P a g e | 21 Jurnal Kesehatan Primer Vol. No. May, pp. P-ISSN 2549-4880. E-ISSN 2614-1310 Journal DOI: https://doi. org/10. 31965/jkp Website: http://jurnal. id/index. php/jkp Optimalisasi Penggunaan Terapi Akupuntur dalam Menurunkan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi Ida Ayu Suptika Strisanti1. Ida Ayu Anom Rastiti2. Kadek Buja Harditya3. I Dewa Ayu Agra Darmawati4. Komang Rosa Tri Anggaraeni5. Ni Wayan Kesari Darmapatni6 . I Gede Suweca7 1,2,3,4,5 Sarjana Terapan Akupuntur dan Pengobatan Herbal. Institut Teknologi dan Kesehatan Bali. Indonesia Sarjana Ilmu Keperawatan. Institut Teknologi dan Kesehatan Bali. Indonesia Kelurahan Renon. Bali. Indonesia Email: suptika. dayu@gmail. ARTICLE INFO Artikel Histori: Received date: March/25/2026 Revised date: April/27/2026 Accepted date: May/12/2026 Keywords: Acupuncture. Blood Pressure. Complementary Therapy. Hypertension ABSTRACT/ABSTRAK Background: Hypertension is a major non-communicable disease that leading a highest risk into morbidity and mortality due to cardiovascular complications. Although acupuncture has been utilized in the management of hypertension, the existing scientific evidence remains variable and inconsistent. Objectives: Therefore, further research is warranted to address this gap, particularly in evaluating the effectiveness of acupuncture in a measurable and evidence-based manner for reducing blood pressure. Methods: The pre-experimental with a one-group pretest-posttest was used as a design in this study. A total of 40 hypertensive patients were recruited using accidental sampling method. Acupuncture was administered for 30 minutes using Taichong (LR. Neiguan (PC. Hegu (LI. Shenmen (HT. , and Sanyinjiao (SP. Blood pressure measurements were taken pre and post intervention and the data was analyzed by Wilcoxon Signed Rank Test. Results: There was a reduction from Md=152 mmHg to Md=140 mmHg in systolic pressure and Md=93 mmHg to Md=84 mmHg for diastolic after the intervention. Statistical analysis revealed a significant difference with p < 0. 001 (Z = 4. r = 0. , indicating that acupuncture therapy has a moderate to strong effect in reducing blood pressure. Conclusions: Acupuncture is effective as a complementary therapy in reducing blood pressure among hypertensive patients. The integration of acupuncture into Kata Kunci: Akupuntur. Hipertensi. Tekanan Darah. Terapi Komplementer P a g e | 22 healthcare services may serve as a strategic alternative to improve hypertension management. Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang dapat menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskular. Meskipun terapi akupuntur telah digunakan dalam penatalaksanaan hipertensi, bukti ilmiah yang ada masih menunjukkan hasil yang bervariasi dan belum konsisten. Tujuan: dilakukan penelitian ini adalah untuk mengisi kesenjangan tersebut, khususnya dalam mengevaluasi efektivitas akupuntur secara terukur dan berbasis bukti dalam menurunkan tekanan darah. Metode: Desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest digunakan dalam penelitian ini. Sejumlah 40 responden penderita hipertensi dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Intervensi akupuntur diberikan selama 30 menit dengan titik Taichong (LR. Neiguan (PC. Hegu (LI. Shenmen (HT. dan Sanyinjiao (SP. Pengukuran tekanan darah dilakukan pre dan post pemberian terapi akupuntur, kemudian data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan tekanan darah sistolik dari Md=152 mmHg menjadi Md=140 mmHg dan tekanan darah diastolik dari Md=93 mmHg menjadi Md=84 mmHg setelah intervensi. Analisis statistik menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai p < 0,001 (Z = 4,7. r = 0,. , yang mengindikasikan bahwa terapi akupuntur memiliki efek yang cukup kuat dalam menurunkan tekanan darah. Kesimpulan: Pemberian terapi akupuntur terbukti efektif dalam membantu menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Integrasi akupuntur dalam pelayanan kesehatan dapat menjadi alternatif strategis dalam meningkatkan pengendalian CopyrightA 2026 Jurnal Kesehatan Primer All rights reserved Corresponding Author: Ida Ayu Suptika Strisanti Sarjana Terapan Akupuntur dan Pengobatan Herbal. Institut Teknologi dan Kesehatan Bali. Indonesia Email: suptika. dayu@gmail. P a g e | 23 PENDAHULUAN Hipertensi merupakan salah satu jenis mengakibatkan kematian (Lestari et al. , 2. Kejadian hipertensi ini sering kali dikaitkan dengan faktor usia dimana ketika usia meningkat maka resiko terjadinya hipertensi juga meningkat (Prabowo et al. , 2. Data Nasional menyebutkan penderita hipertensi yang memiliki usia >45 tahun sebanyak 25. 