Journal of Medical Science Jurnal Ilmu Medis Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin Vol. No. Hlm. 54 - 63. April 2025 e-ISSN: 2721-7884 https://doi. org/10. 55572/jms. Hubungan antara Faktor Prediktor dengan Masalah Psikologis pada Pasien dengan Pengobatan Hemodialisa Relationship between Predictor Factors and Psychological Problems in Hemodialysis Patients Riska Afrina1*. Zulfa Zahra. Subhan Rio Pamungkas KSM Psikiatri. RSUD dr. Zainoel Abidin. Banda Aceh *e-mail: riskaafrina. dr@gmail. Submit: 7 Desember 2024. Revisi: 21 April 2025. Terima: 23 April 2025 Abstrak Masalah psikologis seperti depresi dapat dijumpai pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani pengobatan Kondisi ini bisa menimbulkan beberapa efek seperti ketidakpatuhan terhadap pengobatan, meningkatkan resiko rawat inap, menimbulkan beban pada caregiver, menurunkan kualitas hidup pasien bahkan beresiko lebih tinggi terhadap kematian. Beberapa penelitian sebelumnya di RSUD dr. Zainoel Abidin menunjukkan angka depresi pada pasien yang menjalani hemodialisa cukup tinggi. Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi terjadinya kondisi depresi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fator prediktor seperti kepribadian, mekanisme koping, dan persepsi dukungan sosial dengan masalah psikologis seperti depresi pada pasien hemodialisa di RSUD dr. Zainoel Abidin. Desain penelitian adalah analitik observasional dengan rancangan potong lintang . ross-sectiona. Populasi adalah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Teknik sampling menggunakan concecutive sampling selama periode Mei 2023 sampai Juli 2023, dan sampel berjumlah 88 responden. Variabel tergantung adalah depresi. Variabel bebas adalah kepribadian, mekanisme koping, dan persepsi dukungan sosial. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner dan analisis data menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan 64 responden tidak depresi . ,7%), 9 responden depresi ringan . ,2%), 7 responden depresi sedang . %), 6 responden depresi parah . ,8%), dan 2 responden depresi sangat parah . ,3%). Uji Spearman menunjukkan adanya hubungan antara kepribadian dengan tingkat depresi . value = 0,. Kepribadian yang paling rentan mengalami depresi adalah tipe neuroticism, dimana sebanyak 50% dari kelompok kepribadian neuroticism menderita depresi yang sangat parah. Uji korelasi juga menunjukkan adanya hubungan antara kepribadian neuroticism dengan tingkat depresi . value = 0,. Penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara mekanisme koping dengan tingkat depresi . value = 0,. Pasien dengan strategi emotion-focused coping mengalami kecenderungan menderita depresi yang lebih tinggi. Kemudian juga didapatkan adanya hubungan antara persepsi dukungan sosial dengan tingkat depresi . value = 0,. , dimana 33,3% pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD dr. Zainoel Abidin yang mengalami tingkat depresi sangat parah berasal dari responden dengan persepsi dukungan sosial yang rendah. Kata Kunci: Hemodialisis. Depresi. Kepribadian. Mekanisme Koping. Dukungan Sosial Abstract Psychological issues, particularly depression, are prevalent among chronic kidney disease (CKD) patients undergoing hemodialysis. Such psychological distress can cause several effects, including non-adherence to treatment, increased hospitalization rates, increased caregiversAo burden, diminished quality of life, and a higher risk of mortality. Previous studies at Dr. Zainoel Abidin General Hospital have indicated a high prevalence of depression among hemodialysis patient. Several factors may contribute to the occurrence of depression in this The present study aims to examine the relationship between predictor variablesAinamely Riska Afrina dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. personality traits, coping mechanisms, and perceived social supportAiand the occurance of depression in hemodialysis patients at Dr. Zainoel Abidin General Hospital. An observational analytic design with a crosectional approach was employed. The population is chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis. Consecutive sampling was used between May to July 2023, with a sampel size of 88 respondents. Depression served as the dependent variable, while personality traits, coping mechanisms, and perceived social support were the independent variables. The research instrument used a questionnaire and data analysis used the Spearman test. The results indicated that 64 respondents were not depressed . 