AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3. No. 7 Agustus . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 602-606 Sosialisasi Nilai-Nilai Bela Negara Di Yayasan Al Kamilah Asep Kamaluddin Nashir1. Rizky Hikmawan1. Sekarwati2* 1FISIP. Hubungan Internasional. UPN Veteran Jakarta. Jakarta. Indonesia 2FISIP. Ilmu Politik. UPN Veteran Jakarta. Jakarta. Indonesia Email: 1*asepkamaluddin@upnvj. id, 2rizkyhikmawan@upnvj. id, 3sekarwati@upnvj. (* : coressponding autho. Abstrak Oe Orangtua adalah pihak yang tidak bisa dikesampingkan dalam pendidikan. Mereka adalah sekolah pertama bagi anak. Untuk itu, sudah menjadi tanggungjawab orangtua agar mereka mampu mendidik anaknya agar tumbuh menjadi seorang yang berhasil di masa depan. Salah satu bentuk keberhasilan anak adalah ketika mampu menjadi pribadi tangguh yang dapat berperan positif bagi pembangunan bangsa dan negara. Untuk itu, orangtua juga perlu menanamkan nilai-nilai bela negara kepada anak sejak kecil. Namun banyak orangtua yang memiliki keterbatasan dalam memahami nilai-nilai Bela Negara. Oleh karenanya diperlukan suatu sosialisasi nilai-nilai Bela Negara kepada para orangtua agar memudahkan mereka dalam mengimplementasikannya kepada anak-anak mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) kali ini sosialisasi akan diberikan kepada para orangtua santri di Yayasan Al Kamilah. Kata Kunci: Sosialisasi. Nilai-Nilai. Bela Negara. Orangtua. Yayasan Al Kamilah Abstract Oe Parents are parties who cannot be excluded in education. They are the first school for children. For this reason, it is the responsibility of parents to be able to educate their children so that they grow into successful people in the future. One form of children's success is when they are able to become strong individuals who can play a positive role in the development of the nation and state. For this reason, parents also need to instill the values of patriotism in their children from a young age. However, many parents have limitations in understanding the values of patriotism. Therefore, it is necessary to disseminate the values of patriotism to parents to make it easier for them to implement them with their children in their daily lives. this Community Service, the values of patriotism will be socialized to the parents of students at the Al Kamilah Foundation. Keywords: Socialization. Values. Patriotism. Parents. Al Kamilah Foundation PENDAHULUAN Di tengah arus globalisasi yang terus bergulir, kesadaran untuk membela negara sangat diperlukan dalam rangka mempertahankan eksistensi bangsa Indonesia. Hal ini turut dikarenakan semakin banyaknya ancaman yang muncul dan dalam beberapa kasus sulit untuk diatasi dengan Kemajuan teknologi, misalnya, merupakan suatu hal yang tidak bisa ditolak mengingat manfaatnya yang luar biasa. Namun di lain pihak kemajuan teknologi ini turut membawa ancaman, seperti kejahatan siber dalam bentuk pencurian hingga peretasan data pribadi. Tidak hanya itu, ancaman lain yang bisa muncul adalah masalah psikis yang mengganggu masyarakat, khususnya generasi muda. Dengan adanya media sosial dapat membuat generasi muda menjadi individualis, tidak peka terhadap masalah sosial dan asyik dengan dunianya sendiri mengingat kebutuhan manusia telah dimudahkan hanya dalam genggaman tangan (Deguchi et al. , 2. Belum lagi dengan infiltrasi budaya asing yang semakin masif. Jika dulu tantangan budaya asing hanyalah westernisasi, maka saat ini telah meliputi beberapa negara, seperti: Korea. India. Turki, dan lainnya. Sementara generasi muda mampu mengakses budaya-budaya tadi melalui media sosial yang kontennya sulit untuk dibatasi oleh pemerintah. Guna mengatasi hal tersebut, perlu pembinaan terhadap generasi muda agar mereka tetap mencintai bangsa dan negaranya. Menurut Rajasa . salah satu caranya