http://journal. id/index. php/anterior GOTONG ROYONG SEBAGAI NILAI COMMUNITY ENGAGEMENT PADA MASYARAKAT TANI DI DESA BELANTI SIAM. KECAMATAN PANDIH BATU. KABUPATEN PULANG PISAU. KALIMANTAN TENGAH GOTONG ROYONG AS THE VALUE OF COMMUNITY ENGAGEMENT IN A FARMING COMMUNITY IN BELANTI SIAM VILLAGE. KEC. PANDIH BATU. PULANG PISAU DISTRICTS. CENTRAL KALIMANTAN Zulkifli Abdullah 1* Abstrak Bahrianoor Irwani *1Dosen FISIP Universitas Mulawarman. Indonesia 2Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Indonesia 3 Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Indonesia zulkifliabdullah@fisip. bahrianoor12@gmail. Irwaninsancita@gmail. Desa Belanti Siam merupakan salah satu desa di Kec. Pandih Batu. Kab. Pulang Pisau. Kalimatan Tengah, desa ini menjadi sasaran kebijakan program food estate oleh pemerintah pusat. Berdasarkan rancangan program kebijakan tersebut tercatat bahwa Desa Belanti memiliki potensi tanam padi sekitar 80% daripada desa di sekitarnya. Selain itu, di Desa Belanti juga memiliki banyak kelompok tani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapokta. sebagai basis jaringan pengaman . avety ne. sekaligus kekuatan social . ocial powe. para petani untuk meningkatkan produktifitasnya. Gotong royong sebagai nilai community engagement merupakan pendekatan yang digunakan dalam memahami pola pemberdayaan masyarakat desa sekaligus menjadi dasar kekuatan dalam mengelola dan memanfaatkan potensi pertaniannya ditengah keterbatasan ekonomi yang melanda mereka. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan menginterpretasikan praktek sosial masyarakat tani di Desa Belanti Siam. Hasilnya, masyarakat Desa Belanti Siam merupakan masyarakat dengan nilai solidaritas dan soliditas yang kuat. Atas dasar itu masyarakat Desa Belanti Siam merencanakan dan mengimplementasikan pekerjaannya secara bersama. Dimulai dari membersihkan sawah, menanam benih padi, hingga memanen dilakukan secara gotong royong. Tidak sampai didisitu, mereka juga saling bahu membahu untuk memberdayakan masyarakat setempat yang tidak punya sawah untuk membantu masyarakat yang punya sawah lalu diberi upah. Modal sosial yang kuat dapat dimanfaatkan dengan baik untuk mengimplementasikan program pemberdayaan masyarakat secara partisipatif sesuai dengan potensi alam yang mereka miliki. Abstract Kata Kunci: Gotong-Royong Pemberdayaan Kelompok Keywords: Mutual cooperation Empowerment Community Engagement Belanti Siam Village is one of the villages in Pandih Batu District. Pulang Pisau Regency. Central Kalimantan, this village is the target of the food estate program policy by the central government. Based on the design of the policy program, it was noted that Belanti Village has a rice planting potential of around 80% compared to the surrounding villages. In addition. Belanti Village also has many farmer groups who are members of the Association of Farmers Groups (Gapokta. as the basis for a safety net as well as social power for farmers to increase their productivity. Gotong royong as the value of community engagement is an approach used in understanding the pattern of empowerment of rural communities as well as being the basis of strength in managing and utilizing their agricultural potential amidst the economic limitations that plague them. Through a qualitative method with a descriptive approach, this study seeks to describe as well as interpret the social practices of the farming community in Belanti Siam Village. As a result, the people of Belanti Siam Village are a society with strong values of solidarity and solidity. On that basis, the people of Belanti Siam Village plan and implement their work together. Starting from cleaning the fields, planting rice seeds, to harvesting is done in mutual cooperation. It didn't stop there, they also worked hand in hand to empower local people who did not have rice fields to help people who had rice fields and were then given wages. Strong social capital can be put to good use to implement participatory community empowerment programs in accordance with their natural potential. A 2022 The Authors. Published by Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/bysa/4. 