Jurnal Penelitian Kesehatan Pelamonia Indonesia Volume 5. Nomor 1. Januari-Juni 2022 pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRES KERJA PERAWAT DI RAWAT INAP RS PELAMONIA MAKASSAR ANALYSIS OF FACTORS AFFECTING THE WORK STRESS OF NURSES IN INPATIENT HOSPITAL PELAMONIA MAKASSAR Mohammad Ardani Samad1. Andi Nadya2 Department Of Hospital Administration. IIK Pelamonia Makassar. Indonesia E-mail: ardani. samad@gmail. com, andinadyya@gmail. ABSTRAK Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan susah dan ketegangan emosional yang menghambat kehidupan individu sehingga dapat menimbulkan stres. banyaknya pasien di rumah sakit yang tidak sebanding dengan jumlah perawat yang bertugas diruang rawat inap membuat perawat mengalami stres. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui faktor yang mempengaruhi stress kerja perawat di rawat inap rumah sakit pelamonia Makassar. Desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 183 orang perawat di rawat inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar. Teknik pengambilan sampel menggunakan aksidental. data diolah menggunakan uji Chi Square. Dari hasil uji yang didapatkan terdapat tiga variabel yang berpengaruh dan tiga variabel yang tidak berpengaruh adapun hasil nilai yang didapat yaitu : Faktor intrinsik diperoleh nilai . =0,. , peran individu dalam organisasi kerja . =0. , hubungan kerja diperoleh . =0. , kepribadian individu . =0. , peran individu dalam organisasi kerja . =0. , faktor keluarga . =0. Maka dapat disimpulkan bahwa dari beberapa faktor terdapat tiga faktor yang mempengaruhi secara signifikan yaitu faktor intrinsik, kepribadian individu, dan faktor keluarga. Disarankan kepada pihak rumah sakit agar menyesuaikan kembali jumlah tenaga perawat yang bekerja disetiap ruangan agar ada keseimbangan antara jumlah perawat dengan jumlah pasien di ruangan rawat inap sehingga tidak memicu terjadi stres pada Kata Kunci : Stres Kerja. Perawat. Rumah Sakit ABSTRACT Work stress is an excessive workload, feelings of difficulty and emotional tension that hinder individual life so that it can cause stress. the number of patients in the hospital that is not proportional to the number of nurses on duty in the inpatient room makes nurses experience stress, fatigue. The purpose of this study was to determine the factors that affect the work stress of nurses in the inpatient ward of the Pelamonia Hospital. Makassar. Quantitative research design with a cross sectional approach. The sample of this study was 183 nurses in the inpatient room of the Pelamonia Hospital Makassar. Sampling technique using accidental. the data was processed using the Chi Square test. The results of this study are intrinsic factor values obtained . = 0. , individual roles in work organizations . = 0. , work relations obtained . = 0. 397 ), individual personalities . = 0. , individual roles in work organizations . = 0. , family factor . =0. So it can be concluded that from several factors there are three factors that influence significantly, namely intrinsic factors, individual personality, and family It is recommended to the hospital to readjust the number of nurses working in each room so that there is a balance between the number of nurses and the number of patients in the inpatient room so that it does not can trigger stress on nurses. Keywords : Job Stress. Nurse. Hospital Samad,dkk : Analisis FaktorA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 PENDAHULUAN Dimana era globalisasi ini teknologi berkembang semakin pesat. Begitu pula dengan teknologi dibidang kesehatan. Selain itu, kebutuhan akan kesehatan pada masyarakat modern juga semakin kompleks. Hal ini dapat mempengaruhi para praktisi kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatannya kepada masyarakat. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 659/MENKES/PER/Vi/2009 tentang Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia, rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang mendirikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah sakit diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan baik. (SamiAoan, 2. Penelitian oleh National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) menetapkan perawat sebagai profesi yang berisiko sangat tinggi terhadap stres, karena perawat mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangat tinggi terhadap keselamatan nyawa manusia. Selain itu tingginya stres kerja juga karena perawat dituntut harus selalu maksimal dalam melayani pasien. Oleh itu banyaknya tuntutan dalam pekerjaan maka semakin besar resiko perawat mengalami stres kerja (Widodo, 2. Sektor kesehatan adalah salah satu sektor dengan prevalensi stres kerja paling tinggi (ILO. Menurut Perwitasari et al . , menyatakan bahwa seluruh tenaga profesional di rumah sakit memiliki resiko stres, namun perawat memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Angka prevalensi stres kerja perawat di Vietnam dapat dilihat sebesar 18,5% (Tran et al, 2. , sementara di Hongkong mencapai 41,1% (Cheung and Yip. PPNI pada tahun 2006 menyebutkan, bahwa 50,9% perawat Indonesia pernah mengalami stres kerja (Herqutanto et al, 2. Menurut American National Association for Occupational Health, mengemukakan stres kerja perawat menempati ranking empat puluh kasus teratas stres pada pekerja yang mengakibatkan stress (Herqutanto et , 2. Dari data yang didapatkan Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), sekitar 450 juta orang di dunia mengalami stres. Pada tahun 2015 di Negara Amerika diketahui bahwa adanya gejala secara umum yang timbul akibat stres patologis mencapai angka 77% yang mana didominasi oleh stres kerja. Kerugian yang timbul akibat hal tersebut diperkirakan mencapai 300 milyar us Dolar ditiap tahunnya. Sebanyak 440. kasus yang terjadi di Inggris pada tahun 2014/2015 terjadi akibat stres kerja, depresi yang meliputi kekhawatiran dan kegelisaan (Perwitasari et al. Dapat dilihat Stres kerja terjadi diberbagai bidang pekerjaan. Stres juga dialami oleh 10% dari total penduduk Indonesia. Tahun 2013 data yang didapat dari riset Kesehatan Dasar (Riskesda. menyatakan bahwa kurang lebih 1,33 juta penduduk DKI Jakarta mengalami stres. Hal itu menunjukan bahwa 14% dari total penduduk. Data tersebut juga menunjukan bahwa penduduk dengan stres akut sebesar 13% dan stres berat mencapai 710%. Tercatat sebanyak 704. 000 orang di Jawa Tengah mengalami masalah kejiwaan, dimana dari data tersebut yang mengalami kegilaan berjumlah 000 orang dan yang mengalami stres 000 orang (Elvinawati, 2. Dari hasil penelitian Health and Safety Executive tahun 2015 mengemukakan bahwa tenaga profesional kesehatan, guru dan perawat memiliki tingkat stres tertinggi dengan angka prevalensi sebesar 2500 pada periode 2011-2012 selanjutnya tingkat stres tertinggi dengan angka prevalensi 2190 pada periode 2013-2014 dan tingkat stres tetinggi dengan angka prevalensi sebesar 3000 pada masa periode 2014-2015 kasus per 100. 