BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 No. 2 November 2024 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ PENGUATAN SKILLS WARGA BINAAN LAPAS PEREMPUAN KLAS IIA MARTAPURA UNTUK PENINGKATAN CAPACITY BUILDING DAN KESIAPAN BERWIRAUSAHA Titien Agustina1. Akhmad Aspiannor2. Syamsul Adha3. Muhammad Darwis Meyandhie Nasution4. Lita Norfiana5 1,2,3,4,5STIMI Banjarmasin Email: titienagustina9@gmail. ABSTRAK Sumber daya manusia memiliki peranan yang sangat penting di dalam pembangunan. Namun kondisi kualitas sumber daya manusia tersebut rendah dan memiliki masalah social, tentu pihak yang berkemampuan diharapkan bisa mengambil peran serta di dalam membantu mereka untuk kuat dan berdaya di dalam menghadapi kehidupan dan tantangan yang dihadapinya. Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Klas 2A Martapura menampung lebih dari 500 warga binaan berjenis kelamin perempuan dan sedang menjalani masa tahanan dalam hitungan lebih dari 3 tahun, maka di dalam mengisi waktu mereka sehari-hari institusi memberikan bimbingan rohani, kegiatan pelatihan dalam rangka mempersiapkan mereka ketika kembali ke masyarakat bisa produktif dalam memenuhi kebutuhan ekonomi nya maupun keluarga. Pelatihan ini adalah bentuk kontribusi Tim Pengabdian kepada Masyarakat STIMI Banjarmasin untuk ikut meningkatkan kapasitas SDM yang menjadi warga binaan. Juga mempersiapkan warga binaan untuk mampu dan siap dalam berwirausaha Ketika kelak Kembali ke masyarakat. Pelatihan ini diikuti oleh 20 orang warga binaan yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan diisi juga dengan focus group discussion untuk menumbuhkan pemahaman, motivasi, dan minat serta kapasitas warga binaan agar mampu bangkit secara ekonomi dan mentality untuk menghadapi kehidupan yang nyata sebagai warga masyarakat yang normal. Kata kunci: warga binaan. Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Klas 2A Martapura, kapasitas, kesiapan berwirausaha. STRENGTHENING THE SKILLS OF RESIDENTS OF CLASS IIA MARTAPURA WOMEN'S PRISON TO IMPROVE CAPACITY BUILDING AND ENTREPRENEURIAL READINESS ABSTRACT Human resources have a very important role in development. However, the condition of the quality of human resources is low and there are social problems, of course capable parties are expected to take part in helping them to be strong and empowered in facing life and the challenges they face. The Martapura Class 2A Women's Penitentiary (LPP) accommodates more than 500 female inmates who are serving a prison term of more than 3 years, so in filling their daily time the institution provides spiritual guidance and training activities in order to prepare them. when he returns to society he can be productive in meeting his and his family's economic needs. This training is a form of contribution from the Community Service Team to the STIMI Banjarmasin Community to help increase the capacity of human resources who are assisted residents. It also prepares inmates to be able and ready to become entrepreneurs when they return to society. This training was attended by 20 inmates who were carried out on an ongoing basis and also included focus group discussions to foster understanding, motivation, interest and capacity of the inmates to be able to rise economically and mentally to face real life as normal citizens. Keywords: inmates. Women's Correctional Institution (LPP) 2A Class. Martapura, capacity, entrepreneurial PENDAHULUAN Di era globalisasi sekarang ini tiap individu semakin dituntut bersaing ketat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara ekonomi, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi masalah yang harus ditanggulangi karena lapangan kerja yang tersedia tidak mampu Page | 9 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 No. 2 November 2024 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ menyerap tenaga kerja yang ada. Dengan ketatnya persaingan, secara