PREVALENSI GINGIVITIS DI POLI GIGI UPTD PUSKESMAS MARGA I TABANAN BULAN DESEMBER TAHUN 2023 FEBRUARI TAHUN 2024 Yudha Rahina 1. Wedeartini Made N. 2 ,Christian Mulya Korassa Sonbai 3 Bagian Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar korassasanbai02@gmail. ABSTRAK Kesehatan gigi dan mulut adalah indikator utama kesehatan secara keseluruhan, kesejahteraan, dan kualitas hidup. Kesehatan gigi dan mulut merupakan keadaan rongga mulut, termasuk gigi geligi dan struktur jaringan pendukungnya terbebas dari rasa sakit dan penyakit seperti kanker mulut dan tenggorokan, infeksi luka mulut, penyakit periodontal . , kerusakan gigi, kehilangan gigi, serta penyakit dan gangguan lain yang membatasi kapasitas individu dalam menggigit, mengunyah, tersenyum, dan berbicara. Penelitian dilakukan dengan pengumpulan dan pencatatan data pada bagian poliklinik gigi Puskesmas Marga I. Tabanan yang, menyatakan adanya dilakukan pemeriksaan dan perawatan gingivitis tiap bulannya. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif pada data sekunder. Jumlah pasien Gingivitis yang di tangani di poli gigi dan mulut UPTD Puskesmas Marga I Tabanan dengan populasi Desember 2023 hingga Februari 2024 sebanyak 587 kasus. Persentase kasus Gingivitis dari bulan Desember 2023 hingga Februari 2024 sebesar 17,37%. Tujuan utama dalam perawatan gingivitis adalah untuk mengurangi inflamasi pada gingiva. Hal ini di dapat dengan penggunaan instrumentasi yang berbeda untuk menghilangkan deposit plak gigi. Gingivitis, pada tahap inisial, dapat dengan mudah diatasi jika pasien memulai protokol oral hygiene, yang mana mencakup menggosok gigi teratur dengan teknik yang benar dan interproksimal hygiene seperti menggunakan dental floss. Kata kunci : Gingivitis, prevalensi, puskesmas ABSTRACT Dental and oral health is a key indicator of overall health, safety, and quality of life. Dental and oral health is the condition of the oral cavity, including the teeth and their supporting tissue structures, free from pain and diseases such as mouth andcancer, wound infections, periodontal . disease, tooth decay, tooth loss, and other diseases and disorders that limiting an individual's capacity to bite, chew, smile, and speak. The research was carried out by collecting and recording data at the dental polyclinic Puskemas Marga 1 Tabanan, which stated that gingivitis examinations and treatments were carried out every month. Data analysis in this research uses descriptive analysis on secondary data. The number of Gingivitis patients treated at the dental and oral clinic of the UPTD Puskesmas Marga I Tabanan rwith a population from December 2023 to February 2024 was 587 cases. The percentage of Gingivitis cases from December 2023 to February 2024 was 17. The main goal in treating gingivitis is to reduce inflammation of the gingiva. This is achieved by using different instrumentations to remove dental plaque deposits. Gingivitis, in its initial stages, can be easily treated if the patient begins an oral hygiene protocol, which includes regular brushing of teeth with the correct technique and interproximal hygiene such as using dental floss. Keywords : Gingivitis. Prevalention. Public Health Center PENDAHULUAN Kesehatan merupakan hal utama yang harus diperhatikan oleh setiap individu. Karena, melalui pengetahuan dan perilaku kesehatan dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang menjadi lebih baik dan sejahtera. Salah satunya adalah dengan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat1. Perilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah faktor pengetahuan. Menurut beberapa penelitian, jika pengetahuan seseorang baik, maka