Sophia Dharma: Jurnal Filsafat, Agama Hindu, dan Masyarakat e-ISSN: 2829-6958 * https://e-journal.iahn-gdepudja.ac.id/ Volume 8 Nomor 2, Oktober 2025 PENGABDIAN RELIGIUS (BHAKTI) SEBAGAI RESPON TERHADAP MITOLOGI RAPAT PARA DEWA (DÉWA MAPASAMUHAN) DALAM KIDUNG WARGASARI I Putu Suweka Oka Sugiharta1, Ni Nengah Sudarsini2 Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar1 Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram2 suwekaoka@gmail.com1, ngahsudarsini@gmail.com2 Keywords: Bhakti, Dewa Mapasamuhan Mythology, Kidung Wargasari Abstract When the role of religion is confused by worldly elements, education cannot carry out its role properly. The aspirations of most humans are no longer to become human beings with noble character but to shift towards material orientations. Education was also affected and led to mercantilism. Many educational centers are then imaged as business centers rather than character building places. Religious devotion is a damper for the explosion of egoism in humans. In Hinduism religious service is called bhakti. This term is contained in many religious texts, including the Kidung Wargasari. The purpose of this research is to get an in-depth description of Religious Service Education (bhakti) in the Kidung Wargasari. The method used in this research is a qualitative method with content analysis in the text. The results of this study are that in the Kidung Wargasari there is self-devotion education (bhakti) such as devotion as educational worship, self-purification before praying, worship using offerings, belief in statues as manifestations of God, sincerity to serve God, apologies for all mistakes, worship with art, love for the environment, and religious unity Abstrak Kata kunci: Bhakti, Mitologi Dewa Mapasamuhan, Kidung Wargasari Agama dan pendidikan sama-sama berpotensi disalahtafsirkan. Pada kondisi penyalahtafsiran cita-cita manusia bukan lagi menjadi manusia berakhlak mulia melainkan beralih ke orientasi material. Secara mengkhusus musuh terbesar pendidikan adalah merkantilisme sebab dapat merubah pusat-pusat pembentukan karakter menjadi tempat bisnis. Hanya ketaatan religius yang mampu memurnikan kembali pikiran manusia dari ketercemaran. Agama dan 71 pendidikan sejatinya saling menjaga satu sama lain. Agama berperan memberikan bahan kajian pendidikan, sementara itu pendidikan membantu tahapan-tahapan penerapan ajaran agama. Dalam agama Hindu, ketaatan religius diistilahkan sebagai bhakti. Ketaatan religius tidak bisa diraih secara instan. Salah satu jalan untuk menyuburkan bhakti adalah dengan memaknai mitologi dewa-dewa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mendalam tentang pengabdian religius (bhakti) sebagai respon terhadap mitologi rapat para dewa (déwa mapasamuhan) dalam Kidung Wargasari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan analisis isi teks. Hasil dari penelitian ini adalah Mitologi déwa mapasamuhan pada Kidung Wargasari direspon melalui aspek-aspek pengabdian religius (bhakti) seperti ibadah yang mendidik, penyucian diri sebelum berdoa, ibadah dengan menggunakan sesaji, kepercayaan terhadap patung sebagai manifestasi Tuhan, keikhlasan pengabdian kepada Tuhan, permohonan maaf atas segala kekeliruan, peribadatan melalui seni, cinta lingkungan, dan persatuan umat. Pendahuluan Perkembangan zaman yang semakin menegaskan pengagungan materi membuat guncangan-guncangan hebat pada berbagai aspek kehidupan manusia. Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang terdampak. Awalnya pendidikan bekerjasama erat dengan agama untuk mengadabkan manusia. Banyak bukti yang menunjukkan jika kelahiran pendidikan berhutang budi kepada agama. Ajaran-ajaran kesucian dalam agama dijadikan landasan untuk membangun sendi-sendi pendidikan. Sebagaimana dalam Agama Hindu mulanya sekolah-sekolah didirikan oleh orang-orang suci terpelajar. Sekolah-sekolah tersebut selain bertujuan mengkaji kitab suci juga disertai dengan pembinaan moral. Cara mendidik pada sekolah-sekolah religius dalam Agama Hindu sangat lekat dengan dimensi ketuhanan. Murid diarahkan untuk memiliki pengabdian religius (bhakti) kepada Tuhan atau manifestasi-manifestasiNya. Output dari sekolah seperti itu selain matang dalam kajian kitab suci secara teoretis juga memiliki karakter mulia. Orangtua yang mengetahui reputasi guruguru yang mengajar pada suatu sekolah religius kemudian berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya pada tempat tersebut. Seluruh keluarga atau komunitas dapat diterangi oleh anak-anak yang berhasil menamatkan pendidikannya pada suatu pusat pendidikan religius. Pengabdian religius (bhakti) merupakan temuan yang sangat mengagumkan dalam peradaban manusia. Temuan tersebut adalah hasil pemikiran dan perenungan yang tidak instan. Kelemahan dan hal-hal mengagumkan yang ditemuinya dalam kehidupan mendorong 72 manusia untuk melakukan pencarian terhadap causa prima. Hingga akhirnya manusia menemukan pusat dari semua itu adalah entitas yang sangat luhur dan abstrak. Sushrutha et al., (2014) menyatakan kitab suci Hindu kuno mengkonseptualisasikan kekuatan alam sebagai Tuhan atau Devata (dewa yang menerangi [div]). Pada semua peradaban kuno pemujaan terhadap Tuhan dan kekuatan alam semesta merupakan suatu kelaziman. Sebab segala bentuk energi yang terwujud dalam kekuatan alam (matahari, api dan sebagainya) maupun yang tidak berwujud (prana, manas, dan sebagainya), dianggap sebagai bagian dari Tuhan. Penyembahan mengandung gagasan balas budi kepada suatu bentuk energi sumber yang selanjutnya dimanfaatkan untuk segala aspek kehidupan. Pemujaan kepada Dewa (upasana) dapat berupa pemujaan terhadap wujud manifes, kebaktian, pemanfaatan sarana yang kompleks, doa, pembacaan atau pelantunan ayat-ayat suci, pengkajian kitab suci, serta meditasi. Semua bentuk pengabdian religius tersebut secara tidak langsung mengarahkan perilaku manusia kepada keteraturan yang semakin berkualitas. Hal ini sejalan dengan citacita utama pendidikan sebagai proses penteraturan perilaku manusia. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mendalam tentang aspek-aspek pengabdian religius (bhakti) sebagai respon terhadap mitologi rapat para Dewa (Déwa Mapasamuhan) Dalam Kidung Wargasari Metode Metode dalam penelitian ini tergolong ke dalam jenis kualitatif, sebab dalam prosesnya dilakukan analisis terhadap paparan suatu teks/ manuskrip. Jelas bila unsur yang diteliti dalam teks/ manuskrip tersebut bersifat non angka. Secara lebih mengkhusus metode kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi (content analysis) teks. Proses content analysis dilakukan dengan melakukan pencermatan mendalam terhadap susunan kata-kata atau kalimat yang terdapat dalam teks. Pada teks yang diteliti kemudian dapat ditemukan pesan-pesan atau nilai-nilai luhur yang digagas oleh penulis teks. Pada penelitian ini mitologi rapat para Dewa (Déwa Mapasamuhan) dalam Kidung Wargasari dikaji untuk menemukan aspek-aspek pengabdian religius (bhakti). Variabel bebas pada penelitian ini adalah Mitologi Rapat Para Dewa (Déwa Mapasamuhan) dalam Kidung Wargasari, sedangkan variabel terikatnya adalah pengabdian religius (bhakti). Sumber data primer kajian ini adalah Kidung Wargasari, sementara data sekundernya didapatkan dari hasil-hasil riset terdahulu yang sejalan dengan permasalahan yang dikaji. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan mengikuti prosedur Miles dan Huberman yakni data yang telah terkumpul kemudian direduksi, disajikan, dan dilakukan penarikan kesimpulan/ verifikasi. 73 Hasil dan Pembahasan 1. Hasil Penelitian Mitologi Rapat Para Dewa (Déwa Mapasamuhan) Mitologi yang berkaitan dengan manifestasi-manifestasi Tuhan yang suci dapat menjadi sumber keteladanan manusia. Bohari dan Agustian (2023) menyatakan jika mitos melibatkan dewa atau setengah dewa sebagai tokoh protagonis. Jelas sosok dewa atau setengah dewa tersebut mustahil dapat diidentifikasi secara visual. Dalam Kidung Wargasari digambarkan jika dewa-dewa beserta makhluk-makhluk suci yang menjadi bawahannya juga memiliki struktur serta kebiasaan seperti layaknya manusia. Secara spesifik Kidung Wargasari 58 menggambarkan terjadinya rapat para dewa di tempat suci (pura) : Nyatur deṣa Ida rawuh Saking Sapta-pātālané maring Pasamuhan pupul Makadi Hyang Giri Pati Nguniwéh Bhatara Ṣakti Bhatara Guru ring Wiswa Mānūsa nira anuhur Ring Pasamuhan Malinggih Terjemahannya : Para dewa berdatangan dari keempat penjuru mata angin, seperti Hyang Giri Pati (Siwa), demikian pula disertai Bhatara Ṣakti, Bhatara Guru menyusup pada segalanya, manusia melakukan penyambutan, duduk pada bangunan suci tempat berkumpulnya pada dewa (pasamuhan). Diyakini bahwa ketika mengadakan pasamuhan (rapat) para dewa juga membicarakan hal-hal penting yang berkaitan dengan masa depan seluruh dunia beserta isinya. Manusia sebagai salah satu makhluk yang menghuni dunia mesti mampu memaknai pasamuhan tesebut. Terdapat tiga prinsip esensial yang dapat dipetik manusia dari pasamuhan para dewa seperti keadilan, cinta kasih tanpa batas, dan upaya membalas/ mendukung upaya-upaya suci Tuhan. Prinsip keadilan menampilkan bahwa para dewa memperlakukan segala makhluk dengan cara yang sama atau setara. Sebab setiap makhluk memiliki peran tersendiri di alam semesta. Manakala kehidupan salah satu makhluk terganggu maka dapat mengganggu harmoni makhluk lainnya. Prinsip cinta kasih tanpa batas menampakkan upaya keras dewa-dewa untuk menciptakan dan memelihara alam semesta beserta isinya yang dilakukan tanpa pamrih. Kualitas kesucian yang sangat kuat menyebabkan dewa-dewa bersedia mencurahkan kriya sakti (kekuatan kerja) pada setiap ciptaan. Sementara kesadaran untuk mendukung/ membalas upaya-upaya suci Tuhan merupakan puncak perenungan manusia terhadap dua prinsip sebelumnya. Pada fase ini terjadi perubahan tingkah laku pada manusia yang berusaha semaksimal mungkin menaati 74 aturan-aturan suci Tuhan. Ketiga prinsip esensial dari mitologi déwa mapasamuhan melahirkan pengabdian religius (bhakti) dengan seluruh aspeknya yang kompleks. Pembahasan Bhakti Sebagai Respon Terhadap Mitologi Déwa Mapasamuhan Pengabdian religius (bhakti) merupakan salah satu jalan untuk mencapai Tuhan dalam Agama Hindu. Panda, (2018:) menyatakan istilah bhakti berasal dari akar kata Sanskerta bhaj yang berarti membagi, berbagi, mengambil bagian, berpartisipasi, dan menjadi milik. Bhakti juga berarti keterikatan, pengabdian kepada, kegemaran, penghormatan, iman atau cinta, ibadah, dan kesalehan terhadap sesuatu sebagai prinsip spiritual, agama, maupun sarana keselamatan. Dalam tradisi India, Bhakti yoga adalah mistisisme cinta ilahi yang merupakan suatu jalan spiritual yang identik dengan pemahaman mendalam tentang kesatuan dan keharmonisan abadi antara individu dengan Yang Ilahi (Makhluk Universal) maupun semua makhluk. Disamping itu, bhakti yoga yang juga disebut bhakti mārga merupakan jalan atau latihan spiritual dalam agama Hindu yang berfokus pada pengabdian penuh kasih terhadap dewa pujaan tertentu. Terdapat pula pendapat-pendapat yang lebih kritis tentang eksistensi bhakti. (Bhatt, 2014) menyebutkan bhakti memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, bhakti merupakan cara termudah dan alamiah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Kekurangannya adalah bentuknya yang kasar terkadang dapat menjelma menjadi fanatisme mengerikan. Pemujapemuja fanatik yang melakukan penyimpangan umumnya direkrut di bawah alasan bhakti palsu. Kecintaan kepada objek yang dicintai namun tanpa disertai dengan cinta integral rentan menimbulkan penolakan terhadap objek-objek yang lain. Bhakti yang asli dapat melenyapkan rasa takut sehingga pelaku-pelakunya terbebas pula dari kebencian. Bhakti merupakan serangkaian usaha pembinaan mental guna merealisasikan ajaran-ajaran agama yang dimulai dengan ibadah biasa dan diakhiri dengan intensitas cinta tertinggi kepada Tuhan (Ishvara). Rahasia dalam bhakti-yoga adalah dimilikinya wawasan terhadap berbagai bentuk nafsu, perasaan, dan emosi dalam hati manusia yang selanjutnya harus dikontrol dengan hati-hati serta diarahkan kepada tujuan yang lebih luhur. Dalam Kidung Wargasari 8 dinyatakan: Bhakti margané kawuwus Kéngin limbak ring jagaté Panugrah Ida kalungsur Margi ngabhakti ring Widi Ngayat Bhatara Bhatari Nitya karma mamuja Ring Kahyangan Agung 75 Pageh-pugun mangastiti Terjemahannya : Bhakti Marga namanya yang kini dibicarakan agar menyebar ke seluruh penjuru dunia. Berkat Tuhanlah yang dicita-citakan dari jalan ini. Praktik jalan ini dicirikan dengan pemujaan kepada Tuhan secara rutin dan penuh keteguhan hati pada tempat-tempat suci. Bhakti yang ditampilkan dalam Kidung Wargasari berkaitan dengan proses edukasi. Pemujaan yang dilukiskan tidak hanya berhenti pada penyembahan buta, namun menampilkan struktur belajar yang utuh. Naibaho, (2020) berpandangan jika belajar merupakan suatu proses untuk memperoleh perubahan sikap, kognisi, dan keterampilan dari tingkat bawah ke tingkat atas, atau dari kekurangan menuju nilai tambah yang terjadi secara sadar atau tidak sadar dari guru ke siswa, dari figure-figur berpengetahuan ke siswa, dan bahkan dari orang tua ke anak. Indikator utama belajar adalah jika seseorang dapat bertindak dengan sikap, kognisi, dan keterampilan yang berbeda dari sebelumnya serta akibat dampak belajar yang diterimanya mengalami perubahan yang semakin positif pada tiga wilayah kehidupan. Perilaku adalah kesanggupan seseorang untuk bertindak atas dasar pikiran dan petunjuk hati nuraninya dalam melakukan sesuatu. Tiga wilayah kehidupan yang mempengaruhi perilaku seperti kondisi keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan teman sebaya. Berdasarkan perspektif religius, Hidayah et al., (2021) menemukan bila pembiasaan beribadah dapat membantu mengkondisikan siswa korban perceraian, siswa dengan latar belakang ekonomi yang tidak memadai, siswa yang tidak memiliki ketaatan beribadah, dan siswa yang memiliki struktur kepribadian lemah. Kondisi peserta didik semacam itu sejatinya sangat membutuhkan bantuan pendidikan. Secara umum, siswa yang awalnya memiliki kepribadian yang tidak disiplin dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat melalui bantuan pendidikan. Individu dapat pula mengalami ketaatan dalam beragama seperti dari yang tidak pernah berdoa samasekali menjadi terbiasa berdoa secara teratur, bagi yang terbiasa begadang menjadi tidur lebih awal, serta menunaikan kewajiban-kewajiban agama lainnya. Pembentukan kebiasaan baru ini pada gilirannya juga meningkatkan kedisiplinan dalam bersekolah. Upaya pembiasaan beribadah dengan