7%), 9 respondents were mildly depressed . 2%), 7 respondents were moderately depressed . %), 6 respondents were severely depressed . 8%), and 2 respondents were very severe depressed . 3%). The Spearman test revealed a significant relationship between personality and depression level . = 0. Specifically, neuroticism was found to be the personality trait most strongly associated with depression, with 50% of individuals with a neurotic personality experiencing very severe depression. Furthermore, the correlation test demonstrated a significant relationship between neuroticism and depression severity . = 0. The study also identified a significant association between coping mechanisms and depression . = 0. , with patients utilizing emotion-focused coping strategies showing a higher tendency toward depression. Additionally, a relationship was observed between perceived social support and depression severity . = 0. , with 33. 3% of patients experiencing very severe depression coming from those with low levels of perceived social support. Keywords: Hemodialysis. Depression. Personality. Coping Mechanisms. Social Support Pendahuluan Gangguan psikologis merupakan kondisi yang cukup sering dijumpai pada penderita dengan pengobatan hemodialysis. Kondisi depresi pada penderita dengan hemodialisa dapat menimbulkan beberapa dampak antara lain memengaruhi kualitas hidup (Yaseen dkk. , 2. , menimbulkan beban pada caregiver dan bahkan menyebabkan kematian (Gerogianni dkk. , 2. Penelitian yang dilakukan di Amerika Utara menunjukkan bahwa kondisi depresi pada penderita dengan hemodialisa akan menyebabkan ketidakpatuhan pengobatan sehingga akan semakin meningkatkan resiko rawat inap (Rosenthal Asher dkk. , 2. Banyak faktor yang dapat memunculkan masalah psikologis, antara lain komorbiditas penyakit, frekuensi rawat inap (Prina dkk. , 2. , nyeri kronik, gangguan tidur (Kargar jahromi dkk. , 2. , peradangan kronik, disfungsi seksual, peningkatan kelelahan, dukungan keluarga yang kurang bahkan dapat disebabkan karena merasa ketergantungan penuh terhadap pengobatan (Vasilopoulou dkk. , 2. Kepuasan hidup seseorang yang menghadapi penyakit kronis dapat bergantung pada variabel yang lebih stabil seperti tipe kepribadian (Montes dkk. , 2. Kepribadian adalah cara khas individu untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Ciri-ciri kepribadian memiliki hubungan yang kuat dengan kejadian depresi pada pasien penyakit ginjal stadium akhir (Widjast dan Halim, 2. Faktor kepribadian model big five personality terdiri dari extraversion, neuroticism, openness, agreeableness, dan Neuroticism ini mempunyai ciri seseorang yang mudah cemas, merasa tidak aman, mudah merasa tegang dan gugup. Extraversion mempunyai ciri-ciri yaitu mudah bersosialisasi, banyak bicara, ceria dan hangat, dan penuh kasih sayang. Openness dideskripsikan dengan orisinal, tidak bergantung, kreatif, dan berani. Agreeableness dideskripsikan sebagai seseorang yang baik hati, berhati lembut, dapat dipercaya, dan sopan. Sedangkan conscienstiousness dideskripsikan sebagai seseorang yang memiliki sifat peduli, dapat diandalkan, pekerja keras, dan terorganisir (Schultz dan Schultz, 2. Mekanisme koping adalah proses individu untuk mengelola tuntutan saat ini dan sumber daya internal yang digunakan dalam menghadapi situasi stres (Sarafino dkk. , 2. Koping adalah cara yang dilakukan individu dalam memecahkan masalah, beradaptasi dengan perubahan, dan merespon situasi yang mengancam (Widjast dan Halim, 2. Tinjauan dalam penyakit kronis menegaskan bahwa penyesuaian psikologis oleh pasien sangat bergantung pada kemampuan pasien untuk tetap aktif beraktivitas, mampu mengenali dan mengekspresikan emosi dengan baik sehingga Riska Afrina dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. memungkinkan pasien untuk dapat mengendalikan hidupnya, terlibat dalam perawatannya, dan bersikap positif terhadap kondisi sakitnya. Strategi koping juga efektif dengan dukungan sosial dari keluarga (Montes