0/). Zulkifli Abdullah. Bahrianoor dan Irwani. Gotong Royong Sebagai Nilai Community Engagement Pada Masyarakat Tani Di Desa Belanti Siam. Kecamatan Pandih Batu. Kabupaten Pulang Pisau. Kalimantan Tengah. dipahami dalam berbagai macam model pendekatan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun non pemerintah . ivil society communit. Model pendekatan yang banyak dilakukan adalah model pendekatan institusional, kapasitas evaluasi sebagai pembinaan dalam pemberdayaan masyarakat, dan penguatan nilai kolektif untuk membangkitkan partisipasi masyarakat. Model pendekatan institusi/kelembagaan menekankan perlunya inovasi tata kelola kelembagaan dalam komunitas agar masyarakat dapat berdaya dalam menjalankan aktivitasnya. Penelitian yang dilakukan oleh Arpai . pada masyarakat petani di Desa Duraasi. Kabupaten Konawe. Sulawesi Tenggara menekankan aspek kelembagaan sebagai factor determinan untuk meningkatkan pendapatan dan keberlangsungan usaha para petani (Arpai, 2. Temuan penting dalam penelitian ini adalah bahwa pendapatan petani dipengaruhi oleh kontestasi persaingan pembelian gabah petani yang dilakukan oleh pedagang dalam Desa Duraasi dan pedagang diluar Desa Duraasi. Dampaknya adalah lingkungan petani di Desa Duraasi dikelilingi oleh persaingan ketat antara pedagang dalam desa dan pedagang diluar desa. Dampak selanjutnya adalah hubungan antara petani dan pedagang dalam desa jadi kurang harmonis disebabkan oleh kehadiran pedagang diluar desa yang mematok harga produk petani lebih fluktuatif dan kompetitif. Pembinaan yang menekankan pada aspek penguatan kapasitas evaluasi terhadap proses pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting setelah proses inovasi institusi yang berpusat pada sumber daya masyarakat telah menguat. Penguatan kapasitas evaluasi sebagai respon atas kebijakan program pemerintah kepada masyarakat menjadi sangat penting sebagai dasar untuk menilai suatu program berjalan efektif atau tidak efektif. Di sebuah desa di Kota Madrid. Spanyol ada kebiasaan masyarakat yang telah membangun budaya evaluasi sebagai dasar untuk mengimplementasikan kebijakan public dalam rangka menyukseskan sebuah program kepada masyarakat. Ini dilakukan untuk menilai tingkat keberhasilan suatu kebijakan program kemitraan antara pemerintah Spanyol dengan masyarakat desa. Hasilnya, kapasitas evaluasi sebagai dasar untuk mengimplemtasikan kebijakan publik menjadi sangat penting untuk menilai keberhasilan program pemberdayaan masyarakat. Penguatan evaluasi di tingkat local dapat dijadikan dasar untuk perbaikan-perbaikan program pemberdayaan secara berkelanjutan (Dyaz-Puente et al. , 2. Puncak dari proses pemberdayaan masyarakat adalah keterlibatan masyarakat sepenuhnya dalam menentukan, merencanakan, mengimplementasikan dan Keterlibatan aktif masyarakat menjadi poin penting untuk menilai keberhasilan sebuah program Partisipasi mengimplementasi sebuah program peberdayaan tentu tidak terealisasi secara spontanitas, diperlukan sebuah keadaban nilai-nilai yang bersumber dari masyarakat sabagai daya rekat untuk membangkitkan kolektivitas PENDAHULUAN Pemberdayaan sejatinya merupakan upaya sistematis yang dilakukan oleh setiap elemen masyarakat baik pemerintah . maupun non pemerintah . nformal/civil societ. untuk memberi kekuatan atau daya kepada sekelompok orang yang masih lemah dalam mengakses sumber daya dilingkungannya. Objek yang dituju dari proses pemberdayaan adalah masyarakat. Dalam pengertian tertentu pemberdayaan masyarakat merupakan proses pembangunan yang menyebabkan masyarakat dapat melakukan inisiatif untuk memulai kegiatan sosialnya yang dapat mengubah kondisi socialekonomi mereka sendiri (Maryani, 2. Menurut Mardikanto dalam (Maryani, 2. terdapat enam tujuan pemberdayaan masyarakat, yaitu: . Perbaikan Kelembagaan. AuBetter InstitutionAy . Perbaikan Usaha. AuBetter BusnessAy . Perbaikan Pendapatan. AuBetter IncomeAy . Perbaikan Lingkungan. AuBetter EnvironmentAy . Perbaikan Kehidupan. AuBetter LivingAy dan . Perbaikan Masyarakat. AuBetter CommunityAy. Secara masyarakat di Indonesia pada prinsipnya telah berjalan dan tidak sedikit diantaranya tergolong berhasil. Ragam pemberdayaan pun dapat kita saksikan telah dilakukan sesuai dengan potensi masyarakat itu sendiri. Salah satu dari sekian banyak pemberdayaan yang dilakukan terkonsentrasi pada sector UMKM. Di dalam masyarakat, sector UMKM dapat dikategorikan sebagai sector vital yang sangat menentukan pergerakan ekonomi suatu masyarakat. Oleh karena itu proses pemberdayaan mesti dipahami secara kholistik agar semua potensi yang ada dapat dimanfaatkan dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat. Setidaknya ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemberdayaan kelompok masyarakat (Noor, n. antara lain: pertama, aspek kebijakan. Aspek ini merupakan aspek