Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 PEMBELAJARAN MULTIKULTURAL PADA KULIAH KEWARGANEGARAAN BERBASIS PENDIDIKAN TINGGI VOKASI Didin Septa Rahmadi1. Andika Apriawan2 Dosen Pendidikan Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana model pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan multikultural berbasis sosial inquiry di perguruan tinggi vokasi. Penelitian ini menggunakan dua pendekatan kuantitatif sebagai primer dan kualitatif sebagi pendukung dengan pola AuConcurrent EmbeddedAy . ampuran tidak seimban. dan desain penelitian research and development (R & D). Penelitian dilakukan dengan tiga tahapan: . Studi Pendahuluan (Exploration stud. Pengembangan model (Action Researc. Pengujian . xperimental stud. yang menggunakan kuasi eksperimen. Pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dokumentasi, angket . , dan FGD. Analisis data dengan cara diskriptif kualitatif dipadukan dengan diskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan: . Pengembangan PKn multikultural menjadi kebutuhan bangsa Indonesia yang majemuk dan beranekaragam serta. menjadi sebuah keniscayaan bagi wahana desimenasi pemahaman multikulturalisme melalui jargon pendidikan multikultural. Substansi materi pembelajaran Identitas Nasional dan Hak dan Kewajiban cocok untuk pengembangan nilai-nilai multikulturalisme dan pengetahuan tentang aturan undang Ae undang ketenagakerjaan. Proses atau modus pembelajaran yang berupa syntaks model pembelajaran inkuiri sosial dituangkan dalam ikhtisar model pengembangan PKn Vokasi di perguruan tinggi ke dalam enam langkah dan pembelajarannya dilakukan secara berkelompok dengan tugas/resitasi. Hasil uji coba menunjukkan nilai ujian tengah semester dapat diartikan bahwa modul yang dikembangkan efektif bagi mahasiswa, terbukti dengan peningkatan hasil belajar. Rerata nilai sebesar 74 dan sebanyak 68% mahasiswa telah mendapatkan nilai antara AB sampai dengan A. Sebanyak . %) mahasiswa menjawab modul sangat, 29% menjawab memuaskan, 9% menjawab netral, dan sisanya 0% dari ke empat perguruan tinggi sedangkan sisanya menjawab tidak memuaskan dan sangat tidak memuaskan. Secara substansial hasil ini menunjukkan bahwa PKn Vokasi efektif untuk meningkatkan kompetensi multikultural mahasiswa. Di samping itu penerapan PKn Vokasi juga memberikan pengaruh yang positif terhadap aktivitas, motivasi belajar. kata kunci: Multikultural. Kewarganegaraan. Pendidikan Tinggi. Vokasi PENDAHULUAN Pendidikan multikultural berkaitan dengan aspek sikap . ttitudinal goal. yang memiliki tujuan sebagai penumbuhan sikap toleransi, penghargaan terhadap unsur budaya, dan keterampilan dalam penyelesaian konflik sosial di masyarakat. Sedangkan pada aspek pengetahuan memiliki pengetahuan terhadap keragaman budaya dan memiliki kemampuan analisis sosial kultural, dan pengetahuan tentang kesadaran persefektif kultural. Maka dari itu pendidikan multikultural harus dikembangkan dalam setiap pembelajaran khususnya pembelajaran kewarganegaraan di perguruan tinggi sebagai upaya penyadaran mahasiswa terhadap pluralitas kehidupan bangsa serta penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam multikulturalisme sebagai bekal untuk bersikap dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari. Pendidikan tinggi khususnya vokasi merupakan pendidikan yang menunjang keahlian terapan tertentu dalam rangka pemenuhan tenaga kerja terampil dalam dunia Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan usaha dan dunia industri. Oleh karena itu, dipandang pendidikan tinggi vokasi selain menunjang tenaga yang memiliki keahlian terapan tertentu, juga harus dibekali dengan pemahaman multikulturalisme. Mengingat kemampuan untuk memahami arti keberagaman budaya disekitar lingkungan mereka dan lingkungan lainnya. Keragaman budaya tersebut berpengaruh terhadap tingkah