adalah dengan mengembangkan karakter nasionalisme melalui tiga proses, yaitu: pembangunan karakter, pemberdaya karakter dan perekayasa karakter (Azima et al. 2021: 7493Ae7. Secara spesifik perekayasaan karakter nasionalisme dapat dimulai dengan memilih sebuah nilai yang dapat disepakati untuk kemudian dijadikan acuan bersama. Dalam hal ini penanaman nilai-nilai Bela Negara dapat dijadikan sebagai landasan awal mengingat keberadaannya yang dijamin pemerintah karena terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 27 . AuSetiap warga Asep Kamaluddin Nashir | https://journal. id/index. php/amma | Page 602 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3. No. 7 Agustus . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 602-606 negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Ay Dari sinilah kemudian dikembangkan lima nilai Bela Negara, yaitu: cinta tanah air. sadar berbangsa dan bernegara. Pancasila sebagai ideologi negara. rela berkorban untuk bangsa dan negara Indonesia. dan memiliki kemampuan awal Bela Negara (Suriata, 2019: 50Ae. Penanaman nilai-nilai Bela Negara diharapkan dapat dilakukan sedari awal agar lebih mudah menginternalisasikannya kepada anak. Namun bukan berarti ketika proses internalisasi sudah dilakukan lalu seseorang akan mampu memegang teguh nilai tersebut seumur hidupnya. Bagaimanapun akan ada tantangan baru dari lingkungan dimana seseorang berada. Tantangan tersebut dapat menguatkan atau melemahkan nilai yang telah dimiliki sebelumnya. Hal inilah yang menyebabkan proses penanaman nilai-nilai Bela Negara harus dilakukan secara berkelanjutan hingga tingkat Pendidikan Tinggi. Tujuannya agar pemahaman seorang individu akan Bela Negara menjadi lebih kuat dan komprehensif. Untuk menanamkan nilai-nilai tersebut kepada anak, maka peran orangtua menjadi sangat Merekalah yang dapat memberikan nilai-nilai tersebut kepada anak saat kecil, bahkan sebelum masuk dunia sekolah. Tetapi sayangnya, tidak semua orangtua telah mengetahui dengan baik nilai-nilai Bela Negara. Bahkan boleh jadi tidak semua orangtua telah mengetahui adanya Hari Bela Negara dan sejarah penetapannya. Begitupula ketika membahas konteks Bela Negara yang dipengaruhi oleh adanya ancaman-ancaman di sekitar yang dapat mengganggu eksistensi bangsa dan negara. Di antara para orangtua yang masih mengalami kendala informasi mengenai Bela Negara adalah wali santri di Yayasan Al Kamilah yang terletak di Serua. Bojongsari. Kota Depok. Yayasan yang berdiri sejak tahun 2012 ini merupakan lembaga kesejahteraan sosial (LKS) dengan tujuan memberikan bantuan pendidikan kepada anak yatim dan anak asuh yang berasal dari keluarga kurang mampu. Untuk itu. Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dimaksudkan untuk melaksanakan sosialisasi nilai-nilai Bela Negara untuk para orangtua yang anaknya berada di bawah naungan Yayasan Al Kamilah. METODE PELAKSANAAN 1 Metode Dalam kegiatan PkM ini, metode yang digunakan adalah sosialisasi nilai-nilai Bela Negara kepada orangtua di Yayasan Al Kamilah. Penanaman nilai-nilai Bela Negara ini nantinya diharapkan dapat dilaksanakan orangtua ketika mendidik anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Nilai sendiri menurut Henri Hazlitt merupakan sesuatu yang menarik, dicari, menyenangkan, diinginkan dan disukai dalam pengertian yang baik atau berkonotasi positif (Mansur, 2017: . Oleh karenanya konteks nilai-nilai Bela Negara disini adalah sesuatu hal yang diinginkan untuk ditanamkan kepada generasi muda sejak dini. Melalui internalisasi nilai inilah diharapkan generasi muda akan memiliki kecintaan terhadap bangsa dan negara. Agar nilai-nilai tersebut dapat dipahami dengan baik oleh generasi muda, maka dibutuhkanlah sosialisasi. Sosialisasi adalah suatu proses memperkenalkan sebuah sistem nilai kepada seseorang yang