SARGA: JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 19 NO 2 JULY 2025 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga KAJIAN LITERATUR FLEKSIBILITAS RUANG DALAM BANGUNAN PUBLIK UNTUK MENDUKUNG PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Literature Review of Space Flexibility in Public Buildings to Support Early Childhood Education | Received May 18, 2025 | Accepted June 26, 2025 | Available online July 31, 2025 | | DOI 10. 56444/sarga. 2747 | Page 75 - 89 | Satriansyah Akhlaqul Karima1*. Firman Hawari2*. Susy Budi Astuti3* satriakarima5996@gmail. Program Studi Desain Interior. Institut Teknologi Sepuluh November. Surabaya1* hawari@interior. Program Studi Desain Interior. Institut Teknologi Sepuluh November. Surabaya2* susy@interior. Program Studi Desain Interior. Institut Teknologi Sepuluh November. Surabaya3* ABSTRAK Perkembangan anak usia dini merupakan fase penting dalam pembentukan dasar kemampuan kognitif, sosial, dan emosional manusia, terutama pada usia 3-4 tahun yang dikenal sebagai masa golden age. Lingkungan belajar yang mendukung menjadi elemen penting dalam membantu anak mengembangkan potensi secara Banyak lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memanfaatkan bangunan publik sebagai tempat pembelajaran, yang sering kali juga digunakan untuk berbagai fungsi lainnya. Bangunan publik yang bersifat multifungsi ini menghadirkan tantangan, terutama dalam hal adaptasi fungsi untuk memenuhi kebutuhan pendidikan tanpa mengganggu fungsi lainnya. Konsep fleksibilitas ruang menjadi solusi utama dalam menghadapi tantangan tersebut, melalui desain yang adaptif dan mampu mengakomodasi beragam aktivitas secara harmonis. Pendekatan literature review penelitian ini akan menganalisis berbagai studi kasus pemanfaatan bangunan publik untuk pendidikan PAUD. Temuan menunjukkan bahwa fleksibilitas ruang tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan ruang, tetapi juga berkontribusi pada kolaborasi sosial dan pengembangan desain ruang publik yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Kajian ini memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan konsep ruang multifungsi untuk mendukung pendidikan dan kebutuhan masyarakat secara bersamaan. Kata Kunci: Bangunan Publik. Fleksibilitas Ruang. Pendidikan Anak Usia Dini ABSTRCT Early childhood development is a critical phase in establishing the foundations of human cognitive, social, and emotional abilities, particularly between the ages of 3Ae4, known as the golden age. A supportive learning environment plays a key role in help children optimally developing their potential. Many Early Childhood Education (PAUD) institutions utilize public buildings as learning spaces, which are often shared with other These multifunctional public buildings present challenges, especially in adapting their functions to meet educational needs without disrupting other uses. The concept of spatial flexibility emerges as a primary solution to these challenges, through adaptive design that can accommodate diverse activities harmoniously. Using a systematic literature review approach, this study analyzes various case studies of public building utilization for PAUD purposes. The findings show that spatial flexibility not only enhances space use efficiency but also contributes to social collaboration and the development of more inclusive and sustainable public space This study makes a significant contribution to the advancement of multifunctional space concepts in supporting both education and broader community needs. Keywords: Public Building. Flexibility Space. Early Children School Satriansyah Akhlaqul Karima. Firman Hawari. Susy Budi Astuti PENDAHULUAN Perkembangan otak pada anak usia 0-6 tahun merupakan golden age dimana otak manusia mengalami perkembangan paling cepat dalam sejarah kehidupannya. Usia 3-4 tahun anak sudah memiliki jaringan otak yang tersambung dengan baik, sehingga pada masa ini otak mengalami perkembangan yang pesat (Khadijah, 2016:. Jaringan syaraf otak yang terhubung akan membentuk keterampilan dan kemampuan yang lebih tinggi di masa akan datang. Anak memerlukan lingkungan yang kaya akan stimulus yang mendukung pembelajaran dan eksplorasi. Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dirancang untuk memberikan stimulus melalui kegiatan yang terstruktur dan membantu pembentukan fondasi perkembangan anak yang kuat. Lembaga PAUD ini secara umum tidak memiliki bangunan milik pribadi, sehingga mereka menggunakan bangunan publik melalui izin pinjam pakai. Menurut Juknis Kemdikbud . , pendirian sekolah PAUD memerlukan dokumen sah terkait hak milik, sewa, atau pinjam pakai atas tanah dan bangunan yang digunakan. Sifat bangunan pinjam pakai ini mengharuskan sekolah PAUD beradaptasi dengan kegiatan pada bangunan publik tersebut. Perlu adanya koordinasi penggunaan waktu bangunan sebagai sekolah PAUD dengan berbagai kegiatan sosial seperti donor darah dan posyandu (Pos Pelayanan Terpad. Gambar 1. Penggunaan Bangunan Publik Balai RW IX untuk Sekolah Pos PAUD Permata Hati Masangan Kulon. Sukodono. Sidoarjo Sumber: Dokumentasi Penulis, 2024 Pos PAUD Permata Hati merupakan contoh menempati bangunan Balai RW IX Griya Bhayangkara. Masangan Kulon, dengan luas 256 m2. Ruang ini memiliki karakteristik fleksibel, ditandai dengan adanya sekat yang memungkinkan perubahan tata letak ruang secara mudah sesuai kebutuhan kegiatan. Sekolah ini diperbolehkan menggunakan secara keseluruhan ruang publik Balai RW ini. Saat digunakan sebagai sekolah, ruang dapat diatur untuk mendukung aktivitas pembelajaran anak usia dini. Setelah kegiatan selesai, ruang dapat dirapikan kembali untuk digunakan oleh warga dalam kegiatan sosial lainnya. Kemudahan dalam pengaturan ulang ini menunjukkan bahwa ruang yang digunakan memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi dan mampu mengakomodasi berbagai fungsi dalam satu area yang sama. Gambar 2. Penggunaan Bangunan Publik Balai Desa untuk Sekolah Pos PAUD Nurul Qolbu. Masangan Kulon. Sukodono. Sidoarjo Sumber: Dokumentasi Penulis, 2024 SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Kajian Literatur Fleksibilitas Ruang Bangunan Pendidikan Anak Usia Dini Pos PAUD Nurul Qolbu menempati salah satu ruang di Balai Desa Masangan Kulon yang memiliki luas ukuran 400 m2. Balai desa ini memberikan ruang khusus untuk kegiatan sekolah Pos PAUD Nurul Qolbu dengan luas 16 m2. Ruang yang tersedia ini cukup dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan belajar. Setelah selesai digunakan sebagai ruang kelas, area tersebut dapat dirapikan kembali dan dialihfungsikan untuk keperluan warga lainnya. Hal ini mencerminkan prinsip pemanfaatan ruang secara bergilir dan fleksibel dalam mendukung fungsi sosial yang beragam di lingkungan desa. Kedua sekolah Pos PAUD tersebut merupakan salah satu contoh bangunan fleksibel menjadi konsep menarik dalam arsitektur modern. Konsep fleksibilitas ruang merupakan kemampuan ruang untuk beradaptasi secara dinamis terhadap perubahan kebutuhan lingkungan. Implementasi fleksibilitas ruang sangat bergam berdasarkan konteks ruang yang tersedia mampu beradaptasi secara multifungsi. Penyesuaian waktu penggunaan menjadi solusi untuk mencegah tumpang tindih fungsi ruang. Fleksibilitas penggunaan ruang ini didasarkan pada prinsip fungsi, adaptasi, interaksi, serta kompleksitas dalam mendukung berbagai aktivitas (Boy, 2. Penerapkan konsep fleksibilitas ruang sekolah PAUD dapat diimplementasikan pada bangunan publik tanpa mengganggu fungsi lain