laku, sikap, pola pikir manusia sehingga manusia tersebut memiliki cara-cara . , kebiasaan . olk way. , aturan-aturan . bahkan adat istiadat . yang berbeda satu sama lain. Bila perbedaan itu tidak dapat dipahami dengan baik dan diterima dengan bijaksana, maka konflik akan mudah terjadi di masyarakat. Hal ini telah banyak terlihat dalam kehidupan di tanah air belakangan ini. Sikap menerima keberadaan orang lain meskipun memiliki banyak perbedaan latar belakang kehidupan. Untuk itu, nilai-nilai multikultural sangat penting di integrasikan pada pendidikan vokasi dengan pengaplikasian skiil sosial dan budaya dalam menghindari sikap diskriminatif dan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Pada dasarnya, keberagaman adalah Oleh karena itu, kesadaran akan pluralisme dibutuhkan dalam lingkungan bernegara, keluarga, bahkan dalam organisasi Pendidikan Kewarganegaraan Multikultural dapat menjadi elemen yang kuat Indonesia mengembangkan kompetensi dan keterampilan hidup . ife skill. , di tengah masyarakat Indonesia yang multikultur dan mencakup berbagai macam perspektif budaya yang berbeda terutama dalam bingkai bernegara. Persoalannya adalah bentuk pendidikan kewarganegaraan multicultural apa yang sesuai untuk situasi dan kondisi Indonesia sesuai dengan vokasi? Persoalan utama dalam pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi adalah pada belum adanya model pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan multikultural mahasiswa dan begitu rendahnya kesadaran multikultural warga negara yang dibangun atas dasar nilai-nilai kebangsaan dalam fenomena sosial sebagai upaya memperkokoh integrasi bangsa dalam konsepsi Bhinneka tunggal ika. Untuk itu maka peneliti tertarik untuk mengembangkan sebuah model pendidikan kewarganegaraan multicultural berbasis kearifan lokal di lingkungan perguruan Penelitian ini secara umum bertujuan menghasilkan inovasi model pembelajaran yang berupa . struktur model . , . sistem sosial, . Prinsip reaksi, . sistem pendukung dan . dampak instruksional dan pengiring pada model pembelajaran yang digunakan Pendidikan Kewarganegaraan Multikultural berbasis vokasi di Perguruan Tinggi dengan model inquiry Secara khusus penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut: . Menemukan landasan kebutuhan pengembangan pendidikan kearifan lokal di perguruan tinggi, baik dari aspek psikososial paedagogis maupun dari kebutuhan praktis dan strategis yang mencakup kebutuhan dosen, mahasiswa dan kebutuhan proses belajar me-ngajar . Menemukan dan menghasilkan substansi materi atau isi pembelajaran yang berupa buku panduan pengembangan materi ajar Pendidikan Kewarganega-raan kearifan lokal di perguruan tinggi yang aplikatif bagi dosen. Menemukan dan menghasilan proses atau modus pembelajaran yang berupa syntaks model pembelajaran inkuiri sosial yang dituangkan dalam ikhtisar model dan panduan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 pengembangan model pembelajaran, yang pendidikan kewarganegaraan multikultural di perguruan tinggi. Meningkatkan produk Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi yang pendidikan kewarganegaraan multikultural. KAJIAN PUSTAKA Konsep multikulturalisme tidak dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman suku bangsa atau kebudayaan yang menjadi Karena. Multikulturalisme tidak bisa dilepaskan dari permasalahan yang mendukung idiologi ini yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakan hukum, kesempatan kerja dan berusaha. HAM, hak budaya komuniti dan golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, juga tingkat dan mutu produktivitas. Sasaran dari pembelajaran multikultural yaitu . pengembangan identitas kultural yakni merupakan kompetensi yang dimiliki siswa untuk mengidentifikasi dirinya dengan suatu etnis tertentu. Hubungan Interpersonal yakni kompetensi untuk melakukan