perilaku hidup bersih dan sehatnya juga akan menjadi baik dan akan berdampak baik pula untuk kehidupannya2. Pengetahuan akan kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu hal yang harus Agar dapat meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat sedari dini. Sehingga, pembangunan kesehatan bagi sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi lebih meningkat3. Menurut WHO . , menyatakan kesehatan gigi dan mulut adalah indikator utama kesehatan secara keseluruhan, kesejahteraan, dan kualitas hidup. Kesehatan gigi dan mulut merupakan keadaan rongga mulut, termasuk gigi geligi dan struktur jaringan pendukungnya terbebas dari rasa sakit dan penyakit seperti kanker mulut dan tenggorokan menyatakan kesehatan gigi dan mulut adalah indikator utama kesehatan secara keseluruhan, kesejahteraan dan kualitas hidup. Kesehatan gigi dan mulut merupakan keadaan rongga mulut, termasuk gigi geligi dan struktur jaringan pendukungnya terbebas dari rasa sakit dan penyakit seperti kanker mulut dan tenggorokan, infeksi luka mulut, penyakit periodontal . , kerusakan gigi, kehilangan gigi, serta penyakit dan gangguan lain yang membatasi kapasitas individu dalam menggigit, mengunyah, tersenyum, dan berbicara4. Khususnya di indonesia, data Kemenkes melalui Riskesdas tahun 2018 menyatakan permasalahan gigi dan mulut yang sering ditemui pada masyarakat saat ini yaitu dengan proporsi terbesar, gigi berlubang . ,3%), gigi hilang karena dicabut atau tanggal sendiri sebesar 19%, gigi goyang sebesar 10,4%, dan gigi telah ditambal atau ditumpat karena berlubang sebanyak 4,1%. Gusi bengkak dan/atau keluar bisul . sebesar 14% 5. Penyebab berbagai penyakit tersebut, salah satunya karena adanya peradangan pada Gingiva. Dimana, gingiva merupakan bagian dari mukosa mulut yang berhubungan erat dengan gigi, interdental dan tulang alveolar. Gingiva yang sehat berwarna merah muda, tepinya seperti pisau, menutupi susunan gigi-geligi dengan mengikuti konturnya. Kebersihan dan kesehatan jaringan gingiva, dapat dipengaruhi dari keadaan gigi geligi. Semakin buruk kebersihan gigi dan mulut, semakin mudah terserang gingivitis atau peradangan pada gingiva. Gingivitis merupakan salah satu jenis penyakit inflamasi yang terbatas pada gingiva tanpa kerusakan lebih lanjut pada jaringan pendukung gigi. Gingivitis adalah penyakit mulut yang paling sering terjadi setelah karies gigi yang prevalensi lebih dari 75% populasi dunia7. Gingivitis merupakan proses inflamasi yang mengenai jaringan lunak yang mengelilingi gigi tanpa adanya kehilangan perlekaan epitel penyatu sehingga perlekatannya belum mengalami perubahan. Gambaran klinis gingivitis adalah munculnya warna kemerahan pada margin gingiva muncul sebagian dari agregasi dan pembesaran pembuluh darah di jaringan ikat subepitelial dan hilangnya keratinisasi permukaan gingiva, terjadinya pembengkakan dan hilangnya tekstur free gingiva yang mengindikasikan hilangnya jaringan ikat fibrosa dan semi likuiditas zat interfibrilar, secara individual dan kolektif 6. Etiologi Gingivitis dapat disebabkan oleh Plaque-Induced Gingivitis yang diinduksi oleh plak merupakan respon inflamasi dari jaringan gingiva akibat akumulasi plak bakteri yang terletak dibawah margin gingiva. Hormonal Gingivitis Perubahan hormonal yang terjadi saat kehamilan mempengaruhi bagaimana reaksi jaringan gingiva pada akumulasi plak menyebabkan apa yang disebut dengan puberty gingivitis6 . Sedangkan. Drug-Induced Gingivitis disebabkan oleh kekuatan metabolis dari obat ini dapat menyebabkan proliferasi dari fibroblas. Ketidakseimbangan antara sintesis dan degradasi dari extraseluler matrix menyebabkan akumulasi protein immature