Hubungan Perilaku AuCERDIKAy dengan Kadar Gula Darah pada Usia Produktif Risiko Tinggi Diabetes Melitus Tipe 2 The Relationship Between "CERDIK" Behaviors and Blood Glucose Levels in HighRisk Productive-Aged Individuals with Type 2 Diabetes Mellitus Desi Nurzana1. Lolita Sary2. Christin Angelina Febriani2. Samino2. Wayan Aryawati2 Prodi Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati. Lampung. Indonesia Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati. Lampung. Indonesia Korespondensi Penulis: lolita. yanuar@gmail. ABSTRACT The high-risk community suffering from DM and not undergoing early detection examinations, it turns out that 175 . 9%) of them suffer from DM. This study aimed to determine the relationship between the "CERDIK" behavior and blood glucose levels among productive-aged individuals at high risk of type 2 diabetes in the working area of Katibung Inpatient Health Center. South Lampung Regency in 2024. This was a quantitative crosectional study. The population was all productive-aged individuals at high risk . -59 year. who were recorded as targets for posbindu in the working area of Katibung Inpatient Health Center, totaling 231 people, with a sample size of 144 people. Purposive sampling was used. Data was collected using a questionnaire and analyzed using the chi-square test. The results showed that there was a relationship between regular health checks . value=0. OR=3. , avoiding cigarette smoke . -value=0. OR=3. , regular physical activity/exercise . -value=0. OR=2. , a healthy and balanced diet . -value=0. OR=6. , adequate rest . -value=0. OR=3. , and stress management . -value=0. OR=5. with blood glucose levels. The variable that was most dominantly associated with blood glucose levels was the ability to manage stress, with a p-value of 0. 00 and OR of It is recommended that the health center conduct screening using the Self-Reporting Questionnaire (SRQ-. for productive-aged individuals at high risk of diabetes, and implement innovations such as providing counseling services for productive-aged individuals at high risk of degenerative diseases such as diabetes. Keywords: CERDIK. Diabetes Mellitus. High Risk. Productive Age. ABSTRAK Masyarakat risiko tinggi menderita DM dan tidak melakukan pemeriksaan deteksi dini ternyata 175 . ,9%) orang diantaranya menderita DM. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya hubungan perilaku AuCERDIKAy dengan kadar gula darah usia produktif risiko tinggi DM Tipe 2 di wilayah kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Katibung Kabupaten Lampung Selatan tahun 2024. Jenis penelitian kuantatif dengan rancangan potong lintang, populasi semua usia produktif risiko tinggi . -59 tahu. yang terdata sebagai sasaran posbindu wilayah kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Katibung sebanyak 231 orang dengan jumlah sampel sebanyak 144 orang. Sampel diambil dengan metode purposive sampling. Alat ukur kuesioner dan data dianalisis menggunakan chi square. Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat hubungan perilaku cek kesehatan secara berkala . value=0,00 OR=3,. , enyahkan asap rokok . -value=0,00 OR=3,. , rajin beraktivitas fisik/olahraga . -value=0,01 OR=2,. , diet sehat dan seimbang . -value=0,00 OR=6,. , istirahat cukup . -value=0,00 OR=3,. , kelola stress . -value=0,00 OR=5,. dengan kadar gula darah. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kadar gula darah adalah mampu mengelola stress p-value 0,00 dengan OR=3,6. Hendaknya kepada Puskesmas melakukan skrining Self-Reporting Questionnaire (SRQ-. pada usia produktif risiko tinggi DM, serta melakukan inovasi seperti penyediaan layanan konseling jiwa bagi usia produktif risiko tinggi penyakit degeneratif DM. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 238-249 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Perilaku AuCERDIKAy dengan Kadar GulaA. (Desi Nurzana. Lolita Sary, dk. Kata Kunci : CERDIK. Diabetes Melitus. Risiko Tinggi. Usia Produktif. PENDAHULUAN Diabetes Melitus (DM) merupakan mikrovaskular, serta gangguan pada penyakit metabolik kronis yang ditandai sistem saraf atau neuropati. Komplikasi dengan peningkatan kadar glukosa darah . tau gula dara. (WHO, 2023. organ jantung, otak dan pembuluh darah. Prevalensi diabetes global menurut International Diabetes Federation (IDF) dapat terjadi pada mata dan ginjal. edisi 10 tahun 2021 pada kelompok usia Keluhan neuropati juga umum dialami, 20Ae79 tahun pada tahun 2021 sebesar baik neuropati motorik, sensorik ataupun 10,5% . ,6 juta oran. Prevalensi DM neuropati otonom. Penderita DM rentan pada pria dan wanita dan tertinggi pada terkena