yang berlangsung di tempat tersebut. Anak usia dini memerlukan sekolah PAUD untuk merangsang stimulus otak mereka melalui pendidikan sejak usia dini. Hubungan sosial antara sekolah PAUD dengan bangunan publik memiliki respon positif bagi warga sekitar dan pemberdayaan bangunan publik dalam masyarakat. Untuk menjaga hubungan positif sekolah PAUD dengan bangunan publik adalah dengan menerapkan konsep fleksibilitas ruang yang tidak mengganggu antar pengguna. Ruang sekolah PAUD harus bersifat fleksibel agar tercapai konsep ruang berbagi untuk keberlanjutan pendidikan anak nonformal di Indonesia. Konsep fleksibilitas ruang sangat relavan dalam upaya pemanfaatan ruang publik yang adaptif dan inklusif harus mampu mengakomodasi beragam aktivitas pengguna secara harmonis. Konsep ini menjadi landasan penting dalam mendesain ruang multifungsi yang efisien dan Penelitian ini bertujuan untuk membuat tinjauan pustaka untuk mengidentifikasi berbagai studi kasus pemanfaatan bangunan publik sebagai ruang pendidikan. Identifikasi prinsipprinsip fleksibilitas ruang yang efektif serta kontribusinya terhadap fungsi ruang publik yang dapat menyesuaikan kebutuhan komunitas yang dinamis. REVIEW LITERATUR Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Pada saat anak berusia sekitar 3-4 tahun, sistem koneksi neuron dasar anak telah terhubung dengan baik dan jaringan syaraf yang mulai meluas (Khadijah, 2. Kesadaran emosional sejak dini akan sangat membantu dan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan kehidupan anak di masa mendatang (Tominey et al, 2. Karakter individu saat dewasa tergantung pada bagaimana pendidikan kepribadian individu tersebut sejak masih usia dini. Masa anak usia dini adalah masa yang sangat menentukan kepribadian dasar pada diri seseorang, karena dalam perkembangan anak melibatkan banyak faktor diantaranya perkembangan fisik, perilaku, proses berpikir, emosional, serta moral dan sikapnya, yang dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan sekitar serta pendidikan disekolah (Killen, 2. Sumber daya manusia yang berkualitas berasal dari pendidikan sejak dini. Mendidik sejak dini dimulai sejak anak usia 3-4 tahun yang merupakan masa keemasan dimana seluruh fungsi dan kemampuan anak mengalami perkembangan yang pesat. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi pondasi bagi perkembangan kualitas sumber daya manusia yang berkelanjutan. PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Satriansyah Akhlaqul Karima. Firman Hawari. Susy Budi Astuti perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU No. 20, 2. Fleksibilitas Ruang Desain interior bergerak pada penciptaan ruang yang estetis dan fungsional. Fleksibilitas ruang merupakan salah satu konsep ruang pada desain interior yang adaptif dengan kebutuhan Menurut Carmona . mengklasifikasikan fleksibilitas menjadi tiga, yaitu Time Cycle and Time Management. Continuity and Stability. Implemented Over Time. Fleksibilitas mencakup aspek manusia, teknologi, organisasi, dan lingkungan, dan bertujuan untuk menciptakan sistem yang mampu menghadapi situasi yang tidak terduga . nexpected situation. serta memecahkan masalah yang kompleks secara efisien (Guy, 2. Kedua pernyataan ini merajuk pada konsep desain ruangan yang dapat beradaptasi, berubab-ubah, bergerak dan berinteraksi. Fleksibilitas memiliki peran penting dalam memanipulasi objek dalam memenuhi kebutuhan Ruang publik pada dasarnya terdiri dari paduan beragam elemen yang mampu memantik interaksi sosial, dan salah satu elemen paling utama adalah evolusi ruang melalui fleksibilitas baik secara fisik maupun fitur-fiturnya (Sanei, 2. Ruang belajar yang fleksibel lebih memungkinkan terjadinya banyak inovasi dalam pendekatan belajar dan mengajar dibandingkan dengan