SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Volume 3. Nomor 1. Juni 2025 E-ISSN 2988-0823 | P-ISSN 2988-0858 Website: https://ejurnal-unisap. id/index. php/sibernetik/index Email: ejurnal. sibernetik@gmail. PERAN ORANG TUA DALAM MENSTIMULASI PERKEMBANGAN BAHASA MADURA ANAK USIA DINI DI TK MASJID AGUNG SUMENEP Nafisah Tridena Juliriyanti 1. Usep Kustiawan 2. Rosyi Damayani Twinsari Maningtyas 3 Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Negeri Malang 1,2,3. Email Korespondensi: usep. fip@um. iduO Info Artikel Histori Artikel: Masuk: 24 Februari 2025 Diterima: 28 Juni 2025 Diterbitkan: 30 Juni 2025 Kata Kunci: Peran Orang Tua. Stimulasi. Bahasa Madura. Anak Usia 5-6 Tahun. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji peran orang tua dalam menstimulasi perkembangan bahasa Madura pada anak usia 5-6 tahun di TK Masjid Agung Sumenep. Meskipun bahasa Madura merupakan bagian dari kebudayaan nasional yang dilindungi, penggunaannya semakin berkurang, terutama di kalangan generasi muda. Kurangnya perhatian terhadap pendidikan bahasa Madura, terbatasnya tenaga pengajar, dan dominasi bahasa Indonesia dalam pendidikan menyebabkan penurunan penggunaan bahasa Madura. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam mengenalkan dan mengajarkan bahasa Madura sejak dini, dengan lingkungan keluarga yang mendukung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, melibatkan 22 orangtua murid di TK Masjid Agung Sumenep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, bahasa yang digunakan di keluarga dan sekolah cenderung berupa campuran bahasa Indonesia dan Madura. Stimulasi bahasa Madura dilakukan secara formal melalui pembelajaran muatan lokal pada kurikulum Merdeka. Beberapa orangtua, terutama yang berasal dari suku berbeda, lebih sering menggunakan bahasa Indonesia, meskipun ada campuran bahasa daerah. Orangtua berperan penting sebagai komunikator dan fasilitator, meskipun belum mengajarkan bahasa Madura halus karena ketidakfasihan mereka. Anak-anak menunjukkan keterampilan sosial yang baik dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Madura dan mampu berpindah antara bahasa Indonesia dan Madura, meskipun lebih sering menggunakan bahasa campuran. Anak-anak memiliki pengenalan yang baik terhadap kosakata umum bahasa Madura, namun membutuhkan lebih banyak latihan dalam membedakan penggunaan istilah yang tepat dalam konteks formal. This is an open access article under the CC BY-SA license. PENDAHULUAN Salah satu aspek perkembangan yang penting bagi anak adalah perkembangan bahasa, melalui bahasa seorang anak dapat berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. Selain itu, dengan bahasa anak dapat menyampaikan apa yang ingin disampaikan sehingga lawan bicara dapat mengerti dan memahami maksud pembicaraan anak. Secara bertahap, kemampuan berbahasa anak berkembang dimulai dari mengeluarkan suara hingga kemampuan berkomunikasi yang lebih kompleks (Alfiana et al. , 2. Keterampilan berkomunikasi dibutuhkan anak untuk menjalani kehidupan sosial dan berinteraksi dengan lingkungannya. Anak adalah bagian dari keluarga, dimana keluarga merupakan jaringan sosial yang terpenting bagi anak pada masa awal kehidupan. karena hubungan dengan keluarga merupakan landasan sikap terhadap orang, benda dan kehidupan secara umumnya. Terutama orang tua mempunyai peranan penting dalam membantu anak mencapai tahap tumbuh kembang yang optimal, selain itu orang tua merupakan lingkungan pendidik pertama bagi anak. Pada masa perkembangannya anak dipengaruhi CopyrightA 2025 | SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 3. Nomor 1. Juni 2025 oleh faktor genetik dan lingkungan, serta memiliki sifat meniru atau imitative yang mana pada sifat ini anak akan meniru apa yang dilihat dan dirasakan, serta mengikuti apa yang diperhatikan dari lingkungannya (Martini, 2. Sebab itu keluarga merupakan lingkungan sosial terkecil yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi proses perkembangan dan pertumbuhan seorang anak. Anak yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang menggunakan bahasa daerah sebagai media komunikasi kesehariannya, kemungkinan besar bahasa pertama anak adalah bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa keduanya (Tarigan et al. Sekalipun anak telah mengenal bahasa Indonesia melalui berbagai media, tetapi bahasa