Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 Dinamika dan Tradisi Kelompok Minoritas Budha Dalam Masyarakat Islam Melayu Palembang Hamidah hamidahmuchlis49@gmail. Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Rahmaniyah Sekayu Abstract This study aims to analyze how the dynamics and traditions of the Buddhist minority group in Palembang Malay Islamic society. The research method in this study basically uses descriptive qualitative research. The results of this study show that the dynamics of the Buddhist minority group in Palembang Malay Islamic society are dynamically related to group identities reinforced by religious and cultural identities in the form of ethnic identities, local tradition identities, and religious thought identities. The dynamics of relations can lead to harmony among Buddhists because of the factors that support this harmony. Where the owner of cultural identity makes a compromise which in the end makes cultural acculturation equally support the creation of balance in society. The adaptation strategy carried out by Buddhists in an effort to build harmony in their environment, through cultural strategies, namely acculturation, and building a dominant culture. The role of religious leaders in the development of Buddhism in Palembang, namely by building relations between religion and ethnicity, religion and religious thought, religion and the culture of the archipelago, religion and foreign culture. Deepen the practice of worship by carrying out rituals of prostration every day. Performing devotional service three times a day, giving dharma lectures after the devotional service. Apart from ordinary days, it is also carried out on religious holidays such as the anniversary of the birth of the Buddha and Bodisatva. Keywords: Dynamics. Traditions. Groups. Minorities. Malay Society Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa bagaimana dinamika dan tradisi kelompok minoritas Budha dalam masyarakat Islam Melayu Palembang. Metode penelitian dalam studi ini pada dasarnya menggunakan penelitian yang menggunakan deskriptif kualitatif. Adapaun hasil dalam penelitian ini dinamika kelompok minoritas Budha dalam masyarakat Islam Melayu Palembang secara dinamis berkaitan dengan identitas-identitas kelompok yang dikuatkan dengan identitas keagamaan maupun identitas budaya yang berwujud identitas etnis, identitas tradisi lokal, maupun identitas pemikiran keagamaan. Dinamika hubungan dapat menuju kepada kerukunan antar umat Budha karena adanya faktor-faktor yang mendukung ke arah kerukunan tersebut. Dimana pemilik identitas budaya melakukan kompromi yang pada akhirnya menjadikan akulturasi budaya sama-sama mendukung terciptanya keseimbangan dalam masyarakat. Strategi adaptasi yang dilakukan oleh umat Budha dalam upaya membangun kerukunan di lingkungannya, melalui strategi kultural, yakni akulturasi, dan membangun budaya dominan. Peran pemuka agama dalam pengembangan Buddha di Palembang, yaitu dengan membangun relasi antara agama dan etnisitas, agama dan pemikiran keagamaan, agama dan budaya nusantara, agama dan budaya asing. Melakukan pendalaman pengamalan ibadah dengan menjalankan ritual sembah sujud setiap hari. Melakukan bakti puja setiap hari tiga kali, memberikan ceramah dharma setelah bakti puja. Selain di hari biasa juga dilakukan di hari-hari besar keagamaan seperti peringatan kelahiran Buddha dan Bodisatva. online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 Kata Kunci: Dinamika. Tradisi. Kelompok. Minoritas. Masyarakat Melayu Latar Belakang Masalah Palembang sebagai salah satu etnis Melayu Nusantara, memiliki Jaring budaya yang terbentuk melalui peradaban pesisir sebagai bagian penting di Asia Tenggara, merupakan sebuah kisah kehidupan masyarakat pinggiran panta, yang secara khusus berada dalam kronik antara abad ke-15 hingga ke-20. Demikian Clifford Geertz dalam bukunya The Interpretation of Cultures, menjelaskan, bahwa manusia merupakan makhluk yang bergantung pada jaringan-jaringan makna yang ditenunnya sendiri, kebudayaan adalah jaringan-jaringan makna tersebut dan substansi kebudayaan itu berupa norma dan nilai yang terbentuk ke dalam suatu sistem, yaitu berupa sistem nilai dan norma . yang terorganisasi sebagai pegangan bagi masyarakatnya untuk berperilaku wajar. Pandangan Geertz ini juga di sepakati oleh Paul B. Horton dan Hunt Chester L, 1997: xi. Adanya jaringan budaya Melayu ini menunjukkan bahwa Interaksi dunia Melayu dengan peradaban-peradaban besar sudah berlangsung sejak masa lalu. Berdasarkan beberapa sumber yang ada diketahui bahwa awal abad ke 9 jauh sebelumnya penduduk pribumi Palembang sudah memeluk agama Islam. Hal tersebut terjadi karena hubungan dagang yang terjadi antara Sriwijaya dan Timur Tengah. Yang mana ajaran Islam tersebut masuk ke Nusantara sudah mulai dari awal abad ke 7 sehingga menyebar ke seluruh Nusantara termasuk Palembang. Akibat dari hubungan dagang, interaksi sosial yang dilakukan oleh penduduk Palembang dan para pedagang dari Timur Tengah tersebut maka Islam perlahan tapi pasti menjadi keyakinan masyarakat pribumi di Palembang. Hingga menjadi salah satu pusat perkembangan Islam di Nusantara. Sriwijaya sebagai pusat kerajaan sekaligus basis agama Budha merupakan suatu wilayah yang banyak diminati oleh para pengunjung dari mancanegara terutama para pedagang. Dimana di Palembang juga sebagai pusat Kerajaan Budha mengalami kemajuan pesat dari segala aspek terutama perdangangan dan pendidikan. Orang muslim di Palembang mendapatkan pelakuan serta hak yang sama oleh pemerintah kerajaan dengan pemeluk agama Budha sebagai mayoritas. Dimana kebebasan dan persamaan hak diberikan bukan hanya dalam bidang perdagangan melainkan juga dalam bidang politik dan diplomatik. Dengan dikirimnya warga muslim ke beberapa negara sebagai duta kerajaan membuktikan bahwa pemberlakuan serta pemberian hak warga muslim tidak ada diskriminasi dengan umat Budha yang ada di Palembang. Sebagaimana dikemukakan oleh Van Den Berg1 dalam penelitiannya yang menginformasikan bahwa pada ahir abad ke-18 orang-orang Hadramaut berdatangan ke Nusantara setelah sebelumnya pernah berlabuh di Pantai Malabar dimana Aceh merupakan tempat singgah pertama, kemudian baru menyebar ke Palembang dan Pontianak. Meskipun perlahan Islam menyebar di Nusantara namun Palembang dan Aceh merupakan tempat domisili pendatang dari Arab. Hal ini disebabkan karena Palembang merupakan tempat yang Lodewijk Willem Christian Van Den Berg yang lebih dikenal dengan L. Van Den Berg merupakan Guru Besar dalam bidang Ilmu-Ilmu Sosial. Leiden University, seorang Orientalis asal Belanda yang lahir di Haarlem. Noord Holand. Belanda pada 19 Oktober 1845, wafat pada tanggal 2 Maret 1972 di usia ke 81 Tahun. Van Den Berg dikenal dengan tulisannya mengenai Arab Indonesia. online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 menjajikan untuk dijadikan lahan perdagangan bagi mereka (Van Den Berg, 2. Terlebih dengan terbuka banyaknya kesempatan yang diberikan oleh sultan Palembang kepada pendatang dari Arab tersebut sehingga memberikan ketenangan bagi para pendatang. Meskipun memang keterbukaan tersebut dilakukan Sultan dalam rangka politik dan proses Islamisasi. Perlahan-lahan rakyat yang berada di wilayah bagian Sumatera mulai menganut agama Islam termasuk daerah iliran yang sebelumnya berada pada kungkungan budaya Palembang perlahan mulai mengalami proses Islamisasi. Seperti halnya dengan daerah uluan yang memiliki jarak tempuh satu minggu perjalanan yang karena jarak tersebut menjadi salah satu faktor penyebab terkendalanya komunikasi dengan masyarakat kota. Label mayoritas dan minoritas sering kali menjadi penyebab utama banyaknya kasus pelanggaran yang terjadi. Hal tersebut disebabkan anggapan bahwa kebijakan serta penegakkan hukum oleh pemerintah lebih condong kepada mayoritas dibandingkan minoritas (Komnas HAM, 2016: 106-. Pelanggaran-pelanggaran tersebut bisa berupa banyak hal di antaranya yaitu pelarangan dalam pendirian rumah ibadah, hal tersebut seringkali dilakukan oleh kaum mayoritas terhadap minoritas. Meskipun pada hakikatnya baik minoritas maupun mayoritas keduanya sama-sama memerlukan yang namanya pendirian rumah ibadah, selain memegang sebagai sarana untuk beribadah, juga melambangkan identitas dari para pemeluk keyakinan masing-masing agama. Meskipun tidak bisa ditampikkan banyaknya pelanggaran yang terjadi, penting diketahui bahwa tidak semua kaum minoritas mengalami pelanggaran berupa tekanan, ancaman, serta sasaran kemarahan dari kaum mayoritas. Sehubungan dengan penelitian ini, dinamika dan tradisi kelompok minoritas Budha di Palembang menjadi fokus penelitian. Yang mana umat Budha di Palembang menyebar hampir di setiap wilayah yang ada di Sumatera Selatan. Berdasarkan informasi yang ada, jumlah umat Budha di Palembang menempati urutan ke 2 setelah umat Islam, yaitu berjumlah 3,63 % dengan total jumlah keseluruhan yaitu berjumlah 62. 