langsung setiap individu dituntut harus memiliki keahlian, keterampilan serta kemampuan menyesuaikan diri untuk bisa melakukan perannya di lingkungan kerja maupun di masyarakat. Individu yang gagal menguasai keterampilan-keterampilan hidup, akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara ekonomi. Dengan penyerapan tenaga kerja yang tidak dapat mengikuti pertumbuhan tenaga kerja dan bahkan cenderung turun maka akan mengakibatkan makin tingginya tingkat pengangguran di masyarakat. Tingkat pengangguran terus bertambah terlebih sejak terjadi pandemi covid 19 yang dampaknya sangat terasa sejak awal tahun 2020. Tingginya tingkat pengangguran akan mengakibatkan semakin bertambahnya individu-individu yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya dan memunculkan gap ekonomi antara masyarakat satu dengan yang lain yang dapat memicu terjadinya perbuatan yang merugikan orang lain. Tidak bisa dipungkiri jika seorang pengangguran yang tidak memiliki sumber penghasilan, sedangkan orang tersebut dituntut untuk memenuhi kebutuhannya. Maka hal tersebut dapat saja menjadi memicu seseorang melakukan tindak kriminal, karena kriminalitas dianggap sebagai jalan pintas untuk mendapatkan uang. Itulah sebabnya mengapa kebanyakan warga binaan di LPP Klas II A Martapura berasal dari kasus narkotika. Selain tergiur oleh imbalan yang besar dan pekerjaan tidak terlalu berat dan memerlukan modal atau syarat khusus. Sehingga ada saja perempuan, ibu rumah tangga, pelaku UMKM yang tergiur menjadi AukurirAy narkotika dan akhirnya terjerumus di LPP Klas IIA Martapura ini untuk hitungan masa tahanan, rata-rata diatas 2 . Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah tindak lanjut dari hasil penelitian dari (Aspiannor, 2. , bahwa: . Pendidikan kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap kesiapan berwirausaha warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Martapura sebesar 53,19%. Self Efficacy berpengaruh signifikan terhadap kesiapan berwirausaha warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Martapura sebesar 45,64%. Pendidikan kewirausahaan dan self efficacy secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kesiapan berwirausaha warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Martapura sebesar 48,8%. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini akan menindaklanjuti hasil penelitian tersebut dengan memberikan workshop ketrampilan bagi penghuni lapas agar kelak ketika sudah keluar sebagai anggota masyarakat biasa, bisa menjadi pribadi yang mandiri. Bekal ketrampilan kewirausahaan yang diberikan selama di Lapas ini diharapkan dapat memberi bekal nyata, menambah wawasan, memberi pencerahan, dan sekaligus penguatan kapasitas diri melalui ketrampilan ekonomi produktif (Nurhikmah et al. , 2. Page | 10 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 No. 2 November 2024 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ Foto 2. Bersama peserta pelatihan dan tim serta instruktur Karena berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan pendidikan kewirausahaan berpengaruh paling tinggi dalam kesiapan berwirausaha bagi perempuan penghuni Lapas Perempuan Klas IIA Martapura ini dibandingkan dengan self efficacy. Oleh sebab itu sangat penting pendidikan kewirausahaan diberikan secara terus menerus dan terprogram pada penghuni Lapas agar mereka memiliki bekal ketrampilan (Suryani. Sri. Agustina. Titien. Hariyono. TA. Jahri, 2. yang dapat dijadikan modal dalam menjalani kehidupan selanjutnya di masyarakat setelah bebas. Kontribusi yang diberikan perguruan tinggi juga menjadi satu catatan penting bagi pihak Manajemen Lapas maupun bagi penghuni Lapas yang menjadi peserta workshop ini. Dari kegiatan ini diharapkan perempuan warga binaan bisa menjadi manusia mandiri dan mampu mengembangkan ketrampilan yang diberikan oleh pihak Lapas sendiri, pihak eksternal, dan salah satunya dari Tim Abdimas