demikian ditujukan untuk menciptakan kehidupan yang penuh berkah dan bahagia. Dalam prakteknya pada proses pendidikan, ketika murid-murid tengah belajar membuat pola ibadah baru yang penuh kedisiplinan, berarti juga berpengaruh kepada kelancaran kegiatan belajar mengajar. Siswa menjadi memiliki ketatatan dalam menghadiri kelas dan menyelesaikan tugas-tugas dengan baik. Secara internal siswa menjadi sadar bahwa hal tersebut akan membantunya berbuat lebih baik di kemudian hari. Pembiasaan beribadah berpengaruh pada remaja dalam 76 banyak aspek, sebab dapat menghasilkan perubahan pola kesadaran, tidak hanya meliputi dimensi religius tetapi juga dimensi sifat-sifat kepribadian yang mewakili modal psikologis bagi kecerahan masa depan. Pendidik semestinya dapat mencari pilihan lain ketika menemukan siswa yang bermasalah seperti terus-menerus ketinggalan kelas dan tidak menyelesaikan tugas sekolah sebagaimana mestinya. Sebelum mengambil keputusan untuk mengeluarkan siswa-siswa semacam itu, pendidik hendaknya berupaya menerapkan caracara religius. Cara tersebut juga membuat lembaga pendidikan menjadi terkesan lebih dewasa. Penyucian diri Sebelum Bersembahyang Ide kesucian dalam Agama Hindu meliputi dimensi asketis maupun profan. Aspek kesucian asketis seringkali menjadi inspirasi untuk mewujudkan kebersihan dalam dimensi profan. Dalam Agama Hindu terdapat istilah bhūta śuddhi atau tattva śuddhi. Sturgess, (2014) menyatakan bhūta śuddhi atau tattva śuddhi merupakan praktik meditasi pemurnian diri menurut pandangan yoga tantra dan kuṇḍalinī. Tattva berasal dari dua suku kata, tat berarti itu dan tva berarti bersifat. Tattva dengan demikian berarti keituan atau esensi yang melahirkan perasaan atau keberadaan. Tattva śuddhi atau bhūta śuddhi berarti pemurnian unsur-unsur. Bhūta śuddhi memurnikan unsur energy halus dari chakra seperti tanah, air, api, udara, dan ether. Calon yogi kemudian dipersiapkan untuk membangkitkan kuṇḍalinī (daya hidup). Bhūta śuddhi bekerja dengan melakukan pemurnian tidak hanya pada tubuh fisik tetapi juga tubuh halus (sūkshma sharīra) serta tubuh kausal (kāraṇa sharīra). Apabila tanpa pemurnian maka dimensi pikiran tidak mungkin untuk mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Latihan ini secara sistematis berfokus pada masing-masing cakra di suṣumnā, sambil menggunakan visualisasi yantra, pranayama, dan pengulangan bija mantra. Bhūta śuddhi memurnikan hati dan pikiran,serta membuka saluran energi. Langkah ini dapat menenangkan pikiran dan melatihnya untuk berkonsentrasi secara mendalam, mengarahkan kepada fokus pada satu titik, serta pencapaian keheningan. Latihan ini menjadi praktik pemurnian batin yang sangat efektif bagi para meditator Kriya Yoga dan Raja Yoga. Selanjutnya Saputra et al., 2022) berpandangan jika penyucian diri sangat penting karena pada dasarnya setiap mahluk adalah suci. Sebagai pancaran Tuhan, jiwa manusia juga adalah suci. Kekotoran batin yang membelenggu manusia tidak lain muncul dari pikiran, perkataan, dan tindakan. Selanjutnya penyucian diri menjadi sesuatu yang esensial dan harus dilakukan oleh setiap orang guna meneguhkan unsur ketuhanan dalam dirinya. Sejalan dengan itu, (Tiwari et al., 2020) menyatakan konsep kebersihan (shaucha) sangatlah penting dalam tradisi Sanatana Dharma. Kebersihan atau kemurnian sesuatu akan menentukan benda tersebut dapat digunakan atau tidak. Pentingnya mencuci tangan, membersihkan badan, 77 membersihkan lingkungan, dan mensterilkan benda yang akan dipergunakan membuat pemanfaatannya menjadi tidak terhambat. Penggunaan benda kotor dianggap sebagai dosa dalam tradisi kuno. Dalam konsep Sanatana Dharma sangatlah penting untuk mencuci tangan sebelum makan maupun sebelum melaksanakan upacara apapun. Dipandang penting pula untuk mencuci tangan dengan air atau benda-benda pembersih lainnya setelah pergi ke toilet. Kidung Wargasari 37 menyatakan : Kara sodhana rumuhun Raris pujain asepé Menyan astanggi ngelantur Raris ngukup tangan kalih Laju dé mangku ngastuti Nunas tirtha panglukatan Tirtha swéta kamandalu Winadahan kundi manik Terjemahan : Membersihkan tanganlah yang pertama-tama harus dilakukan, selanjutnya barulah dilanjutkan dengan membacakan doa pada dupa. Sarananya yang dipergunakan kemudian adalah asap pembakaran dari bahan-bahan yang serba harum. Sesudah kedua tangan diasapi, pendeta lalu memimpin doa untuk memohon air suci pembersih yang diumpamakan berwadahkan teko permata. Dalam Kidung Wargasari disarankan untuk melakukan pembersihan fisik terlebih dahulu. Pembersihan fisik bermanfaat untuk menimbulkan rasa nyaman pada pikiran untuk melakukan pemujaan. Manakala tubuh kotor maka pikiran juga menjadi terkontaminasi oleh hal-hal negatif yang dapat menghilangkan kenyamanan dan ketenangan. Pembersihan fisik yang paling umum dalam Agama Hindu diwakili oleh pembersihan tangan (kara sodhana). Tangan merupakan karmendria (alat gerak) yang dapat menyimbolkan banyak hal. Apabila tangan masih kotor maka dianggap belum sempurna untuk meraih kebersihan. Termasuk kebersihan rohani. Anak-anak yang dibina dalam pendidikan maupun agama pertama-tama mesti diajarkan untuk membersihkan diri. Kecakapan pada dimensi kebersihan memiliki dampak yang sangat luas bagi perkembangan individu. Pemujaan Bersaranakan Banten Banten memegang peranan penting bagi umat Hindu di Bali. Sujarwiyanti et al., (2020) menyatakan banten merupakan infrastruktur bagi umat Hindu untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Banten adalah bentuk rasa syukur, cinta, dan pengabdian karena telah diberkati dengan berbagai hadiah ketika menjalani kehidupan di dunia. Pada dasarnya, banten hanyalah salah satu dari sekian banyak cara berkomunikasi dengan pencipta, kendatipun demikian tidak berarti hal itu tidak penting. Banten merupakan perwujudan bahasa religius. Suastika, (2021) menguraikan jika persembahan berbagai macam sesajian yang berisi beras, buah, telur, daging ayam, bunga, porosan, canang, 78 kemenyan dan lain-lain, berpeluang tampak aneh bagi orang-orang yang tidak mengenal secara mendalam konsep Hinduisme di Bali. Bagi masyarakat Hindu Bali, mempersembahkan sesajen merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari untuk memohon keselamatan, keharmonisan, dan kesucian dunia beserta isinya. Sejatinya banten memiliki nilai simbolik yang menunjukkan harapan/ permohonan manusia kepada Tuhan. Chakraborty et al., (2022) menyatakan simbol memiliki hubungan yang sudah terjalin semenjak lama dengan mitos (kisah-kisah suci yang mendefinisikan keadaan manusia dan hubungan manusia dengan dimensi yang sakral atau suci). Hal tersebut acapkali berisi kumpulan bentuk simbolik, tindakan, ekspresi, objek, mitos makhlukmakhluk sakral, dan benda-benda material yang menjadi pembawanya sesuai dengan maksud serta tujuan simbolisnya. Terkadang sulit membedakan antara mitos dan kompleks simbol koheren yang dibawa dalam bentuk cerita. Rincian dan konteks dari ajaran agama, dogma, dan teologi juga menghasilkan, membentuk nilai-nilai simbolik, serta mengacu pada representasi simbolik tradisional. Struktur simbol dan representasi bergambar diarahkan kepada kaitannya dengan dogma dan pernyataan teologis. Dalam pemujaan, tindakan individu, dan benda yang digunakan dalam ritual diberi makna simbolis sehingga selanjutnya