WIDHARMA JURNAL PENGABDIAN WIDYA DHARMA E ISSN 2962-3758 Volume 01 No. 01 Agustus 2022 PELATIHAN BILINGUAL TEACHING BAGI GURU MTS HIFAL BANYURIP PEKALONGAN Inayatul Ulya1), Sarlita Dewi Matra2) 1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pekalongan E-mail: inayasetyobudi@yahoo.com 2 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pekalongan E-mail: starlighta_unique@yahoo.com Article Info ARTICLE HISTORY Received: 21/07/2022 Reviewed: 23/07/2022 Revised: 25/07/2022 Accepted: 26/07/2022 DOI: 10.54840/widharma.v1i01.11. Abstract The availability of a bilingual class whose learning process uses two languages ​ ​ of instruction, namely Indonesian and English, is expected to be the answer to problems in an effort to increase the competitiveness of the Indonesian generation to the international world. The application of the Bilingual Class at Mts Hidayatul Athfal (HIFAL) is one of the flagship programs that it has as an effort to improve the quality of students at the school. This is the flagship program of MTs HIFAL, however, there are new challenges for school administrators considering that not all teachers are able to speak English fluently. Therefore, the school really needs Bilingual Teaching training for MTs HIFAL Banyurip teachers, Pekalongan. By holding training through community service activities, it is hoped that the teaching skills of teachers in bilingual languages ​ ​ can be improved. This training also involves native speaker who help participants to practice using English. Bilingual Teaching training activities for MTs Hidayatul HIFAL) teachers provided significant benefits for participants. By participating in these activities, participants gain material and experience that can be applied to the Bilingual class. In the microteaching session, participants have implemented the preparation of bilingual learning tools, the use of Teachers Talk in bilingual learning, the use of ICT in bilingual learning, and the use of cooperative learning methods in bilingual learning. By participating in this training, most of the participants (teachers) seemed more confident in using English for daily communication, especially for teaching. Their speaking and teaching skills using the bilingual language are improved. Keywords: Bilingual; Training; Teaching PENDAHULUAN Pengajaran bilingual adalah proses mengajar siswa menggunakan dua bahasa. Dalam beberapa dekade terakhir, penerapan kelas bilingual dalam berbagai sistem pendidikan telah menjadi lebih umum di banyak negara, terutama di Indonesia. Secara umum, metode tersebut telah dilaksanakan melalui program yang dikenal sebagai Content and Language Integrated Learning (CLIL), yang tujuan utamanya adalah pembelajaran bahasa asing secara simultan, bersama dengan kurikulum untuk setiap tingkat kelas. Ada perbedaan yang signifikan dalam hal bagaimana program tersebut dilaksanakan, tergantung pada konteks sosial dan pendidikan dari masing-masing daerah. Keberadaan kelas bilingual yang proses pembelajarannya menggunakan dua bahasa pengantar yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris diharapkan bisa menjadi jawaban bagi permasalahan dalam upaya meningkatkan daya saing manusia Indonesia di dunia internasional. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VII pasal 33 ayat 3 yang berbunyi, Inayatul Ulya1), Sarlita Dewi Matra2/WIDHARMA Vol 01 No 01 Tahun 2022 “Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan tertentu untuk mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik” dijadikan dasar keberadaan kelas bilingual Penerapan Kelas Bilingual di Mts Hifal merupakan salah satu program unggulan yang dimiliki sebagai upaya dalam meningkatkan mutu peserta didik di sekolah tersebut, Hal ini merupakan program unggulan dari MTs Hifal, namun demikian terdapat tantangan baru bagi pengelola sekolah mengingat tidak semua guru dapat berbicara Bahasa Inggris dengan lancar. Oleh karena itu, pihak sekolah sangat membutuhkan diselenggrakannya pelatihan Bilingual Teaching bagi guru MTsS HIFAL Banyurip, Kota Pekalongan. Namun, untuk guru yang mengajar kelas bilingual, pengembangan keterampilan literasi jauh lebih kompleks daripada definisi pengajaran bilingual. Pengertian literasi di abad 21 telah berkembang sebagai respons terhadap sejumlah perubahan sosial, seperti globalisasi, migrasi manusia dalam skala besar, dan kemajuan teknologi digital. Terlebih, Masduki dan Subiyanto (2021) dalam artikelnya menegaskan bahwa untuk negara berkembang seperti Indonesia di mana orang-orang dari banyak bahasa etnis telah bersatu secara politik di bawah satu bahasa nasional, prioritas harus diberikan pada pembangunan bilingualisme dengan kecakapan yang sama dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Dengan diadakannya pelatihan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, diharapkan keterampilan mengajar Guru dalam bahasa bilingual dapat ditingkatkan. Semua guru berpartisipasi dalam program ini dan seorang pelatih melatih dan berbagi keterampilan mengajar dan berbagi pengalaman dalam menggunakan bahasa bilingual. Pelatihan ini juga didampingi oleh orang asing yang membantu peserta untuk berlatih bahasa Inggris. Berdasarkan Penelitian Sri Wuli Fitriati (2016) tentang Peningkatan Kompetensi Guru Dalam Berbicara Bahasa Inggris untuk Keperluan Instruksional Pengajaran Bilingual di SD Islam Al Azhar 29 Semarang disebutkan bahwa diperlukan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan guru bahasa Inggris, khususnya Berbicara Bahasa Inggris untuk Keperluan Instruksional. Tujuan pelatihan adalah untuk mempersiapkan guru di kelas bilingual ini dan peserta selalu antusias dalam setiap kegiatannya. Umpan balik dari peserta guru lain yang melakukan microteaching sangat mendukung dan konstruktif. Di akhir pelatihan, terjadi peningkatan kompetensi guru peserta pelatihan dalam menggunakan frase bahasa Inggris untuk tujuan pengajaran. Mereka tampak lebih percaya diri dan lebih fasih dalam menggunakan Bahasa Inggris. Sekolah mengharapkan pelatihan bahasa Inggris yang berkelanjutan untuk mensukseskan program pengajaran dwibahasa di sekolah. Dengan terlaksananya kegiatan ini, sebagian besar guru memiliki waktu yang baik untuk berbagi tentang kegiatan belajar mengajar. Mereka bisa berbagi, karena pelatihan bahasa Inggris ini merupakan kegiatan untuk guru, dari guru dan oleh guru. Melalui berbagi, komunikasi yang baik antar guru dapat terjaga dengan baik. Ketika guru bisa berbagi dan mampu berkomunikasi baik dengan guru lain, mereka juga akan memiliki komunikasi yang baik dengan siswa mereka, guru dapat menerapkan program berbagi mereka ketika mereka mengajar siswa mereka. Pelatihan Bahasa Inggris ini dikelola dan didukung dengan baik oleh Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah. Mereka sangat mendukung dan memperhatikan kemampuan bahasa Inggris semua guru dengan selalu memberikan kegiatan pengembangan kompetensi guru. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Kartikasari (2019: 51), bilingualisme yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Peserta didik akan menjalani proses belajar mengajar dengan bahasa pengantar Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk mata pelajaran Matematika, IPS, IPA, PPKN, olah raga dan TIK. Menurut Masitah (2018: 41) perencanaan pembelajaran dirancang dalam dalam bentuk silabus dan RPP yang mengacu pada standard isi. Selain itu, dalam perencanaan pembelajaran juga dilakukan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian dan skenario pembelajaran. Selain scenario