Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume. Nomor. 4 Agustus 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Tersedia: https://journal. id/index. php/jbpai Fake Smile Perspektif Hadis Fathul Alwan Subandi1*. Masrukhin Muhsin2 Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Indonesia Email: 211370064. fathul@uinbanten. Alamat: Jalan Jendral Sudirman No. 30 Panancangan Cipocok Jaya. Sumurpecung. Kec. Serang. Kota Serang. Banten 42118 *Korespondensi penulis Abstract. The phenomenon of the fake smile has become increasingly visible in the digital era, especially through social media platforms. Such expressions are often used to mask genuine emotions such as sadness, psychological pressure, or fatigue. This study examines how the Prophetic traditions . address this phenomenon in relation to sincerity, ethical conduct, and emotional balance. Three research questions are posed: . whether uadth encourage sincerity in smiling as an act of worship, . how fake smiles are situated within Islamic ethical perspectives, and . to what extent uadth provide guidance for this issue in contemporary contexts. The study applies a qualitative method, employing library research and thematic analysis of uadth . Primary data are drawn from authoritative uadth collections, while secondary sources include tafsr, classical and modern commentaries, as well as psychological literature. The findings reveal that smiling is framed as a charitable act requiring sincerity. A fake smile intended to preserve harmony may still be valued positively, but one used for manipulation or to conceal hostility conflicts with the principle of truthfulness . and approaches hypocrisy . The ProphetAos balanced expressions affirm the need for sincerity in social interaction. Keywords: Fake Smile. Hadith. Smile. Sincerity. Ethics. Abstrak. Fenomena senyum palsu . ake smil. semakin menonjol di era digital, terutama melalui media sosial. Ekspresi ini kerap dipakai untuk menutupi kondisi batin yang sesungguhnya, seperti kesedihan, tekanan psikologis, maupun kelelahan emosional. Penelitian ini berupaya mengkaji bagaimana hadis Nabi Muhammad SAW memandang fenomena tersebut dalam kaitannya dengan kejujuran, akhlak, serta keseimbangan emosional. Pertanyaan yang diajukan mencakup: . apakah hadis mendorong ketulusan dalam senyum sebagai bentuk . bagaimana posisi senyum palsu ditinjau dari etika Islam. sejauh mana hadis dapat memberikan jawaban bagi persoalan ini pada konteks kekinian. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif melalui studi kepustakaan . ibrary researc. dengan analisis tematik hadis . Sumber primer berasal dari kitab hadis otoritatif, sedangkan sumber sekunder mencakup tafsir, syarah hadis, dan literatur psikologi modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyum dipandang sebagai ibadah bernilai sedekah yang mensyaratkan Senyum palsu yang dimaksudkan menjaga keharmonisan sosial masih dapat bernilai positif, namun ekspresi yang digunakan untuk manipulasi atau menutupi kebencian bertentangan dengan prinsip kejujuran . dan dekat dengan sifat nifaq. Rasulullah SAW menampilkan keseimbangan emosional dalam ekspresi, menegaskan pentingnya ketulusan dalam interaksi sosial Kata kunci: Fake Smile. Hadis. Senyum. Keikhlasan, akhlak. LATAR BELAKANG Fenomena fake smile atau senyum palsu menjadi bagian dari budaya sosial yang kian marak, terutama di era digital dan media sosial. Banyak individu merasa terdorong untuk menampilkan kebahagiaan secara visual, meskipun di balik layar mereka tengah menghadapi tekanan psikologis, kelelahan emosional, atau bahkan krisis batin. Ungkapan seperti aku harus tetap terlihat kuat, atau senyum meskipun hati menangis menjadi representasi dari budaya toxic positivity, yakni memaksakan emosi positif dan menolak emosi negatif secara tidak sehat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran, karena bisa menyebabkan individu merasa terasing dari Naskah Masuk: Juli 14, 2025. Revisi: Juli 20, 2025. Diterima: Agustus 21, 2025. Tersedia: Agustus 29, 2025. Terbit: Agustus 29, 2025 Fake Smile Perspektif Hadis perasaannya sendiri, kehilangan kejujuran emosional, bahkan berdampak pada kesehatan Dalam konteks Islam, ekspresi emosi bukanlah sesuatu yang ditolak atau ditabukan. Nabi Muhammad sebagai teladan utama dalam ajaran Islam, memperlihatkan berbagai bentuk ekspresi emosional secara manusiawi, baik dalam bentuk senyum, tangis, marah, kecewa, bahkan kesedihan yang mendalam. Hadis-hadis Nabi banyak merekam momen-momen ketika beliau menangis atas wafatnya orang yang dicintai, bersedih karena penolakan dakwah, ataupun tersenyum kepada sahabat sebagai bentuk kasih sayang dan ketenangan hati. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan emosional, bukan kepalsuan atau penyangkalan terhadap perasaan. Namun, dalam praktik sosial keagamaan hari ini, sebagian orang menafsirkan kesabaran dan keikhlasan sebagai kewajiban untuk selalu tampak bahagia, bahkan jika itu berarti harus menyembunyikan atau memendam luka batin. Akibatnya, kejujuran emosional menjadi terabaikan, dan hadis-hadis yang merekam sisi manusiawi Nabi muhammad dalam mengekspresikan perasaan kurang mendapat sorotan. Melihat realitas tersebut, penting untuk mengkaji kembali bagaimana pandangan Islam terhadap ekspresi emosi, terutama melalui pendekatan hadis tematik . audhuAo. Penelitian ini berupaya mengeksplorasi bagaimana Rasulullah mengekspresikan emosinya secara jujur dan proporsional, serta bagaimana ajaran Islam melalui hadis memandu umat dalam bersikap terhadap perasaan mereka sendiri maupun terhadap orang lain. Dengan demikian, diharapkan kajian ini dapat memberikan kontribusi dalam membangun pemahaman yang lebih sehat tentang emosi, baik dalam perspektif keislaman maupun kehidupan sosial kontemporer. HASIL PEMBAHASAN Fenomena fake smile yang berkembang diera modern memperlihatkan adanya kesenjangan antara ekspresi lahiriah dan kondisi batiniah seseorang. Dari kajian hadis, senyum diposisikan sebagai amal ibadah yang bernilai sedekah, dengan syarat dilakukan secara tulus dan dilandasi niat yang baik. Rasulullah adalah teladan yang memperlihatkan keseimbangan beliau tidak hanya tersenyum, tetapi juga mengekspresikan kesedihan, tangis, dan marah dalam konteks yang proporsional. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mendorong kejujuran emosional, bukan pemaksaan ekspresi positif yang menyalahi keadaan batin. Dalam perspektif hadis, terdapat beberapa dimensi penting terkait dengan fenomena fake smile. Senyum bernilai ibadah Hadis tentang senyum sebagai sedekah menegaskan bahwa ekspresi positif dapat menjadi amal, selama tulus dan tidak dimaksudkan untuk menipu. Ulama JBPAI - VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. seperti al-MubArakfr memperluas makna sedekah sehingga mencakup kebaikan non-material seperti senyum ramah. Senyum sebagai penahan amarah Hadis tentang keutamaan menahan emosi menunjukkan bahwa ekspresi wajah yang ramah, meski terpaksa, dapat bernilai positif jika tujuannya untuk mencegah konflik. Dengan demikian, fake smile bisa memiliki sisi maslahat, asalkan tidak dipakai untuk manipulasi. Bahaya kepura-puraan Hadis mengenai sifat munafik mengingatkan bahwa senyum palsu yang bertujuan menipu atau menyembunyikan kebencian berpotensi masuk ke dalam kategori nifaq . epura-puraa. Wajah cerah sebagai kebaikan sederhana Hadis riwayat Muslim tentang Aumenyambut dengan wajah cerah, menunjukkan pentingnya ketulusan dalam interaksi sosial. Ulama seperti al-Nawaw dan Ibn ajar menekankan bahwa amal kecil seperti senyum ramah tidak boleh diremehkan. Senyum Nabi muhamad penuh kasih Riwayat al-Tirmi tentang kebiasaan Rasulullah tersenyum menggambarkan bahwa ekspresi beliau lahir dari kelembutan hati, bukan dari kepura-puraan. Kejujuran sebagai dasar ekspresi Ae Hadis tentang keutamaan idq . mengingatkan bahwa setiap ekspresi lahiriah sebaiknya sesuai dengan kondisi batiniah. Fake smile yang