Beragama Tanpa Kekerasan (Analisis Pemikiran Armada Riyanto dan Kontribusinya bagi Skema Moderasi Beragama di Indonesi. Romanus Piter Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang Email : fransromanus99@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi pemikiran Armada Riyanto tentang pluralitas agama di Indonesia yang kerap menampilkan fenomena kekerasan. Elaborasi ini bermaksud menemukan solusi bagi kasus-kasus kekerasan yang tali temali dengan agama di Indonesia. Sejatinya pluralitas agama di Indonesia merupakan harmoni dan keindahan hidup bersama untuk menciptakan masyarakat yang adil dan damai. Akan tetapi, tak dapat disangkal bahwa agama kerap menjadi biang bagi kasus-kasus intoleransi, konflik, kekerasan, diskriminasi bahkan persekusi. Dalam penelitian ini hasil elaborasi pemikiran Armada Riyanto memberi kontribusi bagi skema moderasi beragama di Indonesia. Metodologi penelitian ini adalah studi fenomenologi dengan pendekatan deskriptif-elaboratif. Hasil penelitian ini menemukan hidup beragama di Indonesia yang kerap tali temali dengan kekerasan dapat diatasi dengan tiga skema moderasi beragama. Pertama, tokoh agama, pemerintah dan masyarakat mesti berani menyuarakan nilai-nilai baik dalam agamanya tanpa mengandung usnsur eksklusivisme ekstrem terhadap penganut agama yang berbeda dengannya. Kedua, membangun persaudaraan sejati dalam lingkungan pertemanan seperti di sekolah, kampus, kantor atau tempat kerja lainnya, tempat tongkrongan, para tetangga dan dengan siapa saja yang dijumpai sehari-hari. Ketiga, membangun kerja sama di antara para subjek beragama yang berorientasi pada pengangkatan martabat manusia. Kata kunci: Agama. Intoleransi. Kekerasan. Moderasi Beragama Abstract This study aims to elaborate Armada Riyanto's thoughts about religious plurality in Indonesia which often displays the phenomenon of violence. This elaboration intends to find solutions to cases of violence related to religion in Indonesia. Religious plurality in Indonesia is the harmony and beauty of living together to create a just and peaceful society. However, it cannot be denied that religion is often the source of cases of intolerance, conflict, violence, discrimination, and even persecution. this study, the results of the elaboration of Armada Riyanto's thoughts contribute to the moderation scheme of religion in Indonesia. The research methodology is a phenomenological study with a descriptive-elaborative approach. The results of this study found that religious life in Indonesia, which is often rigged with violence, can be overcome by three religious moderation schemes. First, religious, government and community leaders must have the courage to voice the good values of their religion without containing elements of extreme exclusivism towards adherents of religions that are different from their own. Second, building true brotherhood in a friendly environment such as at school, campus, office or other workplaces, hangout places, neighbors, and with anyone you meet Third, building cooperation among religious subjects that are oriented towards uplifting human Key words: Religion. Violence. Intolerance. Religious Moderation PENDAHULUAN Konflik dan kekerasan atas nama agama kerap terjadi di Indonesia. Beberapa kasus yang cukup mengerikan seperti di Poso. Sulawesi Tengah pada tahun 1992. Aceh pada tahun 2015. dan Sintang. Kalimantan Barat pada tahun 2021 (Mubarrak & Kumala, 2020. Widayat et al. , 2021, bbc. com, 6/9/2. Bahkan, pada 23 