melampaui tujuan praktis langsungnya. Dimensi ajaib dalam ritual juga menggunakan berbagai bentukan simbol, gambar, dan tindakan simbolik yang dilihat sebagai hal yang paralel dengan ciri khas penggunaan simbol pada agama. Dalam Kidung Wargasari 12 babanten dinyatakan berfungsi sebagai pemohon kehadiran Tuhan : Irika Ida kasungsung Liningga ring kayangané Babanten maka panuhur Anggen nyekalayang bhakti Warnin bhakti nénten panggih Sakalayang antuk yajña Sami bantené mamuput Sang Bhakti lan kabhaktinin Terjemahan : Disanalah Tuhan dimuliakan dan dipuja pada tempat suci. Sesajian dipergunakan sebagai sarana memohon kehadiran Yang Suci. Sekaligus mencirikan kesungguhan pengabdian religius. Sebab bentuk pengabdian itu sangat sulit diamati, oleh karenanya disimbolkan dalam persembahan suci. Keseluruhan bagian sesajian itulah yang menjembatani keterhubungan antara pemuja dan yang dipuja. Banten bukanlah sesajian yang tercitra hanya sebagai alat untuk melakukan gratifikasi kepada Tuhan. Pada pengertiannya yang asli banten adalah media untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan. Bahan-bahan banten juga dihasilkan dari hasil kerja keras manusia dan tidak boleh diperoleh dari cara-cara yang tidak baik. Hasil kerja keras yang suci itu kemudian dipersembahkan dengan penuh ketulusan. Orang-orang yang mempersembahkan 79 banten secara tidak langsung sedang mengimitasi sifat-sifat Tuhan. Bagi individu yang dididik dengan media banten berbagai sifat luhur dapat bertumbuh dalam dirinya seperti keikhlasan berbagi, tidak serakah, rasa syukur, rasa terimakasih, empati, dan sebagainya. Keyakinan kepada Arca Sebagai Manifestasi Tuhan Umat Hindu membenarkan jika pemujaan dapat dilakukan dengan media simbolik dari perwujudan Tuhan. Hal ini bukanlah bermaksud merendahkan Tuhan kepada perwujudanperwujudan material. Tujuannya yang sebenarnya adalah untuk memudahkan umat untuk mendapatkan pemahaman tentang Tuhan. Khajegir & Afroogh, (2019) menyatakan Brahman memiliki derajat yang berbeda dalam pandangan Vedantisme. Pada keadaan stabil, yaitu dalam kesatuan, imobilitas, dan kualitas, Brahman disebut Nirguna. Dalam posisi ini Brahman hanya dapat dipahami hanya dengan pengetahuan mahatinggi. Lebih lanjut Wani, 2013) menyatakan aspek Tuhan yang berkaitan dengan penciptaan disebut Saguna Brahman. Guna dalam hal ini berarti atribut. Saguna juga adalah aspek yang memanifestasikan dirinya melalui ilusi kosmik. Hal inilah yang menjadi alasan jika banyak Purana ditulis dengan berbagai bentuk dan simbol diberikan kepada Saguna Ishwara yang digambarkan sebagai dewa pribadi atau Ishta Devata. Setiap orang dapat berkonsentrasi pada Ishta Devata sebagai tangga untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi dari Keilahian Yang Maha Kuasa. Sebagian besar manusia tidak dapat berpuas diri hanya dengan aspek impersonal dari Tuhan. Hal inilah yang menjadi latar belakang tradisi Bhakti dapat berakar di Tanah India yang mencapai puncaknya pada abad pertengahan. Pemujaan dewadewa tertentu berserta inkarnasi atau manifestasinya berkembang pula selama periode tersebut. Hindu memberikan kebebasan kepada para pemeluknya dalam menghubungkan diri dengan Tuhan. Hal ini menyebabkan munculnya banyak penggambaran manifestasi Tuhan. Licyamma, (2016) menyatakan penganut Hindu menyembah berbagai nama Dewa. Umumnya para pemuja maupun pengamat dapat menafsirkan dewa-dewa yang berbeda beserta representasi simbolisnya. Sejatinya sangatlah mustahil untuk mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai Tuhan yang tak terbatas ke dalam pikiran manusia yang penuh keterbatasan. Didorong oleh pemahaman tersebut para Rsi kemudian menemukan cara terbaik untuk mendekati Tuhan yang tak terbatas melalui simbologi. Penyimbolan dapat menuntun pikiran yang penuh keterbatasan menuju dimensi yang tak terbatas. Licyamma mencontohkan pemujaan Ganapati. Istilah Ganapati bermakna Tuhan dari keseluruhan entitas fisik yang kasar. Dalam keseluruhan keberadaan fisik ada kekuatan Tuhan yang tersembunyi. Jika seseorang berkehendak untuk melampaui dimensi fisik ini maka kekuatan kasar akan menariknya ke bawah yang disebut Vigna (rintangan). Manakala seseorang 80 memberi hormat kepada Ganesha maka diharapkan dapat meminimalisir segala penghalang dan membantu pencapaian kesempurnaan. Dalam Kidung Wargasari 15 dinyatakan : Panuhuré kukus harum Pangarccana Bhatarané Pinratisténg Bhuana Agung Sakabwatane ngastuti Ngiring Bhatara Bhatari Kadegang maring pratima Liningga ring meru Laju inastuti Terjemahannya : Sarana untuk memohon kehadiranNya adalah asap beraroma harum. Sebagai penghormatan bagi manifestasi Tuhan. Didasari kesungguhan hati berkeinginan memuja dan mengabdikan diri kepada para manifestasi Tuhan. Semua entitas suci itu diwujudkan dalam simbol-simbol (pratima) yang selanjutnya ditempatkan pada menara suci (meru) untuk senantiasa dipuja. Dalam Kidung Wargasari wujud Tuhan digambarkan dengan nuansa antropomorfik. Seperti layaknya manusia, Tuhan diyakini menyukai unsur-unsur yang juga digemari oleh sebagian besar manusia seperti asap dupa yang berbau harum. Dalam dimensi pendidikan, melalui pembiasaan kepada aspek-aspek yang teratur seperti keselarasan/ keindahan menyebabkan individu dominan terlibat pada peran-peran yang positif dan konstruktif. Ketulusan Melayani Tuhan Melalui penghatayan terhadap jasa-jasa Tuhan yang sangat luar biasa manusia kemudian rela melakukan pengorbanan sekaligus mengabdikan diri. Rambachan (dalam Schuurman 2016) berpandangan bahwa dalam tradisi Hindu, para pemuja Tuhan (bhakta) umumnya juga menganggap dirinya sebagai pelayan (sevaka) Tuhan. Penekanan Agama Hindu pada imanensi ilahi menawarkan cara khusus untuk memahami makna mencintai serta melayani Tuhan. Kepedulian dan perhatian individu terhadap kebutuhan orang lain adalah cara melayani Tuhan yang hadir secara nyata pada semua makhluk. Ajaran ini secara terus menerus menjadi sumber inspirasi yang mendalam bagi umat Hindu yang berusaha menghubungkan ajaran agamanya dengan dimensi pelayanan di dunia. Bhakti bukanlah sekadar pengabdian yang dipenuhi kepura-puraan. Bhangaokar (dalam Jensen, 2020) menyatakan seva (pelayanan tanpa pamrih) adalah bagian integral dari bhakti dipersembahkan bagi dewa-dewa tertentu maupun untuk para guru suci. Secara bersamasama, bhakti dan seva dapat memperkuat pemahaman dharma dengan memadukan unsurunsur spiritualitas serta kehendak individu untuk berkontribusi secara konstruktif pada upaya-upaya komunal. Seva merupakan aktivitas dalam organisasi-organisasi serbasis iman. Dalam masyarakat Hindu India para pemuja dengan jumlah besar umumnya tertarik kepada berbagai ashram yang ada disana, tempat para pemuja tinggal bersama atau tanpa guru penuntun dengan terlibat dalam berbagai kegiatan spiritual secara kolektif. Banyak prakarsa filantrofis, seperti menyediakan layanan kesehatan dan pendidikan yang mulanya berasal 81 dari prakarsa spiritual semacam itu. Sebagian besar tempat-tempat tersebut selanjutnya dijalankan sepenuhnya dari sumbangan, ilham spiritual, dan kontribusi kerja sukarela (shram daan) yang dilakukan oleh para anggota komunitas suci. Bhakti menjadi alasan yang cukup dominan bagi orang-orang yang tertarik kepada Hindu. Jurgensmeyer dan McMahon (dalam Ilchman et al., 1998:) menyatakan gagasan pelayanan