Hidayah : Cendekia Pendidikan Islam dan Hukum Syariah Volume. 2 Nomor. 2 Juni 2025 e-ISSN : 3089-5480. p-ISSN : 3089-5499. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/hidayah. Available online at: https://ejournal. id/index. php/Hidayah Debus: Tradisi Keagamaan dan Spiritualitas Islam di Banten Muhammad Fadzli1*. Albarra Gilang Andika2. Jullyandra Eka Putra3. Ahmad Maftuh Sujana4 Fakultas Ushuluddin dan Adab. Jurusan Ilmu Hadis. Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Indonesia Email: 241370024. fadzli@uinbanten. id1, 241370011. albarragilang@uinbanten. id 2, jullyandra@uinbanten. id3, maftuhsujana@gmail. *Korespondensi penulis: 241370024. fadzli@uinbanten. Abstract: Debus is one of the typical traditions and cultures of Banten that combines elements of art, religion and spirituality in one unit. The art of Debus began to be introduced around the 16th century which until now is still an artistic heritage in Banten so it is interesting when viewed in terms of the values contained in the art. This journal aims to examine the values contained in the Debus tradition in Banten and its relevance to Islamic This research is a qualitative research by combining two data acquisitions in the form of literature and field studies, this study found that the Debus art tradition contains several elements, such as art elements . artial arts movement. , religious elements . eading solawa. , and spiritual elements . awakal and selfsurrende. Keywords: Debus. Traditional Art of Banten. Ritual. Abstrak. Debus merupakan salah satu tradisi dan kebudayaan khas Banten yang menggabungkan unsur seni, keagamaan dan spiritual dalam satu kesatuan. Kesenian Debus mulai di kenalkan sekitar abad 16 yang sampai saat ini masih menjadi warisan kesenian yang ada di Banten sehingga menarik Ketika dilihat dari segi nilai yang terkandung dalam kesenian tersebut. Jurnal ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Debus di Banten serta relevansinya dengan ajaran islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggabungkan dua perolehan data berupa studi pustaka dan lapangan, penelitian ini menemukan bahwa tradisi kesenian Debus mengandung beberapa unsur, seperti unsur seni . erakan seni bela dir. , unsur keagamaan . embaca solawa. , dan unsur spiritual . awakal dan kepasrahan dir. Kata kunci: Debus. Kesenian Tradisional Banten. Ritual. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya lokal yang tumbuh dan berkembang selaras dengan nilai-nilai keagamaan. Salah satu warisan budaya yang masih eksis hingga saat ini adalah tradisi Debus yang berasal dari Provinsi Banten. Debus bukan sekadar pertunjukan seni bela diri ekstrem, tetapi mengandung unsur keagamaan dan spiritualitas yang kuat, terutama dalam konteks Islam. Tradisi Debus bukan hanya seni pertunjukan keberanian fisik yang menentang bahaya, namun melainkan memiliki warisan budaya, spiritual, dan sejarah yang mendalam. Debus juga bukan hanya seni tetapi Debus dapat pengaruh globalisasi, urbanisasi, dan kemajuan teknologi untuk membentuk kembali berbagai aspek Masyarakat, seperti budaya asli mereka. (Hakiki, 2. Debus merupakan warisan budaya khas Banten yang digunakan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa sebagai tanda identitas dan sebagai alat penyebaran agama Islam di pulau Jawa khususnya di provinsi Banten. Kesenian Debus yang merupakan Received: April 11, 2025. Revised: Mei 13, 2025. Accepted: Juni 01, 2025. Published: Juni 03, 2025 Debus: Tradisi Keagamaan dan Spiritualitas Islam di Banten cerminan dari kehidupan sehari-hari yang dilandasi dengan ucapan dan doa kepada Allah SWT, agar pemain yang melakukan gerakan yang melampaui akal manusia dapat berjalan dengan lancar dan selalu mendapat pertolongan, perlindungan dan keselamatan dari Allah SWT. (Putra et al. , 2. Namun, di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial yang cepat, keberadaan Debus menghadapi tantangan dalam mempertahankan nilai-nilai Tidak jarang, makna spiritual dan religius dalam Debus mulai terpinggirkan oleh orientasi hiburan semata. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji ulang Debus sebagai tradisi yang tidak hanya mencerminkan kebudayaan lokal, tetapi juga sarat akan nilai-nilai keislaman dan ketauhidan. (Muhammad Hudaeri, 2. Debus dulunya digunakan untuk menyebarkan agama Islam, dengan pemain debus melantunkan doa atau pujian kepada Nabi Muhammad sebelum mereka melakukan atraksi. Kemudian berubah menjadi membangkitkan semangat rakyat Banten untuk berjuang melawan penjajah. Pada akhirnya, debus sebagai cara untuk menentang penjajah mulai berkurang saat Kesultanan Banten diambil alih oleh Sultan Ageng Tirtayasa, hingga hampir Pada tahun 1960-an, debus muncul kembali, tetapi bukan sebagai senjata untuk melawan penjajah, tetapi sebagai seni dan menjadi identitas masyarakat Banten. Selain debus, ada juga yang merupakan identitas Banten, seperti desa Baduy yang terletak di salah satu kecamatan Banten. Namun, debus sebagai ciri khas masyarakat Banten telah mengalami Ketika debus, sebuah seni yang dianggap memiliki hubungan dengan hal-hal magis, kepercayaan masyarakat pada hal-hal magic semakin memudar. Dengan demikian, kesenian debus semakin tidak diminati masyarakat. Saat ini, debus hanya diajarkan dalam padepokan-padepokan. Hanya pada acara pernikahan, sunatan, dan pertunjukan untuk wisatawan seni debus ditampilkan. (Yosef Calasanza & Gunawan, 2. (Sholahuddin Al Ayubi, n. ) AuAgama dan Tradisi Lokal Banten: Studi Ritualitas Panjang Mulud di Serang BantenAy Penelitian artikel ini memakai metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sejarah Panjang Mulud. Penulis melakukan kajian pustaka terhadap berbagai literatur budaya banten untuk menguraikan konsep debus secara sistematis. Penulis menyoroti bahwa dalam pandangan agama Islam, budaya merupakan warna dari perbedaan yang boleh di lakukan namun tidak bertentangan dengan norma-norma ataupun syariat Islam. Sebagaimana (QS. Al-Hujurat: . AuWahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian. Kami menjadikan kamu berbangsabangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti. Ay HIDAYAH - VOLUME. 2 NOMOR. 2 JUNI 2025 e-ISSN : 3089-5480. p-ISSN : 3089-5499. Hal. Kerangka berpikir pada penelitian ini berawal dari AuDebus: Tradis Keagamaan Dan Spritualitas Islam Di BantenAy yang menunjukkan bagaimana praktik-praktik budaya lokal dapat menjadi sarana ekspresi keagamaan dan spiritualitas Islam yang khas di Banten. Seperti halnya Debus yang mengandung unsur keislaman dan simbol-simbol spiritual, ritual Panjang Mulud di Serang juga merepresentasikan bentuk akulturasi antara ajaran Islam dan tradisi Penelitian ini berangkat dari anggapan bahwa Panjang Mulud tidak sekadar perayaan kelahiran Nabi, tetapi juga merupakan wujud integrasi nilai-nilai Islam dalam budaya masyarakat Banten. Dengan demikian, kerangka berpikir ini menempatkan Panjang Mulud sebagai bagian dari proses internalisasi Islam melalui jalur budaya, sebagaimana Debus menjadi bagian dari spiritualitas Islam yang berbasis lokalitas. (Pradila & Iman, n. Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian sebelumnya, yaitu sama-sama membahas budaya banten dalam agama, namun terdapat perbedaan fokus diantara keduanya. Penelitian sebelumnya membahas budaya panjang maulud di Banten, sedangkan penelitian ini membahas budaya debus di Banten dalam agama. Permasalah utama dalam penelitian ini adalah pandangan agama Islam pada tradisi debus yang ada di Banten, sehingga pertanyaan utamanya adalah : Bagaimana pandangan agama Islam dalam menelaah tradisi debus banten? Secara teoritis, penelitian ini diharapkan untuk mengeksplorasi Debus sebagai tradisi keagamaan dan spiritual di Banten, dengan menyoroti unsur-unsur Islam yang terkandung di dalamnya, serta relevansinya dalam menjaga identitas keagamaan masyarakat di era modern. Sementara secara praktis, penelitian ini diharapkan menjadi langkah awal untuk pengkajian lebih mendalam tentang tradisi debus Banten dalam pandangan Islam. METODE Penelitian ini menggunakan melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (Library Researc. Data dikumpulkan dari berbagai sumber yang dapat Seperti buku, jurnal ilmiah, skripsi dan dokumen relevan yang berkaitan dengan Fenomena Politik Money dalam Perspektif Hadis. (Adlini et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Debus dikenal sebagai kesenian masyarakat Banten yang berkembang sejak abad ke 16 hingga ke 18 pada masa kerajaan Banten Ketika pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin . 2 hingga 1. Debus juga menjadi sarana untuk penyebaran agama Islam. Debus dalam bahasa Arab merujuk pada senjata tajam yang terbuat dari besi, memiliki ujung yang Debus: Tradisi Keagamaan dan Spiritualitas Islam di Banten runcing dan berbentuk sedikit bunder. Debus menjadi salah satu bagian ragam seni budaya masyarakat Banten sehingga kesenian ini banyak digemari oleh masyarakat sebagai hiburan yang langka dan menarik. Jika Debus dilihat dari pertunjukan permainannya. Debus memadukan atraksinya dengan ilmu kekebalan dan senjata tajam, ini yang membuat Debus terdapat unsur magis juga ada hubungannya dengan praktek ritual atau ibadah yang menganggap adanya magis tersebut. (Pradila & Iman, n. Dalam perkembangan sejarahnya. Debus tidak sekadar dipahami sebagai pertunjukan fisik yang ekstrem, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai-nilai Islam dan latihan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tradisi Debus merupakan seni pertunjukan yang memiliki daya tarik tersendiri bagi Masyarakat, khususnya Masyarakat Banten. Pertunjukan ini menampilkan aksi-aksi yang menantang logika, seperti menusuk bagian tubuh dengan benda tajam, menyayat kulit tanpa terluka, makan beling, serta aksi-aksi kekebalan lainnya. Semua aksi tersebut dilakukan dengan iringan musik tradisional seperti terbang gede dan rebana, yang dibarengi dengan lantunan zikir atau shalawat, menciptakan atmosfer pertunjukan yang sakral namun tetap estetik secara visual dan auditori. (Indah Rahmawati, 2. Kesenian Debus menjadi salah satu representasi budaya masyarakat Banten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung pesan-pesan moral dan historis yang kuat. Tidak hanya kesenian. Debus juga tidak bisa di lepaskan dari akar kegamaannya, terutama agama Islam. Sejarah mencatat bahwa Debus berkembang dari ajaran tarekat terutama Tarekat Qadiriyyah dan RifaAoiyyah yang dibawa oleh para ulama ke wilayah Banten. Debus digunakan sebagai sarana dakwah dan penguatan keimanan masyarakat terhadap ajaran Islam. (Ria Andayani, 2. Ritual-ritual dalam Debus seperti doa pembuka, pembacaan ayat suci Al- QurAoan, zikir, serta wirid yang dibacakan sebelum pertunjukan, semuanya mengandung nilai-nilai religius. Dalam konteks ini. Debus bukan hanya menjadi alat pertunjukan fisik semata, namun juga sebagai manifestasi dari keimanan dan pengamalan ajaran Islam dalam bentuk budaya. (Yudi Setiadi, 2. Selain sebagai kesenian dan sarana dakwah. Debus juga merupakan bentuk latihan spiritual bagi para pelakunya. Para pemain Debus biasanya menjalani proses pembinaan batin yang intens, seperti puasa, tirakat, zikir berkepanjangan, serta berbagai laku spiritual lain yang bertujuan untuk meningkatkan kedekatan diri kepada Allah. (Ridwan, 2. Masyarakat Banten meyakini bahwa kekuatan dan kekebalan tubuh para pemain Debus tidak berasal dari kekuatan fisik semata, melainkan merupakan karunia dari Allah sebagai HIDAYAH - VOLUME. 2 NOMOR. 