angka tersebut terdiri dari 646,965 pendidik perempuan dan 36,852 pendidik laki-laki. Distribusi angka tersebut menggambarkan adanya ketimpangan gender yang cukup besar dalam pasar kerja pendidik PAUD. Pasar kerja pendidik PAUD didominasi oleh perempuan. Hanya sedikit peran laki-laki dalam pasar kerja ini. Perempuan dianggap sebagai gender yang paling sesuai untuk mengisi lapangan pekerjaan tersebut. Hal tersebut membuat laki-laki jarang berpartisipasi dalam lapangan kerja ini. Padahal sejatinya peran laki-laki dalam jenjang pendidikan ini sangat diperlukan pula guna mencapai keseimbangan pembelajaran yang diperoleh anak. Perempuan telah mendominasi pasar kerja pendidik PAUD. Dominasi ini tidak hanya dialami di Indonesia melainkan juga terjadi di berbagai negara, seperti berdasarkan penelitian Moyo dan kawan-kawan . yang menunjukkan Zimbabwe 100% guru anak usia dini adalah perempuan. Penelitian Sumsion dalam Tsigra . juga menyatakan bahwa sebagian besar negara di Eropa hanya terdapat kurang lebih 1-4% guru laki-laki pada jenjang PAUD. Di Yunani pada tahun 2008 juga hanya tercatat memiliki sekitar 1% guru laki-laki pada jenjang TK. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Komite Pendidikan Anak Usia Dini di Irlandia pada tahun 2012 dan 2013 menunjukkan bahwa dari total 328 lembaga pendidikan anak usia dini yang terdapat pada 13 negara bagian, 77% lembaga pendidikan tersebut tidak memiliki tenaga kerja guru laki-laki (Sum & Talu, 2018. Atika & Purnamasari, 2. Data-data tersebut menggambarkan bagaimana rendahnya tenaga kerja lakilaki pada pasar kerja Guru PAUD. Pasar kerja tersebut seakan memililiki segmentasi gender tertentu, sehingga pasar kerja dikuasai oleh perempuan. Penyebab dari segmentasi gender ini dapat terjadi dikarenakan banyak faktor. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Theresia dan Adriani . mengemukakan faktor-faktor rendahnya minat laki-laki dalam pasa kerja guru PAUD. Salah satu faktor penyebabnya, yaitu stigma sosial yang terjadi di masyarakat dimana guru PAUD dianggap harus perempuan. Stigma tersebut mengakibatkan laki-laki menjadi malu, gengsi, dan takut dianggap sebagai laki-laki feminim atau sering disebut sebagai AubanciAy (Sum & Talu, 2. Peranan guru sebagai pendidik dalam pendidikan anak usia dini menjadi hal yang sangat PAUD menjadi salah satu tempat awal mula anak mengenal dan berpartisipasi menjadi salah satu anggota masyarakat dalam kehidupan sosial. Peranan guru dalam memperkenalkan hal-hal sosial dasar pada anak menyebabkan sangat diperlukannya tenaga pendidik yang berkualitas dan Salah satu hal yang diperlukan dalam kriteria guru anak usia dini adalah keberagaman Keberagaman gender guru dalam mendidikan anak usia dini diperlukan untuk Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 memperkenalkan anak-anak terhadap keberagaman gender yang ada di masyarakat. Selain itu, keberagaman gender guru juga akan membantu anak dalam perkembangannya. Berbagai penelitian terdahulu menyatakan manfaat keberagaman gender bagi perkembangan anak. Hal tersebut berkaitan dengan representasi orang tua . yah dan ib. dalam guru PAUD. Guru PAUD menjadi representasi keterlibatan orang tua peserta didik dalam pendidikan anak. Hal tersebut menjadikan pentingnya peran laki-laki dan perempuan dalam pendidikan anak. Penelitian-penelitian terdahulu mengenai segmentasi gender dalam pendidikan anak usia dini didominasi oleh penelitian terkait segmentasi gender yang terjadi di kalangan peserta didik. Penelitian-penelitian tersebut menekankan pada kesetaraan kesempatan antara peserta didik lakilaki dengan peserta didik perempuan. Penelitian oleh Putri, dkk . menyoroti hal tersebut dengan membahas urgensitas implementasi kesetaraan gender dalam pendidikan anak di usia dini. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Putri . yang membahas tentang pembentukan budaya adil gender dalam pendidikan anak usia dini melalui permainan peran bagi peserta didik. Penelitian oleh Suparno . secara lebih lanjut turut membahas pelaksanaan program pendidikan yang berperspektif gender di salah satu sekolah di Yogyakarta. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya beberapa faktor pendukung dan penghambat dari pelaksanaan program. Salah satu yang dibahas dalam penelitian tersebut adalah tentang keberadaan stereotype gender yang dapat menghambat proses pembelajaran, sehingga pembebasan akan stereotype gender ini penting diberikan pada anak usia dini. Selain itu, penelitian oleh Anisa . juga turut membahas mengenai perbedaan perlakuan yang diterima antara peserta didik laki-laki dengan peserta didik perempuan tentang yang mana pada akhirnya menimbulkan terjadi sensitivitas gender dalam diri Penelitian ini juga turut menyoroti bagaimana ketidakacuhan orang tua peserta didik dalam menanggapi isu kesetaraan gender ini. Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu, dapat dilihat bagaimana penelitian-penelitian terkait segmentasi gender dalam pendidikan anak usia dini hanya menyoroti dari kaca mata peserta Padahal sejatinya isu segmentasi gender ini juga terjadi dalam ranah lain yang tidak kalah penting mempengaruhi proses pendidikan anak usia dini, yakni segmentasi gender dalam pasar kerja guru PAUD. Segmentasi gender dalam pasar kerja guru PAUD merupakan isu yang jarang disorot. Hal ini dikarenakan isu ini telah dianggap sebagai suatu kelumrahan oleh masyarakat apabila guru PAUD harusnya berjenis kelamin perempuan. Padahal sejatinya diperlukan pula peran guru PAUD laki-laki dalam pendidikan anak. Beberapa penelitian terdahulu memaparkan tentang urgensitas dari keberadaan kedua sosok gender guru dalam pendidikan anak usia dini, seperti penelitian Erden . yang menemukan bahwa pada lembaga yang cenderung dikelola perempuan, salah satunya PAUD menunjukkan adanya masalah adaptasi sosial yang terjadi pada peserta didik anak laki-laki. Penelitian lain yang dilakukan Jensen . menyatakan bahwa guru laki-laki lebih mampu untuk secara efektif menanggapi anak laki-laki daripada guru perempuan. Penelitian Songtao . menyatakan bahwa guru laki-laki dan perempuan memiliki ciri dan kekuatannya masing-masing yang mana kolaborasi antar keduanya akan membentuk perkembangan psikologis anak semakin baik. Penelitian Lin . juga menyatakan hal serupa, yaitu kolaborasi antara guru laki-laki dan perempuan akan membuat perkembangan psikologis anak lebih utuh (Mukhlis, 2019. Maulana. Kurniati, & Yulindrasari, 2. Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu yang telah dipaparkan tersebut, dapat dilihat bagaimana pentingnya peran guru PAUD laki-laki dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Penelitian ini bermaksud untuk mendalami tentang segmentasi gender yang terjadi dalam pasar kerja guru PAUD. Hal ini menarik untuk dikaji dikarenakan penelitian-penelitian terdahulu yang membahas tentang segmentasi gender dalam pendidikan lebih menyoroti segmentasi gender yang dialami oleh peserta didik, sedangkan penelitian yang menekankan pada segmentasi gender dalam pasar kerja guru PAUD yang dikuasai perempuan masih belum banyak dibahas. Padahal sejatinya guru PAUD memiliki andil yang besar dalam membentuk pemikiran dan pola perilaku anak, sehingga sangat penting bagi anak sejak dini dapat menerima pengajaran dan perlakuan dari kedua gender guru yang mana hal ini diharapkan dapat memaksimalkan potensi tumbuh kembang anak, khususnya Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 dalam pembetukan identitas gender dan penghormatan antar gender yang ada. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menambah referensi terkait dikarenakan penelitian ini secara kritis berusaha membongkar asal muasal dari segmentasi ini. Penelitian ini secara kritis berupaya untuk mendalami bagaimana kostruksi gender yang berkembang di masyarakat yang pada akhirnya menciptakan dan melanggengkan segmentas gender dalam pasar kerja ini. Penelitian ini secara terkhusus dilakukan di Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Sidoarjo. Kabupaten Sidoarjo sendiri pada tahun ajaran 2021/2022 memiliki jumlah guru sebesar 20,957 jiwa dengan distribusi perempuan sebesar 15,813 dan 5,144 laki-laki dari berbagai jenjang dan jenis satuan pendidikan. Berdasarkan data tersebut, untuk satuan pendidikan TK dari total 2,813 guru TK di Sidoarjo, hanya terdapat delapan orang guru TK laki-laki (Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi. Data tersebut menunjukkan adanya ketimpangan yang sangat besar antara laki-laki dan perempuan dalam bidang profesi ini. Perempuan sangat mendominasi dalam pasar kerja ini di Sidoarjo. Profesi sebagai guru TK menjadi pekerjaan khas perempuan dan pasar kerja ini dikuasai oleh perempuan. Ketimpangan gender tersebut menjadi salah satu masalah sosial yang penting. Hal ini mengingat bagaimana urgensi kolaboratif peran guru laki-laki dan perempuan bagi perkembangan anak usia dini. Penelitian ini berusaha untuk mendalami realitas ketimpangan gender dalam pasar kerja guru TK di Sidoarjo menggunakan perspektif kritis. Teori kekuasaan Michel Foucault dan kapitalisme Karl Marx menjadi dua teori utama untuk menganalisis fenomena ini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penggunaan metode ini didasarkan pada tujuan dari penelitian ini untuk mendalami fenomena segmentasi gender pada pasar kerja pendidik anak usia dini, khususnya di Sidoarjo. Penelitian ini bermaksud untuk menjelaskan fenomena segmentasi pasar kerja pendidikan anak usia dini yang dieksklusifkan pada perempuan. khususnya pada realitas guru TK di Sidoarjo. Padangan kritis digunakan untuk dapat menyadarkan masyarakat terkait ketimpangan gender yang terjadi dalam pasar kerja ini. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemberdayan gender dalam pasar kerja guru PAUD. Peningkatan kontribusi laki-laki dalam pasar kerja guru PAUD merupakan salah satu harapan dari penelitian ini, sehingga nantinya dapat terjadi kesetaraan dan kerja sama yang efektif antara guru perempuan dan laki-laki dalam pendidikan anak usia dini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data primer dalam penelitian ini dikumpulkan dengan wawancara pada lima narasumber terkait. Kelima narasumber ini diperoleh peneliti secara accidental dan snowball. Kelima narasumber tersebut terdiri dari narasumber kunci, narasumber subjek, dan narasumber non subjek. Narasumber kunci adalah narasumber yang memiliki banyak wawasan terkait topik penelitian. Narasumber subjek adalah narasumber yang mengalami dan terlibat secara langsung dengan fenomena yang diteliti, sedangkan narasumber non subjek adalah narasumber yang tidak terlibat secara langsung dalam fenomena tersebut, tetapi memahami dan memiliki informasi yang cukup mengenai fenomena yang terjadi. Narasumber kunci dalam penelitian ini adalah Pak F yang merupakan dosen laki-laki di prodi PG PAUD salah satu universitas di Jawa Timur. Narasumber subjek dalam penelitian ini adalah Kak A dan D yang merupakan guru perempuan di beberapa TK Sidoarjo. Narasumber non subjek dalam penelitian ini adalah Kak J yang merupakan mahasiswa laki-laki dan Kak T yang merupakan mahasiswa perempuan di prodi PG PAUD salah satu universitas di Jawa Timur. Narasumber A dan T diperoleh peneliti secara accidental, sedangkan narasumber lainnya diperoleh melalui teknik snowball. Kelima narasumber tersebut dipilih untuk dapat menjelaskan secara komprehensif bagaimana realitas yang terjadi. Hal ini merujuk pada tujuan dalam penelitian ini untuk mengkaji secara mendalam tentang mengapa guru TK menjadi pekerjaan khas perempuan, bagaimana kurikulum TK yang menyebabkan perempuan lebih dianggap pantas dalam pekerjaan ini, serta bagaimana wacana yang terbentuk di masyarakat dan menyebabkan ketimpangan gender ini terjadi. Selain dengan data primer, penelitian ini turut menggunakan data sekunder yang diperoleh dari buku, berita, data internet, dan data-data lain yang telah tersedia Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan hasil proses pengumpulan data yang dilakukan, penelitian ini mengklasifikasikan hasil wawancara dan analisis yang dilakukan ke dalam tiga topik bahasan. Kedua topik bahasan awal merupakan bentuk konstruksi-konstruksi gender yang berkembang di masyarakat. Konstruksikonstruksi gender ini lah yang menjadi penyebab dari segmentasi gender dalam pasar kerja guru PAUD, sekaligus sebagai agen pelanggengan dari ketimpangan gender yang terjadi. Topik bahasan terakhir menjadi antitesa dari konstruksi-konstruksi yang telah dikemukakan sebelumnya. Topik bahasan terakhir ini berusaha memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai urgensi dari diperlukannya kesetaraan gender dalam pasar kerja guru PAUD. Hasil penelitian ini secara ringkas dapat dilihat pada bagan berikut. Bagan 1. Hasil Penelitian Guru TK Pekerjaan Khas Perempuan Perempuan sebagai AuBuruhAy Kapitalis untuk Memenuhi Profesi Guru TK Urgensi laki-laki dalam Profesi Guru TK AKodrat perempuan sebagai ibu ASifat feminin dan keibuan yang dimiliki ALowongan pekerjaan yang bias gender AJam, beban kerja, dan tanggung jawab guru PAUD yang berat, tetapi sering diremehkan oleh masyarakat AGaji guru PAUD yang rendah AKolaborasi antara guru laki-laki dan APendorongan terhadap optimalisasi pembelajaran sifat dan peran bagi anak Pembahasan Bagian pembahasan ini secara lebih lanjut memaparkan terkait penjelasan dan analisis dari hasil penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya. Pembahasan ini dibagi menjadi tiga sub bahasan sesuai dengan hasil penelitian yang telah ditemukan. Guru TK Pekerjaan Khas Perempuan Guru TK memiliki stereotip sebagai pekerjaan untuk perempuan. Stereotip ini menyebabkan pekerjaan sebagai guru TK didominasi oleh perempuan. Sedikit sekali laki-laki yang mengisi lapangan kerja ini. Dominasi perempuan dalam pasar kerja ini disebabkan oleh adanya wacana-wacana yang terbentuk dalam masyarakat. Wacana-wacana tersebut meyakini bahwa pekerjaan sebagai guru TK merupakan pekerjaan yang memerlukan Ausikap-sikap perempuanAy. Hal ini dikarenakan guru TK berhadapan dengan anak-anak. Perempuan dianggap lebih mampu untuk mengasuh anak. Anggapan tersebut tidak terlepas