hubungan dengan kelompok etnis lain, dengan senantiasa mendasarkan pada persamaan dan kesetaraan, serta menjauhi sifat syak wasangka dan streotif. memberdayakan diri sendiri yakni suatu kemampuan untuk mengembangkan secara terus menerus apa yang dimiliki berkaitan dengan kehidupan multikultural. Sebagai proses pembentukan karakter, maka peran pembelajaran sangat dibutuhkan. Melalui kewarganegaraan perlu di desain yang berbasis masalah-masalah yang kontekstual merupakan pendekatan yang lebih partisipatif dengan menekankan pada latihan penggunaan nalar dan logik, dengan membelajarkan siswa agar memiliki kepekaan sosial dan memahami permasalahan yang terjadi dilingkungan secara Inquiri adalah salah satu cara belajar atau penelaahan yang bersifat mencari pemecahan permasalahan dengan cara kritis, analisis dan ilmiah dengan menggunakan langkah-langkah tertentu menuju suatu kesimpulan yang meyakinkan karena didukung oleh data atau kenyataan. Aureflective inquiry process, such as the ability of reviewing, examining, exploring, or analyzing AAy. Kemampuan yang dapat diharapkan dalam inqury yaitu kemampuan meninjau, memeriksa, mengekploarasi atau menganalisis. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index METODE PENELITIAN Penelitian pengembangan produk melalui Research and Development yang mengkombinasikan model Concurrent Embedded . ampuran tidak Hal ini di lihat dari keutamaan metode kuantitatif dalam memperoleh data yang utama, sedangkan metode kualitatif sebagai metode sekunder yang berfungsi melengkapi data utama. (Sugiono, 2016: . Proses implementasi dilakukan di Perguruan Tinggi Vokasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Mengingat keterbatasan dana dan waktu, maka penelitian dilakukan di perguran tinggi vokasi yang berada di pulau Lombok. Menggunakan Focus Groub Discussion (FGD) sebagai teknik sekunder dan penyebaran angket dan tes sebagai teknik yang utama. Adapun sample dari penelitian dengan cara Purposive sampling (Siregar, 2017:. Perguruan tinggi yang di maksud dalam penentuan sampling sebagai berikut Sumber: Forlap Dikti Uji validitas yang digunakan adalah validitas konstruk . ontruct validit. dan reabilitas dengan teknik Alpha Cronbach. Sedangkan analisis kualitatif yang bersumber dari teknik pengumpulan data melalui observasi, dan wawancara menggunakan analisis domain . omain analysi. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil studi yang diperoleh empat aspek yang diukur yang berkaitan dengan model pembelajaran multikultural pada mata kuliah Kewarganegaraan berbasis social inquiry dalam perguruan tinggi vokasi. Berikut akan dideskripsikan empat temuan tersebut yitu: (A) Dasar Kebutuhan: Pertama, pada aspek pedagogis mempelihatkan dalam kontek isi materi yang dipelajari banyak dan luas, tingkat kebosanan mahasiswa terutama mahasiswa perguruan tinggi vokasi tidak tertarik dan membosankan untuk mengikuti Kewarganegaraan, variatifnya pengajar atau dosen dalam memberikan materi ajar yang bertumpu pada teacher center learning. Kedua. Kebutuhan Pelaksanaan multikultural di pendidikan tinggi dapat ditemukan pada mata kuliah kewarganegaraan, bahkan pendidikan multikultural menjadi mata Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 kuliah yang berdiri sendiri. Namun, mata kuliah kewarganegaraan lah menjadi ujung tombak pendidikan multikultural dalam rangka pembentukan karakter bangsa. Di samping itu juga mata kuliah kewarganegaraan merupakan amanat Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 Pasal 35 ayat 3 menyatakan bahwa kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat mata kuliah agama, pancasila, kewarganegaraan dan bahasa Indonesia untuk program sarjana dan diploma. Sesuai aturan tersebut, substansi materi isi pemebelajaran Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi vokasi berbasis sosial inquiry