2 JUNI 2025 e-ISSN : 3089-5480. p-ISSN : 3089-5499. Hal. hasil dari keikhlasan, keyakinan, dan latihan spiritual yang dilakukan dengan penuh Keyakinan inilah yang memperkuat nilai-nilai spiritual dalam tradisi Debus dan menjadikannya bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. (Iis Sulastri, 2. Sebagai praktik keagamaan. Debus memiliki unsur-unsur ritual yang penuh dengan nuansa spiritual Islam. Sebelum pertunjukan Debus dimulai, para pelaku biasanya menjalani proses pencucian diri melalui membaca wirid dan dzikir tertentu yang diajarkan oleh guru spiritual atau mursyid, puasa sunnah, dan mandi besar . andi waji. Proses Debus terdiri dari doa dan bacaan ayat-ayat Al-Qur'an. Beberapa ayat yang sering dibaca termasuk Surah Al-Ikhlas. Al-Falaq. An-Nas, dan ayat kursi (Al-Baqarah: . Banyak orang menganggap pembacaan ini sebagai cara untuk melindungi iman mereka dan memperkuat iman mereka kepada Allah SWT. Taziyatun nafs . enyucian jiw. dan cara mendekatkan diri kepada Tuhan dapat dicapai melalui lantunan dzikir, baik secara individu maupun berjamaah. Ini menunjukkan bahwa praktik Debus berasal dari tradisi sufistik, yang menekankan pengendalian hawa nafsu dan peningkatan spiritualitas. (Rahmat, 2. Dengan adanya kesenian debus ini tidak terlepas dari pengaruh keislaman dan budaya lokal sehingga terjadinya akulturasi yang menghasilkan kekayaan dalam budaya lokal Banten. Debus telah menjadi komponen penting dari identitas kultural Banten. Sebagai warisan budaya yang telah bertahan selama berabad-abad. Debus dimaknai sebagai lebih dari sekedar seni pertunjukan atau bela diri. Ini juga dianggap sebagai simbol keberanian, iman, dan keislaman masyarakat setempat. Di banyak daerah Banten. Debus ditampilkan dalam berbagai acara keagamaan dan adat istiadat, termasuk peringatan Maulid Nabi, perayaan Hari Besar Islam, dan perayaan besar masyarakat. Kemampuan Debus untuk membangun solidaritas komunitas menunjukkan fungsi sosialnya. Pertunjukan ini sering diselenggarakan secara kolektif oleh masyarakat, mempererat hubungan sosial. Namun, nilai-nilai spiritual yang dia praktikkan, seperti tawakal . erserah dir. , sabar, dan iman yang kuat kepada Allah, menunjukkan fungsi religiusnya. Sebagian besar pemain Debus menjalani proses spiritual yang ketat, termasuk puasa, zikir, dan doa. (Aslam Nur, 2. Meskipun memiliki dasar keagamaan dan sejarah yang kuat. Debus dipandang dengan cara yang berbeda oleh para ulama dan orang-orang di masyarakat. Selama masih berada dalam konteks ajaran Islam yang tidak bertentangan dengan hukum, beberapa ulama tradisional melihat Debus sebagai bagian dari dakwah kultural yang legal. Mereka menekankan bahwa prinsip-prinsip Debus, seperti keberanian, keteguhan iman, dan keikhlasan, sesuai dengan ajaran tasawuf. Namun demikian, praktik Debus dikritik oleh ulama yang berpandangan lebih skripturalis atau puritan karena dianggap dapat membawa Debus: Tradisi Keagamaan dan Spiritualitas Islam di Banten unsur mistik, khurafat, atau bahkan syirik jika tidak dikontrol dengan baik. Kritik ini juga datang dari sebagian orang terdidik di kota-kota yang menganggap Debus tidak relevan lagi dengan kehidupan Islam modern yang rasional dan kontemporer. Pro-kontra ini menggambarkan adanya dinamika dalam cara masyarakat memaknai warisan budaya Islam lokal seperti Debus, serta bagaimana nilai-nilai agama dikontekstualisasikan dalam ruang sosial yang terus berubah. (Lukman Hakim, 2. KESIMPULAN Debus merupakan salah satu ekspresi khas spiritualitas Islam yang tumbuh dan berkembang dalam konteks budaya lokal masyarakat Banten. Praktik ini tidak hanya mencerminkan dimensi fisik dari seni bela diri, tetapi juga mengandung kedalaman nilai-nilai keagamaan yang berasal dari tradisi tasawuf dan tarekat Islam. Sebagai warisan budaya religius. Debus memperlihatkan bagaimana masyarakat Muslim Banten mengintegrasikan ajaran Islam dalam bentuk yang kontekstual, simbolik, dan menyentuh aspek sosial-keagamaan secara menyeluruh. Nilai-nilai seperti tawakal, dzikir, ketakwaan, dan keikhlasan menjadi fondasi utama dari praktik ini, yang kemudian diwujudkan melalui ritual dan atraksi yang memiliki makna spiritual mendalam. Namun demikian, dalam menghadapi perkembangan zaman dan tantangan ideologis-keagamaan kontemporer, diperlukan pendekatan yang moderat dan kultural dalam memahami praktik Debus. Pendekatan ini memungkinkan adanya penghargaan terhadap tradisi Islam lokal tanpa mengabaikan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam yang murni. DAFTAR PUSTAKA