pemberlajaran, seorang guru perlu menerapkan metode pembelajaran tertentu, salah satu metode pembelajaran yaitu metode pembelajaran kooperatif. (cooperative learning method). Menurut Kurniawan (2021) Model Pembelajaran Kooperatif mengutamakan kolaborasi dalam memecahkan masalah untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai tujuan pembelajarn. Menurut Slavin (2010: 4) pembelajaran cooperative merujuk pada berbagai metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk membentuk satu sama Penulis 1,Inayatul Ulya1), Sarlita Dewi Matra2/WIDHARMA Vol 01 No 01 Tahun 2022 lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Cooperative learning yang disampaikan oleh pemateri yaitu Group Investigation, Jigsaw, STAD, Reading Guide, Question Students Have, Card Sort, dan Broken Poster.Selain itu, pemateri juga memberikan materi: Google Classroom, Mentimeter & Quizziz, dan Teachers Talk. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksakan dalam tiga tahap, meliputi tahap modelling, tahap praktik dan tahap umpan balik. Pada tahap modelling, tim pengabdian memberikan contoh dan memperagakan cara: a. Penyusunan perangkat pembelajaran bilingual. b. Penggunaan Teachers Talk dalam pembelajaran bilingual c. Pemanfaatan ICT dalam pembelajaran bilingual d. Penggunaan metode cooperative learning dalam pembelajaran bilingual e. Praktik micro teaching dalam pembelajaran bilingual Pada tahap praktik, peserta pelatihan melakukan praktik langsung dalam: a. Penyusunan perangkat pembelajaran bilingual. b. Penggunaan Teachers Talk dalam pembelajaran bilingual c. Pemanfaatan ICT dalam pembelajaran bilingual d. Penggunaan metode cooperative learning dalam pembelajaran bilingual e. Praktik micro teaching dalam pembelajaran bilingual Selanjutnya, pada tahap akhir umpan balik, tim pengabdian memberikan umpan balik terhadap peserta yang meliputi umpan balik dari: a. b. c. d. e. Penyusunan perangkat pembelajaran bilingual. Penggunaan Teachers Talk dalam pembelajaran bilingual Pemanfaatan ICT dalam pembelajaran bilingual Penggunaan metode cooperative learning dalam pembelajaran bilingual Praktik micro teaching dalam pembelajaran bilingual HASIL DAN PEMBAHASAN Kelas bilingual pada prinsipnya sama dengan dengan kelas reguler, yang membedakan hanyalah penggunaan bahasa pengantar pembelajaran yang berbahasa Inggris dan penggunaan ICT dalam proses belajar mengajar, sehingga fasilitas dalam kelas bilingual lebih lengkap dari pada kelas reguler karena di kelas bilingual tersedia komputer, LCD proyektor beserta layarnya yang terpasang secara permanen dan penggunaan laboratorium bahasa yang diprioritaskan untuk kelas bilingual. Kendala utama terletak pada guru. Guru mata pelajaran yang tidak terbiasa berbahasa Inggris diharuskan mengajar dalam bahasa Inggris. penggunaan bahasa pengantar yang berbahasa Inggris mengakibatkan konsep materi menjadi terabaikan. Guru yang sebenarnya pintar menyampaikan materi menjadi kesulitan jika harus menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Untuk mengatasi kendala yang muncul sepanjang kegiatan pembelajaran maka diperlukan kegiatan yang berkesinambungan sehingga kegiatan ini lebih bermakna karena guru berlatih berdasarkan masalah yang konstektual dan benar-benar diperlukan. Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari pelatihan bahasa Arab yang sebelumnya dilaksanakan. Pelatihan pengajaran bilingual dilaksanakan secara luring selama 2 bulan dengan dua kali pertemuan dalam sepekan dengan memberikan teori, praktik menagajar, dan memberikan umpan balik kepada guru tentang penampilan mengajar dalam micro teaching yang dilaksanakan pada akhir pelatihan. Kegiatan pelatihan Bilingual Teaching diselenggarakan dalam beberapa pertemuan dan membahas materi yang berkaitan dengan: penyusunan perangkat pembelajaran bilingual, penggunaan Teachers Talk dalam pembelajaran bilingual, Pemanfaatan ICT dalam pembelajaran bilingual, penggunaan metode cooperative learning dalam pembelajaran bilingual, dan praktik micro teaching dalam pembelajaran bilingual. Inayatul Ulya1), Sarlita Dewi Matra2/WIDHARMA Vol 01 No 01 Tahun 2022 1. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Materi penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disampaikan oleh Inayatul Ulya, M. Pd. Pada sesi pertemuan ini, pemateri memberikan contoh RPP dan menjelaskan komponen apa saja yang perlu dituliskan dalam menyusun. Selain format RPP yang ditulis dalam Bahasa Indonesia, pemateri juga memberikan contoh RPP yang ditulis dalam Bahasa Inggris. Setelah selesai sesi pemaparan materi, dilanjutkan dengan praktek penulisan RPP baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Kendala yang dihadapi oleh sebagian guru dalam menulis RPP Bilingual yaitu, guru kesulitan dalam menuliskan kata tertentu dalam Bahasa Inggris, sehingga guru perlu menterjemahkan terlebih dahulu. Namun demikian, peserta pelatihan sangat bersemangat dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga pada saat praktek, peserta dapat menyelesaikan tugas dengan baik. RPP yang telah selesai ditulis, kemudian direview oleh pemateri bersama dengan semua peserta, sehingga semua peserta tahu, bagian mana yang tepat, dan bagian mana yang perlu untuk diperbaiki seperti ditunjukkan pada gambar 1 berikut. Gambar 1. Penyampaian Materi Penyusunan Lesson Plan 2. Penggunaan Teachers Talk dalam pembelajaran bilingual Materi Teachers Talk disampaikan oleh Dr. Sarlita D. Matra, M. Pd, materi tersebut meliputi: teaching instruction, greeting, instructions, time to begin, register, late, time to stop, not time to sop, homework, next time, goodbye. Pada awal sesi ini, pemateri memberikan modelling untuk pengucapan ungkapan-ungkapan dalam teachers talk dan dijelaskan pemakaian teachers talk tersebut. Kemudian, peserta mempraktekkan penggunaan teachers talk. Meskipun peserta mengalami kendala untuk mengucapkan kata-kata tertentu, peserta tetap berusaha mencoba mengucapkan agar pengucapan lebih lancar. 20 % peserta kurang lancar dalam berbicara Bahasa Inggris. Materi yang diberikan mengacu pada kalimat-kalimat instruksional yang harus dibiasakan digunakan dalam pembelajaran dari mulai membuka kelas, memberikan instruksi kerja, memaparkan materi hingga bagaimana menutup kelas dan memberikan reinforcement untuk memotivasi siswa selama proses belajar mengajar di kelas bilingual sehingga baik guru maupun siswa sudah memiliki kosa kata baku yang bias dipakai dalam kelas sebagai upaya pembiasaan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari seperti ditunjukkan pada gambar 2 berikut. Penulis 1,Inayatul Ulya1), Sarlita Dewi Matra2/WIDHARMA Vol 01 No 01 Tahun 2022 Gambar 2. Penyampaian Materi Teachers’ Talk 3. Pemanfaatan ICT dalam pembelajaran bilingual Pada sesi ini, pemateri memaparkan materi Mentimeter, Quizziz, dan Google Classroom. Dalam proses pelatihan, terdapat 20% peserta belum terbiasa menerapkan ICT dalam pembelajaran di kelas Bilingual. Namun demikian, peserta antusias untuk mempelajari ICT dan menerapkan dalam kelas Bilingual. Selain itu, sarana prasarana sekolah sangat mendukung, beberapa ruang kelas telah dilengkapi dengan LCD dan layar, untuk akses internet, guru dan peserta didik dapat mamnfaatkan Wifi yang tersedia. 4. Penggunaan metode cooperative learning dalam pembelajaran bilingual Pada pelatihan Bilingual teaching, pemateri memberikan modelling penerapan cooperative learning di kelas, sehingga peserta mengetahui langkah-langkah dalam penerpannya. a. Question Students Have b. Jigsaw c. Card Sort d. Group Investigation e. Reading Guide f. STAD Peserta sangat memperhatikan modelling dari setiap tahapan metode pembelajaran. 