698 jumlah keseluruhan di wilayah Palembang. Yang mana dalam melakukan ritual peribadatan, umat Budha difasilitasi dengan banyaknya Vihara yang mudah dijumpai di Palembang. Di antara banyaknyanya Vihara yang ada. Vihara Dharmakhirti merupakan salah satu tempat peribadatan umat Budha yang ada di kawasan Kamboja di Jalan Kapten Marzuki Palembang. Sebagai bangsa dengan masyarakat yang beragam etnis, suku, bahasa dan agama, masyarakat Indonesia mampu menerima keberadaan antara satu dan lainnya, hal tersebut seharusnya dapat dipahami serta dipedomani oleh setiap warga masyarakat agar tercipta kerukunan antar umat beragama, suku bangsa, ras dan golongan. Ketidakpahaman akan hal tersebut akan mengakibatkan lahirnya pemetaan serta pengkotakan warga masyarakat ke dalam kelompok mayoritas dan minoritas. Jika sudah terjadi demikian, maka hubungan antara satu sama lain tidak akan berjalan dengan baik yang kemudian bisa saja diwarnai oleh prasangka sosial dalam berbagai bentuk seperti jarak sosial, sikap membeda bedakan satu sama lain, pembagian kelompok dan lain sebagainya yang dapat membentuk jarak di antara Dengan banyaknya latar belakang agama, etnis, suku, bahasa yang ada, maka beragam pula budaya serta etika yang dilahirkan antara pemeluk agama yang satu dan yang lainnya. karena agama pada dasarnya selain berfungsi sebagai pemersatu sekaligus juga berpotensi menjadi alat pemecah. Maka dari itu pemahaman perbedaan serta keragaman tersebut hendaknya disikapi dengan baik, dengan hati terbuka dengan harapan bisa saling melengkapi online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 satu dan yang lainnya. Meskipun perkembangan Budha di Palembang terkesan lamban, namun para tokoh umat dan agama tetap ada dalam memberikan kontribusi bagi umat dan Hal tersebut dibuktikan dengan masih banyaknya umat Budha yang menduduki hampir setiap wilayah yang ada di kota Palembang serta pengembangan pembangunan Vihara sebagai tempat peribadatan bagi umat Budha di Palembang. Ada beberapa penelitian terkait dengan peelitian ini di antaranya. pertama, penelitian Muhamad Idris, dkk . 9: . yang berjudul Kulturasi Budaya Hindu-Budha Dan Islam dalam Sejarah Kebudayaan Palembang. Kedua, eddy hadi waluyo . 3: . yang berjudul Akulturasi Budaya Cina Pada Arsitektur Masjid Kuno di Jawa Tengah. Dan ketiga, penelitian karya Yanyan Suryana . 7: . yang berjudul Kulturasi Kebudayaanan (Hindu-BudhaIsla. Dalam Buku Teks Pelajaran Sejarah Nasional Indonesia. Dari beberapa penelitiaan di atas perbedaan dengan penelitian saya ada pada bagian bagaimana dinamika yang terjadi saat terjadi akulturasi budaya antara budaya Islam dan Budha. Berangkat dari latar belakang tersebut di atas, penulis berinisiatif melihat lebih lanjut tentang keberadaan umat Budha di Palembang, bagaimana dinamika dan tradisi kelompok minoritas Budha dalam masyarakat Melayu Palembang, serta dalam mempertahankan keberadaan umat dan agama Budha di Palembang sehingga bertahan sampai hari ini dan membaur dengan baik dengan masyarakat lokal. Penulis ingin melihat keberadaan Umat Budha dalam masyarakat Islam Melayu Palembang. Kerangka Teori Teori Toleransi Toleransi menurut istilah berarti menghargai, membolehkan, membiarkan pendirian pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya yang lain atau yang bertentangan dengan pendirinya sendiri. Misalnya agama. Ideologi. Ras (Poerwadarminta, , 1976: . Sedangkan menurut Tillman toleransi adalah saling menghargai, melalui pengertian dengan tujuan kedamaian. Toleransi adalah metode menuju kedamian. Toleransi di sebut sebagai faktor esensiuntuk perdamaian (Diane Tillman, 2004: . Pada intinya Toleransi berarti sifat dan sikap menghargai. Sifat dan sikap menghargai harus ditunjukkan oleh siapapun terhadap bentuk pluralitas yang ada di Indonesia. Sebab toleransi merupakan sikap yang paling sederhana, akan tetapi mempunyai dampak yang positif bagi integritas bangsa pada umumnya dan kerukunan bermasyarakat pada khususnya. Tidak adanya sikap toleransi dapat memicu konflik yang tidak diharapkan. Pelaksanaan sikap toleransi ini harus didasari dengan sikap kelapangan dada terhadap orang lain dengan memperhatikan prinsipprinsip yang dipegang sendiri, yakni tanpa mengorbankan prinsip-prinsip tersebut Daud Ali. Dkk. , 1989: . Jelas bahwa toleransi terjadi dan berlaku karena terdapat perbedaan prinsip, dan menghormati perbedaan atau prinsip orang lain tanpa mengorbankan prinsip mereka sendiri. Dalam menafsirkan toleransi ini ada dua interpretasi konsep. Pertama, penafsiran negatif yang menyatakan bahwa toleransi cukup membutuhkan sikap membiarkan dan tidak menyakiti orang lain atau kelompok yang berbeda dan sama. Sedangkan yang kedua adalah interpretasi positif yang menyatakan bahwa toleransi bukan hanya seperti yang pertama . nterpretasi negati. tetapi harus ada bantuan dan dukungan untuk keberadaan orang lain atau kelompok lain (Masykuri Abdullah, 2001: 13. online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 Dalam toleransi terdapat butir-butir refleksi, yaitu : pertama. Kedamaian adalah tujuan, toleransi adalah metodenya. Kedua, toleransi adalah terbuka dan reseptif pada Ketiga, toleransi menghargai individu dan perbedaannya, menghapus topeng dan ketegangan yang disebabkan oleh ketidak pedulian. Menyediakan kesempatan untuk menemukan dan menghapus stigma yang disebabkan oleh kebangsaan, agama, dan apa yang diwariskan. Keempat. Toleransi adalah saling menghargai satu sama lain melalui Kelima. Benih dari intoleransi adalah ketakutan dan ketidak pedulian. Keenam. Benih dari toleransi adalah cinta, disiram dengan kasih dan pemeliharaan. Ketujuh. Jika tidak cinta tidak ada toleransi. Kedelapan. Yang tahu menghargai kebaikan dalam diri orang lain dan situasi memiliki toleransi. Sembilan. Toleransi juga berarti kemampuan menghadapi situasi sulit. Sepuluh. Toleransi terhadap ketidak nyamanan hidup dengan membiarkan berlalu, membiarkan orang lain dengan kehidupannya. Sebelas. Melalui pengertian dan keterbukaan pikiran orang yang toleran memperlakukan orang lain secara berbeda, danmenunjukkan toleransinya. Akhirnya, hubungan yang berkembangAy (Diane Tilman, 2004: Dapat disimpulkan, bahwa toleransi adalah sikap seseorang yang mampu meninggalkan dengan anggun, menghormati, mengakui, tidak membalas dendam, pengertian, terbuka terhadap pendapat, perbedaan, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, sikap dan sebagainya yang berbeda atau bertentangan dengan posisinya sendiri. Hakikat Dinamika Kelompok Jacobs. Harvill dan Manson, mengenai dinamika kelompok memberikan definisi sebagai sebuah kekuatan yang saling mempengaruhi hubungan timbal balik kelompok dengan interaksi yang terjadi antara anggota kelompok dengan pemimpin yang diberi pengaruh kuat pada perkembangan kelompok. Dinamika Kelompok adalah studi tentang hubungan sebab akibat yang ada di dalam kelompok, tentang perkembangan hubungan sebab akibat yang terjadi di dalam kelompok, tentang teknik-teknik untuk mengubah hubungan interpersonal dan attitude di dalam kelompok. Dinamika Kelompok adalah suatu penyelidikan tentang hubungan sebab akibat di dalam suatu penyelidikan tentang saling hubungan antar anggota di dalam kelompok. bagaimana kelompok terbentuk, dan bagaimana suatu kelompok berreaksi terhadap kelompok Dinamika Kelompok juga mencakup studi tentang Cohesiveness. Leadership. Proses pengambilan keputusan dan pembentukkan subkelompok. Di sisi lain Slamet Santoso mengartikan dinamika kelompok sebagai suat kelompok yang teratur dari dua individu atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara anggota yang satu dengan yang lain. antar anggota kelompok mempunyai hubungan psikologis yang berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama-sama. Yang menjadi karakteristik atau ciri suatu Kelompok menurut Shaw ada 6, yaitu: Persepsi dan kognisi anggota kelompok. Kedua. Motivasi dan kebutuhan kepuasan . eed satisfactio. Ketiga. Tujuan kelompok (Group Goal. Keempat. Organisasi Kelompok. Kelima. Ada ketergantungan antara anggota kelompok. Keenam. Interaksi. Selain itu karakteristik kelompok adalah : Adanya interaksi, adanya struktur, adanya kebersamaan. Adanya tujuan, ada suasana kelompok, dan adanya dinamika interdependensi. Oleh sebab itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa kelompok adalah unit komunitas yang terdiri dari dua orang online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 atau lebih yang memiliki suatu kesatuan tujuan dan pemikiran serta integritas antar anggota yang kuat. Metodologi Penelitian Metode penelitian dalam studi ini pada dasarnya menggunakan penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti ingin menjelaskan fokus kajian mengenai dinamika dan tradisi kelompok minoritas Budha dalam masyarakat Islam melayu di Palembang. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari obyek atau tempat yang akan diteliti . Sedangkan Data sekunder merupakan adalah data yang didapat dari instansi, tempat, atau lembaga tertentu misalnya perpustakaan, badan statistik, departemen keagamaan, dan lain sebagainya (Bagong Suyanto dan Stinah, 2006: . Data utama atau data primer yang dipakai pada penelitian di Vihara Dharmakhirti. Sedangkan data penunjang atau Data sekundernya yaitu data berupa buku, disertasi, skripsi, laporan penelitian, jurnal, serta sumber-sumber lain yang terkait dengan penelitian. Pada wujud tulisan, bisa dlam bentuk laporan penelitian, data dokumentasi berupa vihara, sekolah, serta peninggalan sejarah yang mempunyai hubungan dengan penelitian yang akan dilakukan. Demikian juga dengan data penunjang dari research ini yang didapat dari berbagai sumber yang berupa dokumentasi dan buku-buku yang dianggap pantas dan sesuai juga dapat melengkapi banyak data seperti halnya disebutkan dipandang relevan dan dapat melengkapi banyak data tentu saja data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Jika dari sisi teknik operasional, sumber data yang ada dikumpulkan dengan cata menggunakan metode historis yaitu dengan mengikuti tahap heuristik, tahap verivikasi, tahap interpretasi dan juga tahap penulisan atau historiografi. Dalam melakukan pengolahan data, hal yang perlu dilakukan yaitu : persiapan, tabulasi, serta penerapan data yang relevan dengan pendekatan penelitian. Dalam penelitian ini, analisa data dilakukan ketika proses pengumpulan data dan setelah berahirnya pengumpulan data pada waktu tertentu, demikian diungkapkan oleh Milles dan Huberman. Kegiatan menganalisa data yang di dalamnya terangkum data relation, data display, dan conclusion/verivication yang kesemuanya dilakukan sampai selesai, sampai datanya berahir. Hasil dan Pembahasan Adaptasi Etnis Dalam Masyarakat Melayu Palembang Kebudayaan Arab-Cina-Melayu merupakan satu kesatuan dalam mewarnai budaya, tradisi, agama dan kehidupan sosial masyarakat Melayu Palembang. Dari mereka entitas kemelayuan sampai pada pendewasaan, hingga dapat terhubung dengan komunitas global. Hubungan dagang, akulturasi budaya, dan penyebaran agama telah membawa pada fenomena yang mengakar kuat dalam masyarakat Melayu Palembang dengan bercampurnya budaya yang ada di antara ketiga etnis tersebut. Orang Cina. Arab maupun Melayu memiliki keterikatan kultural yang tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Ketiga etnis ini menjadikan Asia Tenggara sebagai wahana tampilnya peradaban baru yang menampilkan sesuatu yang lain dari apa yang di bawa dari negeri asalnya yaitu Cina dan juga Arab. Budaya yang dibangun menjadi pemersatu antar ketiganya. online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 Masyarakat Nusantara terbentuk dari gugusan-gugusan pulau yang kemudian diikat oleh kepentingan bersama guna pemenuhan kebutuhan kelompok. Yang mana pada masa awal para pendatang dengan beragam latar belakang baik dari India. Cina. Arab dengan tujuan dan misinya masing-masing, hingga kemudian mengeyampingkan segala keperluan serta kepentingan yang menjadi tujuan utama disebabkan suatu hal yang mereka anggap penting melebihi dari apa yang sebenarnya mereka cari. Budaya, merupakan salah satu unsur yang mewarnai interaksi yang terjadi pada pasar dagang di Nusantara dalam hal ini Palembang, karena begitu memikatnya, budaya mampu mengalihkan tujuan utama para bangsa pendatang yaitu penguasaan akan hasil alam berubah menjadi pencarian akan sesuatu yang dianggap lebih berharga, dan harus mereka dapatkan. Yang mana dalam pencariannya mereka mulai bertemu dengan kelompok-kelompok lain yang tak jarang memiliki adat serta tradisi yang berbeda dengan mereka. Perlahan namun pasti, komunikasi mulai berjalan antara ketiganya, yang pada ahirnya dari jalinan komunikasi tersebut mulai mampu mendapatkan sesuatu yang belum pernah di dapat sebelumnya. Polapola seperti ini kemudian meluas, hingga tidak lagi terpisahkan oleh jarak serta kontur geografis yang kerap kali merintanginya. Dari sini mulai terbentuk jejaring rute perjalanan manusia dari yang sebelumnya tertapak di darat lalu kemudian mulai melebar hingga membentuk interaksi antar pulau dan benua. Entitas masyarakat Asia Tenggara, telah terbentuk dari pergaulan manusia lintas Benua. Mereka bukanlah kelompok yang hanya tahu pemenuhan kebutuhan hidup semata, namun sudah sampai pada manusia berbudaya. Dengan begitu sampainya mereka ke Kepulauan Nusantara telah membawa tradisi dari daerah asalnya. Pada ahirnya mereka inilah yang kemudian dikatakan sebagai penduduk pribumi Asia Tenggara. Dinamika manusia Nusantara, tidaklah terhenti pada satu suku bangsa melainkan ada Bangsa Cina. Arab dan India, yang merupakan sekian dari beberapa orang asing yang datang dan menjalin relasi dengan penduduk pribumi. Cina terlebih dahulu menjalin komunikasi dengan masyarakat Asia Barat dalam hal perdagangan. Di antara komoditi unggulan yang laku keras di pasaran Cina dan kala itu hanya dapat ditemui di Asia Barat adalah parfum. Maka dari itu, ketika pedagang Cina masuk dan melakukan transaksi dagang dengan penduduk Nusantara, mereka mulai berpikir komoditi apa yang dapat diniagakan, yang menyaingi komoditi Asia Barat. Setelah dilakukan observasi sederhana di hutan serta lingkungan mereka, barulah penduduk Nusantara dapat memasok kebutuhan yang sebelumnya tidak ditemukan orang Cina di Asia Barat. Beberapa komoditi itu di antaranya adalah kayu Cendana. Kemenyan dan Kapur Barus. Ketika perniagaan mulai mapan, barulah dikenalkan rempah-rempah ke pusat-pusat grosir Cina yang langsung menjadi daya tarik serta diminati banyak orang (Tim Penulis PUSPINDO, 1990: 12-14. Berkaitan dengan informasi tersebut di atas. Wolters, memberitakan tentang perdagangan Trans - Asia sebelum abad ke 7 M, yang menjadi latar belakang perkembangan niaga Nusantara awal. Meskipun pada awalnya informasi akurat yang menginformasikan tentang hubungan dagang yang terjalin antara Cina dan Asia Barat sejak awal abad ke 5Ae7 tersebut sedikit memiliki kendala dalam pencarian sumber yang akurat yang menginformasikan akan hal tersebut. Asia Barat yang dimaksud adalah Semenanjung Arab. Persia dan Pakistan Barat yang kala itu sudah berada dalam kekuasaan orang-orang Arab (O. Wolters, 2011: 13. online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 India banyak mengimpor kayu-kayuan dan rempah-rempah dari Asia Tenggara. dalam naskah-naskah India disebutkan bahwa kayu Gaharu dan Cendana merupakan dua jenis kayu yang didatangkan dari Nusantara. Selain kayu, rempah merupakan salah satu yang menjadi sasaran bagi pedagang India di pasar Nusantara. Cengkeh dan lada menjadi sesuatu yang wajib di dapat ketika berkunjung ke pasar selain kapur barus (Puspindo, 1990: . Cengkeh merupakan rempah yang banyak ditemukan di kawasan Nusantara Timur sudah dikenal lama dalam tradisi India. Tertulis dalam Raghuvamsa karangan Kalidasa . idup sekitar abad 400 M) cengkeh disebut dengan lavangsa yang berarti cengkeh yang berasal dari Dvipantara. Informasi tempat ini merupakan nama lain dari Nusantara. Oleh orang India, cengkeh digunakan sebagai campuran obat yang diperkenalkan oleh Caraka, tabib dari Kerajaan Kaniska pada sekitar abad ke 2 (Puspindo, 1990: . Selain India dan Cina. Pedagang Arab belakangan menjadi aktor penting dalam pergaulan antar bangsa di Asia Tenggara. Etnis Arab yang datang mengalami pembiasaan identitas, ada yang mengatakan Arab berarti Yaman. Mekkah. Persia, namun ada pula yang beranggapan pedagang India juga banyak pula yang mempunyai etnis Arab. Perbedaan tersebut ditetapkan dari bandar awal mereka berlabuh ke Nusantara. Orang Arab, selain dikenal sebagai saudagar juga tersohor sebagai para ahli agama yang diketahui menyebarkan Islam ke Nusantara. Beragam pandangan dan teori yang beredar terkait kapan dan siapa yang membawa Islam di gugusan kepulauan Nusantara. Merujuk pada uraian Uka Tjandrasasmita, sumber sejarah yang hingga masa modern sering dihubungkan dengan lawatan orang-orang Muslim ke Indonesia yaitu berita Cina yang berasal dari hikayat Dinasti Tang. Sumber ini mengisahkan tentang orang-orang Ta-shih (Tazi. Daz. yang menahan keinginannya menyerang kerajaan Ho-ling yang diperintah oleh Ratu Sima sekitar tahun 674 M. Berangkat dari beberapa pendapat yang mengatakan bahwa orang-orang Ta-shih ialah orang Arab yang diperkirakan kala itu sudah bermukim di sekitar Pesisir Barat Sumatra. Penyebutan Ta-shih atau Dazi ini adalah sebutan orang Cina bagi orang Arab (W. Groneveldt, 2009: . Dari catatan ini, maka muncullah anggapan bahwa pada abad ke 7 Masehi atau abad pertama Hijriah, orang-orang Muslim telah datang dan mendirikan perkampungan di Nusantara. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa orang-orang Arab yang membawa Islam dari negeri asalnya (Uka Tjandrasasmita, 2000: . Polemik kedatangan Islam bukan hanya didominasi oleh padangan yang mengedepankan orang Arab sebagai pendakwahnya. Di samping mereka, masih terdapat etnis lain seperti India. Benggal. China. Persia (Drewes, 1968: 444-. Sehubungan dengan penelitian ini, adaptasi budaya yang lahir disebabkan hubungan antar suku bangsa tersebut, seiring berjalannya waktu karakter, kebiasaan, sosial kemasyarakatan, lama-kelamaan menjadi karakter atau identitas dari masyarakat Melayu dalam hal ini yaitu Palembang. Kebiasaan, perilaku, serta budaya yang pada awalnya merupakan pengaruh dari bangsa lain dan pada ahirnya menjadi identitas diri dari masyarakat Palembang. Yang memang dengan posisinya yang strategis tidak heran jika Palembang dijadikan sebagai pusat perdagangan dan bisnis yang menyebabkan banyaknya orang asing yang berkunjung atau tinggal di Palembang, termasuk di antaranya etnis Tionghoa. Hubungan yang terjalin antara Cina dan Palembang menjadikan komunitas Tionghoa sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari historisitas masyarakat Melayu. Hubungan dagang ini diperkuat oleh kehadiran utusan dari Palembang dari abad ke-7 ke abad ke-13 ke Cina. Dari online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 sumber-sumber berita Cina, hanya dapat diketahui bahwa sejak abad ke-7 M, tidak hanya ada hubungan komersial antara kedua wilayah ini, tetapi juga hubungan agama. Ini terbukti dari kehadiran I Tsing, seorang pendeta Buddha dari Cina yang belajar bahasa Sanskerta di Sriwijaya pada tahun 671 sebelum pergi ke Nalanda. India. Dari sumber berita Cina (Ying Yai Sheng La. dapat dilihat bahwa etnis Tionghoa di Palembang berasal dari Kanton. Chang-chou dan Chuan-Chou. Hanya saja sumber etnik tidak disebutkan. Permukiman komunitas Cina berada di wilayah 7 Ulu yang secara administratif mencakup 7 Kelurahan Ulu. Kabupaten Seberang Ulu I. Palembang. Masyarakat Cina adalah bagian dari populasi Palembang, tentu saja pola permukimannya tidak jauh berbeda. Awalnya kelompok etnis Tionghoa, seperti komunitas asing lainnya yang tinggal di wilayah Palembang, berada atas kebijaksanaan sultan Palembang yang ditempatkan di seberang Ulu. Distribusi perencanaan tata ruang perumahan berdasarkan status sosial, pekerjaan dan etnis telah terjadi di Palembang sejak istana masih di Kuta Gawang. Orang Cina ditempatkan di luar istana. Sebagaimana warga negara lainnya yang ada di Palembang, mereka hidup di atas rakit. Rumah rakit yang berada tepat di atas air masih memiliki pola linier hanya dalam hal kuantitas berkurang, ini disebabkan oleh perubahan zaman . erubahan pemerintaha. Mereka secara bertahap membentuk sebuah rumah panggung. Yang mana situasi ini juga berlaku untuk kelompok etnis Tionghoa, sehingga pemukiman Cina kemudian muncul di 7 Ulu dengan semua fasilitas dan infrastruktur. Pemukiman etnis Tionghoa ini ditandai dengan kehadiran rumah, kuil, dan pemakaman Cina di Bukit Mahameru. Gaya arsitektur di wilayah China Town dipengaruhi oleh arsitektur lokal (Palemban. Cina dan Belanda. Sampai akhir pemerintahan kolonial Belanda, pola pemukiman mereka tidak berubah, baik mereka yang hidup di atas panggung dan di atas rakit, yang merupakan pola linier. Sebagaimana yang diinformasikan oleh Djohan Hanafiah dalam bukunya Perang Palembang Melawan VOC mengemukakan bahwa Sriwijaya merupakan Kerajaan yang menguasai lebih banyak perairan di Asia Tenggara. Sebelum ahirnya pad tahun 1377 Palembang dihancurkan oleh Majapahit, di tahun 1374 merupakan terakhir kalinya Raja Palembang. Ma-na-ha. Pau-In-Pang (Maharaja Palemban. mengirim duta besarnya ke Kaisar Cina. Yang mana Maharaja disebut Raja Palembang terakhir pada saat kekuasaan Sriwijaya. Muslim Cina berdatangan ke Palembang setelah kedatangan Komandan Cheng Ho tiga kali ke Palembang dengan menggunakan perahu Djoekoeng yang berlayar selama berbulan-bulan, dengan kondisi ombak yang tidak menentu, seperti halnya di Laut Cina Selatan yang ombaknya tidak begitu bersahabat atau dikenal ganas, yang sering kali menjadi penghambat lambannya para pendatang Cina tersebut menuju Nusantara dalam hal ini Palembang. Merujuk pada kronologi Barnes, pada abad ke-13 M setidaknya 83. 980 orang Tiongkok mampir ke Palembang. Kebanyakan dari mereka tentu saja Muslim, karena Cina dikendalikan oleh Dinasti Ming yang merupakan simbol pemerintahan Muslim di Cina. Muslim Cina yang datang ke Palembang sebagian besar menganut mazhab Hanafi, karena pada Dinasti Ming, sebagian besar komunitas Muslim di Cina memeluk sekolah itu. Mereka yang datang tidak hanya ulama, pedagang, tetapi juga pengrajin, dokter, juru masak, dan tukang kayu. Karena Palembang sejak era Sriwijaya telah dipengaruhi oleh tradisi dan budaya masyarakat Cina, membuat Muslim Cina ini mudah berbaur. Ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara tradisi dan budaya antara orang Palembang dan online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 pendatang Muslim Cina (Taufik Wijaya, 2. Bahkan, tidak sedikit imigran Tionghoa menikah dengan komunitas Melayu yang masih menganut agama Buddha atau Hindu, sehingga melalui pernikahan mereka juga menyebarkan ajaran Islam. Misalnya. Raja Brawijaya setelah menceraikan gundiknya yang berdarah Cina karena ratunya bernama Ratu Dwarawati (Putri Camp. merasa cemburu. Putri Cina diserahkan kepada Arya Damar untuk menjadi istrinya. Arya Damar (Slamet Muljana, 2005: . membawa putri Cina ke Palembang. Wanita itu melahirkan seorang putra Brawijaya bernama Raden Fatah. Kemudian dari pernikahannya dengan Arya Damar. Raden Kusen lahir. Dengan demikian menciptakan silsilah yang rumit antara Arya Damar. Raden Fatah, dan Raden Kusen. Setelah mereka dewasa. Raden Fatah dan Raden Kusen meninggalkan Palembang menuju ke Pulau Jawa. Raden Fatah akhirnya menjadi raja pertama Demak, dengan gelar Panembahan Jimbun. Penyebaran Islam di Palembang, selain dilakukan oleh pedagang Arab, tampaknya pedagang Cina juga memainkan peran dalam menyebarkan Islam di wilayah pesisir Palembang. Bahkan sejarah kota Palembang tidak terpisahkan dari Laksamana Cheng Ho. Sejak berkeliling dunia. Cheng Ho datang ke Palembang 4 kali. Cheng Ho adalah seorang Muslim yang adalah orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok . emerintah 1403-1. , kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal sebagai Ma Sanbao, berasal dari provinsi Yunnan. Dalam upaya memperingati layanan Laksamana Cheng Ho dalam menyebarkan Islam di Palembang, etnis Muslim Cina mengambil inisiatif untuk mendirikan Masjid Muhammad Cheng Ho al-Islam, yang berlokasi di Jakabaring. Keberadaan Masjid Cheng Ho telah membawa warna dan bentuk yang berbeda dengan penampilan masjid-masjid lain di kota Palembang. Masjid Cheng Ho memiliki spesifikasi Cina untuk interior dan eksterior. Arsitektur dan ornamen Masjid Cheng Ho, baik struktural maupun non-struktural, menunjukkan akulturasi unsur-unsur Cina (Cin. Islam (Ara. , dan budaya lokal (Melayu Palemban. Proses akulturasi tercermin dalam bentuk gerbang masjid, yang menyerupai gerbang pagoda, dan warna bangunan masjid didominasi oleh warna merah, kuning dan hijau. Gerbang masjid dibangun dengan ornamen seperti kuil yang memiliki lima atap menumpuk dan lima tingkat memiliki makna waktu shalat dalam satu