DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. Tinjauan Aspek Ergonomi Unit Pendaftaran Pasien Rawat Jalan di BLUD RSU Kota Banjar Review of the Ergonomic Aspects of the Outpatient Registration Unit at the BLUD RSU Kota Banjar Muhammad Shaddam Aria1* Andi Suhenda2 Ari Sukawan3 Diana Barsasella4 1,2,3,4Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan. Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya. Indonesia Jl. Babakan Siliwangi No. Kec. Tawang Kota Tasikmalaya E-mail: muhamadsadamsiahaan@gmail. Abstract The application of ergonomic principles in the work environment is very important to support employee productivity and well-being, especially in the medical records unit which has a vital role in hospital services. This study aims to evaluate the ergonomic conditions in the outpatient registration unit of BLUD RSU Kota Banjar. The method used is qualitative with a case study approach, involving registration officers and the head of the medical records installation as respondents. Data collection was carried out through interviews, observations, and measurements of the work environment using a thermometer hygrometer, lux meter, sound level meter, and roll meter. The results of the study showed that the ergonomic conditions were not optimal, with a room temperature reaching 28. 6AC, humidity 74%, lighting only 79 lux, and noise level 73. 4 dBA, all of which were outside the work comfort standard. addition, limited space and non-ergonomic work chairs also hampered work efficiency. However, the working relationship between employees and superiors went well, creating a conducive work atmosphere. The main factors inhibiting improvement were limited space and the bureaucratic process in the renovation. Therefore, efforts are needed to improve spatial planning and increase work facilities to support comfort and better service quality. Keywords: ergonomic aspects. the roadway patient registration unit. Abstrak Penerapan prinsip ergonomi di lingkungan kerja sangat penting untuk mendukung produktivitas dan kesejahteraan karyawan, khususnya di unit rekam medis yang memiliki peran vital dalam pelayanan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi ergonomi di unit pendaftaran pasien rawat jalan BLUD RSU Kota Banjar. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan petugas pendaftaran dan kepala instalasi rekam medis sebagai responden. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, serta pengukuran lingkungan kerja menggunakan thermometer hygrometer, lux meter, sound level meter, dan roll meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ergonomi belum optimal, dengan suhu ruangan mencapai 28,6AC, kelembaban 74%, pencahayaan hanya 79 lux, dan tingkat kebisingan 73,4 dBA, yang semuanya berada di luar standar kenyamanan kerja. Selain itu, keterbatasan ruang dan kursi kerja yang tidak ergonomis turut menghambat efisiensi kerja. Meskipun demikian, hubungan kerja antarpegawai dan atasan berjalan dengan baik, menciptakan suasana kerja yang kondusif. Faktor utama penghambat perbaikan adalah keterbatasan ruang dan proses birokrasi dalam renovasi. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan tata ruang dan peningkatan fasilitas kerja guna Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. menunjang kenyamanan dan mutu pelayanan yang lebih baik Kata kunci: aspek ergonomi. tempat pendaftaran pasien rawat jalan. Pendahuluan Naskah Rumah Sakit. Undang-Undang Nomor 17 tahun 2023, adalah Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan individu secara komprehensif melalui berbagai pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/ atau paliatif dengan menyediakan berbagai jenis layanan, termasuk rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (Presiden RI, 2. Sebagai institusi yang memiliki peran strategis dalam memberikan pelayanan kesehatan, menyelenggarakan layanan yang efektif, efisien dan berkualitas untuk pasien maupun tenaga medis yang terlibat. Unit Pendaftaran Pasien Rawat Jalan memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran proses pelayanan kesehatan. Petugas di unit ini bertugas melakukan pencatatan identitas, verifikasi data, dan melengkapi administrasi pasien, baik yang akan menerima layanan rawat jalan maupun rawat inap. Informasi yang dikelola oleh petugas sangat berkaitan erat dengan sistem rekam medis pasien, sebagaimana diatur Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022. Pendaftaran merupakan tempat pertama kali mendapatkan pelayanan kesehatan, maka sangat diperlukan tempat pendaftaran yang di desain secara baik dan benar seperti dekat pintu utama rumah sakit, mudah di jangkau semua orang dan lingkungan yang nyaman serta ruang tunggu yang terpisah sebagai usaha dalam menjaga kerahasiaan saat penerimaan pasien (Rohaeni et al. , 2. Oleh karena itu, kecepatan, ketepatan, dan efisiensi pengelolaan data di unit ini sangat menentukan kualitas pelayanan rumah sakit secara keseluruhan. Kinerja petugas pendaftaran sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan kerja yang mencakup desain ruang, tata letak peralatan, serta kelengkapan fasilitas kerja. Prinsip ergonomi menjadi faktor penting dalam mendesain lingkungan kerja yang mendukung kenyamanan, keamanan, dan Ergonomi adalah ilmu yang menyesuaikan pekerjaan dan lingkungan kerja dengan kemampuan serta keterbatasan Ketidaksesuaian antara pekerjaan dan lingkungan kerja dengan aspek ergonomi dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti kelelahan fisik, nyeri otot, stres, bahkan cedera jangka panjang, serta berdampak negatif terhadap efisiensi kerja dan kepuasan pasien. penerapan prinsip ergonomi dalam ruang kerja unit pendaftaran masih belum menjadi prioritas di banyak rumah sakit. Tujuan Menciptakan keseimbangan yang rasional antara berbagai aspek, seperti aspek ekonomi, teknis, antropologis, dan budaya dalam setiap sistem kerja, sehingga tercapai kualitas hidup yang lebih tinggi (Wicaksono & Susetyo, 2. Studi pendahuluan yang dilakukan di Unit Pendaftaran Pasien Rawat Jalan BLUD RSU Kota Banjar menunjukkan bahwa terdapat sejumlah permasalahan, pencahayaan alami yang minim, suhu ruangan yang tinggi, serta kursi kerja yang tidak ergonomis. Selain itu, fasilitas pendingin udara yang tidak memadai serta tidak adanya akses keamanan yang memadai turut memperburuk kondisi kerja. Kondisi ini terjadi di tengah tingginya volume kunjungan pasien rawat jalan, yang mencapai rata-rata 350 hingga 400 pasien per Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meninjau dan menganalisis aspek ergonomi di Unit Pendaftaran Pasien Rawat Jalan BLUD RSU Kota Banjar. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi manajemen rumah sakit dalam meningkatkan desain ruang dan fasilitas kerja yang sesuai dengan prinsip ergonomi, sehingga dapat menunjang Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. pelayanan, serta mutu keselamatan dan kepuasan pasien secara menyeluruh Metode perangkat komputer, komputer, printer, priner label atau barcode. AC, finggerPrint dan kamera, lemari, dispenser, serta alat elektronik yang sesuai dan dapat membuat petugas merasa nyaman ketika bekerja. Hasil Pengukuran di ruang pendaftaran ditemukan sebagai berikut. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi Metode penelitian kualitatif sering disebut sebagai metode naturalistik karena penelitian dilakukan dalam kondisi yang alami . aturan settin. Periode penelitian ini dilakukan pada Januari Ae April 2025. Penelitian ini untuk memahami adanya fenomena ergonomi yang terjadi di ruang pendaftaran Pasien Rawat Jalan di BLUD RSU Kota Banjar. Pemilihan sample purposive sampling, informan kunci yaitu Kepala Instalasi Medis BLUD RSU Kota Banjar. Petugas Pendaftaran Pasien Rawat Jalan sebagai informan utama dan Petugas Rekam Medis sebagai informman pendukung. Penelitia memakai triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Untuk triangulasi sumber yaitu Kepala Instalasi Rekam Medis BLUD RSU Kota Banjar. Petugas Pendaftaran Pasien Rawat Jalan BLUD RSU Kota Banjar, dan Petugas Rekam Medis BLUD RSU Kota Banjar. Untuk triangulasi teknik yaitu pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Instrumen penelitian ini meliputi pedoman wawancara, lembar observasi, dan alat ukur (Thermometer hygrometer, lux Metter. Sound Level Meter, dan Roll Mete. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain wawancara, observasi dan alat ukur. Analisis penelitian ini adalah Data hasil wawancara dan observasi yang berupa gambar, foto, didaptkan secara lengkap, kemudian dilakukan analisis data. Dari hasil analisis data ini maka dapat diperoleh informasi temuan dari penelitian yang dilakukan. Hasil dan Pembahasan Ruang pendaftaran pasien rawat jalan telah memiliki ruangannya sendiri, ruangan tersebut dilengkapi dengan meja, kursi. Tabel 1. Hasil Pengukuran Ruang Pendaftaran Indikator Lingkungan Ruang Pendaftaran Kerja Fisik Pasien Rawat jalan Suhu 28,6AC Kelembaban Pencahayaan 79 Lux Kebisingan Sumber data : Hasil Pengukuran Peneliti tahun Kondisi lingkungan fisik di ruang pendaftaran pasien rawat jalan BLUD RSU Kota Banjar belum sepenuhnya memenuhi standar yang ditetapkan dalam Permenkes RI Nomor 48 Tahun 2016 tentang Standar Kesehatan Keselamatan Kerja Perkantoran. Hasil menunjukkan suhu ruangan mencapai 28,6AC dan kelembaban sebesar 74%, melebihi batas standar yang ditetapkan yaitu 23ACAe26AC untuk suhu dan 4060% untuk kelembaban (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2. Hal ini disebabkan oleh penggunaan satu unit AC yang tidak optimal serta letak ruangan yang kurang mendapatkan sirkulasi udara dan cahaya alami. Pencahayaan di ruang pendaftaran juga berada di bawah standar, dengan intensitas sebesar 79 lux, sedangkan standar minimal adalah 100 lux. Kondisi ini dipengaruhi oleh kurangnya pencahayaan alami maupun buatan karena posisi ruang pendaftaran yang berada di dalam bangunan rumah Sementara itu, tingkat kebisingan masih berada dalam batas standar, yakni 74,75 dBA . tandar 65Ae75 dBA), meskipun pada waktu-waktu tertentu seperti pagi hari, tingkat kebisingan meningkat karena aktivitas tinggi di area sekitarnya. Tidak terdeteksi bau yang mengganggu di area ini, meskipun sebelumnya pernah terjadi Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. insiden bau tidak sedap yang segera ditangani oleh petugas. Secara keseluruhan, kondisi lingkungan ditingkatkan, terutama pada aspek suhu, kelembaban, dan pencahayaan, agar sesuai dengan standar keselamatan dan kesehatan kerja serta mendukung kenyamanan dan produktivitas petugas. Lingkungan Kerja Non Fisik adalah segala aspek yang berkaitan dengan kondisi psikologis di tempat kerja. Lingkungan kerja non fisik memiliki pengaruh besar terhadap kepuasan kerja karyawan. Jika situasi di sekitar karyawan