kelas tradisional (Mirpadyab, et al 2. Kronenburg . menjabarkan karakteristik dari fleksibilitas ruangan, yaitu sebagai berikut: C Adaptasi . , bagaimana respon terhadap fungsi penggunaan serta persyaratan dari fungsi ruangan. C Transformasi . , pengembangan desain baik secara bentuk, volume, atau tampilan. C Perpindahan . , perpindahan fungsi yang apabila mengacu pada karakter asal bangunan sebagai obyek yang tidak bisa berpindah. C Interaksi . , fungsi luar dan dalam dan bagaimana sistem fleksibilitas dibangun baik secara otomatis maupun intuitif. Istilah arsitektur fleksibel menggambarkan arsitektur yang fitur spesifiknya dapat diubah sebagai respons terhadap pengaruh eksternal, misalnya pengguna atau lingkungan. Perubahan ini akan terjadi oleh sistem bangunan itu sendiri, diubah secara manual menjadi atau dapat berupa kemampuan lain yang diubah oleh kekuatan eksternal (Altan, et al 2. Ruang publik pada dasarnya terdiri dari paduan beragam elemen yang mampu memantik interaksi sosial, dan salah satu elemen paling utama adalah evolusi ruang melalui fleksibilitas baik secara fisik maupun fitur-fiturnya (Mohsen, 2. Ruang belajar yang fleksibel lebih memungkinkan terjadinya banyak inovasi dalam pendekatan belajar dan mengajar dibandingkan dengan kelas tradisional (Benade, 2. Prinsipprinsip yang harus diperhatikan dalam menciptakan fleksibilitas ruang antara lain: adaptasi, berubah, bergerak dan berinteraksi (Iqbal, 2. Aspek Fleksibilitas Ruang Adaptif Penekanan fleksibilitas ruang terdapat pada kemampuan beradaptasi dan fleksibel suatu ruangan. Adaptasi menekankan pada keberlanjutan terhadap sosial, budaya, ekologi dan ekonomi suatu Fleksibel menekankan pada keberlanjutan secara teknis manajemen dan konfigurasi Elemen utama pada konsep fleksibilitas ruang dalam resilient space terbagi menjadi tiga yaitu time, space dan use (Krokfors, 2017:18-. Waktu (Tim. Umur panjang suatu bangunan merupakan aspek penting dalam keberlanjutan aktivitas Umur panjang bangunan sangat terkait dengan aspek sosial, budaya, ekologi dan ekonomi yang disampaikan bangunan bagi masyarakat. Memahami lingkungan secara menyeluruh dan berkembang akan mempengaruhi tingkat adaptasi suatu bangunan (Brand. Suatu bangunan dapat berganti fungsi berdasarkan waktu tertentu. Bangunan selalu SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Kajian Literatur Fleksibilitas Ruang Bangunan Pendidikan Anak Usia Dini C terdiri dari masa lalu, masa kini dan masa depan. Masa lalu adalah konteks sosial dan budaya yang telah membentuk lingkungan kita. Masa kini adalah gambaran baru yang diciptakan dan dikembangkan untuk masa depan. Masa depan adalah hasil dari buah pemikiran masa lalu dan dilaksanakan pada masa kini untuk membentuk berbagai jenis sistem yang ada di masyarakat. Ruang (Spac. Pandangan tunggal suatu ruang yang sudah dirancang akan mempengaruhi fungsi yang selalu Diperlukan pemahaman fleksibilitas ruang secara tipologi rancangan konfigurasi ruang untuk menanggulangi kemungkinan penggunaan ruang yang tidak terduga. Konfigurasi ruang dan pemahaman baru tentang modularitas dalam bangunan menjadi inti dari adaptabilitas dan Modularitas dianggap sebagai salah satu faktor utama yang mendukung keberlanjutan ekologi suatu bangunan (Walker & Salt 2. Tujuan utama modularitas ini adalah menciptakan ruang dengan multi fungsi secara mandiri. Fungsi (Us. Pemahaman ruang berbasis fungsi mengandung banyak asumsi dasar tentang bagaimana ruang bisa beralih fungsi secara mandiri. Tujuan peralihan fungsi ruang secara mandiri bukan hanya untuk membantu pengguna menyesuaikan kebutuhan mereka, namun juga mendorong keberlanjutan sosial-budaya pada bangunan tersebut. Lefebvre . menjabarkan konsep pengguna kreatif berawal dari ide orang yang mengatur