Volume 8 Nomor 2, pp 1-12, 2025 DOI: https://doi. org/10. 33005/jedi. ISSN (Onlin. : 2614-2384 Journal of Economics Development Issues URL:http://JEDI. id/index. php/JEDI Rebound Effect pada Circular Economy (CER) : Narative Literature Review Wirya Wardaya. Ignatia Martha Hendrati. Putra Perdana 1,2,3 Department of Development Economics. Faculty of Economics and Business,Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur Email: Wirya. ep@upnjatim. Received: April 12,2025 . Published: Mei 7, 2025 ABSTRACT The purpose of this study is to provide an overview of the Rebound Effect (RE) in the context of the circular economy (CE). This study uses a narrative literature review to review and analyze scientific literature relevant to the topic of CER. Many approaches in CE are still dominated by an engineering perspective, namely seeing the world as a linear material flow system that can be transformed into a circular one without taking into account the complexity of the market and economy. Based on criticism and thoughts about the risks of the CE approach, a phenomenon called the Circular Economy Rebound (CER) emerged. CER occurs when circular activities, despite having a lower impact per unit, actually trigger an increase in total production and consumption, which ultimately reduces or even eliminates the expected environmental benefits. Based on the mapping of potential RE in CE, nine causes were found, while for the dimensions of CE implementation, 5 dimensions were found that cause RE both directly and indirectly. The method for measuring RE in CE found that RE can be measured at the micro, meso, macro and global aggregate levels with econometric techniques and Input-Output analysis. Keywords: Circular Economy . Rebound effect ABSTRAK . ntuk artikel berbahasa Indonesi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang Rebound effect (RE) dalam konteks circular economy (CE). Penelitian ini menggunakan narrative literature review untuk meninjau dan menganalisis literatur ilmiah yang relevan dengan topik CER. Banyak pendekatan dalam CE masih didominasi oleh sudut pandang teknik yaitu melihat dunia sebagai sistem aliran material linier yang dapat diubah menjadi sirkular tanpa memperhitungkan kompleksitas pasar dan ekonomi. Atas kritik dan pemikiran tentang risiko pendekatan CE, muncul fenomena yang disebut Circular Economy Rebound (CER). CER terjadi ketika aktivitas circular meskipun memiliki dampak per unit yang lebih rendah justru memicu peningkatan total produksi dan konsumsi, yang pada akhirnya mengurangi atau bahkan menghilangkan manfaat lingkungan yang diharapkan. Berdasarkan pemetaan RE yang potensial terjadi pada CE ditemukan sembilan penyebab, sementara untuk dimensi implementasi CE ditemukan 5 dimensi yang menyebabkan RE baik secara langsung dan tidak langsung. Metode untuk pengukuran RE pada CE ditemukan bahwa RE dapat diukur pada tingkat agregasi mikro, meso, makro dan global dengan teknik ekonometrika dan analisis Input-Output. Kata kunci: Circular Economy . Rebound effect nC Corresponding author email: wirya. ep@upnjatim. This is an open-access article under the CC-BY License Wirya Wardaya / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. How to cite: Wardaya . Rebound Effect pada CircularEconomy (CER) : Narative Literature Reviee. Journal of Economics Development Issues. Vol 8. , pp 1-12. https://doi. org/10. 33005/jedi. PENDAHULUAN Dalam beberapa dekade terakhir, konsep circular economy (CE) telah banyak dibahas oleh di akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan sebagai solusi untuk mencapai keberlanjutan lingkungan. CE telah mendapat perhatian signifikan sebagai model sosial-ekonomi yang mampu menggantikan dinamika produksi dan konsumsi linear. CE lebih banyak diterapkan di negara maju dibandingkan negara berkembang yatu sebanyak 33 dari 41 negara maju memiliki dokumen kebijakan CE, dibandingkan dengan hanya 25 dari 156 negara berkembang yang memiliki dokumen kebijakan CE (Haswell, et al 2. termasuk Indonesia yang telah mempublikasikan roadmap rencana aksi CE 2025-2045 (Bappenas, 2. CE menawarkan Solusi dan manfaat ekonomi serta mengatasi dampak limgkungan. Studi literatur oleh Froderman . menemukan manfaat dari penerapan CE terbagi pada monetary dan non monetary impact. Monetary impact ditunjukkan pada cost saving dan additional revenue, sementara