April 2023 atau baru-baru ini terjadi ancaman pembunuhan oleh salah satu pegawai negeri Badan Riset dan Inovasi Nasional terhadap warga muslim Muhammadiyah karena perbedaan tanggal pelaksanaan Idul Fitri 1444 Hijriah . com, 25/4/2. Selain agama, ada banyak persoalan yang melatarbelakangi konflik dan kekerasan tersebut. Kekerasan atas nama agama merupakan akibat dari perilaku buruk seseorang, sehingga salah mengamalkan ajaran agamanya (Y, 2. Selain itu, kekerasan atas nama agama yang sering terjadi dikarenakan adanya orang atau kelompok-kelompok yang merasa terusik dengan orang atau kelompok lain yang berbeda denganya (Dachrud & Mantu, 2. Problem ganda ialah adanya politisasi agama oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab (Isnaeni, 2014. Kasim, 2. Situasi ini sangat memprihatinkan, sebab mencederai Pancasila sebagai ideologi negara yang menjamin hak dan kebebasan beragama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemikiran Armada Riyanto mengenai kekerasan atas nama agama seperti di atas. Dia secara khusus menawarkan gagasan agama tanpa kekerasan untuk mengatasi masalah Dia melihat fenomena kekerasan yang terjadi atas nama implementasi dan penghayatan ajaran agama merupakan ketidakmampuan subjek beragama dalam memahami dan menghidupi nilai-nilai agamanya dengan baik dan benar (A. Riyanto, 2. Analisis pemikiran Armada Riyanto ini ingin memberi kontribusi bagi skema moderasi beragama di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode studi fenomenologis. Pada tahap pertama akan dilakukan analisis pemikiran Armada Riyanto yang bersumber dari publikasi buku dan artikelnya. Pada tahap kedua akan dibentuk skema moderasi beragama di Indonesia berdasarkan hasil analisis pemikiran Armada Riyanto tersebut. METODE Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dalam perspektif fenomenologis. Perspektif fenomenologi bersumber dari pemikiran Edmund Hussrel . Dalam Armada Riyanto . 8, 2. diterangkan bahwa studi fenomenologi Hussrel merupakan sebuah filsafat yang menggali kebenaran tentang manusia dalam lifeworld-nya, dari everyday life-nya, dan dari being-nya. Singkat kata, fenomenologi Hussrel merupakan filsafat dan metodologi scientific yang mengurai pengalaman hidup manusia. Konteks pengalaman hidup manusia dalam penelitian ini ialah pengalaman kehidupan beragama di Indonesia yang dikritisi Armada Riyanto, karena kerap memunculkan kekerasan dan konflik dalam menghayati ajaran agama. Perspektif fenomenologis ini digunakan untuk membangun suatu skema moderasi beragama di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Armada Riyanto Franciscus Xaverius Eko Armada Riyanto atau yang akrab dipanggil Armada Riyanto merupakan Profesor Filsafat sekaligus rektor di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Jawa Timur. Para mahasiswanya kerap memanggilnya Romo Armada. Sebab dia merupakan seorang imam atau pastor Gereja Katolik dari Kongregasi Misi (Vinsensia. Dia lahir di Nganjuk, 6 Juni 1965. Pada usis ke-33 tahun, dia menyelesaikan studi doktoralnya dalam bidang filsafat di Universitas Gregoriana. Roma. Italia, dengan disertasi berjudul Right and Obligation in Thomas Hobbes pada tahun 1999. Saat ini. Armada Riyanto mengampu mata kuliah etika dan filsafat politik di program sarjana, serta metodologi riset di program magister dan doktor teologi. Dia menaruh minat pada studi dialog interreligius dan studi fenomenologi untuk membentuk fondasi dan skema filsafat ke-Indonesia-an. Pemikiran Armada Riyanto