000 orang pekerja. (Atika, 2. Dilihat dari fenomena stres kerja sudah menjadi masalah di dunia. Hal ini bisa dilihat dari kejadian stres di inggris terhitung terdapat 385. kasus, sedangkan di Wales 11. 000 sampai 26. kasus (Health & Safety Executive, 2. Dapat dilihat saat ini stres adalah masalah umum yang terjadi dalam kehidupan umat manusia (Gaol 2. World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa sekitar 450 juta orang di dunia mengalami stres. Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2008 tercatat sekitar 10% dari total penduduk Indonesia mengalami stres. Stres didefinisikan sebagai suatu reaksi yang seseorang alami ketika dihadapkan dengan tuntutan dan tekanan yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka dan sesuatu yang menantang kemampuan mereka untuk mengatasinya. (Perwitasari et al. Dilihat dari kerugian akibat stres kerja berupa absensi, produktivitas rendah, turn-over karyawan yang tinggi, kompensasi pekerja, asuransi pengobatan dan kecelakaan di Amerika Serikat mencapai 200 miliar dolar pertahun. Keperawatan adalah profesi dengan pajanan berbagai situasi yang berpotensi menimbulkan stres di tempat kerja. Sumber stres dalam berhubungan dengan terhadap pasien maupun profesi kesehatan lain. (Herqutanto et al. , 2. Menurut World Health Organization (WHO) mengemukakan stres bukan suatu penyakit. Namun, jika stres hebat dan berlangsung selama beberapa waktu, itu dapat menyebabkan kesehatan mental dan fisik . isalnya, depresi, gangguan saraf, penyakit Stres selalu terjadi di tempat kerja. Jika tidak dikelola dengan baik, stres bisa berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan seseorang menjadi buruk (Leka. Dkk 2. Stres juga diartikan sebagai reaksi yang tidak diharapkan muncul sebagai akibat tingginya tuntutan lingkungan kepada seseorang individu (Wirawan 2. Stres juga diartikan sebagai respon psikologis individu dalam menghadapi suatu kejadian yang mengancam dan mengganggu kemampuan individu tersebut untuk menghadapinya adanya tuntutan pada individu. Dampak stres kerja bagi perawat diantaranya yaitu dapat menurunkan kinerja keperawatan seperti pengambilan keputusan yang buruk, kurang konsentrasi, apatis, kelelahan, kecelakaan kerja sehingga pemberian asuhan keperawatan tidak Samad,dkk : Analisis FaktorA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 maksimal yang dapat mengakibatkan rendahnya produktivitas organisasi (Eleni ddk, 2. (Gibson et al. Dampak dari stres yang paling sering muncul yaitu sakit kepala . %), kemudian diikuti dengan gejala lain seperti kemarahan dan turunnya nafsu makan. (Febriani Sri, 2. Peran seorang perawat saat melayani pasien di rawat inap sangatlah berpengaruh terhadap kesembuhan pasien tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa perawat merupakan ujung tombak pelayanan rumah sakit karena selalu berinteraksi secara langsung dengan pasien, keluarga pasien, dokter dan tenaga kerja lainnya. Menjadi seorang perawat adalah sebuah pekerjaan yang begitu Dapat dilihat seorang perawat dituntut untuk selalu bersikap ramah terhadap semua orang terlebih kepada pasien, serta dapat memberikan rasa aman agar pasien tidak mengalami kecemasan, kegelisahan atau rasa takut. Selain itu, seorang perawat juga dituntut untuk dapat berbicara dengan suara lembut dan murah senyum. (Febriani Sri, 2. Profesi Perawat dalam melaksanakan tugasnya, tidak jarang harus berhadapan dengan berbagai macam tekanan, baik yang berasal dari pekerjaan maupun dari luar Lambert, . dalam penelitiannya menyatakan bahwa perawat berhadapan dengan berbagai macam pembangkit stres di tempat kerja. Kekurangan jumlah perawat diseluruh dunia, jumlah penduduk lansia menjadi lebih besar, peningkatan kejadian penyakit kronik dan teknologi yang semakin canggih juga berkontribusi pada sumber stres kerja. Perawat yang merasa kesulitan mengatasi stres di tempat kerja akan berdampak pada kualitas kerja perawat yang buruk dan produktivitas yang Selain itu stres kerja juga mengakibatkan motivasi kerja, kepuasan kerja, moral dan komitmen memburuk karena stres yang berlebihan (Griffin, 2. Menurut teori Siagian . perawat yang mengalami stres kerja akan menampakkan diri pada berbagai perilaku yang tidak normal seperti gugup, tegang, selalu cemas, gangguan pencernaan dan tekanan darah Pengaruh gejala-gejala tersebut dapat terlihat pada kondisi mental tertentu seperti sukar tidur, sikap tidak mudah marah, mengendalikan emosi dan bersifat agresif (Siagian, 2. Menurut Wijono . , berpendapat bahwa pekerja yang mengalami stres kerja rendah mempunyai jumlah jam kerja/minggu antara 37 hingga 40 jam, sedangkan pekerja yang mengalami stres kerja sedang mempunyai jumlah jam kerja/minggu antara 41 hingga 60 jam. Sebaliknya, pekerja yang mengalami stres kerja tinggi mempunyai jumlah jam kerja/minggu antara 61 hingga 71 jam. (Febriani Sri, 2. Stres kerja yang muncul dan tidak ditangani dengan baik tentu akan berdampak, baik bagi fisiologis, psikologis maupun sikap. Perubahan fisiologis ditandai dengan rasa letih/lelah, kehabisan tenaga, pusing, gangguan pencernaan dan untuk perubahan secara psikologis ditandai dengan kecemasan berlarut-larut, sulit tidur, dan berikutnya perubahan sikap seperti keras kepala, mudah marah dan tidak puas terhadap apa yang dicapai (Wijono. Menurut Patton . dan Cartwright . dalam Tawarka menyatakan bahwa yang menjadi penyebab stres kerja yaitu kondisi individu seperti umur, jenis kelamin, masa kerja, dan pendidikan. Faktor intrinsik pekerjaan seperti lingkungan kerja, stasiun kerja yang tidak ergonomis, shift kerja, jam kerja yang panjang, pekerjaan yang berisiko tinggi, pemakaian teknologi baru, beban kerja, serta adaptasi jenis pekerjaan baru. Faktor intrinsik pekerjaan yang dapat menimbulkan stres kerja. Faktor peran individu dalam organisasi kerja juga menjadi salah satu faktor yang dapat menimbulkan stres kerja. Faktor hubungan kerja, faktor pengembangan karir, faktor struktur organisasi dan suasana kerja, serta faktor dari luar pekerjaan seperti kepribadian individu dan faktor keluarga juga mempengaruhi stres kerja pada individu. (Atika, 2. Menurut Yulihastin . , menyatakan perawat harus bekerja dengan shift karena rumah sakit melayani pasien selama 24 jam. Perawat yang bertugas di rawat inap, mereka bekerja dibagi menjadi tiga shift, yaitu 8 jam untuk shift pagi, 8 jam untuk shift siang dan 8 jam untuk shift malam. Peraturan jam kerja menurut Undang-Undang No. Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu selama 8 jam 1 hari kerja, 40 jam untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu dan istirahat antara jam kerja, sekurangkurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 jam terus-menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja. Sedangkan jam kerja yang berlaku di perusahaan adalah selama 8 jam kerja (Simanjuntak, 2. Berikut adalah jumlah perawat disetiap ruang perawatan di rawat inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Tabel 1. Jumlah Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Jumlah Ruang Perawatan Perawat Flanboyan/Anggrek Adelia Mawar Anyelir(Beda. Isolasi Icu Krisan/Asoka Dhalia Cempaka Bersalin Seruni Bedah Kelas 1 Total Sumber: data primer, 2021 Samad,dkk : Analisis FaktorA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan di Rumah sakit pelamonia Makassar pada bulan April 2021, didapatkan data jumlah seluruh perawat di ruangan rawat inap sebanyak 183 perawat dengan pembagian shift dari pagi pukul 07. WIB, shift sore pukul 14. 