Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 74 Ae 78 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/413 Manajemen Fisioterapi pada Post-Operative Ligamen Anterior Cruciatum dan Ligamen Anterolateral pada Pemain Motor Trail Physiotherapy Management in Post-Operative Anterior Cruciate Ligaments and Anterolateral Ligaments in Dirt Bike Players Nurul Hikmah1. Irianto2. Immanuel Maulang3 Universitas Hasanuddin Email korespondensi: nurulhikmahhalid141@gmail. Dikirim: 26 Jun 2024 Ditinjau: 26 Agu 2024 Disetujui: 3 Okt 2024 Publikasi Online: 10 Okt 2024 ABSTRAK Anterior Cruciate Ligament merupakan ligamen yang paling sering mengalami cedera. Risiko cedera ACL disertai ALL ini dapat meningkat karena adanya beberapa faktor baik dari luar . maupun dari dalam . , juga faktor psikologis. Beberapa intervensi dapat dilakukan dengan berbagai modalitas berupa electrotherapy maupun exercise. Penelitian ini bertujuan mengetahui upaya pemulihan pada pasien pasca rekonstruksi ACL dan ALL dengan peningkatan ROM. Metode: Studi ini merupakan laporan kasus, data primer diperoleh melalui autoanamnesis, alloanamnesis, dan pemeriksaan fisik. Hasil: Seorang pasien berusia 35 tahun dengan diagnosis post operative rekonstruksi ACL dan ALL diberikan penanganan fisioterapi seperti electrotherapy, infrared rays. A neuromuscular electrical stimulation, patella mobilization. Setelah fisioterapi terjadi perubahan pada aspek nyeri, kekuatan otot pada m. quadriceps, dan oedem. Evaluasi 3 kali pertemuan tersebut menghasilkan adanya penurunan oedem, nyeri, dan meningkatkan kekuatan otot pasca operasi rekonstruksi ACL dan ALL. Kata kunci: Anterior Cruciate Ligament. Anterolateral Ligament. Fisioterapi ABSTRACT The Anterior Cruciate Ligament is the most frequently injured ligament. The risk of ACL injury accompanied by ALL can increase due to several factors both external . and internal . , as well as psychological Several interventions can be done with various modalities such as electrotherapy or exercise. This study aims to determine the recovery efforts in patients after ACL and ALL reconstruction with increased ROM. Methods: This study is a case report, primary data was obtained through autoanamnesis, alloanamnesis, and physical Results: A 35-year-old patient with a diagnosis of post-operative ACL and ALL reconstruction was given physiotherapy treatment such as electrotherapy, infrared rays. A neuromuscular electrical stimulation, patella After physiotherapy, there were changes in the aspects of pain, muscle strength in the m. and edema. The evaluation of the 3 meetings resulted in a decrease in edema, pain, and increased muscle strength after ACL and ALL reconstruction surgery. Keyword: Anterior Cruciate Ligament. Anterolateral Ligament. Physiotherapy PENDAHULUAN Sendi terbesar dalam tubuh manusia berperan sebagai penopang tubuh dalam keadaan berdiri, berjalan, berlari. Knee joint ini memiliki beberapa struktur di dalamnya, salah satunya ligamen yang berfungsi sebagai pengontrol atau stabilisator yang mampu menahan gerakan berlebih pada lutut. Anterior Cruciate Ligament (ACL) yang mencegah peregeseran os femur ke arah anterior os tibia. Posterior Cruciate Ligament (PCL) mencegah pegeseran os femur ke belakang, mencegah ke arah samping bagian luar . terdapat Lateral Cruciate Ligament serta ke arah samping bagian dalam . terdapat Medial Cruciate Ligament. Selain ligament utama terdapat juga struktur tambahan yaitu Anterolateral Ligament (ALL) yang berperan sebagai stabilisator rotasi anterolateral . Adanya ketidakstabilan pada knee joint karena terjadinya rupture atau tear pada ligamen, salah satunya total rupture ACL sehingga os tibia dapat bergerak secara bebas terhadap femur. Cedera yang terdapat pada lutut ini bisa terjadi karena adanya benturan saat terjatuh, adanya kontak fisik ataupun akibat dari gerakan penghentian dan perubahan arah gerakan secara berlebihan atau tiba-tiba sehingga menyebabkan terjadinya robekan pada ligamen . Anterior Cruciate Ligament merupakan ligamen yang paling sering mengalami cedera. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa prevalensi cedera ACL berkisar antara 30 hingga 78 per Manajemen Fisioterapi pada Post-Operative Ligamen AnteriorA| Nurul Hikmah dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 74 Ae 78 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/413 000 orang. Menurut analisis data National Collegiate Athletic Association (NCAA) Injury Surveilans Program (ISP) dari tahun 1988 hingga 2004 menunjukkan bahwa angka tertinggi terjadi pada olahraga senam wanita dan sepak bola. Pada tahun 2004 hingga 2013 ditemukan penurunan rupture ACL sebesar 88% pada pesenam wanita dan 64% pada sepak bola . Selain itu ACL ini biasa terjadi cedera bersamaan dengan struktur lain pada lutut, salah satunya Anterolateral Ligament (ALL). Tingkat cedera ALL ini berkisar 93% pada pasien dengan cedera ACL (Delaloye, dkk. , 2. Risiko cedera ACL disertai ALL ini dapat meningkat karena adanya beberapa faktor baik dari luar . maupun dari dalam . , juga faktor psikologis. Faktor ekstrinsik ini seperti aktivitas fisik yang melibatkan peningkatan beban pada lutut . eperti olahraga melompat, berputar, perubahan arah secara tiba tib. , faktor lingkungan seperti permukaan bermain yang tidak sesuai, kondisi cuaca dan peralatan yang tidak memadai, kurangnya pelatihan teknik yang tepat, kurangnya pengetahuan tentang pencegahan cedera. Faktor intrinsik yang mungkin memengaruhi yaitu struktur anatomi individu . entuk tulang, lebar panggu. , genetik, usia dan jenis kelamin. Kemudian faktor psikologis seperti ketidakseimbangan otot dan koordinasi yang buruk serta kurangnya fokus saat berolahraga . Untuk mengatasi cedera, dapat dilakukan pengobatan seperti datang ke klinik fisioterapi melakukan pemeriksaan dan konsultasi. Jika mengalami rasa nyeri yang berlebihan maka perlu dilakukan tes Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk mengetahui lokasi, ukuran, bentuk perluasan dari cedera yang dialami . Sebagian besar cedera ACL maupun ALL membutuhkan tindakan pembedahan dengan mengganti ligamen menggunakan jaringan tendon untuk mengembalikan fungsi fiksasi dan stabilisasi pada sendi seperti sebelumnya . Komplikasi umum yang mungkin terjadi pasca operasi yaitu arthrofibrosis. Sebuah penelitian menyatakan bahwa kondisi ini dapat mempengaruhi 1,7% hingga 35% pasien setelah rekonstruksi dan dapat mengganggu pemulihan serta menunda untuk kembali keolahraga. Namun, diagnosis arthrofibrosis sangat kompleks tanpa adanya penyataan terkait kondisi yang sebenarnya, sehingga sulit untuk dianalisis. Selain itu, para peneliti juga menyatakan arthrofibrosis menjadi penyebab umum kedua untuk operasi ulang setelah rekonstruksi ACL . Fisioterapi memiliki peran penting dalam mengembalikan dan mengatasi problematika yang ada pada pasien anterior cruciate ligament dan anterolateral ligament reconstruction dengan memberikan modalitas dan juga exercise. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah memberikan gambaran manajemen fisioterapi pada kasus anterior cruciate ligament dan anterolateral ligament reconstruction. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan case report . tudi kasu. Subjek penelitian yaitu pasien pria berusia 35 tahun dengan kondisi post operative ACL dan ALL reconstruction. Data primer diperoleh melalui autoanamnesis dan alloanamnesis, serta pemeriksaan fisik. Kemudian dilakukan analisis secara mendalam meliputi deskripsi kasus, pemeriksaan, intervensi yang digunakan, dan evaluasi hasil. Penilaian ini dilakukan di Klinik Physiocenter Makassar. HASIL DAN PEMBAHASAN Seorang pasien dengan usia 35 tahun datang ke Klinik Physiocenter Makassar dengan keluhan nyeri di bagian lutut kanannya. Pasien mengalami cedera pada bulan Januari 2024 ketika sedang mencoba mengendarai motor trail, namun terjatuh dengan