infeksi seperti tuberculosis, kelompok usia 60 tahunAe79 tahun dan infeksi saluran kemih. ISPA. Infeksi saluran pencernaan, infeksi menyadari bahwa mereka menderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (Sun (HIV)(Kemenkes RI, 2. (International Diabetes Federation. Data terkait pelaksanaan perilaku Prevalensi DM diperkirakan akan kesehatan CERDIK di Indonesia untuk E, meningkat menjadi 12,2% . ,2 jut. Enyahkan pada tahun 2045, artinya 1 dari 8 orang Riskesdas, 2018 mendapatkan proporsi dewasa menderita DM dan diperkirakan merokok pada penduduk usia >10 tahun dengan kategori perokok setiap hari (International Diabetes Federation, sebesar 24,3% dan perokok kadang2. WHO memperkirakan terdapat 1,5 kadang 4,6%, rata-rata jumlah batang juta kematian disebabkan oleh DM setiap rokok per hari adalah 12,8 batang, tahunnya dan terjadi peningkatan angka proporsi merokok dalam ruangan sebesar kematian akibat DM sebesar 3% (WHO. Data terkait pelaksanaan CERDIK di Indonesia untuk R, rajin aktivitas fisik Prevalensi kategori cukup sebesar 66,5% dan diagnosis di Indonesia pada semua usia sebesar 33,5%. Data terkait sebesar 1,5%, tertinggi berada di pelaksanaan CERDIK di Indonesia untuk kelompok usia 55-64 tahun sebanyak D, diet sehat kalori seimbang adalah 6,29%, usia 65-74 tahun sebesar kebiasaan konsumsi makanan manis 6,03%,45-54 tahun sebesar 3,88%, usia sebanyak >1 kali per hari 40,1%, >75 tahun sebanyak 3,32%, usia 35-44 sebanyak 1-6 kali per minggu 47,8%. tahun sebanyak 1,08%, usia 25-34 tahun Kebiasaan konsumsi minuman manis 0,22%. Jenis sebanyak >1 kali per hari 60,27%, perempuan sebesar 1,78% dan laki-laki sebanyak 1-6 kali per minggu 30,22%. sebesar 1,21% (Kemenkes RI, 2019. Kebiasaan Penelitian terkait DM diantaranya berlemak/gorengan sebanyak >1 kali per dilakukan oleh (Rifat et al. , 2. di hari 41,7%, sebanyak 1-6 kali per minggu Puskesmas Pekanbaru Kebiasaan konsumsi makanan 39,2% manibuah/sayur sebanyak 1-2 porsi Penelitian (Laksono et al. dalam seminggu 66,54%, dan tidak 2. di wilayah Puskesmas Kota mengkonsumsi sebanyak 10,7%. Data Bengkulu terkait pelaksanaan CERDIK di Indonesia komplikasi DM sebesar 48%. Penelitian untuk I = Istirahat cukup, berdasarkan (Marleni, 2. di RS Bhayangkara data survei Kurious-Katadata Insight Palembang 58,9% Center (KIC) pertama kali 46,2% terdiagnosis dan berobat jalan telah Indonesia tidur antara 4-6 jam dalam mengalami komplikasi. DM merupakan semalam, dimana usia responden antara penyakit menahun yang akan diderita 35-44 tahun . ,3%), kelompok 25-34 seumur hidup (Kemenkes RI, 2. %) dan kelompok 45-54 tahun . ,5%) dimana ideanya waktu tidur usia menyebabkan gangguan pada pembuluh 18-40 tahun adalah 7-8 jam perhari (Annur, 2. Data terkait pelaksanaan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 238-249 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Perilaku AuCERDIKAy dengan Kadar GulaA. (Desi Nurzana. Lolita Sary, dk. CERDIK di Indonesia K = kelola stress prevalensi depresi pada penduduk usia >15 tahun sebesar 6,1%, prevalensi gangguan mental emosional sebesar 9,8% (Kemenkes RI, 2019. Penelitian terkait tema perilaku CERDIK dengan kejadian DM diantaranya dilakukan (Suryanti et al. , 2. di Makasar hubungan kebiasaan merokok . =0. aktivitas fisik . =0,. , pola makan . =0. DM. Penelitian literature riview (Murtiningsih et al. , 2. mendapatkan gaya hidup seperti pola makan yang tidak sehat dan pola aktivitas fisik kurang berpengaruh terhadap terjadinya DM . value=0,. Penelitian (Putri Diana Damayanti, 2. di Semarang mendapatkan ada hubungan tingkat stress . value= 0,. , kualitas tidur . value=0,. dengan kadar gula Penelitian (Sumardiko et al. mendapatkan ada hubungan tingkat stress dengan kadar gula darah. Penelitian (Siringo-ringo et al. , 2. di Kabupaten Serdang Sumatera Utara mendapatkan ada hubungan antara aktivitas fisik . value=0,. Diet . value=0,000. Istirahat value=0,000, dengan kadar gula darah. Penelitian (Syukri et al. , 2. di Kota Jambi mendapatkan ada hubungan usia . value = 0,. , aktivitas fisik . value = 0,. , dan kebiasaan merokok . value = 0,. dengan kadar gula darah. Penelitian (Veridiana & Nurjana, 2. Riskesdas Indonesia mendapatkan kadar gula darah berhubungan dengan diet makanan . value=0,. dengan OR 1,1, sedangkan 0,. berhubungan dengan kadar gula darah. Penelitian (Dwi & Ambarita, 2. di Johar Baru Jakarta mendapatkan hasil ada hubungan aktivitas fisik dengan kadar gula darah . value =0,. Penelitian (Rabbi et al. , 2. pada Universitas Hasanudin Makasar peningkatan kadar gula darah . value= 0,. Estimasi usia produktif sasaran posbindu PTM . -59 tahu. yang berisiko DM di wilayah kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Katibung berjumlah 231 orang. Data terkait pelaksanaan CERDIK di UPTD Puskesmas Katibung tahun 2022 untuk C, cek kesehatan secara rutin cek kadar gula darah, mengukur tekanan darah dan pemeriksaan berat badan di posbindu hanya sebesar 47% dari jumlah sasaran usia produktif. Berdasarkan survey PHBS didapatkan perilaku tidak merokok sebesar 38%, melakukan aktivitas fisik 47%, melakukan diet sehat dan gizi seimbang sebesar 68%, sementara data terkait istirahat yang cukup dan kelola stress tidak tersedia karena tidak pernah dilakukan pada kegiatan di Posbindu (UPT Puskesmas Katibung, 2. Telah dilakukan sebagian besar upaya edukasi CERDIK dan penyediaan layanan deteksi dini DM . emeriksaan gula dara. gratis di FKTP dan Posbindu bagi penduduk khususnya pra lansia yang berisiko tinggi DM namun belum pernah dilakukan penelitian terkait dengan praktik perilaku CERDIK pada usia produktif risiko DM di wilayah kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Katibung (UPT Puskesmas Katibung, 2. Peneliti melakukan prasurvey pada 15 orang usia 15-49 tahun . sia produkti. yang memiliki faktor risiko DM selama 23-24 Desember 2023 mendapatkan hasil seluruh responden baru pertama kali melakukan deteksi dini DM . emeriksaan gula dara. dan terdapat 9 . %) termasuk dalam gula darah diabetes. Praktik perilaku CERDIK didapatkan sebanyak 8. ,3%) tidak memeriksakan kesehatan secara berkala, sebanyak 10. ,6%) adalah perokok, sebanyak 9. %) tidak melakukan aktivitas fisik. Hanya sebanyak 7. ,6%) melakukan diet sehat dengan seimbang, sebanyak 10. ,6%) beristirahat cukup, sebanyak 11. ,3%) menyatakan mampu kelola METODE Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan Cross sectional. Subjek penelitian ini adalah adalah seluruh semua usia produktif risiko tinggi . -59 tahu. yang Posbindu wilayah kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Katibung sebanyak total . Sampel dalam penelitian ini adalah usia produktif risiko tinggi usia 1559 tahun risiko tinggi DM yag terdata di Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 238-249 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Perilaku AuCERDIKAy dengan Kadar GulaA. (Desi Nurzana. Lolita Sary, dk. Posbindu di wilayah kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Katibung. Berdasarkan Tabel Kretjie jumlah sampel minimal yang diperlukan untuk penelitian ini dari 231 populasi yang berisiko tinggi maka sampel yang diperlukan sebesar 144 orang responden. Sampel diambil secara simple random sampling/acak di tiap-tiap Pengambilan . eknik pengambilan sampel secara kebetulan, siapa saja yang peneliti temui dan responde. yaitu berpuasa minimal 8 jam sebelum pemeriksaan gula darah puasa Bertempat tinggal di wilayah kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Katibung. Tidak memiliki hambatan dalam berkomunikasi bisu dan atau tuli. Bersedia menjadi responden. Alat ukur menggunakan chi square dan regresi HASIL Tabel 1 Karakteristik Informan Variabel Kategori Umur Menurut BPS Jenis Kelamin 15-19 tahun 20-24 tahun 25-29 tahun 30-34 tahun 35-39 tahun 40-44 tahun 45-49 tahun 50-54 tahun 55 tahun Laki-laki Perempuan Total Kategori BPS terbanyak usia 25-29 tahun sebanyak 54 orang . ,5%), usia 40-44 tahun sebanayk 40 orang . ,8%), usia 20-24 tahun sebanyak 16 orang . ,1%), usia 30-34 tahun sebanyak 14 orang . ,7%), usia 15-19 tahun sebanyak 7 orang . ,1%), usia 35-39 tahun sebanyak 7 orang . ,1%), usia 45-49 tahun sebanyak 4 orang . ,8%) dan usia 50-54 tahun sebanyak 1 orang . ,7%) dan usia 55 tahun sebanyak 1 orang . ,7%). Responden yang berpartisipasi dalam penelitian berjenis kelamin laki-laki 79 orang . ,9%) dan perempuan sebanyak 65 orang . ,1%). Tabel 2 Distribusi Frekuensi univariat Variabel Kategori Kadar Gula Darah Puasa Normal <100 mg/dL Perifer DM Tipe 2 >100 mg/dL Cek kesehatan secara Melakukan Tidak melakukan Enyahkan Asap Rokok Melakukan Tidak melakukan Rajin Aktivitas Fisik Melakukan Tidak melakukan Diet Sehat dan Gizi Melakukan Seimbang Tidak melakukan Istirahat yang Cukup Melakukan Tidak melakukan Kelola Stress Melakukan Tidak melakukan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 238-249 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Perilaku AuCERDIKAy dengan Kadar GulaA. (Desi Nurzana. Lolita Sary, dk. Berdasarkan tabel 2 diketahui Kadar gula darah puasa normal sebanyak 80 orang . ,6%), berperilaku cek kesehatan secara rutin sebanyak 89 orang . ,8%), perilaku enyahkan asap rokok sebanyak 63 orang . ,8%). Variabel Cek Kesehatan Secara Berkala Enyahkan asap Rajin fisik/olahraga Diet sehat dan Istirahat yang kelola stress beraktivitas fisik/olahraga