00 WIB, dan shift malam pukul 20. 30 WIB. Tugas yang harus dilakukan perawat seperti melakukan asuhan keperawatan, pencatatan laporan asuhan keperawatan, observasi pasien, menerima pasien baru atau rujukan pasien ke rumah sakit lain. Tabel 1. Jumlah Kunjungan Pasien Rumah Sakit Pelamonia Makassar Tahun Jumlah Pasien Sumber : data sekunder tahun 2021 Berdasarkan data rekam medik rumah sakit pelamonia Makassar laporan jumlah kunjungan pasien rawat inap tahun 2019 sebanyak 17034, pada tahun 2020 sebanyak 8663 pasien. Meskipun jumlahnya terus menurun dari tahun 2019 ketahun 2020 tetapi jumlah perawat tidak mengalami Hal ini menyebab perawat memiliki beban kerja yang banyak sehingga memicu stres kerja. Adapun hasil wawancara dengan 7 perawat yang bertugas di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar dari salah satu perawat mengatakan bahwa, banyaknya pasien yang tidak sebanding dengan jumlah perawat yang bertugas di rawat inap mengakibatkan beban kerja bertambah. Hal ini membuat perawat kelelahan saat menangani pasien, terutama pada bulan Desember tahun 2020 hingga Januari tahun Sehingga membuat setiap perawat harus menangani sebanyak 3 atau 4 pasien/1 orang perawat. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan PMK No. 340/MENKES/Per/i/2010 tentang klasifikasi rumah sakit pasal 7 ayat 8 yang menyatakan bahwa Ayperbandingan tenaga keperawatan dan tempat tidur adalah 1:1 dengan kualifikasi keperawatan sesuai dengan di rumah sakitAy. Selain itu adapun wawancara dengan 7 orang perawat mengenai beban kerja yang didapatkan dari masing-masing perawat yaitu tambahan pekerjaan dari kepala ruangan Kurangnya jadwal istirahat . adwal of. bagi perawat pengaturan jadwal dinas dimasing-masing ruangan masih kurang bagus sehingga ada kendala pada shift perawat, beban kerja pasien yang terlalu banyak, keluhan keluarga pasien yang biasa didapat oleh perawat, kemudian sebagian pasien yang susah diatur karena setiap pasien memiliki karateristik masingmasing dan juga perawat harus menghadapi pasien dan keluarga pasien terutama bagi yang akan melaksanakan operasi dalam keadaan kritis. Banyaknya beban kerja yang sering dialami oleh perawat mengakibatkan timbulnya stress kerja, seperti perawat merasakan pusing, sakit kepala, badan sakit, letih/lelah, kebingungan dalam bekerja, mudah marah, tangan terasa capek dan kurang nafsu makan yang dirasakan oleh beberapa perawat. Kemudian dari 7 orang perawat di Rumah Sakit Pelamonia Makassar, yang berhasil diwawancarai terdapat satu perawat yang mengeluh adanya kasus Covid-19 yang mengakibatkan perawat tersebut terinfeksi gejala ringan virus yang berasal dari pasien kunjungan rawat inap. Perawat merasakan pusing, sakit kepala dan juga mengalami trauma kerja selama beberapa hari sehingga harus istirahat total untuk kembali kerja di rumah sakit khususnya di ruangan rawat inap. Selain itu dari hasil wawancara juga diketahui bahwa terdapat 3 orang perawat yang sudah berstatus Beban kerja perawat yang belum menikah tentu berbeda dengan beban kerja perawat yang sudah Dimana mereka memiliki tambahan beban kerja seperti pembagian waktu antara waktu kerja dangan waktu untuk keluarga. Perawat wanita yang sudah menikah kebanyakan mengalami stres karena pembagian waktu kerja dengan waktu buat keluarga seperti untuk anak, suami dan orang tua di rumah. Selain itu, terkadang waktu kerja dengan waktu liburan untuk keluarga bersamaan sehingga menjadi problem yang mengakibatkan pusing dan sakit kepala. Dari 3 perawat yang sudah menikah terdapat 2 perawat yang mengalami stres ringan seperti betis terasa pegal, pusing, capek/lelah dan mudah marah. Berdasarkan data diatas Peneliti memilih untuk melakukan Penelitian Tentang AuAnalisis Faktor yang Mempengaruhi Stres Kerja Perawat di Rawat Inap RS Pelamonia MakassarAy METODE Menurut Sugiyono . penelitian kuantitatif yaitu : "Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah Desain dalam penelitian ini menggunakan Metode Kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut serta penampilan dari hasilnya. Dengan menggunakan pendekatan study cross sectional dimana pengukuran faktorAe faktor yang berpengaruh dengan stres pada perawat di rawat inap rumah sakit pelamonia dilakukan secara bersamaan atau sekali waktu. HASIL Hasil Analisis Univariat Deskriptif Hasil Penelitian Dalam penelitian ini penulis mengolah data angket dalam bentuk data yang terdiri dari 9 pernyataan untuk masing-masing variabel Faktor Stres Kerja (X), dan 35 pernyataan untuk variabel Stres Kerja (Y). Kuesioner yang disebarkan akan diberikan kepada 126 perawat di rawat inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar sebagai sampel Samad,dkk : Analisis FaktorA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654 9921 penelitian dengan menggunakan skala likert yang berbentuk tabel ceklis. Karakteristik Responden Pada penelitian ini diperoleh data primer melalui penyebaran kuesioner kepada perawat untuk mengetahui gambaran umum responden. Pada memperoleh responden sebanyak 126 orang yang merupakan perawat di rawat inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar. Berikut ini adalah hasil jawaban responden dari penyebaran kuesioner atas dasar karakteristik: Umur Karakteristik responden berdasarkan umur Pendidikan Jumlah Persentase Terakhir . (%) Di Keperawatan S1 Keperawatan Ners S2 Keperawatan TOTAL perawat di rawat inap Rumah Sakit Pelamonia dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Umur Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Sumber: data primer tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 1, dapat dilihat bahwa dari 126 jumlah responden paling banyak berusia 20-40 tahun atau sebesar . Jenis kelamin Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin perawat di rawat inap Rumah Sakit Jumlah Persentase Umur . (%) Tahun >40 Tahun TOTAL Pelamonia dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Sumber: data primer,2021 Berdasarkan tabel 4. 2 dapat dilihat bahwa dari 126 jumlah responden paling banyak berjenis kelamin wanita atau sebesar Status Pernikahan Karakteristik status pernikahan pada perawat di rawat inap Rumah Sakit Pelamonia dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 4. Jenis Jumlah Persentase Kelamin . (%) Wanita Laki-Laki TOTAL Distribusi Responden Berdasarkan Status Pernikahan Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Sumber: data primer tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 3, dapat dilihat bahwa dari 126 jumlah responden paling banyak berstatus kawin Lama Bekerja Jumlah . Persentase (%) <5 Tahun 5-10 Tahun >10 Tahun TOTAL atau sebesar 65. Lama Bekerja Karakteristik responden berdasarkan lama bekerja perawat di rawat inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Lama Bekerja Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Sumber: data primer tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 4, dapat dilihat bahwa dari 126 jumlah responden yang paling banyak kategori lama bekerja 5-10 tahun atau sebesar 41. 