pada non monetary adalah competitive advantage dan position brand image. CE berupaya menutup siklus material melalui kegiatan seperti reuse, refurbishment, dan recycling, dengan harapan dapat mengurangi dampak lingkungan dari produksi primer (Zink & Geyer. Pendapat pessimistic pada pendekatan CE dibahas oleh Lehman et al . dimana menyebutkan bahwa CE hanyalah sebuah mimpi yang jauh dari realita. Mendaur ulang limbah menjadi bahan yang lebih berharga akan selalu membutuhkan penambahan energi. Daur ulang selalu berarti penggunaan energi yang menghabiskan sumber daya energi fosil, sebagaimana pada hukum termodinamika pertama dan kedua. Kritik atas pendekatan CE juga disampaikan Zink & Geyer, . yang menyatakan bahwa banyak pendekatan dalam CE masih didominasi oleh sudut pandang teknik yaitu melihat dunia sebagai sistem aliran material linier yang dapat diubah menjadi sirkular tanpa memperhitungkan kompleksitas pasar dan ekonomi. Pendekatan CE mengasumsikan bahwa setiap satuan produk daur ulang akan menggantikan satuan produk primer . :1 displacemen. Padahal dalam kenyataannya, substitusi ini sangat bergantung pada mekanisme pasar, perilaku konsumen, dan struktur harga (Vivanco et al. ,2. (Schryder et al. Atas kritik dan pemikiran tentang risiko pendekatan CE, muncul fenomena yang disebut Circular Economy Rebound (CER). CER terjadi ketika aktivitas circular meskipun memiliki dampak per unit yang lebih rendah justru memicu peningkatan total produksi dan konsumsi, yang pada akhirnya mengurangi atau bahkan menghilangkan manfaat lingkungan yang diharapkan. Dengan kata lain. CE bisa gagal jika tidak memperhitungkan dinamika ekonomi yang menyertainya. Temuan umum mengenai hubungan CE dan rebound effect (RE) adalah banyak studi menyatakan bahwa CE diharapkan menjadi solusi terhadap krisis lingkungan, tetapi rebound effect berpotensi menggagalkan manfaat tersebut. Lowe et al. menyebut RE sering diabaikan dalam evaluasi lingkungan. Berdasarkan latar belakang diatas kajian ini ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan dengan meneliti jenis RE yang potensial terjadi dalam circular economy. Kajian ini melakukan Narative literarture review yang menggabungkan analisis CE dan RE sehingga memberikan wawasan baru dalam mengkaji Circular Economy. Wirya Wardaya / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. KAJIAN LITERATUR CE dan Sustainable Development Kekhawatiran tentang pembangunan berkelanjutan manusia merupakan pemikiran sejak dipublikasikannya The limits to Growth. Publikasi tersebut menafsirkan bahwa dengan perilaku manusia dan teknologi yang tidak berubah, pertumbuhan ekonomi dalam ekonomi dunia akan berakhir pada suatu saat di abad ke-21, dan jumlah manusia akan menurun (Common & Stagl, 2. Faktor lingkungan dan sosial memainkan peran penting dalam menentukan kesejahteraan jangka panjang yang tidak tercermin dalam GDP (Tsara & Vortelinos, 2. Pendekatan keseimbangan lingkungan, ekonomi dan sosial disebut juga konsep tiga pilar yang kemudian mendefinisikan pembangunan berkelanjutan yang paling dikenal luas sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Circular Economy berasal dari gagasan yang muncul dari karya Boulding tahun 1966 yang berpendapat bahwa Bumi adalah sistem tertutup dengan kapasitas asimilasi terbatas dan dengan demikian ekonomi dan lingkungan harus hidup berdampingan dalam keseimbangan. Pemahaman umum ini telah dikembangkan oleh banyak aliran pemikiran akan tetapi definisi CE tidak ada secara universal. Meskipun tidak ada definisi universal mengenai konsep CE dalam literatur baik di dalam maupun di antara aliran pemikiran. CE secara umum dipahami oleh sebagai sebuah model yang dirancang untuk memulihkan, meregenerasi, dan bertujuan untuk menjaga produk, komponen, dan material pada tingkat kegunaan dan nilai tertinggi setiap saat. berkembang dan dijadikan tools untuk pembangunan berkelanjutan setelah mendapatkan rekognisi dari banyak negara yang mempraktekannya (Millar et al, 2. Sementara itu studi literatur yang dilakukan oleh Kirchherr et al. menemukan bahwa kaitan CE dengan pembangunan berkelanjutan adalah lemah. Sebagian besar menemukan CE sebagai jalan menuju kemakmuran ekonomi dan mengabaikan pertimbangan sosial dan lingkungan. Gagasan CE yang dikemukanan oleh Ellen MacArthur Foundation diadaptasi oleh Zink & Geyer . untuk menujukkan skema CE yang terkoneksi