e-Jurnal Kewirausahaan Volume 4 Nomor 2 Oktober 2021 E-ISSN 2339-1804 PENGARUH FAKTOR EMOSI DALAM PERILAKU PEMBELIAN SUPLEMEN KESEHATAN SELAMA MASA PANDEMI Erna Ferrinadewi Universitas Widya Kartika ferrinadewi@gmail.com Abstrak Emosi adalah kecenderungan dalam perilaku manusia. Konsumen sebagai manusia yang secara umum akan bertindak rasional sebagai insan ekonomi. Berbagai riset menemukan adanya kecenderungan dimana factor emosi juga mengatur tindakan rasional konsumen terutama dalam proses keputusan pembelian. Emosi menjadi factor pendorong konsumen dalam melakukan pembelian yang di luar kebiasaan, bahkan dalam pembelian di masa pandemi menunjukkan kenaikan signifikan terutama pada produk-produk suplemen kesehatan. Panic buying pun sempat terjadi di awal-awal masa pandemic seperti pemvelian masker dan belanja di pasar-pasara swalayan, oleh karena kebijakan lock down di beberapa Negara Data dalam penelitian ini diperoleh dengan meliibatkan 50 orang responden di Surabaya yang secara aktif melakukan pembelian suplemen vitamin selama masa pandesmic baik di apotek maupun yang dilakukan secara online, baik suplemen local maupun supermen impor dengan harga yang lebih mahal. Responden dipilih denga teknik nonprobality sampling dengan memastikan bahwa responden berada dalam kondisi sehat, melakukanpembelian dan konsumsi suplemen vitamin selama masa pandemic Hasil analisis data diperoleh dengan menggunakan analisa factor dan regresi untuk mendapatkan factor-faktor emosi apa saja yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam pembelian suplemen vitamin selama masa pademi. Diperoleh 46.7% responden dipengaruhi oleh factor emosi negative seperti rasa takut, rasa khawatir dan rasa sedih dalam keputusan membeli secara signifikan . dan hanya 18% saja konsumen yang membeli suplemen vitamin dipengaruhi oleh Faktor Emosi Positif seperti rasa bahagia dan bersemangat. Keyword : keputusan pembelian, emosi, perilaku konsumen PENDAHULUAN Manusia adalah mahluk social dan ekonomi yang digerakkan terutama oleh kepentingankepentingan rasional. Begitu juga halnya dengan konsumen, dalam keputusan pembelian idealnya dihasilkan dari pertim bangan rasional seperti keinginan untuk mendapatkan harga termurah dengan manfaat maksimal, berupaya dengan pegorbanan yang paling efisien. Namun demikian, dalam situasi tertentu, keterlibatana emosi dalam pengambilan keputusan nampak jelas dalam perilaku konsumen. Beberapa kali terjadi ketika konsumen Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Widya Kartika Surabaya 40 e-Jurnal Kewirausahaan Volume 4 Nomor 2 Oktober 2021 E-ISSN 2339-1804 melakukan pembelian dalam jumlah besar saat pemberlakuan PSBB dan PPKM. Masyarakat Kota Batam melakukan pembelian stol makanan dalam jumlah besar hingga di beberapa supermarket terihat antrian pembelli Rasa takut akan penyakit menular di awal pandemic, memicu masyarakat memborong masker dan handsanitizer dalam jumlah besar bahkan ketika harga masker menjadi sangat mahal tidak mengurangi masayrakat dalam membeli dalam jumlah besar. Pembelian dengan nuansa kepanikan juga terjadi di belahan dunia lain, di Auckland, Selandia Baru, pembelanjaan di pasar swalayan melonjak 40% saat pertama pandemic Maret tahun 2020, Permintan multivitamin naik hingga 10 kali lipat dalam masa pandemic Covid 19 dngan perimintaan tertinggi dalaha vitamin C di beberapa daerah Indinesia. Bagi perusahaan, kondisi ini perlu untuk diantisipasi, mengingat adany lonjakan perubahan permintaan secara mendadak yang jika tidak diikuti dengan ketersediaan produk akan menimbulkan efek kekecewaan jangka panjang. Pemasar telah mengembangkan teori tentang bagaimana konsumen melakukan keputusan pembelian. Namun upaya pemasar ini lebih banyak dimulai dari sudut pandaang produk dimana Pemasar berupaya untuk mmebuat produk dengan fitur dan manfaat tertentu, selanjutnya