3%, sedangkan yang paling sedikit kategori lama bekerja >10 tahun atau . Pendidikan Terakhir Karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir perawat di rawat inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Sumber: Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 5, dapat dilihat bahwa dari 126 jumlah responden yang paling banyak berstatus pendidikan terakhir Di keperawatan atau sebesar 56. sedangkan responden yang paling sedikit berstatus pendidikan terakhir S2 Keperawatan/Kesehatan atau Faktor Jumlah . Persentase hubungan kerja (%) Baik Kurang Baik TOTAL Karakteristik Variabel Samad,dkk : Analisis FaktorA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Analisis univariat yaitu suatu uji yang mendeskripsikan setiap variabel yang diteliti. Suasana kerja Jumlah . Persentase (%) Baik Kurang Baik TOTAL Adapun data yang dianalisis akan persentase dari setiap variabel yang diteliti yaitu sebagai berikut : Tanggapan Responden Tentang Faktor Intrinsik Faktor Intrinsik Baik Kurang Baik TOTAL Jumlah . Persentase (%) Berdasarkan Tabel 4. 8 dapat dilihat dari 126 responden, sebagian besar menyatakan bahwa Faktor Hubungan Kerja berada pada kategori kurang baik sebanyak 92 responden atau sebesar 73. Tanggapan Responden Tentang Kepribadian Individu Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Kepribadian IndividuPerawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Sumber: data primer tahun 2021 Berdasarkan Tabel 4. 9 dapat dilihat dari 126 responden, sebagian besar menyatakan bahwa kepribadian individu berada pada kategori baik sebanyak 122 responden atau sebesar 96,8%. Tanggapan Responden Tentang Suasana Kerja Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Suasana Kerja Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Sumber: data primer tahun 2021 Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Faktor Intrinsik Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Faktor keluarga Jumlah . Persentase (%) Berdasarkan Tabel 4. 10 dapat dilihat dari 126 Baik responden, semuanya menyatakan bahwa suasana kerja berada pada kategori baik atau sebesar 100. Kurang Baik . Tanggapan Responden Tentang TOTAL Faktor Sumber: Data Primer Tahun 2021 Keluarga Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Faktor Berdasarkan Tabel 4. 6 dapat dilihat dari 126 Keluarga Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia responden, sebagian besar menyatakan bahwa No Peran individu Jumlah . Persentase (%) faktor intrinsik berada pada kategori baik sebanyak 81 responden atau sebesar 64. Baik Tanggapan Responden Tentang Peran Kurang Baik Individu Dalam Organisasi Kerja Tabel 4. TOTAL Distribusi Responden Berdasarkan Peran Makassar Individu Dalam Organisasi KerjaPerawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Sumber: data primer tahun 2021 Makassar Sumber : data primer tahun 2021 Berdasarkan Tabel 4. 11 dapat dilihat dari 126 responden yang paling banyak dinyatakan kategori baik Berdasarkan Tabel 4. 7 dapat dilihat dari sebanyak 64 responden atau sebesar 50. 126 responden, sebagian besar menyatakan Stress kerja Baik Kurang Baik TOTAL Jumlah . Tanggapan Responden Tentang Stres Kerja Tabel Persentase (%) Distribusi Responden Berdasarkan Stres Kerja Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Sumber: data primer tahun 2021 Peran individu dalam organisasi kerja berada pada kategori kurang baik sebanyak 124 responden atau sebesar 98. Tanggapan Responden Tentang Faktor Hubungan Kerja Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Faktor Hubungan Kerja Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Sumber : data primer tahun 2021 Berdasarkan Tabel 4. 12 dapat dilihat dari 126 responden, sebagian besar menyatakan stres yaitu sebanyak 81 atau sebesar 64. 3% dan menyatakan tidak stres sebanyak 45 atau sebesar 35. Hasil Analisis Bivariat Analisis bivariat merupakan suatu uji yang Baik Kurang Baik TOTAL Jumlah . Persentase (%) Samad,dkk : Analisis FaktorA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654 9921 digunakan untuk mengetahui hubungan dari variabel independen dan variabel dependen yang di analisis dengan menggunakan uji chi square sebagai berikut : Analisis Pengaruh Faktor Intrinsik Dengan Stres Kerja Pada Perawat Tabel 4. Distribusi Pengaruh Faktor Intrinsik Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di Rawat Inap rumah sakit pelamonia Makassar Stres Kerja Perawat 0,01 Total Tidak Stres Stres Stres Kerja Perawat Organisasi Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Sumber: data primer tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 14 dapat dilihat bahwa peran individu dalam organisasi dengan kategori baik berjumlah 124 reponden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 81 responden atau Sedangkan pada peran individu dalam organisasi pada kategori kurang baik berjumlah 2 responden yang paling banyak yaitu kategori stres pada kerja perawat sebanyak 2 responden atau sebesar 100. Berdasarkan menggunakan uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0. 126 dimana p > 0. 05, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya tidak ada pengaruh signifikan antara variabel peran individu dalam organisasi dengan stres kerja perawat. Analisis Pengaruh Faktor Hubungan Kerja Dengan Stres Kerja Pada Perawat Tabel 4. Distribusi Pengaruh Faktor Hubungan Kerja Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Tidak Faktor Faktor Stres Total 0,011P = Stres n kerja Intrinsi Baik 37,0 58 63. 0 92 100. Kurang 32,4 23 67,6 34 100. Baik Total 7 81 64. 3 126 100. Baik 1 22 48. 9 45 100. Kurang 2 59 72. 8 81 100. Baik Sumber: data primer tahun 2021 Total 7 81 64. 3 126 100. Sumber: data primer tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 15 dapat dilihat bahwa faktor Berdasarkan tabel 4. 13 dapat dilihat hubungan kerja dengan kategori baik berjumlah 92 bahwa faktor intrinsik dengan kategori baik reponden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres berjumlah 45 reponden yang paling banyak pada kerja perawat sebanyak 58 responden atau sebesar yaitu kategori stres pada kerja perawat sedangkan pada faktor hubungan kerja pada sebanyak 23 responden atau sebesar 51. kategori kurang baik berjumlah 34 responden yang paling Sedangkan pada faktor intrinsik pada kategori banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat kurang baik berjumlah 81 responden yang sebanyak 23 responden atau sebesar 67. paling banyak yaitu kategori tidak stres pada Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji kerja perawat sebanyak 59 responden atau statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0. 