mereka tinggal di hunian dengan lebih bebas dan fleksibel. Bangunan yang fleksibel dapat berubah menyesuaikan kebutuhan pengguna dan menentukan keinginan pribadi mereka. Gambar 3. Aspek Fleksibilitas Ruang Adaptif dalam Resilient Space Sumber: Krokfors, 2017:22 Aspek Fleksibilitas Ruang Responsif Fleksibilitas memiliki sifat yang responsif. Ruangan yang responsif selalu dimulai dari fitur struktural seperti struktur penahan badan dan tegangan bangunan. Konfigurasi spasial akan dibuat berdasarkan modularitas tertentu. Fleksibilitas yang dihasilkan muncul melalui tipologi fleksibilitas keseluruhan bangunan dan membentuk karakter yang responsif. Tipologi fleksibilitas responsif dalam mencapai resilient space memiliki karakteristik umum yang didefinisikan sebagai kualitas breathability, dynamism dan elasticity. Karakteristik umum ini akan membantu menilai apakah tipologi fleksibilitas telah tercapai (Krokfors, 2017:319-. C Bernafas (Breathabilit. Kemampuan sebuah bangunan dapat menyesuaikan diri secara alami dengan perubahan kebutuhan penggunanya. Konsep ini mencakup kemampuan bangunan untuk beradaptasi tanpa memerlukan perubahan struktural besar. Bangunan yang bernafas memungkinkan adanya SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Satriansyah Akhlaqul Karima. Firman Hawari. Susy Budi Astuti ruang yang bisa digunakan untuk berbagai fungsi dengan mudah, baik melalui perubahan kecil atau tanpa perubahan sama sekali. Dinamis (Dynamis. Kemampuan ruang untuk berubah atau bertransformasi seiring waktu sesuai dengan kebutuhan yang terus berubah. Desain yang dinamis memungkinkan ruang untuk mengakomodasi berbagai aktivitas secara efisien dan efektif, dengan kemampuan untuk berkembang dan beradaptasi dengan situasi baru. Elastis (Elasticit. Kemampuan bangunan untuk menahan perubahan dalam kapasitas penggunaan dan struktur, baik secara fisik maupun fungsional. Bangunan yang elastis dapat mengalami perubahan besar tanpa kehilangan integritas struktural atau fungsionalnya. Bangunan ini mampu melentur atau beradaptasi dengan perubahan eksternal salah satu contoh yaitu penambahan pengguna, perubahan fungsional tanpa kehilangan fungsionalitas inti. Gambar 4. Aspek Fleksibilitas Ruang Responsif dalam Resilient Space Sumber: Krokfors, 2017:22 METODE Metode penelitian yang digunakan adalah literature review. Pendekatan ini dipilih untuk mengidentifikasi, menilai, dan mensintesis secara sistematis literatur yang relevan terkait penggunaan bangunan publik sebagai ruang fleksibel kegiatan sekolah PAUD. Tahapan metode yang akan dilaksanakan dalam proses analisis data antara lain: C Identifikasi literatur singkat mengenai lembaga PAUD dan fokus pada ruang fleksibel pada bangunan publik. Tahapan ini bertujuan untuk memahami konteks penelitian, mengidentifikasi isu utama dan acuan dalam analisis penelitian yang sudah ada. C Tabel tinjauan pustaka dengan rentang waktu 2014-2024 yang akan dikumpulkan dan disusun secara sistematis. Tabel ini akan memuat analisis aspek fleksibilitas ruang, judul penelitian, tahun, penulis, metode, fokus dan hasil penelitian dengan topik ruang fleksibel pada lembaga pendidikan secara global. C Data tabel literatur akan dianalisis untuk mengidentifikasi pola, tema dan kesenjangan Tahap analisis ini digunakan untuk memahami bagaimana perkembangan penerapan konsep ruang fleksibel pada lembaga pendidikan. C Hasil analisis dirangkum dalam kesimpulan penelitian. Kesimpulan ini mencakup pembahasan mengenai temuan utama, implikasi teoretis dan praktis, serta rekomendasi untuk pengembangan konsep ruang fleksibel dalam mendukung pembelajaran lembaga PAUD. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Kajian Literatur Fleksibilitas Ruang Bangunan Pendidikan Anak Usia Dini DATA. DISKUSI.