dkk. , 2. Strategi koping yang kurang efektif akan membuat stres tidak tertangani dengan baik sehingga pada akhirnya akan menurunkan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik (Widjast dan Halim, 2. Pasien gagal ginjal kronik memiliki peningkatan risiko kematian dini dan bunuh diri pada mereka dengan dukungan sosial yang lemah (Barello dkk. , 2. Meskipun situasi stres tampak luar biasa, perasaan didukung memungkinkan orang untuk mengatasinya (SuCkowski dkk. , 2. Selain itu, sumber daya sosial dapat memberikan informasi dan panduan yang diperlukan untuk membantu menilai ancaman dan merencanakan strategi penanggulangan (Barello dkk. , 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah faktor prediktor seperti kepribadian, mekanisme koping, dan persepsi dukungan sosial ada hubungan dengan masalah psikologis seperti depresi pada pasien dengan pengobatan hemodialisa di RSUD dr. Zainoel Abidin. Metodelogi Rancangan Penelitian Penelitian ini berjenis analitik observasional dengan rancangan potong lintang . ross-sectiona. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan mulai Juni hingga September 2023 di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh setelah mendapatkan persetujuan etik dengan surat etik No. 064/ETIK-RSUDZA/2023. Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani hemodialisa. Sampel penelitian adalah pasien yang menjalani hemodialisa selama periode Mei 2023 sampai Juli 2023 yang memenuhi persyaratan penelitian. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria inklusi adalah pasien rawat jalan berusia di atas 18 tahun yang menjalani hemodialisis dua kali seminggu selama Ou 3 bulan. Kriteri eksklusi adalah pasien dengan penurunan kesadaran atau memiliki gangguan jiwa berat. Alat dan Bahan Pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuisioner oleh responden. Kuisioner yang digunakan adalah kuisioner depresi DASS-42 (Depression Anxiety Stress Scale. untuk variabel tergantung dengan hasil pengukuran depresi yang normal, ringan, sedang, parah dan sangat parah. Pengukuran variabel bebas menggunakan kuisioner kepribadian BFI-44 (Big Five Inventor. yang diukur dengan skala Likert dengan hasil pengukuran dimensi OCEAN (Openness. Conscientiousness. Extraversion. Agreeableness. Neuroticis. , kuisioner mekanisme koping WOC (Ways of Coping Questionnair. dengan hasil pengukuran tipe koping subjek penelitian yaitu Problem Focused Coping atau Emotion Focused Coping, dan kuisioner dukungan sosial MSPSS (Multidimensional Scale of Preceived Social Suppor. dengan hasil pengukuran persepsi dukungan sosial rendah, sedang atau berat. Riska Afrina dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. Prosedur Penelitian Penelitian dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari instalasi dialisis RSUD dr. Zainoel Abidin dan lulus uji etik penelitian. Penelitian dilakukan dengan memberikan kuisioner kepada responden yang menyetujui untuk menjadi sampel penelitian dan memenuhi kriteria inklusi. Jumlah responden yang didapatkan awalnya berjumlah 90 orang, namun dua responden dieksklusi karena tidak melengkapi pengisian kuisioner. Sehingga jumlah sampel yang dianalisis berjumlah 88 sampel. Analisis Data Analisis data menggunakan uji Spearman untuk mengetahui hubungan antara faktor prediktor kepribadian, mekanisme koping, dan persepsi dukungan sosial dengan masalah psikologis yaitu depresi pada pasien dengan hemodialisa. Hasil dan Pembahasan Pengambilan sampel dilakukan dari Mei 2023 sampai Juli 2023 dengan jumlah sampel sebesar 88 yang ditampilkan pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik dan manifestasi klinis subjek penelitian Karakteristik dan Manifestasi Klinis Usia 25-44 tahun 45-59 tahun 60-75 tahun Jenis Kelamin Laki- laki Perempuan Pekerjaan IRT/Tidak Bekerja Pegawai Negeri Swasta Suku Aceh Non-Aceh Status Perkawinan Belum Menikah Menikah Cerai Pendidikan SMP SMA Perguruan Tinggi Lama Menderita <1 tahun 1-5 tahun 5-10 tahun >10 tahun Lama HD <1 tahun Frekuensi . Persentase (%) Riska Afrina dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. 