Indonesia yang dikuasainya baru benar-benar digunakan ketika telah bersekolah. Hal tersebut menjadikan masyarakat Indonesia merupakan dwibahasawan, yang berarti dapat menguasai lebih dari satu bahasa (Sudarmaningtyas, 2. Salah satu daerah di Indonesia yang menggunakan dwibahasa yaitu masyarakat Madura, menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Madura sebagai bahasa daerah yang digunakan oleh warga etnik Madura, baik yang tinggal di Pulau Madura maupun di luar pulau tersebut. Bahasa Madura sebagai bahasa daerah merupakan unsur dari kebudayaan nasional yang dilindungi oleh negara sesuai dengan UUD 1945 Bab XV Pasal 36, menyebutkan bahwa bahasa di daerah-daerah yang mempunyai bahasa tersendiri dan dipelihara oleh rakyatnya dengan baik akan dihormati dan dipelihara oleh Negara. Bahasa daerah bisa diartikan sebagai sistem ilmu pengetahuan yang didalamnya terdapat nilai yang dimiliki oleh masyarakat dan mempengaruhi perilaku masyarakat itu sendiri (Setiawan, 2. Bahasa Madura yang berdampingan dengan bahasa Indonesia dihadapkan pada satu masalah penting, yakni kemampuan bertahannya bahasa madura pada masa yang akan datang. Dalam dunia pendidikan bahasa madura kurang diperhatikan, hal tersebut dapat dilihat dari minimnya tenaga pengajar bahasa Madura di tingkat atau jenjang pendidikan, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi. Sehingga tidak ada regenerasi tenaga pengajar bahasa Madura sebab tidak adanya jurusan bahasa Madura (Hodairiyah et al. , 2. Adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional justru menurunkan peran bahasa daerah sebagai bahasa etnik dikarenakan kebijakan pemerintah yang mengharuskan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam bidang pendidikan (N. Dewi & Ubaidi, 2. Dalam kondisi tidak memiliki keterikatan formal, bertahan tidaknya suatu bahasa sangat bergantung pada sejumlah faktor, tetapi faktor penting yang menentukan bertahannya bahasa itu adalah loyalitas bahasa (Fishman & Joshua, 1. Miller dalam (Mayasari, 2. mengatakan bahwa situasi suatu bahasa bergantung kepada apakah anak-anak mempelajari bahasa ibunya, apakah penutur orang dewasanya berbicara dengan sesamanya dalam setting yang beragam menggunakan bahasa ibu tersebut dan berapa jumlah penutur asli bahasa ibu yang masih ada. Loyalitas dapat ditunjukkan melalui perilaku konsisten, kesediaan untuk bekerja sama, dan perasaan cinta yang tulus. Bahasa memiliki jalinan yang sangat erat dengan budaya sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Karena begitu eratnya jalinan antara bahasa dan budaya, tanpa bahasa budaya kita pun akan mati (Abdullah, 2. Seperti yang diungkapkan oleh (Purwo Bambang, 2. bahwa bahasa merupakan penyangga budaya, sebagian besar budaya terkandung di dalam bahasa dan diekspresikan melalui bahasa, bukan melalui cara lain. Jika dilihat dari sikap dan kemampuan orang Madura terhadap bahasanya yang kurang mendukung, seperti kalangan anak muda lebih tertarik dan lebih memilih untuk mempelajari Bahasa asing yang dianggapnya lebih keren dibandingkan mempelajari bahasa daerahnya sendiri (Nita & Rosalina, 2. serta anggapan orangtua bahwa bahasa daerah akan memberikan pengaruh negatif kepada hasil pembelajaran bahasa Indonesia (Julianti & Siagian, 2. Jarangnya penggunaan bahasa Madura dalam kehidupan rumah tangga utamanya bagi pasangan keluarga muda, bahasa Madura seringkali tidak lagi menjadi bahasa pertama sebagai alat komunikasi dalam keluarga (Effendy, 2. Hal tersebut menyebabkan penggunaan tingkatan bahasa Madura yang kurang dipahami oleh anak-anak dan para remaja, sehingga penggunaan bahasa Madura halus . ngghi-bhunte. terkadang tidak CopyrightA 2025 | SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 3. Nomor 1. Juni 2025 digunakan kepada orang yang lebih tua (Hodairiyah et al. , 2. Agar anak dapat lancar berbahasa Madura yang baik dan benar maka orang tua haruslah membimbing serta memperkenalkan bahasa Madura pada anak sedini mungkin. Lingkungan keluarga memegang peranan penting dalam menstimulasi perkembangan bahasa Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Zakaria & Daud, 2. menyimpulkan bahwa lingkungan keluarga yang ditandai dengan percakapan yang banyak, respon positif, dan dukungan terhadap eksplorasi bahasa anak, mempunyai dampak yang signifikan terhadap kemampuan morfologi dan sintaksis anak. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh (N. Dewi & I Putu Yoga, 2. menyimpulkan bahwa perkembangan bahasa anak dapat dipacu secara optimal dengan adanya peran aktif dari orang tua melalui latihan dan pembiasaan, serta dapat memperkaya kosa kata anak melalui interaksi dan komukasi yang dilakukan setiap hari. Selanjutnya (Lestari & Handayani, 2. melalui penelitiannya menyimpulkan bahwa orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan bahasa anak. Orang tua dapat menjadi teladan dan pemandu dalam tumbuh kembang Kebersamaan antara anak dan orang tua dianggap penting, karena pada usia ini anak masih mudah menyerap lingkungan sekitarnya. Perkembangan bahasa anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu komunikasi antara orang tua dan anak, gaya pengasuhan yang digunakan orang tua dan ketersediaan sumber daya bagi anak. Kondisi ini menggambarkan betapa besar pengaruh peran lingkungan keluarga terhadap perkembangan bahasa anak. Namun semua penelitian tersebut hanya mengacu kepada bahasa indonesia secara umum, belum ada penelitian yang membahas terkait bagaimama peran orang tua dalam menstimulasi perkembangan bahasa daerah anak usia dini khususnya bahasa Madura. Hal ini merupakan salah satu informasi penting yang berguna dalam upaya pemeliharaan bahasa Madura, terutama pengenalan bahasa Madura pada anak usia dini dalam lingkungan keluarga etnik Madura. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang AuPeran Orang Tua dalam menstimulasi perkembangan bahasa Madura anak usia diniAy. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 22-29 Juli 2024 di TK Masjid Agung Sumenep. Teknik pengumpulan data yang dilakukan untuk memperoleh data utama menggunakan teknik berupa: Observasi. Kegiatan observasi digunakan untuk mengetahui dan mengidentifikasi kemampuan berbahasa madura anak usia dini di TK Masjid Agung Sumenep. Penelitian ini menggunakan teknik observasi sistematis, karena peneliti menggunakan pedoman observasi sebagai instrumen pengamatan yang akan dilakukan, sebagai berikut. Wawancara. Kegiatan wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi penelitian terkait menstimulasi perkembangan bahasa Madura anak usia dini di TK Masjid Agung Sumenep melalui tanya jawab, dialog atau diskusi dengan guru kelas dan orangtua murid. Sebelum wawancara, peneliti menyiapkan pedoman wawancara agar wawancara dapat dilakukan secara terarah dan sistematis, sebagai berikut. Dokumentasi. Dilakukan untuk mengumpulkan data tentang berbagai peristiwa dalam proses stimulasi perkembangan bahasa Madura anak. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dengan analisis data meliputi data reduction . eduksi dat. , data display . enyajian dat. dan conclusion drawing . enyimpulkan dat. CopyrightA 2025 | SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 3. Nomor 1. Juni 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Orang Tua Dalam Menstimulasi Perkembangan Bahasa Madura Anak Usia 5-6 Tahun di TK Masjid Agung Sumenep Berdasarkan penemuan penelitian. Orang tua memegang peran penting dalam menstimulasi perkembangan bahasa Madura anak. Terutama di tengah dinamika keluarga yang terdiri dari pasangan orangtua Madura asli dan pasangan yang menikah beda suku. Dalam keluarga seperti ini, penggunaan bahasa di rumah sering didominasi oleh bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan Madura. Diketahui bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa universal yang dapat digunakan oleh orang-orang dari semua latar belakang bahasa yang ada di Indonesia (Abdullah, 2. Sedangkan bahasa Madura digunakan karena salah satu dari pasangan merupakan orang madura dan berdomisili di wilayah Madura yang masyarakatnya menggunakan bahasa madura sebagai media komunikasi keseharian. Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan yang mengatakan bahwa, anak yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang menggunakan bahasa daerah sebagai media komunikasi kesehariannya, kemungkinan besar anak itu bahasa pertamanya . ahasa ib. adalah bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa keduanya (Tarigan et al. , 2. Menurut Sonawat & Francis seorang anak belajar bahasa dari environmental print, artinya anak menginterpretasikan hal-hal yang mereka lihat, mengenal, memahami dan menuturkan bahasa dari apa yang didengarnya dari lingkungannya, semula anak menyimak ujaran-ujaran yang didengarnya, setelah anak berada pada fase berbicara maka anak akan mengucapkan kata-kata yang telah didengarnya (Zein. Selanjutnya Massoud dalam (Astuti, 2. menyatakan bahwa anak akan memperoleh bahasa pertamanya karena memiliki potensi dalam dirinya dan pengaruh yang kuat dari lingkungan sekitarnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Skinner dan kaum behavioris dalam (Chaer, 2. mengemukakan pendapat bahwa rangsangan . dari lingkungan tertentu memperkuat kemampuan berbahasa Meskipun bahasa Madura yang digunakan di rumah lebih sering berupa bahasa campuran, orang tua tetap berupaya mengenalkan dan menstimulasi penggunaan bahasa Madura yang lebih formal melalui jalur pendidikan. Salah satunya adalah melalui pengenalan budaya Madura dalam pembelajaran muatan lokal yang ada dalam kurikulum merdeka. Walaupun ini memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar dalam konteks formal, orang tua tetap memainkan peran besar dalam memperkenalkan budaya dan bahasa Madura di luar sekolah. Sejalan dengan pendapat Savitri yang mengatakan bahwa orang-orang madura masih konsisten dalam menggunakan bahasa Madura dan mengajarkannya pada anak keturunannya (Savitri, 2. Namun, tantangan muncul karena orang tua belum mengajarkan bahasa Madura halus . , mengingat ketidakfasihan orang tua dalam berbahasa Madura halus. Sehingga bahasa yang dipilih menggunakan bahasa santai . njeAo-iy. yang biasanya dipakai untuk seumuran dan diselingi beberapa kosa kata sopan yang sudah dipakai dalam keseharian. Hal ini juga ditemukan Hodairiyah dalam penelitiannya bahwa penggunaan tingkatan bahasa Madura yang kurang dipahami oleh generasi muda, sehingga penggunaan bahasa Madura halus . ngghi-bhunte. terkadang tidak digunakan kepada orang yang lebih tua (Hodairiyah et al. , 2. Selain itu, minimnya literasi bahasa Madura di pasaran turut membatasi akses anak pada sumber daya yang dapat mendukung pembelajaran bahasa Madura. Meskipun demikian, orang tua tetap berperan aktif dengan mengkoreksi dan mengajarkan pelafalan yang benar kepada anak jika terdapat kesalahan dalam penggunaan bahasa Madura. Selain itu, orang tua membangun komunikasi yang baik dengan anak dengan meluangkan waktu untuk bermain dan bercerita bersama, yang menjadi cara penting untuk memperkaya kosakata dan pemahaman bahasa anak. Didukung dengan pendapat Ali dan Ansori mengatakan bahwa, salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa adalah pola komunikasi dalam keluarga (Puteri & Trunoyudho, 2. Sejalan dengan hal tersebut. Dewi dan Yoga melalui penelitiannya menyimpulkan bahwa perkembangan bahasa anak dapat dipacu secara optimal dengan adanya peran aktif dari orang CopyrightA 2025 | SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 3. Nomor 1. Juni 2025 tua melalui latihan dan pembiasaan, serta dapat memperkaya kosa kata anak melalui interaksi dan komukasi yang dilakukan setiap hari (N. Dewi & I Putu Yoga, 2. Untuk mendukung perkembangan bahasa Madura anak, orang tua juga memfasilitasi dengan menyediakan berbagai peralatan yang memadai, seperti buku bergambar, alat tulis, atau permainan edukatif yang dapat membantu anak mengenal lebih banyak kosakata dan konsep-konsep dalam bahasa Madura. didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitri yang mengatakan bahwa orang tua berperan sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran bahasa anak dengan menyediakan berbagai peralatan bagi anak untuk mendukung proses pembelajaran dan perkembangan bahasa, serta mendorong eksplorasi dan kreativitas anak dalam mengenal dunia sekitar mereka (Fitri, 2. Orang tua juga menggunakan strategi pembelajaran tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan anak untuk memastikan perkembangan bahasa yang optimal . Dengan demikian, meskipun ada beberapa tantangan, peran orang tua dalam mendukung dan menstimulasi perkembangan bahasa Madura anak sangat penting, baik melalui pembelajaran informal di rumah maupun melalui dukungan yang diberikan di lingkungan pendidikan. Orang tua berperan tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran bahasa Madura secara efektif. Penggunaan Bahasa Pragmatis Dalam Bahasa Madura Pada Anak Usia Dini di TK Masjid Agung Sumenep Penggunaan bahasa pragmatis dalam bahasa Madura pada anak dapat dilihat dari berbagai aspek keterampilan komunikasi