antar pasar. Di hampir setiap langkah dalam ekonomi sirkular terdapat pasar - pasar untuk barang akhir, barang akhir masa pakai, barang bekas yang belum diproses, barang bekas yang setengah diproses, bahan daur ulang, produk yang diperbarui, produk bekas yang diperbaiki, dan Dalam skema tersebut, barang sekunder bersaing langsung dengan barang primer. Persaingan barang primer dan sekunder di pasar adalah hal yang membuat CE menjanjikan untuk menciptakan harapan bahwa barang dan bahan sekunder dapat bersaing dengan dan mengurangi produksi barang dan bahan primer. Limitasi dari Konsep Circular Economy (CE) Millar et al . Castro et al . Lehman et al . mengidentifikasi keterbatasan yang ada dalam konsep CE, yaitu: . Thermodynamic Limits. Meskipun CE mendorong siklus ulang seperti daur ulang dan perbaikan, hukum kedua termodinamika . menyatakan bahwa setiap proses akan membutuhkan energi dan menghasilkan limbah tambahan. Akibatnya, recycling yang sempurna tidak mungkin dilakukan. Bahkan proses yang paling efisien pun akan tetap menyumbang pada peningkatan entropi dan penggunaan . System Boundary Limits. Dampak dari CE bisa saja berpindah ke lokasi geografis lain . atau terjadi di masa depan . Contohnya, penggunaan bahan terbarukan dalam jangka pendek bisa menimbulkan dampak ekologis jangka panjang yang tidak diantisipasi saat ini. Limits of Economic Scale. CE tetap beroperasi dalam sistem ekonomi yang tumbuh. Maka, efisiensi bisa memicu peningkatan konsumsi . ebound effect, paradoks Jevon. Pertumbuhan total skala ekonomi . dapat mengimbangi bahkan membalik manfaat lingkungan dari CE. Path Dependency and Lock-in. Inovasi CE bisa terhambat oleh dominasi teknologi lama yang sudah mapan di pasar. Sistem produksi dan infrastruktur eksisting sulit diubah, meskipun tidak efisien. Governance and Management Limits. CE membutuhkan kerja sama antar-organisasi dan antar-sektor, karena aliran material dan energi melintasi batas perusahaan dan industri. Namun, sistem manajemen yang ada masih fokus pada tingkat organisasi tunggal. Social and Cultural Definitions. Konsep limbah berkaitan dengan sosial dan kontekstual: apa yang dianggap limbah Wirya Wardaya / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. di satu tempat atau waktu bisa menjadi sumber daya di tempat lain. Karena itu, definisi limbah dan penggunaannya akan terus berubah tergantung pada budaya, nilai, dan norma sosial. The Environmental Rebound Effect (ERE) Asal mula kesadaran akan RE dapat ditelusuri dari William Stanley Jevons tahun 1865, yang menyatakan bahwa peningkatan efisiensi dalam penggunaan batu bara akan menyebabkan peningkatan bersih dalam permintaan batu bara disebut sebagai "paradoks Jevons". Istilah RE awalnya merujuk pada peningkatan permintaan layanan energi akibat penurunan harga satuan energi dari peningkatan efisiensi energi pada peralatan rumah tangga. Secara lebih umum. RE didefinisikan sebagai konsumsi tambahan layanan energi dari perubahan permintaan secara keseluruhan sebagai akibat dari respons perilaku dan respons sistemik lainnya terhadap peningkatan efisiensi energi Vivanco . The Environmental Rebound Effect (ERE) awalnya digunakan untuk merujuk pada efek peningkatan beban lingkungan dunia sebagai akibat tidak langsung dari optimalisasi pemenuhan fungsi baik secara ekologis maupun ekonomi. Untuk menggambarkan beban lingkungan tambahan dari serangkaian hubungan kausal yang luas pada tingkat ekonomi mikro, termasuk efek waktu dan ruang. ERE sebagai perubahan dalam kinerja lingkungan suatu sistem karena koreksi permintaan sehubungan dengan efek substitusi ketika inovasi yang akan menyebabkan efisiensi. Murray . dalam Vivanco . mendefinisikan ERE sebagai jumlah energi, sumber daya, atau eksternalitas, yang dihasilkan dengan mengimbangi konsumsi, sebagai persentase potensi pengurangan ketika konsumsi tidak mengimbangi. Meskipun semua definisi ini sangat bervariasi dalam hal cakupan, pendorong, dan dimensi ERE, semuanya menyatu dalam memahami ERE sebagai sesuatu yang tidak hanya berkaitan dengan penggunaan energi saja, tetapi juga berbagai konsekuensi lingkungan. Vivanco . menyimpulkan bahwa ERE adalah dampak lingkungan tambahan yang muncul akibat perubahan permintaan sebagai respons terhadap peningkatan efisiensi dari perbaikan teknis. ERE terjadi karena respon ekonomi, perilaku, dan sistemik terhadap efisiensi