sebanyak 57 orang . ,6%), melakukan diet sehat dan gizi seimbang sebanyak 55 orang . ,2%), beristirahat cukup sebanyak 45 orang . ,3%), mampu mengelola stress sebanyak 64 orang . ,4%). Tabel 3 Distribusi Frekuensi Bivariat Kategori Kadar Gula Darah Jumlah Puasa Normal n (%) n (%) Melakukan 59. Tidak 21. Melakukan 45. Tidak 35. Melakukan 39. Tidak 41. Melakukan 45. Tidak 35. Melakukan 33. ,) Tidak 47. Melakukan 50. Tidak 30. Berdasarkan tabel 3 Terdapat hubungan perilaku cek kesehatan secara berkala dengan kadar gula darah p value=0,00 OR=3,1. Terdapat hubungan perilaku enyahhan asap rokok dengan kadar gula darah p value=0,00 OR=3,2. Terdapat hubungan rajin beraktivitas fisik/olahraga dengan kadar gula darah p Variabel aktivitas fisik Diet Kelola stress OR . CI) 0,00 ,5-6,. 0,00 ,6-6,. 0,01 ,2-4,. 0,00 ,015,. 0,00 ,4-6,. 0,00 ,812,. value=0,01 OR=2,4. Terdapat hubungan diet sehat dan seimbang dengan dengan kadar gula darah p value=0,00 OR=6,9. Terdapat hubungan istirahat cukup dengpan dengan kadar gula darah p value=0,00 OR=3,0. Terdapat hubungan kelola stress dengan dengan kadar gula darah p value=0,00 OR=5,9. Tabel 4 Multivariat p-value 95%CI Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 238-249 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Tabel 4 merupakan permodelan terakhir didapatkan Mampu mengelola stress menjadi variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap kadar gula darah puasa. Responden yang peluang tekanan darah puasa normal sebesar 3,6 kali lebih besar dibandingan yang tidak mampu mengelola stress. PEMBAHASAN Hubungan perilaku cek kesehatan secara berkala dengan kadar gula darah usia produktif risiko tinggi DM Tipe 2 Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa dari hubungan perilaku cek kesehatan secara berkala dengan kadar gula darah usia produktif risiko tinggi DM Tipe 2 di wilayah kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Katibung Kabupaten Lampung Selatan tahun 2024 Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa dari 89 orang responden yang melakukan cek kesehatan secara berkala dan kadar gula darah puasa perifer normal terdapat 59 orang . ,3%) sedangkan dari 55 orang responden tidak melakukan cek kesehatan secara berkala dan kadar gula darah puasa perifer normal ada 21 orang . ,2%). Terdapat hubungan antara Perilaku Cek Kesehatan Secara Berkala dengan Kadar Gula Darah puasa Usia Produktif Risiko Tinggi DM Tipe 2 pvalue sebesar 0,00 nilai Odds Ratio (OR) sebesar 3,1. Teori yang terkait hipotesa ini segala jenis penyakit bisa dicegah tubuh,dengan melakukan Pemeriksaan Kesehatan penyakit yang datang ke tubuh pun akan diketahui lebih dini. cek kesehatan berkala Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenke. Nomor 4 Tahun 2019 tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Skrining usia produktif dilaksanakan pada seluruh warga yang berusia 15-59 tahun yang dilakukan satu kali pertahun (Kemenkes RI, 2019. Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian (IsmaAoiyah, 2. meneliti tentang Kestabilan Kadar Glukosa Darah pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Bantul 1 mendapatkan ada ubungan yang positif pemeriksaan dengan kestabilan kadar glukosa darah dengan nilai signifikasi . =0,. Analisa peneliti berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan Survei UNICEF Nielsen Q3 2024 pada 2000 responden di 6 kota besar di Indonesia tentang cek kesehatan secara berkala menemukan untuk pemeriksaan berat badan sekitar 62% menjawab tidak ingat. Sekitar 17% mengatakan lebih dari 2 bulan lalu. Sekitar 8%, 1-2 bulan lalu. Sekitar 5%, sebulan terakhir. Sekitar 3%, dua minggu lalu. Sekitar 4% memberikan jawaban minggu lalu, frekuensi sesuai saran para ahli . eminggu sekal. Untuk pemeriksaan tekanan darah. Kebanyakan tidak tahu . %). Sementara, yang ideal. Padahal memeriksakan diri secara berkala adalah mencegah masalah-masalah kesehatan, utamanya PTM (Penyakit Tidak Menula. seperti DM. Solusi yang dapat peneliti pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi masyarakat umum di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Pemeriksaan kesehatan berkala bukan hanya fasilitas pemanfaatan layanan posbindu PTM di masyarakat, layanan prolanis bagi peserta BPJS serta layanan Pandu PTM di FKTP Pandu PTM di FKTP adalah upaya tatalaksana terintegrasi hipertensi dan diabetes melitus serta PTM lainnya yang dilaksanakan secara komprehemsif dan terintegrasi dengan pendekatan faktor Hubungan perilaku enyahhan asap rokok dengan kadar gula darah usia produktif risiko tinggi DM Tipe 2 Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa dari 63 orang responden