680 dimana p> 05, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa Ho diterima Berdasarkan hasil analisis menggunakan dan Ha ditolak yang artinya tidak ada pengaruh signifikan uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0,011 antara variabel faktor hubungan kerja dengan stres kerja dimana p< 0. 05, maka hasil tersebut . Analisis Pengaruh Kepribadian Individu Peran Stres Kerja Perawat Dengan Stres Kerja Pada Perawat Tabel 4. Total Tidak 0,011 Distribusi Pengaruh Kepribadian Individu Stres Stres Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Stres Kerja Perawat Baik 34,7 81 65,3 124 100. Total Tidak Kepribadian 0,011 Stres Kurang Stres 100,0 0 Baik Total 7 81 64. 3 126 100. Baik 36 53,7 31 46,3 67 100. bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya Kurang ada pengaruh signifikan antara variabel faktor 14 23,7 45 76,3 59 100. Baik intrinsik dengan stres kerja perawat. Total 7 76 64. 3 126 100. Analisis Pengaruh Peran Individu Dalam Sumber: data primer tahun 2021 Organisasi Dengan Stres Kerja Pada Perawat Tabel 4. Berdasarkan tabel 4. 16 dapat dilihat bahwa Distribusi Pengaruh Peran Individu kepribadian individu dengan kategori baik berjumlah 67 Dalam reponden yang paling banyak yaitu kategori stres pada kerja perawat sebanyak 36 responden atau sebesar Samad,dkk : Analisis FaktorA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Sedangkan kepribadian individu pada kategori kurang baik berjumlah 81 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 45 responden atau sebesar 76. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0. 010 dimana p< 0. 05, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya ada pengaruh signifikan antara variabel kepribadian individu dengan stres kerja perawat. Analisis Pengaruh Suasana Kerja Dengan Stres Kerja Pada Perawat Tabel 4. Distribusi Pengaruh Suasana Kerja Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Sumber: data primer tahun 2021 Faktor Baik Kurang Baik Total Berdasarkan tabel 4. 17 dapat dilihat bahwa suasana kerja dengan kategori baik berjumlah 67 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 44 responden atau sebesar 65. Sedangkan suasana kerja pada kategori kurang baik berjumlah 59 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 37 responden atau Berdasarkan Chi-Square diperoleh nilai p = 0. 852 dimana p> 0. 05, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya tidak ada pengaruh signifikan antara variabel suasana kerja dengan stres kerja perawat. Analisis Pengaruh Faktor Keluarga Dengan Stres Kerja Pada Perawat Tabel 4. Distribusi Pengaruh Faktor Keluarga Dengan Stres KerjaPada Perawat Di rawat Inap Rumah Sakit Pelamonia Makassar Stres Kerja Perawat Total Tidak 0,011 Stres Stres 45,2 34 54,8 62 100. 7 81 64. 3 126 100. Sumber: data primer tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 18 dapat dilihat bahwa faktor keluarga dengan kategori baik berjumlah 62 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 34 responden atau sebesar 54. Sedangkan pada faktor keluarga pada kategori kurang baik berjumlah 64 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 47 responden atau sebesar 73. Berdasarkan Chi-Square diperoleh nilai p = 0. 041 dimana p< 0. 05, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya ada pengaruh signifikan antara variabel faktor keluarga dengan stres kerja perawat. PEMBAHASAN Analisis Univariat Analisis menggambarkan sebaran dan hasil penelitian yang diperoleh secara kuantitatif dengan menggunakan daftar distribusi. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ratarata umur responden berada pada usia 2040 tahun yaitu sebanyak 123 responden dengan proporsi sebanyak . 6%) dan usia tertua >40 tahun sebanyak 3 responden dengan proporsi sebanyak . 4%). Gunarsa . , yaitu mengelompokkan yang rentan terhadap stres menjadi dua kelompok yaitu masa dewasa muda . tahun dan masa dewasa madya umur . -60 tahu. Seseorang Stres Kerja Perawat Total Tidak Suasana 0,011 Stres Stres Baik 37,3 44 65,7 Kurang 34,7 37 62,7 Baik Total 7 81 64. akan lebih rentang terhadap stres pada masa dewasa muda yaitu umur 21-40 tahun seseorang akan mengalami pembentukan karir, pembinaan hubungan wanita pria, memilih pasangan hidup, persaingan dalam pekerjaan, orientasi hidup, memikirkan pendidikan anak/keluarga. Jenis kelamin Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ratarata didapatkan 111 responden berjenis kelamin perempuan dengan proporsi sebanyak . 1%), sedangakan untuk berjenis kelamin laki-laki didapatkan 15 responden dengan proporsi sebanyak . %). SumuAomur . , yang mengemukakan bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki kemampuan fisik . yang berbeda. Perempuan memiliki kecenderungan cepat lelah sehingga stres kerja lebih banyak dialami perempuan. Selain itu stres kerja juga dipengaruhi dengan adanya siklus haid pada wanita yang dapat memengaruhi kondisi emosional. Emosi yang tidak stabil dapat memperberat stres kerja yang dialaminya. Status kawin Dari hasil penelitian yang diperoleh bahwa persentasi status perkawinan yang terbesar adalah kategori kawin yaitu sebanyak 88 responden dengan proporsi sebanyak . 1%) sedangkan kategori belum kawin yaitu sebanyak 44 responden dengan proposi sebanyak . 9%). Seseorang yang belum kawin cenderung berbeda dengan seseorang yang suda kawin. Biasanya orang dengan status suda kawin cenderung Samad,dkk : Analisis FaktorA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654 9921 memiliki stres kerja yang juga diakibatkan adanya masalah rumah tangga yang ikut dibawa pada saat bekerja. Selain itu tanggung jawab yang suda kawin lebih besar dari segi materi seiring dengan peningkatan kebutuhan hidup, pendidikan dan moral, dibandingkan dengan seseorang yang belum kawin. Terlebih jika memiliki jumlah anak banyak dan istri tidak bekerja hanya sebagai ibu rumah tangga menjadi tuntutan sendiri. Lama bekerja Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ratarata lama bekerja responden 5-10 tahun yaitu sebanyak 52 responden . 31%), <5 tahun sebanyak 50 responden . 7%) dan >10 tahun sebanyak 24 responden . 0%). hal ini tidak sejalan dengan teori Robbins . , yang menyatakan bahwa seseorang yang bertahan lama dalam pekerjaanya akan semakin dapat menghadapi stres kerja dan memiliki strategi serta upaya untuk mengendalikan stres kerja. Siboro . , bahwa semakin lama masa kerja seseorang dapat menimbulkan kebosangan atau pekerjaan yang monoton dari tahun ketahun dapat membuat seseorang bosan yang lama kelamaan akan mengalami stres yang secara langsung tidak disadari hal tersebut didukung oleh peryataan munandar . , bahwa masa kerja baru ataupun lama dapat memicu terjadinya stres kerja. Masa kerja dapat menimbulkan rutinitas dalam bekerja terutama rutinitas kerja yang selalu monoton sehingga muncul kebosangan dan disertai lingkungan yang terbatas membuat pekerja menimbulkan stres kerja bagi pekerja. Pendidikan terakhir Diperoleh terhadap responden berdasarkan pendidikan terakhir diketahui bahwa pendidikan terakhir yang terbesar yaitu Di keperawatan sebanyak 71 responden dengan proporsi sebanyak . 