5. Speaking practice Sesi speaking practice disampaikan oleh Dr. Sarlita D. Matra, selain itu, pada sesi ini dilakukan kolaborasi dengan Mr. Damian. Tugas Mr. Damian di MTsS Hifal adalah memberikan kelas Bahasa Inggris pada peserta didik kelas program bilingual. Peserta pelatihan sangat aktif untuk berlatih berbicara Bahasa Inggris dengan pemateri seperti ditunjukkan pada gambar 3. Gambar 3. Speaking Practice dengan melibatkan native speaker 6. Reading practice Pada materi reading practice, pemateri (Inayatul Ulya, M. Pd.), memberikan contoh-contoh teks dalam Bahasa Inggris yang dibuat berdasarkan mata pelajaran tiap guru. Peserta berdiskusi membahas konten dari reading text dan menjawab pertanyaan berdasarkan teks. 7. Praktik micro teaching dalam pembelajaran bilingual Inayatul Ulya1), Sarlita Dewi Matra2/WIDHARMA Vol 01 No 01 Tahun 2022 Sebelum peserta melakukan micro teaching, peserta menyiapkan RPP terlebih dahulu. Pemateri memberikan umpan balik terhadap penampilan mikco teaching peserta dan RPP yang telah ditulis oleh peserta. Dari penampilan micro teaching, 20 % peserta kurang persiapan karena berbenturan dengan kegitan disekolah (PAS). Namun demikaian, 80 % peserta menerapkan teachers talk selama pembelajaran, peserta menerapkan cooperative learning, menggunakan media pembelajaran, dan menyajikan bahan ajar yang ditulis tidak hanya dalam Bahasa Indonesia, namun juga Bahasa Inggris seperti terlihat pada gambar 4 dan 5 berikut. Gambar 3. Praktik Microteaching Gambar 5. Praktik Microteaching Pelatihan Bilingual teaching diikuti oleh 22 guru MTsS Hidayatul Athfal (HIFAL) yang mengajar di kelas progam Bilingual. Berdasarkan materi yang telah diberikan, terdapat kelebihan dan kekurangan selama proses pelatihan. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.1 Deskripsi Proses Pelatihan Materi Penyusunan RPP Bilingual Kelebihan Peserta dapat menyusun RPP sesuai dengan komponen Penggunaan Peserta aktif dalam Teachers Talk dalam mempraktekkan teachers pembelajaran talk dan berusaha Kekurangan Peserta menemukan kesulitan menuliskan kosa kata tertentu dalam Bahasa Inggris Peserta menemukan kesulitan untuk mengucapkan kosa kata Penulis 1,Inayatul Ulya1), Sarlita Dewi Matra2/WIDHARMA Vol 01 No 01 Tahun 2022 Bilingual mengucapkan dengan tepat tertentu dalam Bahasa Inggris 20 % peserta kurang lancar dalam berbicara Bahasa Inggris Pemanfaatan ICT dalam pembelajaran Bilingual Peserta antusias untuk mempelajari ICT dan menerapkan dalam pembelajaran kelas Bilingual 80 % peserta telah terbiasa menerapkan ICT Beberapa ruang kelas telah dilengkapi LCD dan Layar Sekolah mempunyai fasilitas Wifi Peserta memperhatikan Penerapan metode modelling dari setiap Cooperative learning tahapan metode dalam pembelajaran pembelajaran bilingual Praktik Micro Peserta menyiapakan RPP teaching Bilingual dengan baik 20 % peserta belum terbiasa menerapkan ICT dalam pembelajaran di kelas 20 % dari peserta kurang persiapan karena berbenturan dengan kegiatan disekolah (PAS) Peserta menerapkan teachers talk selama pembelajaran Peserta menerapkan cooperative learning Peserta menggunakan media pembelajaran Peserta menyiapakan Bahan ajar yang tertulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris KESIMPULAN DAN SARAN Untuk dapat mengajar dalam bahasa bilingual untuk tahun ajaran baru, sebagian besar guru telah mengikuti program Pelatihan Bilingual Teaching selama 3 bulan dan program tersebut berjalan dengan baik. Adanya komitmen yang tinggi dari atas keberhasilan program pengajaran bilingual dalam menghadapi tahun akademik mendatang, karena Kepala dan Wakil Kepala Sekolah juga bisa mengikuti program tersebut dari awal sampai dengan