yang berprilaku enyahkan asap rokok dan kadar gula darah puasa perifer normal terdapat 45 orang . ,4%) sedangkan dari 81 Enyahkan asap rokok dan kadar gula Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 238-249 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index darah puasa perifer normal ada 35 orang . ,2%). Terdapat hubungan antara perilaku enyahkan asap rokok dengan Kadar Gula Darah puasa Usia Produktif Risiko Tinggi DM Tipe 2 p-value sebesar 0,00 nilai Odds Ratio (OR) sebesar 3,2. Teori yang terkait hipotesa ini merokok meningkatkan risiko terkena DM, dan memperburuk komplikasi mikro dan makrovaskular diabetes melitus. Merokok peradangan dan dislipidemia, namun mekanisme pasti bagaimana merokok mempengaruhi diabetes mellitus masih belum jelas. Namun, berhenti merokok merupakan salah satu target penting pencegahan komplikasi diabetes (Chang. Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian (Suryanti et al. , 2. di Makasar mendapatkan hasil ada hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian DM Analisa peneliti berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan Data Tobacco Enforcement and Reporting Movement (TERM) MeiAeAgustus menyebutkan, lebih dari dua pertiga kegiatan pemasaran produk tembakau diunggah di Instagram . %). Facebook . %) dan X . %). Solusi yang peneliti tawarkan adalah melakukan advokasi pemegang kewenangan/Camat misalnya agar melakukan pelarangan bagi Industri membuka gerai di tempat wisata, festival musik dan olahraga yang akan menarik perhatian anak muda. Melakukan advokasi sponsor dalam kegiatan kepemudaan. ataupun tawaran biaya pendidikan atau Melakukan advokasi agar adanya aturan local tentang menjamurnya gerai rokok elektrik di lokasi penelitian dalam berbagai varian rasa, inovasi dan menarik perhatian anak muda untuk menggunakan produk tersebut. Hubungan fisik/olahraga dengan kadar gula darah pada usia produktif risiko DM Tipe 2 Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa dari 57 orang responden yang rajin beraktivitas fisik/olahraga dan kadar gula darah puasa perifer normal terdapat 39 orang . ,4%) sedangkan dari 87 orang fisik/olahraga rokok dan kadar gula darah puasa perifer normal ada 41 orang . ,1%). Terdapat hubungan antara perilaku rajin beraktivitas fisik/olahraga dengan Kadar Gula Darah puasa Usia Produktif Risiko Tinggi DM Tipe 2 p-value sebesar 0,00 nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,4. Penelitian (Syukri et al. di Kota Jambi mendapatkan ada hubungan kebiasaan merokok . value = 0,. dengan kadar gula darah. Teori yang terkait hipotesa ini Latihan fisik merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2. Latihan fisik selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Indikator keberhasilan perubahan gaya hidup bagi invidiu risiko tinggi DM adalah meningkatkan aktifitas fisik dan latihan jasmani (Soelistijo, 2. Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian (Suryanti et al. , 2. di Makasar aktivitas fisik . =0,. dengan kejadian DM. Penelitian (Murtiningsih et al. , 2. mendapatkan gaya hidup seperti pola aktivitas fisik kurang berpengaruh terhadap terjadinya DM . value=0,. Penelitian (Siringoringo et al. , 2. di Kabupaten Serdang Sumatera Utara hubungan antara aktivitas fisik . value=0,. dengan kadar gula darah. Penelitian (Syukri et al. , 2. di Kota Jambi aktivitas fisik . value = 0,. dengan kadar gula darah. Penelitian (Veridiana & Nurjana. Riskesdas di Indonesia mendapatkan 0,. berhubungan dengan kadar gula darah. Penelitian (Dwi & Ambarita, 2. di Johar Baru Jakarta mendapatkan hasil ada hubungan aktivitas fisik dengan kadar gula darah . value =0,. Analisa peneliti berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mayoritas remaja di seluruh dunia jarang Hal ini disampaikan WHO dalam Global Status Report on Physical Activity 2022. Sekitar 81% remaja dan 27,5% orang dewasa saat ini tidak Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 238-249 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index memenuhi rekomendasi aktivitas fisik minimal untuk mencapai kesehatan Untuk orang dewasa . tahun ke Solusi yang dapat peneliti tawarkan adalah melakukan olahraga penguatan otot minimal 2 kali per pekan, atau olahraga ringan minimal 3 kali per pekan untuk yang sudah lanjut usia. Hendaknya usia produktif melakukan aktivitas fisik membantu mengurangi risiko penyakit tidak menular DM. Hubungan diet sehat dan seimbang dengan dengan kadar gula darah pada usia produktif risiko DM Tipe 2 Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa dari 55 orang responden yang Diet sehat dan seimbang dan kadar gula darah puasa perifer normal