teknis. Contohnya: Barang ramah lingkungan menjadi murah sehingga konsumsi meningkat dan total emisi bisa naik lagi. Mekanisme yang lain adalah teknologi lebih efisien sehingga konsumen punya sisa uang kemudian dibelanjakan ke produk lain pada akhirnya dampak lingkungan total naik. Vivanco et al . mengembangkan sebuah kerangka untuk menganalisis RE yang yang diawali dengan perubahan efisiensi menyebabkan perubahan pada konsumsi dan faktor produksi. Inti dari mekanisme RE adalah pada mekanisme ekonomi baik secara makro dan mikro. Secara makro akan berdampak pada harga pasar, komposisi dan pertumbuhan, sedangkan pada mikro akan berdampak pada sisi konsumsi dan sisi Indikator akhir yang dapat diukur adalah Tingkat konsumsi, pertumbuhan ekonomi, penggunaan energi dan sumber daya, emisi, limbah, dan sebagainya. Tahapan terjadinya environmental rebound effect dijelaskan sebagai berikut (Vivanco et al ,2. A Efficiency ChangesAirebound Triggers Dalam perspektif ekonomi ekologi, perubahan efisiensi umumnya berfokus pada definisi efisiensi sebagai rasio antara input teknis . isalnya, penggunaan energi atau sumber daya lainny. dan output. Dalam kerangka diatas terdapat dua jenis alternatif efisiensi dalam konteks untuk menghitung RE. Perbedaan utamanya adalah definisi efisiensi itu sendiri dan objek perubahan efisiensi. Pada definisi yang pertama, yang menerapkan perspektif ERE berpendapat bahwa perubahan dalam karakteristik teknologi suatu produk juga dapat menyebabkan RE. Misalnya, mengidentifikasi RE harga yang disebabkan oleh peningkatan penggunaan bahan daur ulang yang lebih murah di pasar karena penerapan instrumen desain ramah A Changes in Consumption and Production FactorsAirebound Drivers Faktor-faktor ekonomi seperti harga, pendapatan, dan input produksi menjadi fokus utama dalam penelitian RE, karena dasar teorinya sudah lama dikembangkan dalam ekonomi energi dan tersedia banyak data seperti elastisitas harga serta survei pengeluaran. Terdapat faktor-faktor pendorong tambahan yang juga bisa Wirya Wardaya / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. menyebabkan RE. yaitu: informasi, sumber daya, ruang, waktu, keterampilan, biaya sosial-psikologis, ketersediaan teknologi, dan definisi teknis. Walaupun faktor-faktor ini telah dikenali secara teori, masih terbatas bukti empiris yang menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh langsung yang berdiri sendiri terhadap terjadinya RE. A Rebound Mechanisms Beberapa bentuk RE masih diperdebatkan, terutama efek yang terkandung dan efek transformasional. Efek yang terkandung muncul karena karakteristik teknologi suatu produk dan tidak melibatkan respons ekonomi atau perilaku, sehingga sebaiknya tidak dianggap sebagai RE, melainkan sebagai dampak teknologi murni. Sementara itu, efek transformasional mencerminkan perubahan sosial besar yang melibatkan berbagai faktor, seperti kebijakan dan norma. Efek ini hanya dapat dimasukkan dalam kerangka rebound jika mekanisme penyebabnya jelas dan dapat diidentifikasi. A Rebound Indicators RE awalnya dibahas dalam konteks efisiensi energi, di mana penghematan energi justru bisa memicu konsumsi lebih besar dan merusak lingkungan. Pendekatan ini menggunakan indikator kekuatan pendorong, seperti konsumsi energi, untuk mengukur RE. Perspektif ERE mengalihkan fokus ke indikator tekanan, seperti emisi COCC, karena lebih langsung terkait dengan tujuan lingkungan. Beberapa peneliti bahkan menggunakan indikator dampak, seperti kerusakan ekosistem, untuk menilai rebound. Namun, penggunaan indikator dampak menyulitkan karena perubahan efisiensi tidak selalu berdampak langsung ke tingkat itu. Oleh karena itu, disarankan agar ERE hanya menggunakan indikator tekanan seperti emisi, bukan energi atau dampak akhir. Dalam kerangka tersebut, kekuatan pendorong dianggap sebagai pemicu utama RE, sementara tekanan adalah akibatnya. Pilihan indikator sangat penting karena menentukan jenis perubahan efisiensi yang bisa dianalisis sebagai rebound. Perspektif ERE memungkinkan studi tentang inovasi teknologi yang bertujuan mengurangi tekanan lingkungan, bukan hanya konsumsi energi. Dengan demikian, pendekatan ERE membuka peluang lebih luas untuk menilai keberlanjutan berbagai inovasi yang menargetkan pengurangan emisi, limbah, dan tekanan lingkungan lainnya. A Sign of the Rebound Effect Secara umum, efek rebound dianggap