https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . DOI: https://doi. org/10. 31599/g169j321 https://creativecommons. org/licenses/by/4. Psikoedukasi Time Management untuk Mengatasi Work Life Balance Buruh Pabrik dengan Budaya Kolektivis Inayah Bachtiar1. Ira Silvani Br Pinem2. Khodijah Laila Miladiyah3. Ruth Mega Mutiara Sitorus4. Selly Astriana5 Universitas Sebelas Maret. Jawa Tengah. Indonesia, inayahbachtiar181@student. Universitas Sebelas Maret. Jawa Tengah. Indonesia, irasilvani@student. Universitas Sebelas Maret. Jawa Tengah. Indonesia, lalamiladiyah447@student. Universitas Sebelas Maret. Jawa Tengah. Indonesia, ruthmega@student. Universitas Sebelas Maret. Jawa Tengah. Indonesia, sellyastriana19@gmail. Corresponding Author: inayahbachtiar181@student. Abstract: Factory workers in the MSME sector often face irregular work demands, collectivist socio-cultural pressures, and limited time management skills. These conditions make them vulnerable to work-life imbalance. Based on these issues, a psychoeducational activity was conducted to assess the effectiveness of the Work-Life Balance and Time Management intervention in improving workers' understanding and skills in managing their daily roles. The target group was 21 workers at the Barokah Cracker Factory in Situbondo. The activity was conducted over two days through psychoeducation using material delivery methods, focus group discussions (FGD. , and educational games. This approach was chosen so that participants not only understood the concepts theoretically but also were able to apply them in their work activities. To assess changes in understanding, the activity used a Quasi-Experimental One Group Pretest-Posttest design, with pre- and postintervention measurements using an adapted Work-Life Balance and Time Management The results showed an increase in the average work-life balance score from 2. 80 to 15 and in time management from 2. 41 to 2. A paired sample t-test showed a significant difference in both variables . = 0. Simple regression analysis showed that time management significantly influenced work-life balance (F = 4. p = 0. with a contribution of 48. 1% (RA = 0. This activity provided benefits in the form of increased worker awareness in determining priorities, managing time, and maintaining personal wellbeing. Overall, psychoeducation proved effective and relevant in supporting the improvement of worker work quality in a collectivist culture. 26 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . Keywords: Work Life Balance. Time Management. Psychoeducation. Labor. Collectivist Culture. Abstrak: Buruh pabrik pada sektor UMKM sering menghadapi tuntutan kerja yang tidak teratur, beban sosial-budaya kolektivis, serta keterbatasan keterampilan dalam mengelola Kondisi tersebut membuat mereka rentan mengalami ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Berdasarkan permasalahan ini, kegiatan psikoedukasi dilaksanakan untuk melihat efektivitas intervensi Work Life Balance dan Time Management dalam meningkatkan pemahaman serta keterampilan buruh dalam mengatur peran sehari-hari. Sasaran kegiatan terdiri dari 21 buruh Pabrik Kerupuk Barokah Situbondo. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari melalui psikoedukasi menggunakan metode penyampaian materi. FGD/permainan edukatif. Pendekatan ini dipilih agar peserta tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam aktivitas kerja. Untuk melihat perubahan pemahaman, kegiatan menggunakan desain Quasi-Experiment One Group Pretest-Posttest dengan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi menggunakan skala Work Life Balance dan Time Management yang sudah Hasil menunjukkan peningkatan skor rata-rata work-life balance dari 2,80 menjadi 3,15 dan time management dari 2,41 menjadi 2,92. Uji paired sample