tekstual yang focus pada berbagai model pendekatan dalam penyusunan rencana aksi pembinaan dan pemberdayaan masyarakat. kedua, aspek Aspek ini focus pada organisasi pelaksana yang didalamnya terdapat produk normative yang dijadikan kaidah dalam membangun pemberdayaan ketiga, aspek kultural. Aspek ini focus pada potensi perilaku dan kesadaran kolektif suatu masyarakat yang dapat digali untuk dikonversi menjadi sumber daya dalam pemberdayaan masyarakat. Ketiga aspek diatas dilakukan agar tujuan utama pemberdayaan masyarakat dapat diwujudkan dengan baik. Implementasi pembemberdayaan tentu tidak bisa dilepaskan dari aspek kebijakan sebagai konsep dasar dalam perencanaan pemberdayaan, aspek struktur sebagai mekanisme atau aturan yang melandasi berjalannya suatu pemberdayaan, serta aspek kultural nilai-nilai pemberdayaan dalam suatu masyarakat. Ketiga aspek diatas mesti diimplementasikan secara kholistik agar enam point tujuan pemberdayaan dapat diwujudkan ditengah masyarakat. Fenomena model pemberdayaan masyarakat tidak dapat dipahami hanya dengan menggunakan satu model pendekatan, tapi mesti Anterior Jurnal. Volume 21 Issue 2. April 2022. Page 58 Ae 66 agar program pemberdayaan terlaksana dengan baik. Korea Selatan masyarakatnya memiliki nilai-nilai kolektif sebagai daya rekat dalam membangkitkan partisipasi masyarakat untuk mengimplementasikan program Nilai-nilai kolektif tersebut dinamai Saemaul Undong. Saemaul Undong merupakan nilai kolektif masyarakat Korea Selatan yang secara harpiah dapat bermakna Gerakan Desa Baru. Saemaul Undong merupakan model pengembangan masyarakat yang mengimplemntasikan kebijakan program pemberdayaan dalam masyarakat. Walaupun memiliki celah kritik atas realisasi pembangunan desa yang masih timpang karena alasan perbedaan pemerintahan intra-desa dilevel akar rumput, seyogyanya prinsip partisipasi yang dikandung dalam istilah Saemaul Undong juga dapat dilihat relevansinya dalam instilah Gotong Royong di Indonesia (Yang, 2. Penelitian ini akan memfokuskan kajiannya pada implemtasi nilai gotong royong sebagai nilai community engagement pada masyarakat tani dalam membangun skema pemberdayaan di Desa Belanti Siam. Kec. Pandih Batu. Kab. Pulang Pisau. Kalimantan Tengah. Tinjauan Pustaka Gotong Royong: Perspektif Community Based Development Bekerja bersama-sama, saling membantu satu sama lain, tolong menolong, untuk meringankan pekerjaan dan maju bersama sebagai kesatuan masyarakat yang utuh disebut gotong royong. Dalam masyarakat Indonesia budaya gotong royong merupakan ciri yang menonjol dalam kehidupan sehari. Budaya ini melekat kuat dalam sanubari masyarakat sehingga hampir tidak ada satu pun aktivitas yang lepas dari budaya kegotong royongan. Jika kita hidup ditengah-tengah masyarakat utamanya masyarakat pedesaan maka hampir setiap saat kita akan disuguhkan aktivitas hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai gotong Bekerja bersama menjadi ciri khas masyarakat di pedesaan, baik untuk menyelesaikan hajatan pribadi maupun jika ingin menyelesaikan hajatan umum, seperti: membangun tempat ibadah, membersihkan saluran irigasi, membangun rumah, menanam padi, dll. (Widayati, 2. Gotong royong dapat dipahami sebagai paham yang menggambarkan kolektivisme masyarakat dimana usaha, kerja, dan karya dilakukan secara bersama-sama (Effendi, 2. Menurut Koentjaraningrat . dalam Unayah . mendefinisikan bahwa gotong royong merupakan corak kerjasama antar anggota-anggota dalam suatu komunitas. Lebih lanjut. Koentjaraningrat juga membedakan budaya gotong royong menjadi dua bagian, yaitu: tolong meolong dan kerja bakti. Tolong menolong dilakukan oleh masyarakat pada aktivitas pertanian, kegiatan rumah tangga, pesta, dan pada peristiwa bencana kematian. Sedangkan kerja bakti dilakukan oleh masyarakat untuk menyelesaikan kegiatan menyangkut kepentingan umum, baik inisiatif bersama maupun atas arahan dari pemerintah. Menurut Hatta dalam Dewantara . gotong royong menjadi salah satu dari kelima anasir demokrasi yang digagasnya, p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 yaitu: rapat, mufakat, tolong menolong, gotongroyong, dan hak untuk melakukan protes . engemukakan Gotong royong yang sudah menjadi nilai bangsa Indonesia sangat relevan untuk dijadikan platform dalam merencanakan dan mengimplementasikan kebijakan pembangunan. Pembangunan masyarakat mesti berpusat pada masyarakat itu sendiri, agar tercipta keberdayaan yang memandirikan masyarakat untuk berkarya. Agenda pembangunan mesti