dari wacana dalam rumah tangga bahwa laki-laki sebagai pencari nafkah dan perempuan sebagai pengurus urusan domestik rumah tangga, termasuk urusan pengurusan anak. Guru TK sebagai pekerjaan khas perempuan merupakan salah satu bentuk wacana yang ada dalam masyarakat. Menurut Michel Foucault, wacana merupakan pengetahuan yang tersebar dan dipercaya sebagai suatu hal yang Aubenar dan semestinyaAy. Pengetahuan memiliki efek kuasa yang menghasilkan adanya Auwacana kebenaranAy. Wacana ini secara tidak langsung mengontrol masyarakat untuk bertindak sesuai dengan wacana yang ada. Individu secara tidak sadar menganggap wacana yang ada merupakan hal yang benar dan normal. Disiplinary power terjadi dengan proses internalisasi wacana-wacana melalui sosialisasi yang diterima setiap Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Pasar kerja guru TK yang dikuasai oleh perempuan merupakan akibat dari wacanawacana yang ada di masyarakat. Wacana terkait sikap-sikap perempuan dan laki-laki merupakan hasil dari bagaimana relasi kekuasaan yang terjadi diberbagai interaksi dalam kehidupan sosial. Wacana yang berkembang di masyarakat menyatakan bahwa perempuan merupakan yang paling tepat untuk mengasuh anak-anak. Wacana-wacana yang timbul ini menyebar dari berbagai aspek di masyarakat yang membuat masyarakat menginternalisasikan wacana-wacana tersebut dan menormalisasikannya. Narasumber menceritakan wacana terkait perempuan yang mereka dapatkan di masyarakat. Beberapa di antaranya, yaitu AuYa kalau dari pandangan saya ya karena keibu-ibuan itu ya, kalau anak-anak kan lebih akrab diurus sama ibu-ibu. Jarang diurusi sama keluarga cowoknya, jadi mungkin gitu karena biasa diurus sama ibu. Ya ada sih yang cowok cuma jarang kan. Mungkin anak-anak biasa ke orang tua kandung yang ibu ituAy-J (Mahasiswa laki-laki Prodi PG PAUD) Berdasarkan pernyataan di atas dapat dilihat bagaimana wacana dalam masyarakat mengenai perempuan yang dianggap lebih dapat mengasuh anak. Wacana tersebut disosialisasikan melalui berbagai aspek, seperti keluarga, dan agama. Ajaran agama menjadi salah satu aspek pemerkuat kekuasaan wacana tersebut. Pengetahuan yang mendasarkan pada agama ini sangat berperan kuat untuk menguasai pandangan masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia. Hal ini mengingat masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang religius. Agama menjadi salah satu bentuk pengetahuan yang dapat secara kuat menguasai masyarakat. Hal ini turut terjadi pada wacana gender. Pengetahuan yang mendasarkan pada agama untuk membentuk konstruksi terkait Aosikap perempuanAo dan Aosikap laki-lakiAo. Hal ini yang kemudian membuat masyarakat menekankan konstruksi gender ini pada laki-laki dan perempuan yang mana mempengaruhi keseluruhan aspek dalam kehidupan dua gender tersebut. Keluarga juga ikut berperan penting dalam sosialisasi dan internalisasi wacana kepada individu. Hal ini mengingat keluarga sebagai agen sosialisasi primer yang pertama kali mengajarkan nilai norma kepada individu. Sosialisasi yang diberikan keluarga dapat memengaruhi dan membentuk perilaku individu menjadi sesuai dengan wacana di Dalam hal ini keluarga turut berkontribusi dalam membentuk sikap-sikap perempuan . dan laki-laki . pada anak. Hal ini menimbulkan adanya sikap keibu-ibuan yang terbentuk dikarenakan urusan pengasuhan anak diserahkan kepada sosok Konstruksi gender menyebabkan lingkungan keluarga narasumber berusaha mensosialisasikan sikap-sikap yang sesuai dengan gender narasumber. Sosialisasi ini diberikan melalui pemberian mainan yang dianggap sesuai untuk gender perempuan. Narasumber T dan D mengatakan bahwa saat kecil, mereka sering diberi mainan boneka. Mainan boneka tersebut kemudian mereka perlakukan sebagai AoanakAo dalam permainan peran. Mereka memperlakukan boneka yang mereka miliki, seperti AoanakAo yang senantiasa mereka urus. Hal ini sejatinya merupakan bentuk sosialisasi dan pembentukan nilai norma perempuan sebagai seorang ibu. Orang tua tidak serta merta memberikan kebebasan kepada anaknya untuk dapat memilih mainan apa yang mereka sukai, melainkan orang tua sedari awal telah menentukan jenis mainan apa yang akan diberikan kepada anaknya. Hal ini mereka sesuaikan dengan konstruksi gender yang berkembang di masyarakat. Hal yang disosialisasikan dalam lingkungan keluarga ini kemudian secara tidak sadar turut diterapkan oleh sang anak dalam kehidupan Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Mascaro, dkk, . yang menunjukkan bagaimana orang tua dan guru mendorong anak untuk melakukan permainan yang sesuai dengan gendernya. Laki-laki diberi mainan berupa lego, alat olahraga, mainan kendaraan, dan lainnya, sedangkan perempuan diberikan