sebagai bentuk persembahan lekat dengan perkembangan agama Hindu. Perkembangan tersebut menghasilkan praktik pengorbanan waktu dan kewajiban-kewajiban tertentu untuk memelihara dewa-dewi dalam kuil. Pada periode abad pertengahan misalnya, ketika cinta kepada Tuhan (bhakti) menjadi genre utama ekspresi religius, persembahan acapkali ditujukan kepada Tuhan sebagai perbuatan penuh kasih. Seva kemudian menjadi sarana dominan dari dedikasi religius. Perbedaan antara seva dan dan bukan semata-mata perbedaan dangkal antara pemberian materi dan pemberian pelayanan. Dalam pemahaman bhakti tentang seva dan dan terdapat pula perbedaan motivasi. Seva adalah tindakan reflektif cinta, sedangkan dan merupakan sebuah ekspresi dari kewajiban. Dalam bhakti Hinduisme, Tuhan umumnya dipahami melalui jasa seorang penuntun (guru), yang dalam banyak kasus kemudian menjadi objek pelayanan kasih. Kendatipun demikian tetap saja, tindakan penuh kebaikan dan kemurahan hati kepada orang selain guru juga dianggap sebagai seva bagi guru, karena para guru memerintahkan murid-muridnya untuk melayani sesama. Demikian pula para murid yang melakukan pelayanan juga menerima pelayanan dari guru dalam bentuk lain seperti pemberian pengetahuan-pengetahuan utama. Sama halnya dengan dan, ganjaran untuk seva adalah pahala karma. Sedangkan pengertian dan cenderung berpusat pada benda-pemberian, oleh karenanya apabila dipahami dengan kedangkalan pikiran akan tampak hanya mengistimewakan orang-orang yang mampu secara ekonomi untuk memberikan sumbangan material. Padahal penduduk desa yang paling miskin sekalipun sejatinya dapat mempersembahkan dan dalam bentuk sekuntum bunga, sepotong roti, atau air sumur yang manis, seva bahkan lebih mudah diakses oleh siapa saja yang bersedia menyediakan waktu dan pengabdian. Dalam Kidung Wargasari 28 dinyatakan : Idep Bhatara wus turun Aturang pangreresiké Wajik tangan wajik suku Cacab wedak mwang sasarik Lenga asem sunggar suri Iring Ida masucian Laju ngastawa rumuhun “Pukulun Hyang Pasupati” Terjemahan : Laksana perwujudan Tuhan benar-benar hadir untuk diberikan persembahan sarana pembersihan. Sarana pembersihan tangan dan kaki suci. Beserta segenap sarana untuk 82 menghias diri. Selanjutnya diantarkan Beliau menuju tempat penyucian setelah dipuja terlebih dahulu. Oh Tuhan Perwujud Pasupati Para pemuja yang memiliki bhakti mendalam tidak akan menyimpan kepamrihan dalam hatinya ketika melakukan pemujaan. Bentuk pelayanan kepada simbol-simbol Tuhan yang antrofomorfik sejatinya merupakan refleksi pelayanan bagi sesama. Orang-orang yang terbiasa dan memiliki ketulusan untuk melayani manifestasi-manifestasi Tuhan yang telah disimbolkan akan dengan antusias pula melakukan pelayanan kepada setiap makhluk. Permohonan Maaf atas Segala Kesalahan Penganut bhakti menyadari pula bila kehidupannya di dunia tidak luput dari kekeliruankekeliruan. Whitman, (2007) menguraikan jika penderitaan baik fisik maupun mental dianggap berhubungan dengan karma. Hal ini merupakan konsekuensi dari tindakan yang tidak pantas di masa lalu ataupun masa kini (mental, verbal, atau fisik). Dimensi tersebut tidak dilihat hanya sebatas hukuman tetapi sebagai konsekuensi alami dari hukum moral alam semesta dalam merespon perilaku-perilaku negatif yang telah diperbuat. Tradisi Hindu mengedepankan ketransparanan terhadap penderitaan dengan menerimanya sebagai konsekuensi yang adil dan selanjutnya menghasilkan kesadaran jika penderitaan memiliki konsekuensi logis. Manakala seseorang pada masa kini merasakan ketidakadilan, nasib buruk, atau penderitaan maka perlu menyadari bahwa segala yang dialaminya tersebut merupakan akibat dari perbuatan-perbuataannya di masa lampau. Kendatipun seseorang tidak sepenuhnya mengingat kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya di masa lampau, terlebih yang berasal dari lintas kelahiran namun kearifan untuk menerimanya sangatlah bermanfaat. Melalui keiklhasan menerima segala hasil perbuatan baik positif maupun negatif membuat seseorang dapat berfokus pada pelaksanaan tugas kesehariannya. Apabila seseorang terjebak dalam amarah, frustasi, kekecewaan, dan luka-luka batin lainnya ketika mengalami sesuatu yang buruk dalam kehidupannya maka tidak akan memiliki kemampuan yang cukup untuk keluar dari penderitaan. Bagaimanapun keburukan kehidupan harus diperjuangkan untuk meraih sesuatu yang lebih baik. Dalam berbagai teks keagamaan terdapat pandangan yang beragam tentang kesalahan/ dosa. Achari, (2017) menerangkan dalam Rig Veda terdapat gagasan yang samar tentang dosa yakni sebagai semacam pelanggaran melawan dewa yang mengakibatkan penyakit, kemalangan, kekeringan, konflik, dan sebagainya. Sesuatu yang disebut dosa sejatinya tidaklah terperinci, namun sejumlah sinonim digunakan berupaya untuk membangun gagasan tentang hal tersebut seperti āga (skandal, pelanggaran), agha (ketidakmurnian, kecelakaan, dan kesusahan), abhidroha (cedera), enas (kesialan), durita (nasib buruk, kesulitan), senjaṛta (perbuatan buruk), drugdha (tindakan jahat, menyakitkan), amhas, 83 urjina, droha (melukai, kedengkian, dan perbuatan menyakitkan), kilbiṣaḥ (noda, kekotoran). Terdapat banyak Sūkta yang ditujukan terutama kepada Varuṇa memohon pengampunannya dari perbuatan-perbuatan tersebut serta menahan amarah atau hukumannya atas pelanggaran yang dilakukan. Konsep Veda tentang dosa adalah anṛtam yang memiliki sinonim dengan ketidakbenaran karena pelanggaran terhadap hukum semesta atau keteraturan (ṛtaṁ) Terdapat berbagai istilah dalam Agama Hindu yang berkaitan dengan upaya permohonan maaf atas dosa-dosa atau kekeliruan lainnya. Kumar, (2020) mengemukakan konsep Prāysachitta yang dapat dilacak dalam Veda. Kendatipun demikian, pada beberapa contoh seperti dalam Taittiriya Samhita II.1.2.4 dan II.1.9.3, istilah ini hanyalah menyiratkan kesalahan yang terjadi secara kebetulan atau kecelakaan. Rasa penyesalan yang terkait dengan perbuatan-perbuatan tersebut pada konteksnya tidak ada hubungannya dengan dosa. Sementara pada beberapa Purana penebusan kesalahan dinyatakan dapat dilakukan dengan cara-cara yang lebih mudah. Misalnya hanya dengan mengingat manifestasi Tuhan dalam wujud Narayana dinyatakan mampu menghapus semua dosa. Sebagaimana Prāyaschitta dalam Narada Purana dinyatakan sebagai penghapus lima kejahatan tercela. Tentu saja pelakunya dituntun untuk melakukan kewajiban-kewajiban yang dapat mengkompensasinya. Istilah Prayaschitta berasal dari kata Prāya yang artinya mendekati tapa dan Chitta yang berarti menyelesaikan. Prāyaschitta dengan demikian diyakini secara kuat dapat menjadi sarana ampuh bagi penghapusan dosa. Resi Narada, dalam Narada Purana misalnya menyatakan bahwa membunuh Brahmana, mabuk atau candu obat-obatan terlarang, mencuri emas, mengabil hak pada tempat tidur guru, dan menjadi penghubung dalam perbuatan jahat adalah dosa berat. Dalam Kidung Wargasari 27 dinyatakan Jinah satak selaé katur Samplah galin ngatih ngéténg Hasing kirang hasing luput Manusa nira mamidi Gung rna ampura ugi Om Sriya wé namo namah swaha Puput atur Bhatara nywécchanin Terjemahan : Uang berjumpah dua ratus dua puluh lima dijadikan sarana persembahan. Sangat jelas mendatangkan penyatuan. Segala kekurangan menjadi termaafkan. Manusia yang terkungkung dosa senantiasa meminta pengampunan. Om Sriya wé