direncanakan langsung oleh masyarakat karena pengetahuan tentang permasalahan utama yang Hal ini mengisyaratkan bahwa pembangunan menurut Myrdal . dalam (Supriatna . merupakan suatu proses yang saling terkait dan terjadi dalam lingkaran sebab akibat secara kumulatif . ircular cumulative causatio. Oleh karena itu pembangunan mesti memenuhi keseluruhan unsurunsurnya Sudarmanto . Adapun unsur-unsur pembangunan adalah, sbb: pertama, pembangunan merupakan proses yang melibatkan banyak orang. kedua, pembangunan dilakukan dengan sadar. pembangunan dilakukan secara terencana. pembangunan dilakukan secara berkelanjutan. pembangunan memiliki peningkatan baik kualitas maupun kuantitas dari masa ke masa. pemabangunan memiliki tujuan. ketujuh, pembangunan merupakan perubahan dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pembangunan berbasis komunitas yang selama ini didengungkan oleh para pemerintah maupun para pegiat social sesungguhnya sudah lama tertanam didalam sanubari masyarakat Indonesia, khususnya di Desa Belanti Siam. Pulang Pisau. Kalimantan Tengah. Perspektif pembangunan ini mengandalkan kekuatan komunitas/masyarakat sebagai strategi kunci untuk keluar dari permasahan social-ekonomi yang mengekang mereka. Segala bentuk kegiatan masyarakat selalu difokuskan pada peningkatan partisipasi mereka untuk menjadi problem solver disetiap permasalahan yang mereka hadapi. Jadi kegiatan pembangunan mesti berorientasi pada penyelesaian masalah social bagi yang mengartikulasikan permasalahan diruang publik (Henderson & Vercseg, 2010: . Dari perspektif ini dapat dipahami bahwa gotong royong adalah fondasi dalam mengembangkan dan memandirikan masyarakat. Gotong Royong: Perspektif Modal Sosial Gotong royong merupakan perilaku social yang dilandasi dengan nilai social-budaya, seperti: solidaritas, kebersamaan, sukarela dan kerukunan. Dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur gotong royong meliputi: nilai, jaringan social, dan perilaku social (Unayah, 2017: 53-. Konsep gotong royong menitikberatkan pada dialektika yang selaras antara struktur social dengan kultur social sebagai factor yang saling terkait dalam membangun interaksi social di masyarakat (Abdullah, 2020: . Zulkifli Abdullah. Bahrianoor dan Irwani. Gotong Royong Sebagai Nilai Community Engagement Pada Masyarakat Tani Di Desa Belanti Siam. Kecamatan Pandih Batu. Kabupaten Pulang Pisau. Kalimantan Tengah. Menurut Bourdieu dalam Lin, . 2: 22-. modal social merupakan produksi secara terus menerus yang dilakukan oleh anggota kelompok dalam Proses produksi tersebut merupakan upaya yang dilakukan oleh anggota kelompok untuk memahami batasan-batasan social sekaligus membuka ruang pertukaran yang terus menerus agar tercipta proses pengakuan eksistensi dalam anggota kelompok. Singkatnya. Bourdieu melihat modal social merupakan modal jaringan yang dimiliki oleh anggota kelompok dalam masyarakat. Hal yang menarik untuk dipahami lebih lanjut adalah kenapa modal social itu disebut disebut AusocialAy? pertanyaan ini diuraikan sekaligus dijawab oleh Collier bahwa modal social disebut AusocialAy karena melibatkan orang-orang yang berperilaku social. Lebih lanjut. Collier menjelaskan bahwa ada makna potensial yang lebih menarik bagi para ekonom, yaitu: modal social disebut AusocialAy karena muncul dari interaksi agen non pasar tetapi memiliki efek ekonomi. Oleh karena itu Collier berpendapat bahwa modal social dicirikan oleh tiga jenis eksternalitas, yaitu: pertama, inisiasi interaksi social selalu melibatkan bersifat eksternalitas. interaksi social memiliki efek ekonomi yang tidak dimediasi oleh pasar. ketiga, efek ekonomi biasanya bukan menjadi tujuan utama proses interaksi social tetapi hanya bersifat incidental atau tanpa kesengajaan (Grootaert, 2. Secara kualitatif penelitian ini berupaya mendeskripsikan implementasi nilai-nilai gotong royong sebagai perspektif community based development dalam pemberdayaan masyarakat petani di Desa Belanti Siam. Kec. Pandih Batu. Pulang Pisau. Kalimantan Tengah. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Secara administrative (Chasan, 2. Desa Belanti Siam merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Pandih Batu. Kabupaten Pulang Pisau. Kalimantan Tengah. Desa ini memiliki wilayah dengan luas kurang lebih 24 kmA yang dihuni oleh 809 KK dengan total populasi penduduk 2. 644 jiwa terdiri dari 1. 334 laki-laki dan 1. 