sebagian besar dipengaruhi oleh fenomenologi Edmund Husserl . Hal ini tampak dalam publikasinya berupa hasil-hasil riset fenomenologis seperti Interreligious Dialogue and Formation . Dialog Interreligius: Historisitas. Tesis. Pergumulan. Wajah . Berfilsafat Politik . Aku dan Liyan . Menjadi-Mencintai: Berfilsafat Teologis Sehari-hari . Katolisitas Dialogal: Ajaran Sosial Katolik . Kearifan Lokal Pancasila: Butir-butir Filsafat Keindonesiaan . Relasionalitas: Filsafat Fondasi Interpretasi. Aku. Teks. Liyan. Fenomen . Mendesain Riset Filosofis-Fenomenologis dalam Rangka Mengembangkan AuBerfilsafat IndonesiaAy . rtikel, 2. Metodologi: Pemantik dan Anatomi Riset Filosofis Teologis . dan masih banyak lagi artikel jurnal dan prosiding. Satu peristiwa yang membuat Armada Riyanto sangat berpengaruh dalam dinamika kehidupan sosial politik dan hukum di Indonesia ialah ketika terjadi Bom Bali I. Saat itu dia menulis sebuah artikel dengan judul Genesis Terorisme yang diterbitkan oleh harian Kompas pada 22 Oktober 2002. Artikelnya tersebut kemudian menjadi suatu pionir bagi keprihatinan meluasnya gerakan kelompok teroris di Indonesia. Gagasan-gagasannya mengenai terorisme banyak dia kaitkan dengan nihilisme. Pada saat itu, terjadi suatu perdebatan mengenai UU Antiterorisme Bali, terutama mengenai tidak berlakunya asas retroaktif UU tersebut untuk menyelesaikan kasus Bom Bali. Fenomena itu membuatnya geram, sehingga dia menulis kritik tajam yang diterbitkan di harian Kompas pada 30 Juli 2004 dengan judul Positivisme Hukum Mahkamah Konstitusi: Kritik atas Pembatalan UU Antiterorisme Bali. Kritik Armada Riyanto itu kemudian dijadikan sebagai rujukan diskusi mengenai positivisme dan keadilan hukum di Indonesia. Pemikiran Armada Riyanto tentang Agama Anti Kekerasan Menurut Armada Riyanto, agama merupakan cetusan dialogal yang dapat disebut paling lengkap antara manusia dengan Tuhannya dan antara manusia dengan sesamanya (A. Riyanto, 2. Selain itu, agama adalah pencetusan pengembaraan manusia yang tak kunjung rampung untuk bersatu dengan Allahnya, karena Allah adalah sumber dari segala kedamaian, kebahagiaan dan kasih (A. Riyanto, 2. Singkat kata, relasional antara manusia dengan sesamanya pada dasarnya ialah proses menuju Allah sendiri. Pengertian agama ini merupakan buah refleksi Armada Riyanto atas nilai-nilai esensial yang terkandung dalam ajaran agama-agama di seluruh dunia. Dia meneliti dengan cermat ajaran Gereja Katolik mengenai agama yang terdapat dalam dokumen-dokumen gereja seperti Evangelii Nuntiandi art. Nostra Aetate art. 2, dan Dialogue and Proclamation art. Menurutnya, aneka kesaksian yang menakjubkan dari orang-orang yang bertekun dalam ketaatan agama mengungkapkan suatu pengalaman akan nilai-nilai keselamatannya, kesucian dan perdamaian (A. Riyanto, 2. Selain itu, merujuk pemikiran Karl Rahner . Armada Riyanto meyakini bahwa biarpun agama-agama yang kurang sempurna dan kurang lengkap dalam pewahyuan Allah, namun mereka dapat menjadi suatu realitas konkret dan memiliki andil dalam sejarah positif keselamatan manusia (A. Riyanto, 2. Armada Riyanto meyakini bahwa manusia dari kodratnya rindu akan kedamaian. Hal ini dapat dilihat dalam fenomena eksistensial para penganut agama apa pun. Agama Islam dikenal dengan agama perdamaian, agama Kristen Katolik dan Protestan dikenal dengan agama cinta kasih, agama Hindu dikenal dengan agama yang menekankan dharma, agama Buddha dikenal dengan gagasan pelepasan diri dari segenap penderitaan Secara