t-test menunjukkan perbedaan signifikan pada kedua variabel . = 0,. Analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa time management berpengaruh signifikan terhadap work life balance (F = 4,192. p = 0,. dengan kontribusi 48,1% (RA = 0,. Kegiatan ini memberikan manfaat berupa meningkatnya kesadaran buruh dalam menentukan prioritas, mengelola waktu, serta menjaga kesejahteraan diri. Secara keseluruhan, psikoedukasi terbukti efektif dan relevan untuk mendukung peningkatan kualitas kerja buruh dalam budaya kolektivis. Kata Kunci: Work Life Balance. Time Management. Psikoedukasi. Buruh. Budaya Kolektivis PENDAHULUAN Work-life balance merupakan kondisi ketika individu mampu menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan kehidupan pribadi secara harmonis. Ketidakseimbangan antara kedua peran tersebut berisiko menimbulkan stres kerja, kelelahan emosional, penurunan kesejahteraan psikologis, serta berpengaruh terhadap performa kerja individu (Mostafa. Pada sektor informal dan UMKM, tantangan dalam mencapai work-life balance cenderung lebih kompleks karena batas antara jam kerja dan kehidupan pribadi sering tidak jelas, beban kerja bersifat fluktuatif, serta minimnya regulasi formal (Susanto et al. Penelitian menunjukkan bahwa pekerja dengan tingkat work-life balance yang rendah memiliki kecenderungan mengalami konflik peran yang lebih tinggi dan kepuasan kerja yang lebih rendah (Handayani, 2. Upaya untuk mencapai work-life balance tidak dapat dilepaskan dari kemampuan individu dalam mengelola waktu. Time management dipahami sebagai keterampilan dalam merencanakan, mengatur, serta memprioritaskan aktivitas secara efektif agar tujuan dapat tercapai secara optimal. Meta-analisis yang dilakukan oleh Aeon et al. menunjukkan 27 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . bahwa kemampuan manajemen waktu berhubungan secara signifikan dengan peningkatan performa kerja dan kesejahteraan psikologis serta penurunan distress. Dalam konteks pekerjaan industri, praktik manajemen waktu yang baik berkontribusi terhadap efisiensi penyelesaian tugas, pengendalian beban kerja, serta peningkatan kontrol individu terhadap jadwal kerja (Ferreira et al. , 2. Di Indonesia, penelitian pada pekerja manufaktur juga menemukan bahwa manajemen waktu yang kuat berkorelasi dengan produktivitas kerja yang lebih tinggi (Adi & Ratnaningsih, 2. Keterkaitan antara time management dan work-life balance menjadi semakin penting ketika diterapkan pada pekerja sektor UMKM. Fleksibilitas kerja yang tinggi pada UMKM sering kali tidak diimbangi dengan keterampilan pengelolaan waktu yang memadai, sehingga pekerja rentan mengalami ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi (Susanto et al. , 2. Tanpa kemampuan mengatur prioritas yang baik, fleksibilitas justru dapat memicu tumpang tindih peran, keterlambatan pekerjaan, serta meningkatnya konflik di lingkup kerja dan keluarga. Oleh karena itu, penguatan keterampilan manajemen waktu menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung terciptanya work-life balance yang sehat pada pekerja UMKM. UMKM sendiri merupakan sektor yang mendominasi struktur ekonomi Indonesia dan menjadi ruang kerja utama bagi masyarakat di wilayah pedesaan. Salah satu bentuk UMKM tersebut adalah industri rumahan seperti pabrik kerupuk yang memiliki karakteristik kerja fleksibel, intensitas fisik tinggi, serta minim regulasi formal terkait jam kerja maupun pembagian waktu kerja dan kehidupan pribadi. Kondisi ini semakin kompleks ketika UMKM berada dalam lingkungan sosial dengan budaya kolektivis yang kuat. Pada wilayah seperti Situbondo yang mayoritas penduduknya berasal dari suku Madura, nilai-nilai kolektivisme masih sangat kental, seperti kewajiban menghadiri acara keluarga, rewang, membantu tetangga, serta keterlibatan dalam kegiatan