1-5 tahun 5-10 tahun >10 tahun Penyakit lain Tidak Ada Ada Total Tabel 2. Karakteristik psikologis subjek penelitian Karakteristik Psikologis Kepribadian (BFI) Extraversion Agreeableness Conscientiousness Neuroticism Opennes to Experience Mekanisme Coping (WOC) Problem Focused Coping Emotion Focused Coping Dukungan Sosial (MSPSS) Rendah Moderat Tinggi Depresi Normal Ringan Sedang Parah Sangat Parah Cemas Normal Ringan Sedang Parah Sangat Parah Stres Normal Ringan Sedang Parah Sangat Parah Total Frekuensi . Persentase (%) 3,4% 11,4% 85,2% 72,7% 10,2% 8,0% 6,8% 2,3% 37,5% 17,1% 29,5% 9,1% 6,8% 76,1% 9,1% 8,0% 5,7% 1,1% Berdasarkan Tabel 1 didapatkan tipe kepribadian pasien yang menjalani hemodialisa didominasi kepribadian agreeableness sebanyak 54 pasien . ,4%). Hasil serupa didapatkan pula dari penelitian yang dilaksanakan di Jepang menyebutkan bahwa tipe agreeableness lebih tinggi dibandingkan ketiga tipe kepribadian lainnya (Kidachi dkk. , 2. Sebanyak 45 pasien . ,1%) yang menjalani hemodialisis menggunakan mekanisme problem focused coping dibandingkan emotion focused coping hanya 43 pasien . ,9%). Hasil penelitian ini sejalan dengan Sagala dan Pasaribu . diperoleh sebanyak 23 pasien . ,1%) gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSU Imelda Riska Afrina dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. Pekerja Indonesia Medan tahun 2018 menggunakan problem focused coping dengan kategori tinggi dan yang menggunakan emotion focused coping kategori tinggi sebanyak 16 pasien . ,3%). Mekanisme problem focused coping adalah melakukan usaha-usaha untuk menyelesaikan masalah atau menghilangkan stres dengan cara mencari, mengelola dan menghadapi sumber masalah . secara langsung. Mekanisme ini cenderung dilakukan apabila individu percaya bahwa tuntutan dari situasi atau stresor dapat diubah (Pasaribu dan Sagala, 2. Hasil penelitian pada Tabel 2 menunjukkan bahwa tingkat depresi normal sebanyak 64 orang . ,7%), depresi ringan 9 orang . ,2%), depresi sedang 7 orang . %), dan depresi parah 6 orang . ,8%). Berbagai faktor dapat mempengaruhi tingkat depresi, kecemasan, dan stres pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisa. Faktor-faktor tersebut mencakup usia, pendidikan, jenis kelamin, lama menjalani terapi hemodialisa, dan pola tidur (Maulana dkk. , 2. Faktor lain seperti koping strategi, konsep diri, dukungan keluarga dalam bentuk dukungan emosional, dukungan informasi, dukungan instrumental dan dukungan perhargaan dapat membantu proses pasien yang menjalani terapi hemodialisa (Baransano dan Tambunan, 2. Selain itu, pasien sudah terbiasa dengan tindakan hemodialisis yang dijalaninya dalam waktu lama sehingga terbiasa dengan segala perubahan yang terjadi dalam dirinya. Mereka sudah paham terkait prosedur hemodialisis sehingga pengendalian stressor dapat ditangani dengan baik (Rahman dkk. , 2. Tabel 3. Hubungan kepribadian dengan tingkat depresi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis Depresi Kepribadian (BFI) Extraversion Agreeableness Conscientiousness Neuroticism Openness to Experience Total Total n (%) 1 . Sangat Parah n (%) 0 . n (%) 10 . Normal Ringan Sedang Parah n (%) 7 . n (%) 1 . n (%) 1 . PValue P=0. Tabel 4. Korelasi domain kepribadian dengan tingkat depresi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis Kepribadian (BFI) Extraversion Agreeableness Conscientiousness Neuroticism Openness to Experience Depresi Koefisien Korelasi -0,132 -0,438 -0,393 0,547 0,001 P-Value 0,220 0,000 0,000 0,000 0,996 Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kepribadian dengan tingkat depresi yang dialami oleh pasien gagal ginjal kronik yang sedang menjalani hemodialisis . value = 0,. Penelitian ini sejalan dengan studi oleh Ibrahim, dkk pada tahun 2015. Kepribadian dapat mempengaruhi kualitas hidup dari berbagai gangguan karena mereka dapat mempengaruhi Riska Afrina dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. kesediaan pasien untuk mengambil pilihan pengobatan, mempengaruhi gejala neuropsikiatri dan mempengaruhi strategi penanganan penyakit (Ibrahim dkk. , 2. Kepribadian yang paling rentan mengalami depresi adalah tipe neuroticism. Pada penelitian ini sebanyak 50% dari kelompok kepribadian neuroticism menderita depresi yang sangat parah. Angka tersebut disusul oleh penderita depresi parah dan ringan yaitu mencapai 25%. Uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kepribadian neuroticism dengan