mainan berupa boneka, set mainan dapur, dan perlengkapan seni. Hal ini menunjukkan konstruksi wacana gender ini secara tidak langsung telah mempengaruhi bagaimana perilaku masyarakat pada suatu gender. Padahal sebenarnya permainan tidak memiliki ekslusivitas gender, dan sebaliknya merupakan sarana inklusif bagi anak. Baik laki-laki dan perempuan mempunyai hak untuk dapat merasakan Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 pengalaman berbagai bentuk permainan yang ada. Hal ini dikarenakan setiap bidang permainan memiliki manfaatnya masing-masing bagi tumbuh kembang anak. Permainan imajinasi . ermainan imajinatif pera. mengembangkan kemampuan komunikasi, interpersonal, negosiasi, dan mendukung adanya kolaborasi, serta kreativitas. Permainan yang melibatkan fisik mampu mengembangkan kekuatan, daya tahan, ketangguhan, dan kepercayaan diri anak. Permainan konstruktif yang mampu mengembangkan kemampuan koordinasi visual-spasial, serta kemampuan matematika anak. Setiap bidang permainan memberikan dampak positif bagi perkembangan anak tidak peduli dengan gender dari anak Keseimbangan dalam ragam permainan yang dimainkan anak ini diperlukan demi perkembangan anak, dan seharusnya tidak dipilah berbasis gender (Mascaro JS, 2017. Aprilianti. Adriany, & Syaodih, 2. Kurikulum yang ada di TK juga berperan penting dalam memperkuat kekuasaan wacana yang ada. Kurikulum yang ada di TK menganggap perempuan sebagai gender yang paling tepat untuk mengisi pasar kerja tersebut. Wacana tentang sikap-sikap keibuan yang dimiliki perempuan mengakibatkan perempuan dianggap sebagai yang paling sesuai untuk menjadi guru TK. Hal ini mengingat pekerjan ini berhubungan dengan anak-anak. Wacana tersebut menyebabkan beberapa TK sedari awal sudah mensyaratkan perempuan untuk menjadi guru di TK tersebut. Persyaratan yang terbuka dalam lowongan kerja sebagai guru TK sedari awal telah menetapkan batas segmentasi gender bagi pasar kerja ini. Persyaratan ini sedari awal telah mensegmetasikan perempuan sebagai pengisi dari posisi ini, sedangkan lakilaki tidak memiliki kesempatan untuk dapat mengisi lowongan pasar kerja ini. Persyaratan ini membuat tidak ada kesempatan bagi laki-laki untuk mendaftar sebagai guru TK. AuDi persyaratan pendaftaran pun ada tulisan wanita muslimah minimal umurnya itu 17 tahun. dimintai cewek. Ay-A (Guru perempuan di salah satu TK Sidoarj. AuPertama beliaunya itu nyari muslimah, pendidikan bisa lulusan SMA atau S1. Ay-D (Guru perempuan di salah satu TK Sidoarj. Pernyataan kedua narasumber tersebut menunjukkan adanya segmentasi gender yang jelas dalam mengisi posisi kerja sebagai pendidik anak usia dini. Persyaratan ini turut merupakan hasil dari konstruksi gender yang melembaga dalam masyarakat. Konstruksi gender ini membuat adanya pembatasan yang didasarkan pada gender, termasuk dalam pasar Pasar kerja dewasa ini menekankan pada suatu gender khusus yang mana pada akhirnya hal ini menutup kesempatan gender lainnya untuk dapat mengisi suatu posisi dalam lapangan pekerjaan yang tersedia. Pada pasar kerja pendidikan anak usia dini segmentasi gender ini turut terjadi yang mana pasar kerja ini memberikan ruang yang jauh lebih besar bagi gender perempuan, dibanding laki-laki. Perempuan mendapatkan peluang yang sangat besar untuk dapat mengisi posisi sebagai pendidik dalam jenjang pendidikan ini. Hal ini dibuktikan dengan penuturan narasumber yang menyatakan bahwa di lingkungan TK yang diajarnya tidak terdapat sosok guru laki-laki. Semuanya dikuasai oleh perempuan. Sosok laki-laki baru terlihat untuk mengisi lowongan seperti satpam sekolah dan sejenisnya. Nihilnya sosok guru laki-laki ini dikarenakan peluang yang kecil dan bahkan sama sekali tidak ada bagi laki-laki untuk dapat mengisi lowongan pekerjaan sebagai pendidik anak usia dini ini. Persyaratan yang diberikan telah sedari awal memberikan batas bagi laki-laki. Hal ini menjadikan minimnya laki-laki sebagai pendidik anak usia dini. Padahal sejatinya sosok laki-laki dalam pekerjaan ini sangat diperlukan guna membentuk sistem pendidikan yang lebih baik dan menyeluruh bagi anak. Kehadiran kedua sosok laki-laki dan perempuan dalam sistem pendidikan anak usia dini ini penting guna mengenalkan keragaman kepada anak. Selain itu, pembentukan sikap dan karakter anak akan dapat berjalan lebih optimal dengan kehadiran kedua sosok tersebut. Kolaborasi antara kedua gender ini sangat diperlukan bagi pertumbuhan anak. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Perempuan sebagai AuBuruhAy Kapitalis untuk Memenuhi Profesi Guru TK Pekerjaan sebagai guru TK sering kali dipersepsikan sebagai pekerjaan yang mudah. Masyarakat cenderung melihat pekerjaan guru TK hanyalah pekerjaan bermain bersama anakanak. Pada realitanya, pekerjaan guru TK bukan hanya sekedar itu. Beban kerja yang diemban oleh guru TK cukup berat. Guru TK bertugas untuk memperkenalkan kepada anak-anak hal-hal dasar yang mereka perlukan untuk dapat menjadi anggota yang baik dalam masyarakat. Selain itu, guru TK juga bertugas untuk memperkenalkan pelajaran-pelajaran dasar kepada anak-anak sebelum nantinya diajarkan secara lebih dalam pada jenjang SD. Untuk dapat mengajarkan itu semua diperlukan kesabaran dan ketelatenan dari guru TK. Guru TK perlu menghadapi anakanak usia dini. Anak-anak usia dini merupakan anak-anak yang cukup sulit untuk ditertibkan, sehingga guru TK harus berusaha mendekati anak-anak tersebut dengan caranya masingmasing. Guru TK juga senantiasa harus dapat memantau perkembangan setiap anak didiknya. Hal-hal tersebut menyimpulkan cukup beratnya beban kerja yang diemban oleh guru TK. Berikut pernyataan beberapa narasumber. AuDari jam 7 sampe jam 11. Senin sampe JumAoatAy. AuFull ngajar, dibagi 2 shift kak, dibagi 2 shiftAy. AuNah setengah 8 itu masuk sampe jam 9. Nah baru setengah 10 masuk sesi 2 sampe jam 11Ay. Aujadwalnya itu biasanya kan kita kerja sampe JumAoat, malemnya itu rundingan. Malem Sabtu rundingan buat bikin jadwalnya buat pekan besokAy. AuMisalnya siswaku ada 10, ya itu tak video call satu-satu, murojaAoah satu-satu, pake whatsapp kok, gak pake google Kita pake whatsapp, video call biasaAy AeA (Guru perempuan di salah satu TK Sidoarj. AuKerjanya itu kalau ustadzahnya itu jam 7 terus minimalnya pulang itu jamAy. AuItu sih tahun ini, soalnya aku ditaruh jadi guru pendamping untuk anak berkebutuhan khusus, kayak ada yang hyper, kurang komunikasiAy AeD (Guru perempuan di salah satu TK Sidoarj. Pernyataan kedua narasumber tersebut memperlihatkan beban kerja yang diemban sebagai guru TK. Narasumber A menceritakan bahwa dia harus bekerja dari hari senin sampai jumat untuk mengajar anak-anak. Kemudian, setiap hari sabtu dia bersama guru TK yang lain harus berdiskusi bersama untuk membuat modul atau jadwal pembelajaran untuk minggu Beban kerja ini bertambah selama masa pembelajaran dari rumah dikarenakan kebijakan PPKM yang berlaku. Selama pembelajaran dari rumah, narasumber A harus menghubungi setiap anak didiknya satu persatu menggunakan aplikasi whatsapp. Hal ini dilakukan karena anak-anak didiknya yang masih berusia dini, sehingga cukup sulit untuk dikoordinasikan bersama-sama menggunakan google meet ataupun zoom. Selain itu, narasumber D juga menceritakan bahwa dia harus bekerja selama 6 jam, dan pada tahun ajaran ini dia juga diberi amanah untuk mengajar anak berkebutuhan khusus. Hal ini mengingat sekolah tempatnya mengajar merupakan sekolah inklusi. Hal ini tentu membuat beban kerjanya cukup berat dikarenakan dia harus dapat menyesuaikan diri dengan anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak lainnya, serta harus dapat mengoordinasikan kelasnya. Beratnya beban kerja guru TK tidak lantas menyebabkan mereka memperoleh gaji yang cukup. Mayoritas gaji guru TK cukup rendah dibanding beban kerja mereka. Hal ini dipengaruhi oleh wacana yang ada di masyarakat. Wacana yang timbul di masyarakat menganggap perempuan sebagai Aupencari nafkah keduaAy. Anggapan bahwa perempuan hanya merupakan pembantu dari laki-laki dalam hal ekonomi rumah tangga menyebabkan rendahnya gaji guru TK. Selain itu, anggapan bahwa kerja guru TK yang hanya bermain-main dengan anak juga turut berkontribusi dalam hal ini. Narasumber menyatakan. AuKarena laki-laki kan mungkin mohon maaf saya singgungkan ke finansial ya honor menjadi guru Paud atau guru TK itu tidak cukup. Katakanlah tidak cukup itu yang menjadi prioritas kenapa banyak diambil perempuan karena perempuan kan tugasnya pelengkap, bukan mencari maksudnya menjadi tombak dalam mencari nafkah bagi keluarga. Nah kenapa banyak guru yang dicari perempuan? Karena satu mungkin faktor tadi kelembutan, kesabaran, dan ketelatenan, yang kedua finansial dari sisi penggajian. Gak mungkin juga kalau laki-laki kita gaji segitu katakanlah mohon maaf saya bilang nominal 2 itu apakah cukup logikanya? Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Nah mungkin itu menjadi sebuah pertimbangan sekolah juga mengapa kok mengambil perempuan gitu mbakAy-F (Dosen laki-laki Prodi PG PAUD) Perempuan seakan menjadi buruh kapitalis untuk memenuhi pasar kerja ini. Hal ini mengingat pentingnya peran guru TK dalam pendidikan anak usia dini. Akan tetapi, pendapatan perempuan sebagai guru TK cukup rendah. Hal ini tidak sesuai dengan teori nilai tenaga kerja yang dikemukakan Marx. Teori nilai tenaga kerja Marx menjelaskan bagaimana buruh menerima upah yang senilai dengan kerja yang dilakukannya. Penyesuaian tersebut diperlukan agar buruh dapat memulihkan tenaganya yang telah terpakai untuk dapat bekerja Dalam hal ini guru TK cenderung tidak memeroleh gaji yang sesuai dengan kerja yang telah dilakukannya. Narasumber D yang merupakan guru TK menceritakan bahwa di tempatnya bekerja dia hanya mendapat upah di bawah satu juta dikarenakan masih berstatus sebagai guru baru. Meskipun demikian, guru tetap yang sudah lama bekerja di TK tersebut juga hanya mendapatkan upah di bawah dua juta. Narasumber J yang pernah melakukan observasi di beberapa TK juga menyatakan hal yang mirip dimana upah rendah guru TK. Upah yang didapatkan ini tentu masih dibawah UMP yang ditetapkan oleh pemerintah. Rendahnya pendapatan perempuan ini merupakan salah satu bentuk eksploitasi yang dilakukan oleh Kapitalis berusaha memaksimalkan nilai lebih agar memeroleh laba yang sebesarbesarnya. Hal tersebut sesuai dengan prinsip kapitalisme. Rendahnya gaji guru TK menjadi salah satu penyebab rendahnya minat laki-laki untuk bekerja pada pekerjaan ini. Narasumber J yang merupakan mahasiswa laki-laki jurusan PG PAUD menyatakan keinginan awalnya untuk pindah jurusan. Salah satu alasannya adalah rendahnya gaji guru PAUD, meskipun pada akhirnya dia memutuskan untuk tetap melanjutkan pendidikannya di PG PAUD. AuIya dulu kalau gak salah pas semester 2 itu kayak mau pindah PG SD alasannya ya gitu cowok sendiri, gurunya jarang, gajinya gak seberapa, gak kayak PNS gitu. " AeJ (Mahasiswa laki-laki Prodi PG PAUD) Pernyataan narasumber J di atas menunjukkan bagaimana konstruksi gender terkait pekerjaan pendidik anak usia dini menimbulkan kurangnya minat laki-laki untuk menggeluti pekerjaan ini. Hal ini dinyatakan narasumber J yang pada awal semester memiliki niatan untuk pindah ke jurusan yang lain. Stereotipe laki-laki sebagai pendidik anak usia dini dimaknai negatif dalam masyarakat. Profesi tersebut memiliki stereotipe sebagai profesi perempuan, dan jika laki-laki masuk dalam bidang kerja tersebut menjadi hal yang dianggap AoanehAo dalam Selain itu, faktor lainnya yang menyebabkan rendahnya minat laki-laki dalam bidang ini adalah pekerjaan ini memiliki gaji yang rendah dibanding dengan gaji guru pada Pernyataan narasumber J selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Erden. Ozgun, & Ciftci, . menunjukkan bagaimana stereotipe pada laki-laki yang berprofesi sebagai guru PAUD. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pransangka-prasangka yang datang dari lingkungan sekitar mereka. Selain itu, mereka juga menyatakan bahwa seandainya mereka dapat memilih bidang lain, mereka akan beralih dan tidak menjadi guru TK. Penelitian lain yang dilakukan oleh Cole, dkk, . menunjukkan adanya prasangka-prasangka apabila laki-laki menjadi guru PAUD. Laki-laki memiliki standar ganda dalam pasar kerja ini. Salah satunya terkait kontak fisik yang dilakukan oleh guru kepada anak. Penelitian tersebut menemukan bahwa apabila guru perempuan melakukan kontak fisik dengan anak, maka pihak orang tua tidak akan memberikan komentar apapun terkait hal tersebut. Hal ini berbeda apabila dilakukan oleh guru laki-laki. Ketika guru laki-laki melakukan kontak fisik denga n anak, maka akan timbul prasangka dari pihak orang tua. Prasangka tersebut terkadang akan mengantarkan guru laki-laki pada tuduhan yang serius. Laki-laki tidak dapat secara penuh menunjukkan afeksinya kepada anak dikarenakan prasang-prasangka yang menghantuinya. Prasangka-prasangka ini pula yang mengakibatkan rendahnya minat laki-laki untuk terjun dalam pasar kerja ini. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Urgensi laki-laki dalam Profesi Guru TK Profesi guru TK memerlukan laki-laki untuk turut berperan dalam pendidikan anak usia Peran laki-laki sebagai pendidik anak usia dini sangat diperlukan dalam tumbuh kembang Hal ini dikarenakan pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan awal yang diterima oleh anak-anak. Kontribusi dari laki-laki dan perempuan sangat diperlukan agar anak dapat mengenal keberagaman yang ada di masyarakat. Selain itu, dengan adanya guru laki-laki dan perempuan dapat membuat anak dapat merasakan perbedaan cara mengajar dari guru lakilaki dan perempuan. Kolaborasi dari guru laki-laki dan perempuan dalam mendidik anak-anak dapat mengoptimalkan perkembangan anak. Selain itu, dengan adanya keterlibatan laki-laki dalam pasar kerja ini juga dapat mensosialisasikan kepada anak tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Narasumber F menyatakan, "Satu didukung oleh guru yang perempuan, apalagi didukung oleh guru laki-laki di kelas tersebut, maka terjadi apa ya sebuah kepentingan yang luar biasa, sehingga nanti anak pasti akan optimal mendapatkan peran dari laki-laki