selalu bernilai positif, artinya efisiensi malah memicu peningkatan konsumsi dan merusak penghematan lingkungan yang diharapkan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa efek rebound bisa juga bernilai negatif, misalnya ketika biaya modal . eperti harga bel. produk yang lebih efisien ternyata lebih tinggi dan tidak sebanding dengan penghematan biaya operasional. Akibatnya, biaya total justru naik, dan konsumsi bisa menurun. Contoh kasusnya adalah mobil listrik, yang saat ini masih memiliki harga beli lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional. Meskipun mekanisme rebound negatif ini bekerja dengan cara yang sama seperti rebound biasa, hasilnya justru sebaliknya yaitu bukan mendorong konsumsi, tetapi menurunkannya. Karena hal ini sulit dipahami oleh masyarakat umum, beberapa peneliti menyebutnya dengan istilah lain, seperti efek konservasi, super-konservasi, penguatan, atau leverage. Secara prinsip, tidak ada alasan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya efek rebound negatif dari kerangka analisis rebound secara keseluruhan. RE biasanya dipahami sebagai efek Aumemantul kembaliAy dari upaya efisiensi, tetapi dalam beberapa kasus mekanisme yang sama bisa menghasilkan efek sebaliknya, yaitu Aumemantul ke depanAy . engurangi konsumsi lebih jau. Karena itu, penggunaan istilah alternatif seperti yang disebutkan bisa membantu menjelaskan temuan ini dengan lebih baik kepada publik. METODOLOGI PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang Rebound effect (RE) dalam konteks circular economy (CE). Penelitian ini menggunakan narrative literature review yaitu salah satu metode untuk meninjau dan menganalisis literatur ilmiah yang relevan dengan topik penelitian. Metode ini bersifat deskriptif dan naratif, artinya lebih menekankan pada penyampaian alur cerita dan penjelasan konseptual, bukan pada prosedur yang sangat ketat atau kuantitatif. Narrative literature review yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan, membaca, dan mensintesis berbagai sumber literatur yang berkaitan dengan suatu topik penelitian tertentu. Selanjutnya, menyusun narasi yang runtut, menjelaskan teori-teori kunci, tren-temuan, perkembangan metodologi, serta kesenjangan penelitian yang belum banyak Wirya Wardaya / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. HASIL DAN PEMBAHASAN Menurut Zink & Geyer, . Terdapat dua mekanisme umum yang menyebabkan produksi sekunder hasil dari CE dapat menyebabkan rebound. Yang pertama berkaitan dengan substitusi barang sekunder. kedua berkaitan dengan dampak barang sekunder terhadap harga pasar. Ketidaksempurnaan substitusi pada produk sekunder . asil daur ulang atau perbaika. seringkali tidak sepenuhnya menggantikan produk primer karena kualitas atau persepsi pasar yang lebih rendah. Efek harga dan pasar pada peningkatan produksi barang sekunder dapat menurunkan harga pasar dan mendorong konsumsi tambahan, menciptakan efek pendapatan dan substitusi yang memperluas jejak lingkungan. Melanjutkan studi dari Zink & Geyer, . Siderius & Poldner, . memyampaikan lebih detail mekanisme CER berdasarkan hasil systematic literature review. Sebagian besar jurnal yang masuk dalam review adalah menggunakan pemikiran Zink & Geyer, . dalam mendefinisikan CER. Siderius & Poldner, . menyusun sebuah skema analitik untuk meriew kajian kajian CER. Skema ini berpotensi untuk menjadi desain strategi sirkular dan menganalisis implementasinya dalam menidentifikasi dampak dan Skema ini bersifat generik, tidak spesifik untuk sektor atau ruang geografis. Skema ini memasukkan memasukkan konsep CER ke dalam kompleksitas CE. Mekanisme Inisiasi Mekanisme Pengembangan Farktor yenag mempengaruhi terbentuknya sistem Perubahan Struktur sebagai respon atas mekanisme inisiasi Tingkat Implementasi CE : Transisi . Model Bisnis . Inovasi . Kebijakan Lingkungan Perilaku Konsumen : Peningkatan Pendapatan . Peningkatan konsumsi . Ak7vitas Sistem Produksi : Peningkatan Biaya Produksi . Perubahan teknologi . Perubahan Produk7vitas . Ekonomi Makro : Peningkatan harga komoditas , perubahan Penyebab Circular economy Rebound Mekanisme Mi7gasi Faktor yang dapat meminimalkan Rebound eAect Kelompok Konsumen yang 7dak terlayani . Tingkat kesejahteraan , penciptaan limbah, hilangnya pekerjaan , peningkatan penggunaan material, peningkatan Emisi , peningkatan penggunaan Energi