menipu bertentangan dengan nilai kejujuran dalam Islam. Dari perspektif kontemporer, psikologi modern menegaskan bahwa senyum palsu dapat menyebabkan kelelahan emosional . motional dissonanc. , penurunan kesehatan mental, serta melemahkan kejujuran sosial. Namun, ketika fake smile dilakukan untuk menjaga suasana atau mencegah keretakan hubungan, ia bisa berfungsi sebagai strategi adaptif. Hal ini sejalan dengan prinsip moderasi dalam Islam, di mana ekspresi emosional diarahkan untuk kemaslahatan, tanpa kehilangan kejujuran hatipenjelasan tentang ekspresi wajah, kejujuran, dan akhlak sosial dalam Islam. Analisis data dilakukan dengan pendekatan tematik . , yakni menghimpun hadis-hadis terkait, mengklasifikasikannya berdasarkan substansi makna, lalu menafsirkannya dengan memadukan pandangan ulama klasik dan modern. Dengan cara ini, penelitian berupaya menghadirkan pemahaman yang utuh mengenai nilai senyum, baik tulus maupun palsu, dalam perspektif hadis (Sugiyono, 2017. al-Farmawi, 1977. al-Ghazali. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian kepustakaan . ibrary researc. , yakni menelaah literatur primer dan sekunder yang relevan dengan tema senyum dalam hadis serta fenomena fake smile dalam kajian kontemporer. Data primer diperoleh dari kitab-kitab hadis seperti auu al-BukhAr, auu Muslim, dan Sunan al-Tirmidzi. Sedangkan data sekunder berupa literatur psikologi, tafsir, dan karya ulama kontemporer yang Fake Smile Perspektif Hadis memberikan penjelasan tentang ekspresi wajah, kejujuran, dan akhlak sosial dalam Islam. Analisis data dilakukan dengan pendekatan tematik . , yakni menghimpun hadis-hadis terkait, mengklasifikasikannya berdasarkan substansi makna, lalu menafsirkannya dengan memadukan pandangan ulama klasik dan modern. Dengan cara ini, penelitian berupaya menghadirkan pemahaman yang utuh mengenai nilai senyum, baik tulus maupun palsu, dalam perspektif hadis (Sugiyono, 2017. al-Farmawi, 1977. al-Ghazali, 1. PEMBAHASAN Senyum bagian dari Sedekah Senyum bukan hanya sekadar gerakan otot wajah, melainkan simbol keramahan, penerimaan, dan penghargaan terhadap orang lain. Dalam perspektif psikologi sosial, senyum mampu menumbuhkan rasa aman, meningkatkan ikatan emosional, serta mengurangi ketegangan dalam interaksi. Sementara itu, dalam pandangan Islam, senyum tidak hanya bernilai sebagai etika sosial, melainkan juga dipandang sebagai bentuk ibadah yang mendatangkan pahala. Dengan demikian. Islam memandang senyum sebagai salah satu amal saleh yang dapat dilakukan oleh setiap orang tanpa memandang status sosial maupun kemampuan ekonomi. aCaA ca A a aA a aA aIEa AaO aO e aN aa OEa EaEA Artinya: senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah. (HR. al-Tirmidzi Jld 3. P 506. No 1. Senyum dalam Islam bukan hanya ekspresi emosional, tetapi juga bagian dari etika sosial yang bernilai ibadah. Rasulullah menjadikan senyum sebagai bentuk sedekah, yang berarti setiap kali seorang Muslim menampilkan senyum kepada saudaranya, ia sedang memberikan kebaikan yang dicatat sebagai amal. Oleh karena itu, senyum yang dianjurkan hadis tidak sekadar gerakan bibir, tetapi harus berangkat dari ketulusan hati. Senyum dalam ajaran Islam memiliki dimensi spiritual, sosial, dan psikologis yang mendalam bukan sekadar gestur wajah, melainkan cerminan ketulusan hati dan akhlak mulia. makna sedekah di sini diperluas oleh para ulama seperti Abu AoAla al-Mubarakfuri bahwa sedekah tidak selalu berupa materi, tetapi juga bisa bersifat non-materi seperti senyum yang menebar kasih dan kedamaian Hadis ini menjadi dasar bahwa senyum dalam Islam bernilai ibadah. Dengan demikian, fake smile yang diniatkan untuk menjaga ukhuwah masih dapat memiliki nilai kebaikan selama tidak disertai niat buruk. JBPAI - VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Keutamaan Menahan Amarah dengan Wajah Ramah Fenomena fake smile yang marak dalam kehidupan modern menarik untuk dikaji dalam perspektif hadis. Dalam pandangan psikologi, senyum palsu biasanya muncul karena tuntutan sosial, kebutuhan menjaga hubungan baik, atau keinginan untuk menyembunyikan emosi Jika dilihat dari sudut pandang hadis, senyum seperti ini memiliki dua kemungkinan Di satu sisi, fake smile dapat dipandang sebagai perilaku positif ketika tujuannya menjaga perasaan orang lain, meredakan suasana tegang, atau mencegah pertengkaran. Sikap ini sejalan dengan prinsip uilm . abar dan menahan emos. yang banyak dicontohkan oleh Nabi muhamad Misalnya, ketika menghadapi orang yang kasar. Rasulullah lebih memilih untuk membalas dengan kelembutan, seringkali dengan senyum yang menenangkan. ca A auIac aI EAUa ca Ae EA ca AaOa aEA a AA a aANa a eIa eEA a AA aA a AaOa EacaO Oa eI aEEa Ia eAA a AEaOA Artinya: Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan orang yang mampu menahan dirinya ketika marah. Ay (HR. Bukhari No 6. Hadis tersebut menekankan bahwa kekuatan sejati seorang Muslim terletak pada kemampuannya mengendalikan diri ketika marah. Dalam kehidupan sosial, sering kali seseorang menghadapi situasi yang memicu emosi negatif, baik berupa kekecewaan, rasa tersinggung, atau konflik dengan orang lain. Pada kondisi seperti ini, tidak sedikit orang yang memilih untuk menutupi kemarahan dengan senyuman yang dalam istilah modern disebut fake smile . enyum pals. Di satu sisi, fake smile bisa dianggap sebagai bentuk pengendalian diri sementara. Daripada meluapkan emosi dengan kata-kata kasar atau sikap agresif, seseorang memilih untuk tersenyum, meskipun hatinya sedang marah. Dari perspektif akhlak Islam, hal ini dapat dinilai sebagai langkah positif, karena ia tidak membiarkan amarahnya meledak dan menyakiti orang Dalam konteks inilah, hadis tersebut memiliki keterkaitan: menahan marah bisa berarti menyalurkan emosi secara lebih tenang, salah satunya melalui ekspresi senyum, meskipun tidak sepenuhnya tulus. Senyum dalam kondisi ini, meskipun tampak palsu, tetap bernilai positif karena mencegah pertengkaran. Larangan Bersikap Munafik Namun, di sisi lain, fake smile bisa bernilai negatif jika digunakan untuk kepentingan Senyum yang ditampilkan dengan maksud menipu atau menyembunyikan kebencian bertentangan dengan nilai kejujuran yang sangat ditekankan dalam hadis. Rasulullah memperingatkan tentang tanda-tanda orang munafik, yakni ketidakselarasan antara yang tampak di luar dan isi hati yang sebenarnya. Dalam konteks ini, senyum palsu menjadi simbol Fake Smile Perspektif Hadis kepura-puraan yang tidak hanya merusak integritas pribadi, tetapi juga mengganggu kepercayaan sosial. a Auaa aA: AC a aaEA aA aOuaa e aIa Ia aIAUa a A aOuaa aOAUAA a ac aEA a a a eEA a aAOaa eE aIIa Artinya: Rasulullah bersabda: Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat. Ay (HR. Bukhari No 6. Hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh al-BukhAr dan Muslim ini menjelaskan tanda-tanda orang munafik, yaitu: berbohong ketika berbicara, mengingkari janji, dan berkhianat ketika diberi amanah. Hadis ini bukan sekadar gambaran umum, melainkan peringatan serius bahwa sifat kemunafikan merusak integritas pribadi sekaligus merusak tatanan sosial. Senyum, dalam ajaran Islam, dipandang sebagai sedekah dan tanda keramahan hati. Namun, ketika senyum digunakan sebagai kedok untuk menutupi kebohongan atau menyembunyikan niat buruk, maka senyum tersebut bisa menjadi bagian dari praktik Senyum yang seolah ramah, tetapi disertai kebohongan dalam ucapan, ingkar dalam janji, atau pengkhianatan dalam tindakan, adalah wujud ketidaksesuaian antara ekspresi lahiriah dan kondisi batin. Dalam konteks sosial, fake smile bisa bersifat netral jika digunakan sekadar untuk menjaga etika komunikasi, misalnya demi meredam konflik atau menjaga suasana tetap tenang. Akan tetapi, bila senyum palsu dipakai untuk menutupi sifat nifaq seperti berpura-pura jujur padahal berdusta, atau berpura-pura ramah padahal sedang merencanakan pengkhianatan maka hal itu sejalan dengan tanda-tanda kemunafikan yang digambarkan Nabi. Oleh sebab itu, hadis ini menjadi peringatan bahwa seorang Muslim tidak cukup menampilkan wajah ceria secara lahiriah, melainkan harus menumbuhkan ketulusan dalam Senyum yang bernilai ibadah adalah senyum yang lahir dari kejujuran, bukan dari kepalsuan yang menutupi kebohongan atau pengkhianatan. Dengan demikian, fake smile bisa menjadi cermin kecil dari kemunafikan bila digunakan untuk menipu, tetapi dapat pula menjadi alat pengendalian diri bila disertai niat menjaga perdamaian sembari melatih kesabaran. Larangan Menampakkan Wajah yang Menyakiti Senyum merupakan ekspresi sederhana yang sering kali dianggap remeh, namun memiliki dampak besar dalam kehidupan sosial manusia. Dalam interaksi sehari-hari, senyum berperan sebagai tanda keramahan, penerimaan, serta bentuk penghargaan terhadap kehadiran orang lain. Psikologi modern menyebut bahwa senyum bukan hanya sarana komunikasi nonverbal, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional, menumbuhkan rasa nyaman, dan mempererat hubungan interpersonal. Namun, dalam perspektif Islam, senyum bukan sematamata ekspresi sosial, melainkan juga memiliki nilai spiritual yang tinggi. JBPAI - VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Nabi Muhammad dikenal sebagai sosok yang penuh kasih sayang, rendah hati, dan dekat dengan umatnya. Salah satu perilaku yang paling menonjol dari beliau adalah senyumnya yang Berbagai riwayat hadis menggambarkan bahwa senyum Nabi muhamad bukanlah senyum yang dibuat-buat, melainkan pancaran dari hati yang penuh rahmah. Hal ini menunjukkan bahwa senyum dalam Islam tidak hanya bernilai etis, tetapi juga ibadah yang dapat mendatangkan pahala. a A eOU aOEa eO a eI eaECaO aaEa a aO eNA A eECA a aE a eC aa acI Ia Ia eE aI e aOAA Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini menekankan pentingnya memperhatikan hal-hal kecil dalam interaksi sosial, yang pada hakikatnya memiliki nilai besar di sisi Allah Ungkapan Nabi muhamad SAW. Artinya: Jangan sekali-kali meremehkan kebaikan, meskipun hanya dengan menemui saudaramu dengan wajah yang cerah, (HR Muslim No 2. Hmengandung pesan bahwa kebaikan tidak harus diwujudkan dalam bentuk materi atau tindakan besar. Senyum yang tulus, atau sekadar menampakkan wajah ramah, termasuk amal saleh yang memiliki nilai spiritual tinggi. Para ulama menjelaskan bahwa wajah cerah yang dimaksud adalah ekspresi ketulusan, keramahan, dan kasih sayang kepada sesama. Al-Nawawi dalam Syaru auu Muslim menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan luasnya cakupan amal kebaikan, sehingga setiap perbuatan positif, meski tampak sederhana, tidak boleh diremehkan. Menurut beliau, senyum dan wajah ramah dapat menumbuhkan kasih sayang, memelihara ukhuwah, serta menghapus benih kebencian di hati orang lain . l-Nawawi. Syaru auu Muslim, juz 16, hlm. Dalam konteks modern, pesan hadis ini menjadi sangat relevan ketika dikaitkan dengan fenomena fake smile. Senyum yang benar-benar bernilai ibadah adalah senyum yang tulus lahir dari hati. Jika senyum dilakukan sekadar formalitas atau dengan maksud menyakiti, maka esensi yang dikehendaki hadis tidak tercapai. Ibn ajar al-AoAsqalAn dalam Fatu al-BAr juga menegaskan bahwa amal kebaikan tidak boleh dianggap remeh, sebab terkadang perbuatan kecil dapat membuka pintu rahmat Allah yang luas. Dengan demikian, menunjukkan wajah ramah menjadi bagian dari akhlak islami yang harus dipelihara, bukan semata etika sosial, melainkan ibadah yang mengandung pahala. Dari perspektif sosiologis, hadis ini juga dapat dimaknai sebagai landasan untuk membangun positive interaction di tengah masyarakat. Wajah yang cerah membawa dampak psikologis bagi orang lain, menumbuhkan optimisme, dan menenangkan jiwa. Karena itu, larangan menampakkan wajah yang menyakiti menunjukkan bahwa Islam sangat peduli pada detail-detail interaksi sosial yang memengaruhi keharmonisan umat. Fake Smile Perspektif Hadis Rasulullah adalah Orang yang Banyak Tersenyum Senyum merupakan bahasa universal yang mampu melampaui sekat budaya, bahasa, bahkan status sosial. Dalam kehidupan manusia, senyum sering dipandang sebagai simbol keramahan dan tanda keterbukaan hati. Namun. Islam memberikan dimensi yang lebih dalam terhadap makna senyum. Ia tidak sekadar ekspresi wajah, tetapi juga bagian dari akhlak mulia yang mencerminkan kebeningan jiwa serta kepedulian terhadap orang lain. Di antara teladan yang paling nyata dalam hal ini adalah Rasulullah Riwayat-riwayat yang sampai kepada kita menegaskan bahwa beliau dikenal sebagai sosok yang ramah, penuh kasih, dan dekat dengan Senyum beliau bukanlah sekadar basa-basi sosial, melainkan pancaran ketulusan hati yang menumbuhkan rasa tenteram bagi siapa pun yang melihatnya. Oleh sebab itu, senyum Nabi dipahami tidak hanya sebagai tindakan sederhana, tetapi juga sebagai wujud nyata dari akhlak kenabian yang luhur. AEac aIA ca aOea a aU a eE a a a aA a A UI Ia eI aA a AO aEA a aEacO EEA a AEa eO aN aOA a AEEA Riwayat dari AoAbdullAh bin al-Arith yang menegaskan. Artinya:AuAku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah (HR. al-Tirmi Jld 6. P 30. No 3. Memberikan gambaran tentang karakter Nabi sebagai pribadi yang lembut, penuh kasih sayang, dan memiliki wajah ramah yang selalu menebarkan ketenangan. Hadis ini menunjukkan bahwa senyum beliau bukanlah sebatas ekspresi fisik, melainkan cerminan ketulusan hati yang dipenuhi rahmat . Imam al-MubArakfr dalam Tuufat al-Auwadz bi-Syaru JAmiAo al-Tirmi menjelaskan bahwa kebiasaan Nabi tersenyum merupakan bagian dari akhlak luhur beliau yang membuat sahabat merasa dekat, dihargai, dan tidak berjarak. Senyum beliau bukan senyum basa-basi atau dibuat-buat, tetapi lahir dari kelapangan hati dan kelembutan jiwa. Karena itu, ia membawa pengaruh besar dalam menciptakan kenyamanan psikologis dan memperkuat ikatan ukhuwah di tengah masyarakat . l-MubArakfr. Tuufat al-Auwadz, juz 10, hlm. Perbedaan mendasar antara senyum Nabi dengan fake smile terletak pada niat dan Senyum beliau lahir dari keikhlasan untuk menebarkan kedamaian dan kasih sayang, sedangkan senyum palsu biasanya digunakan sebagai topeng sosial untuk menutupi perasaan yang berlawanan, seperti kebencian, kejengkelan, atau ketidaknyamanan. Ibn ajar alAoAsqalAn menegaskan bahwa kebiasaan Nabi tersenyum adalah tanda sifat rendah hati . awAsuA. beliau, serta metode dakwah yang halus untuk menyentuh hati para sahabat dan orang-orang di sekitarnya (Fatu al-BAr, juz 10, hlm. Dari perspektif kontemporer. JBPAI - VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. psikologi komunikasi menilai senyum tulus mampu menurunkan ketegangan sosial dan meningkatkan kualitas hubungan antarindividu. Hal ini selaras dengan prinsip akhlak Nabi di mana senyum dijadikan medium membangun iklim sosial yang harmonis. Dengan demikian, hadis ini menjadi bukti nyata bahwa Islam tidak sekadar mengatur aspek ibadah formal, tetapi juga memperhatikan dimensi psikologis dan sosial yang sangat halus. Senyum Nabi kepada Jarir bin Abdullah Hubungan antara pemimpin dan pengikut dalam Islam tidak hanya dibangun atas dasar aturan formal, tetapi juga dilandasi oleh kehangatan, kepedulian, dan penghormatan. Rasulullah sebagai pemimpin umat menampilkan teladan agung bagaimana hubungan itu harus dijaga dengan kelembutan dan kasih sayang. Salah satu bentuk nyata dari akhlak beliau adalah sikap ramah dan senyum tulus yang diberikan kepada para sahabatnya. Senyum tersebut bukanlah sekadar gerak wajah, tetapi simbol penerimaan dan penghargaan terhadap orang lain, sehingga melahirkan rasa aman, tenteram, dan kedekatan emosional. Dalam banyak riwayat, sahabat-sahabat Nabi menceritakan pengalaman pribadi mereka yang menunjukkan betapa beliau selalu menghadirkan wajah yang berseri. Senyum beliau bukanlah senyum artifisial yang digunakan sebagai strategi sosial, melainkan lahir dari ketulusan hati dan kasih sayang yang mendalam terhadap umatnya. Hal ini menjadikan senyum Nabi sebagai bagian dari akhlak mulia yang patut diteladani dalam membangun interaksi sosial yang sehat. A aO aE aIaO ua acE aa aacI AaO aO e aNOAU aI eIa a eEa eIA Jarir bin Abdullah berkata: Artinya: Sejak aku masuk Islam. Rasulullah tidak pernah menghalangiku menemuinya, dan setiap kali beliau melihatku, beliau selalu tersenyum kepadaku. Ay (HR. Bukhari No 6089 dan Muslim No 2. Hadis ini menegaskan bahwa senyum Nabi adalah bentuk penerimaan dan kasih sayang, bukan kepura-puraan. Hadis riwayat al-BukhAr dan Muslim dari Jarr bin AoAbdullAh ini memberikan gambaran yang sangat mendalam mengenai akhlak Nabi yang penuh dengan kasih sayang dan ketulusan. Jarr menegaskan bahwa sejak ia memeluk Islam. Rasulullah tidak pernah menolaknya atau menghalanginya untuk bertemu, bahkan setiap kali berjumpa, beliau selalu menyambut dengan Hal ini menunjukkan bahwa senyum Nabi bukanlah sekadar ekspresi wajah yang formal atau basa-basi sosial, melainkan sebuah simbol penerimaan, penghargaan, dan kasih sayang yang nyata kepada sesama. Ulama seperti Ibn ajar al-AoAsqalAn dalam Fatu al-BAr menafsirkan hadis ini sebagai bukti bahwa Nabi senantiasa memperlihatkan wajah yang ramah Fake Smile Perspektif Hadis untuk mengokohkan ikatan ukhuwah dengan para sahabat. Senyum beliau berfungsi untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan meneguhkan hati orang yang beriman, terutama mereka yang baru masuk Islam seperti Jarr. Dengan demikian, hadis ini menegaskan bahwa senyum tulus adalah bagian dari dakwah bil-uAl, yaitu dakwah dengan keteladanan sikap. Dalam konteks tema Aufake smileAy, hadis ini menampilkan kontras yang jelas. Senyum Nabi tidak pernah bermakna manipulatif atau digunakan untuk menutupi perasaan negatif, melainkan murni sebagai manifestasi rahmah. Oleh karena itu, hadis ini mengajarkan bahwa senyum dalam Islam seharusnya menjadi ungkapan kejujuran hati, bukan sekadar topeng Nilai inilah yang membedakan senyum tulus yang bernilai ibadah dengan senyum palsu yang dapat berpotensi menjadi bentuk nifaq sosial. Kejujuran sebagai Dasar Ekspresi Kejujuran merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban yang sehat, baik pada level individu maupun masyarakat. Tanpa adanya kejujuran, kepercayaan akan runtuh, relasi sosial menjadi rapuh, dan kehidupan bermasyarakat kehilangan arah. Dalam perspektif Islam, jujur bukan sekadar perilaku etis, melainkan nilai moral yang terikat langsung dengan iman dan konsekuensi ukhrawi. Oleh sebab itu. Islam menempatkan kejujuran sebagai salah satu akhlak mulia yang wajib dipelihara, sementara kebohongan dipandang sebagai sifat tercela yang dapat menjerumuskan manusia pada kebinasaan. Rasulullah sebagai teladan agung umat manusia selalu menekankan pentingnya kejujuran dalam ucapan maupun tindakan. Beliau mengajarkan bahwa kejujuran tidak hanya membawa kebaikan di dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju surga. Sebaliknya, kebohongan yang tampak sepele dapat berkembang menjadi kebiasaan buruk yang merusak integritas diri dan akhirnya mengantarkan pelakunya pada kehancuran. Dengan demikian, pembahasan mengenai kejujuran dalam hadis Nabi muhamad bukanlah semata kajian etika, tetapi juga refleksi spiritual yang berhubungan langsung dengan keselamatan manusia di akhirat ca AO aEA a a a a A aOuaOac aE eI aO eE aE aua acI eE aEA. A aOua acI eEa ac Oa eNaO uaEaO eE aIac aAUAEAeCa Oa eNaO uaEaO eEa aA a A Aaua acIAUACA a aAEa eO aE eI A a : aAcEEA a eAEAA a A aOua acI eEAa aAUAOA a caAO Oa eNaO uaEaO EIA a AOa eNaO uaEaO eEAa aA. Artinya: Rasulullah bersabda: Hendaklah kalian selalu jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Dan jauhilah dusta, karena dusta membawa kepada kefajiran, dan kefajiran membawa ke neraka. (HR. Muslim No 2. Hadis ini menunjukkan bahwa inti dari segala perilaku, termasuk senyum, harus dilandasi oleh kejujuran. Fake smile yang dilakukan dengan tujuan menipu atau menyembunyikan kebenaran sejatinya mendekati kategori dusta dalam bentuk non-verbal. Ulama seperti Ibn