Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Oktober 2025: 238-242 KIAT-KIAT DALAM MENUMBUHKAN CINTA BUDAYA SUNDA DI KALANGAN GENERASI Z Yudi Permadi. Ikhwan, dan Onny Delisma Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Sumedang E-mail: r. permadi@unpad. ABSTRAK. Penelitian ini membahas berbagai kiat dalam menumbuhkan rasa cinta budaya Sunda di kalangan generasi Z yang hidup di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital. Permasalahan utama yang diangkat adalah melemahnya kesadaran generasi muda terhadap nilai-nilai budaya lokal akibat dominasi budaya global yang seragam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Sunda harus dilakukan melalui pendekatan multidimensional yang melibatkan peran pendidikan formal, keluarga, komunitas budaya, dan media digital. Integrasi budaya Sunda dalam kurikulum sekolah, penguatan peran keluarga sebagai agen sosialisasi nilai, pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana kreatif, serta revitalisasi bahasa dan seni tradisional terbukti menjadi strategi efektif dalam membangun identitas dan kebanggaan budaya. Kata kunci: budaya Sunda. generasi Z. pelestarian budaya. Pendidikan. media digital. TIPS FOR FOSTERING LOVE OF SUNDANESE CULTURE AMONG GENERATION Z ABSTRACT. This study explores various strategies for fostering a love of Sundanese culture among Generation Z, who live amid globalization and rapid digital transformation. The main issue addressed is the declining awareness of local cultural values among young people due to the dominance of globalized, uniform cultural patterns. The research employs a descriptive qualitative method, using data collection techniques such as observation, interviews, and literature review. The findings reveal that efforts to cultivate appreciation for Sundanese culture must adopt a multidimensional approach involving the roles of formal education, family, cultural communities, and digital media. Integrating Sundanese values into school curricula, strengthening the familyAos role as a cultural agent, utilizing digital technology as a creative platform, and revitalizing traditional language and arts are identified as effective strategies for reinforcing cultural identity and pride. Keywords: Sundanese culture. Generation Z. cultural preservation. digital media PENDAHULUAN Budaya merupakan identitas kolektif yang mencerminkan nilai, norma, serta cara pandang suatu masyarakat terhadap dunia dan dirinya Dalam konteks masyarakat Sunda, budaya menjadi warisan luhur yang merepresentasikan kearifan lokal, kesantunan, dan kebersamaan. Namun, di era globalisasi dan digitalisasi yang serba cepat, budaya Sunda menghadapi tantangan serius berupa menurunnya minat generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan mengamalkannya. Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, merupakan generasi yang tumbuh dalam lingkungan serba digital, terbuka terhadap budaya global, namun sering kali teralienasi dari akar budayanya sendiri. Seperti diungkapkan Suryani dan Permana . 4 :. Auapabila generasi mudanya tidak peduli terhadap kearifan lokal bahasa dan seni Sundanya sendiri, maka sedikit demi sedikit kekayaan dan keanekaragaman budaya yang sudah ada akan tergerus dan terkikis, hingga tidak bisa terselamatkanAy. Pemanfaatan Teknologi Digital sebagai Media Pelestarian Budaya Generasi Z dikenal sebagai digital natives, yaitu generasi yang akrab dengan teknologi dan media sosial. Karena itu, pendekatan pelestarian budaya harus beradaptasi dengan dunia digital yang menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Pemanfaatan media sosial seperti TikTok. Instagram, atau YouTube untuk memperkenalkan kebudayaan Sunda melalui konten kreatifAi misalnya video tutorial bahasa Sunda, cerita rakyat animasi, atau musik tradisional yang dikemas modernAidapat menjadi cara efektif dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya sendiri. Menurut Swarna dkk. , generasi Z memiliki potensi besar sebagai agen pelestarian budaya lokal apabila mereka diberi ruang untuk berkreasi melalui platform digital yang mereka Kiat-Kiat dalam Menumbuhkan Cinta Budaya Sunda di Kalangan Generasi Z (R. Yudi Permadi. Ikhwan, dan Onny Delism. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Dengan demikian, pelestarian budaya Sunda tidak lagi bergantung pada metode konvensional, tetapi bisa dilakukan secara adaptif dan menarik melalui ruang digital yang dekat dengan keseharian generasi muda. Kolaborasi Masyarakat dan Pemerintah dalam Pelestarian Budaya Sunda Pelestarian budaya tidak akan berhasil jika dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi antara berbagai pihak, baik pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, maupun Ganjar Kurnia . menegaskan bahwa Aupelestarian budaya Sunda memerlukan peran aktif masyarakat, selain dukungan kebijakan dan fasilitas dari pemerintahAy. Kolaborasi ini dapat diwujudkan melalui penyelenggaraan festival budaya, program pelatihan, dukungan ekonomi Sunda, pengembangan pariwisata budaya yang melibatkan generasi muda sebagai pelaku dan inovator. Lingkungan sosial yang kondusif dan apresiatif terhadap budaya lokal akan memperkuat identitas generasi Z sebagai penerus tradisi yang berakar kuat namun berpandangan global. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam kiat-kiat menumbuhkan rasa cinta budaya Sunda di kalangan generasi Z melalui berbagai strategi pendidikan, teknologi, dan sosial budaya. Pendekatan ini dipilih karena penelitian mengenai nilai-nilai budaya dan generasi muda tidak hanya berfokus pada angka atau data statistik, melainkan pada pemahaman makna, perilaku, dan motivasi individu dalam konteks sosial tertentu. Menurut Moleong . , penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan memahami fenomena sosial dari perspektif partisipan, dengan menekankan pada makna dan interpretasi terhadap realitas sosial. Dengan demikian, penelitian ini diarahkan untuk mengidentifikasi strategi yang paling relevan dan efektif dalam menumbuhkan kecintaan terhadap Sunda pandangan, serta aktivitas generasi muda. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam terhadap beberapa informan yang mewakili kalangan generasi Z, pendidik, serta pegiat budaya Sunda. Observasi dilakukan pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian budaya Sunda, seperti ekstrakurikuler seni Sunda, komunitas Sapoe Nyunda, dan festival kebudayaan di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Wawancara dilakukan untuk memperoleh pemahaman tentang persepsi, motivasi, serta hambatan generasi muda dalam mencintai dan melestarikan budaya Sunda. Teknik wawancara ini sejalan dengan pandangan Creswell . yang menyebutkan bahwa wawancara terbuka memungkinkan peneliti memahami pengalaman partisipan secara mendalam sesuai konteks sosial dan budaya mereka. Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka terhadap berbagai sumber ilmiah yang relevan, seperti jurnal, buku, dan artikel daring yang membahas pelestarian budaya lokal, karakter generasi Z, serta pendidikan berbasis kearifan Misalnya, penelitian oleh Adela dan AlAkmam . dalam Jurnal Bela Indika menunjukkan bahwa integrasi nilai budaya lokal dalam pendidikan dasar berperan penting dalam membangun identitas budaya siswa. Selain itu, temuan Suryani dan Permana . dalam Jurnal Kajian Budaya Nusantara menekankan pentingnya pelibatan generasi muda dalam revitalisasi bahasa dan seni tradisional agar pelestarian budaya tidak berhenti pada tataran Sumber-sumber tersebut digunakan untuk memperkuat temuan lapangan dan memberikan landasan teoretis bagi analisis. Proses pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahapan, yakni . penentuan lokasi dan subjek penelitian yang dianggap representatif bagi konteks budaya Sunda dan generasi Z, . pengumpulan data melalui observasi partisipatif dan wawancara terbuka, serta . pengumpulan literatur yang mendukung fokus penelitian. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik, yaitu proses pengelompokan data berdasarkan tema-tema utama yang muncul dari hasil wawancara, observasi, dan kajian pustaka. Teknik ini memungkinkan peneliti menemukan pola dan hubungan antara berbagai faktor yang memengaruhi tumbuhnya rasa cinta budaya Sunda. Menurut Braun dan Clarke . , analisis tematik merupakan metode yang fleksibel dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan melaporkan pola makna . dalam data kualitatif. Keabsahan data dijaga melalui teknik triangulasi sumber dan metode, yakni membandingkan data hasil wawancara, observasi. Kiat-Kiat dalam Menumbuhkan Cinta Budaya Sunda di Kalangan Generasi Z (R. Yudi Permadi. Ikhwan, dan Onny Delism. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 dan literatur untuk memastikan konsistensi temuan. Teknik ini sesuai dengan anjuran Sugiyono . , bahwa triangulasi digunakan untuk meningkatkan kredibilitas data dalam penelitian kualitatif, dengan cara memeriksa data dari berbagai sumber, metode, dan waktu yang berbeda. Dengan cara ini, hasil penelitian diharapkan tidak hanya valid secara akademis, tetapi juga relevan secara praktis bagi upaya pelestarian budaya Sunda. Secara keseluruhan, metode penelitian ini berfungsi untuk mengidentifikasi dan merumuskan strategi efektif dalam menumbuhkan rasa cinta budaya Sunda di kalangan generasi Z. Analisis hasil penelitian akan difokuskan pada praktik nyata, tantangan yang dihadapi, serta peluang yang dapat dimanfaatkan oleh institusi pendidikan, keluarga, komunitas budaya, dan pemerintah daerah dalam menjaga eksistensi budaya Sunda di era digital. HASIL DAN PEMBAHASAN Tantangan Menumbuhkan Cinta Budaya di Era Digital Generasi ZAiyakni mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012Aihidup dalam ekosistem teknologi yang serba cepat, digital, dan global. Dalam konteks ini, budaya lokal, termasuk budaya Sunda, menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan relevansinya di tengah arus modernisasi dan globalisasi nilai. Menurut Tapscott . , generasi Z adalah Audigital natives who think and act in a networked wayAy, artinya mereka tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga memaknai dunia melalui teknologi. Hal ini membawa dampak pada cara mereka berinteraksi dengan budaya, termasuk budaya tradisional. Budaya Sunda, dengan seluruh keluhuran nilai seperti silih asih, silih asah, silih asuh, kini sering terpinggirkan dalam pola hidup generasi muda yang lebih mengutamakan kecepatan, hiburan instan, dan identitas global. Riset oleh Rachmawati dan Suryani . menunjukkan bahwa hanya 37% remaja di Jawa Barat yang memahami makna filosofis dari pepatah Sunda seperti Auhade ku omong, goreng ku omongAy. Fakta ini mengindikasikan bahwa proses internalisasi nilai budaya lokal mulai tergerus oleh pengaruh media global yang dominan. Namun, generasi Z juga memiliki potensi besar dalam revitalisasi budaya, karena mereka adalah kelompok yang kreatif, adaptif, dan memiliki akses luas terhadap teknologi informasi. Menurut Prensky . Audigital natives can be the best agents of cultural preservation if they are given opportunities to reinterpret traditions in their digital languageAy. Dengan demikian, tantangan utama bukan pada perbedaan generasi, melainkan pada kurangnya strategi yang efektif dalam menghubungkan nilai-nilai tradisional dengan cara berpikir dan berkomunikasi generasi Peran Pendidikan Formal dalam Internalisasi Budaya Sunda Salah satu jalur paling strategis dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya Sunda adalah melalui pendidikan formal. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga arena pembentukan karakter dan identitas Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. telah menekankan pentingnya pendidikan berbasis kearifan lokal sebagai bagian dari penguatan karakter bangsa. Dalam konteks ini, budaya Sunda dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler. Misalnya, pembelajaran bahasa Sunda bukan sekadar penguasaan linguistik, tetapi juga wadah untuk memahami nilai-nilai yang terkandung dalam ungkapan dan peribahasa. Menurut Rahyono . Aubahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi cerminan pandangan hidup dan sistem nilai masyarakat pendukungnyaAy. Oleh karena itu, pengajaran bahasa Sunda yang dikaitkan dengan praktik budaya sehari-hari dapat memperkuat kesadaran identitas lokal generasi Penguatan Peran Keluarga dan Lingkungan Sosial Selain pendidikan formal, keluarga dan lingkungan sosial memiliki kontribusi besar dalam menanamkan nilai budaya. Nilai-nilai dasar budaya Sunda seperti leuleus jeujeur liat kaayaan . leksibel terhadap keadaa. , someah hade ka semah . amah terhadap tam. , dan ulah ngahinakeun batur . idak merendahkan orang lai. pertama kali diperoleh anak di rumah. Hidayat . menyebutkan bahwa Auinternalisasi nilai budaya paling efektif terjadi melalui pembiasaan dalam interaksi sehari-hari di lingkungan keluargaAy. Kiat-Kiat dalam Menumbuhkan Cinta Budaya Sunda di Kalangan Generasi Z (R. Yudi Permadi. Ikhwan, dan Onny Delism. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Kegiatan sosial dan komunitas budaya juga dapat menjadi ruang pembelajaran nonformal yang Komunitas Sapoe Nyunda. Sunda Ngahiji, dan berbagai kelompok seni di Bandung dan Garut telah menunjukkan bagaimana pendekatan partisipatif dapat membangun kebanggaan budaya. Suryani dan Permana . menegaskan bahwa Aupelibatan aktif generasi muda dalam kegiatan budaya, bukan sekadar penonton, adalah kunci keberlanjutan tradisi lokalAy. Maka, penting bagi lembaga pendidikan dan pemerintah daerah untuk memfasilitasi ruang interaksi budaya yang terbuka, inklusif, dan menarik bagi generasi Z. Optimalisasi Media Digital untuk Promosi Budaya Sunda Media digital merupakan arena strategis bagi pelestarian budaya Sunda di tengah generasi Z yang sangat akrab dengan teknologi. Generasi ini tidak dapat dipisahkan dari media sosial seperti TikTok. Instagram. YouTube, dan podcast, yang menjadi ruang ekspresi identitas diri. Alih-alih menolak media modern, upaya pelestarian budaya justru perlu memasuki ruang digital tersebut. Menurut Nasrullah . Aubudaya digital bukan hanya ruang penyebaran informasi, tetapi juga arena pembentukan identitas dan makna budaya baruAy. Oleh karena itu, promosi budaya Sunda harus dilakukan melalui konten kreatif yang sesuai dengan selera dan gaya komunikasi generasi muda, seperti video pendek tentang adegan wayang golek lucu, tutorial bahasa Sunda, meme berbahasa Sunda, hingga musik remix tradisional. Contoh nyata dapat dilihat dari kanal YouTube Sunda Official dan akun Instagram @urang_sunda. id, yang sukses menarik ribuan pengikut muda karena menampilkan konten ringan, jenaka, namun tetap edukatif. Fenomena ini menunjukkan bahwa cinta budaya tidak harus diwujudkan dalam bentuk formal dan serius, tetapi dapat diinternalisasi melalui hiburan yang Hal ini sejalan dengan pendapat Jenkins . bahwa Auparticipatory culture enables youth to engage creatively with cultural heritage and reimagine it within their own expressive frameworksAy. Selain itu, digitalisasi arsip budaya juga penting dilakukan. Museum dan lembaga budaya dapat membuat aplikasi interaktif atau tur virtual tentang budaya Sunda, sebagaimana dilakukan oleh Galeri Kebudayaan Jawa Barat yang menghadirkan virtual exhibition seni tradisional melalui platform daring. Upaya ini tidak hanya meningkatkan akses, tetapi juga menjembatani jarak antara tradisi dan teknologi modern. Revitalisasi Bahasa dan Seni Tradisional Sunda Bahasa merupakan elemen utama dalam menjaga eksistensi budaya. Bahasa Sunda kini mengalami penurunan fungsi dalam komunikasi sehari-hari, terutama di kota besar. Penelitian oleh Setiawan . menunjukkan bahwa hanya sekitar 28% remaja perkotaan di Jawa Barat yang secara aktif menggunakan bahasa Sunda di rumah. Oleh karena itu, revitalisasi bahasa menjadi aspek penting dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya Sunda. Revitalisasi dapat dilakukan dengan pendekatan kreatif, misalnya melalui musik, sastra, atau media digital. Lagu-lagu modern berbahasa Sunda seperti karya Doel Sumbang atau grup Karinding Attack dapat dijadikan media untuk memperkenalkan bahasa Sunda dalam bentuk yang Dalam dunia literasi, munculnya novel-novel Sunda kontemporer juga menjadi bukti bahwa bahasa daerah dapat tetap hidup dalam karya modern. Kegiatan lomba baca puisi Sunda, festival dongeng, dan pelatihan menulis aksara Sunda juga merupakan strategi efektif. Sejalan dengan teori estetika budaya. Ratna . menegaskan bahwa Aukesenian tradisional memiliki fungsi estetika dan didaktik sekaligus, yaitu membentuk rasa dan budi pekerti masyarakat pendukungnyaAy. Dengan demikian, pelestarian seni Sunda tidak hanya tentang mempertahankan bentuk, tetapi juga tentang menanamkan nilai moral, sosial, dan spiritual yang terkandung di dalamnya. SIMPULAN Penelitian mengenai AuKiat-kiat dalam Menumbuhkan Rasa Cinta Budaya Sunda di Kalangan Gen ZAy menunjukkan bahwa pelestarian budaya lokal di era digital memerlukan pendekatan yang adaptif, kreatif, dan berkelanjutan. Generasi Z, sebagai kelompok yang lahir dan tumbuh bersama teknologi digital, menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi keberlangsungan budaya Sunda. Tantangannya terletak pada semakin menipisnya internalisasi nilai-nilai lokal akibat penetrasi budaya global dan media sosial yang seragam secara visual dan bahasa. Namun, di sisi lain. Kiat-Kiat dalam Menumbuhkan Cinta Budaya Sunda di Kalangan Generasi Z (R. Yudi Permadi. Ikhwan, dan Onny Delism. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 generasi ini memiliki kemampuan tinggi dalam memanfaatkan teknologi dan media kreatif, yang justru dapat dijadikan sarana efektif untuk menumbuhkan kembali kecintaan terhadap budaya daerah. DAFTAR PUSTAKA