Deteksi dini, penyadaran populasi , kebijakan lingkungan . R&D yang berkelanjutan , control Perubahan Konteks Sosial Ekonomi : Pengetahuan . Budaya. Lokasi GeograAs . Infrastruktur Sumber : Siderius & Poldner, . , diolah Secara specifik tentang penyebab CER, temuan Siderius & Poldner, . disarikan dalam table berikut : Table 1. Penyebab CER Jenis Penyebab Substitusi yang Tidak Sempurna (Insufficient Substitutio. Penjelasan Ringkas Contoh Manifestasi CER Produk produk primer karena kualitas, harga, atau fungsionalitas yang lebih rendah. Produk fashion berbahan daur ulang yang dipasarkan sebagai alternatif hijau, tapi tidak menggantikan konsumsi pakaian primer. Wirya Wardaya / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. Konsumen merasa sudah Auberbuat baikAy Moral Licensing (Psikologi. membenarkan perilaku boros atau konsumsi berlebih. Produsen bersaing di pasar yang masih Hal ini mendorong Kompetisi Pasar dan Struktur Ekonomi produk primer agar tidak mengalami kerugian . arket Penghematan biaya dari produk circular digunakan Efek Re-spending untuk membeli barang lain, (Efisiensi Biay. sehingga dampak lingkungan total meningkat. Material circular digunakan untuk aplikasi yang tidak Downcycling Kreatif yang Tidak Perlu menggantikan produk yang benar-benar dibutuhkan. Transisi ke CE memerlukan sistem logistik baru dan desain Infrastruktur Circular modular, yang dalam tahap Baru awal meningkatkan konsumsi energi dan sumber daya. Peningkatan efisiensi lewat Otomatisasi dan otomatisasi circular disertai Teknologi Baru konsumsi energi atau sumber daya yang tinggi. Desain produk yang tidak Ketidaksesuaian Desain material dan meningkatkan potensi rebound. Sistem mendorong volume penjualan Insentif Ekonomi Linier (Struktura. pengurangan konsumsi atau Sumber : Siderius & Poldner, . , diolah Karena bajunya biodegradable, saya bisa buang lebih sering. Produk CE dijual ke segmen baru, bukan untuk menggantikan produk Hemat dari menyewa pakaian digunakan untuk membeli aksesoris Jeans bekas dijadikan wallpaper . idak menggantikan produk tekstil lain, hanya menambah permintaa. Sistem pengembalian dan disassembly membutuhkan transportasi dan energi tambahan. Proses disassembly otomatis menggunakan mesin energi tinggi. Produk yang AucircularAy hanya dari nama, tapi tidak didesain untuk daur ulang nyata. Perusahaan memproduksi lebih banyak barang circular untuk meningkatkan profit, bukan menggantikan yang lama. Mapping hubungan antara CE dan RE dilakukan oleh Ferrante et al . dengan metode systemic literature Fernante et al . membagi lima dimensi dalam CE dalam menerapkan prinsip keberlanjutan kemudian mengidentifikasi dan mereview studi empiris yang relevan. Dimensi pertama adalah Circular Business Model (CBM), yang merujuk pada cara perusahaan menciptakan, menyampaikan, dan menangkap Wirya Wardaya / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. nilai dengan mengintegrasikan prinsip circular, seperti penggunaan kembali produk . , pemeliharaan . , penyewaan . , dan sistem berbagi . CBM berfokus pada penciptaan nilai ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya baru. Dimensi kedua adalah Drivers, yaitu faktor eksternal maupun internal yang mendorong adopsi praktik Ini mencakup kebijakan publik, regulasi, insentif ekonomi, kesadaran sosial, perkembangan teknologi digital, serta norma pasar. Drivers memiliki peran strategis dalam menentukan arah dan kecepatan transformasi sistem produksi-konsumsi menuju sistem yang lebih sirkular. Dimensi ketiga adalah Circular Manufacturing Ecosystem, yang mencakup jaringan aktor, teknologi, dan proses industri yang terlibat dalam penerapan circularity di sektor manufaktur. Ini termasuk simbiosis industri, logistik terbalik . everse logistic. , penggunaan teknologi digital, dan desain proses produksi berbasis efisiensi sumber daya. Fokus utamanya adalah bagaimana rantai pasok industri secara kolektif bisa mengurangi limbah dan menutup siklus Selanjutnya. Product Lifecycle Management (PLM) adalah dimensi keempat yang menekankan pengelolaan seluruh siklus hidup produkAimulai dari desain, produksi, penggunaan, hingga tahap akhir pakai. PLM dalam konteks circular menekankan pentingnya memperpanjang umur produk melalui desain tahan lama, kemudahan diperbaiki, modularitas, dan pendekatan daur ulang akhir masa guna. Terakhir, dimensi SocioEconomic Aspects