posisi kaki kanan rotasi dan semifleksi kemudian tertindas motor. Saat cedera pasien mendengar bunyi AoklikAo pada lutut kanannya dan merasa sangat nyeri tapi masih berusaha untuk berdiri secara mandiri dan berjalan, namun terdengar bunyi AoklikAo untuk kedua kalinya. Pasien langsung pulang kerumah, beristirahat dan melakukan kompres es pada lututnya. Beberapa hari kemudian, nyeri yang dirasakan pasien sudah mulai berkurang, tapi merasa kurag nyaman saat melakukan aktivitas. Beberapa minggu Manajemen Fisioterapi pada Post-Operative Ligamen AnteriorA| Nurul Hikmah dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 74 Ae 78 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/413 kemudian, pasien memutuskan untuk konsultasi ke dokter, kemudian dilakukan beberapa spesifik tes, dokter mengatakan ada masalah pada Anterior cruciate ligament (ACL) dan disarankan untuk melakukan foto Magnetic Resonance Imaging (MRI). Berdasarkan hasil MRI didapatkan adanya total rupture ACL dan ALL pada knee dextra. Pasien kemudian memutuskan untuk melakukan operasi rekonstruksi ACL dan ALL pada bulan April 2024. Pada tanggal 9 Mei 2024 saat kunjungan pertama pasien di klinik, pasien mengeluhkan nyeri di lutut kanannya. Dari hasil inspeksi statis didapatkan keadaan umum: pasien datang dengan menggunakan brace pada knee dextra, terdapat bekas insisi sisi lateral medial dan oedem pada knee, serta terdapat atrofi pada otot quadriceps dextra. Dari inspeksi dinamis didapatkan keadaan umum berupa: pasien berjalan dengan bantuan kruk serta pasien masih menggantungkan tungkai Saat palpasi, suhu pada knee dextra terasa hangat. Untuk pemeriksaan fungsi gerak dasar belum dilakukan karena dokter menyarankan untuk tidak melakukan gerakan apapun pada knee joint, nyeri yang dirasakan masih ada pada bagian bawah patella dan sisi lateral paha. Hasil pemeriksaan nyeri yang dilakukan menunjukkan pasien merasa nyeri ringan . saat diam dan . saat ditekan serta nyeri sedang . saat knee digerakkan. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan weakness pada otot quadriceps, otot hamstring dan otot gluteus dextra. Untuk hasil pemeriksaan circumferential oedem dextra 42,3 cm, sinistra 38,5 cm . elisih 3,8 c. , dan stiffness pada mobilisasi patella. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) didapatkan hasil yaitu terdapat ruptur Anterior Cruciate Ligament dan Anterolateral Ligament pada knee dextra sebelum dilakukan operasi rekonstruksi. Tabel 1. Intervensi Fisioterapi No. Problem FT Modalitas FT Muscle weakness pada otot Neuromuscular Electrical Stimulations Stiffness Patellar movement Oedem Education Dosis FT F: Setiap terapi I: 40 Hz T: Coplanar T: 30 menit F: Setiap fisioterapi I: 8x repetisi T: Mobilisasi patella T: 3 menit F: Setiap fisioterapi I: Toleransi pasien T: Elevasi T: 10 menit Sumber: Data primer, 2024 Penelitian ini dilakukan dalam 3 kali pertemuan dan dilakukan intervensi pada saat itu juga. Setiap pertemuan diberikan sesuai dengan perkembangan dari kondisi pasien dan keluhan yang dirasakan oleh pasien pada setiap pertemuan. Intervensi yang diberikan dalam 3 kali pertemuan berfokus pada penurunan oedem, stiffnessA dan peningkatan kekuatan otot pasien. No. Problem Tabel 2. Evaluasi Fisioterapi Alat ukur Pre Post Ket. Nyeri VAS Nyeri diam:2 Nyeri tekan:3 Nyeri gerak:4 Nyeri diam: 1 Nyeri tekan: 2 Nyeri gerak:3 Ada penurunan Oedem Meteran Selisih 3,8 Selisih 3,2 Ada penurunan Sumber: Data primer, 2024 Pada tiap pertemuan terdapat peningkatan tonus otot, penurunan oedem dan stiffness. Penurunan oedem menurun 0,3 cm tiap pertemuan. Untuk nyeri yang dirasakan pasien terjadi perubahan, namun masih terdapat nyeri pada bagian lateral knee dextra baik itu nyeri tekan Manajemen Fisioterapi pada Post-Operative Ligamen AnteriorA| Nurul Hikmah dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 74 Ae 78 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/413 maupun nyeri