mendukung untuk bekerja, rekan kerja mudah diajak bekerja sama, dan hubungan dengan atasan berjalan baik, maka karyawan akan merasa lebih menikmati pekerjaannya dan merasa puas bekerja di tempat tersebut (Pangarso & Ramadhyanti, 2. Hasil wawancara yang telah dilakukan kepada petugas pendaftaran tentang hubungan kerja antar petugas telah berjalan dengan baik begitupula dengan atasan. Petugas sering membantu satu sama lain jika terjadi kesulitan dan tidak perah diperlakukan secara diskriminatif. Hal Tersebut wawancara yang telah dilakukan AiIyah saling membantu, misalkan disini ada kesulitan itu pasti nanya ke sampingnyaAkalo misalkan di sampingnya ga bisa itu ke IT begituh sih kitay. AiEuh solid yakalo sejauh ini saya liat di temen-temen pendaftaran rawat jalan itu, solid mereka bisa saling membantu di sanakan biasanya ada 6 loket, 6 loket itu mengerjakan antrian yang berbeda beda gitu yang satu pasien umum, pasien baru, yang satu pasien bpjs, yang satu pasien online terus ada hd,talacemi mereka tidak melulu hanya mengerjakan tugasnya tapi biasanya kalo antian yang ini sudah selesai mereka suka bantu antian mana yang masih panjang gituAkalo itu bagus sihAy . Hasil wawancara tersebut dapat diketahui hubungan antar rekan kerja di BLUD RSU Kota Banjar dapat dikatakan terjalin dengan sangat baik, begitupula hubungan atasan dan bawahan berjalan dengan baik tanpa adanya perilaku Hal ini sesuai dengan hasil observasi petugas ruangan tersebut sangat akrab dan solid satu sama lain, tidak adanya pembedaan perlakuan dalam pekerjaan. Observasi yang telah dilakukan peneliti didapatkan hasil bahwa terdapat beberapa faktor-faktor yang mendukung untuk penerapan aspek ergonomi yaitu unit pendaftaran rawat jalan di BLUD RSU Kota Banjar sudah mendapatkan ruangannya sendiri yang sudah dilengkapi dengan fasilitas yang menunjang kerja petugas, seperti sudah di fasilitasi dengan kursi, lemari. AC/ pendingin ruangan, komputer, meja, printer, lampu, fingger print, kamera, lemari, dan dispenser. Hal ini sesuai hasil wawancara dari informan 1 dan informan 2 yang telah dilaksanakan. AiKalo prinsip mungkin engga ya cuman karnakan ini kalo di pendaftaran ada printer berapa, ada lebel, ada printer untuk pendaftaran, ada untuk kamera, ada untuk fingger, nah kita sebenernya di enak-enakin sendiri gitu kalo menurut ergonomi sebenernya kurang sih yah, kalo menurut prinsip ergonomi nyahAn. nforman AiKalo meja, komputer sudah memenuhi tapi kalo untuk pencahayaan euu. agak kurang, kurang memenuhiAn. Unit pendaftaran rawat jalan di BLUD RSU Kota Banjar sudah mendapatkan ruangannya sendiri yang sudah dilengkapi dengan fasilitas yang menunjang kerja Hubarat . pada buku dasar-dasar faktor-faktor terdapat pencahayaan yang bermanfaat dalam melakukan pekerjaan yang aman dan efisien, suhu ruangan atau temperatur di tempat keja yang dimana akan sangat berpengaruh dalam setiap pekerjaan, adanya musik juga menjadi salah satu yang dapat membangkitkan karyawan untuk bekerja (Hutabarat, 2. Hasil dari wawancara yang menjadi ergonomi ini adalah ruangan yang terlalu sempit yang mengakibatkan kondisi Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. ruangan menjadi pengap dan susah untuk pengajukan keluhan pemabangunan atau renovasi untuk sarana dan prasarananya. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dari informan 1 dan informan 5 yang telah AiSebenernya untuk ergonomis nya kan kalo di lihat dari teori kurang ergonomis yahAtapi karena kita mengajukan tempat susah dan memang tempatnya kalo rumah sakit pemerintah agak susah untuk pembangunan jadi kita enak enakin sendiri gituA di enakin sendiri misalkan tempat untuk itunya, sebenernya AC ada cuman kadang ya error kita minta perbaikan gitu, gitu aja si kalo menurut kita emang kurang ergonomis tapi untuk kenyamanan kalo segitu yah udah nyamanAn. dalam studi biaya. Ini termasuk melakukan inovasi dan mengembangkan layanan unggulan untuk menciptakan potensi penerimaan yang berkelanjutan dan dapat dipertanggung jawabkan. Selanjutnya, studi investasi dengan skema pembiayaan Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) pembiayaan dan penyediaan layanan kesehatan, dan strategi berkonsentrasi pada efisiensi biaya karena peningkatan layanan kesehatan (Hendrisman et al. , 2. Unit pendaftaran rawat jalan di BLUD RSU Kota Banjar terdapat 6 loket pendaftaran pasien dengan 6 petugas pendaftaran, dari hasil pengukuran ruangan tersebut didapatkan luas sebesar 9,6m2. Hal ini tidak sesuai dengan dengan Peratuan Menteri Kesehatan No 48 Tahun 2016 tentang Standar Keselamatan dan Kesehatan kerja menyatakan bahwa luas tempat kerja staf paling sedikit 2,2m 2. Dihitung dengan minimal kebutuhan tempat kerja petugas yaitu 2,2m2/petugas sehingga didapatkan hasil perhitungan dengan total jumlah petugas di pendaftaran yaitu 9,6m2. Hasil perhitungan luas ruangan didapatkan kebutuhan luas ruang pendaftaran adalah 13,2m2. Artinya ruangan tersebut belum memenuhi kebutuhan luas ruangan yang Luas ruangan yang tidak memenuhi standar dapat membuat petugas sulit untuk beraktivitas karena kurangnnya gerak sehingga timbul ketidak nyamanan dalam bekerja (Fajrina Shiyama Ramadhan. Luas ruangan di BLUD RSU Kota Banjar tidak sesuai dengan aspek ergonomi karena ruangan terlalu sempit yang menjadikan susahnya akses keluar masuk petugas yang mengakibatkan petugas terganggu ketika petugas lain akan keluar ruangan sehingga mengurangi efisiensi pelayanan. Ruangan yang sempit dapat menghalangi pergerakan petugas dan petugas akan kesulitan untuk bergerak bebas di ruang pendaftaran. Pergantian udara di BLUD RSU Kota Banjar sudah dikatakan baik, karena hasil yang di dapatkan dari observasi di ruang pendaftaran pasien rawat jalan tersebut memakai pendingin ruangan tetapi tetap AiAda, kalo kendala utama sih saya kembaliakan lagi karena ini rumah sakit pemerintah ya, kalo rumah sakit pemerintah itu beda halnya dengan rumah sakit swasta, kalo rumah sakit swasta ketika kita mengeluhkan suatu kondisi biasanya kita langsung gercep ya tapi kalo rumah sakit pemerintah itu ada birokrasinya gak mudah, gak pemerintahA misalnya kita minta ruangan nihya untuk pemindahan ruang pendaftaran rawat jalan, kita punya teorinya nih kalo pendaftana rawat jalan itu harus begini, begini, begini saya rasa bu nunung sudah melakukanyaAtetapi kita kembali lagi karena ini rumah sakit pemerintah kita harus menunggu ruangan mana yang bisa dan birokrasi nya sangat susah sekali gitu, sehingga mendapatkan ruangan yang layak itu seperti apa, apalagi kalo merenov tidak meminta ruangan nih tapi pendaftaran yang sekarang kita minta merenovasi itu birokrasinya beda dengan rumah sakit swasta, kalo rumah sakit swasta bisa langsung di tackel ya bisa langsung di handle ya sama pimpinan tapi kalo rumah sakit pemerintah lihat dulu kita pakai angaran yang mana dan sebagainya ada lah permasalahan-permasalahan yang tidak bisa dikemukakan nya yah gituAn. Rumah sakit ini dikelola oleh pemerintah daerah, sehingga perbaikan sarana dan prasarana hasur sesuai dengan didapatakan dengan anggaran. Untuk mengatasi keterbatasan pembiayaan rumah sakit, diperlukan perencanaan strategis Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. terjadi