di extraseluler matrix, khususnya kolagen. Ini mengarah pada menghasilkan gingivitis. Gingivitis sering terjadi dan bisa timbul kapan saja setelah tumbuhnya gigi. Gingivitis mengalami perubahan warna gusi mulai dari kemerahan sampai merah kebiruan, sesuai dengan bertambahnya proses peradangan yang terus menerus. Umumnya setiap individu mengalami peradangan gusi dengan keparahan dan keberadaannya sangat bervariasi sesuai dengan umur, jenis kelamin, status sosial, ekonomi, tingkat pendidikan, dan lain Gingivitis juga merupakan salah satu penyakit gigi dan mulut yang sering dijumpai pada kunjungan pasien di Poli Gigi dan Mulut UPTD Puskesmas Marga I Tabanan. Pusat Kesehatan Masyarakat atau yang biasa disebut Puskesmas adalah salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang amat penting di Indonesia. Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif di wilayah kerjanya9. UPTD Puskesmas Marga I merupakan pusat kesehatan masyarakat yang terletak di bagian Utara Kota Tabanan dengan luas wilayah 25,68 km2 terdiri dari 10 desa, terbagi menjadi 42 dusun dan semua dusun memiliki satu posyandu. Kunjungan pasien dengan penyakit gingivitis adalah salah satu kasus dengan jumlah yang cukup banyak dibandingkan dengan kasus kesehatan gigi dan mulut lainnya. Tingginya persentase kasus gingivitis, merupakan salah satu masalah yang serius. Sehingga, membuat peneliti tertarik untuk melakukan kajian lebih lanjut mengenai pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan kasus gingivitis di UPTD Puskesmas Marga I Tabanan . METODE Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan menggambarkan prevalensi gingivitis di UPTD Puskesmas Marga I periode Desember 2023 hingga Februari 2024. Pengumpulan dan pencatatn data yang digunakan berdasarkan pencatatan seluruh data kunjungan pasien pada Poli Gigi Puskesmas Marga I Tabanan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang datang ke Poli gigi Puskesmas Marga I Tabanan, dengan total kunjungan 587 Orang. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif pada data sekunder. HASIL Hasil pengambilan data kasus kesehatan gigi dan mulut yang terjadi di UPTD Puskesmas Marga I Tabanan pada periode Desember 2023 hingga Februari 2024 adalah sebagai berikut : Des Jan Feb Kode Kasus Total Total Tabel 1: Data kasus kesehatan gigi dan mulut yang terjadi di UPTD Puskesmas Marga I Tabanan pada periode Desember 2023 hingga Februari 2024 Keterangan Kode Kasus : A : Gangguan perkembangan dan erupsi gigi B : Gigi terbenam dan gigi impaksi C : Karies gigi D : Penyakit jaringan keras gigi lainnya E : Penyakit jaringan pulpa dan periapikal F : Gingivitis dan penyakit periodontal G : Anomali dentofasial H : Gangguan gigi dan jaringan pendukung lainnya I : Stomatitis dan lesi-lesi yang berhubungan J : Penyakit bibir dan mukosa mulut lainnya K :Eritema multiforme L : Fraktur tengkorak dan tulang muka Berdasarkan pada tabel tersebut. Pada periode 3 bulan terakhir dari bulan Desember 2023 sampai dengan bulan Februari di tahun 2024 yang mengalami gingivitis (F) sebanyak 102 orang. Persentase Kasus 4,70% 2,30% 17,37% 43,40% 28,60% Gambar 1. Persentase 5 Besar Kasus Penyakit Kesehatan Gigi dan Mulut di Poliklinik Gigi UPTD Puskesmas Marga I Persentase lima kasus penyakit kesehatan gigi dan mulut tertinggi yaitu, sebesar 43,40 % pada kasus Gangguan perkembangan dan erupsi gigi (A). Penyakit jaringan pulpa dan periapikal (E) sebanyak 28,60 %. Gingivitis dan penyakit periodontal 17, 37 %. Karies gigi (C) Sebesar 4,70 % dan Gangguan gigi serta jaringan pendukung lainnya sebesar 2,30 %. Pada penyakit Gingivitis dan periodontal memasuki peringkat tiga besar kasus tertinggi