310 perempuan. Secara geografis Desa Belanti Siam berbatasan dengan beberapa desa, yaitu: Sebelah Utara : Berbatasan dengan Desa Pantik Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Desa Karya Bersama Sebelah Timur : Berbatasan dengan Desa Gadabung, dan Sebelah Barat : Berbatasan dengan Sungai Kahayang METODOLOGI Penelitian ini menggunakan metodologi kualititif dengan pendekatan deskriptif. Menurut (Creswell, 2. penelitian kualitatif merupakan penelitian yang mengeksplorasi informasi tentang fenomena utama dalam suatu penelitian. Deskriptif merekreasikan sebuah pengalaman atas fenomena agar pembaca dapat menangkap gambaran dan merasakan alur fenomena yang sedang ditelititi (Santana K, n. Lebih lanjut deskriptif merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran spesifik mengenai situasi, penataan social, dan keterhubungan antar keduanya dalam objek penelitian (Neuman, 2. Pengumpulan menggunakan empat strategi (Creswell, 2. , yaitu: pertama, observasi. strategi ini digunakan peneliti untuk mengamati perilaku dan aktivitas para actor di lokasi kedua, wawancara. strategi ini digunakan dalam rangka memahami secara mendalam proses pemberdayaan masyarakat tani di lokasi penelitian. Proses wawancara dilakukan dalam berbagai kesempatan baik luring maupun daring. ketiga, strategi ini digunakan untuk melengkapi data yang dibutuhkan peneliti dalam penelitian ini, baik dokumen public (Koran, majalah, laporan penelitian, ds. maupun dokumen privat . uku catatan harian, surat, email, ds. keempat, audio dan visual. strategi ini digunakan untuk mengabadikan rekaman suara saat wawancara . dan rekaman gambar . yang dibutuhkan oleh Secara geografis. Desa Belanti Siam berbatasan dengan desa-desa lainnya yang ada di Kec. Pandih Batu. Kab. Pulang Pisau. Berdasarkan kondisi geografis diatas, dapat dimaknai bahwa mayoritas wilayah di Kec. Pandih Batu merupakan wilayah yang berstatus desa. Seturut dengan itu, maka keadaan social Desa Belanti Siam juga bernuasa pedesaan. Adapun keadaan sosialnya adalah, sbb: Tabel: 4. Keadaan Sosial Berdasarkan Jumlah Penduduk Kependudukan Jumlah Ket Kepala Keluarga Jiwa Jenis Kelamin Laki1. Jiwa Jenis Kelamin Jiwa Perempuan Jumlah Jiwa Sumber: (Profil Desa Belanti Siam, n. Desa Belanti Siam merupakan desa yang perbandingan penduduknya berjeniskelamin laki-laki lebih dominan daripada penduduk yang berjeniskelamin Dari jumlah penduduk yang tercatat ditabel, baru sekitar 818 jiwa yang saat ini menjadi kepala keluarga dalam rumah tangga. Anterior Jurnal. Volume 21 Issue 2. April 2022. Page 58 Ae 66 Tabel: 4. Keadaan Sosial Berdasarkan Kesejahteraan Sosial Kondisi Jumlah Ket Kesejahteraan Penduduk Miskin Jiwa Penduduk Hampir Jiwa Miskin Penduduk Rentan Jiwa Miskin Penduduk Tidak Jiwa Miskin Sumber: (Profil Desa Belanti Siam, n. Keadaan kesejahtraan social Desa Belanti Siam masih cenderung memprihatinkan. Jika merujuk pada table diatas, jumlah penduduk dalam kondisi miskin lebih dominan daripada penduduk tidak miskin. Penduduk yang hamper miskin dan rentan miskin dapat dikategorikan kedalam kelompok masyarakat dalam bingkai kemiskinan. Ini menandakan bahwa Desa Belanti Siam butuh perhatian khusus untuk memaksimalkan segala macam sumber daya yang dimiliki dalam rangka membangun keejahteraan social. Tabel: 4. Mata Pencaharian Penduduk Mata Pencaharian Jumlah Keterangan Petani Jiwa Buruh Tani Jiwa PNS Jiwa Pengrajin Industri Jiwa Rumah Tangga Pedagang Keliling Jiwa Montir Jiwa Bidan Swasta Jiwa Perawat Swasta Jiwa TNI Jiwa 10 Polri Jiwa 11 Pensiunan Jiwa PNS/TNI/POLRI 12 Pengusaha Kecil Jiwa Menengah 13 Dukun Bayi Jiwa 14 Jasa Pengobatan Jiwa Alternatif 15 Pengusaha Besar Jiwa 16 Karyawan Swasta Jiwa 17 Ibu Rumah Tangga Jiwa Sumber: (Profil Desa Belanti Siam, n. Tabel 4. 3 mengambarkan bahwa masyarakat Desa Belanti Siam sebagian besar berprofesi sebagai petani dan buruh tani, diikuti penduduk yang berprofesi sebagai karyawan swasta. PNS dan pengusaha kecil menengah. Tabel: 4. Keadaan Ekonomi No Jenis Usaha Jumlah Keterangan Padi sawah 100 ha Padi ladang 5 ha p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 Palawija 5 ha Perkebunan 2 ha Perkebunan Perkebunan Sumber: (Profil Desa Belanti Siam, n. Table 4. 4 menggambarkan bahwa sebagian besar masyarakat Desa Belanti Siam memiliki jenis usaha padi sawah dan perkebunan karet, lalu diikuti oleh usaha Palawija dan Sebagian kecil yang memiliki jenis usaha padi ladang. Data yang tertera pada tabel 4. 3 dan 4. 