dipengaruhi oleh lingkungan, baik dalam konteks sosial, ekonomi dan budaya dimana dia berada. Dari perkenalan dan interaksi itulah akan terbentuk aksi-reaksi sekaligus penerimaan dan penolakan yang nantinya turut membentuk pengalaman serta kepribadian seseorang (Sutaryo, 2004: . Disinilah kemudian pentingnya peran orangtua sebagai agen yang akan mensosialisasikan nilai-nilai tersebut kepada para murid, baik secara eksplisit maupun implisit. Adapun bela negara yang dimaksud adalah merujuk pada konsep yang dikemukakan oleh Kementerian Pertahanan, yakni AuSikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negaraAy (Abidin et al. , 2014: . Bentuk pembelaan terhadap negara dapat dilihat dari dua aspek: militer dan non-militer. Orientasi dari pelaksanaan Bela Negara adalah guna menghadapi segala bentuk ancaman, tantangan. Asep Kamaluddin Nashir | https://journal. id/index. php/amma | Page 603 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3. No. 7 Agustus . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 602-606 gangguan dan hambatan sekaligus menguatkan ketahanan nasional (Dewan Ketahanan Nasional. Tahapan Pelaksanaan Ada empat tahapan yang dilakukan dalam melaksanakan PkM ini. Pertama, tahap persiapan dengan mengunjungi mitra pengabdian yang berlokasi di Serua. Bojongsari. Kota Depok. Jawa Barat. Di sana fasilitator berdiskusi mengenai permasalahan yang dihadapi oleh para pengasuh. Selain itu, pertemuan ini juga membahas waktu pelaksanaan, jumlah peserta, sarana dan prasarana serta mekanisme yang akan dilakukan dalam kegiatan PkM. Kedua, tahap pematangan kegiatan yang dilakukan oleh fasilitator dengan mempersiapkan bahan presentasi dan teknis kegiatan yang akan Ketiga, tahap penyuluhan dimana fasilitator mempresentasikan materi nilai-nilai Bela Negara dan sesi tanya jawab yang dilakukan para peserta. Pada tahap penyuluhan ada dua sesi pemapaan materi yang dilakukan, yaitu: . , pemaparan mengenai Agresi Militer II Belanda dan sejarah pembentukan PDRI yang menjadi simbol penentuan Hari Bela Negara. Selain itu, pada sesi ini juga dipaparkan mengenai urgensi nilai-nilai Bela Negara di era Masyarakat 5. pemaparan mengenai lima nilai Bela Negara disertai dengan contoh dan tantangan di masa depan. Keempat, tahap evaluasi pelaksanaan PkM dan penyusunan laporan berupa artikel yang akan disubmit ke HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Pelaksanaan PkM Kegiatan PkM dilaksanakan pada kamis, 13 Juni 2024 di Yayasan Al Kamilah dengan jumlah peserta sebanyak 24 orangtua. Kegiatan ini di awali oleh sambutan dari pimpinan Yayasan, yakni KH. Ahmad Badrudin, yang turut menyampaikan pentingnya memiliki semangat Bela Negara dalam rangka menjaga bangsa dan negara Indonesia agar tetap kuat dan damai. Selanjutnya pada sesi pertama pertama. Dr. Asep Kamaluddin Nashir. Si menyampaikan pemaparan mengenai Agresi Militer II Belanda dan sejarah pembentukan PDRI yang menjadi simbol penentuan Hari Bela Negara. Selain itu, pada sesi ini juga dipaparkan mengenai urgensi nilai-nilai Bela Negara di era Masyarakat 5. Dalam sesi kedua. Rizky Hikmawan. IP. Si memaparkan lima nilai Bela Negara disertai dengan contoh dan tantangan di masa depan. Sementara dalam sesi ketiga yaitu tanya jawab dan diskusi, fasilitator mendapatkan beberapa pertanyaan dari peserta yang kemudian diolah kembali menjadi bahan diskusi. Secara umum, kegiatan sosialisasi berjalan dengan baik dan konstruktif karena banyak hal positif yang didapatkan. Setidaknya melalui sosialisasi ini para orangtua dapat mengetahui dan memahami sejarah, urgensi dan nilai-nilai Bela Negara. Gambar 1. Presentasi Materi Pembahasan Ada peringatan Hari Bela Negara telah dimulai sejak tahun 2006, ternyata tidak semua orang telah mengetahuinya. Hal ini disebabkan dari interaksi yang dilakukan fasilitator tampak Asep Kamaluddin Nashir | https://journal. id/index. php/amma | Page 604 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3. No. 7 Agustus . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 602-606 bahwasanya hampir sebagian besar peserta tidak mengetahui adanya Hari Bela Negara yang diperingati setiap tanggal 19 Desember. Peserta juga tidak mengetahui sejarah bangsa yang terjadi pada tanggal tersebut, yakni adanya Agresi Militer II yang dilakukan oleh Belanda. Pada hari itu pasukan Belanda menyerang Yogyakarta secara besar-besaran dan berhasil menangkap Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Soekarno-Hatta. Sebelum ditangkap. Presiden Soekarno memutuskan untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi (Kesbangpol Banten, 2. Terkait urgensi penanaman nilai-nilai Bela Negara, peserta juga tidak banyak mengetahui beberapa ancaman potensial di masa depan, seperti: pasang surut hubungan Amerika Serikat (AS) dan China yang berpotensi konflik dan berdampak bagi stabilitas kawasan dan Indonesia. ekonomi akibat konflik Rusia dan Ukraina yang berkepanjangan. krisis lingkungan berupa perubahan iklim yang drastis dan pemanasan global yang meningkatkan suhu di bumi. dan lain Setelah itu, fasilitator menjelaskan kaitannya dengan diperlukannya penanaman nilainilai Bela Negara guna menghadapi sekaligus mengatasi ancaman-ancaman tersebut. Selanjutnya terkait nilai-nilai Bela Negara, para peserta juga memiliki inforrmasi yang sedikit mengenal hal ini. Atas dasar inilah fasilitator menerangkan lima nilai Bela Negara. Pertama. Cinta Tanah Air, yakni rasa bangga, memiliki, menghormati dan loyalitas dari individu pada negara dimana dia tinggal. Beberapa contoh nilai Cinta Tanah Air, di antaranya: bangga menjadi orang Indonesia, senantiasa memakai produk dalam negeri, mentaati peraturan perundang-undangan, taat membayar pajak hingga menjaga kelestarian lingkungan (Abidin et al. , 2014: . Adapun tantangan yang harus diatasi para generasi muda adalah dengan lunturnya Cinta Tanah Air akibat berbagai macam budaya asing yang masuk ke Indonesia dan dianggap lebih menarik. Kedua. Sadar Berbangsa dan Bernegara yang memiliki arti bahwa setiap individu yang berasal dari Indonesia harus memiliki perilaku yang senantiasa bertindak untuk nama baik maupu kejayaan bangsa dan negara. Dengan demikian, individu tidak boleh bersikap egois, baik dalam mengedepankan kepentingan pribadi maupun sosial. Contoh nilai ini adalah dengan ikut aktif dalam organisasi kemasyarakatan maupun profesi, menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara, berpikir, bersikap dan berbuat terbaik bagi bangsa dan negara. dan berpartisipasi dalam menjaga kedaulatan bangsa dan negara (Suwarno Widodo, 2011: 19Ae. Setidaknya ada 4 tantangan yang dapat mengikis kesadaran berbangsa dan bernegara pada diri anak muda, yaitu: globalisasi, semangat kedaerahan yang menguat, budaya konsumerisme dan hedonistik yang semakin lumrah di tengah masyarakat, dan kemunculan ideologi totaliterianisme yang menginginkan ketaatan mutlak warga negara (Abidin et al. , 2014: 20Ae. Ketiga. Yakin akan Pancasila sebagai Ideologi Negara yang mampu mengatasi berbagai macam permasalahan, baik di tingkat domestik maupun ancaman dari luar. Perjalanan panjang Pancasila sebagai ideologi negara, dengan segala bentuk ancaman dan tantangan yang ada, membuktikan bahwa ideologi tersebut layak untuk dipertahankan. Contoh aktualisasi nilai ini di antaranya: memahami nilai-nilai dalam Pancasila, mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan negara, senantiasa mengembangkan nilai-nilai Pancasila dan yakin Pancasila sebagai dasar negara (Suwarno Widodo, 2011: . Tantangan yang kemudian harus diperhatikan adalah dengan kehadiran ragam ideologi yang mudah menyebar di Indonesia melalui media sosial dan