sosial-keagamaan (Pratiwi & Suhariadi, 2. Budaya kolektivis tersebut membentuk pola perilaku kerja masyarakat yang cenderung lebih memprioritaskan kepentingan sosial dibandingkan tuntutan kerja formal. Penelitian menunjukkan bahwa tekanan norma sosial dalam masyarakat kolektivis berkontribusi terhadap meningkatnya konflik peran dan gangguan kehidupan sosial terhadap pekerjaan (Dewi et al. , 2020. Widyasari, 2. Dalam konteks buruh UMKM, kondisi ini sering tercermin dalam ketidakteraturan kehadiran, perubahan jam kerja secara mendadak, serta terhambatnya proses produksi. Ketika pekerja belum memiliki keterampilan manajemen waktu yang memadai, tuntutan sosial yang kuat semakin menyulitkan tercapainya work-life balance yang seimbang. Berdasarkan kondisi tersebut, penguatan pemahaman mengenai work-life balance dan time management menjadi kebutuhan penting bagi buruh UMKM yang hidup dalam budaya kolektivis. Intervensi dalam bentuk psikoedukasi dipandang sebagai pendekatan yang relevan untuk meningkatkan literasi pekerja mengenai pengelolaan waktu dan keseimbangan peran. Psikoedukasi terbukti mampu meningkatkan kemampuan regulasi diri, penetapan prioritas, serta kesadaran akan batas antara kewajiban kerja dan kehidupan pribadi (Nurdin et al. , 2. Oleh karena itu, melalui program KKN di Pabrik Kerupuk Barokah Situbondo, dilakukan intervensi psikoedukasi work-life balance dan time management yang disesuaikan dengan konteks budaya lokal. Program ini diharapkan 28 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . dapat membantu buruh mengelola tuntutan pekerjaan dan sosial secara lebih adaptif serta mendukung keberlangsungan produktivitas UMKM. GAMBARAN LOKASI PELAKSANAAN Lokasi Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Pabrik Kerupuk Barokah yang berlokasi di Desa Olean. Kabupaten Situbondo. Provinsi Jawa Timur. Desa Olean merupakan wilayah pedesaan yang juga cukup dekat dengan daerah pesisir, dengan aktivitas ekonomi yang didominasi oleh sektor pariwisata dan pemanfaatan potensi alam lokal melalui cara konvensional. Salah satu contoh pemanfaatan alam lokal tersebut adalah adanya UMKM Pabrik Kerupuk Barokah, yang beroperasi sebagai industri rumahan dengan melibatkan buruh lokal melalui sistem kerja fleksibel dan minim regulasi formal terkait jam kerja. Masyarakat Desa Olean mayoritas berasal dari suku Madura yang masih memegang kuat nilai budaya kolektivis, seperti solidaritas sosial, kewajiban menghadiri kegiatan keluarga dan keagamaan, serta saling membantu antarwarga. Kondisi sosial-budaya ini memengaruhi pola kerja buruh yang kerap harus menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan kewajiban sosial. Potensi utama lokasi pelaksanaan terletak pada kedekatan sosial antarburuh, suasana kerja yang bersifat kekeluargaan, serta fleksibilitas kerja yang memungkinkan penerapan keterampilan time management dan work-life balance secara kontekstual. Karakteristik tersebut mendukung pelaksanaan psikoedukasi yang partisipatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari buruh UMKM di Desa Olean. Gambar 1. Peta Lokasi Pelaksanaan Sumber: Google Maps METODE Pelaksanaan kegiatan psikoedukasi dilakukan selama dua hari di Pabrik Kerupuk Barokah Situbondo sebagai bagian dari program pelaksanaan KKN. Kegiatan Disusun berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara informal dengan buruh serta pemilik pabrik untuk mengidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan work life balance dan time management. Penelitian ini menggunakan desain Quasi-Experiment One Group Pretest-Posttest yaitu desain yang melakukan pengukuran awal . pada satu kelompok peserta, 29 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . kemudian memberikan pelatihan sebagai bentuk intervensi, dan diikuti dengan pengukuran akhir . (William & Hita, 2. dengan instrumen yang telah diadaptasi dari skala Work Life Balance (Fisher, 2009. Ummah, 2. dan skala Time Management (Macan, 1994. Aprilia, 2. Desain ini dipilih karena jumlah peserta yang terlibat terdiri dari 21 orang sehingga tidak memungkinkan untuk membagi mereka menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Selain itu, metode yang digunakan meliputi psikoedukasi untuk membantu peserta memahami mengenai konsep dasar work life balance dan time management secara menyeluruh dan disertai contoh-contoh yang relevan dengan rutinitas pekerja. Selain penyampaian materi, juga adanya FGD/permainan edukatif yang digunakan sebagai sarana praktik bagi peserta. Hari Tabel 1. Rundown Kegiatan Kegiatan Durasi Hari 1 Pretest & Sosialisasi Psikoedukasi Work Life Balance 50 menit Hari 1 FGD atau Permainan pengelompokan aktivitas 30 menit Hari 2 Sosialisasi Psikoedukasi Time Management 30 menit Hari 2 FGD atau Permainan klasifikasi Posttest 30 menit Hari 2 20 menit HASIL DAN PEMBAHASAN Pengolahan data dilakukan dengan menganalisis hasil pre-test dan post-test yang diberikan kepada para buruh untuk mengukur efektivitas program serta mengevaluasi perubahan pemahaman terkait work-life balance dan time management. Sebanyak 21partisipan mengikuti pre-test dan post-test pada hari pertama maupun kedua pelaksanaan, sehingga seluruh partisipan memenuhi kriteria analisis. Tabel 2. Hasil Uji Normalitas-1 Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti program. Pada aspek work-life balance, skor rata-rata pre-test sebesar 2,80 meningkat menjadi 3,15 pada post-test. Uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk menunjukkan nilai Sig. pada pre-test = 0,141 dan nilai Sig. pada post-test sebesar 0,413. Kedua nilai tersebut memenuhi kriteria (Sig. ) > 0,05, sehingga data dinyatakan berdistribusi normal. 30 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . Tabel 3. Hasil Uji Paired Sample T-Test-1 Selanjutnya, uji paired sample t-test pada skor pre-test memiliki nilai Sig. sebesar 0,141, sedangkan skor post-test memiliki nilai Sig. sebesar 0,413. Uji normalitas menghasilkan nilai signifikansi 0,000, yang menunjukkan adanya perbedaan skor sebelum dan sesudah intervensi. Tabel 4. Hasil Uji normalitas-2 Peningkatan juga terlihat pada aspek manajemen waktu, di mana rata-rata skor bertambah dari 2,41 menjadi 2. 92 setelah program. Hasil uji normalitas kembali menunjukkan distribusi kedua skor memiliki nilai (Sig. ) > 0,05. Sig. pada pre-test = 0,112 dan nilai Sig. pada post-test sebesar 0,326. sehingga data berdistribusi normal. Kemudian uji t-test menghasilkan nilai Sig. -taile. yaitu 0,000. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa program yang diberikan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan hasil peserta. Berikutnya analisis SPSS dilakukan untuk mengukur pengaruh Time Management terhadap Work Life Balance. Dikarenakan jumlah sampel kurang dari 50 responden, maka digunakan uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk. Tabel 6. Hasil Uji Normalitas Output menunjukkan nilai Sig. pada variabel Time Management = 0,413 dan nilai Sig. pada Work Life Balance sebesar 0,326. Kedua nilai tersebut memenuhi kriteria (Sig. > 0,05, sehingga data dinyatakan berdistribusi normal dan memenuhi asumsi analisis Selanjutnya, uji linearitas dilakukan untuk melihat kesesuaian hubungan antar Tabel 7. Hasil Uji Linearitas Berdasarkan output ANOVA Table, hasil uji linearitas nilai signifikansi pada baris Deviation from Linearity sebesar 0,721, yang lebih besar dari 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan linear antara Time Management dan Work Life Balance. Analisis dilanjutkan dengan regresi linear sederhana untuk mengetahui pengaruh variabel Time Management terhadap Work Life Balance. 