pada poli gigi dan mulut UPTD Puskesmas Marga I Tabanan. Kunjungan pasien gingivitis pada bulan Desember 2023 yakni sebanyak 8 orang laki laki dan 17 perempuan Pada bulan Januari 2024 mengalami peningkatan pada pasien Gingivitis sejumlah 5 laki-laki dan 28 perempuan, disusul pada bulan Februari 2024, kunjungan pasien Gingivitis pada kategori laki-laki sebanyak 8 orang dan 27 orang pada kategori Perempuan. Secara rinci Data kasus penyakit Gingivitis dapat digambarkan dengan grafik sebagai berikut. Gambar2. Diagram Batang Kasus Gingivitis Kesehatan Gigi dan Mulut di Poliklinik Gigi UPTD Puskesmas Marga I Penyakit Gingivitis merupakan salah satu kasus yang banyak ditangani oleh Puskesmas Marga I Tabanan. Maka dengan perhitungan prevalensi kasus selama periode bulan Desember 2023 hingga Februari 2024 adalah sebagai berikut. yayaya yeynyi y 100% = 17,37% PEMBAHASAN Penyakit periodontal di Indonesia menduduki urutan kedua yang masih merupakan masalah di masyarakat. Penyakit periodontal yang paling sering dijumpai adalah gingivitis dan periodontitis. Gingivitis adalah bentuk penyakit periodontal yang ringan dengan tanda klinis gingiva berwarna merah, membengkak, dan mudah berdarah tanpa ditemukan kerusakan tulang alveolar. Gambaran klinis dari periodontitis adalah terjadinya perubahan warna menjadi merah terang, disertai dengan pembengkakan Hasil analisis data menunjukkan bahwa gingivitis tergolong dalam 5 kasus terbanyak di UPT Tabanan I dan cenderung meningkat dalam 2 bulan terakhir yang di dominasi oleh ibu hamil, hal ini sejalan dengan penelitian sutriyani terdahulu11, yang mengemukakan bahwa kebersihan gigi dan mulut berpengaruh signifikan terhadap terjadinya gingivitis kehamilan dan asil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebersihan gigi dengan tingkat keparahan gingivitis pada ibu hamil dengan nilai p value sebesar 0,009, hasil analisis menunjukkan nilai Prevalens Ratio (PR) sebesar 2,04 yang berarti bahwa ibu hamil yang memiliki kebersihan gigi dan mulut buruk lebih berisiko 2,04 kali mengalami gingivitis berat memiliki kebersihan gigi dan mulut baik. Sedangkan pada laki-laki cenderung mengalamai gingivitis oleh karena kurangnya kesadaran menjaga kesehatan gigi dan mulut. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Zoraya20, yang secara signifikan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara perilaku menyikat gigi dengan kejadian penyakit periodontal yang ditunjukkan dengan nilai . djusted OR . % CI) = 1,25 . ,12-1,. p-value <0,. setelah dikontrol usia, jenis kelamin, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi buah dan sayur, serta aktivitas fisik. Penyuluhan yang dilaksanakan oleh Puskesma Marga I Tabanan pada ibu hamil meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kondisi gigi dan mulut pada saat periode kehamilan. Peningkatan kunjungan pasien gingivitis meningkat di bulan januari dan februari dan di dominasi oleh Perempuan dengan kondisi hamil. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dikemukakan oleh Satrio dkk16, mengenai kurangnya pengetahuan Ibu hamil terhadap penyebab terjadinya gingivitis yang disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai pencegahan gingivitis. Tujuan utama dalam perawatan gingivitis adalah untuk mengurangi inflamasi. Sejalan dengan yang dilaksanakan oleh Puskesmas Marga I Tabanan yakni dimulai dari persiapan alat dan bahan, anamnesa, pemeriksaan intra oral dan ekstra oral, menegakkan diagnose, melakukan scalling dan mengulasi betadine pada gingiva. Ini didapat dengan penggunaan instrumentasi yang berbeda untuk menghilangkan deposit plak gigi. Gingivitis, pada tahap inisial, dapat dengan mudah diatasi