STIMI Banjarmasin ini untuk memenuhi kebutuhan ekonomi kehidupannya bersama keluarga. Sehingga diharapkan pembinaan yang didapat selama di Lapas selain memenuhi kebutuhan spiritualnya (Rahardjo & Anwar, 2. , juga dapat membekali kemampuan kerja dan menciptakan lapangan kerja bagi dirinya dan orangorang di sekitar. Agar kehadirannya kembali di masyarakat bisa diterima dengan baik dan kembali benar-benar sebagai manusia normal yang baik dan taat hukum. TINJAUAN TEORITIS Menjadi warga binaan dalam hitungan tahun dengan keterbatasan kesempatan komunikasi dan akses lainnya dengan dunia luar, tentu memiliki makna yang berbeda-beda pada setiap pribadi. Sangat tergantung dengan pengetahuan, pengalaman, wawasan, dan motivasi yang dimiliki sehingga respon yang diberikan pun akan berbeda, sesuai dengan kondisi masing-masing orang. Baik yang sudah ada di dalam diri (Agustina, 2. maupun dipersiapkan melalui berbagai cara dan kesempatan yang diberikan serta insight dari orangorang dekat yang selalu berkomunikasi. Ini pun akan menghasilkan output mental dan mindset yang berbeda pula. Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Klas IIA Martapura ini merupakan wadah Page | 11 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 No. 2 November 2024 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ pembinaan sekaligus wadah menjalani masa tahanan dalam sekian tahun yang sudah Wadah binaan ini oleh Pemerintah diberi nuansa yang lebih manusiawi. Dimana kepada warga binaan diberi siraman rohani, ceramah agama, ketrampilan hidup maupun informasi yang berguna untuk kehidupan lainnya. Misal terkait kesehatan fisik, kesehatan psikis, kesehatan organ perempuan, ketrampilan memasak, ketrampilan menjahit, ketrampilan menyulam, ketrampilan perawatan wajah dan salon kecantikan, dll. Ada rumah produksi yang disediakan dengan fasilitas lengkap yang diberi nama AuWarna PermataAy. Upaya memberi pencerahan bagi warga binaan agar siap berubah dilakukan oleh LPP Klas IIA Martapura melalui berbagai cara dan strategi yang dijalankan. Agar setelah menyelesaikan masa tahanan mereka bisa menjadi warga masyarakat yang bisa mampu menyesuaikan diri dan bisa menata hidupnya kembali bersama keluarga di masyarakat sebagaimana layaknya roda kehidupan manusia pada umumnya. Menurut (Holt et al. , 2. kesiapan individu untuk berubah didefinisikan sebagai bentuk suatu perilaku komprehensif mengenai pengaruh simulasi dari konten, yaitu sesuatu yang mau di ubah, proses yaitu bagaimana implikasi dari perubahan, konteks yaitu keadaan dimana suatu perubahan tersebut terjadi, individu yaitu karakteristik dari mereka yang meminta sebuah perubahan. Lebih jauh (Holt et al. , 2. juga menyatakan bahwa karyawan atau seseorang yang siap untuk berubah akan percaya bahwa perusahaan atau usaha yang dilakukannya akan mengalami kemajuan apabila dia ikut melakukan perubahan. Selain itu mereka memiliki sikap positif terhadap perubahan organisasi dan memiliki keinginan untuk terlibat dalam pelaksanaan perubahan perusahaan. Sebaliknya, apabila para karyawan atau anggota organisasi tidak siap untuk berubah, maka mereka tidak akan dapat mengikuti dan akan kewalahan dengan kecepatan perubahan perusahaan yang sedang terjadi. Menurut (Susyanto, 2. kesiapan berubah merupakan suatu keterampilan untuk selalu membuat gagasan, ide dalam menanggapi suatu perubahan dengan mewujudkan keuntungan yang besar dengan kerugian yang sedikit, dan mampu mempertahankan kinerjanya. Agar pada diri individu terdapat kesiapan untuk berubah, tiap perusahaan perlu memahami metode yang mampu diaplikasikan untuk mengembangkan kesiapan berubah pada diri Bagi warga binaan yang sekian tahun terpisah dari keluarga inti, juga terpisah dengan teman-teman dekat, komunitas, dan lainnya, tentu ketika bertemu kembali setelah menjalani masa tahanan, bagi sebagian orang akan memaknai dan mensikapi dengan cara yang berbeda. Apalagi bila menyangkut