31 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . Tabel 8. Hasil Uji Regresi Linear Sederhana-1 Hasil menunjukkan nilai F hitung = 4,192 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Nilai signifikansi < 0. 05, maka Time Management berpengaruh signifikan terhadap Work Life Balance. Dengan demikian, hipotesis penelitian diterima. Tabel 9. Hasil Uji Regresi Linear Sederhana-2 Berdasarkan output pada tabel Model Summary, diperoleh nilai R Square . oefisien determinas. sebesar 0,481. Ini mengindikasikan bahwa pengaruh variabel manajemen waktu terhadap Work-Life Balance sebesar 48,1%. Sementara itu, sisanya sebesar 51,9% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian ini. Selain kuesioner, wawancara singkat dilakukan terhadap lima buruh. manajemen waktu, terutama penetapan prioritas, paling mudah dipahami dan dianggap relevan dengan pekerjaan mereka. Materi tersebut membantu buruh dalam mengatur urutan tugas secara lebih fokus. Konsep work-life balance juga dipahami sebagai wawasan Beberapa buruh mulai menunjukkan perubahan awal seperti membuat rencana harian, mengurangi penundaan, dan mempertimbangkan prioritas sebelum pulang kerja. Meskipun begitu, tanggung jawab rumah tangga dan kebutuhan keluarga yang mendadak masih menjadi tantangan dalam penerapannya secara konsisten. Program psikoedukasi manajemen waktu berbasis work life balance yang dilakukan menunjukkan hasil yang selaras dengan kerangka teori work life balance dan manajemen Fisher et al. menyebutkan bahwa work life balance melibatkan empat dimensi yaitu gangguan kerja terhadap kehidupan pribadi (WIPL), gangguan kehidupan pribadi terhadap pekerjaan (PLIW), peningkatan kerja terhadap kehidupan pribadi (WEPL), dan peningkatan kehidupan pribadi terhadap pekerjaan (PLEW) Sementara itu, menurut Macan . , perilaku manajemen waktu terdiri atas empat faktor utama yaitu: penetapan tujuan dan prioritas, mekanis perencanaan dan penjadwalan, persepsi kontrol waktu dan preferensi terhadap disorganisasi. Dalam konteks buruh pabrik yang dilakukan, penguatan keempat faktor ini melalui psikoedukasi diharapkan meningkatkan efisiensi pekerja dalam mengatur waktu dan mengurangi perilaku kurang terstruktur. Program yang dilakukan mengajarkan strategi manajemen waktu untuk meminimalkan intervensi antar dimensidimensi tersebut sehingga dapat mendukung tercapainya work life balance yang sehat (Gunawan et al. , 2. 32 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . Hasil evaluasi kuantitatif menunjukkan adanya pengaruh manajemen waktu terhadap work life balance pada buruh pabrik. Secara kuantitatif, data pra dan pasca psikoedukasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap kedua variabel setelah mendapatkan psikoedukasi. Rata-rata skor work life balance meningkat dari 2,80 menjadi 3,15 sedangkan skor manajemen waktu meningkat dari 2,41 menjadi 2,92. Uji normalitas dilakukan pada pre-test dan post-test kedua aspek dan berdistribusi normal. Dalam mengukur pengaruh manajemen waktu terhadap work life balance uji normalitas dilakukan dan asumsi normalitas terpenuhi sehingga interpretasi parametrik dapat dilakukan, dengan nilai Sig. Shapiro-Wilk variabel Work Life Balance = 0,326 dan Time Management = 0,413. Uji paired sample t-test menghasilkan signifikansi 0,000 untuk kedua aspek yang menunjukkan adanya perubahan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Sementara analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa manajemen waktu memberikan pengaruh sebesar 48,1% terhadap work life balance (RA = 0,481. F = 4,192. p = 0,. , dan hubungan antar variabel bersifat linear . eviation from linearity p = 0,. Adanya koefisien determinasi yang relatif substansial yaitu 48,1% menunjukkan bahwa manajemen waktu merupakan prediktor penting bagi work life balance dalam populasi ini, namun bukan menjadi