konseptual, nilai-nilai yang terkandung dalam agama-agama tersebut mengacu pada satu titik dan cita-cita yang sama, yakni perdamaian dan kerukunan yang hendak direalisasikan dalam kehidupan seharihari (A. Riyanto, 2. Akan tetapi, pada tataran konkret, real, mondial . ealitasnya dalam dunia sehari-har. hampir selalu ditemukan aneka rincian kompleksitas dinamika persoalannya. Menurut Armada Riyanto, pengalaman eksistensial memperlihatkan hal itu dengan mula-mula berupa perbedaan, berseberangan, tetapi makin lama juga timbul pertentangan dan pertikaian (A. Riyanto, 2. Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran setiap agama menjadi mental dalam praktik dan realitas konkret subjek beragama. Bagi Armada Riyanto, pada akhirnya dinamika hidup beragama tidak selamanya mempesona, melainkan kerap pula menjadi bencana (A. Riyanto, 2. Di dalam bencana inilah terdapat aneka konflik, kekerasan, diskriminasi bahkan persekusi (A. Riyanto. Fenomena seperti ini jelas mencabut nilai-nilai luhur agama dari dalam diri para subjek beragama ketika subjek beragama, atas nama Tuhan dan agamanya, berbuat semaunya, egois dan menafikan perdamaian serta cinta kasih. Inilah yang kemudian membuat Armada Riyanto memikirkan satu gagasan esensial bahwa agama itu sejatinya anti kekerasan. Menurut Armada Riyanto, agama anti kekerasan tidak merujuk pada paham-paham doktrinal agama, melainkan tugas dan tanggung jawab dari subjek manusia siapa pun yang mengatakan dirinya beragama (A. Riyanto, 2. Selain itu, agama anti kekerasan memaksudkan juga sebuah keterbukaan, bukan ketertutupan dan eksklusivisme (A. Riyanto, 2. Maksudnya ialah ajaran agama dari sendirinya anti kekerasan, karena yang bergumul dengan kekerasan bukan agamanya, melainkan subjek-subjek manusianya yang beragama. Singkat kata, agama anti kekerasan secara khusus ditujukan kepada para subjek beragama dalam menjalankan ajaran Tujuan yang ingin dicapai dari gagasan agama anti kekerasan ialah cinta kasih yang nyata terjadi di antara sesama subjek beragama. Ada tiga gagasan yang dicetuskan Armada Riyanto sebagai bentuk penghayatan ajaran Ketiga gagasan ini merupakan model hidp beragama yang ideal dalam pengalaman eksistensial yang mesti dibangun dalam hidup sehari-hari, yakni membangun iman yang merangkul, menggagas persaudaraan sejati, dan mengedepankan orientasi kemanusiaan. Membangun Iman yang Merangkul Menurut Armada Riyanto, agama anti kekerasan pertama-tama memaksudkan makna mendalam dan konkret bahwa subjek-subjek yang beragama mesti membangun suatu penghayatan iman yang merangkul (A. Riyanto, 2. Dalam konteks ini, merangkul berarti merujuk pada suatu penghayatan iman yang mengedepankan model-model rekonsiliatif. Cetusan Armada Riyanto atas gagasan ini merupakan hasil dari refleksi atas ajaran Gereja Katolik, bahwa membangun proses rekonsiliasi sangat penting menutamakan dobel aktivitas yakni AumemaafkanAy sekaligus Aumeminta maaf. Ay AuBerangkulanAy adalah realitas yang mengatakan penyambutan, penerimaan, pengampunan. AuSiapa merangkulAy dan Ausiapa yang dirangkul,Ay tidak penting. Pertanyaan distingtif yang hanya hendak menegaskan siapa mengampuni . iapa tidak bersala. dan siapa yang diampuni . iapa bersala. , tidak perlu. Yang perlu ialah aktivitas saling mengampuni dan saling meminta maaf (A. Riyanto, 2. Gagasan di atas mau menegaskan bahwa seorang beriman mesti menunjukan sikap yang terbuka terhadap Sikap terbuka ini memungkinkan terjadinya situasi atau kenyataan saling AuberangkulanAy