3%). S1 Keperawatan sebanyak 32 responden dengan proporsi sebanyak . Ners sebanyak 20 responden dengan proporsi sebanyak . 9 %) dan S2 keperawatan/kesehatan sebanyak 2 responden . 6%). , menyatakan bahwa tingkatan pendidikan akan berpengaruh terhadap kualitas dalam bekerja. Kualitas yang terendah dapat mengakibatkan beban kerja menjadi bertambah, dan menimbulkan stres. Analisis Bivariat Pengaruh antara faktor intrinsik stress kerja Faktor intrinsik Adalah yang dimiliki setiap individu seperti pengetahuan dan pelaksanaan pekerjaan yang meliputi : shift kerja, jam kerja yang panjang, pekerjaan yang berisiko tinggi, pembagian tugas, tambahan tugas, tambahan waktu kerja, pemakaian teknologi baru, serta adaptasi jenis pekerjaan Patton. Ddk . Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan susah dan ketegangan emosional yang menghambat performance individu sehingga dapat menimbulkan stres (Robbins. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik Chi-Square kategori variabel faktor intrinsik diperoleh nilai p = 0,011 dimana p< 05 yang berarti bahwa hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan antara variabel faktor intrinsik dengan stres kerja perawat. Berdasarkan hasil uji diatas dapat dilihat bahwa faktor intrinsik dengan kategori baik berjumlah 45 reponden yang paling banyak yaitu kategori stres pada kerja perawat sebanyak 23 responden atau sebesar 51. Sedangkan pada faktor intrinsik pada kategori kurang baik berjumlah 81 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 59 responden atau Hal ini dapat dilihat dari pelibatan dan partisipasi perawat di rawat inap rumah sakit Pelamonia Makassar yang menyatakan bahwa terlalu banyak pekerjaan maupun sedikit terkadang dapat menyebabkan stres pada setiap perawat. Sebagai besar jawaban dari kuesioner yang diberikan kepada seorang perawat yaitu selalu menghadapi terlalu banyak pekerjaan seperti pembagian tugas yang kurang sesuai dengan kemampuan perawat dan selalu mendapatkan tambahan tugas, pekerjaan baru termasuk pemakaian teknologi baru yang belum pernah digunakan, pembagian shift kerja, dan sebagian besar perawat kurang mampu menerima pekerjaan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. perawat yang dituntut untuk menyelesaikan semua pekerjaan dengan hasil sebaik baiknya dapat menjadi stres tergantung bagaimana setiap perawat dapat mengatasi keadaan yang akan dihadapinya. Hasil penelitian diatas sejalan dengan penelitian Linda . , yang menyatakan bahwa berdasarkan hasil analisis hubungan antara faktor intrinsik dengan stres kerja, ditemukan bahwa perawat yang merasa terbebani sebagian besar mengalami stres kerja dan perawat yang merasa tidak terbebani tidak mengalami stres kerja. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,042 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara faktor intrinsik dengan stres kerja. Hasil penelitian diatas berbanding terbalik dengan penelitian Sabathy El . , dari hasil pengujian korelasi pearson diperoleh adanya hubungan positif yang signifikan antara faktor intrinsik dengan stres kerja ( r=0. p<0. hal tersebut menunjukkan ada hubungan antara faktor intrinsik dengan stres kerja. Dalam artian semakin tinggi faktor intrinsik yang diperoleh maka semakin tinggi stres kerja yang dialami, demikian Pengaruh peran individu dalam organisasi terhadap stres kerja Peran individu dalam organisasi adalah pelibatan dan partisipasi perawat didalam rumah sakit khusunya ruang rawat inap untuk mewujudkan patient safety dalam Samad,dkk : Analisis FaktorA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 rumah sakit tersebut dengan itu dilakukan pemberian pelayanan keperawatan, perawat harus mematuhi semua standar pelayanan dan SOP yang telah dibuat, serta tidak luput pula dalam menerapkan prinsip etika dalam pemberian pelayanan kesehatan, memberikan didikan kepada pasien dan keluarga pasien serta melakukan pendokumentasian pasien dengan benar. Patton. Ddk . Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan susah dan ketegangan emosional yang menghambat performance individu sehingga dapat menimbulkan stres (Robbins, 2. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik Chi-Square kategori variabel peran individu dalam organisasi kerja diperoleh nilai p = 0. 126 dimana p> 0. yang berarti bahwa hipotesis Ha ditolak dan Ho diterima, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara variabel peran individu dalam organisasi kerja dengan stres kerja perawat. Berdasarkan hasil uji diatas dapat dilihat bahwa peran individu dalam organisasi dengan kategori baik berjumlah 124 reponden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 81 responden atau Sedangkan pada peran individu dalam organisasi pada kategori kurang baik berjumlah 2 responden yang paling banyak yaitu kategori stres pada kerja perawat sebanyak 2 responden atau sebesar 100. Hal ini dapat dilihat dari pelibatan dan partisipasi perawat di rawat inap rumah sakit Pelamonia Makassar dalam mewujudkan patient safety di rumah sakit yaitu sebagian besar perawat suda melakukan tugasnya dengan baik dan sebagian besar suda mematuhi semua standar pelayanan dan SOP yang telah dibuat, kemudian sebagian besar perawat juga suda menerapkan prinsip etika yang benar, dan juga memberikan didikan, arahan dan edukasi kepada pasien dan pendokumentasian pasien dengan benar. sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar perawat di rawat inap rumah sakit Pelamonia Makassar telah melakukan peranya dengan baik, terutama dalam mematuhi semua standar pelayanan dan SOP dengan baik sehingga mengurangi terjadinya stres kerja. Hasil dari penelitian diatas tidak sejalan dengan penelitian menurut Herul . alam bukunya Zainal, 2. yang menyatakan bahwa salasatu yang mempengaruhi stres kerja adalah peran individu dalam organisasi yaitu setiap tenaga kerja bekerja sesuai dengan peranya dalam organisasi, artinya setiap tenaga kerja mempunyai kelompok tugasnya yang harus dilakukan sesuai dengan aturanaturan yang ada dan sesuai dengan yang diharapkan oleh atasanya. Namun demikian, tenaga kerja tidak selalu berhasil untuk memainkan peranya tampa menimbulkan Kurang baik berfungsinya peran dapat membangkitkan stres dalam bekerja. Pengaruh Faktor Hubungan Kerja Terhadap Stres Kerja Hubungan kerja yaitu perjanjian kerja yang mempunyai unsur kerja, upah dan Dengan diadakannya perjanjian kerja maka terjalinlah hubungan kerja antara rumah sakit dan tenaga kesehatan di rumah meliputi interaksi perawat dengan pasien, perawat dengan frofesional kesehatan lainya seperti dokter, pimpinan, tenaga lab dan tenaga lainya dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien. Patton. Ddk . Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan susah dan ketegangan emosional yang menghambat performance individu sehingga dapat menimbulkan stres dalam bekerja (Robbins, 2. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik Chi-Square kategori variabel hubungan kerja diperoleh nilai p = 0. 