terdapat 45 orang . ,8%) sedangkan dari 89 orang responden tidak melakukan Diet sehat dan seimbang dan kadar gula darah puasa perifer normal ada 35 orang . ,3%). Terdapat antara perilaku perilaku Diet sehat dan seimbang dengan Kadar Gula Darah puasa Usia Produktif Risiko Tinggi DM Tipe 2 p-value sebesar 0,00 nilai Odds Ratio (OR) sebesar 6,9. Teori yang terkait hipotesa ini Karbohidrat mengandung gula dasar yang mudah Sementara, karbohidrat komplek memiliki rantai gula yang lebih panjang, sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk mencerna dan menyerap karbohidrat jenis Karbohidrat komplek mengandung tinggi serat, mineral, dan vitamin yang sangat penting bagi tubuh. Jangan lupakan sarapan karena membuat tubuh mendapatkan energi yang pas, sehingga berlebih saat makan siang sehingga kadar gula darah akan terkontrol. Makan dengan teratur dan memperhatikan jadwal dan jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuh untuk mengatur kadar gula darah tetap stabil. Konsumsi lebih banyak omega-3 yang berasal dari beberapa jenis Imbangi dengan olahraga. Aktivitas fisik akan membantu dalam mengontrol kadar gula darah karena saat berolahraga, otot akan membutuhkan gula untuk membakar energi sehingga insulin akan terbantu dalam pengolahan glukosa dalam (Kemenkes RI, 2019. Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian (Suryanti et al. , 2. di Makasar mendapatkan hasil ada hubungan pola makan . =0. dengan kejadian DM. Penelitian (Murtiningsih et al. , 2. mendapatkan gaya hidup seperti pola makan yang tidak sehat berpengaruh terhadap terjadinya DM . value=0,. Penelitian (Siringoringo et al. , 2. di Kabupaten Serdang Sumatera Utara hubungan antara Diet . value=0,000 dengan kadar gula darah. Penelitian (Veridiana Nurjana, menggunakan data Riskesdas di Indonesia berhubungan dengan diet makanan . value=0,. dengan OR 1,1. Penelitian (Rabbi et al. , 2. pada pegawai di Universitas Hasanudin Makasar mendapatkan hasil ada hubungan pola makan dengan peningkatan kadar gula darah . value= 0,. Analisa peneliti berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan dengan yang dekat dengan pantai solusi yang dapat peneliti ajukan adalah meningkatkan konsumsi ikan untuk DM. Tingginya kandungan asam lemak tak jenuh ganda n-3, khususnya asam eicosapentaenoic (EPA) dan docosahexaenoic acid (DHA). Jumlah EPA dan DHA yang lebih tinggi di Mengingat enderita diabetes sering kali mengalami kadar vitamin D yang lebih Solusi dengan memasukkan menu ikan ke dalam makanan adalah cara terbaik untuk menambah asupan vitamin Kandungan protein dalam ikan juga menyediakan sebagian kebutuhan energi dan omega 3 yang membantu menjaga kesehatan jantung. Sebaiknya makan ikandua porsi ikan per minggu. Satu porsi setara dengan 3,5 ons ikan matang atau sekitar tiga seperempat cangkir ikan yang Hubungan istirahat cukup dengan dengan kadar gula darah pada usia produktif risiko DM Tipe 2 Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa dari 45 orang responden yang istirahat yang cukup dan kadar gula darah puasa perifer normal terdapat 33 orang Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 238-249 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index . ,3%) sedangkan dari 99 orang responden tidak melakukan istirahat yang cukup dan kadar gula darah puasa perifer normal ada 47 orang . ,5%). Terdapat hubungan antara perilaku istirahat yang cukup dengan Kadar Gula Darah puasa Usia Produktif Risiko Tinggi DM Tipe 2 pvalue sebesar 0,00 nilai Odds Ratio (OR) Teori yang terkait hipotesa ini Manfaat dari mendapatkan istirahat yang cukup: menjaga agar mood selalu baik, beraktivitas, mencegah tekanan darah tinggi, membantu menurunkan berat badan (P2PTM Kemenkes RI, 2021. Dengan menjalankan pola tidur yang baik, fungsi tubuh seseorang akan berjalan dengan baik, sehingga dapat mudah terhindar dari beberapa penyakit seperti Stres. DM, hingga penyakit jantung (UPK Kemenkes RI, 2. Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian (Putri Diana Damayanti, 2. di Semarang mendapatkan ada hubungan kualitas tidur . value=0,. dengan kadar gula darah. Penelitian (Siringo-ringo et al. , 2. di Kabupaten Serdang Sumatera Utara mendapatkan ada hubungan antara Istirahat cukup . value=0,000, dengan kadar gula darah. Analisa peneliti berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan tidur yang cukup juga memiliki dampak langsung pada kesehatan fisik. Kurang tidur dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, obesitas, dan tekanan darah Ini juga dapat mengganggu metabolisme tubuh dan memengaruhi berat badan. Solusi yang peneliti tawarkan adalah membatasi waktu pemakaian stretching