antarsubjek Sebab sangat merugikan persatuan dan kesatuan bangsa ketika antarsesama saling berkonflik dan berselisihpaham atas nama pembelaan doktrin agama dan kebenarannya. Kembali pada gagasan sebelumnya bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam agama tentu baik, indah dan benar. Oleh sebab itu, membangun iman yang merangkul sekaligus merupakan sikap untuk semakin memupuk tali persaudaraan dan persatuan sebagai satu bangsa. Dalam diri setiap individu subjek beragama hal ini mesti tampak nyata dalam kehidupan bersama. Menggagas Persaudaraan Sejati Menurut Armada Riyanto, agama anti kekerasan juga memiliki imperatif konsekuensi bahwa subjeksubjek manusia yang beragama harus pula berani menggagas persaudaraan sejati, yakni aktivitas persahabatan (A. Riyanto, 2011, 2. Mengikuti pemikiran Aristoteles. Armada Riyanto menegaskan bahwa persahabatan amat perlu dalam setiap keadaan hidup manusia siapa pun dan kapan saja. Oleh sebab itu, persahabatan mencetuskan kesetiakawanan, kebersamaan, kerukunan, kekerabatan, ketetanggaan, kekeluargaan (A. Riyanto, 2011, 2. Pertanyaan besarnya ialah, mengapa dalam konteks mewujudkan agama anti kekerasan harus ada sahabat dan persahabatan? Karena sahabat adalah Auaku yang lain,Ay aneka pengalaman kegembiraan, harapan, dan kecemasannya adalah kegembiraan, harapan dan kecemasanku sendiri (A. Riyanto, 2. Dalam konteks beragama dan berada di tengah pluralitas subjek beragama, persahabatan mentransendensi kesetiaan pada peraturan religius, agama, atau peraturan sakral sama sekali (A. Riyanto, 2. Maksud dari gagasan itu ialah segala tindakan taat pada ajaran agama dan peraturannya jika tidak diwujudnyatakan dalam tindakan sebagai sahabat, maka tidak akan menghasilkan nilai baik dan tak berarti apa-apa. Armada Riyanto menggarisbawahi bahwa persahabatan bukanlah suatu tindakan lengkap sekali jadi, sebab ia merupakan suatu rangkaian dari proses tindakan menjadi sahabat (A. Riyanto, 2. Itu sebabnya persahabatan disebut sebagai suatu proses mentransendensi diri. Persahabatan itu suatu tindakan AupenyebranganAy dari diri sendiri kepada yang lain secara terus-menerus. Penyebrangan ini bukan suatu bentuk peleburan atau penghilangan eksistensi diri, melainkan justru pemenuhan diri sebagai manusia yang secara kodrati tidak mungkin hidup sendirian. Semakin manusia AumenyebrangAy ke orang lain, dia semakin menjadi dirinya sendiri. Dan, sebaliknya, semakin dia mengurung diri sendiri, semakin tidak manusiawi. Karena, mengurung diri berarti menyangkal keberadaan dan peran dari sesamanya yang lain (A. Riyanto, 2. Gambaran persahabatan menjadi makin jelas untuk embangun suatu agama yang anti kekerasan. Sebab antarsubjek beragama dengan sendirinya bisa menerapkan sikap toleransi. Situasi mentransendensi diri ialah aktivitas toleransi, yakni memberi tempat dan waktu untuk orang lain menjalankan ritual dan ajaran agamanya tanpa tekanan dan baying-bayang persekusi. Singkat kata, jika semangat persahabatan atau persaudaraan sejati diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka penghayatan iman tidak menjadi artifisial, eksklusif, logosentris dan jargonsentris dengan segala atribut gegap-gempitanya yang mengucilkan orang lain (A. Riyanto. Selain itu, persahabatan atau persaudaraan sejati sekaligus akan membangun penghayatan hidup beragama menjadi relasi personal dengan sesame dan berpusat pada Allah sendiri. Mengedepankan Orientasi Kemanusiaan Agama anti kekerasan tentu mesti mengedepankan orientasi kemanusiaan