yang cocok dan aplikatif bagi pengajar atau dosen adalah pada materi konstitusi. Materi ini dinilai syarat dengan nilai multikultural dan pemahaman mahasiswa tentang peraturan ketenagakerjaan yang merupakan pemahaman dasar bagi mahasiswa dalam bekal mereka berada pada Dunia usaha dan industri. (B) Modus pembelajaran berupa sintaks model pembelajaran inqury sosial sebagai panduan dalam pengembangan model pembelajaran kewarganegaraan yang terdiri dari enam langkah yaitu: Orientasi, hipotesis, penjelasan istilah, ekploarasi, pembuktian hipotesis, dan Pelaksanaan pembelajara ini dilakukan dengan membentuk kelompok kecil melalui penugasan dan resitasi. Dari 35 orang mahasiswa pada masing perguruan tinggi (UNRAM. PPL. AKN. STIPAR) setelah memberi tanggapan terhadap 8 pernyataan menujukkan pilihan jawaban semua mahasiswa antara sangat memuaskan, memuaskan, netral, tidak memuaskan dan sangat tidak memuaskan. berdasarkan angket menunjukkan bahwa semua mahasiswa memberikan tanggapan positif terhadap penggunaan modul. Pengembangan modul yang telah dihasilkan dari penelitian ini, melalui pemanfaatan hasil-hasil penelitian yang pembelajaran kewarganegaraan. Penelitian berawal dari adanya permasalahan nyata dalam pembelajaran, selanjutnya dilakukan upaya mengatasi dalam desains penelitian, hasil yang diperoleh merupakan solusi dari permasalahan yang telah teruji. Oleh karena itu, hasil-hasil penelitian yang dijadikan bahan penyusunan modul dalam penelitian ini bersifat aplikatif dan dikemas dalam bentuk kalimat yang mudah dipahami oleh mahasiswa. Pengembangan pembelajaran multicultural pada mata kuliah kewarganegaraan di pendidikan tinggi vokasi sebelum dicobakan dalam pembelajaran di kelas telah dinyatakan layak karena semua aspek penilaian pada validasi kedua telah Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index mendapatkan kategori baik dan sangat baik yang dikemas melalui validasi ahli dari dosen pengampul mata kuliah kewarganegaraan di masing-masing perguruan tinggi tempat uji Setelah modul dinyatakan layak digunakan langkah selanjutnya yang telah ditempuh menggunakan modul dalam pembelajaran. Setiap mahasiswa diberikan soft copy isi modul untuk kemudian ditelaah sebelum pembelajaran Mahasiswa juga diminta untuk membuat catatan dari proses telaah dan membuat daftar pertanyaan jika terdapat sesuatu yang belum jelas. Validator pada akhir penilaian telah menyimpulkan modul layak digunakan dalam Untuk aspek keluasan materi mendapat penilaian Ausangat baikAy karena modul tidak sekedar mengkaji konsep masing-masing materi melainkan mengulas tentang aspek ketenagakerjaan dan fenomema-fenomena sosial yang berkaitan dengan tenaga kerja. Dampak nyata yang telah dirasakan oleh dosen ketika mengajar menggunakan modul yang telah dikembangkan dengan tim, dalam pengelolaan kelas menjadi lebih mudah karena bahan diskusi yang disajikan menjadikan mahasiswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Materi pembelajaran dalam modul telah relevan dengan sasaran pembelajaran. Sebagaimana tujuan pembelajaran kewarganegaraan, bahwa mahasiswa diberikan bekal untuk dapat pembelajaran yang inovatif dan sesuai dengan karakteristik setiap materi pembelajaran. Mahasiswa melalui menganalisis modul kemudian didiskusikan dengan teman dan menyajikan di kelas merupakan salah satu strategi yang digunakan dalam penelitian ini. Selain itu, berdasakan penilaian pakar modul yang dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil penelitian tingkat kesukarannya juga sesuai dengan taraf kemampuan mahasiswa. Berdasarkan data nilai ujian tengah semester dapat diartikan bahwa modul yang dikembangkan efektif bagi mahasiswa, terbukti dengan peningkatan hasil belajar. Rerata nilai sebesar 74 dan sebanyak 68% mahasiswa telah mendapatkan nilai antara AB sampai dengan A. Dari hasil penelitian ini bahwa modul