kemudahan masyarakat dalam mengaskses informasi. Keempat. Rela Berkorban untuk Bangsa dan Negara Indonesia melalui sikap berani, pantang menyerah dan rela berkorban. Pengorbanan yang dilakukan dapat berupa harta maupun jiwa demi keberlangsungan hidup bangsa dan negara. Tanpa adanya pengorbanan, maka negara akan menjadi lemah karena setiap individu akan menggantungkan permasalahan kepada orang lain. Apalagi jika orang tersebut juga tidak memiliki semangat rela berkorban. Tantangan yang dapat muncul adalah dengan memudarnya semangat kebersamaan dan meningkatnya individualisme. Sementara di era kemajuan teknologi seperti saat ini, justru individualisme semakin meningkat karena manusia dapat mengatasi beberapa masalah hidupnya tanpa harus bersosialisasi dengan orang lain. Asep Kamaluddin Nashir | https://journal. id/index. php/amma | Page 605 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3. No. 7 Agustus . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 602-606 Kelima. Memiliki Kemampuan Awal Bela Negara, baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik, setiap warga negara diminta untuk senantiasa menjaga kesehatan dengan menjalani pola hidup sehat melalui makanan yang bernutrisi dan olahraga yang teratur. Tantangannya adalah semakin banyak makanan yang bersifat instan dan tidak sehat dengan kandungan penyedap rasa maupun penggunaan minyak goreng secara berlebihan. Begitupula dengan aktivitas kerja yang begitu padat sehingga membuat seseorang tidak sempat berolahraga. Sementara secara psikis, setiap warga negara diharapkan mampu memelihara kecerdasan spiritual, emosional dan intelegensia agar mampu menjali hidup dengan baik dan produktif. Namun banyaknya tantangan yang dihadapi dapat membuat seseorang menjadi stress sehingga mengganggu kesehatan psikisnya. Dari diskusi yang dilakukan setelah pemaparan dapat diketahui bahwa sebagian besar peserta memang belum mengetahui secara utuh sejarah mapun nilai-nilai Bela Negara yang ditetapkan Hal ini dapat dilihat dari dua kemungkinan. Pertama, karakteristik pribadi peserta yang memang tidak mengikuti perkembangan informasi yang ada. Selain itu, materi-materi sejarah yang pernah dipelajari sewaktu sekolah tidak lagi diingat karena memang dunia kerjanya tidak berinteraksi dengan hal semacam itu. Kedua, kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah. Boleh jadi sosialisasi yang dilakukan selama ini tidak menyentuh akar rumput. Padahal pemerintah dapat mensosialisasikan hal ini melalui jalur birokrasi dimana pelaksanaan Hari Bela Negara harus dilakukan setiap sekolah dengan melakukan berbagai macam aktivitas yang terkait dengan hal tersebut. Tetapi, yang sebenarnya harus dilebih harus ditekankan adalah pemahaman setiap warga dalam melaksanakan aktivitas Bela Negara, bukan perkara simbolis semata. Jangan sampai kita terjebak pada aktivitas simbolis sehingga hanya melaksanakan tindakan Bela Negara di momen tertentu saja. Hal ini mengingat aktivitas Bela Negara harus dilaksanakan setiap saat, kapanpun dan dimanapun. KESIMPULAN Dari pelaksanaan kegiatan PkM ini kami menemukan hal menarik dimana tidak semua orangtua telah mengetahui Hari Bela Negara, sejarah, urgensi dan nilai-nilai Bela Negara. Padahal peran mereka sebagai agen pendidikan sangatlah strategis dalam memberikan pemahaman kepada setiap anak arti penting Bela Negara. Untuk itu, kegiatan ini bermanfaat dalam memberikan pemahaman awal kepada para orangtua tentang Bela Negara. Ke depannya diharapkan para orangtua dapat menyusun aktivitas kegiatan positif kepada setiap anak yang berkaitan dengan nilai-nilai Bela Negara. Pada akhirnya tujuan penanaman nilai-nilai tersebut adalah untuk menggelorakan semangat juang generasi muda dalam rangka mempertahankan eksistensi sekaligus mewujudkan kejayaan bangsa dan negara. REFERENCES