satu-satunya faktor. Sementara sekitar 51,9% work life balance dipengaruhi oleh faktor lain, seperti tekanan keluarga, norma sosial, dan kondisi Dalam komunitas kolektivis seperti di Situbondo dengan mayoritas bersuku Madura, kewajiban sosial seperti rewang, acara keluarga ataupun kegiatan keagamaan seringkali memaksa adanya penyesuaian terhadap jadwal kerja. Sehingga peningkatan kemampuan individu saja belum selalu cukup untuk sepenuhnya menormalkan work-life Refleksi kualitatif peserta turut memperkuat data kuantitatif. Beberapa peserta melaporkan bahwa materi psikoedukasi memudahkan mereka dalam mengidentifikasi tugas prioritas harian dan mengatur jadwal. Sebagian peserta juga menyatakan lebih mampu menyeimbangkan waktu kerja dengan istirahat dan waktu keluarga. Pernyataan ini konsisten dengan (Indriyani et al. , 2. yang menyatakan bahwa psikoedukasi manajemen diri yang menyangkut manajemen waktu memperkuat motivasi dan keterampilan praktis pekerja. Dengan kata lain, pemberian materi tidak hanya meningkatkan pengetahuan pemahaman konsep, tetapi juga mengubah sikap dan perilaku peserta terkait pengelolaan waktu sehari-hari. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan pengaruh metode psikoedukasi bagi Meningkatnya pengetahuan buruh mengenai manajemen waktu dan work-life balance menunjukkan dampak positif terhadap kesejahteraan psikologis peserta. Astrawan et al. mengemukakan bahwa beban kerja yang tinggi cenderung memicu stres kerja yang mengganggu kesejahteraan, sehingga mengajarkan manajemen waktu menjadi penting sebagai upaya pencegahan. Hal ini juga sejalan dengan temuan milik (Peykar et al. , 2. dimana pelatihan manajemen waktu secara signifikan mengurangi konflik kerja-keluarga . ork-family conflic. , sehingga turut meningkatkan work life Secara keseluruhan, menunjukkan bahwa intervensi psikoedukasi tidak hanya meningkatkan pengetahuan peserta, tetapi penguatan manajemen waktu melalui 33 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . psikoedukasi merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan work life balance pada buruh industri rumahan. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui program psikoedukasi work-life balance dan time management yang dilaksanakan di Pabrik Kerupuk Barokah Situbondo telah berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif bagi buruh sebagai mitra Berdasarkan hasil evaluasi pretest dan posttest, terdapat peningkatan pemahaman buruh mengenai pentingnya pengelolaan waktu, penetapan prioritas, serta keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa psikoedukasi yang diberikan mampu meningkatkan kesadaran kognitif buruh terhadap pengelolaan aktivitas kerja dan non-kerja secara lebih terarah. Selain peningkatan pemahaman secara kuantitatif, hasil refleksi kualitatif juga menunjukkan adanya perubahan awal dalam sikap dan perilaku buruh, seperti mulai menyusun rencana kerja harian, mempertimbangkan skala prioritas sebelum meninggalkan pekerjaan, serta mengurangi kecenderungan menunda tugas. Meskipun demikian, penerapan manajemen waktu secara konsisten masih menghadapi tantangan, terutama terkait dengan kuatnya tuntutan keluarga dan kewajiban sosial yang melekat dalam budaya kolektivis masyarakat Situbondo. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini membuktikan bahwa psikoedukasi merupakan pendekatan yang relevan dan aplikatif untuk meningkatkan pemahaman buruh UMKM mengenai work-life balance dan time management dalam konteks budaya Program ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran buruh untuk mengelola peran kerja dan kehidupan pribadi secara lebih seimbang. Ke depannya, diperlukan pendampingan lanjutan serta dukungan dari pihak pengelola UMKM agar keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam aktivitas kerja sehari-hari. REFERENSI