pembelajaran dapat meningkatkan nilai ujian tengah semester mahasiswa bila dibandingkan dengan kelompok mahasiswa yang tidak menggunakan modul. Pada saat pemanfaatan modul, dosen dapat lebih leluasa mengembangkan sendiri lembar penilaian yang terdapat di dalam modul sesuai dengan kebutuhan dan dapat dimonitor Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 perkembangan mahasiswa selama pembelajaran dengan menggunakan modul, hal ini sebagai dampak dari setiap mahasiswa secara individu sebelum pembelajaran telah mendapatkan copy isi modul. Materi yang bersumber dari berbagai peraturan perundang-undangan dan berbagai sumber bacaan lainnya dari buku dan jurnal yang telah melalui mekanisme seleksi yang ketat, ternyata lebih mudah dipahami oleh mahasiswa sehingga sangat membantu dalam memahami materi pembelajaran yang disajikan oleh dosen pengampu. Berbagai temuan para peneliti didukung data yang valid sangat mendukung apabila diinformasikan dan ditelaah oleh mahasiswa. Dalam 5 . pertemuan pembelajaran yang diamati oleh observer menggunakan modul diperoleh data bahwa mahasiswa aktif mengikuti pembelajaran yang menjawab, mengeksplorasi bacaan pada modul dan terlibat dalam menyimpulkan diakhir Selain kualitas modul, keefektifan hasil pengembangan juga berkaitan dengan strategi pemberian modul. Modul dibagikan kepada mahasiswa seminggu sebelum pembelajaran. Mahasiswa diminta untuk membaca dan membuat catatan atau daftar pertanyaan sebelum pembelajaran. Cara ini efektif karena mahasiswa dapat membaca dengan leluasa di rumah. Dampak nyata yang telah dirasakan bahwa peran aktif mahasiswa ketika pembelajaran sangat terlihat. Ketika dosen mengajukan pertanyaan direspon Analisis tanggapan mahasiswa juga menunjukkan respon positif setelah penggunaan modul dalam Analisis angket tanggapan mahasiswa juga menunjukkan respon positif setelah penggunaan modul dalam pembelajaran. Sebanyak . %) mahasiswa menjawab modul sangat, 29% menjawab memuaskan, 9% menjawab netral, dan sisanya 0% dari ke empat perguruan tinggi sedangkan sisanya menjawab tidak memuaskan dan sangat tidak memuaskan. Mahasiswa terbantu ketika mempelajari Sajian memberikan ilustrasi dilengkapi gambar dan penjelasan, dalam penelitian ini memberikan dampak karena mahasiswa dapat mempelajari isi modul secara runtun dan menggambarkan dengan didukung data temuan penelitian tentang berbagai permasalahan serta solusi yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran KESIMPULAN Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Kesimpulan mencerminkan beberapa simpulan yaitu, . mahasiswa memberikan tanggapan positif terhadap penggunaan modul di empat Perguruan Tinggi peningkatkan nilai mahasiswa dalam kegiatan ujian tengah semester. Hal ini menandakan bahwa respon mahasiswa di empat perguruan tinggi sangat baik dengan menggunakan modul Pengembangan pembelajaran multicultural pada mata kuliah kewarganegaraan di empat perguruan tinggi memberi kemudahan terhadap tenaga pengajar, disebabkan modul tersebut sesuai dengan rencana pembelajaran. Substansi materi yang tertuang dalam modul cocok dengan perkembangan mahasiswa sasaran, yang memuat tentang materi hak dan kewajiban undang-undang Sedangkan substansi materi multicultural di semua materi tetap disisipkan sebab multicultural menjadi pondasi materi perkuliahan kewarganegaraan. DAFTAR PUSTAKA Bungin. Burhan. "Penelitian Kualitatif". Jakarta: Kencana. Imam Farisi M. Sambada D. Prakoso T. The StudentAs Reflective-Inquiry Competencies on Problem Solving. Journal of Education and Learning. Vol. DOI: 11591/edulearn. Maftuh. Bunyamin. Improving the Quality of Education in the Future. Makalah Seminar International. Presented at the 7thInternational Confefrence held by University PGRI Adi Buana. Surabaya. March 13, 2016. Mahfud Chairul. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka