Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2024 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 PENGARUH SENAM OSTEOPOROSIS TERHADAP PENURUNAN NYERI SENDI PADA LANSIA Mei Rosenta Rustiyanti. Rima Berlian Putri Program Studi Profesi Ners Institut Tarumanagara 2 Jl. Raya Cilandak KKO No. RT. 1/RW. Ragunan. Ps. Minggu. Kota Jakarta Selatan. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12550 e-mail : meirosenta@gmail. Artikel Diterima : 20 Juli 2024. Direvisi : 17 September 2024. Diterbitkan : 29 September 2024 ABSTRAK Pendahuluan: Aktivitas fisik membantu lansia beraktivitas merupakan salah satu aktivitas yang baik untuk lansia. Jenis olahraga yang efektif untuk lansia, contohnya senam. Senam osteoporosis adalah senam yang bersifat aerobik ringan, latihan kekuatan di kedua tangan, latihan keseimbangan dan latihan pernafasan (Azizah et al. , 2. Tujuan : Tujuan case report ini diharapkan dapat memahami, menjelaskan dan menerapkan praktik berbasis bukti dalam keperawatan professional, setelah dilakukan analisis praktik keperawatan berbasis bukti pengaruh senam osteoporosis terhadap penurunan nyeri sendi pada lansia Di Rumah Sakit Royal Taruma Metode Penelitian: yang digunakan adalah Quasy Experiment khususnya pretestposttest design. Yaitu dengan melakukan observasi sebelum dan sesudah dilakukan intervensi tanpa kelompok kontrol. Terdapat dua kelompok intervensi, yaitu kelompok yang diberikan Senam osteoporosis 4 hari berturut-turut dan dilakukan 2 kali sehari. Hasil: menunjukkan nilai mean nyeri pada kelompok kontrol sebesar 1. 25 (SD=0. , sementara nyeri pada kelompok intervensi yakni pasien lansia yang melakukan senam osteoporosis menunjukkan hasil latihan senam osteoporosis terhadap penurunan nyeri sendi setelah dilakukan intervensi dengan nilai mean sebesar 1. 00 (SD=0. atau rerata tingkat nyeri memiliki perbedaan antara kelompok intervensi dan control sehingga diperoleh nilai p-value . atau kurang dari nilai signifikansi p-value <0. Kesimpulan: ada perbedaan pengaruh latihan senam terhadap penurunan nyeri sendi pada pasien kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada penelitian ini Kata Kunci : lansia, senam osteoporosis, mengurangi nyeri Jurnal Menara Medika Vol 7 No 1 September 2024 | 41 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2024 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 ABSTRACT Background: Physical activity to help the elderly move is one of the activities that is good for the elderly. Types of exercise that are effective for the elderly, for example gymnastics. Osteoporosis exercises are light aerobic exercises, strength training for both hands, balance exercises and breathing exercises (Azizah et al. , 2. Objective: The aim of case report is expected to be able to understand, explain and apply evidence-based practice in professional nursing, after analyzing evidence-based nursing practice on the effect of osteoporosis exercise on reducing joint pain in the elderly at the Royal Trauma Hospital Research Method: design used is Quasy Experiment, especially pretest-posttest design. Namely by conducting observations before and after the intervention without a control group. There were two intervention groups, namely the group given osteoporosis exercises 4 days in a row and carried out 2 times a day. Results: showed that the mean value of pain in the control group was 1. (SD=0. , while pain in the intervention group, namely elderly patients who did osteoporosis exercises, showed the results of osteoporosis exercise training in reducing joint pain after the intervention with a mean value of 1. 00 (SD=0. 000 ) or the mean level of pain has a difference between the intervention and control groups so that a p-value . or less than the significance value of p-value <0. 05 is obtained. Conclusion: There is a difference in the effect of exercise training on reducing joint pain in patients in the intervention group and control group in this study Keywords: elderly, osteoporosis exercise, reducing pain Jurnal Menara Medika Vol 7 No 1 September 2024 | 42 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index PENDAHULUAN Nyeri sendi terjadi karena kartilago yang menebal mulai menipis secara progresif, kartilago berfungsi sebagai bantalan antara tulang dan sendi kartilago yang mulai menipis menyebabkan terjadinya gesekan terus menerus antar ujung tulang penyusun sendi, gesekan berulang ini menyebabkan inflamasi sendi sehingga menimbulkan sensasi nyeri pada sendi. Peningkatan nyeri diiringi dengan hilangnya kemampuan bergerak secara progresif pemilihan terapi yang dilakukan dalam mengatasi nyeri sendi yaitu farmakologi dan (Youngcharoen et al. Penderita nyeri sendi diseluruh dunia Diperkirakan angka ini terus meningkat hingga tahun 2025 dengan indikasi lebih Organisasi dunia (WHO) melaporkan bahwa 20%, penduduk dunia terserang penyakit nyeri sendi. Dimana 510% adalah mereka yang berusia 55 tahun. WHO prevalensi nyeri rematik di beberapa negara Asean adalah, 26. 3% Bangladesh, 18. India, 23. 6- 31. 3% Indonesia, 16. Filipina, dan 14. 9% Vietnam. Prevalensi data menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Prevalensi jumlah penyakit sendi di indonesia pada tahun 2018 menunjukan angka kejadian penderita masalah nyeri sendi di indonesia yang masih tinggi dengan jumlah 713. penduduk Indonesia menderita nyeri sendi, dengan prevalensi tertinggi pertama berada di Aceh dengan prevalensi 13,3%, kedua berada di Bengkulu dengan prevalensi 12,11%, ketiga berada di Bali dengan prevalensi 10,46%, dan prevalensi terendah berada di Sulawesi Barat dengan prevalensi 3,16% (Kemenkes RI, 2. Di DKI Jakarta sendiri penduduk yang mengalami masalah sendi berdasarkan JMM 2024 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 data Dinas Kesehatan DKI Jakarta sekitar 6,76% dengan jumlah penduduk sebanyak 226 penduduk DKI Jakarta terserang penyakit sendi, dengan prevalensi nyeri sendi di Jakarta Timur sekitar 6,72% dengan 088 penduduknya terserang penyakit sendi yang merupakan peringkat ketiga setelah Jakarta Pusat 8,02% dan Jakarta Utara 7,42% (Balitbangkes RI, 2. Berdasarkan data RS. Royal Taruma Jakarta 2024 jumlah lansia yang menderita nyeri sendi dari jumlah total 180 dengan jumlah penderita nyeri sendi terbanyak berada Di Rumah Sakit Royal Taruma sekitar 70%. Lansia mengalami nyeri sendi pada sendi-sendi penahan berat tubuh . angan, pergelangan tangan, kaki, lutut, panggul dan bah. Sebagian besar lansia mengetahui tentang senam osteoporosis pada lansia diadakan Di Rumah Sakit Royal Taruma. Namun lansia jarang melakukan senam lansia tersebut. Karena, belum diterapkannya kegiatan lansia untuk melakukan senam yang bisa dilakukan dalam waktu 1 minggu 2x asalkan ada yang memandu kegiatan tersebut, posyandu saja tidak cukup untuk lansia untuk tahu apa yang diderita lansia tersebut (Dewi, 2. Nyeri sendi pada lansia dibutuhkan penanganan dengan pengolahan aktivitas meningkatkan status fungsional lansia. Dalam mengurangi rasa nyeri sendi serta mencegah penyakit menjadi lebih parah, dapat digunakan metode gerak tubuh yang dikenal dengan senam yoga (Muthia Nanda Sari. Ramadhaniyati, 2. Penurunan luas gerak sendi mengakibatkan kelainan pada Beberapa kelainan akibat penurunan luas sendi yang banyak terjadi antara lain arthritis rheumatoid, gout, pseudogout,dan osteoarthritis (Muladi et al. , 2. Salah satu gejala yang paling sering terjadi pada beberapa kelainan akibat perubahan pada sendi adalah nyeri sendi Lansia sering mengkonsumsi obat untuk mengurangi nyeri Jurnal Menara Medika Vol 7 No 1 September 2024 | 43 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index sendi seperti obat analgesic, dan setelah, dan Nyeri sendi tersebut bila tidak segera ketidaknyamanan sendi menjadi kaku, otototot disekitarnya mengakibatkan Intensitas keseimbangan tubuh, hambatan dalam berjalan, menggangu aktivitas sehari-hari dan resiko jatuh (Listiana, 2. Aktivitas fisik membantu lansia beraktivitas merupakan salah satu aktivitas yang baik untuk lansia. Jenis olahraga yang efektif untuk lansia, contohnya senam. Senam osteoporosis adalah senam yang bersifat aerobik ringan, latihan kekuatan di kedua tangan, latihan keseimbangan dan latihan pernafasan (Azizah et al. , 2. Senam Osteoporosis berfungsi untuk meningkatkan kepadatan tulang dan mencegah pengeroposan tulang sejak dini. Latihan ini berfokus pada kekuatan otot . eningkatkan kelenturan pada lansi. yang dilakukan dengan aman, tanpa gerakan high impact dan gerakan tidak di atas matras yang licin (Wijaya et al. , 2. Senam osteoporosis diberikan sebanyak 12 kali dengan dosis latihan 3x/minggu . elama 4 mingg. , selama 30 menit (Azizah et al. , 2. Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada tanggal 14 Januari 2023, dari pengambilan data awal secara observasi osteoporosis di Rumah Sakit Royal Taruma mengatakan terdapat total 180 jumlah lansia dengan 101 lansia mengalami nyeri sendi. Penulis melakukan wawancara kepada 10 orang lansia menderita nyeri sendi dengan hasil, 4 orang lansia yang mengalami nyeri sendi sedang dengan skala nyeri 4 dan beliau mengatakan selalu minum obat untuk mengilangkan nyeri sendi, dan 2 orang lansia mengalami nyeri sendi ringan dengan menggunakan obat salep seperti balsam untuk mengurangi nyeri sendi. Pada JMM 2024 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 dasarnya di Rumah Sakit Royal Taruma belum mengetahui cara pengobatan nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri sendi dan belum adanya kegiatan osteoporosis dalam program pemeliharaan kesehatan dalam menangani nyeri sendi pada lansia. BAHAN DAN METODE Adapun studi kasus ini menggunakan metode Quasy Experiment khususnya pretest-posttest design. Yaitu dengan melakukan observasi sebelum dan sesudah dilakukan intervensi tanpa kelompok Terdapat dua kelompok intervensi, yaitu kelompok yang diberikan Senam osteoporosis 4 hari berturut-turut dan dilakukan 2 kali sehari. Dengan Kriteria : Lansia berusia >61 Tahun Lansia dengan keluhan nyeri pada daerah sendi. HASIL Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia. Jenis Kelamin dan tingkat nyeri . Karakteristik Responden Usia >55-60 Tahun >61 Tahun Jenis Kelamin Laki_laki Perempuan Tingkat Nyeri Sebelum Intervensi Ringan Berat Tingkat Nyeri Sesudah Intervensi Ringan Berat Jurnal Menara Medika Vol 7 No 1 September 2024 | 44 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index Berdasarkan table 1. distribusi responden pada penelitian ini mayoritas lansia berusia >61 Tahun dan jenis kelamin perempuan dan laki-laki sebesar 50%. Adapun tingkat nyeri pasien lansia sebelum dilakukan intervensi . mayoritas memiliki tingkat nyeri dengan kategori berat sebesar 100% dan tingkat nyeri setelah dilakukan intervensi . dengan kategori ringan sebesar 75%. Tabel 2. Distribusi frekuensi pnyeri sendi pada pasien lansia sebelum dilakukan intervensi . Distrib Pre test Variabel Mea Nyeri Sendi Sebelum Intervensi Ringan Berat Berdasarkan tabel 2. distribusi hasil latihan senam osteoporosis terhadap penurunan nyeri sendi pada pasien lansia sebelum dilakukan intervensi, hasil menunjukkan sebelum dilakukan intervensi tingkat nyeri dengan kategori berat sebesar 100% dengan nilai mean sebesar 2. (SD=0. atau mayoritas lansia sebelum dilakukan intervensi memiliki nyeri sendi HASIL Bivariat Tabel 3. Distribusi frekuensi nyeri sendi pada pasien lansia setelah dilakukan intervensi . Distribus pPost test Valu Variabel Mea Nyeri Sendi Setelah JMM 2024 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Intervens Ringan Berat Berdasarkan tabel 3. distribusi hasil latihan senam osteoporosis terhadap penurunan nyeri sendi pada pasien lansia setelah dilakukan intervensi, hasil menunjukkan sebelum mayoritas responden lansia setelah dilakukan intervensi senam osteoporosis mengalami penurunan nyeri dengan kategorik ringan dan nilai mean 1. (SD=0. serta nilai p-value 0. 015 atau kurang dari nilai signifikansi p-value <0. yang artinya ada pengaruh latihan senam oesteporosis terhadap penurunan nyeri sendi pada pasien lansia. Tabel 4. Distribusi perbedaan nyeri sendi pada pasien lansia kelompok control dan intervensi . Variab Kelompok Kelompok Pel Intervensi Kontrol Valu Mea SD Mea SD Nyeri Sendi Berdasarkan tabel 4. hasil distribusi perbedaan nyeri pada kelompok control dan intervensi. Hasil menunjukkan nilai mean nyeri pada kelompok control sebesar 1. 25 (SD=0. sementara nyeri pada kelompok intervensi yakni pasien lansia yang melakukan senam osteoporosis menunjukkan hasil latihan senam osteoporosis terhadap penurunan nyeri sendi setelah dilakukan intervensi dengan nilai mean sebesar 1. 00 (SD=0. atau rerata tingkat nyeri memiliki perbedaan antara kelompok intervensi dan control sehingga diperoleh nilai p-value . atau kurang dari nilai signifikansi p-value <0. yang artinya ada perbedaan pengaruh latihan Jurnal Menara Medika Vol 7 No 1 September 2024 | 45 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index senam terhadap penurunan nyeri sendi pada pasien kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada penelitian ini PEMBAHASAN Menunjukkan distribusi responden pada penelitian ini mayoritas lansia berusia >61 Tahun dan jenis kelamin perempuan dan laki-laki sebesar 50%. Adapun tingkat nyeri pasien lansia sebelum dilakukan intervensi . mayoritas memiliki tingkat nyeri dengan kategori berat sebesar 100% dan tingkat nyeri setelah dilakukan intervensi . dengan kategori ringan sebesar 75%. Lansia mengalami massa menopause terutama pada perempuan. Perubahan musculoskeletal pada lansia mempengaruhi kekuatan otot dan kontraksi otot, elastisitas dan fleksibilitas otot serta kecepatan dan waktu reaksi. Penurunan musculoskeletal pada lansia laki-laki dan lansia perempuan sangat berbeda. Penurunan kekuatan tangan 5- 15%, kekuatan kaki 20-40% pada lakilaki sedangkan pada perempuan kekuatan tangan 10-20% dan kekuatan kaki 30-50% (Lupa et al. , 2. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa rentan umur sampel adalah berkisar 50 tahun Ae 80 tahun. Hal ini sesuai dengan Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organizatio. menyebutkan bahwa menopause terjadi pada wanita yang berusia di atas 50 tahun. Umamah. F et al, . mengatakan bahwa usia 41-50 tahun wanita menopause banyak mengalami penurunan kemampuan, baik kemampuan fisik maupun kemampuan intelektual. Hal tersebut disebabkan penurunan drastis kadar estrogen berpengaruh terhadap keseimbangan wanita pascamenopause (Umamah & Rahman. Pada tabel di atas juga didapatkan bahwa mayoritas sampel berada pada rentan usia 60 Ae 70 tahun. Penelitian sebelumnya mengenai identifikasi risiko jatuh pada JMM 2024 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 lanjut usia menyatakan bahwa lansia berusia 60 tahun dan yang lebih tua memiliki risiko tinggi akibat gangguan keseimbangan (Chaudhuri et al. , 2. Berkurangnya hormon esterogen pada lansia perempuan menyebabkan tulang kehilangan kalsium dan metabolisme serta reabsorsi nutrien yang kurang efektif. Penurunan kekuatan otot pada lansia ekstermitas bawah sehingga menyebabkan gangguan keseimbangan statis dan dinamis terutama pada saat berjalan (Mustafa. Thanaya. , . dan Lupa. Hasil menunjukkan nilai mean nyeri pada kelompok control sebesar 1. (SD=0. kelompok intervensi yakni pasien lansia yang melakukan senam osteoporosis osteoporosis terhadap penurunan nyeri sendi setelah dilakukan intervensi dengan nilai mean sebesar 1. 00 (SD=0. atau rerata tingkat nyeri memiliki perbedaan antara kelompok intervensi dan control sehingga diperoleh nilai p-value . atau kurang dari nilai signifikansi p-value <0. 05 yang artinya ada perbedaan pengaruh latihan senam terhadap penurunan nyeri sendi pada pasien kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada penelitian ini. Hal ini juga sejalan dengan apa yang ditegaskan dalam Public Health Reports, . osteoporosis juga dapat menjaga postur tubuh, meningkatkan keseimbngan, menjaga kelenturan dan pergerakan otot. Kontraksi otot yang berulang akan menstimulus kontrol saraf motorik dan sensorik. Selanjutnya akan menyebabkan otot mengalami hipertropi yang mengakibatkan terjadinya penambahan diameter otot. Peningkatan kekuatan otot juga disebabkan perubahan biokimia otot yaitu peningkatan konsentrasi kreatin, peningkatan konsentrasi Jurnal Menara Medika Vol 7 No 1 September 2024 | 46 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index kreatin fosfat dan ATP dan peningkatan kemampuan sistem metabolik aerob dan anaerob yang dapat meningkatkan energi dan kekuatan otot. Ketika kekuatan otot meningkat, maka akan menjaga posisi tubuh dalam keadaan stabil sehingga dapat meningkatkan keseimbangan (Kisner et al. Penurunan kekuatan otot pada lansia akan menyebabkan lansia mengalami penurunan kemampuan fungsional seperti kemampuan mobilitas lansia, kecepatan berjalan, dan keseimbangan. Peran otot quadriceps sebagai stabilisator pada sendi lutut dan berperan dalam pergerakan pada sendi lutut yaitu gerakan ekstensi knee yang Penurunan kekuatan otot quadriceps akan fungsional lansia. Berkurangnya kekuatan otot quadriceps, berkurangnya panjang (Mahardika et al. , 2. Menurut Evidence base nurse (EBN) senam memiliki banyak manfaat bagi tubuh Wanita pascamenopause banyak mengalami gangguan fisik dan psikis. Penurunan kadar estrogen menyebabkan tingginya resiko pengeroposan tulang yang dapat mempengaruhi keseimbangan karena berkurangnya kekuatan otot dan lingkup gerak sendi akibat osteoporosis serta akibat adanya penurunan fungsi motorik dan senam dapat berpengaruh baik terhadap keseimbangan karena senam meningkatkan aktifitas oteoblastik sehingga mengurangi pengeroposan pada tulang. Selain itu, stretching pada senam menyebabkan otot menjadi lentur serta meningkatkan cairan synovial sehingga persendian akan licin dan mencegah cedera pada wanita menopause. Adapun dalam meningkatkan kebugaran jasmani . ood physical fitnes. terdiri dari beberapa unsur. JMM 2024 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 yaitu : kekuatan otot, kelenturan persendian, kelincahan gerak, keluwesan. Cardivascular fitness, dan Neuromuscular fitness KESIMPULAN DAN SARAN Hasil Latihan senam osteoporosis Mayoritas lansia berusia >61 Tahun dan jenis kelamin perempuan dan laki-laki sebesar 50%. Adapun tingkat nyeri pasien lansia sebelum dilakukan intervensi . mayoritas memiliki tingkat nyeri dengan kategori berat sebesar 100% dan tingkat nyeri setelah dilakukan intervensi . dengan kategori ringan sebesar 75%. Hasil latihan senam osteoporosis terhadap penurunan nyeri sendi pada pasien lansia sebelum dilakukan intervensi, hasil menunjukkan sebelum dilakukan intervensi tingkat nyeri dengan kategorik berat sebesar 100% dengan nilai mean sebesar 2. (SD=0. atau mayoritas lansia sebelum dilakukan intervensi memiliki nyeri sendi Hasil latihan senam osteoporosis terhadap penurunan nyeri sendi pada pasien lansia setelah dilakukan intervensi, hasil menunjukkan sebelum mayoritas responden lansia setelah dilakukan intervensi senam osteoporosis mengalami penurunan nyeri dengan kategorik ringan dan nilai mean 1. (SD=0. serta nilai p-value 0. 015 atau kurang dari nilai signifikansi p-value <0. yang artinya ada pengaruh latihan senam oesteporosis terhadap penurunan nyeri sendi pada pasien lansia. Hasil menunjukkan nilai mean nyeri pada kelompok control sebesar 1. (SD=0. kelompok intervensi yakni pasien lansia yang melakukan senam osteoporosis osteoporosis terhadap penurunan nyeri sendi setelah dilakukan intervensi dengan nilai mean sebesar 1. 00 (SD=0. atau rerata tingkat nyeri memiliki perbedaan antara Jurnal Menara Medika Vol 7 No 1 September 2024 | 47 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2024 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 kelompok intervensi dan control sehingga diperoleh nilai p-value . atau kurang dari nilai signifikansi p-value <0. 05 yang artinya ada perbedaan pengaruh latihan senam terhadap penurunan nyeri sendi pada pasien kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada penelitian ini. Pengaruh Senam Osteoporosis Terhadap Keseimbangan Pada Wanita Pascamenopause. Indonesian Jurnal of Health Development, 2. , 1-6 Saran Hasil studi kasus ini diharapkan bagi pihak Pendidikan Kesehatan penelitian ini dapat dijadikan sebuah bahan referensi penelitian yang selanjutnya. Hasil studi kasus ini diharapkan bagi pelayanan kesehatan dapat melanjutkan intervensi senam osteoporosis terhadap penurunan nyeri sendi secara rutin yaitu kali dalam seminggu dan dilakukan dipagi sehingga kesehatan lansia lebih optimal. Hasil studi kasus ini diharapkan bagi menambahkan jumlah sampel yang lebih besar dengan rancangan Two Group PretestPosttest Design agar penelitian menjadi berbeda sehingga dapat memperkaya ilmu KEPUSTAKAAN