akhir. Dengan mengikuti pelatihan ini, sebagian besar peserta (guru) terlihat lebih percaya diri dalam menggunakan Bahasa Inggris untuk komunikasi sehari-hari atau untuk mengajar. Keterampilan berbicara dan mengajar mereka menggunakan bahasa bilingual ditingkatkan. Berbagi pengalaman Inayatul Ulya1), Sarlita Dewi Matra2/WIDHARMA Vol 01 No 01 Tahun 2022 guru juga menambah pengetahuan dan pengalaman guru lain dapat diimplementasikan di kelas berikutnya. Pelatihan dapat dilanjutkan dengan mengunjungi kelas secara langsung selama kegiatan belajar mengajar dengan siswa kelas bilingual. Guru dapat melakukan peer teaching dengan mengunjungi kelas guru lain atau Pelatih secara berkala mengunjungi beberapa peserta dan kemudian umpan balik diberikan setelah mengajar. Dengan mengunjungi kelas secara langsung nantinya, pelatih akan tahu apakah guru dapat menerapkan semua materi pelatihan di kelas mereka yang sebenarnya atau tidak. DAFTAR PUSTAKA Agoestyowati, R. 2021. Online Teachers Training: Increasing Elementary School Teachers’ Ability in Daily Speaking English for Bilingual. JIRA: Jurnal Inovasi dan Riset Akademik, 2(8), 13151321. doi:https://doi.org/10.47387/jira.v2i8.217 Harits Masduqi And Arif Subiyanto. Bilingual Education In Indonesia: A Call For Its Reimplementation In The National Context. Scienceopen Preprints. Doi: 10.14293/S21991006.1.Sor-.Ppx4n9x.V1. Kartikasari, Ratna Dewi. 2019. Penggunaan Bilingualisme pada Masyarakat yang Berwirausaha. Jurnal Pena Literasi Vol. No. Halaman 47-54. Univeristas Muhammadiyah Jakarta. Jakarta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. Surat edaran nomor 14 tentang Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Kemendikbud. Jakarta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2020. Salinan Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia. https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id/wpcontent/uploads/2020/08/SALINAN_REVISI-SKB-4-MENTERI-PTM_AGUSTUS-2020.pdf Kurniawan. Aris. 2021. Pembelajaran Kooperatif. Diakses dari https://www.gurupendidikan.co.id/pembelajaran-kooperatif/ Masitah. 2018. Pengembangan Perangkat Pembelajaran untuk Memfasilitasi Guru Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab Siswa SD terhadap Masalah Banjir. Proceeding Bilogy Education Conference. Vol. 15 No. 1. Hal. 40 – 44. MTs Hidayatul Athfal. 2016. Profil MTsS Hidaytaul Athfal. Diakses dari http://mtshifalpkl.blogspot.com/p/profil-mts.html Rahim. 2011. Pemanfaatan ICT sebagai Media Pembelajaran dan Informasi pada UIN Alaudin Makassar. Jurnal Sulesana. Vol. 6 No. 2 Hal: 127 – 135. Sari, Ida Rosita. 2019. Skenario Pembelajaran dengan Menggunakan Model Pembelajaran Discovery dan Inquiry. Diakses dari http://idarositasari.blog.unesa.ac.id/skenario-pembelajaran-denganmenggunakan-model-pembelajaran-discovery-dan-inquir. Slavin. Robert E. 2010. Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung. Nusa Media. Yezita, E. Media R., Yerizon. (2012). Mengkonstruksi Pengetahuan Siswa pada Materi Segitiga dan Segiempat Menggunakan Bahan Ajar Interaktif Matematika Berbasis Konstruktivisme. Jurnal Pendidikan Matematika. Vol. 1 No. 1. Hal 54-59. Diakses dari https://drive.google.com/file/d/0Bk3cSUkM3IyY2VLODM3a1h3aEU/view. Ulya, Inayatul, M. Fajru S. 2020. Pengembangan E-Modul Writing for Professional Context Berstandar CEFR Berdasarkan Karakteristik Pekalongan Kota Kreatif Dunia. Jurnal Litbang Kota Pekalongan Vol 19. Hal: 74-83. Diakses dari https://jurnal.pekalongankota.go.id/index.php/litbang/article/view/129 Yuli, E. M. 2021. Students’ Perceptions Toward Teacher’s Talk In Efl Classroom Of Indonesia Senior High School: A Case Study. Language : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 1(1), 82-91 . https://doi.org/10.51878/language.v1i1.451