dalam hidup beriman kepada Tuhan. Menurut Armada Riyanto, pertanyaan eksistensial atas aneka kekerasan yang gandeng dengan agama ialah: Mengapa hidup beragama berkaitan dengan tindakan tak manusiawi? Mengapa agama dan kekerasan tali temali? Pertanyaan ini muncul ketika Armada Riyanto melihat fakta-fakta peristiwa kekerasan dan konflik mengerikan di Indonesia yang dilandasi oleh agama, seperti di Ambon dan sekitarnya. Poso. Aceh dan lain Menurutnya, kehidupan bersama telah dicabik-cabik oleh konflik atas nama agama (A. Riyanto. Jawaban atas pertanyaan di atas ialah karena realitas ke-tidaksempurna-an manusia dalam menghayati agamanya (A. Riyanto, 2. Agama dari sendirinya suci, karena memuat ajaran dari Allah sendiri. Sedangkan manusia adalah makhluk yang lemah, berdosa dan tak sempurna. Kekerasan pada gilirannya berasal dari kelemahan manusia dalam menghayati apa yang suci dari Allah (A. Riyanto, 2. Kekerasan itu pertama-tama timbul dari cara-cara penghayatan manusia ang salah kaprah. Manusia bersikukuh membela AukebenaranAy agama, sementara kebenaran itu sendiri kerap diredusir dalam frase-frase slogan yang sering kali simplistis (A. Riyanto. Merujuk pemikiran David Hume. Armada Riyanto menegaskan bahwa tindakan cinta kasih ialah tindakan kemanusiaan, sehingga cinta kasihlah cetusan paling tinggi dan paling lengkap dari penghayatan hidup manusia beragama (A. Riyanto, 2. Hal ini mau menegaskan bahwa orientasi kemanusiaan berarti keterbukaan, yakni tindakan kerja sama menanggung berat dan repotnya hidup ini, bukan pengucilan atau pengutukan sesamanya yang lain. Dari sendirinya bahwa keterbukaan merujuk pada sikap-sikap penyambutan dan pengampunan, bukan pembencian atau pembalasan dendam. Oleh sebab itu. Armada Riyanto menegaskan bahwa orientasi kemanusiaan dalam membangun agama anti kekerasan tidak lain adalah tindakan-tindakan promotif perdamaian dengan sesame manusia itu sendiri, di sini dan saat ini (A. Riyanto, 2. Analisis Pemikiran Armada Riyanto Gagasan yang dicetuskan Armada Riyanto ialah agama anti kekerasan. Gagasan ini sebagai tanggapan atas fenomena kekerasan para subjek beragama di Indonesia dalam menjalankan prkatik ajaran agamanya. Gagasan ini menawarkan agar para subjek beragama mestinya menjalankan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam agama itu sendiri yang penuh dengan cinta kasih, damai, persaudaraan sejati dan berorientasi pada pengangkatan dan penghargaan nilai manusiawi setiap individu. Semua nilai yang terkandung ini berkualitas lengkap, baik dan Kualitas nilai inilah yang mestinya dicapai dari praktik dan implementasi ajaran agama dalam tata hidup Dalam hemat saya, gagasan Auagama anti kekerasanAy sejatinya dapat dipahami juga dengan istilah Auberagama tanpa kekerasan. Ay Istilah Auberagama tanpa kekerasanAy dimaksudkan untuk memudahkan dalam memahami gagasan yang ditawarkan Armada Riyanto. Istilah Auberagama tanpa kekerasanAy inilah yang akan digunakan untuk memberi kontribusi bagi skema moderasi beragama di Indonesia. Skema Moderasi Beragama di Indonesia Moderasi beragama di Indonesia sudah menjadi agenda nasional. Setiap tahun moderasi beragama selalu dikampanyekan, baik oleh pemerintah maupun tokoh-tokoh agama dan masyarakat. Ini mengindikasikan bahwa kebebasan beragama, terutama untuk memnuhi hak dan kewajiban subjek beragama masih rendah di Indonesia. Kasus kekerasan dan intoleransi agama juga kerap terjadi. Pertama-tama, perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai apa itu moderasi beragama. Secara etimologis, kata moderasi berasal dari kata dalam Bahasa Latin moderatio yang berarti sedang . i tenga. atau tidak kurang dan tidak lebih. Dalam Bahasa Inggris disebut moderation yang berarti menghindari sesuatu yang berlebihan atau ekstrem. Dengan kata lain, ia berarti juga suatu kualitas tindakan seseorang dalam melakukan sesuatu pada batas yang wajar atau sedang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri moderasi dipahami sebagai pengurangan kekerasan atau penghindaran keekstreman. Dari pengertian dasar itu dapat dipahami bahwa moderasi ialah suatu tindakan seseorang berada di tengah-tengah di antara dua pihak atau lebih, tidak memihak secara ekstrem . , dan mampu menahan atau mengontrol diri. Dalam buku panduan mengenai moderasi beragama yang diterbitkan oleh Kementrian Agama RI dijelaskan bahwa moderasi beragama merupakan cara beragama jalan tengah. Artinya ialah, seseorang tidak ekstrem dan tidak berlebih-lebihan saat menjalani ajaran agamanya dan orang demikian disebut moderat (RI. Susanti, 2. Beberapa pengertian lain menyebutkan bahwa moderasi agama adalah sikap yang seimbang antara praktik agama itu sendiri . ecara eksklusi. dan menghormati praktik keagamaan orang lain yang merupakan keyakinan yang berbeda . (Pratiwi et al. , 2. penghayatan dan pengamalan agama demi toleransi dan pembebasan manusia dari sikap dan tindakan ekstrem yang berisiko dehumanisasi (Abror, 2020. Akhmadi, 2019. Samho, 2. Sementara dari segi implementasi perspektif agama Islam, moderasi beragama dapat ditunjukkan melalui sikap tawazun . , iAotidal . urus dan tega. , tasamuh . , musawah . , syura . , ishlah . (Fahri & Zainuri, 2. , dan perspektif agama Kristen ialah hukum cinta kasih (Suratman et al. , 2021. Widodo & Karnawati, 2. Dari pengertian-pengertian dasar tersebut dan setelah menganalisis pemikiran Armada Riyanto, maka berikut ini skema moderasi beragama agar dapat dilakukan di Indonesia. Pertama, para pemimpin agama, pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat mesti berani menyuarakan nilai-nilai baik dalam agamanya tanpa mengandung usnsur eksklusivisme ekstrem terhadap penganut agama yang berbeda dengannya. Mengapa tokoh-tokoh ini mesti menjadi motor bagi moderasi beragama di Indonesia? Sebab sebagai figur publik mereka memiliki pengaruh besar untuk diikuti oleh umat dan masyarakat. Selain itu, di tengah pluralitas agama di Indonesia, cukup banyak tokoh-tokoh penting seperti ini untuk bersuara, terutama untuk penerimaan kelompok lain . mat beragama lai. yang berbeda dengannya. Para pemimpin agama cukup banyak yang bungkam terhadap kasus kekerasan atas nama agama . Magnis-Suseno, 2. Kalau pun ada, jumlahnya kerap tidak sebanding dengan gelombang informasi kasus yang bergulir di tengah masyarakat. Akibatnya ialah, ada kesan tokoh-tokoh agama tertentu seperti bungkam atas kasus kekerasan atas nama agama. Apalagi kalau itu bukan termasuk di wilayah tugasnya atau daerahnya. Demikian pula pejabat pemerintah. Di beberapa daerah di Indonesia kerap dijumpai kepala daerah mengeluarkan aturan-aturan yang melanggar hak dan kebebasan untuk menjalankan ritual dan ajaran agama kelompok tertentu. Kasus-kasus seperti ini cukup banyak terjadi dalam institusi pendidikan dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Mestinya kepala daerah berani menjamin kebebasan beragama di daerahnya dan dapat menjamin tidak terjadinya diskriminasi, intoleransi dan persekusi. hal itu dapat dibuktikan dengan tidak