397 dimana p> 0. yang berarti bahwa hipotesis Ha ditolak dan Ho diterima, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara variabel hubungan kerja dengan stres kerja Berdasarkan hasil uji diatas dapat dilihat bahwa faktor hubungan kerja dengan kategori baik berjumlah 92 reponden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 58 responden atau sebesar sedangkan pada faktor hubungan kerja pada kategori kurang baik berjumlah 34 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 23 responden atau sebesar 67. Hal ini dapat dilihat dari pelibatan dan partisipasi perawat di rawat inap rumah sakit Pelamonia Makassar yang menyatakan bahwa sebagian besar perawat dapat berkomunikasi baik kepada pasien maupun keluarga pasien, kemudian sebagian besar perawat juga suda melakukan komunikasi dan kerja sama yang baik pada timnya, baik itu dokter, laboratorium, dan profesi tenaga kesehatan lainya lainya. berkaitan dengan hubungan kerja perawat kurang mengalami stres kerja karena perawat yang melaksanakan tugasnya tidak dapat bekerja tampa berkolaborasi dengan teman sesama timnya, baik dokter, laboratorium maupun dengan profesi lainya demi meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit jadi lebih banyak perawat yang melakukan kerja sama antar tenaga kesehatan lainya, saling menghargai, dan menghormati satusama lain sehingga tidak memicu timbulnya stres dalam bekerja. Hasil penelitian diatas tidak sejalan dengan penelitian Rian rosiha . , yang menyatakan bahwa dari tiga kategori hubungan kerja. Teryata perawat gigi yang mengalami stres terbayak yaitu perawat gigi yang mempunyai hubungan kerja cukup baik yaitu sebanyak 12 . ,7%) orang mengalami stres kerja sedang. Hasil uji statistic tersebut diketahui bahwa nilai r sebesar -0. yang berarti ada korelasi antara variabel hubungan kerja terhadap stres kerja perawat gigi cukup dan tidak searah. Berdasarkan hasil uji diatas didukung oleh penelitian beart . alam bukunya Ruslina 2. menyatakan bahwa hubungan interpersonal dengan rekan kerja, pimpinan dan karyawan telah diidentifikasi sebagai sumber dari stres Akan tetapi hasil penelitian diatas bertolak belakang dengan penelitian Tajvar yang menyatakan bahwa hubungan kerja yang terjalin diantara semua pihak yang ada di perusahaan suda tentu hubungan kerja yang bertujuan untuk memajukan perusahaan. Kerja sama yang terjalin diantara rekan kerja bisa berupa kerja sama antar tim yang mana merupakan perkumpulan dari berbagai Samad,dkk : Analisis FaktorA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654 9921 macam pola pikiran karyawan menjadi satu sehingga terjadi pemahaman yang berbeda, bukan karena timbulnya stres kerja. Sehingga tidak ada hubungan antara hubungan kerja dengan stres kerja. Pengaruh Kepribadian Individu Terhadap Stres Kerja Kepribadian individu yaitu beberapa ciri, watak yang diperlihatkan seseorang secara lahir, berinteraksi dengan individu lain dan konsisten dalam bertingkahlaku sehingga seorang individu memiliki identitas khusus yang berbeda dengan individu lain. Dapat dilihat dari kepribadianya, sikapnya, kontrol diri, harga diri, pengalaman dan keterampilanya. Patton. Ddk . Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan susah dan ketegangan emosional yang menghambat performance individu sehingga dapat menimbulkan stres dalam bekerja (Robbins, 2. Berdasarkan menggunakan uji statistik Chi-Square kategori variabel kepribadian individu diperoleh nilai p = 0. 010 dimana p< 0. 05 yang berarti bahwa hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa ada kepribadian individu dengan stres kerja berdasarkan hasil uji diatas dapat dilihat bahwa kepribadian individu dengan kategori baik berjumlah 67 reponden yang paling banyak yaitu kategori stres pada kerja perawat sebanyak 36 responden atau sebesar Sedangkan kepribadian individu pada kategori kurang baik berjumlah 81 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 45 responden atau sebesar 76. Hal ini dapat dilihat dari pelibatan dan partisipasi perawat di rawat inap rumah sakit Pelamonia Makassar yang menyatakan bahwa sebagian besar perawat kurang mengontrol diri pada saat melakukan pengobatan kepada pasien dikarenaka perawat suda kelelahan, kemudian sebagian besar perawat juga mudah mengekspresikan rasa tidak suka terhadap apa yang tidak disukainya termasuk ketika mendapatkan banyak keluhan dari keluarga pasien dan banyak perawat yang menggunakan dan mengoperasikan alat-alat teknologi dengan pemahaman dan prinsip ilmu yang cukup sehingga memiliki potensi stres dalam bekerja yang memiliki kepribadian selalu bekerja dan berusaha bertanggung jawab atas pekerjaan sehingga menyelesaikan tugasnya dengan sebaik mungkin dengan waktu yang cukup sehingga dapat menimbulkan potensi terjadinya stres pada perawat. Berdasarkan hasil penelitian diatas sejalan dengan penelitian Clivy Saputra . , yang menyatakan bahwa sebesar . dengan jumlah responden 17 orang memiliki tipe kepribadian A yaitu suatu corak atau perilaku yang penuh tanggung jawab, tegas, dan selalu berhati-hati dengan apa yang dikerjakan sehingga memiliki potensi stres dalam Sedangkan tipe kepribadian B dengan jumlah responden 22 orang. Mengartikan bahwa pada karyawan memiliki sifat yang lebih santai, dan beresiko lebih kecil mengalami stres dalam bekerja. Dalam hasil penelitian diatas sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh robbin . , yang menyatakan bahwa Seseorang yang memiliki kepribadian tipe A memiliki karateristik selalu bergerak, berjalan serta makan dengan cepat, merasa tidak sabaran, berusaha keras untuk selalu memikirkan serta mengerjakan dua hal atau lebih secara bersamaan, tidak bisa menikmati luangnya dengan efektif, itu adalah tipe kepribadian individu yang biasanya menimbulkan stres pada dirinya sendiri. Pengaruh Suasana Kerja Terhadap Stres Kerja Suasana kerja iyalah segala hal yang ada disekitar tenaga kesehatan dan yang mempengaruhi mereka dalam bekerja dan menjalankan tugas misalnya dalam rumah sakit pelamonia Makassar seperti: mengankat pasien, membantu pasien kekamar mandi, menjaga pasien selama shift, memberikan pengobatan dan mengganti alat pengobatan pasien. Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan susah dan ketegangan emosional yang menghambat performance individu sehingga dapat menimbulkan stres dalam bekerja (Robbins, 2. Berdasarkan menggunakan uji statistik Chi-Square kategori variabel peran individu dalam organisasi kerja diperoleh nilai p = 852 dimana p> 0. 