JBPAI - VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Rajab al-anbal dalam JAmiAo al-AoUlm wa al-ikam menekankan bahwa idq . mencakup ucapan, perbuatan, bahkan niat hati. Maka, ekspresi wajah seperti senyum juga dituntut untuk selaras dengan kondisi batin yang jujur. KESIMPULAN Kajian hadis tentang senyum memberikan landasan moral dan spiritual yang kuat untuk memahami fenomena fake smile. Senyum dalam Islam bukan hanya ekspresi sosial, tetapi bagian dari ibadah dan akhlak mulia yang menuntut keikhlasan. Rasulullah mencontohkan keseimbangan emosional, dengan memperlihatkan berbagai ekspresi manusiawi secara jujur dan proporsional. Fake smile, meskipun pada dasarnya tidak sejalan dengan prinsip kejujuran, masih dapat bernilai positif jika dimaksudkan untuk menjaga harmoni sosial, meredakan ketegangan, atau menghindari konflik. Namun, jika digunakan sebagai alat manipulasi atau menyembunyikan kebencian, ia bertentangan dengan ajaran Islam dan mendekati sifat nifaq. Dengan demikian, hadis-hadis Nabi mengajarkan bahwa senyum yang bernilai ibadah adalah senyum yang tulus lahir dari hati. Ekspresi wajah yang sejalan dengan kondisi batin akan melahirkan kejujuran emosional, meningkatkan kesehatan psikologis, serta memperkuat ikatan sosial. DAFTAR REFERENSI Ahmad. The role of emotional expression in Islamic ethics: A hadith perspective. Journal of Islamic Studies, 30. , 245Ae262. Al-Amin. Emotional authenticity in the light of Prophetic traditions. International Journal of Islamic Thought, 19. , 55Ae67. al-BukhAr. Ab AoAbd AllAh Muuammad ibn IsmAAol. auu al-BukhAr. Tahqq: Muuammad Zuhayr ibn NAir. RiyAs: DAr awq al-NajAh, 1422 H. Ali. , & Fatima. Emotional dissonance and fake smile in workplace settings. Journal of Organizational Psychology, 12. , 145Ae160. al-Tirmidh. Ab AosA Muuammad ibn AosA. Sunan al-Tirmidh. Tahqq: Aumad Muuammad ShAkir dkk. Beirut: DAr al-Gharb al-IslAm, 1998. Anwar. Keikhlasan dalam ekspresi sosial menurut hadis Nabi. Jurnal Ushuluddin, 28. , 123Ae138. Aziz. Prophetic traditions and the psychology of smiling. Al-Bayan Journal of Islamic Research, 31. , 77Ae94. Fake Smile Perspektif Hadis Brown. , & Chen. The psychology of fake smiles in digital communication. Journal of Social Media Studies, 14. , 311Ae329. Fadli. Hadis tematik tentang senyum dan implikasinya dalam kehidupan sosial. Jurnal Studi Hadis, 8. , 65Ae82. Hidayat. Toxic positivity dalam perspektif Islam. Jurnal Psikologi Islami, 12. , 178Ae192. Ismail. The ethics of facial expressions in Islamic tradition. Journal of Islamic Ethics, 2. , 205Ae220. Kurniawan. Ekspresi emosi Nabi Muhammad dalam hadis. Jurnal Ilmu Hadis, 5. , 89Ae104. Latif. , & Khan. Smile, sincerity, and social trust: A comparative analysis. Journal of Interpersonal Relations, 9. , 55Ae73. Mansur. Senyum palsu dalam perspektif komunikasi Islam. Jurnal Komunikasi Islam, 15. , 101Ae118. Muslim ibn al-ajjAj al-Qushayr. Ab al-usayn. auu Muslim. Tahqq: Muuammad FuAoAd AoAbd al-BAq. Kairo: DAr IuyAAo al-Kutub al-AoArabiyyah, t. Nurbaiti. Authenticity versus hypocrisy in Islamic teachings. Journal of Aqidah and Islamic Thought, 7. , 145Ae160. Othman. Prophetic psychology: Smiling and emotional well-being. Malaysian Journal of Islamic Psychology, 6. , 33Ae49. Rahman. The impact of fake smiles on mental health. Journal of Contemporary Psychology, 17. , 245Ae262. Sari. Makna senyum sebagai sedekah dalam hadis Nabi. Jurnal Tafsir dan Hadis, 9. , 77Ae95. Syafii. Keseimbangan emosi dalam sunnah Nabi Muhammad. Jurnal Studi Islam Kontemporer, 4. , 211Ae225. Wahid. Kejujuran dalam ekspresi non-verbal menurut Islam. Jurnal Akhlak dan Etika Islam, 6. , 55Ae70. Yusuf. Emotional honesty in Islamic perspective: A thematic study of hadith. International Journal of Hadith Studies, 12. , 33Ae49. Zhang. , & Smith. Cultural variations in smiling and authenticity. Journal of CrossCultural Psychology, 56. , 88Ae104. JBPAI - VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025