kesiapan untuk menghadapi masalah ekonomi yang mau tidak mau harus selalu terpenuhi ketika biologis membutuhkannya. Oleh karena itu perlu diberi wawasan dan pencerahan untuk memiliki kesiapan dalam berubah ketika kembali kelak pada keluarga maupun masyarakat. Ketika warga binaan akan kembali pada keluarga dan masyarakat, maka tentu akan kembali menjalani peran-peran yang selama ini sudah pernah dilewati bersama keluarga. Kemudian ketika berhadapan dengan masalah ekonomi keluarga, maka apabila ternyata tidak ada kapasitas yang dimiliki untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi bagi diri dan keluarga, tentu akan menjadi beban yang tidak ringan. Baik bagi yang bersangkutan, maupun bagi keluarga dan orang-orang di sekitar. Apalagi ketika diputuskan bersalah dimana salah satu pemicu masalah yang membawa bersangkutan masuk sebagai pesakitan adalah persoalan ekonomi yang kepepet sehingga terjerembab dalam melakukan tindak kriminal atau penyalah gunaan obat terlarang dan narkotika serta zat adiktif lainnya, yang disebabkan karena lebih tergiur oleh mudahnya Page | 12 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 No. 2 November 2024 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ mendapatkan uang dengan cepat dan gampang. Karena hanya menjadi kurir . barang AuharamAy tersebut dari penjual ke pemesan . Daripada bekerja mandiri . atau menjadi pekerja kasar lainnya yang tidak jelas penghasilan yang diterima. Salah satu masalahnya adalah rendahnya kompetensi dan ketrampilan yang dimiliki. Sehingga kapasitas diri untuk bersaing dalam pasar kerja menjadi sangat rendah. Oleh karena itu, selama dalam pembinaan LPP Klas IIA Martapura, warga binaan harus bisa diberikan peningkatan kapasitas dirinya agar ketika kelak kembali pada keluarga dan masyarakat, tidak menjadi beban sosial dan ekonomi yang berkepanjangan. Untuk itu harus ada upaya-upaya dalam meningkatkan kapasitas (Capacity buildin. warga binaan yang dilakukan oleh pihak manajemen LPP Klas IIA Martapura. Foto 2. Tim Abdimas bersama LPP Klas 2A Martapura Menurut Philbin . dalam (Novi Kandiyah, 2. yang menyatakan bahwa pengembangan kapasitas ialah suatu proses meningkatkan dan mengembangkan sebuah bakat, keterampilan, dan sumber daya manusia yang terlibat dalam organisasi untuk menyesuaikan diri, bertahan, dan memberikan implikasi yang baik bagi organisasi dari perubahan yang terjadi. Menurut (Bilpatria, 2. pengembangan kapasitas yaitu serangkaian proses atau pergerakan dalam sebuah perubahan yang terjadi pada setiap individu, maupun kelompok atau organisasi dalam system untuk memperkuat penyesuaian kemampuan individu dan kelompok atau organisasi sehingga dapat menangani perubahan pada lingkungan yang ada. Yakni pada penelusuran beberapa literatur mengenai pengertian dari capacity building memiliki penafsiran yang berbeda antara para ahli dengan yang lainnya. Perbedaan ini terjadi dikarenakan capacity building yakni suatu pemahaman yang dapat diketahui dari berbagai sudut pandang (Novi Kandiyah, 2. dan juga dapat diterapkan diberbagai bidang, baik organisasi sebuah lembaga pendidikan, perusahaan, aparatur pemerintah, dan sebagainya. Oleh karena itu pembangunan kapasitas . apacity buildin. merupakan sebuah proses dan upaya yang berkelanjutan dalam mengembangkan kemampuan, keterampilan, potensi, dan juga bakat dari setiap individu, kelompok dan organisasi dapat bertahan dalam menangani perubahan yang terjadi secara cepat dan tidak terduga artinya pengembangan kapasitas ini tidak berangkat dari nol melainkan dari kemampuan individu, kelompok, atau organisasi yang telah ada lalu melewati proses pembelajaran maupun hal lain yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas diharapkan dapat meningkatkan kualitas baik individu, kelompok, maupun organisasi Page | 13 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 No. 2 November 2024 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ agar bisa bertahan dalam kondisi lingkungan yang terus mengalami perubahan (Amboningtyas & Aneu, 2. MANFAAT PENGABDIAN MASYARAKAT Adapun manfaat yang diharapkan dari adanya kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan mengambil objek kegiatan pada warga binaan LPP Klas IIA Martapura ini adalah untuk: Menjalin kerjasama yang lebih intens antar insitusi di dalam ikut mensukseskan pembangunan nasional Menjadi bukti nyata kontribusi Perguruan Tinggi, dalam hal ini STIMI Banjarmasin terhadap lingkungan sekitar Memberi pelatihan ketrampilan hidup, dalam hal ini dalam bidang produksi rumahan agar ketika warga binaan kembali pada keluarga dan masyarakat, bisa mandiri dan Membuka mindset warga binaan dengan memberikan pencerahan dan motivasi pada warga binaan sebagai sumber daya manusia Indonesia yang kontribusi mereka masih diharapkan oleh masyarakat, bangsa dan negara. KERANGKA PEMECAHAN MASALAH Pada persoalan yang dihadapi warga binaan maupun pihak manajemen LPP Klas IIA Martapura ini, dimana disatu sisi manajemen memiliki keterbatasan dana maupun personil untuk memberikan peningkatan kapasitas warga binaa, kemudian disisi warga binaannya, mereka umumnya menghadapi kenyataan bahwa kapasitas berproduksi untuk bisa menghasilkan uang buat memenuhi keperluan pribadi dan keluarga, sangat terbatas dan rendah. Untuk itu, melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini STIMI Banjarmasin berupaya berkontribusi dalam ikut menanggulangi persoalan yang dihadapi masing-masing pihak. Melalui gambar 1 berikut bisa dilihat kerangka pemecahan masalah yang diberikan terhadap persoalan yang ada melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan tim kami ini: Manajemen LPP Klas IIA Martapura Keterbatasan anggaran Keterbatasan personil Warga Binaan LPP Klas IIA Martapura Pendidikan rendah Kapasitas diri rendah Penghasilan rendah Kontribusi TIM PkM STIMI Banjarmasin, melalui: Kerjasama institusi Pelatihan life skills Penelitian utk pengembangan Sharing pendanaan Gambar 1. Kerangka Pemecahan Masalah PELAKSANAAN ABDIMAS Lembaga Pemasyarakatan adalah (Lapa. atau yang menjadi objek kegiatan ini adalah Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Klas IIA Martapura ini khusus Lapas untuk kaum perempuan. Sehingga LPP Klas IIA Martapura ini merupakan tempat pembinaan narapidana atau disebut warga binaan pelaku kriminalitas di dalam menjalani masa Konsep Lembaga Pemasyarakatan sendiri bukan hanya untuk melaksanakan Page | 14 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 No. 2 November 2024 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ hukuman para terpidana, namun juga melakukan tugas yang lebih berat yaitu menyiapkan warga binaan untuk bisa kembali ke dalam masyarakat. Tentunya untuk bisa kembali membaur ke dalam masyarakat para warga binaan harus memiliki pekerjaan untuk bisa memenuhi kebutuhannya secara ekonomi agar mereka tidak kembali terperosok pada perbuatan kriminal. Menurut (Fachrurrozi et al. , 2. tingkat pengangguran yang meningkat akan mengakibatkan meningkatnya kriminalitas, dan mereka yang sudah terperosok dalam kriminalitas akan cenderung enggan dan sulit untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Oleh karenanya Lembaga Pemasyarakatan menyiapkan warga binaannya dengan pembekalan keterampilan, motivasi, dan pengetahuan kewirausahaan agar nantinya ketika membaur kembali kemasyarakat, warga binaan dapat memenuhi kebutuhannya dengan menjadi wirausaha . Menurut UU No. 12 Tahun 1995 pemasyarakatan pasal 2, pemasyarakatan bertujuan untuk membentuk warga binaan pemasyarakatan agar menjadi manusia yang seutuhnya, agar dapat berperan kembali sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Konsep pemasyarakatan sendiri dicetuskan oleh Dr. Saharjo. SH. , pada Dinas Direktorat Pemasyarakatan di Lembang Bandung pada tanggal 27 April Ae 7 Mei 1974. Dengan hasil keputusan bahwa