adanya lagi aturan-aturan dalam konteks agama yang bertentangan dengan Pancasila. Hal yang sama juga berlaku untuk tokoh-tokoh masyarakat. Mestinya tokoh masyarakat dapat menjadi agen bagi usaha menghidupkan toleransi antarumat beragama. Dalam konteks inilah Auberiman yang merangkulAy seperti digagas Armada Riyanto baru benar-benar dapat terwujud secara nyata. Bukan hanya slogan dan pemeo belaka. Mengapa untuk Aumembangun iman yang merangkulAy mesti dependen dengan tokoh-tokoh tadi? Fakta menunjukkan bahwa di Indonesia ini pengaruh publik figur sangat kuat untuk membangun, merubah bahkan merobohkan sesuatu baik itu paham, kepercayaan dan ideologi. Oleh sebab itu, tokoh pemimpin atau pemuka agama, pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat mesti bisa menjadi agen bagi usaha Aumembangun iman yang merangkul. Ay Kedua, menumbuhkan persahabatan dan persaudaraan sejati mulai dari teman di sekolah, kampus, kantor atau tempat kerja lainnya, bahkan di tempat tongkrongan, dengan para tetangga dan dalam perjumpaan dengan siapa saja sehari-hari. Hal ini merupakan sebuah proses mentransendensi diri, keluar dari diri sendiri, untuk membangun relasi dengan orang lain dan suasana sebagai sahabat. Singkat kata, hubungan persahabatan memungkinkan adanya pula keterbukaan antarsubjek yang berrelasi. Ketika skema persahabatan ini diterapkan pula dalam konteks relasional dalam menghayati dan menjalankan ajaran agama, maka cinta kasih, perdamaian, keadilan dan kesejahteraan bersama dapat tumbuh di tengah masyarakat Indonesia. Dengan sendirinya kekerasan-kekerasan yang terjadi atas nama pembelaan agama dan Tuhan dapat diatasi. Ini merupakan suatu model moderasi beragama yang paling sederhana, akan tetapi pengaruhnya sangat besar untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, membangun kerja sama di antara para subjek beragama yang berorientasi pada pengangkatan martabat manusia. Program moderasi jenis ini merupakan suatu aktivitas sosial yang dapat menjadi kesempatan untuk semakin menampakkan nilai-nilai paling luhur dari agama yang dianut sesorang dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak kegiatan karitatif di Indonesia yang dapat menjadi wadah untuk mengimplementasikan atau mewujudnyatakan skema moderasi bagian ketiga ini. Ketika fenomena hidup subjek beragama menampilkan program moderasi bagian ketiga ini, maka dengan sendirinya penghayatan iman dalam agama memiliki kualitas yang dapat diapresiasi. Sebab, penghayatan iman kepada Tuhan sebagai sumber kebaikan, kebenaran dan cinta kasih akan tampak nyata dalam aktivitas konkret yang dilakukan subjek beragama sehari-hari. Seperti ditegaskan Armada Riyanto bahwa cinta kasih merupakan jiwa dan spirit yang mendorong terjadinya aktivitas-aktivitas humanisasi dalam tata hidup bersama. KESIMPULAN Beragama tanpa kekerasan yang digagas Armada Riyanto merupakan suatu gagasan yang penting dan mendesak untuk digemakan di Indonesia. Sebab kekerasan yang tali temali dengan agama secara tidak langsung mengeliminasi nilai-nilai Pancasila dalam tata hidup bersama. Beragama tanpa kekerasan dimaksudkan agar setiap subjek beragama atau orang yang mengaku dirinya memiliki agama, dia dapat menghayati nilai-nilai ajaran agamanya dan menampilkannya dalam hidup sehari-hari demi sebuah situasi hidup yang adil, damai, penuh cinta kasih. Program atau agenda demikian ini mesti masuk dalam agenda moderasi beragama. Dengan demikian kesejahteraan di Indonesia dapat menjadi nyata. DAFTAR PUSTAKA