jika pasien memulai protokol oral hygiene, yang mana mencakup menggosok gigi teratur dengan teknik yang benar dan interproksimal hygiene seperti menggunakandental floss. Peradangan yang terjadi pada gusi tanpa merusak jaringan pendukung gigi disebut juga sebagai penyakit gingivitis9. Gingivitis bisa menyebabkan terjadinya pendarahan yang disertai dengan pembengkakan, warna kemerahan, eksudat, dan perubahan kontur Gingivitis yang tidak terkontrol dapat berkembang menjadi periodontitis yang tidak dapat dipulihkan11. Pengangkatan plak dan kalkulus secara dapat dicapai dengan scalling dan root planning berdasarkan kondisi keparahanya6. Perawatan pada kasus gingivitis marginalis lokalisata disebabkan oleh hormonal diawali dengan dilakukan scalling dan root planning. Apabila setelah dilakukan scalling dan root planning masih terdapat inflamasi dengan kedalaman poket 4-5 mm, maka dilanjutkan perawatan lanjutan yaitu kuretase untuk menghilangkan jaringan granulasi yang terinflamasi pada dinding poket periodontal12. Penatalaksanaan gingivitis gravidarum yang dapat dilakukan selama kehamilan hanya untuk mengurangi faktor primer akibat iritasi lokal seperti penumpukan plak atau kalkulus dengan melakukan tindakan Scalling pada trimester kedua yang merupakan periode paling aman untuk melakukan perawatan gigi rutin pada ibu hamil. Sembari diberikan dental health education mengenai cara menjaga kebersihan rongga mulut yang baik dan benar13. Gingivitis dapat dicegah dengan mengurangi plak secara efektif dengan cara mekanis . enyikat gig. atau dikombinasi dengan cara kimiawi . bat kumu. mes-kipun efektivitasnya tidak se-efektif dengan menyikat gigi18. Berkumur dapat membantu mengurangi pembentukan plak pada fase koagregasi,yaitu terjadi perlekatan berbagai spesies mikroba plak satu sama lain. Berkumur juga dapat menghilangkan bakteri di sela gigi yang tidak terjangkau oleh sikat gigi16. Perawatan gigi lebih dititik beratkan pada kontrol penyakit periodontal dan menghilangkan faktor penyebab dan pemicu perkembangan penyakit periodontal seperti Tindakan bedah periodontal seperti gingivektomi sebaiknya ditunda sampai pasien melahirkan kecuali jika pembesaran gingiva tersebut masih terasa sakit, mengganggu mastikasi, dan menimbulkan perdarahan serta supurasi setelah tindakan Namun hal tersebut diperbolehkan jika darurat untuk dilakukan dengan memperhatikan faktor-faktor yang penting untuk perawatan gigi pada ibu hamil seperti waktu yang relatif aman untuk dilakukan bedah, kondisi kesehatan dan psikis ibu hamil, dan medikamentosa yang diberikan17. KESIMPULAN Kesehatan gigi dan mulut merupakan keadaan rongga mulut, termasuk gigi geligi dan struktur jaringan pendukungnya terbebas dari rasa sakit dan penyakit. Gingivitis merupakan salah satu jenis penyakit inflamasi yang terbatas pada gingiva tanpa kerusakan lebih lanjut pada jaringan pendukung gigi dan sering terjadi setelah karies. Berdasarkan data UPTD Puskesmas Marga I Tabanan, gingivitis masuk kedalam 3 besar kasus tertinggi yang ditangani. Hal tesebut membuat perlunya perhatian khusus untuk kasus gingivitis yang terjadi, khususnya pada periode bulan Desember 2023 hingga Februari 2024 dengan prevalansi sebesar 17,37 %. Angka kejadian gingivitis pada Puskesmas Marga I Tabanan yang di dominasi oleh Ibu hamil menunjukkan bahwa pentingnya pengetahuan Ibu hamil tentang kesehatan gigi dan mulut untuk melakukan screening dan pencegahan ke dokter gigi serta menerapkan perilaku hidup sehat. Upaya tindakan promotif dan preventif bagi masyarakat, harus secara konsisten dilakukan, seperti melalui penyuluhan yang sudah dilaksanakan oleh UPTD Puskesmas Marga I Tabanan. DAFTAR PUSTAKA