tingkat depresi yang dialami oleh pasien gagal ginjal kronik yang sedang menjalani hemodialisis . value = 0,. Semakin tinggi nilai neuroticism, maka semakin tinggi pula tingkat stres yang dialami individu. Neuroticism menggambarkan respon individu terhadap stres. Orang dengan neuroticism atau kestabilan emosi yang buruk rentan mengalami kecemasan, depresi, kemarahan, dan emosi negatif lainnya ketika dihadapkan pada kondisi stres seperti menderita penyakit kronis (Guerra dkk. , 2. Studi yang sama dilakukan oleh Pugi dkk pada tahun 2022 menyatakan bahwa jenis hubungan terbalik ini menunjukkan bagaimana pasien GGK dengan sifat neuroticism yang lebih tinggi terbukti lebih sibuk dengan gejala-gejala kesehatannya, lebih banyak mengeluh tentang gejala-gejala tersebut dan akibatnya dianggap memiliki HRQoL (Health Related Quality of Lif. yang lebih buruk (Pugi dkk. , 2. Kepribadian dengan tingkat depresi paling rendah adalah agreeableness. Mayoritas kelompok kepribadian agreeableness mengalami tingkat depresi yang normal yaitu mencapai 42 pasien . ,8%). Berdasarkan uji korelasi Spearman, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kepribadian agreeableness dengan tingkat depresi yang dialami oleh pasien gagal ginjal kronik yang sedang menjalani hemodialisis . value = 0,. Semakin tinggi tingkat agreeableness, maka tingkat depresi yang dialami pun semakin rendah. Agreeableness menggambarkan kecenderungan individu untuk mendahulukan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri, kooperatif, dan akomodatif. Sehingga mereka cenderung ikut bekerjasama dalam menjaga kesehatan dan mampu beradaptasi terhadap dialisis yang dijalaninya (Guerra dkk. , 2. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat, penderita dengan domain conscientiousness yang tinggi cenderung mengalami tingkat depresi yang normal yaitu 8 pasien . ,7%) dan masing-masing hanya 1 pasien . ,1%) yang mengalami depresi ringan, sedang, dan parah. Uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kepribadian conscientiousness dengan tingkat depresi yang dialami oleh pasien gagal ginjal kronik yang sedang menjalani hemodialisis . value = 0,. Semakin tinggi tingkat conscientiousness, maka tingkat depresi yang dialami pun semakin rendah. Conscientiousness menggambarkan kecenderungan seseorang untuk gigih dan bertekad dalam mencapai tujuannya. Pasien dengan conscientiousness rendah mungkin dikritik karena kecerobohan, kelalaian, dan kegagalan mereka untuk mengikuti rencana pengobatan, sedangkan pasien dengan conscientiousness tinggi adalah orang yang disiplin, terorganisir, berorientasi pada tujuan, dan memiliki kebutuhan yang tinggi untuk tetap terstruktur sehingga memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi terhadap pengobatan dan indikasi dokter, serta kualitas mental dan fisik yang lebih baik (Guerra dkk. , 2. Berdasarkan uji korelasi Spearman pada Tabel 4, extraversion dan openness to experience tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat depresi pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Extraversion mengacu pada tingkat kesenangan yang dialami melalui hubungan sosial. Nilai ekstroversi yang tinggi menunjukkan seseorang yang mudah bergaul, banyak bicara, terbuka terhadap orang lain, dan optimis. Openness to experience mengacu pada keterbukaan terhadap kreativitas, nonkonformis, dan orisinalitas. Nilai openness to experience yang rendah menunjukkan ketertutupan terhadap pengalaman, kesesuaian, dan kurangnya kreativitas, sedangkan nilai yang tinggi pada domain ini menunjukkan ide-ide yang kreatif, orisinal, dan inovatif (Guerra dkk. , 2. Riska Afrina dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. Tabel 5 menunjukkan bahwa pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis paling banyak menggunakan strategi koping problem-focused coping mengalami tingkat depresi yang normal yaitu 37 pasien . ,2%). Angka ini disusul tingkat depresi ringan dan sedang yaitu masing-masing 5 pasien . ,1%) dan 3 pasien . ,7%). Sedangkan pasien yang menggunakan strategi emotion-focused coping mengalami kecenderungan menderita depresi yang lebih tinggi. Pada kelompok ini, terdapat individu yang mengalami tingkat depresi yang sangat parah yaitu 2 pasien . ,7%), tingkat depresi parah yaitu 6 