pertukaran udara di pintu ruangan Hal ini sudah memenuhi sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2016 tentang standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perkantoran, sesuai dengan hasil penelitian bahwa ruang pendaftaran pasien rawat jalan tersebut mengunakan pendingin diperlukan untuk membuak pintu dan jendela supaya mendapat pergantian udara yang alami. Hal tersebut terjadi pada setiap harinya dengan membukakan pintu masuk setiap harinya. Pada ruangan ini pertukaran udara sudah dilakukan dengan membuka semua ventilasi dan membuka pintu ruangan yang sering di buka tutup. Kerusakan pada ventilasi udara memerlukan penambahan fasilitas seperti pendingin udara atau AC . ir conditione. agar masalah tersebut dapat diatasi. Jika tidak, hal ini dapat berdampak pada lingkungan kerja yang tidak nyaman, yang pada gilirannya akan menurunkan produktivitas kerja petugas selama berada di ruangan (Liling & Purwaningsih, 2. Menurut Faida & Muhadi . penggunaan ventilasi udara membantu dalam pertukaran udara, agar udara kotor dalam ruangan dapat bertukar dengan udara bersih (Faida, 2. Ventilasi di BLUD RSU Kota Banjar sudah sesuai dengan standar yang berlaku karena terdapat pergantian udara secara terus-menerus. Ventilasi juga sangat penting untuk menjaga kualitas udara dan mencegah penyakit menular. Ruang pendaftaran rawat jalan di BLUD RSU Kota Banjar sudah di lengkapi dengan satu buat air conditioner (AC) namun belum mempunyai alat ukur suhu ruangan di ruangan tersebut. Hasil dari pengukuran suhu dan kelembaban di ruangan Digital Temerature Hygrometer HTC-2 diketahui suhu ruang pendaftaran tersebut yaitu 28,6AC. Kelembaban di ruang pendaftaran mencapai 74%. Artinya ruangan tersebut Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. dapat dikatakan tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Keseahatan Nomor 48 Tahun 2016 tentang Standar Keselamatan Kesehatan Kerja Perkantoran menyatakan standar temperatur di sebuah ruangan adalah 23AC samapi dengan 26AC agar suhu nyaman dan standar tingkat kelembaban adalah 40% sampai 60%. Kelembaban dikatakan tidak sesuai dengan standar yang pengukuran kelembaban pada ruangan tersebut mencapai 74%. Hal ini disebabkan ruang pendaftaran berada di dalam bangungan dan tidak terkena sinar matahari, maka perlu adanya alat pengukur suhu dan kelembaban di ruangan tersebut agar bertujuan untuk pemeliharaan sarana dan prasana agar tidak mudah rusak. Menurut Rohmawati et al . dalam penelitiannya diperoleh fakta bahwa ruangan yang mengakibatkan petugas lebih cepat lelah dan berkeringat berkeringat yang dapat menurunkan konsentrasi saat bekerja. Tingginya mengakibatkan sulitnya mengering keringat pada tubuh yang akan membuat rasa tidak nyaman pada tubuh (Rohmawati et al. Hasil dari observasi pencahayaan di ruang pendaftaran pasien rawat jalan di BLUD RSU Kota Banja didapatkan hasil pencahayaan ruang pendaftaran tersebut didapatkan dari bantuan cahaya buatan yaitu dua buah lampu. Didapatkan hasil dari pengukuran pencahayaan di ruang pendaftaran pada dua titik pengukuran yang diukur mengunakan Lux Metter pendaftaran rawat jalan di BLUD RSU Kota Banjar berkisar antara 79 lux, karena itu ruang pendaftaran rawat jalan di BLUD RSU Kota Banjar belum memenuhi Standar karena Pencahayaan yang memadai di ruang pendaftaran pasien rawat jalan sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan produktif. Pencahayaan tersebut belum sesuai dengan standar yang berlaku yang menyebutkan Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. pendaftaran adalah 100 lux untuk mendukung kenyamanan kerja