malam. Sedangkan tiga tingkatan Tuhan, alam dan manusia, dalam kehidupan ini tidak dapat dipisahkan. Sementara atap pusat sebagai bagian atas, setiap atap memiliki atap miring di ujungnya merupakan ciri khas yang berasal dari Cina, yaitu tanduk kambing, dan pilar melengkung berwarna merah gelap yang berarti kesejahteraan, hijau, kuning keemasan, dan kaki pilar putih. Hijau berarti keseimbangan dan harmoni, membangkitkan ketenangan dan tempat untuk mengumpulkan energi baru. Sedangkan emas kuning mencerminkan posisi, kekayaan, kemakmuran dan putih yang berarti kekudusan (Sri Hastuti Heldani, 2015: 127 lihat juga Suyuthi Pulungan, 2017: Sementara itu, bentuk dan ornamen menara memiliki dua menara di kanan dan kiri yang menyerupai kuil Cina. Bangunan menara masjid memiliki lima tingkat atas yang berarti sholat lima waktu fardhu lima kali sehari semalam. Setiap tingkat memiliki puncak pagoda oktagonal . at kw. dengan tepi melengkung, yang berarti keberuntungan dan kemuliaan. Ornamen tanduk kambing tradisional Melayu yang selalu dimasukkan dalam arsitektur masjid memiliki makna simbol surga ((Sri Hastuti Heldani, 2015: . Di atap menara ada online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 penggambaran motif semangka yang berarti harapan untuk kebaikan dan kesuburan. Diharapkan bahwa masjid ini akan selalu memberikan penyebaran, kesejukan, dan pencerahan, tingkat di atas atap adalah bentuk hubungan manusia dan kepatuhan kepada Tuhan, tingkat kepatuhan manusia melalui doa lima kali sehari dan malam. Keberadaan Masjid Cheng Ho di Palembang tidak semata-mata menghormati perjuangan Laksamana Cheng Ho sebagai tokoh Muslim Cina. Selain itu, nama Cheng Ho diabadikan untuk memberi kita kesadaran akan pentingnya memberikan contoh tentang apa yang telah dilakukan Laksamana Cheng Ho untuk menyebarkan perdamaian (Suyuthi Pulungan, 2017: . Sekarang Masjid Cheng Ho di Palembang, yang terletak di wilayah 15 Ulu. Seberang Ulu 1. Jakabaring. Kota Palembang. Sumatra Selatan telah menjadi salah satu tujuan budaya religius di Palembang. Masjid Cheng Ho di Palembang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Namun, di masjid ini ada juga acara Islam dan komunitas dan membina kegiatan untuk mu'alaf, terutama yang berasal dari etnis Cina. Asosiasi Islam Cina Indonesia (PITI) Sumatera Selatan (Sumatra Selata. , yang memprakarsai pendirian Masjid Cheng Ho di Palembang dan bertempat di masjid ini, terus membina setiap anggota yang bertobat, dengan memberikan bantuan agama. Mengingat jumlah mualaf meningkat, terutama di bulan suci Ramadhan. Ketua PITI Sumatera Selatan Akhmad Affandi mengatakan, tidak semua orang mendapat bimbingan untuk masuk Islam, hanya orang yang dipilih oleh Tuhan. Dia bersyukur bahwa saat ini ada 6. 000 anggota baru di Sumatera Selatan. "Mereka biasanya datang kepada kami untuk mengatakan dua kalimat syahadat di Masjid Cheng Ho. Alhamdulillah, ada banyak Setelah mengisi formulir untuk pengumpulan data, syahadat, katanya di sela-sela memberikan hadiah kepada mualaf di Kantor PITI Sumatera Selatan (Suyuthi Pulungan, 2017: . Orang-orang percaya Cina tidak dibiarkan sendirian, tetapi mereka menerima bimbingan dari PITI Sumatera Selatan di Masjid Cheng Ho, baik melalui berbagai kegiatan pengajaran dan bimbingan agama. Para mualaf ini tidak hanya mengajarkan Al QurAoan, tetapi juga mengajarkan tata cara sholat, wudhu, dan monoteisme, sehingga mereka menjadi Muslim "Seperti di bulan Ramadhan, mereka juga terlibat dalam kegiatan malam Nuzulul Quran yang dilakukan di Masjid Cheng Ho. Melalui pembinaan, kita lebih diarahkan untuk menjalani kehidupan Muslim yang baik," jelas Ketua Sumit PITI Akhmad Affandi. Selanjutnya, menurut Fathiyatul Haq Mai Al-Mawangir. PITI Sumatera Selatan sebagai organisasi yang dibentuk untuk mengakomodasi komunitas Muslim Cina dari seluruh Sumatera Selatan. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh organisasi ini adalah melakukan kegiatan pelatihan untuk mualaf yang bertujuan untuk saling mengingatkan dalam ajaran Islam, memperkuat antusiasme satu sama lain dalam mempraktikkan Islam di lingkungan keluarga non-Muslim dan merangkul komunitas Cina lainnya. yang ingin memperdalam Islam, sehingga praktik hukum Islam benar-benar dilakukan dengan benar dan bebas dari pengaruh agama-agama sebelumnya (Fathiyatul Haq Mai Al-Mawangir, 2015: . Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Masjid Cheng Ho yang terdaftar dalam Sistem Informasi Masjid (SIMAS) dengan ID Masjid Nomor 01. 000051, adalah bukti bahwa Islamiyah Cina di bumi Sriwijaya. Ini berarti, selain menjadi simbol bahwa Muslim Cina memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di Palembang, tetapi juga merupakan salah satu pusat nilai-nilai agama Islam yang dipraktikkan oleh Muslim Cina. Terlepas dari semua online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 masalah asimilasi etnis Tionghoa dengan penduduk asli Palembang, proses asimilasi masih dianggap sebagai pilihan terbaik untuk menciptakan integrasi etnis Tionghoa di komunitas Muslim mayoritas di Palembang. Proses asimilasi dapat terjadi melalui akulturasi dan asimilasi budaya. 2 Asimilasi yang paling tepat adalah melalui agama kelompok mayoritas, yaitu Islam. Jika peranakan Cina berbaur dengan agama mayoritas etnis, maka asimilasi akan dilanjutkan dengan cepat. Dengan memeluk Islam, orang Cina peranakan akan disambut dengan hangat karena dalam ajaran Islam ditekankan bahwa orang percaya adalah saudara dan saudari satu sama lain, meskipun ada perbedaan etnis. Perbedaan di antara mereka hanya untuk saling mengenal . a'aru. Dengan demikian, itu berarti bahwa agama dapat dipastikan sebagai faktor pendukung untuk proses asimilasi. Berdasarkan fakta bahwa banyak orang Cina telah memeluk Islam dan dapat hidup berdampingan secara intim dengan masyarakat setempat. Dalam konteks ini, baru-baru ini, dalam artikel Choirul Mahfud "Peran Masjid Chengho" mengungkapkan peran Masjid Cheng Ho juga memiliki kontribusi dalam memperkuat hubungan bilateral yang harmonis antara pemerintah Indonesia dan negara Cina. Oleh karena itu. Masjid Cheng Ho dianggap sebagai jalur "sutra baru". Seperti diketahui, sejarah rute sutra "lama" adalah rute penting bagi hubungan diplomatik dan perdagangan China dengan negaranegara Asia. Afrika dan Eropa selama Dinasti Han. Sekarang. Muslim Cina di Indonesia telah memprakarsai dan memberikan kontribusi penting dalam membangun kembali rute sutra "baru" melalui masjid Cheng Ho (Chorul Mahfud, 2014:. Ketika ditarik dalam konteks keberadaan Masjid Cheng Ho Palembang, dapat dipahami bahwa keberadaan Masjid Cheng Ho Palembang bukan hanya tempat ibadah khas Islam Cina, tetapi juga potret baru Islam Melayu Palembang. Oleh karena itu. Masjid Cheng Ho juga memiliki kontribusi dan peran yang tidak sedikit, terutama dalam aspek pariwisata religius, budaya sosial, dan pendidikan agama bagi komunitas Muslim Cina di Palembang. Berdasarkan hal di atas dipahami bahwa pada masanya Palembang telah menjadi "ibukota ekonomi tidak resmi" karena posisinya yang dibintangi sebagai pusat perdagangan dan bisnis dan bahkan Palembang secara sosial dan budaya penduduknya mengidentifikasi diri mereka sebagai Melayu. Karena lokasinya yang strategis, banyak orang asing mengunjungi atau menetap di Palembang, termasuk etnis Cina dan Arab dan orang asing Pada gilirannya, banyak orang asing mengunjungi atau menetap di Palembang, termasuk etnis Cina. Hubungan perdagangan telah terjalin antara Cina dan Palembang, meskipun sumber-sumber tertulis mengatakan bahwa puncak hubungan perdagangan terjadi pada abad ke 10-16 Masehi. Hubungan dagang ini diperkuat oleh kehadiran para utusan dari Palembang dari abad ke-19 hingga abad ke-13 M ke Cina. Dari sumber berita Cina, hanya Dalam komunitas internal Cina sendiri ada juga pergeseran makna identitas Cina itu sendiri dalam format yang berubah. Menurut Lan, pergeseran dari Cina tradisional dan berorientasi etnis dan leluhur ke Cina modern dan berorientasi nasional dan lokal . alam hal ini Indonesi. Pergeseran ini tampaknya juga terkait dengan upaya meninggalkan trauma masa lalu, di mana identitas Cina yang berorientasi pada budaya negara leluhur tidak jarang terjebak dalam masalah nuansa politik. Lihat Lan. AySusahnya Jadi Orang Cina. Ke-Cinaan Sebagai Konstruksi SosialAy. Dalam Wibowo. I . Harga Yang HarusDibayar. Sketsa Pergulatan Etnis Cina di Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama dan Pusat Studi