melakukan penelitian untuk menyesuaikanya dengan kebutuhan dan motivasi konsumen. Pemahaman tentang perilaku pembelian konsumen harus didasarkan pada wawasan tentang emosi manusa dan pengaruhnya dalam pengambilan keputusan karena saat ini keputusan pembelian konsumen tidak lagi diddasarkan pada alasan rasional saja atau pada alasan fungsional produk. Dalam teori ekonomi, emosi turut menjadi pertimbangan sebagai determinan dalam model keputusan dimana emosi dapat meningkatkan ketepatan dalam prediksi perilaku pembeli. Menjadi pertanyaan apakah terdapat sejumlah factor emosi yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam pembelian vitamin selama masa pandemic di Surabaya Emosi adalah kecenderungan dalam perilaku dan dapat menjadi sumber motivasi tindakan manusia dalam bertahan huidup.Terdapat 6 emosi dasar yang sering terlubat dalam pengambilan keputusan yaitu rasa marah, Rasa jijik, rasaa takut, rasa bahagia, rasa sedih dan rasa terkejut. Rasa Bahagia adalah emosi yang dirasaka menyenangkan oleh manusia da menghasilkan perasan gembira, penghargaan. Emosi rasa bahagia ini dapat teridentifikasi dari ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara. Rasa marah adalah perasaan negative dan emosi yang kuat, dapat berupa kekasaran, frustasi. Rasa marah juga dapat menjadi motivasi seseorang untuk mencari solusi atas masalahg yang dihadapi. Rasa takut adalah bentuk emosi yang kuat karena emosi ini mampu menjadi dorongan untuk bertahan hidup. Rasa kaget adalah emosi dengan banyak bentuk, rasa kaget bias disebabkan karena sesuatu yang positif ataupun sesuatu yang negative. Rasa sedih Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Widya Kartika Surabaya 41 e-Jurnal Kewirausahaan Volume 4 Nomor 2 Oktober 2021 E-ISSN 2339-1804 adalah emosi yang ditandai sebagai emosi yag bersifat sementara da nada banyak perasaan yang berkaitan dengan rasa sedih seperti rasa duka, rasa terbuang, rasa kecewa, rasa tidak menarik. Rasa sedih yang dirasakan dalam jangka panjang akan berubah menjadi depresi. Rasa jijik adalah perasaan yang muncul akibat situasi yang tidak menyenangkan. Perusahaan perlu mengidentifikasi hal-hal yang dapat menjadi trigger untuk munculmua emosi-emosi positive dan mendorong pendekatan yang lebih menekankan pada anlisa perilaku kosuimen. (Hunt and Johns. 2013) Emosi sebagai motivasi Emosi dalam perspektif ekonomi dapat dibedakan menajadi 2 yaitu (1) Ex-ante Emotions dan (2) Ex-Post Emotions. Ex-ante Emotions adalah emosi yang terjadi pada saat pengambilan keputusan dan sebelum hasil keputusan tersebut Nampak. Ex Post Emotions adalah emosi yang muncul sesudah pengambilan keputusan terjadi dan hasil dari keputusan tersebut telah diketahui. Pergi memeriksakan diri ke dokter sebagai sebuah tindakan yang diawali oleh emosi antipasti ketidakpastiaan di masa depan. Ex Ante Emotions atau emosi yang bersifat antisipasi dan emosi ini disebabkan oleh kondisi ketidakpastian yang dapat terjadi di masa depan. Emosi ini dapat berbentk rasa gelisah (Caplin dan Leahay, 2001) dimana semakin tinggi tingkat ketidakpastian, maka rasa gelisah semakin terlihat semkin tinggi rasa gelisah ini akan mendorong perasaan negative terhadap objeknya. Ex-Post Emotions adalah emosi yang terjadi setelah pengambilan keputuan dan hasil dari proses pengambilan keputusan itu dapat dilihat. Bentuk emosi ini dapat berupa perasaan menyesal, gembira, kecewa dan elation. Loomes dan Sugden (1982) berpendapat bahwa pengalaman penggunaan produk tidak saja bersumber dari perasaan yang ditimbulkan dari produk yang dipilihnya tetapi juga ada didalamnya perasaan menyesal dan kecewa atas produk alternative yang tidak dipilih. Emosi bersifat dinamis, artinya emosi tidak statis atau stabil. Emosi akan muncul seiring dengan kondisi ketidakpastian yag muncul di masa depan, dan emosi akan menghilang ketidak situasi