mereka dalam kehidupan sehari-hari. Anak menunjukkan keterampilan sosial yang baik dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Madura, terutama dalam interaksi dengan keluarga, teman sebaya, dan orang-orang di lingkungan sekitar mereka. Proses ini membantu anak memahami perspektif orang lain, memperkuat empati, dan membangun hubungan yang sehat dengan lingkungan sosial mereka (Ihyauddin & Munirah, 2. Teori perkembangan kognitif Piaget menjelaskan bahwa komunikasi dengan orang lain, baik teman sebaya atau orang dewasa, membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir logis dan mengorganisasi pengetahuan mereka, yang diperlukan untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial yang lebih kompleks. Anak memiliki kemampuan bilingual yang baik, memungkinkan mereka untuk berpindah antara bahasa Indonesia dan bahasa Madura dalam percakapan sehari-hari. Meskipun penggunaan bahasa campuran lebih sering terjadi, anak mampu mengalihkan bahasa sesuai dengan konteks atau siapa yang mereka ajak bicara. Ini menunjukkan kemampuan pragmatis anak dalam memilih bahasa yang tepat sesuai dengan lingkungan sosial dan situasi yang ada. Penggunaan bahasa Madura dalam konteks nonformal lebih sering muncul, sedangkan bahasa Indonesia lebih dominan dalam konteks formal seperti di sekolah. Didukung oleh Septirani yang mengatakan bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat dwibasa atau dwibahasawan, yang artinya masyarakat Madura menguasai lebih dari satu bahasa, paling tidak menguasai bahasa Madura sebagai bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional (Arillia et al. , 2. Selain itu, anak-anak juga menunjukkan tingkat pengenalan yang baik terhadap kosakata yang sering digunakan dalam bahasa Madura, seperti kata-kata untuk warna dan angka. Misalnya, anak dapat menyebutkan warna seperti pote . dan mera . , serta angka dalam bahasa Madura dengan lancar, yang menunjukkan bahwa mereka sudah memahami dan menguasai kosakata dasar tersebut. Menurut Zumrotun kemampuan anak dalam mengenali dan menyebut warna mendukung pembentukan keterampilan komunikasi yang lebih baik, karena warna sering digunakan dalam interaksi sehari-hari untuk menjelaskan objek dan perasaan (Zumrotun, 2. Selain itu, dengan belajar menghitung atau menyebutkan angka, anak tidak hanya belajar matematika tetapi juga berkomunikasi dalam konteks sosial (Sufa, 2. CopyrightA 2025 | SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 3. Nomor 1. Juni 2025 Namun, anak masih membutuhkan lebih banyak pemahaman dan latihan dalam membedakan penggunaan istilah bahasa Madura dalam konteks yang tepat. Meskipun mereka sudah mengenal banyak kata, terkadang mereka masih kesulitan dalam menggunakan bahasa Madura yang lebih formal atau halus dalam situasi yang membutuhkan tingkat kesopanan tertentu. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lukmana dan Alfin menyatakan bahwa sebagai masyarakat Madura yang baik tentu sudah sepantasnya mengetahui dan mempraktekkan bahasa yang baik serta dapat diterima oleh masyarakat sekitar, agar bahasa tersebut tidak punah dan bisa dikenal serta dipraktekkan oleh generasi-generasi berikutnya (Lukmana & Alfin, 2. Secara keseluruhan, penggunaan bahasa pragmatis oleh anak dalam bahasa Madura menunjukkan bahwa mereka mampu menyesuaikan penggunaan bahasa sesuai dengan situasi dan tujuan komunikasi. Namun, mereka tetap memerlukan bimbingan lebih lanjut untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam menggunakan bahasa Madura secara tepat dalam berbagai konteks. PENUTUP Berdasarkan analisis hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Orangtua memiliki peran penting dalam menstimulasi perkembangan bahasa Madura anak, terutama di keluarga dengan pasangan beda suku. Meskipun sering menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Madura di rumah, orang tua berupaya mengenalkan bahasa Madura melalui pendidikan formal dalam pembelajaran muatan lokal. Tantangan muncul karena ketidakfasihan orang tua dalam bahasa Madura halus . dan terbatasnya literasi bahasa tersebut. Anak-anak menunjukkan kemampuan baik dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Madura, meskipun lebih sering menggunakan campuran bahasa. Mereka perlu lebih banyak latihan untuk membedakan penggunaan istilah yang tepat, terutama dalam konteks formal. DAFTAR PUSTAKA