gerak. Berdasarkan hasil studi kasus didapatkan kesimpulan bahwa hal tersebut merupakan hal yang normal terjadi pada pasien post operative ACL dan ALL dikarenakan bekas insisi pada saat dilakukan pembedahan. Manifestasi klinis pada cedera ACL meliputi nyeri bagian lutut utamanya saat bergerak, adanya pembengkakan, adanya sensasi AopopAo atau AosnapAo yang terdengar atau terasa saat cedera terjadi, dan terdapat pula keterbatasan gerak (Mayeda, dkk. , 2. Sedangkan manifestasi klinis untuk cedera ALL mirip dengan cedera ACL meliputi adanya sensasi AoshiftAo atau pergeseran pada lutut, adanya instabilitas saat gerakan rotasi, nyeri pada bagian anterolateral lutut, dan Tanda dan gejala pada cedera ini dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan kondisi individu . Penegakan diagnosis pada cedera ACL juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan seperti Lachman dengan sensitivitas 95% dan spesifitas > 94%, pivot test dengan sensitivitas 24% dan spesifitas 98%, anterior drawer test in chronic dengan sensitivitas 92% dan spesifitas 91% . Grade Grade 1 . ild sprai. Grade 2 . oderate sprai. Grade 3 . evered sprai. Tabel 3. Grade Sprain Ligament Condition Sign. Symptoms and Problematic One-third of the ligament Swelling fibers are pulled Local pain in the pulled ligament Active and passive motion of the knee is still in normal but slightly decreased muscle strength Half or one-third of the Local swelling and pain ligament fibres are pulled The pain is quite sharp and interferes followed by microtears with every movement. Feels unstable ROM begins to decrease followed by tension in the hamstring muscles Partial or complete ligament 1. Swelling will be very visible large and intense pain Severe pain is felt but is present when it disappears for a moment Feel a complete loss of joint stability ROM is completely reduced Appears like subluxation Sumber: Putra dan Anggiat, 2023 Kompetensi fisioterapi dalam penanganan rehabilitasi post operative ACL dan ALL yaitu mengembalikan fungsi gerak untuk mencegah terjadinya cedera berulang, mengembalikan aktivitas fungsional serta mampu mengoptimalkan performa individu di lapangan . eturn to Hasil evaluasi pada tingkat nyeri dapat menggunakan alat ukur Visual Analogue Scale (VAS) untuk menilai tingkat nyeri setelah dilakukan intervensi. Pasca rekonstruksi ACL dan ALL ini menyebabkan terjadinya penurunan kekuatan otot, intervensi yang diberikan berupa neuromuscular electrical stimulation untuk membantu mengaktivasi tonus otot pada area quadriceps muscle yang dapat membantu dalam peningkatan kekuatan otot. Penanganan fisiterapi untuk mengurangi dengan memberikan edukasi terkait posisi tungkai yang efektif untuk menurunkan nyeri seperti dengan teknik elevasi. Oedem yang mengalami penurunan akan membentuk zat nociceptor menjadi berkurang sehingga menyebabkan nyeri Saat nyeri dan oedema berkurang makan akan menyebabkan peningkatan lingkup gerak sendi. SIMPULAN DAN SARAN Rehabilitasi post operative ACL dan ALL merupakan bagian dari penatalaksanaan yang penting bagi pasien untuk dapat kembali beraktivitas seperti sebelumnya. Berdasarkan hal diatas Manajemen Fisioterapi pada Post-Operative Ligamen AnteriorA| Nurul Hikmah dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 74 Ae 78 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/413 setelah 3 kali pertemuan dan diberikan electrotherapy seperti infrared raysA neuromuscular electrical stimulation mobilisasi patella, edukasi untuk penurunan oedem, penggunaan dan pembebanan pada tongkat, meningkatkan kekuatan otot pasca rekonstruksi ACL dan ALL. Saran untuk penelitian selanjutnya agar penelitian ini terus dilanjutkan sehingga mampu menemukan intervensi yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran dan modifikasi intervensi juga direkomendasikan untuk membantu dalam pemulihan pasca rekonstruksi ACL dan ALL agar dapat kembali beraktivitas sehari-hari. DAFTAR PUSTAKA