untuk meregangkan otot tubuh. Tdur dengan Jadwal yang Konsisten dengan cara istirahat yang baik adalah tidur dan bangun pada jam sama setiap Usahakan untuk tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari atau paling tidak hanya berjarak kurang lebih 20 menit dari jadwal biasanya. Jadwal tidur yang teratur ini diketahui turut bantu melepaskan hormon kortisol secara optimal sehingga tubuh terhindar dari stres berlebih dan tidur pun menjadi lebih Memberikan jangka waktu tidur setelah makan juga penting untuk dilakukan bila ingin memiliki istirahat yang Berikan jangka waktu tidur minimal 2 hingga 3 jam setelah makan agar tubuh mendapatkan waktu yang cukup untuk mencerna makanan. Hubungan kelola stress dengan dengan kadar gula darah pada usia produktif risiko DM Tipe 2 Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa dari 64 orang responden yang kelola stress dan kadar gula darah puasa perifer normal terdapat 50 orang . ,1%) sedangkan dari 80 orang responden tidak melakukan kelola stress dan kadar gula darah puasa perifer normal ada 30 orang . ,5%). Terdapat hubungan antara Perilaku kelola stress dengan Kadar Gula Darah puasa Usia Produktif Risiko Tinggi DM Tipe 2 p-value sebesar 0,00 nilai Odds Ratio (OR) sebesar 5,9. Teori yang terkait hipotesa ini stres dapat menimbulkan berbagai efek pada tubuh, pikiran, dan perasaan. Nyeri, rasa tidak nyaman di tubuh seperti sakit lambung, maag, kembung, jantung berdebar, napas berat dan sesak, sakit kepala, leher dan pundak terasa tegang. Perasaan tidak tenang, gelisah, cemas, sedih, mudah marah, sensitif, menangis. Gangguan pola makan menjadi turun atau naik, gangguan pola tidur menjadi sulit tidur atau terlalu banyak tidur. Sulit fokus, konsentrasi dan mudah lupa, suatu pekerjaan yang sebelumnya mudah dan cepat dikerjakan menjadi lebih sulit dan lama diselesaikan. Tubuh, pikiran, dan perasaan yang berat saat stres membuat kehidupan kita terganggu, menderita, tidak bisa berfungsi dengan baik, tidak produktif dan relasi yang terganggu dengan orang lain (Kembaren, 2. Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian (Putri Diana Damayanti, 2. di Semarang mendapatkan ada hubungan tingkat stress . value= 0,. dengan kadar gula darah. Penelitian (Sumardiko et al. , 2. mendapatkan ada hubungan tingkat stress dengan kadar gula darah. Analisa peneliti berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan Stres mempunyai dampak signifikan terhadap fungsi metabolisme. DM tipe 2 dapat diawali oleh stres psikologis dan fisik. Sistem saraf pusat dan perifer keduanya terlibat dalam kerangka neuroendokrin Pelepasan katekolamin Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 238-249 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index dan glukokortikoid serum yang disebabkan kebutuhan insulin dan resistensi insulin. Hiperglikemia persisten pada penderita DM mungkin dipengaruhi oleh stres. Kadar gula darah mungkin meningkat karena terhadap stres. Meskipun hal ini memiliki signifikansi adaptif pada pasien sehat, dalam jangka panjang hal ini dapat menyebabkan resistensi insulin dan menyebabkan DM. Solusi yang dapat peneliti ajukan adalah usahakan untuk tenggat/deadline. susun jadwal untuk mengatur waktu dengan baik dan istirahat yang cukup. bila perlu, bekerjalah dalam kelompok untuk meringankan pekerjaan dan pilah dan susun prioritas antara yang lebih penting dan kurang penting. Variabel berhubungan dengan kadar gula darah usia produktif risiko DM Tipe 2 Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa variabel yang paling dominan berhubungan dengan kadar gula darah usia produktif risiko DM Tipe 2 tahun 2024 adalah kelola stress p value 0,00 dengan OR = 3,6. Teori yang terkait hipotesa ini stres tak bisa dihindari sehingga individu harus mencari cara mengelola stres yang efektif. Cara mengelola stress diantaranya adalah permasalahan yang dialami kepada orang yang bisa dipercaya seperti pasangan, sahabat atau psikolog. Lakukan aktivitas yang disukai dan membuat bersemangat. Bisa berupa hobi yang sudah lama ditinggalkan atau aktivitas lainnya yang Melakukan hobi yang disukai lama kelamaan bisa menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa bahagia dalam diri. Lakukan upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan meningkatkan Terkadang bersedekah membuat diri bahagia karena bisa membantu orang lain sehingga menurunkan kadar stres. Perbanyak berpikir positif dan menenangkan pikiran dengan relaksasidengan melakukan yoga atau teknik pernapasan yang mampu Imbangi dengan berolahraga secara teratur, makan bergizi, istirahat yang cukup dan menerapkan gaya hidup (Kemenkes RI. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian (Prasetyani & Sodikin, 2. menganalisis faktor-faktor risiko kejadian DM pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Cilacap Tengah mendapatkan faktor yang paling dominan mempengaruhi kejadian DM tipe 2 . v = 02 : =0. , dimana individu dengan obesitas beresiko 5,45 kali mengalami DM tipe 2 dibandingkan individu yang tidak Analisa peneliti berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan ada saat dimana seseorang bahkan tidak bisa menghentikan diri untuk terus bekerja. sinyal dari dalam tubuh pun kadang tidak kita di sikapi dengan segera, alih alih menambah tenaga. Solusi yang dapat peneliti ajukan adalah berhenti mengatasi stres dengan konsumsi kafein berlebihan, konsumsi cemilan tidak menyehatkan dan Jika kondisi ini berlangsung baik, untuk jangka waktu yang temporer bisa saja terus merasa aman, pekerjaan selesai setelahnya beristirahat. Tubuh yang meminta hak nya mungkin dapat setelahnya kita penuhi, namun sebaliknya ketika kondisi ini tidak mampu diatasi dengan baik, pada saat yang bersamaan ada suatu moment dimana kita akan mengalami demotivasi, pekerjaan tidak juga kunjung selesai, beban akan terasa begitu berat, sulit berkonsentrasi dan lebih parahnya seseorang merasa tidak mampu/tidak menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dan situasi ini akan berlangsung terus menerus. Solusi yang dapat peneliti ajukan adalah melakukan upaya pencegahan burn out dan strees dengan tidak memaksakan diri untuk bekerja terlalu keras, karena hanya akan mengalami kondisi kelelahan yang berkepanjangan. Kalau kelelahan secara fisik saja dengan istirahat bisa selesai. Kalau kelelahan emosional, dengan istirahat saja belum Maka intervensinya sehingga bagi responden dapat membuat perencanaan waktu dan pekerjaan dengan baik, memperhatikan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 238-249 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index time line, dan juga memperhatikan skala prioritas dengan cermat. Pergunakan waktu dengan sebaik baiknya. Niatnya kebablasan asyik dengan hal tertentu. Akibatnya waktu berharga terbuang dengan sia sia. Pada saat membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk fokus dan konsentrasi pada pekerjaan tertentu, yang terjadi sebaliknya seolah dikejar oleh Pekerjaan tertunda, lelahpun mendera untuk itu pengelolaan waktu amat penting. Mempelajari beberapa teknik mengelola stress seperti teknik relaksasi duduk dengan posisi santai dan Bayangkan menyenangkan dengan mata terpejam. Mensyukuri nikmat dari Tuhan YME, ikhlas dan sabar. Tarik nafas dari hidung, tahan 3 hitungan, lalu hembuskan nafas dari Bayangkan seolah beban pikiran sudah dilepaskan. SIMPULAN Berdasarkan penelitian tentang Hubungan Perilaku AuCerdikAy Dengan Kadar Gula Darah Pada Usia Produktif Risiko Tinggi Diabetes Melitus Tipe 2 Di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Katibung Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2024 dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan perilaku cek kesehatan secara berkala . value=0,00 OR=3,. , value=0,00 OR=3,. , rajin beraktivitas fisik/olahraga . value=0,01 OR=2,. , diet sehat dan seimbang . value=0,00 OR=6,. , istirahat cukup . value=0,00 OR=3,. , kelola stress . value=0,00 OR=5,. dengan kadar gula darah. Variabel berhubungan dengan kadar gula darah adalah mampu mengelola stress p value 0,00 dengan Eksponen B=3,6. SARAN Hendaknya melakukan kegiatan penyediaan layanan konseling jiwa agar psikologis penderita tetap stabil. Stres umum terjadi pada penderita penyakit degenerative menahun dan memerlukan pengobatan yang panjang seperti DM. Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) merupakan wujud peran serta masyarakat yang bersifat promotif dan preventif dalam kegiatan deteksi dini, monitoring dan tindak lanjut dini faktor risiko PTM secara mandiri dan berkesinambungan. Posbindu PTM menjadi salah satu bentuk upaya kesehatan masyarakat atau UKM yang selanjutnya berkembang menjadi upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) dalam pengendalian faktor risiko PTM di bawah pembinaan Puskesmas. Hendaknya melakukan kegiatan inovasi pengelolaan stress seperti melakukan skrining SRQ-20 sebagai upaya deteksi melalui butir-butir pertanyaan yang mengalami gangguan mental emosional, menilai butir-butir pertanyaan SRQ pada kelompok yang mengalami gangguan mental emosional dan tidak mengalami mengalami gejala gangguan kognitif, cemas-depresi, somatik, dan penurunan Hendaknya bekerjasama dengan Puskesmas dalam serta penyediaan tenaga konselor jiwa bagi usia produktif risiko tinggi penyakit degenerative DM. DAFTAR PUSTAKA