namo namah swaha. Pada penghujung pemujaan, para dewa merestui. Barang-barang berharga atau upaya yang keras serta sulit seringkali dikorbankan oleh manusia untuk menetralisasi dosa-dosa maupun kesalahan yang telah diperbuatnya. Kendatipun para pelakunya mengetahui dengan jelas jika akibat dari dosa-dosa atau 84 kesalahan tidak dapat diperbaiki dengan sempurna melalui berbagai upaya penebusan tersebut. Setidaknya orang-orang yang dididik dengan ide tentang dosa/ kesalahan menjadi paham jika suatu dosa/kesalahan harus dipertanggungjawabkan. Individu-individu tersebut kemudian memilih menghindari dosa/ kesalahan. Pemujaan dengan Seni Ritual-ritual keagamaan, terutama di Bali berkaitan erat dengan eksistensi seni. Beck, (2019) menerangkan bila musik dalam tradisi Hindu di India yang dikenal sebagai Sangīta serta dianggap berasal dari dimensi ketuhanan oleh karenanya sangat dekat dengan eksistensi dewa maupun dewi Hindu. Dewi Sarasvati digambarkan dengan instrumen Vina di tanganNya diyakini sebagai pelindung musik ilahi. Brahma sebagai pencipta alam semesta sambil memainkan simbal tanganNya. Wisnu sebagai pemelihara membunyikan cangkang keong dan memainkan seruling dalam bentuk Avatara yang dikenal sebagai Kresna. Siva sebagai Nataraja memainkan gendang Damaru selama tarian peleburan kosmik. Sangīta dengan demikian memiliki tiga divisi yakni vokal, instrumental, dan gerak (tari). Lebih jauh Beck berpendapat eksistensi musik rohani terkait dengan gerakan bhakti yang muncul di India selatan pada abad keenam Masehi. Ketika itu, kelompok-kelompok bhakti yang terpisah muncul sebagai kekuatan utama yang mendukung Hinduisme dan berpusat pada pengabdian religius. Semangat tersebut tercermin dalam lirik-lirik nyanyian yang disusun terutama dalam bahasa sehari-hari, seperti Tamil, Telugu, dan Kannada. Banyak pula muncul gaya musik kebaktian baru yang mencirikan identitas kedaerahan yang diformalkan untuk mengiringi ritual pada kuil-kuil abad pertengahan. Trend tersebut sesuai dengan pengertian sederhana dari estetika yang mencerminkan musik sebagai sebuah persembahan serta sarana menuju persekutuan dengan dewa tertentu yang difavoritkan. Dalam teisme personal yang berkembang, Brahman dipahami sebagai Tuhan tertinggi, sementara manifestasinya sebagai Wisnu, Siva, atau Sakti dipercaya menjadi sumber dari semua Rasa (kenikmatan atau rasa estetis). Pengalaman emosional dan pengabdian yang ditanamkan oleh para musisi pada benak pendengarnya memiliki kesan keilahian serta menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi bhakti. Musik memang terlihat memiliki peran komunal dalam ritual-ritual keagamaan. Heimarck, (2022:48) menyebutkan bahwa sebagian besar upacara keagamaan terutama yang dilaksanakan dengan durasi panjang membutuhkan iringan musik, tetapi di luar peran religius utama tersebut musik juga berfungsi sebagai alat spiritual dalam banyak tradisi. Alat musik memang dapat berfungsi sebagai alat ritual dalam konteks tertentu, misalnya instrumen perkusi seperti keong dan idiofon (kerincingan yang dimainkan dengan cara dikocok) memeriahkan nyanyian arati di wilayah Asia Selatan dan dapat pula dilihat 85 berfungsi sebagai alat ritual dalam pengaturan ini. Dalam hal tersebut, perkusi berperan meningkatkan keefektifan nyanyian. Sementara dalam konteks religius atau spiritual, musik dapat berfungsi sebagaimana dupa, suara, atau keheningan untuk meditasi. Musik dan mantra dengan demikian adalah alat yang digunakan untuk melaksanakan agenda spiritual dan selanjutnya menghadirkan penerangan rohani. Kidung Wargasari 30 mengungkapkan : Maduluran balaganjur Tan pegat warga sariné Lalonték lan umbul-umbul Dwaja lawan pangawin Pajeng pagut pajeng sari Kamawoné bulun merak Mukya pedang lawan arug Jempana mwang joli Terjemahannya : Diiringi musik balaganjur dan lantunan wargasari yang tak putus. Panji kebesaran, senjata suci, dan payung suci. Berhiaskan bulu merak. Pada barisan paling depan adalah senjata suci. Tandu-tandu kebesaran. Pada tradisi ritual umat Hindu di Bali mempersembahkan beragam bentuk seni merupakan ungkapan pengabdian para penekun bhakti. Diyakini para manifestasi Tuhan menyukai halhal yang indah. Disamping itu, umat kebanyakan juga menggemari keindahan. Dalam beberapa segi, pertujukan kesenian dianggap dapat menarik perhatian umat untuk mendatangi tempat suci atau terlibat pada ritual-ritual keagamaan. Anak-anak yang belum terlalu mengerti tentang esensi bhakti dapat dibangkitkan daya tariknya terhadap tempat suci dan ritual-ritual keagamaan dengan seni. Cinta Lingkungan Seorang penganut Hindu yang taat akan memiliki kecintaan mendalam kepada alam. Singh (2022) menyatakan Agama Hindu telah menjadi pusat penyatuan bagi manusia dan lingkungan alam. Hindu sebagai agama tertua memiliki banyak bentuk alami pada ritualritual pemujaannya. Dalam Agama Hindu ditemukan spontanitas kesadaran dan keyakinan terhadap berbagai aspek alam seperti hewan, unggas, atau tumbuh-tumbuhan. Penyembahan alam adalah hal yang umum pada peradaban yang lebih tua serta dapat dipicu oleh kekejaman maupun daya tarik kekuatannya. Para penyembah umumnya mengharapkan belas kasihan atau bantuan kekuatan alam. Misalnya Dewa Matahari telah menjadi dewa umum untuk hampir semua budaya yang berusia tua. Orang-orang primitif menyembah kekuatan alam deterministik untuk meringankan efek buruk dalam kehidupannya atau mewujudkan kemakmuran. Dalam agama Hindu, sungai seperti Gangga ditetapkan sebagai Ibu karena air dianggap sebagai bentuk dasar kehidupan atau hutan disembah sebagai alur suci yang merupakan instrumen untuk menyediakan oksigen dan produk berharga lainnya. Sastra Veda selanjutnya (sekitar 1500 SM) menonjolkan keseimbangan integral antara Manusia, Alam, 86 dan Tuhan. Kekuatan alam dianggap sebagai perwujudan Tuhan itu sendiri sehingga merupakan entitas yang terhormat. Veda melukiskan lingkungan alam yang indah di bumi dan memerintahkan manusia untuk tidak mengotorinya. Dalam RgVeda disebutkan bahwa alam semesta ini terbentuk dari lima elemen hakiki seperti bumi, air, udara, api, dan ruang. Kelima elemen ini memberikan dasar bagi kehidupan dalam segala hal dan manusia diarahkan untuk melestarikannya. Yajur Veda mengungkakan tentang pendamaian dan penyelarasan semua komponen bumi. Atharva Veda menganggap bumi sebagai ibu dan ciptaan sebagai keturunannya. Kidung Wargasari 40 dan 41 menyebutkan : Bhatara ring Gunung Agung Manusa nunas tirthané Tirtha trebesan gunung Nirmala ning maklening Winadahan Kundi manik Bhatara ring Gunung Lebah Titiang nunas tirthan danu Kanggén manirthain Terjemahannya : Para dewa yang bersthana di Gunung Agung. Seluruh manusia memohon air suci yang mengalir dari gunung. Wujudnya sangat bening, berwadahkan teko permata. Para Dewa yang bersemayam di Gunung Lebah hamba memohon air suci dari danau sebagai sarana penyucian. Manglukat banten puniki Tritisan Telaga-Wajané Malejeg anagel siku Salukat tlenging jaladi Manglukat babanten sami Mampeh muksah nyatur désa Terjemahannya : Menyucikan sesajian ini. Percikan Telaga Waja. Memancar dan melengkung. Penyucian di tengah samudera. Mampu menyucikan seluruh sesajian. Menyebar ke segala arah. Kecintaan manusia kepada lingkungan sejatinya memelihara keberlangsungan hidupnya di dunia. Manusia mustahil hidup tanpa bantuan alam. Agama