tersebut tidak terjadi seperti emosi seorang siswa yang kembali tenang setelah mendengar pembatalan ujian untuk besok. Demikian juga dengan rasa kecewa. Emosi dapat terbentuk secara perlahan atau secara mendadak tiba-tiba seiring datangnya peristiwa. Emosi dapat disatukan ke dalam model berpikir rasional terutama emosi berpengaruh pada penetapan tujuan ekonomi (bisa bertujuan kebahagiaan), emosi juga mempengaruhi bagaimana manusia menyusun preferensi dalam rangka mencapai tujuan, misalkan kita memilih barang Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Widya Kartika Surabaya 42 e-Jurnal Kewirausahaan Volume 4 Nomor 2 Oktober 2021 E-ISSN 2339-1804 tertentu dan menolak yang lain berdasarkan pada seberapa besar emosi yang terikat pada barang yang dipilih tersebut. Emosi dalam pengambilan keputusan Keputusan pembelian adalah sebuah proses dimana konsumen berupaya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Proses ini diawali dengan kesadara akan adanya suatu masalah yang dapat diselesaikan dengan pemakaian produk. Dalam tahap selanjutnya konsumen akan mencari informasi seputar produk baik dari pengalaman maupun informasi yang bersumber dari uar seperti dari penjual, pengguna bahakn informasi dari pihak lain yang berperan sebagai influencer. Konsumen akan melakukan evaluasi dari sejumlah alternative produk yang ada dan memilih alternative yang terbaik. Proses ini berjalan dengan berbagai interaksi di lingkungan eksternal Emosi, mood dan perasaan juga membentuk hasil proses keputussan pembelian. Gambar 1.1 Model pengambilan Keputusan (Kotler, 2000: ) Emosi dalam keputusan pembelian telah lama diteliti dan diduga memiliki peran penting dalam keputusan rasional konsumen. Emosi. Paul Eckman mengidentifikasikan 6 emosi dasar yang secara universal dialami oleh manusia yaitu rasa bahagia, kesediahan, jijik, ketakutan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Widya Kartika Surabaya 43 e-Jurnal Kewirausahaan Volume 4 Nomor 2 Oktober 2021 E-ISSN 2339-1804 surprise dan marah. Termasuk didalamnya harga diri, rasa malu, dipermalukan dan rasa bersemangat. Mathews dan Wells (1994) menunjukkan , emosi merupakan mekanisme utama untuk membatasi dan mengarahkan perhatian kita dan karenanya dapat membantu dalam pengambilan keputusan yag lebih focus. Emosi mendefinisikan mana informasi atau data yang relevan dalam mencari solusi masalah. Emosi juga membantu kita dalam mempersempit kemungkinan alterantif dan membuat prioritas alternative dalam proses penentuan alat / cara yang digunakan untuk mencapai tujuan. Hal ini yang menjadi dasar pemikiran bahwa emosi adalah factor penting dalam tindakan-tindakan ekonomi konsumen. Emosi dan perilaku memiliki hubungan yang sebab akibat, Hefendeik (2016) berpendapat bahwa emosi merupakan energy gerak yang tidak terpidahkan dari perilaku. Dalam setiap perilaku yang nampak, selalu didahului oleh motivasi dari sebuah rasa/perasaan, dimana perasaan ini yang kemudian memicu proses kognisi. Perilaku marah tidak mungking muncul dengan sendirinya, selalu didahului oleh perasaan kecewa, emosi kekecewaan ini lah yang kemudian mendorong manusia untuk melakukan proses kognisi sehingga menemukan kesenjangan yang menjadi penyebab amarahnya. Emosi dan Kognisi Antoio Damasio (1994) berpendapat ada hubungan antara emosi dan kognisi. Rasa suka adalah emosi yang penting dalam tindakan rsional. Menurutnya pemikiran manusia sebagian besar terbantuk dari image seperti symbol, persepsi yangh sepanjang hdupnya dipelajari, dan manusia mengkaitkan nya dengan perasaan positif atau negative. Artinya ketika persepsi di masa depan dan perasaaan yang melekat dalam persepsi tersebut adalah positif maka akan mengarah pada perilaku yang positif Beberapa emosi dapat memicu bahkan menyatu pada akhirnya dengan cara berpikir logis. Slovic (1994) menggunaka emosi sebagai cara atau jalan