pemasyarakatan sendiri tidak hanya bertujuan semata-mata untuk hukuman pidana penjara, namun merupakan sitstem untuk membina narapidana. LPP Klas IIA Martapura ini memiliki warga binaan atau AupenghuniAy lebih dari 500 orang dengan status masa tahanan diatas 2 . tahun, setelah selesai perkaranya dan telah mendekam di LP Klas I di Kabupaten/Kota se Kalimantan Selatan, baru bisa dipindahkan ke LPP Klas IIA Martapura ini. Selama menjalani dan menghabiskan hari- harinya di LPP ini, narapidana atau warga binaan diberikan berbagai pelatihan dan bekal ketrampilan hidup . ife skill. agar kelak ketika sudah kembali bebas menjadi warga masyarakat kembali, mereka akan bisa menjalani hidup dengan modal ketrampilan yang sudah diberikan selama di LPP ini. Foto 3. Praktek pelatihan pembuatan kue bagi warga binaan Ketrampilan yang diberikan sesuai dengan anggaran dari Kemenkumham yang direncanakan setiap tahun. Itu pun tidak selalu bisa tercapai. Oleh karena itu, pihak manajemen LPP membuka pintu bagi pihak lain . untuk mengisi kegiatan-kegiatan yang sejalan Page | 15 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 No. 2 November 2024 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ dengan visi dan misi LPP. Selain karena anggaran yang terbatas, juga ketersediaan sumber daya manusia yang melatih warga binaan ini sangat terbatas. Sehingga pihak lain yang peduli, diberikan kesempatan untuk sharing pengalaman dan juga ketrampilan pada warga binaan. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh Tim Abdimas STIMI Banjarmasin dengan Ketua Ibu Dr. Titien Agustina. Si. , dilaksanakan pada hari Selasa, 24 Oktober 2024 sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian dari (Aspiannor, 2. Bahwa warga binaan memerlukan pembinaan dan pelatihan yang bisa memberi bekal untuk kehidupan mereka kelak ketika sudah bebas dari LPP ini. METODE PELAKSANAAN Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan melalui metode: observasi lapangan beberapa kali sebelum pelaksanaan kegiatan pelatihan. Kemudian setelah ada kesepakatan jadwal pelaksanaan serta narasumber kegiatan, lalu dijadwalkan kegiatan pelatihan dengan menghadirkan pelatih ibu Yenny sebagai praktisi dan sekaligus wirausaha berhasil di dalam membuat dan menjual berbagai produk kue basah maupun kering. Pelaksanaan pelatihan diberikan oleh instruktur/mentor dari professional, yaitu Ibu Yenni Yuliani yang sudah malang melintang memberikan pelatihan dan juga produksi berbagai macam kue basah dan kue kering di Banjarmasin dengan akun IG: yen_cookies. Baik kue tradisional maupun kue nasional atau pada umumnya. Untuk kesempatan pelatihan kali ini di LPP Klas 2 Martapura ini dan permintaan dari Kasie Kegiatan kerja, ibu Rose Mery Kusuma Dewi. SE. , adalah membuat kue Putri Keraton dan Cake Labu yang peserta pelatihan belum pernah mendapatkannya. Selain itu juga pemilihan jenis produk yang diberikan juga tidak lepas dari rencana tindaklanjut yang diharapkan bagi Rumah Produksi AuWarna PermataAy milik LPP Klas II A Martapura bagi lokasi berlatih dan praktik langsung dalam berproduksi maupun berjualan. Juga dengan pertimbangan bagi warga binaan yang Kembali ke masyarakat akan bisa membuat produk atau kue yang memiliki kualitas tinggi sehingga Ketika mereka berjualan, akan dibeli orang dan memiliki pasar yang Foto 3 & 4. Peserta langsung berpraktek dengan dibimbing instruktur Page | 16 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 No. 2 November 2024 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ Di sela pelatihan dan sambil menunggu kue matang, tim pengabdian masyarakat STIMI Banjarmasin juga melakukan focus group discussion (FGD) dengan warga binaan agar tumbuh pengertian dan pemahaman dalam berproduksi, teknis pemasaran (Putu et al. , 2. melalui berbagai media social serta offline yang dilaksanakan. Serta juga dibimbing dalam membaca peta pasar serta perilaku konsumen yang sering berubah-ubah. Sehingga warga binaan Ketika kelak Kembali ke masyarakat tidak gampang kecewa dengan melihat sikap dan perilaku konsumen yang kadang tidak sesuai dengan harapan. Kegiatan berlangsung dari pukul 09. 