mencakup pengaruh sosial dan perilaku konsumen dalam proses circularity. Dimensi terakhir ini termasuk preferensi konsumsi, nilai lingkungan, kesadaran konsumen, serta dampak sosial dari penerapan CE, seperti perubahan gaya hidup dan persepsi terhadap kepemilikan versus akses. Pada dimensi ini juga mempertimbangkan aspek distribusi manfaat CE terhadap kelompok masyarakat yang berbeda. Table 2. Lima Dimensi Prinsip Keberkanjutan CE Dimensi CE-RE Jenis Rebound Effect Deskripsi Singkat Mekanisme Umum Motivational, income. Strategi bisnis yang mengadopsi Circular . onsumen prinsip circular untuk menciptakan Direct dan Indirect Business tertarik produk ramah dan menangkap nilai, seperti reuse. RE Model (CBM) refurbish, reverse logistics konsumsi meningka. Faktor eksternal dan internal Regulatory. Economy-wide dan Drivers . konomi, digital technology, reTransformational (Penggera. yang mendorong adopsi circular practices Circular Aktor dan proses dalam sistem Re-spending. Manufacturing manufaktur sirkular . , simbiosis Indirect dan substitution, (CM) industri, aliran logistik terbalik. Economy-wide RE accumulation, imperfect Ecosystem Product Pengelolaan seluruh siklus hidup Output. Lifecycle berkelanjutan. Direct dan Indirect Management termasuk desain, produksi, hingga RE (PLM) akhir masa guna SocioEconomic Aspects Dampak CE terhadap perilaku Direct. Indirect. Pro-environmental konsumen, kesadaran lingkungan. Transformational attitude, demand shift, dan aspek sosial masyarakat preference change Sumber: Ferrante et al . , diolah Wirya Wardaya / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. Berdasarkan hasil review Fernante et al . , (CE) terdiri dari beberapa dimensi utama yang masingmasing memiliki potensi berbeda dalam menghadapi efek rebound (RE). Berdasarkan analisis kajian -kajian terbaru, dimensi Circular Business Model (CBM) menempati posisi paling rentan terhadap efek rebound, dengan dampak yang signifikan dan negatif. Hal ini disebabkan oleh model-model seperti reuse, leasing, dan sharing yang justru dapat mendorong konsumsi tambahan karena persepsi "ramah lingkungan" oleh Dampak serupa juga ditemukan pada dimensi Circular Manufacturing Ecosystem, di mana efisiensi dalam proses produksi menurunkan biaya per unit dan mendorong peningkatan skala produksi, yang menyebabkan output rebound. Sementara itu. Product Lifecycle Management (PLM) memiliki potensi dampak sedang dan bervariasi antara positif dan negatif. Meskipun perpanjangan umur produk dapat menunda pembelian baru . fek positi. , dalam beberapa kasus hal ini justru memicu konsumsi ganda atau konsumsi tambahan. Dimensi sosial-ekonomi juga menunjukkan potensi rebound yang cukup tinggi, terutama karena fenomena moral licensingAidi mana konsumen merasa telah berkontribusi terhadap lingkungan lalu merasa bebas mengonsumsi produk lain. Terakhir, dimensi eksternal seperti penggerak kebijakan . menunjukkan potensi dampak yang sangat Efek rebound di sini sangat tergantung pada kualitas kebijakan, ketersediaan teknologi, dan dukungan masyarakat. Dampaknya bisa positif maupun negatif, tergantung apakah kebijakan tersebut mampu menekan efek rebound atau justru memperkuatnya. Dengan demikian, pemahaman yang mendalam terhadap karakteristik setiap dimensi CE sangat penting untuk merancang strategi yang dapat meminimalkan risiko rebound effect dan memastikan transisi menuju ekonomi sirkular yang benar-benar berkelanjutan. Bagian terpenting untuk menidentifikasi CER adalah metode estimasi yang digunakan untuk mengidentifikasi terjadinya RE. Lowe, et al . melakukan systemic literature review metode untuk mengestimasi CER. Pembagian analisis berdasarkan tingkat agregasi dipetakan sebagai berikut: Table 3. Jenis Analisis CER Berdasarkan Tingkat Agregasi Analisis Mikro Meso Makro Global Cakupan Unit rumah tangga, konsumen, produk Organisasi, sektor industri, supply chain Perekonomian nasional atau regional Sistem internasional, rantai pasok global Metode yang digunakan Penjelasan - LCA (Life Cycle Assessmen. - Elastisitas Mengukur perubahan konsumsi, dampak lingkungan dari perilaku individu atau produk spesifik. cocok untuk menganalisis direct rebound seperti peningkatan konsumsi akibat efisiensi Metode mengukur RE dalam rantai nilai atau industri tertentu. menggabungkan jejak material dan dinamika proses dalam satu - Econometric analysis . - MFA (Material Flow Analysi. - Hybrid LCA I-O - System Dynamics - CGE (Computable General Equilibriu. - IAeO models (InputAeOutpu. - Stock-flow consistent (SFC) - Environmentally Extended Multi-Regional InputAeOutput (EE-MRIO) - Global CGE Simulasi efek sistemik dari kebijakan CE . isalnya daur ulang nasional atau insentif mengukur indirect dan economy-wide rebound Menangkap leakage effects, rebound lintas negara, dan relokasi produksi. penting dalam Wirya Wardaya / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. - Hybrid I-O LCA global globalisasi CE . isalnya, daur ulang elektronik internasiona Sumber: Lowe, et al . , diolah Berdasarkan pada hasil literatur review, secara ringkas. Gap hasil studi literatur adalah sebagai berikut: Table 4. Pemetaan Gap pada literatur Rebound Effect Dalam Circular Economy Aspek Teori Temuan Literatur RE banyak dijelaskan dengan teori Jevons Paradox dan neoklasik . fisiensi Ie harga turun Ie konsumsi nai. Figge & Thorpe . memperluas RE ke aspek simbiosis antar perusahaan. Schultz et al. memperkenalkan memahami RE dari sudut tata kelola dan Identifikasi GAP Teori masih dominan ekonomi Minim integrasi teori perilaku, transisi sosioteknik, atau sustainability science Praktis Castro et al. dan Schryder et al. menyoroti minimnya strategi konkret untuk mitigasi RE dalam praktik Zink & Geyer . bahkan menyebut bahwa strategi CE sering tidak menarik bagi perusahaan karena risiko Tidak tersedia panduan atau tools mitigasi RE yang berbasis konteks . isalnya Implementasi kebijakan dan model bisnis CER secara sistematis. Level Analisis Lowe et al. dan Ferrante et al. CER berdasarkan level mikro, meso, makro. Namun, keterhubungan antar level belum dianalisis secara sistemik. Masih kurang model lintas bagaimana RE menyebar dari level mikro . ebijakan nasional/globa. Penggunaan Data Pendekatan Analisis Dimensi Waktu Mayoritas studi menggunakan data sekunder dan simulasi: LCA (Zink & Geyer, 2. Input-Output (Lowe et al. SDM. Hanya sedikit yang berbasis data empiris lapangan atau eksperimen (Ferrante et al. , 2024 menyebutkan ini sebagai kelemaha. Banyak studi menggunakan pendekatan kuantitatif: LCA. MFA. CGE. I-O (Lowe et al. , 2. Ferrante et al. mengembangkan peta konseptual untuk dimensi CER, namun minim pendekatan kualitatif atau partisipatif. Sebagian besar studi bersifat snapshot. Lowe et al. menyarankan perlunya pendekatan dinamis jangka panjang, namun belum banyak studi Minim riset dengan data primer dari pelaku industri, rumah tangga, atau konsumen. Belum ada basis data RE sektor spesifik. Masih jarang pendekatan mixed-methods Minim eksplorasi narasi RE dari sisi pelaku industri dan kebijakan secara langsung. Minim pendekatan jangka panjang atau longitudinal untuk menangkap dinamika RE dari waktu ke waktu . ath- Wirya Wardaya / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. yang menggunakan model longitudinal dependency, atau simulasi waktu nyata. Zink & Geyer . Lowe et al. Tidak ada satu indikator CER dan Castro et al. menyebut yang disepakati dan dapat Indikator pentingnya displacement ratio, rebound Kuantitatif elasticity, dan net resource savings. Penggunaan indikator masih Namun, belum ada standar indikator bervariasi dan kontekstual. yang disepakati. Sumber : Figge & Thorpe . Schultz et al. Castro et al. Schryder et al. Zink & Geyer . , (Lowe et al. , 2. , diolah. SIMPULAN Kajian ini tidak secara mendalam membahas tentang prinsip - prisip CE yang berupa 4R yang terus berkembang menjadi 9R. Pada latar belakang kajian ini lebih pada pandangan kritis tentang CE yang saat ini seringkali dan direkognisi sebagai tools Pembangunan berkelanjutan di berbagai negara. Tinjauan atas keterbatasan CE yang menyalahi konsep penting dalam ekonomi ekologi akan berpeluang untuk menghilangkan manfaat dari CE. Upaya kirits untuk menyampaikan rebound effect pada CE baru berkembang pada beberapa tahun terakhir dari temuan publikasi kajian. Lensa Ekonomi Ekologi penting untuk digunakan dimana masih menjadi gap teori dari studi-studi sebelumya dalam melakukan estimasi RE. Metode LCA dan pengembangan I Ae O adalah metode yang paling sering di gunakan, sementara metode ekonomemetrika masih belum banyak digunakan. Indikator rebound elasticity, dan net resource savings bisa digunakan sebagai arah penelitian kedepan untuk memperkaya literaur studi RE pada konteks CE. DAFTAR PUSTAKA