dan pendidikan menekankan pelestarian alam karena keduanya berlangsung dalam alam. Tempat-tempat suci dan tempattempat belajar hanya dapat berdiri serta berfungsi dengan baik pada kondisi alam yang memadai. Persatuan Religius Agama Hindu telah menyadari pentingya persatuan. Fasale (2012) menerangkan jika dasar politik dan struktur sosial pada zaman Rig-Veda adalah keluarga. Anggota dari suatu keluarga tinggal pada rumah yang sama. Rumah-rumah pada zaman ini diduga dibangun dari bahan kayu atau alang-alang. Pada setiap rumah terdapat perapian (agnisala), disamping juga ruangan untuk duduk dan tempat khusus bagi wanita. Kepala rumah tangga 87 disebut grihapati atau dampati. Para kepala rumah tangga melakukan perbuatan-perbuatan yang bertujuan untuk mendidik anggota keluarganya. Perbuatan tersebut baik menunjukkan penghargaan maupun hukuman. Hiburan favorit dari golongan pria adalah balapan, berburu, dan tarian perang. Terlacak pula jenis hiburan lain seperti bermain dadu, tinju, tari-tarian, dan musik. Kaum wanita umumnya suka menampilkan kepiawaiannya dalam menari dan bernyanyi dengan disertai iringan musik. Setiap aktivitas keagamaan dalam Agama Hindu tidak bisa dilepaskan dari pergaulan antarmanusia. Artana et al., (2019) berpendapat jika pergaulan merupakan suatu hubungan yang terjalin antar individu yang melibatkan emosi (perasaan), pikiran, perilaku, dan identitas diri dalam kelompok. Hal tersebut dilakukan oleh individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan antar kelompok. Lazimnya dalam interaksi sosial, terdapat pesan yang disampaikan melalui wacana. Dengan demikian, khalayak dapat memahami dan berkenan mengikuti hal-hal yang diinginkan oleh wacana tersebut. Penyatuan atau penanaman ideologi oleh guru spiritual jelas berfungsi bagi otoritas kelompok agama tertentu dalam mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Sebaliknya, interaksi guru spiritual dengan pengikutnya bersaranakan wacana membuat pengikutnya sangat bergantung pada parampara. Penanaman ideologi bhakti yoga oleh paramparara menjadi standar otoritas aliran keagamaan yang mewajibkan setiap pengikut komunitas untuk mematuhinya, tidak terkecuali bagi para guru spiritual. Akibatnya seorang guru spiritual akan menyampaikan kebenaran yang dianut dalam nuansa terbatas mengenai struktur atau kaidah-kaidah yang berlaku dalam masyarakat mazhab. Dalam Kidung Wargasari 25 dinyatakan : Pedekané lanang wadu Manguntap Bhatara kabéh Tedun ring Kahyangan Agung Ayat mangaturang wali Jan banggul dwé mangiring Aneda wara nugraha Galang apadang dirghayu Tan kahanan wisti Terjemahannya : Para pemuja laki-laki perempuan memuja para dewa. Hadir di tempat pemujaan. Umat dengan penuh keyakinan memuja. Dipimpin pendeta. Para pemuja menerima berkat dewadewa. Mendapatkan jalan terang dan panjang umur. Dijauhkan dari mara bahaya. Pencegahan penyimpangan perilaku pada manusia dapat dimulai dengan memilihkan pergaulan yang baik semenjak usia sedini mungkin. AG, (2017) menguraikan bahwa kenakalan yang muncul selama masa kanak-kanak/remaja sebagian besar stabil pada berbagai fase yang selanjutnya dapat menimbulkan berbagai masalah seperti kenakalan remaja, masalah relasional remaja, dan kriminalitas orang dewasa. Para orangtua kemudian 88 acapkali dipersalahkan atas kekacauan yang diperbuat oleh anaknya. Sejatinya sangatlah penting untuk memperbaiki bibit-bibit kecil kenakalan sejak dini guna mencegah munculnya masalah yang lebih serius di kemudian hari. Kata parenting berasal dari bahasa Latin Pario yang berarti memberikan hidup, berarti bukan sekadar melahirkan. Menariknya dalam Bahasa Inggris, kata parenting digunakan baik sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata benda, parenting mengacu pada proses pengasuhan anak oleh orang tuanya. Sebagai kata kerja mengasuh anak berarti menjadi atau bertindak sebagai ayah, ibu, maupun pengasuh bagi seorang individu yang memerlukan asuhan intensif. Parenting menjadi sangat komprehensif karena melibatkan serangkaian variabel seperti kewajiban orang tua, metode pengasuhan, nilai-nilai yang dianut orang tua, jalan yang ditempuh anak untuk berkembang dan memperoleh keterampilan belajar, sosialisasi, perilaku, hubungan interpersonal, tanggung jawab, dan pengambilan keputusan. Jelaslah pengasuhan mencakup berbagai aspek yang membentuk kepribadian seorang anak secara keseluruhan. Proses pengasuhan anak merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan asalkan orang tua siap untuk memikul tanggung jawab dalam membesarkan anak. Sebaliknya apabila hal tersebut tidak dipersiapkan dengan baik maka akan mendatangkan berbagai macam hambatan. Pengasuhan dapat bersifat biologis maupun sebagai proses sosial apabila dilihat dari kacamata interaksi antara orang tua dan anak. Orangtua dalam proses tersebut dapat memenuhi berbagai kebutuhan anak seperti kebutuhan fisik, emosional, psikologis, intelektual, dan sosial. Meskipun peran orangtua sangat primer dalam proses pengasuhan namun bukan berarti proses tersebut hanya bisa dilakukan oleh orangtua kandung saja. Pengasuhan juga bisa dilakukan oleh pihak lain seperti pengasuh, wali, kakek-nenek, guru, simpatisan, anggota keluarga, bahkan semua orang yang mampu merawat dan memelihara kepribadian anak, secara fisik, mental, emosional, moral, intelektual, dan sosial. Sekaligus menangani sistem kepercayaan, sikap, perilaku, dan nilai bagi anak. Mengasuh anak dengan demikian mengacu pada metode lintas waktu dan konteks. Dalam Kidung Wargasari 62 dinyatakan : Hénak asanak aputu Makrama mawadésané Asantana lanang wadhu Ayu bagus mapekik Mlaksana dharma yukti Tan karangsukan kala Bhuta Dengen Bhuta Biru Sabran tan lali ring Widhi Terjemahannya : Bergembira besaudara dan berketurunan. Menjadi warga masyarakat. Berketurunan laki-laki dan perempuan. Sangat cantik dan tampan. Melaksanakan kebenaran sejati. Dijauhkan dari sifat-sifat buruk seperti Bhuta Dengen Bhuta Biru. Selama masih ingat kepada Tuhan. 89 Puncak dari bhakti yang dilukiskan dalam Kidung Wargasari tidaklah terlalu terburu-buru menjangkau alam rohani. Manfaat tersebut terlebih dahulu dilukiskan dalam hubungan antarsesama manusia di bumi. Dalam konteks pendidikan, hubungan yang baik antarsesama manusia hanya bisa terjalin dengan baik apabila anggota-anggota dari suatu komunitas sosial terdidik dengan matang. Pada proses menuju pematangan tersebut nilai-nilai agama juga meresap ke dalam tubuh pendidikan. Kesimpulan Mitologi déwa mapasamuhan dalam Kidung Wargasari menarasikan bahwa pada hari-hari terpilih para dewa mengadakan rapat di tempat suci. Jelang pasamuhan tersebut umat secara bersama-sama mempersiapkan tempat dan sarana-sarana khusus untuk menyambut kedatangan para dewa. Dalam prosesi itu terdapat aspek yang lebih esensial seperti tanggungjawab masing-masing individu untuk mempersiapkan dirinya melakukan pengabdian religius (bhakti). Ajaran bhakti yang terdapat dalam Kidung Wargasari bukanlah pengabdian yang hanya mengedepankan fanatisme agama. Pengabdian religius yang terkandung dalam konsep bhakti menunjukkan dimensi kedewasaan iman. Bhakti dalam Kidung Wargasari menunjukkan suatu proses panjang yang menempa penganut Hindu sehingga tidak melakukan penyimpangan perilaku dengan mengatasnamakan agama. Pada proses pematangan tersebut sejatinya edukasi nilai-nilai keagamaan yang patut tengah berlangsung. Tahapan-tahapan yang dilalui oleh penganut Hindu dalam bhakti yang edukatif tidak hanya meliputi dimensi-dimensi yang abstrak. Aspek-aspek praktis juga turut dipertimbangkan, tentunya dengan dipayungi oleh nilai-nilai religius yang simbolik. Membersihkan diri merupakan sisi filosofi-praktis pertama yang ditekankan oleh Kidung Wargasari. Bentuknya yang paling umum terlihat dari gerakan simbolik untuk membersihkan tangan sebelum bersembahyang. Selanjutnya pembersihan diri secara simbolik ini dinyatakan linier dengan kesucian fisikal-praktik. Antara kesucian fisik dan rohani dianggap semakin melengkapi. Pemujaan yang dilakukan berupaya dilengkapi dengan persembahan-persembahan yang mengandung nilai simbolik (banten). Anjuran untuk mempersembahkan banten bukanlah untuk membebani pemuja. Hal ini hanyalah bentuk peneguhan keyakinan dan ujian ketulusan pikiran pemuja. Penerima dari pesembahan-persembahan suci digambarkan dalam perwujudan antrofomorfik dari manifestasi-manifestasi Tuhan. Pewujudan Tuhan ke dalam dimensi antrofomorfik sejatinya bertujuan untuk memudahkan umat dari segala kalangan untuk melakukan pemujaan dan pelayanan. Puncak dari bhakti adalah ketulusan untuk melayani Tuhan beserta manifestasimanifestasinya secara simbolik maupun makhluk-makhlukNya di dunia. 90 Para pelaku-pelaku bhakti meyakini jika Tuhan beserta manifestasi-manifestasiNya tidak menyukai ataupun menyukai perbuatan-perbuatan tertentu. Perilaku yang tidak disukai Tuhan adalah kesalahan atau dosa. Para pemuja kemudian berupaya keras untuk memperbaiki dosa-dosa atau kesalahan yang telah dilakukannya. Sementara perbuatan yang disukai Tuhan dan manifestasi-manifestasiNya adalah yang berhubungan dengan keindahan dan keselarasan. Seni kemudian dijadikan salah satu bagian dari pemujaan Tuhan. Dalam Kidung Wargasari dipikirkan juga cara untuk mewujudkan suasana lingkungan pemujaan yang produktif. Hal pertama yang dilakukan adalah melestarikan lingkungan alam, sebab pemujaan yang dilakukan manusia tidak bisa dilepaskan dari dukungan alam. Cara kedua yang perlu dilakukan adalah menjaga hubungan harmonis dengan sesama manusia, karena pemujaan yang optimal hanya bisa dilakukan manakala antarsesama manusia saling mengasihi. Daftar Pustaka Agustian, T. (2023). ISSN 2407-5299 SOSIAL HORIZON : Jurnal Pendidikan Sosial Mitologi dan Mitos Suku Dayak Golik Goa Thang Raya di Desa Pemodis Kecamatan Beduai Kabupaten Sanggau ( Kajian Historiografi Tradisional ) SOSIAL HORIZON : Jurnal Pendidikan Sosial , Penulisan sejar. 10(3). Artana, I. W., Suda, I. K., & Winaja, I. W. (2019). Achieving physical and spiritual happiness on bhakti yoga. International Journal of Linguistics, Literature and Culture, 5(4), 7–18. https://doi.org/10.21744/ijllc.v5n4.685 Beck, G. L. (2019). Sacred music and hindu religious experience: From ancient roots to the modern classical tradition. Religions, 10(2). https://doi.org/10.3390/rel10020085 Centre, S. S. (n.d.). Concept of Bhakti-yoga in Indian Tradition : A Critique. 210–217. Chakraborty, H., Guha, P., & Chatterjee, S. (2022). The Symbolic Identity Of Hindu Religiosity And Environment. Indian Journal of Public Health, 6(7), 2119–2126. Cohen, Y., & Enayat, H. (2023). and Islam. 3(2), https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1002/9781119671619#page=96 1–5. Fasale, M. K., & Veda, A. (2012). a Study of the Early Vedic Age in Ancient India. 3(3), 129–132. Heimarck, B. R. (2022). Musical Ritual and Ritual Music: Music as a Spiritual Tool and Religious Ritual Accompaniment. Muzikoloski Zbornik, 58(1), 43–59. https://doi.org/10.4312/mz.58.1.43-59 Hidayah, R., Mu’awanah, E., Zamhari, A., Munardji, & Naqiyah. (2021). Learning worship as a way to improve students’ discipline, motivation, and achievement at school. Journal of Ethnic and Cultural Studies, 8(3), 292–310. https://doi.org/10.29333/ejecs/748 91 Ilchman, W. F., Katz, S. N., & Queen, E. L. (1998). Philanthropy in the World’s Traditions. Indiana University Press. https://books.google.co.id/books?id=zMYViaXor6cC Jensen, L. A. (2020). The Oxford Handbook of Moral Development: An Interdisciplinary Perspective. Oxford University Press. https://books.google.co.id/books?id=OcXLDwAAQBAJ Jitendra Bhatt B-, N., Appt, A., Road, Z., & Gujarat, J. (2014). The Concept of BhaktiYoga. International Journal of Research in Humanities and Social Sciences, 2(January), 1. www.raijmr.com Khajegir, A. reza, & Afroogh, M. reza. (2019). The Dignity and Unity of Atman and Brahman in Vedanta School- Hinduism Study. Journal of Philosophy and Ethics, 1(1), 13–19. https://doi.org/10.22259/2642-8415.0101002 Kumar, K. (2020). Prāyashchitta Sādhanā A Psycho-Spiritual Approach.pdf. 2020(June). Licyamma, I. C. (2016). Hinduism and its Symbols. International Journal of Management, Technology, and Social Sciences, 1(1), 14–20. https://doi.org/10.47992/ijmts.2581.6012.0002 Naibaho., D. (2020). The Impact of Worship to Students’ Attitude at Schools. 414(Iceshe 2019), 209–212. https://doi.org/10.2991/assehr.k.200311.042 Achari, Pandit Sri Rama Ramanuja. (2017). Hindu Concepts of Sin. Saputra, K. A. K., Pradnyanitasari, P. D., & Putri, P. Y. A. (2022). “I” Developed Accounting Through Self-Purification Towards Sattwam- Based Self-Awareness. International Journal of Management Studies and Social Science Research, 4(2), 228– 233. Schuurman, C. (2016). Calling in Today’s World. William B. Eerdmans Publishing Company. https://books.google.co.id/books?id=GJ8xDwAAQBAJ Setty, G. A. (2017). Parenting & child development: Insights from ancient Indian texts. International Journal of Sanskrit Research, 4(2), 12–18. www.anantaajournal.com Sturgess, S. (2014). The Book of Chakras & Subtle Bodies. Watkins Media Limited. https://books.google.co.id/books?id=sQfLCQAAQBAJ Suastika, I. N. (2021). The Process and Meaning of the Manusa Yadnya Ceremony for the Hindu Bali Community. International Journal of Social Science and …, 5(1), 155–160. https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/IJSSB/article/view/29279%0Ahttps://ejournal .undiksha.ac.id/index.php/IJSSB/article/download/29279/18692 Sujarwiyanti, W., Sinaga, R. M., & Pargito. (2020). Preparation of Bali Hindu Communities and Society Hindu Java in the Implementation of Nyepi Rituals in Hanura Village Teluk Pandan District Pesawaran Regency. International Journal of Research and Innovation in Social Science (IJRISS), 4(9), 342–346. http://repository.lppm.unila.ac.id/id/eprint/45689%0Ahttp://repository.lppm.unila.ac.id/ 45689/1/artikel 2.pdf Sushrutha, S., Nagendra, H. R., & Bhat, R. (2014). The Significance of Fire Offering in 92 Hindu society. Ijmer, 7(3), 260–273. Tiwari, A., Manar, M. K., Singh, S. K., Mohan, U., Panday, K., & Mohan, U. (2020). Traditions & customs of ancient indian culture and their role in covid 19 pandemic prevention and control. Indian Journal of Community Health, 32(2), 317–323. https://doi.org/10.47203/ijch.2020.v32i02.003 Whitman, S. M. (2007). Pain and Suffering as Viewed by the Hindu Religion. Journal of Pain, 8(8), 607–613. https://doi.org/10.1016/j.jpain.2007.02.430 Worship, N., Study, C., & Villages, S. (2022). Asian Resonance Nature Worship among Hindus : A Case Study of Select Villages from Haryana. 0976, 64–68. 93