Cina, online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 dapat dilihat bahwa sejak abad ke-7 M, tidak hanya ada hubungan komersial antara kedua wilayah, tetapi juga hubungan agama. Ini terbukti dari kehadiran I Tsing, seorang pendeta Buddha dari Cina yang belajar bahasa Sanskerta di Sriwijaya pada tahun 671 sebelum pergi ke Nalanda. India. Identitas Islam yang melekat dalam komunitas Melayu, secara tidak langsung berkontribusi positif dalam membentuk karakter komunitas Melayu secara umum. Sehingga secara umum, masyarakat Melayu dianggap sebagai masyarakat yang religius, santun dan bermoral tinggi, yang tercermin dalam bahasa Melayu dalam bentuk pilihan kata dan perilaku yang tepat dan hati-hati. Bahkan. Valentijn menyatakan bahwa komunitas Melayu sebagai masyarakat yang sangat cerdas, cerdas, dan sangat santun di seluruh Asia. Valintijn juga menambahkan bahwa masyarakat Melayu bersih, tampan, sangat baik, dan memiliki standar moral yang tinggi. Dalam hal ini. Koentjaraningrat . menyatakan bahwa secara umum komunitas Melayu memiliki beberapa karakteristik yang muncul sebagai upaya untuk menghindari konflik dalam interaksi yang dibangun dengan orang lain. bahasa yang luhur, yang tercermin dalam bahasa dan bahasa Melayu yang halus dalam bentuk sajak, puisi, dan perumpamaan. bukan penegasan diri, terutama untuk masalah kekayaan dan pendapatan. Perasaan sentimental atau sangat sensitif dan halus, yang tercermin dalam lagu-lagu Melayu yang mampu menyentuh perasaan, tertutup, sehingga orang Melayu dianggap sebagai orang yang lambat beradaptasi karena membutuhkan proses yang lebih lama. toleran, berinteraksi secara damai dan menghormati kelompok lain. dan memiliki harga diri yang tinggi. Karakteristik komunitas Melayu yang disajikan di atas, menggambarkan, bahwa identitas Islam yang melekat dalam komunitas Melayu, telah bersinergi dan berkolaborasi dalam membentuk karakter positif yang ada dalam komunitas Melayu. Sementara lebih spesifik dan terinci belum ditemukan secara empiris tentang karakteristik komunitas Islam Melayu. Selanjutnya, perkembangan budaya Melayu di era informasi, yang diikuti oleh arus modernisasi dan globalisasi saat ini, telah menyebabkan akulturasi budaya dari luar Islam untuk memiliki pengaruh pada pengembangan karakter masyarakat Melayu. Indikasi ini dapat dilihat dari pengabaian kesopanan bahasa yang dulunya sangat dihargai oleh masyarakat Melayu, terjadinya kemerosotan moral yang ditandai dengan munculnya perilaku tidak beradab dan merugikan orang lain, penggunaan bahasa kelas rendah di masyarakat. Bentuk teguran dan kutukan yang tidak tahu tempat, serta hilangnya kepekaan dan kepedulian di antara orang-orang yang pernah menjadi karakter positif dalam komunitas Melayu. Lebih jauh, perkembangan di era modernisasi dan globalisasi yang diikuti oleh penerapan teknologi informasi tanpa batas di atas, telah mengubah kehidupan masyarakat secara umum, termasuk sistem nilai yang diadopsi yang sebelumnya dipegang kuat oleh komunitas Islam Melayu. Perubahan-perubahan ini, suka atau tidak, telah menggeser karakter positif dalam komunitas Islam Melayu. Misalnya, karakter komunitas Islam Melayu yang dulu lebih dikenal sebagai gotong-royong, ramah dan peduli terhadap orang lain, kini telah bergeser menjadi lebih individualistis, dan mengurangi kepedulian terhadap orang lain. Karakter positif dalam komunitas Islam Melayu Palembang sopan, santun, lucu, dan rajin, karakter negatif ada satu yaitu malas. Orang Palembang sebenarnya terbentuk dari campuran pendatang dari Jawa pada zaman kerajaan Sriwijaya dengan orang Melayu. Cina dan suku-suku bangsa lain di sekitarnya. online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 Karena pada masa sekarang unsur-unsur kebudayaan dan bahasanya hampir sama dengan kebudayaan dan bahasa orang Melayu, maka dari itu ada pula ahli yang menyebutnya Melayu Palembang. Mereka berdiam di kota Palembang dan sekitarnya, terutama di sepanjang Sungai Musi, daerah Tangga Buntung. Sungai Tawar. Bukit Seguntang. Plaju Jalan Darat dan Kertapati. Kata Palembang mungkin berasal dari kata "palimbangan", yaitu kegiatan mendulang emas di sungai. Pada zaman kesultanan Palembang warga masyarakat ini memang banyak yang bekerja sebagai pendulang emas di muara Sungai Ogan. Pendapat lain mengatakan bahwa Palembang berasal dari kata AyPalembaAy artinya tanah yang terhampar. Menurut para ahli pada zaman dulu daerah Palembang terletak dekat pantai, tidak di pedalaman seperti sekarang. Relasi Agama dan Budaya Sebagai Strategi Kerukunan Di tengah-tengah masyarakat Melayu Palembang, selain masyarakat muslim sebagai masyarakat mayoritas, ada juga umat Budha. Kristiani, dan juga Hindu. Yang mana dengan berbagai latar belakang keyakinan yang beragam tersebut, tidak serta merta menjadikan Palembang sebagai tempat yang sarat dengan konflik, karena sikap toleran, dan saling menghormati anatara satu dengan yang lainnya tetap dijunjung tinggi. Tidak heran jika kehidupan masyarakat terjalin dengan baik dan harmonis. Seperti halnya pemeluk agama Budha, yang dalam melaksanakan rutinitas keagamaan, yang difasilitasi dengan banyaknya vihara yang ada di kota Palembang, menginformasikan bahwa keberadaan umat Budha di tengah-tengah masyarakat Islam Melayu Palembang diterima dengan baik. Dalam hal peribadatan, baik peribatan yang bersifat keseharian ataupun peribadatan pada hari besar, umat Budha melakukan kegiatan tersebut di Vihara dengan bimbingan dari seorang Biksu. Yang mana semua biara berisi berbagai simbol sakral, yang sebagian besar adalah arca Buddha Sakyamuni plus lilin, bunga, dan dupa yang umumnya ditawarkan, sebagai simbol ajaran. Yang menjadi simbol umum yang terdapat dalam Budha Mahayana dan Theravada adalah simbol bendera Buddha, gambar Buddha, pohon Bodhi, dan Patta. biara-biara Mahayana orang mendapat simbol-simbol suci lainnya seperti ikan yang terbuat dari kayu, kepala naga, kendi, bel, drum, dan sebagainya. Orang-orang merasa kesulitan untuk mendapatkan berbagai jenis peralatan keagamaan di biara-biara Theravada, sehingga praktik ritual Theravada tidak terlalu sulit dibandingkan dengan Mahayana. Bhikkhu Mahayana mengenakan ao trang . ubah cokla. dan ao luc binh . ubah informal atau kerj. setiap hari, dan pada kesempatan resmi mereka mengenakan ao hau . ubah upacara lua. Samanera memakai ao nhut binh . ubah coklat atau warna langit / pakaian pelengka. Jubah kuning kunyit dengan bentuk yang sedikit berbeda. Bhikkhu Theravada selalu menggunakan civara dan di antara vasaka dua kain panjang, yang dipakai sebagai jubah. Pada acara-acara resmi, sanghati, jubah panjang yang dilipat rapi dipakai di bahu kiri . eperti memakai selendan. Jubah itu bisa kunyit kuning, kulit kuning, kuning kemerahan atau merah hati. Umat Buddha Theravada bertujuan untuk mencapai Nirvana (Nibban. dengan menjadi seorang Arahat . rang yang mencapai kemurnian tertinggi, juga disebut Buddha Savak. Theravada menekankan bahwa pencapaian Arahat adalah tujuan akhir kehidupan, setelah itu tidak ada kelahiran kembali. Sedangkan Mahayana menekankan bahwa ada kelahiran kembali online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 untuk seorang Arahant, seperti Sariputra. Moggalana, dan orang suci lainnya, dan juga menekankan bahwa benih-benih Kebuddhaan ada di setiap orang. Sekolah Mahayana Kebuddhaan . enjadi Sammasambuddh. dengan mengikuti Jalan Bodhisattva. Mahayana memandang Bodhisattva sebagai makhluk yang telah mencapai pencerahan sempurna, sementara Theravada menyatakan bahwa Bodhisattva adalah makhluk yang belum mencapai pencerahan sempurna. Para bhikkhu hidup tanpa menikah, baik di Theravada dan Mahayana. Tidak ada lagi biarawati di Theravada kecuali mereka yang menjalankan sepuluh sila atau Anagarika, yang tidak menerima penahbisan penuh. Sebaliknya. Mahayana menyatakan bahwa sangha bhikkhuni tidak pernah menghilang dari dunia ini. Di sekolah Mahayana ada Samaneri . alon biarawat. dan Sangha Bhikkhuni adalah perjamuan biarawati. Beberapa orang berpikir bahwa Mahayana lebih memilih pengikut, sedangkan Theravada lebih menekankan pada asketisme atau bhikkhu. Berangkat dari penjelasan tersebut di atas, dipahami bahwa, dengan beragamnya suku, bangsa dan agama yang ada di Palembang, menjadikan Palembang sebagai kota yang memiliki beragam etnis, susuk yang saling menghormati satu sama lain, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan beragama. Saling menghormati satu sama lain, menjadikan