4 semakin mempertegas bahwa masyarakat Desa Belanti Siam merupakan masyarakat agraris, dimana Sebagian besar mata pencaharian dan sector usaha bersumber dari pertanian: baik sebagai petani maupun sebagai buruh tani. disisilain sector usaha yang mereka kembangkan juga dari padi sawah dan perkebunan karet. Desa Belanti siam merupakan salah satu desa yang telah menjalankan amanah UU Desa dan sekaligus sebagai desa ketahanan pangan untuk Indonesia. Desa ini berada dalam kawasan yang berpenduduk mayoritas dengan kultur agrarisnya yang notabennya merupakan desa transmigrasi pada tahun 1983 kemudian menjadi desa defenitif sejak tahun 2003 tepatnya pada tanggal 22 Juli 2003. Pembahasan hasil penelitian Nilai Gotong Royong dalam Komunitas Desa Belanti Siam Pembangunan . ommunity merupakan pembangunan yang mengedepankan prinsip partisipatif pada keseluruhan masyarakat diwilayah akar rumput. Rencana, desain, konstruksi, hingga operasionalisasi pembangunan dilakukan secara bersama dan menempatkan posisi masyarakat sebagai subjek atas pembangunan. Kepentingan bersama merupakan tanggung jawab bersama yang menuntut inisiatif dan kerja secara Dimensi kebersamaan yang secara kultural menjadi tindakan kolektif masyarakat di Desa Belanti Siam memperlihatkan bahwa dilevel akar rumput soliditas dan solidaritas masyarakat sangat kuat. Kuatnya kerekatan hidup masyarakat menjadi modal social dalam menghadapi tantangan dan resiko social-ekonomi yang sewaktu-waktu dapat terjadi ditengah-tengah mereka. AuSebagai kelembagaan desa yang ada dimasyarakat, adanya kelompok tani ini sangat berguna dan berfungsi bertemunya para petani untuk bias curah pendapat dan memecahkan masalah dan kemudian dapat memutuskan satu kesepatan bersama untuk kepentingan bersamaAy . awancara Pak Sono, anggota BPD). Zulkifli Abdullah. Bahrianoor dan Irwani. Gotong Royong Sebagai Nilai Community Engagement Pada Masyarakat Tani Di Desa Belanti Siam. Kecamatan Pandih Batu. Kabupaten Pulang Pisau. Kalimantan Tengah. Aksi kolektif yang dikedepankan oleh masyarakat Desa Belanti Siam merupakan wujud dari nilai-nilai gotong royong yang terimplementasi dalam kultur kehidupan petani. Nilai gotong royong itu sendiri dapat dipahami sebagai suatu kehidupan bersama dimana kerja dan karya diciptakan bersama dan dinikmati secara bersama. Kerekatan masyarakat yang dilandasi dengan nilai-nilai gotong royong sangat bermanfaat dan menguntungkan masyarakat itu sendiri. Semakin rekat masyarakat maka semakin menyatu energi social yang Energi ini bisa digunakan untuk memajukan masyarakat itu sendiri. Fenomena kerekatan kolektif masyarakat di Desa Belanti Siam telah dimanfaatkan untuk meningkatkan komunikasi melalui forum-forum warga sabagai wadah curah pendapat dan memecahkan masalah social-ekonomi yang mereka hadapi sebagai petani. Artinya, masyarakat untuk membangun komunikasi efektif memecahkan masalah bersama dalam masyarakat. dan Herbisid. yang diberikan pada setiap musim tanam tiba mempercepat proses produksi petani. Selain itu ada juga peralatan pertanian digunakan untuk memudahkan pada musim tanam dan saat panen seperti traktor, excavator dan jonder. Teknologi atau peralatan yang di serahkan cukup memadai untuk kegiatan pertanian yang biasa dilakukan, bahkan dapat mempercepat proses penanaman dan panen, hal demikian meraka akui sebagai kecanggihan teknologi, namun mereka tidak biasa meninggalkan kebiasan yang dilakukan secara Namun dari segi kemampuan ada juga petani dibelanti siam secara personal membeli alat pertanian secara mandiri, hal ini dikarenakan aktivitas pertaniannya cukup bagus dan maju. AuUntuk yang kelompok biasa mendapat bantuan dari pemerintah, terus terang kami sangat terbantu dengan berbagai bantuan, termasuk penyediaan bibit unggul Inpara 42Ay . awancara Pak Mujianto, anggota kelompok Selain bertani, masyarakat Desa Belanti Siam juga mengembangkan usaha peternakan berupa bebek petelur yang diternak dan cocok Masyarakat Desa Belanti Siam membersihkan selokan air dan memperbaiki pematang sawah. dengan kondisi alam mereka, melihat potensi tersebut pemerintah memberikan bantuan berupa Bebek petelur. Segala bantuan yang diserahkan merupakan sebagai sarana penunjang keberhasilan pertanian di belanti siam. Kebersamaan melalui gotong royong seakan susah untuk ditinggalkan di Desa Benati Siam. Walau dengan hadirnya bantuan peralatan pertanian namun masih banyak menanam padi secara gotong royong melalui ajakan pemilik Mereka menyakini bahwa menanam dengan manual/tangan padi akan kuat walau ada resiko gugurnya padi sangat kecil AuPakai pengerjaannya dan tidak capek, namun kami juga harus mengeluarkan biaya untuk