dapat menjadi alasan manusia mau terikat dalam sebuah transaksi hanya dengan pihak yang sudah mereka kenal sebelumnya. Perasaan khawatir yang dirasakan konsumen dalam bertransaksi akan mendorongya untuk memutuskan dengan siapa dan dimana konsumen akan membeli. Emosi berperan penting dalam proses kognisi. Secara psikologi kognisi dan emosi diatur oleh bagian otak yang berbeda, namum riset menemukan bahwa kedua bagian otak tersebut saling Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Widya Kartika Surabaya 44 e-Jurnal Kewirausahaan Volume 4 Nomor 2 Oktober 2021 E-ISSN 2339-1804 berhubungan dan berpengaruh terhadap perilaku dan tindakan manusia.. Ingatan manusia sangat berhubuugan erat dengan emosi yang kuat dan turut menentukan perilaku kognitif seseorang. Emosi juga menjadi alat bagi seseorang dalam mengingat kembali memori masa lalu dan juga membantu dalam proses menarik informasi dari masa depan. Emosi yang kuat membuat sebuah memori menjadi sangat jelas dan bertahan lama. Duncan dan Barrett (2007) berpendapat bahwa rasa suka sebagai salah satu bentuk emosi merupakan bentuk lain dari kognisi meskipun seringkali konsumen mengalami situasi emosi dan kognisi secara terpisah berbeda situasi namun pada kenyatannnya berbagai bentuk perasaan yang dirasakan juga turut mengarahkan aktivas atau keputusan-keputusan yang melibatkan kognisi. Metode Penelitian Melibatkan 50 responden yang diambil dengan teknik snowball sampling dari keseluruhan pembeli suplemen vitamin selama masa pademi di Surabaya. Teknik nonprobability ini dipilih dengan pertimbangan adanya kecenderungan pembeli menggunakan referensi atau rekomendasi dari rekan, keluarga atau pihak-pihak lain yang juga konsumsi suplemen vitamin. Data primer diperoleh melalui kuesioner dan diolah dengan teknik analisa data analisa factor dan regreasi. Sebanyak 28 responden berjenis kelamin perempuan dengan mayoritas (diatas 50%) adalah perempuan bekerja dan sisanya adalah ibu rumah tangga, berdomisili di Surabaya dan telah berkeluarga. Responden mengaku secara rutin melakukan pembelian suplemen vitamin secara rutin sejak pandemic merebak. Vitamin C dan D menjadi vitamin terbanyak yang dibeli (45%) sisanya membei multivitamin, dan suplemen herbal lainnya.Responden yang terpilih adalah mereka yang tidak terinfeksi oleh Covid 19, dengan konsumsi pembelian senilai Rp. 150.000 – Rp. 200.000 sekali membeli. Hasil dan Pembahasan Sebanyak 50 data digunakan dalam penelitian ini dan berdasarkan nilai determinat, nilai koefisien KMO dan Bartlet juga nilia MSA diatas 0.5 maka dapat disimpulkan data yang digunakan memenuhi syarat untuk digunakan dalam Analisa Faktor. Hasil analisa factor ditemukan 2 Faktor yang dipertimbangakan konsumen dalam melakukan pembelian suplemen vitamin selama masa pademi yaitu Faktor Emosi Negatif dan Faktor Emosi Positif Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Widya Kartika Surabaya 45 e-Jurnal Kewirausahaan Volume 4 Nomor 2 Oktober 2021 E-ISSN 2339-1804 Tabel 1 Total Variance Explain Rotation Sums of Squared Loadings Faktor Total % of Variance Faktor Emosi Negatif 2,406 40,093 Faktor Emosi Positif 1,898 31,636 Cumulative % 40,093 71,729 Faktor Emosi Negatif mampu menjelaskan variasi jawaban responden sebesar 40% sedangkan Faktor Emosi Positif mampu menjelaskan 31% variasi jawaban konsumen sehingga dapat disimpulkan 72.2% responden secara kumulatif mampu menjelaskan bagaimana kedua factor tersebut dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian suplemen vitamin selama masa pandemic Tabel 2 Rotated Component Matrixa Component Item 1 2 Rasa Khawatir ,664 Rasa Takut ,892 Rasa Sedih ,845 , Rasa Bahagia ,717 Rasa Senang ,651 Bersemangat ,889 Faktor Emosi Negatif merupakan factor yang menggambarkan rasa khawatir, takut dan sedih sedangkan Faktor Emosi Positf merupakan factor yang menggambarkan rasa bahagia, senang dan bersemnagat. Tabel 2 menunjuukan nilai Loading factor yang tinggi sehingga dapat menjelaskan keterkaitan antar variable dalam factor yang sama. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Widya Kartika Surabaya 46 e-Jurnal Kewirausahaan Volume 4 Nomor 2 Oktober 2021 E-ISSN 2339-1804 Tabel 3 Component Transformation Matrix Component 1 2 Faktor Emosi Negatif ,782 ,623 Faktor Emosi Positif -,623 ,782 Berdasarkaqn tabel 3 koefisien kedua factor menunjukkan nilai diatas 0.5 sehingga kedua factor ini memenuhi syarat untuk di analisis lebih lanjut untuk mengetahui besarnya penagruh kedua factor terhadap keputusan pembelian. Sejauh mana kedua factor emosi Negatif dan Faktor Emosi Positif secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian dengan iai F 13,012 dan tingkat signifikansi dibawah 0.05. Dapat dikatakan bahwa kedua factor emosi ini juga memberikan efek secara bersama-sama dalam membentuk keinginan dan keputusan konsumen dalam pembelian suplemen vitamin Tabel 5 ANOVAa Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 5,702 10,298 16,000 df 2 47 49 Mean Square F Sig. 2,851 13,012 ,000b ,219 Namun demikian, Faktor Emosi Negatif lebih berpengaruh dalam keputusan pembelian ini. Sebesar 47.6% Faktor Emosi Negatif mempengaruhi keputusan konsumen. Rasa takut, rasa khawator dan rasa sedih lebih dominan dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen seperti dijelaskan pada Tabel 6. Faktor Emosi Negatif terbukti mempengarui keputusan pembelian secara signifikan dibawah 0.05. Namun tidak demikian dengan Faktor Emosi Positif memiliki pengaruh yang tidak signifikan dalam pembelian suplemen vitamin di masa pandemic Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Widya Kartika Surabaya 47 e-Jurnal Kewirausahaan Volume 4 Nomor 2 Oktober 2021 E-ISSN 2339-1804 Tabel 6 Coefficientsa Model fUnstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std. Error Beta t Sig. 3,238 ,002 (Constant) 1,921 ,593 Faktor Emosi Negatif ,409 ,120 ,476 3,405 ,001 Faktor Emosi Positif ,196 ,149 ,184 1,317 ,194 a. Dependent Variable: Keputusan Pembelian Rasa takut yang dirasakan konsumen merupakan respon alami responden ketika berada dalam situasi yang berbahaya, penuh risiko dan mengancam jiwa. Ketika konsumen tidak mampu mengukur risiko yang dihadapi, maka persepsi yang terbentuk adalah situasi ketidakpastian. Dalam situasi dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, konsumen akan berupaya untuk mengurangi risiko yang harus ditanggungnya dan rasa takut menjadi mekanisme perlindungan diri dengan mengurangi dan menghindari risiko (Zeelenberg et al., 2008) Rasa khawarir yang dirasakan konsumen akan mengarahkan individu pada perilaku yang mendatangkan kenyamanan dan kendali. Kegelisahan yang dirasakan konsumen di masa pandemic ini mempengaruhi keputusan pembelian dimana keputusan tersebut bertujuan untuk memberi kenyamanan dan kesadaran diri bahwa pandemic ini terkendalli. Pembelian suplemen vitamin merupakan upaya konsumen untuk meredakan rasa gelisah akibat tingginya tingkat penularan Covid 19 yang diawali dari rasa gelisah, rasa gelisah ini menjadi motivasi kuat kosumen untuk melindungi diri (Fridja, 1989) Rasa sedih yang dialami konsumen dalam masa pandemic ini bersumber dari perubahan cara hidup yang berbeda secara tiba-tiba, kebiasaan mudik saat har raya agama yang dilarang, kebiasaan berkumpul di café brsama teman-teman serta kebiasaan lain yang mendadak harus dikurangi dalam rangka kebijakan membatasi mobilitas. Kondisi sedih ini dapat menajdi trigger dalam proses evaluasi produk. Perasaan takut yang dirasakan konsumen dapat memicu penilaian positif terhadap produk dan kesediaan membayar lebih mahal juga membeli dalam jumlah lebih banyak (Lerner et. Al. 2004), produk dinilai sebagai jalan keluar atau hiburan untuk mengatasi dan menyelesaikan perasaan sedih