petugas dan pasien, sehingga meminimalkan kelelahan mata (Putra, 2. Hasil Pengukuran kebisingan yang telah dilakukan dengan mengunakan sound level meter didapatkan hasil kebisingan 74,75 dBA. Untuk kebisingan di ruang pendaftaran ini sudah dikatakan sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2016 standar kebisingannya ialah 65-75 dBA. Pendaftaran rawat jalan BLUD RSU Kota Banjar dapat dikatakan sesuai dengan nilai kebisingan yang yang di dapatkan sebesar 74,75 dBa. Ruangan pendaftarn rawat jalan termasuk kedala ruangan umum atau terbuka, sesuai dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2016 standar kebisingannya ialah 65-75 dBA, sehingga dapat dikatakan ruangan tersebut sudah sesuai dengan standar dibawah yang berlaku. Ruangan ini sudah memenuhi standar karena ruangan ini tidak berada dekat keramaian atau jalan Sumber-sumber kebisingan di ruangan ini pun berasal dari aktivitas itu sendiri, seperti pemanggilan nomor antrian pasien, pasien yang mendaftar, aktivitas petugas pendaftaran (Husni & Nurhasanah, 2. Ruang pendaftaran pasien rawat jalan di unit pendaftaran rawat jalan di BLUD RSU Kota Banjar dilengkapi sudah dengan kursi statis dengan tinggi 80cm dan lebar kursi 40cm namun kursi tersebut belum sesuai dengan aspek ergonomi yaitu kursi bisa berputar dan memiliki lma kaki, baik beroda maupun tidak beroda, kuris bisa di naik turunkan dan kursi yang memiliki sandaran lengan dan lengkungan pinggang yang memiliki kemiringan fleksible. Bagi tenaga kerja penggunaan kursi yang tidak ergonomis dapat menyebabkan posisi tubuh yang buruk saat bekerja, yang pada akhirnya dapat mengganggu kesehatan akibat beban statis yang terus-menerus pada bagian tubuh tertentu (Fanny, 2. Kursi di pendaftaran harus sesuai dengan standar ergonomi karna posisi duduk petugas mempengaruhi aktivitas dalam pekerjaan petugas dan jika kursi tidak sesuai dengan aspek ergonomi maka pegal-pegal saat melakukan pekerjaannya. Kursi juga harus dilengkapi dengan sandaran tangan agar petugas bisa menyandarkan tangannya ketika petugas merasa pegal dan kursi juga harus bisa dinaik turunkan untuk menyesuaikan tinggi kursi juga harus bisa berputar agar jika petugas akan mengambil berkas di belakangnya petugas tinggal memutarkan Meja yang terdapat di pendaftaran pasien rawat jalan di BLUD RSU Kota Banjar dapat dikatakan belum nyaman dikarenakan kurangnya lebar pada meja tersebut yang mengakibatkan petugas merasa sempit ketika bekerja dan petugas merasa tidak nyaman saat bekerja. Artinya kursi tersebut belum sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No 48 Tahun 2016 Tentang Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Perkantoran bahwa meja kerja harus memiliki ukuran standar, tinggi meja 58-68, luas meja minimal 120 x 90 dan ruang untuk kaki ( di bawah mej. minimal lebar 51 panjang/ kedalaman 60. Proses pendaftaran, petugas dan pasien langsung, agar komunikasi antara keduanya dapat berlangsung dengan lancar. Oleh karena itu, meja petugas di loket harus memiliki tinggi yang sesuai, sehingga petugas dan pasien dapat saling bertatap muka dengan nyaman (Rosida, 2. Meja kerja di bagian pendaftaran pasien sebaiknya dirancang secara ergonomis untuk mendukung kenyamanan dan efisiensi kerja petugas. Permukaan meja harus rata dan tidak memiliki bentuk yang membatasi gerak, sehingga memudahkan petugas dalam melakukan berbagai aktivitas seperti menulis, menggunakan komputer, atau mengelola dokumen. Selain itu, meja juga perlu dilengkapi dengan ruang penyimpanan yang cukup, seperti laci atau rak, agar peralatan dan dokumen yang dibutuhkan dapat tersimpan dengan rapi dan mudah diakses. Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. Postur tubuh petugas pendaftaran pasien rawat jalan di BLUD RSU Kota banjar dapat dikatakan sudah nyaman dikarenakan ruang pendaftaran pasien rawat jalanwat jalan dilengkapi dengan kursi dan meja yang digunakan untuk kenyaman bekerja duduk dikarenakan menoprasikan komputer sebagai alat kerjanya. Artinya postur kerja tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No 48 Tahun 2016 Tentang Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Perkantoran menyatakan bahwa postur kerja pada karyawan di perkantoran lebih banyak dilakukan dalam keadaan duduk dikarenakan menoprasikan komputer sebagai alat kerjanya. Posisi kerja di ruang pendaftaran lebih banyak dilakukan dalam posisi duduk dikarenakan menoprasikan komputer sebagai alat Postur tubuh yang salah Dapat terjadi resiko bahaya nyeri punggung, nyeri sendi, nyeri otot, dan luka memar (Novita Magdalena Aruan, n. Postur tubuh mempengaruhi ke kenyamanan petugas dalam melakukan aktivitasnya, jika postur tubuh petugas tidak nyaman maka dapat menyebabkan timbulnya keluhan-keluhan seperti sakit pingga, sakit leher atau keluhan lainnya yang menyebabkan petugas tidak optimal dalam melakukan kerjanya. cukup mendukung. Dari aspek fasilitas, ruang pendaftaran sudah memiliki ruang tersendiri dan dilengkapi sarana kerja, namun beberapa peralatan seperti meja dan kursi belum sesuai standar ergonomiAimeja terlalu sempit dan kursi masih bersifat statis. Postur kerja petugas sudah sesuai karena mayoritas pekerjaan dilakukan dengan posisi duduk. Penghambat utama dalam peningkatan kualitas ergonomi adalah keterbatasan anggaran dan birokrasi karena rumah sakit dikelola oleh pemerintah daerah, sehingga setiap perbaikan sarana dan prasarana harus melalui prosedur penganggaran terlebih dahulu. Dengan perbaikan dan optimalisasi sarana fisik kerja agar menciptakan lingkungan kerja yang ergonomis, nyaman, dan mendukung mutu pelayanan di unit pendaftaran pasien rawat Simpulan dan Saran Penerapan aspek ergonomi di ruang pendaftaran pasien rawat jalan BLUD RSU Kota Banjar menunjukkan bahwa kondisi lingkungan fisik, seperti suhu . ,6AC), kelembaban . %), dan pencahayaan . , belum memenuhi standar yang ditetapkan dalam peraturan Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Luas ruang pendaftaran juga belum memadai, dengan kekurangan sekitar 3,6 mA dari standar minimal 13,2 mA. Meskipun begitu, tingkat kebisingan dan sistem keamanan ruang telah memenuhi Hubungan kerja antarpersonel, baik sesama rekan maupun antara atasan dan bawahan, terjalin dengan baik dan bebas menunjukkan lingkungan kerja non-fisik Ucapan Terima Kasih Peneliti menyampaikan terimak kasih kepada dr. Agus Budiana Ekaputra selaku Direktur Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Kota Banjar. Dr. Dini Mariani. Kep. Ners. Kep. Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya. Andi Suhenda. SKM. MPH selaku Ketua Jurusan Rekam Medis dan Informasi KesehatanPoliteknik Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya serta selaku dosen pembimbing dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah. Seluruh petugas rekam medis dan staff Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umun Kota Banjar. Seluruh Dosen dan Staff Jurusan Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya, dan Orang Tua dan keluarga yang telah mendoAoakan serta memberi dukungan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah, serta kepada diri sendiri yang terus menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Daftar Pustaka