bensin dan operator alat, jadi habisnya juga sama. Alat hanya mebantu ketika pembersihan Au . awancara Pak Sumadi, anggota kelompok tan. Jika ingin mengimplementasikan program pembangunan di Desa Belanti Siam maka . usat memperhatikan aspek partisipasi warga sebagai modal utama program pembangunan. Gambaran unsur-unsur terejawantahkan langsung dalam fenomena masyarakat tani di Desa Belanti Siam. Kuatnya kolektifitas masyarakat membuat segala urusan social-ekonomi petani selalu dilakukan secara bersama-sama. Hadirnya program pembangunan di Desa Belanti Siam direspon secara bersama lalu Auya, banyak sekali bantuan yang digelontorkan ke desa kami, apalagi semenjak program food estate ini. Masyatakat juga senang karna terasa diperhatikan oleh pemerintah. Namun ada para petani kita yang masih melaksanakan kegiatan tanamnya secara tradisional, misalkan mereka masih menngunaan tanam manual dengan bergotong royong atau memanggil saorada/kerabat untuk membantuAy . awancara Pak Arifi. Berbagai program bantuan yang diberikan oleh pemerintah justru membantu masyarakat petani kerena selama ini produk pertanian mereka dikelola secara konvensional. Dengan adanya bantuan Sarana Produksi (Benih. Pupuk. Pestisida Selain bertani, masyarakat Desa Belanti Siam juga mengembangkan usaha peternakan Bebek Anterior Jurnal. Volume 21 Issue 2. April 2022. Page 58 Ae 66 Kekuatan gotong royong membuat masyarakat mampu mempertibangkan aspek efisiensi kerja. Bantuan pemerintah tidak selalu menguntungkan masyarakat dari segi biaya Bantuan pemerintah yang merugikan mereka dari segi biaya produksi akan dikesampingkan jika memiliki alternatif proses produksi lain. Merujuk pada unsur-unsur pembangunan (Sudarmanto, 2. yang tertuang secara konseptual, menitikberatkan pada dimensi kebersamaan hingga perbaikan yang dianggap belum baik dalam masyarakat. p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 tanam padi sebagai produk pertanian utamanya. Diketahui ada sekitar 22 kelompok tani dan 2 gapoktan dengan jumlah sekitar 932 orang yang tergabung didalamnya menjadi bukti bahwa profesi bertani merupakan profesi utama masyarakat Desa Belanti Siam. Banyaknya kelompok tani ini berimbang dengan luas baku sawah Desa Belanti Siam yaitu sekitar 2. 200 hektare. Terbentuknya kelompok tani ini lahir dari keinginan masyarakat karena persamaan profesi sebagai petani sehingga menurut mereka ini dapat memudahkan dalam Aupetani kita juga masih banyak menanam dengan cara tradisional walau terdapatnya mesin bantuan dari pemerintah, tapi menurut mereka hasil akan maksimal jika menanam menggunakan manual dengan tangan. Mending memberi uang kepada kerabat yang ikut gotong royong menanam padi dan pastinya akan mendapatkan hasil padi yang kuatAy . awancara Pak Sono, ketua BPD) Ket. Unsur Pembangunan Gambar: Alur pikir prinsip pembangunan berbasis gotong royong Alur pikir yang termaktub dalam unsurunsur pembangunan diatas menggambarkan praktek kegotong royongan dalam masyarakat tani di Desa Belanti Siam. Semangat kolektivisme dan solidaritas masyarakat tani ini menjadi kekuatan pembangunan partisipatif. Kerekatan social masyarakat menjadi kekuatan utama untuk saling mengontrol satu sama lain dalam rangka mewujudkan tujuan kerja yang mereka lakukan secara bersam-sama. Corak masyarakat Desa Belanti Siam yang sangat rekat dan solid ini seirama dengan nilai-nilai gotong royong yang menjadi nilai dasar masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Oleh karena itu setiap program pembangunan yang akan dijalankan di Desa Belanti Siam mesti harus berpusat pada kebrsamaan . Kendali pembangunan di Desa Belanti Siam mesti memusatkan warga sebagai subjek atas agenda Hal ini karena mereka memiliki potensi social yang kuat dan juga memiliki kemampuan dalam memahami potensi lingkungan pertaniannya dengan baik. Nilai Gotong Royong sebagai Modal Sosial dalam Komunitas Masyarakat Desa Belanti Siam : Kebersamaan : Kesadaran Bersama : Terencana : Berkelanjutan : Perubahan : Tujuan : Maju Secara umum gotong royong dipahami sebagai perilaku hidup bersama dimana didalamnya terdapat solidaritas dan soliditas yang kuat dalam Kebersamaan yang dibangun secara terus menerus dalam arena yang sama melahirkan perilaku dan pengetahuan kolektif dalam Kebersamaan yang dibangun secara bersama dalam waktu yang lama membentuk energi social . nergetic engagemen. sehingga kerekatan hubungan social masyarakat sangat kuat. Berdasarkan pendapat narasumber diatas, nilai-nilai gotong royong sebagai kekuatan