30 s. 30 Wita di ruang pelatihan praktek berbagai ketrampilan yang biasanya diberikan di LPP. Apakah untuk pelatihan menjahit, pelatihan membuat kue atau masakah . membuat sasirangan, menyulam atau membordir, dll. Peserta mengikuti dengan antusias dan penuh perhatian dari awal hingga selesai Mereka berharap bisa kembali diberikan pelatihan lainnya agar bisa menambah wawasan dan juga ketrampilan dalam berwirausaha nantinya. Pelatihan serupa ini sangat penting, karena merupakan bentuk pembinaan (Rahardjo & Anwar, 2. juga sekaligus membekali warga binaan dengan pembinaan rohani dan mental, serta kesehatan . lah rag. Agar, walau pun berada di penjara (Lapa. , mereka masih bisa bebas berjalan-jalan di sekitar Lapas. Selain juga bagi beberapa warga binaan yang sudah lama dan rajin akan dipekerjakan dalam berbagai kegiatan produksi. Selain membantu pihak Lapas/LPP dalam mengerjakan produksi makanan dan kuliner lainnya, juga melatih warga binaan dalam mengulang kaji terhadap ketrampilan yang sudah diberikan. Agar mereka mengingatnya dan bisa mengerjakannya sendiri dengan baik dan sesuai standart yang diberikan para mentor atau Ini sangat penting sekali. Pesan Kalapas ketika Tim Abdimas melakukan penjajagan kerjasama dan juga kunjungan lingkungan, adalah agar kepada mereka diberikan teknik membuat kue atau produksi yang paling bagus. Agar ketika mereka berproduksi di luar sana, nantinya, akan ada pembeli yang kontinu membeli produk mereka. Karena bila produk yang dibuat mereka tidak memenuhi standar kualitas terbaik, maka tidak akan laku di pasaran dan konsumen tidak akan membeli Ini akan berakibat mereka akan stress atau pun tidak mau lagi berproduksi. Akibatnya mereka tidak memiliki penghasilan dan disisi lain apabila tidak ada pembeli, maka mereka akan mudah tergoda untuk mencari pekerjaan yang gampang dan imbalan menggiurkan. Dengan demikian pelatihan ini sangat penting untuk membekali (Widiyanto, 2. warga binaan dalam mempersiapkan kebebasan mereka, agar kelak bisa berwirausaha di lingkungan masing-masing. Sehingga warga binaan maupun pihak LPP Klas IIA Martapura ini masih berharap bisa bekerja sama kembali. Pintu terbuka untuk Tim Abdimas STIMI Banjarmasin lainnya di dalam membantu manajemen LPP Klas IIA Martapura di dalam memberikan pembinaan kepada warganya. Kemudian rekomendasi kepada tim abdimas yang lain, baik dari STIMI Banjarmasin maupun dari institusi lainnya, adalah: Berikan pelatihan yang terbaik dalam kualitas yang standar nasional, agar ketika kelak warga binaan memproduksi sendiri mereka tidak kecewa karena tidak ada yang mau membeli produknya. Sambil memberikan pelatihan produksi, juga sambil diselipkan komunikasi dengan pendekatan persuasive terhadap personal warga binaan agar tumbuh kesadaran dan juga pemahaman akan makna kehidupan ini. Bahwa untuk memenuhi kehidupan secara ekonomis, masih banyak jalan halal dan legal yang bisa ditempuh dan bisa menghasilkan Page | 17 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 No. 2 November 2024 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ KESIMPULAN Demikian pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai implementasi dari tridharma perguruan tinggi yang menjadi kewajiban seorang dosen telah memberikan arti penting bagi dosen itu sendiri untuk peduli dengan lingkungan dan orang-orang lain yang tidak Juga bagi pihak manajemen LPP Klas IIA Martapura dalam melakukan kerjasama dan kesempatan membuka peluang pembinaan dari pihak luar. Selain juga bagi warga binaan itu sendiri, kegiatan seperti ini sangat penting untuk meningkatkan capacity building mereka dan juga bekal ketrampilan yang dapat mempersiapkan mereka untuk berwirausaha kelak ketika kembali ke masyarakat. SARAN