05 yang berarti bahwa hipotesis Ha ditolak dan Ho diterima, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara variabel Suasana Kerja dengan stres kerja perawat. Berdasarkan hasil uji diatas dapat dilihat bahwa suasana kerja dengan kategori baik berjumlah 67 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 44 responden atau sebesar 65. Sedangkan suasana kerja pada kategori kurang baik berjumlah 59 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 37 responden atau sebesar Hal ini dapat dilihat dari pelibatan dan partisipasi perawat di rawat inap rumah sakit Pelamonia Makassar yang menyatakan bahwa sebagian besar perawat senang dan sabar membantu dan mengangkat pasien didalam ruangan pada saat meminta bantuan dalam perawatan, kemudian sebagian besar perawat lebih semangat dalam bekerja dan melakukan pekerjaanya dengan baik terutama pada saat mengganti alat pengobatan pasien di ruangan rawat inap. dalam melakukan aktivitas bekerja dengan memperhatikan suasana atau lingkungan kerja dengan baik dapat menciptakan kondisi kerja yang mampu memberikan motivasi untuk bekerja dan dapat membawa pengaruh baik yang tidak dapat memicu timbulnya stres dalam bekerja. Dari hasil uji diatas tidak sejalan dengan penelitian pasih Noordiansya . , yang menyatakan bahwa hubungan perawat dengan pasien dan atasanya menciptakan komunikasi yang kurang baik sehingga hasil yang didapatkan signifikan sebesar 0,033. Berdasarkan hasil tersebut lebih kecil dari <0,005. Didapatkan kesimpulan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa terdapat hubungan signifikan antara Samad,dkk : Analisis FaktorA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 suasana kerja dengan stres kerja perawat di rumah sakit muhammdia jombang. Didukung oleh penelitian Isna Aglusi . , yang menyatakan bahwa suasana kerja non fisik yang kurang baik mengalami stres kerja berat . dan mayoritas perawat yang lingkungan kerja non fisik perawat baik memiliki stres kerja ringan . 0%). Hasil uji chi-square menunjukkan p= 0,026 yang artinya ada hubungan yang bermakna antara suasana kerja dengan stres kerja. Didukung juga oleh teori (National Instituten Of Occupational Safety And Healty 2. yang menyatakan bahwa suasana kerja yang memiliki Beban kerja baik fisik maupun mental harus disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas kerja para perawat yang bersangkutan dengan menghindari adanya beban berlebihan sehingga dapat menimbulkan stres pada Perawat merasa bingung terhadap pekerjaan yang harus dikerjakan terlebih dahulu dikarenakan terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, bahakan perawat merasa bahwa kebutuhan mereka akan kesuksesan dan penghargaan dalam pekerjaan belum terpenuh sehingga semuanya dapat memicu terjadinya Pengaruh Faktor Keluarga Terhadap Stres Kerja Faktor keluarga Adalah konflik pekerjaan dan keluarga yang timbul apabila peran didalam pekerjaan dan peran didalam keluarga saling menuntut untuk di penuhi. seperti konflik yang biasa terjadi dalam faktor keluarga yaitu : pembagian waktu, kurangnya waktu untuk keluarga, orang tua dan anak, penggunaan hari libur, minimnya dukungan keluarga dan pekerjaan lainya yang menjadi konflik antara pekerjaan dan keluarga. Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan susah dan ketegangan emosional yang menghambat performance individu sehingga dapat menimbulkan stres dalam bekerja (Robbins, 2. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik Chi-Square kategori variabel faktor keluarga diperoleh nilai p = 0. 041 dimana p< 05 yang berarti bahwa hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan antara variabel faktor keluarga dengan stres kerja perawat. Berdasarkan hasil uji diatas dapat dilihat bahwa faktor keluarga dengan kategori baik berjumlah 62 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 34 responden atau Sedangkan pada faktor keluarga pada kategori kurang baik berjumlah 64 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 47 responden atau sebesar 73. Hal ini dapat dilihat dari pelibatan dan partisipasi perawat di rawat inap rumah sakit Pelamonia Makassar yang menyatakan bahwa sebagian besar perawat kurang mampu membagi waktu antara waktu keluarga dengan waktu kerja di rumah sakit dan banyak perawat yang kurang puas dengan waktu libur yang didapatkan setelah bekerja dirumah sakit. adapun berdasarkan tanggapan perawat yang suda menikah menyatakan bahwa perawat yang suda menikah dimana memiliki dua tanggung jawab itu dapat mempengruhi pekerjaan di rumah sakit dikarenakan tanggung jawab dalam keluarga harus seimbang dengan tanggung jawab di rumah sakit, selain itu sebagian besar perawat sering mengalami pusing ketika terjadi komplik pekerjaan dengan keluarga terutama suami dan anak, dan banyak perawat yang mengkwatirkan anaknya terpapar virus yang di akbitkan melalui dirinya . sehingga banyak perawat atau sebagian besar perawat mengalami stres yang diakibatkan oleh faktor keluarga. Dari Hasil uji penelitian diatas sejalan dengan penelitian Cristina Mo . , yang menyatakan bahwa faktor keluarga yang menyebabkan tinggi rendahnya stres kerja. Jika dilihat sumbang efektif yang diberikan dukungan sosial keluarga terhadap stres kerja, dukungan sosial keluarga memberikan kontribusi sebesar 3,76% dan sebanyak 96,24% dipengaruhi oleh faktor lain diluar dukungan keluarga yang dapat mepengaruhi terhadap stres kerja, seperti dukungan sosial ambiguitas, komplik, peran dan beban kerja. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial keluarga memberikan kotribusi terhadap stres kerja, sehingga Nampak jelas bahwa hubungan negatif dengan stres kerja. Pernyataan diatas didukung oleh teori cooper . 7 dalam bukunya miller, 2. menyatakan bahwa stres kerja dapat terjadi karena rendahnya faktor hubungan/dukungan keluarga yang diterima baik dari orang tua, suami, sodara, maupun anak. Perawat yang memiliki dukungan sosial yang baik akan lebih memiliki nilai kinerja tinggi dan mininya stres kerja yang KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan Terdapat pengaruh secara signifikan faktor intrinsik pekerjaan terhadap stres kerja pada perawat di rawat inap rumah sakit pelamonia Makassar. Tidak terdapat pengaruh secara signifikan faktor Peran individu dalam organisasi terhadap stres kerja pada perawat di rawat inap rumah sakit pelamonia Makassar. Tidak terdapat pengaruh secara signifikan faktor hubungan kerja terhadap stres kerja pada perawat di rawat inap rumah sakit pelamonia Makassar. Terdapat pengaruh secara signifikan faktor kepribadian individu terhadap stres kerja pada perawat di rawat inap rumah sakit pelamonia Makassar. Tidak terdapat pengaruh secara signifikan faktor suasana kerja terhadap stres kerja pada perawat di rawat inap rumah sakit pelamonia Makassar. Terdapat pengaruh secara signifikan faktor keluarga terhadap stres kerja pada perawat di rawat inap rumah sakit pelamonia Makassar. Saran Disarankan kepada pihak pemimpin perawat di rawat inap agar tidak diberikan banyak pekerjaan yang diluar kemampuan perawat agar tidak memicu terjadinya stres kerja. Samad,dkk : Analisis FaktorA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654 9921 Disarankan kepada pihak pimpinan perawat di rawat inap dapat melakukan pembagian tugas dan tanggung jawab sesuai tingkat pendidikan perawat agar tidak merasakan kebingungan yang dapat menimbulkan stres kerja pada perawat. Disarankan kepada pihak rumah sakit agar menyesuaikan kembali jumlah tenaga perawat yang bekerja di setiap ruangan agar ada keseimbangan antara jumlah perawat dengan jumlah pasien di ruangan rawat inap sehingga tidak menimbulkan banyak beban kerja yang bisa memicu terjadi stres pada perawat. DAFTAR PUSTAKA