dan guru perempuan. , "kadang-kadang kan kita lihat guru Paud laki-laki itu mohon maaf agak melambai atau sebagainya itu. Nah karena mereka lingkungannya yang membentuk seperti itu, tapi kalau sebenarnya mereka bener-bener diroh laki-lakinya itu justru menjadi sebuah kekayaan. Kekayaan bagi seorang pendidik dimana itu ada versi laki-lakinya nih yang menjadi guru Paud, nah seperti itu" AeF (Dosen laki-laki Prodi PG PAUD) Narasumber F mengatakan bahwa elaborasi dari kehadiran kedua gender sebagai pendidik anak usia dini penting diperlukan bagi tumbuh kembang anak. Kolaborasi dari kedua gender ini mampu mengoptimalkan dan memberikan suatu kekayaan dalam sistem pendidikan anak usia dini. Hal ini dikarenakan laki-laki dan perempuan tentunya memiliki gayanya masingmasing dalam mendidik anak. Penelitian yang dilakukan oleh Xu & Waniganayake, . menunjukkan perbedaan gaya mengajar antara guru laki-laki dan guru perempuan. Guru lakilaki lebih leluasa dalam melepas anak untuk mencoba hal baru dan mengambil resiko. Guru laki-laki juga lebih fleksibel dalam metode pengajaran. Hal ini berbeda dengan guru perempuan yang lebih kaku, berhati-hati, dan lebih tradisional dalam metode pengajarannya. Selain itu, guru perempuan lebih banyak mengatur perilaku dan mendisiplinkan anak. Hal ini mengakibatkan anak laki-laki secara bertahap menjadi terlalu pemalu. Sementara guru laki-laki lebih banyak mengajarkan kepada anak tentang ketekunan dan menjadi pekerja keras. Hal ini menyebabkan anak laki-laki dapat tumbuh optimal bila diajar oleh guru laki-laki. Anak laki-laki dapat lebih kuat dan bertanggung jawab. Hal ini dikarenakan apabila anak laki-laki hanya diajar oleh guru perempuan, maka ia akan menjadi pemalu, dan terlalu terikat dengan ibunya . Pengajaran dari guru laki-laki dapat membuatnya mengembangkan sikap yang lebih berani dan percaya diri. Selain itu, guru laki-laki dapat lebih mengembangkan kreaitivitas anak. Hal ini dikarenakan flesibilitas mereka dalam mengajar. Pada guru perempuan yang kaku dalam hal pengajaran, anak hanya belajar tentang konformasi atau kesesuaian dengan apa yang diperintahkan (Xu & Waniganayake , 2. Penelitian lain yang dilakukan oleh Baqi, . turut menyatakan bahwa kehadiran sosok guru dari kedua gender tersebut penting diperlukan anak yang mana hal ini berkaitan dengan pembentukan identitas gender anak. Sosok dari kedua gender tersebut dalam pendidikan anak usia dini dapat mensosialisasikan dan membantu anak dalam membangun identitasnya. Anak akan membentuk dan menyadari identitas gendernya dengan adanya sosok yang memiliki kesamaan dengannya secara fisik. Hal ini menyebabkan anak dapat mengidentifikaskan identitasnya dengan lebih baik. Berdasarkan temuan dari penelitian tersebut dapat dilihat bagaimana perbedaan yang jelas dari guru lakilaki dan guru perempuan, serta bagaimana dampaknya kepada anak. Anak dapat memaksimalkan potensi dan tumbuh kembangnya secara positif apabila ia memperoleh pengajaran dari kedua gender. Hal ini membuat anak dapat mengalami pengalaman secara Guru laki-laki dan guru perempuan memberikan perlakuan yang berbeda Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 kepada anak. Hal ini dapat mengayakan sudut pandang anak, sehingga anak akan dapat tumbuh secara optimal dalam segala aspeknya. KESIMPULAN Penelitian ini menemukan bahwa adanya kekuasaan yang menyebar dalam konstruksi wacana gender dalam masyarakat. Konstruksi akan gender ini yang kemudian membuat adanya pembentukan sikap dan sifat yang disesuaikan dengan konstruksi akan gender tersebut, seperti adanya konstruksi terkait maskulinitas dan feminin. Konstruksi akan wacana gender ini pula yang turut berpengaruh dalam segmentasi pasar kerja. Pasar kerja disegmentasikan berdasarkan gender. Hal ini menyebabkan adanya eksklusivitas gender pada suatu pekerjaan. Eksklusivitas gender ini turut terjadi dalam pasar kerja sebagai pendidik anak usia dini. Profesi tersebut secara ekslusif dikonstruksikan sebagai pekerjaan untuk perempuan. Hal ini membuat rendahnya angka laki-laki yang menggeluti bidang profesi ini. Padahal peran laki-laki juga harus diperhitungkan dalam pendidikan anak usia dini. Kolaborasi antar guru laki-laki dan perempuan justru akan lebih mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Keterlibatan laki-laki sebagai pendidik anak usia dini dapat mensosialisasikan kepada anak tentang keberagaman dan kesetaraan gender, serta memaksimalkan potensi anak. Oleh sebab itu, keterlibatan laki-laki dalam pasar kerja ini sangat diperlukan. Upaya sosialisasi kepada masyarakat terkait hal ini dibutuhkan agar kelak pasar kerja ini dapat menjadi lahan tempat kerja sama antara pendidik perempuan dan laki-laki. DAFTAR PUSTAKA