pasien . %), tingkat depresi sedang dan ringan yaitu masing-masing 4 pasien . ,3%), dan tingkat depresi normal sebanyak 27 pasien ( 62,8%). Pada penelitian ini disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara mekanisme koping dengan tingkat depresi pada penderita GGK yang menjalani hemodialisis . value = 0,. Tabel 5. Hubungan mekanisme koping dengan tingkat depresi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis Depresi Mekanisme Coping (WOC) Problem-focused Emotion-focused Total Normal Ringan Sedang Parah n (%) n (%) n (%) n (%) Sangat Parah n (%) 37 . Total n (%) . P Value P=0. Strategi koping yang efektif dalam menghadapi penyakit kronis seperti GGK terutama selama masa pengobatan seperti hemodialisa akan sangat mempengaruhi kepatuhan pasien dalam melakukan terapi yang rutin dan timbulnya gejala fisik dan psikologis. Individu cenderung menggunakan strategi problem-focused coping ketika mereka percaya bahwa tuntutan dari situasi atau stresor dapat diubah, sedangkan penggunaan strategi emotion-focused coping ketika mereka percaya hanya sedikit atau tidak dapat melakukan perubahan dari situasi tekanan. Walaupun dalam situasi yang penuh tekanan, umumnya individu menggunakan kombinasi koping berfokus pada masalah dan strategi koping berfokus pada emosi (Cigerli dkk. , 2. Sejalan dengan hasil penelitian Sagala dan Pasaribu . , menemukan bahwa strategi emotion-focused coping yang tinggi akan meningkatkan gejala depresi, sedangkan pada responden dengan penggunaan strategi problem-focused coping yang tinggi akan menurunkan gejala depresi pada pasien GGK yang menjalani hemodialisis (Pasaribu dan Sagala, 2. Tabel 6. Hubungan persepsi dukungan sosial dengan tingkat depresi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis Dukungan Sosial (MSPSS) Rendah Moderat Tinggi Total Normal n (%) 2 . Ringan n (%) 0 . Depresi Sedang Parah n (%) n (%) 0 . Sangat Parah n (%) 1 . Total n (%) 3 . PValue P=0. Riska Afrina dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. Tabel 6 menerangkan bahwa mayoritas pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis mendapatkan dukungan sosial yang tinggi yaitu mencapai 75 pasien dari total 88 pasien. Pasien yang mendapatkan dukungan sosial tinggi mengalami tingkat depresi yang normal yaitu mencapai 58 pasien . ,3%). Persentase tertinggi yaitu 33,3% pasien yang mengalami tingkat depresi sangat parah berasal dari kelompok dengan dukungan sosial yang rendah. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan tingkat depresi yang dialami oleh penderita GGK yang sedang menjalani hemodialisis . value = 0,. Dukungan sosial adalah sumber daya eksternal utama dan telah terbukti sebagai moderator stres kehidupan yang efektif. Dukungan sosial diperlukan terutama dalam menghadapi masalah yang pelik termasuk penyulit yang serius (Wutun, 2. Studi oleh Lilympaki, dkk pada tahun 2016 menunjukkan hasil yang sejalan dengan penelitian ini. Lilympaki, dkk menyatakan hubungan yang signifikan secara statistik antara depresi dan dukungan sosial dari orang terdekat, keluarga, dan Secara khusus, pasien dengan tingkat kecemasan dan depresi yang tinggi merasa kurang mendapat dukungan dari orang terdekat, keluarga, dan teman. Dukungan sosial dikaitkan dengan peningkatan hasil kesehatan pada penyakit kronis melalui berbagai mekanisme seperti kepatuhan yang lebih baik terhadap pengobatan terapeutik, bantuan untuk mengakses layanan kesehatan, penurunan tingkat depresi, dan peningkatan kualitas hidup pasien (Lilympaki dkk. , 2. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kepribadian neuroticism, mekanisme koping, dan dukungan sosial dengan tingkat depresi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis . -value = 0,005. 0,000. 0,017. Pasien dengan kepribadian neuroticism dan yang menggunakan emotion-focused coping cenderung mengalami depresi lebih parah, sementara dukungan sosial rendah berhubungan dengan depresi yang sangat parah. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih kepada Direktur RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh yang telah mengizinkan dan memberi dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini dan kepada Instalasi Hemodialisis sehingga penelitian ini dapat dilakukan dengan lancar. Daftar Pustaka