yang mereka rasakan (Raghunathan & Pham, 1999). Pembelian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Widya Kartika Surabaya 48 e-Jurnal Kewirausahaan Volume 4 Nomor 2 Oktober 2021 E-ISSN 2339-1804 suplemen vitamin yang diawali dari rasa sedih ini merupakan bagian dari proses pemulihan emosional konsumen (Raghunathan, R., & Corfman, K, 2004) Emosi positif seperti rasa bahaghia, rsa senang dan bersemangat tidak menjadi daya penggerak konsumen dalam pembelian suplemen vitamin di masa pandemic. Hal ii dapat dipahami mengngat perasaan semacam ini tidak menjadi dominan karena konsumen cenderung merasakan situasi yang darurat dan mencekam. Emosi positif ini lebih banyak memicu pembelian yang tidak terencana sebelumnya. Sedangkan dalam pembelian suplemen vitamin, konsumen memiliki tujuan spesifk dan terencana sebagai bagia dari perilaku mereka merespon ketidakpastian pandemic. SIMPULAN Dapat disimpulkan bahwa emosi secara umum memang mampu menciptaka daya dorong atau motivasi konsumen untuk melakukan pembelian. Pembelian Supelemen vitamin secara spesifik di masa pandemic dipicu oleh rasa takut, rasa khawatir dan rasa sedih yang mendominasi perasaan konsumen. Bagi pemasar, informasi ini dapat digunakan sebagai dasar dalam merancang strategi pemasaran yang efektif di masa pandemic. Daftar Pustaka Damasio, A. (1994).Descartes’error: Emotion, reason, and the human brain. New York: Harper Collins Frijda NH. Aesthetic emotions and reality. AM PSYCHOL, 1989;44(12): 1546–1547 Lerner, J. S., Small, D. A., & Loewenstein, G. (2004). Heart strings and purse strings: Carry-over effects of emotions on economic transactions. Psychological Science, 15, 337–341 Listriyani L, wahyono wahyono. The Role of Positive Emotion in Increasing Impulse Buying. https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/maj/article/view/34265. Loomes, G., & Sugden, R. (1982). Regret theory: An alternative theory of rational choice under uncertainty. Economic Journal, 92(368), 80524. Slovic, P., Finucane, M., Peters, E., & MacGregor, D. (2004). Risk as analysis and risk as feelings: some thoughts about affect, reason, risk and rationality. Risk Analysis, 24(2), 311–322 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Widya Kartika Surabaya 49 e-Jurnal Kewirausahaan Volume 4 Nomor 2 Oktober 2021 E-ISSN 2339-1804 Jack, R., Garrod, O., and Schyns, P. (2014). Dynamic facial expressions of emotion transmit an evolving hierarchy of signals over time. Curr. Biol. 24, 187–192. doi: 10.1016/j.cub.2013.11.064 Kvajo, M. (2016). What we talk about when we talk about emotions. Cell 167, 1443–1445. doi: 10.1016/j.cell.2016.11.029 Zeelenberg, M., Nelissen, R. M., Breugelmans, S. M., & Pieters, R. (2008). On emotion specificity in decision making: Why feeling is for doing. Judgment and Decision making, 3(1), 18-27. Raghunathan, R., & Pham, M. T. (1999). All negative moods are not equal: Motivational influences of anxiety and sadness on decision making. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 79, 56–77. Kavya Satish, Abhishek Venkatesh, Anand Shankar Raja Manivannan. Covid-19 is driving fear and greed in consumer behaviour and purchase pattern. South Asian Journal of Marketing ISSN: 2719-2377 Raghunathan, R., & Corfman, K. P. (2004). Sadness as Pleasure-Seeking Prime and Anxiety as Attentiveness Prime: The “Different Affect-Different Effect” (DADE) Model. Motivation and Emotion, 28, 23-41. https://economy.okezone.com/read/2021/07/11/320/2438812/supermarket-diserbu-jelangppkmdarurat-masyarakat-borong-stok-makanan?page=2 https://wolipop.detik.com/sale-and-shop/d-4924817/heboh-orang-borong-belanjaan-karenacorona-ini-faktor-pemicu-panic-buying https://bisnis.tempo.co/read/1326302/pandemi-corona-permintaan-multivitamin-naik-10-kalilipat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Widya Kartika Surabaya 50