hubungan yang sekian lama terjalin antar suku, agama, dan budaya yang ada di Palembang semakin erat dan harmonis. Sehingga apa yang menjadi cita-cita bersama yaitu meciptakan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera dapat diwujudkan dengan baik. Dalam kegiatan sosial misalnya, umat Budha dalam hal ini banyak melibatkan diri dalam keanggotaan organisasi, dan juga individu. Seperti dalam upaya menciptakan keamanan dan kenyamanan bersama maka dijalinlah kerja sama dalam bentuk gotong royong, donor darah dan saling mengunjungi satu sama lain antar umat terutama dalam perayaan hari besar keagamaan, sehingga terjalin hubungan yang hangat, akrab dan sikap saling melindungi satu sama lain dengan dasar persamaan hak, dan kewajiban sebagai umat manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Relasi Agama Budha dengan Budaya Asing di Palembang Budaya Palembang dipengaruhi oleh budaya Melayu. Jawa. Cina, dan Arab. Bahasa sehari-hari yang digunakan di kota Palembang disebut Aubaso Palembang atau sari SariAy. Bahasa ini mengandung unsur-unsur dialek Melayu seperti apo, cakmano, kemano, disiapkan dengan unsur-unsur Jawa seperti lawang, wong, banyu dan lain-lain. Atap rumah limas tradisional Palembang hampir mirip dengan rumah joglo di Jawa Tengah. Gaun pengantin Aesan gede Palembang adalah perpaduan budaya Melayu. Cina, dan Jawa. Di Palembang ada juga wayang kulit yang mirip dengan wayang di Jawa. Budaya Palembang dimulai di kerajaan Sriwijaya, kerajaan maritim terbesar di kepulauan yang mengalami puncak kejayaan pada abad ke-7 Masehi pada masa pemerintahan Balaputera dewa. Pada waktu itu Palembang adalah pusat penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara. Sriwijaya juga memainkan peran dalam menyebarkan bahasa Melayu di seluruh koloninya di pulau-pulau. Malaysia dan Thailand selatan. Kemudian Sriwijaya mulai mengurangi pengaruhnya di abad ke-11 karena diserang oleh kerajaan Cola dari India dan akhirnya memudar. Nama Palembang muncul lagi ketika berdirinya kesultanan Palembang Darussalam pada abad ke-15 ketika Islam mulai menyebar di nusantara. Kesultanan online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 Palembang Darussalam didirikan oleh sekelompok orang dari Kesultanan Demak Jawa Tengah yang kalah perang dengan Kesultanan Mataram Islam. Mereka dipimpin oleh Ki Gede Sido ing Lautan. Ki Gede Sidoing Lautan sendiri masih memiliki darah Palembang. Saat itu. Palembang dipimpin oleh sekelompok pemimpin dari etnis Melayu. Singkatnya, tanpa pertumpahan darah. Ki Gede Sido ing Lautan berhasil mendekati para pemimpin etnis Melayu dan menjadi sultan pertama dari Kesultanan Palembang. Pada saat itu di lingkungan internal kerajaan digunakan bahasa Jawa lunak sebagai bahasa resmi. Secara bertahap interaksi antara pihak-pihak kerajaan dari Jawa dan masyarakat Palembang yang berbahasa Melayu membentuk bahasa baru yang sekarang dikenal sebagai bahasa Palembang/Plaso bahaso. Bahasa Palembang menggabungkan kosakata dari Bahasa Melayu Palembang . dengan bahasa Jawa. Bahasa Palembang juga dikenal sebagai Alo Meatball / Crampo . ahasa luna. dan Baso Sari-Sari . etiap har. Selain bahasa, hubungan antara etnis Jawa dan Melayu akhirnya melahirkan budaya baru yang dikenal sebagai budaya Palembang. Kesultanan Palembang Darussalam mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II pada awal abad ke-19. Pada masanya Masjid Agung Palembang dan Benteng Kuto Besak dibangun. Setelah Sultan Mahmud Badaruddin II meninggal, kesultanan mengalami penurunan dan akhirnya kesultanan Palembang Darussalam dibubarkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun Saat ini beberapa budaya Palembang terancam punah termasuk Bahaso alus Palembang dan wayang kulit karena kurangnya Bahaso alus dan dalang dari Palembang. Seperti kita ketahui budaya dapat dikatakan sebagai tindakan manusia dalam upayanya beradaptasi dengan lingkungannya. Kondisi lingkungan suatu daerah merupakan salah satu faktor dalam menentukan pola perilaku manusia yang menempatinya. Contoh yang menggambarkan bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungannya dapat dilihat dari bentuk rumah mereka. Rumah juga bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk budaya karena merupakan hasil karya manusia. Sebagai bagian dari sistem selain menjadi karya manusia ada juga norma yang mempengaruhi perilaku manusia dalam membangun rumah. Norma atau aturan ini kemudian dapat dilihat melalui perilaku dalam bentuk upacara pendirian atau menempati rumah baru dan penataan ruangnya. Dari penggalian di Situs Museum Badaruddin pada 1990 dan Kara nganyar pada 1993 ditemukan sisa-sisa tiang kayu. Berdasarkan laporan Chau Jua Kua, orang-orang Palembang sekitar abad XII - Xi menetap di tepi sungai dan tinggal di rumah-rumah dalam bentuk rumah panggung atau rumah rakit. Demikian menurut Sevenhoven, yang menulis tentang Kota Palembang sekitar abad ke-19, menjelaskan bahwa rumah-rumah pada masa itu terbuat dari kayu. Dari uraian ini, kemungkinan sisa-sisa tiang kayu yang ditemukan di Situs Museum Badaruddin dan Karanganyar adalah tiang rumah. Mengenai arsitektur tempat tinggal di Palembang di masa lalu kemungkinan tidak jauh berbeda dengan arsitektur rumah-rumah tradisional Palembang yang masih dapat dilihat sampai sekarang. Secara umum, rumah adat Palembang memiliki 3 jenis, yaitu rumah limas, rumah gudang, rumah rakit. Bentuk umum rumah piramida dan cara gudang adalah rumah panggung, sedangkan rumah rakit adalah rumah di atas rakit yang mengambang di sungai. Dari penjelasan di atas, adaptasi antara budaya Palembang dan Buddhisme adalah bahwa selain bahasa atau dialek orang Palembang yang dipengaruhi oleh budaya Hindu yang sebelumnya memasuki nusantara, pengaruh atau adaptasi juga mempengaruhi dalam hal online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 arsitektur bangunan rumah. Kemudian bangunan masjid tempat umat Islam beribadah tidak terlepas dari pengaruh budaya Cina yang masuk di Palembang. Relasi Budha Palembang dengan Budaya Nusantara Dalam memahami pengalaman masa lalu manusia, di mana sekelompok orang tidak terbiasa dengan tulisan, selalu melihat alam sebagai bagian terpenting dalam menentukan perubahan diri di lingkungan mereka. Alam adalah realitas kehidupan dan itu sendiri adalah bagian dari alam. Manusia di masa lalu masih memiliki sikap yang sangat hormat dan bahkan memuja alam. Alam memiliki kekuatan yang sangat menentukan kehidupan manusia. Perubahan yang terjadi pada manusia tidak lepas dari kekuatan yang terjadi dalam hukum Asal usul peristiwa yang terjadi di lingkungan alami atau pada manusia sebagian besar ditentukan oleh kekuatan di luar manusia. Kekuatan ini bisa dalam bentuk hukum kodrat itu sendiri atau tokoh dewa atau tokoh tertentu yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Dengan demikian, di masa lalu masyarakat, terutama mereka yang tidak terbiasa dengan menulis, melihat asal dan peristiwa sebagai religio-magis. Pemikiran magis-religius ini pada umumnya bisa dalam bentuk kepercayaan yang disebut animisme-dinamisme dan bisa dalam bentuk totemisme. Namun seiring waktu ketika budaya Hindu-Budha dari India sekitar abad ke-2 memberi ciri lain dalam budaya Indonesia yang bisa langsung dikatakan akulturasi budaya. Terlihat lebih luas, tidak hanya budaya spiritual seperti agama yang dipengaruhi oleh Hindu-Budha tetapi juga budaya material Penyebarannya di Sumatra dan di Jawa pada masa-masa awal memungkinkannya menyebar ke seluruh kepulauan. Menurut Takdir Alisyahbana, bahwa budaya asli Indonesia dalam bentuk roh dan kekuatan gaib yang masih kabur dalam bentuk dan fungsinya, dalam budaya India memiliki lebih banyak kepribadian seperti dewa dan karakteristik mereka sebagai simbol kekuatan alami, yang memiliki hierarki dan kekuatan . sebuah fungsi yang tentunya dalam proses kosmos dan dalam kehidupan manusia. Roh-roh gaib dan energi rakyat Indonesia, bertemu dan dalam banyak hal terbenam dalam sistem dewa dan kekuatan sihir Hindu, yang telah dipikirkan dengan lebih sempurna dan terdiri dari kepercayaan budaya asli Indonesia. Meskipun dalam sejarah budaya Indonesia, terutama dalam hal kepercayaan telah dipengaruhi oleh berbagai elemen budaya, namun, elemen budaya asli, terutama di daerah pedesaan, meskipun mereka telah dipengaruhi oleh budaya yang berbeda akan tetap mewarisi budaya asli, atau setidaknya mengintegrasikan mereka. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Sutan Takdir Alisyahbana bahwa adat istiadat yang berlaku pada masyarakat berakar pada budaya yang dikembangkan oleh para leluhur secara berkelanjutan atau bahkan tanpa Berdasarkan apa yang dikatakan Ali Syahbana di atas, setidaknya terlepas dari perkembangan sains yang tampaknya meminggirkan sendi budaya masyarakat sebelumnya, dengan pengamatan yang cermat terhadap orang-orang yang, meskipun terkontaminasi dengan budaya baru, masih meninggalkan kebajikan dari masa lalu terus mempertahankan Pengaruh Akomodasi Kultural Terhadap Relasi Antar Umat dan Agama Kata akomodasi dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang menunjuk terciptanya keseimbangan dalam hubungan-hubungan sosial antarindividu dan kelompok-kelompok online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 sehubungan dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk kepada usaha-usaha manusia untuk meredakan pertentanganpertentangan atau usaha-usaha untuk mencapai kestabilan interaksi sosial. Menurut Ting-Tomey . , identitas kultural merupakan perasaan . motional significanc. dari seseorang untuk ikut memiliki . ense of belongin. atau berafiliasi dengan kultur tertentu. Masyarakat yang terbagi ke dalam kelompok-kelompok itu kemudian melakukan identifikasi kultural . ultural identificatio. , yaitu masing-masing orang mempertimbangkan diri mereka sebagai representasi dari sebuah budaya partikular. Identifikasi kultural ini, menurut Rogers dan Steinfatt . , akan menentukan individuindividu yang termasuk ingroup dan individu-individu yang termasuk outgroup. Bagaimana mereka berperilaku sebagian ditentukan oleh apakah mereka termasuk ke dalam budaya tertentu atau tidak (Turnomo Rahardjo, 2005: 1-. Dengan beragamnya latar belakang umat budha di Palembang, maka peribatn, aliran serta vihara dari masing-masing aliran juga cendrung berlainan. Dengn adanya perbedaan etnis, tentu saja didapat banyak perbedaan dalam hal lainnya. Dalam hal cultural, umat budha di Palembang masih ada bekas trauma di masa lampau yang sampai saat ini masih dalam proses pemulihan. Meskipun rasa trauma tersebut tidak mudah untuk dilupakan, paling tidak upaya untuk pemulihan sudah dilakukan dengan semaksimal mungkin. Dalam hubungan antar umat dan agama, di kota Palembang ada yang namanya FKUB yaitu forum komunikasi umat beragama yang di dalamnya mewadahi permaslahan yang menyagkut kegamaan antar umat. Yang mana tugas dari FKUB tersebut merangkul berbagai pemeluk agama untuk menuju ke tujuan yang lebih besar lagi yaitu kerukunan untuk umat beragama dan Negara (Wawancara dengan pak Hari. Yang mana dalam kondisi terahir, mindset umat Budha Maitreya sudah mengarah ke dunia satu keluarga, yang artinya tidak membedakan satu sama lain karena kita hidup di tempat . yang sama dan merupakan satu keluarga besar di dunia ini (Wawancara dengan pak Haris. Dan itu merupakan ajaran dari Buddha Maitreya. Yang mana kata Maitreya berasal dari kata maytre yang artinya adalah cinta kasih, dan maitreya adalah orangnya. Dari penjelasan tersebut di atas disimpulkan bahwa akomodasi cultural antara umat dan agama pada umat budha di Palembang terjalin dengan baik. Hal itu dibuktikan dengan menyatunya antara umat budha dengan umat agama lain di kota Palembang. Penyatuan tersebut dimplementasikan dalam banyak kegiatan, saling mengunjungi satu sama lain, serta saling membantu dalam kesulitan. Hal itu sudah terjalin dengan sendirinya sehingga anatara umat budha dan umat agama yang lain di kota Palembang hampir tidak ada jarak dan pemisahan sama sekali. Semua sama, semua saling memiliki, semua bersaudara, sebagaimana ajaran dari Buddha Maitreya bahwa manusia semua sama, semua bersaudara, berada di satu tempat yaitu bumi yang sama dengan rasa saling mengasihi. Resistensi Umat Budha Terhadap Tradisi Palembang Masyarakat Palembang terkenal dengan ketaatannya terhadap agama dan sangat menjunjung tinggi budaya serta adat-istiadatnya. Sebelum Islam datang ke Palembang, pengaruh Hindu dan Budha sudah mengakar dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat Palembang. Oleh karena itu, walaupun Islam sudah berkembang dan maju di Palembang, terdapat penganut agama dan kepercayaan lain yang masih ada. online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 Kata Resistensi sendiri merujuk kepadakata resist anceyang artinya adalah menunjukan pada posisi sebuah sikap untuk berperilaku bertahan, berusaha melawan, menentang atau upaya oposisi pada umumnya sikap ini tidak berdasarkan atau merujuk pada paham yang jelas. Jika dikaitkan dengan resistensi umat Buddha di Palembang, di tengah banyaknya tradisi yang ada, umat Buddha sebagai agama sekaligus bagian dari masyarakat, tentu saja berusaha memantaskan dan menyeimbnagkan segala tradisi serta kebiasaan yang ada dengan masyarakat yang lain yang ada di kota Palembang. Usaha dalam kebertahanan tersebut dapat dilakukan melalui banyak hal missal di anatranya dengan turut berperan serta dalam setiap kegiatan yang ada di dalam masyarakat Palembang pada umumnya, melibatkan diri di dalam organisasi yang mewadahi semua umat beragama, berpartisipasi dan turut seta dalam kegaiatan social, baik yang dilakukan oleh intern umat beragama, antar umat beragama maupun oleh pemerintah. Dengan adanya penyatuan, saling kerjasama, dan saling membantu satu sama lain, maka perbedaan yang ada lama kelamaan akan luntur dengan sendirinya. Karena perbedaan itu akan muncul jika memang dipertentangkan. Perdebatan akan muncul jika persoalan yang sederhana dibesar-besarkan. dengan demikian maka banyak hal yang dilakukan oleh umat budha dalam mempertahankan tradisi mereka terhadap tradisi local yang ada di Palembang. Bahkan percampuran tradisi yang lahir dengan tradisi yang baru di dalam masyarakat. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa umat budha dalam mempertahankan tradisi serta agama mereka terhadap tradisi local yang ada di Palembang yaitu dengan cara membaur, saling membantu satu sama lain. Sehingga jarak pemisah antara umat Buddha dan umat agama lainnya yang ada di Palembang dapat dihilangkan. Kehidupan yang tentram dan bahagia, serta saling menghargai satu sama lain merupakan cita-cita bersama dari semua umat beragama yang ada di Palembang. Kesimpulan Strategi adaptasi yang dilakukan oleh umat Budha dalam upaya membangun kerukunan di lingkungannya, di antaranya melalui strategi kultural, yakni akulturasi, dan membangun budaya dominan. Strategi lainnya melalui strategi struktural, yakni dengan memanfaatkan kekuasaan pemerintah, dan legalitas normatif untuk menjaga situasi yang aman dan tertib. Pertama. Secara historis keberadaan umat Budha dalam masyarakat Islam Melayu Palembang sudah ada sejak awal berdirinya kerajaan Sriwijaya. Hal tersebut diketahui berdasarkan catatan I Tsing yang menginformasikan tentang keberadaan agama Budha di Palembang beserta guru atau pembawa ajarannya. Kedua. Dalam merespon tekanan sebagai minoritas dan menjamin kelangsungan hidup umat dan agama, umat Buddha di Palembang menanggapi dengan baik. Karena yang menyampaikan adalah pemuka agamanya sendiri. Contohnya, umat Buddha dalam menjaga bumi tercinta yaitu dengan pengurangan penggunaan plastik, bervegetarian, membuat Ecoenzym untuk kehidupan sehari hari sebagai daur ulang. Ketiga, dalam melakukan akomodasi kultural dengan masyarakat lokal dan kelangsungan hidup umat, yang dilakukan adalah menyatu dengan masyarakat. Mmisalnya dengan berperan serta dalam kegiatan gotong royong dalam pemebrsihan saluran air, serta pembersijhan lingkungan Vihara. Membantu masyarakat yang kurang mampu dengan tidak memperhatiakn latar belakang agama, ras dan golongan online journals http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te : Jurnal Studi Islam. Vol. 18 Nomor 1. Juni 2022 p-ISSN: 1858-3237 e-ISSN: 2623-0178 Keempat, dalam pengembangan agama Buddha di Indonesia khususnya di Palembang, seperti yang diungkapkan oleh Sudhamek AWS, yang merupakan ketua umum Majelis Budhayana Indonesia, sekaligus biksu di Vihara Dharmavimala, yaitu tergantung dari umatnya sendiri, bukan kepada orang lain. Kalau umat Buddha betul-betul mempraktikkan ajaran Buddha, tidak iri, tidak merasa dengki, akan tetapi penuh kasih sayang, cinta kasih kepada sesama, maka agama Buddha akan berkembang pesat. Kenyataanya, agama Buddha tidak agresif. Kelima, peran pemuka agama dalam pengembangan Buddha di Palembang, yaitu selain menjalankan ritual sembah sujud setiap hari, melakukan meditasi sesuai dengan Daftar Pustaka