modal social di masyarakat Desa Belanti Siam terbangun dalam praktek kehidupan petani sehari-hari. Kondisi sawah yang telah dipanen dan bersiap untuk Kembali ditanami. Disamping sawah ada kolam Ikan Lele yang dimanfaatkan warga sebagai pemasukan Berdasarkan data mata pencaharian penduduk, masyarakat Desa Belanti Siam mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Dari data tersebut tidak heran jika kultur masyarakat Desa Belanti Siam merupakan kultur agraris. Masyarakat dengan kultur agraris ini banyak lahir kelompok tani aktif sebagai pendukung dalam menjalankan kegiatan ketahanan pangan dan juga sebagai mata pencaharian utama. Para petani di Desa Belanti Siam mayoritas memfokuskan diri untuk bercocok Zulkifli Abdullah. Bahrianoor dan Irwani. Gotong Royong Sebagai Nilai Community Engagement Pada Masyarakat Tani Di Desa Belanti Siam. Kecamatan Pandih Batu. Kabupaten Pulang Pisau. Kalimantan Tengah. dilakukan untuk mewujudkan pembangunan masyarakat tani di Desa Belanti Siam, antaralain sbb: Segala rencana kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat tani di Desa Belanti Siam wajib memperhatikan potensi sosial dan lingkungan Potensi sosial dan lingkungan masyarakat tani di Desa Belanti Siam terejawantahkan dalam bentuk nilai kegotong royongan yang teraktual dalam wujud solidaritas, soliditas dan kolektivisme yang dibingkai dengan kultur agraris. Kebijakan pembangunan di Desa Belanti Siam mesti diwujudkan secara partisipatif dalam bentuk penguatan komunitas petani agar lebih kuat dan tangguh menghadapi tantangan kemajuan pertanian. Pemerintah dan masyarakat di Desa Belanti Siam permasalahan distribusi dan fluktuasi harga hasil pertanian yang dinamis dan cenderung labil di pasar. Kebijakan pembangunan di Desa Belantis Siam mesti didasarkan atas hasil riset yang matang professional, dan akademisi. Ketiga element yang terlibat wajib memposisikan masyarakat tani sebagai subjek pengendali atas informasi yang menitikberatkan pada upaya pengembangan kapasitas sosial dan kesejahteraan petani secara Merujuk pendapat Collier . nilai-nilai gotong royong ini dapat menjadi kekuatan modal social yang dicirikan oleh tiga tipe eksternalitas. eksternalitas pertama, bahwa inisiatif interaksi selalu bersifat eksternalitas, maksudnya bahwa interaksi social masyarakat petani di Desa Belanti Siam tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan eksternal para petani, yaitu: sebagai masyarakat yang dibangun dalam kultur agraris. Eksternalitas kedua, proses interaksi social selalu memiliki dampak ekonomi sesuai corak mata pencaharian masingmasing masyarakat. Dalam konteks interaksi social masyarakat petani di Desa Belanti Siam selalu focus pada upaya peningkatan produktifitas petani agar kesejahteraan ekonomi petani dapat terwujud. Melalui eksternalitas kedua ini para petani selalu melibatkan kerabat atau orang yang ada di Desa Belanti Siam untuk turut ambil bagian dalam proses pengolahan lahan pertanian melalui kesepakatan informal dalam memberikan standar pengupahan. Eksternalitas ketiga, walaupun upaya interaksi selalu memberi dampak ekonomi pada masyarakat Desa Belanti Siam, tetapi perioritas utama interaksi tersebut tidak didasarkan atas dampak ekonomi. Interaksi yang terbangun antar masyarakat petani di Desa Belanti Siam tersebut lebih dominan memperioritaskan kerja dan kesuksesan bersama serta soliditas sebagai sesama masyarakat tani. Masuknya program food estate tahun 2020 lalu yang dicanankan oleh President RI Joko Widodo, salah satu wilayah yang menjadi sasaran program tersebut adalah Desa Belanti Siam. Melalui kekuatan modal social yang terbagun diatas nilainilai gotong royong para petani dan kelompok tani telah banyak memulai upaya peningkatan kapasitas secara kelembagaan baik dalam pengetahuan tentang peningkatan produktivitas hasil pertanian maupun untuk meraih akses pasar. Sehingga secara kelembagaan mereka kuat dengan modal social dan berbagai bentuk program peningkatan kapasitas pertanian untuk mendukung aktivitas pertanian di Desa Belanti Siam. REFERENSI Arpai. Institutional Innovation Strategies in Raising the Income of A Rice Farming Community : A Study of Duriaasi Village . Wonggeduku District . Konawe Regency . Southeast Sulawesi 1. MASYARAKAT Jurnal Sosiologi, 24. , 239Ae257. https://doi. org/10. Chasan. Peran Kelompok Tani dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Desa Belanti Siam. Pulang Pisau. Creswell. Research Design Pendekatan Kualitatif. Kuantitatif, dan Mixed. Pustaka