8% dan usia >75 tahun mencapai 63. 8% (Pacifica & Paschalia. Selaras dengan data Nasional yang telah dilaporkan sebelumnya. Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukan bahwa di Provinsi Bali angka kejadian hipertensi secara keseluruhan Penderita hipertensi di Provinsi Bali didominasi oleh kelompok usia >75 tahun yang mencapai 56. 21% (Bali, 2. Menariknya, dalam data Riset ini juga menunjukan bahwa hipertensi tidak hanya diderita oleh kelompok usia >75 tahun namun terdapat juga kelompok usia muda mulai dari 18-24 tahun sudah mengalami hipertensi dengan angka prevalensi mencapai 11,87%, disusul dengan kelompok usia 25-34 tahun sebanyak 18. 03% (Bali, 2. Tentunya hal ini perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak sebagai langkah preventif serta kuratif dalam menangani masalah Hipertensi dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah sistolik Ou 140 mmHg dan diastolik Ou 90 mmHg atau memiliki tekanan darah sistolik Ou 140 mmHg dan diastolik Ou 90 mmHg dalam dua kali pengecekan dalam 5 menit (Haekal et al. , 2. Kondisi ini harus ditangani dan mendapatkan pengobatan yang tepat (Ayu et al. , 2. Apabila hipertensi tidak ditanggulangi maka akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan lainnya seperti penyakit stroke, gagal ginjal dan lain sebagainya yang dapat menyebabkan kematian (Yonata et al. , 2. Penatalaksanaan kasus hipertensi dapat dilakukan dengan cara pemberian obat-obatan medis dan intervensi mandiri tanpa obat (Irawan et al. , 2. Penatalaksanaan hipertensi dengan farmakologis atau obat-obatan harus mempertimbangkan berbagai aspek mulai dari usia, penyakit penyerta serta adanya gangguan fungsi organ lainnya (Kuswardhani, 2. Selain pentalaksanaan farmakologis, penatalaksaan non farmakologis seperti merubah gaya hidup, tidak merokok, kelola stress dan pola makan juga sangat penting dilakukan untuk preventif, kuratif dan rehabilitatif pada kasus hipertensi (Pratama et al. , 2. Akupuntur pengobatan Traditional Chinese Medicine (TCM) yang dapat digunakan sebagai terapi alternatif untuk menurunkan tekanan darah (Hapsari et al. Terapi ini telah digunakan selama ribuan tahun dan melibatkan stimulasi titik tertentu pada tubuh menggunakan jarum halus untuk menyeimbangkan aliran energi (Q. dan meningkatkan fungsi fisiologis tubuh (Zhao et al. Dalam beberapa dekade terakhir, mekanisme biologis akupuntur untuk meregulasi tekanan darah, melalui pengaturan sistem saraf otonom, peningkatan sekresi endorfin, serta regulasi sistem renin-angiotensin (Zhao et al. Stimulasi titik akupuntur tertentu berpotensi mempengaruhi aktivitas saraf simpatis dan meningkatkan regulasi vaskular, sehingga membantu proses penurunan tekanan darah secara bertahap (Man et al. , 2. Berbagai penelitian sebelumnya telah mengeksplorasi penggunaan akupuntur dalam pengelolaan hipertensi namun, bukti ilmiah yang tersedia masih menunjukkan variasi hasil yang dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk karakteristik responden. Kondisi inilah yang mejadi landasan studi ini dilakukan guna komprehensif mengenai efektivitas akupuntur dalam menurunkan tekanan darah serta memperkuat dasar ilmiah penerapannya sebagai bagian dari strategi pengendalian hipertensi. Berdasarkan dilakukanlah penelitian ini dengan tujuan untuk P a g e | 24 menganalisis efektivitas terapi akupuntur dalam menurunkan tekanan darah pada penderita METODOLOGI Pre-Experimental Study One Group Pretest-Posttest digunakan sebagai metode pada penelitian ini. Pengumpulan data dilaksanakan di Banjar Kelod. Kelurahan Renon. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat Banjar Kelod. Kelurahan Renon. Sebanyak 40 orang masyarakat Banjar Kelod digunakan sebagai responden penelitian yang diambil dengan teknik accidental sampling. Pemilihan sampel merujuk pada kriteria inklusi sebagai berikut: responden memiliki kondisi hipertensi, usia 35-75 tahun, bersedia menerima terapi akupuntur, bersedia mengisi informed consent. Terapi diberikan selama 30 menit setiap sesi terapi. Terapi dilakukan sebanyak empat sesi dalam 2 minggu. Adapun dipergunakan pada penelitian ini adalah titik Taichong (LR . Neiguan (PC . Hegu (LI . Shenmen (HT. dan Sanyinjiao (SP . Pemilihan titik akupuntur ini menggunakan studi sebelumnya sebagai referensi yang menunjukan bahwa penggunaan titik tersebut berpengaruh untuk mengatasi masalah hipertensi, sehingga dapat mendukung tujuan dari penelitian ini (Termklinchan et al. , 2. Data yang digunakan sebagai data penelitian adalah tekanan darah sistolik dan diastolik. Data diambil sebanyak dua kali, yang pertama sebelum terapi akupuntur sesi satu dilaksanakan dan yang kedua adalah diakhir sesi keempat atau setelah seluruh sesi terapi Data tekanan darah kemudian dibandingkan untuk mengetahui apakah terdapat penurunan sebelum dan sesudah intervensi. Data berupa hasil pengukuran tekanan darah tersebut selanjutnya dianalisa dengan Wilcoxon Signed Rank Test. Penelitian ini telah lulus uji etik pada komisi etik ITEKES Bali dengan nomor: 0330/KEPITEKES-BALI/II/2025. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Karakteristik Responden Tabel 1. Demographi responden berdasarkan usia, jenis kelamin dan lama menderita hipertensi (N=. Data Umur . >60 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Frekwensi Persentase (%) Tabel 1. memperlihatkan sebagian besar responden memiliki jenis kelamin lakilaki . 5%). Data diatas juga menunjukan bahwa jumlah mayoritas penderita hipertensi berada pada kelompok usia 51-60 tahun . 5%). Tabel 2. Distribusi frekuensi lama menderita hipertensi dan riawayat konsumsi obat anti hipertensi responden (N=. Riwayat Hipertensi Lama Hipertensi 1-2 tahun 3-4 tahun >5 tahun Jumlah Persentase (%) P a g e | 25 Pengobatan Anti Hipertensi Tidak Tabel 2. menunjukan sebanyak 47. responden sudah mengalami hipertensi >5 Selain itu diperoleh juga hasil yang menunjukan terdapat 90% responden menggunakan obat anti hipertensi, namun ada 10% yang belum mengkonsumsi obat anti Analisa Tekanan Darah Pre Pemberian Terapi Akupuntur Post Tabel 3. Tekanan Darah Pre dan Post Pemberian Terapi Akupuntur Tekanan Sebelum Sesudah Darah Md (Q1,Q. Md (Q1,Q. Sistolik Diastolik p-value < 0. Tabel 3 diatas merupakan data tekanan darah responden sebelum dan sesudah intervensi dilakukan. Data ini menunjukan terjadi penurunan tekanan darah dimana sebelum intervensi Md=152 menjadi Md=140 setelah intervensi. Hal ini diikuti oleh hasil pengukuran diastolic yaitu Md=85 sebelum intervensi dan Md=80 setelah intervensi dengan p= <0. Z= 4. 7 dan nilai r=0. PEMBAHASAN Merujuk pada seluruh hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, pada data demographi menunjukan sebagian besar responden yang menderita hipertensi berada pada kelompok usia 51-60 tahun dengan presentase mencapai 42. Temuan ini menunjukan bahwa hipertensi cenderung ditemukan pada kelompok usia paruh baya hingga Peningkatan prevalensi hipertensi pada kelompok usia tersebut dapat dijelaskan oleh perubahan fisiologis tubuh manusia (Hapsari et , 2. Hasil penelitian ini didukung oleh penjelasan fisiologis terkait dengan proses penuaan (J. Li et al. , 2. Studi sebelumnya menjelaskan bahwa dalam proses penuaan terjadi peningkatan resistensi perifer serta perubahan fungsi sistem kardiovaskuler yang dapat menyebabkan tekanan darah cenderung meningkat pada periode dan usia yang lebih tua (Khattar et al. , 2. Hal ini menunjukan usia dapat dijadikan sebagai salah satu faktor pencetus timbulnya gejala hipertensi namun, hasil penelitian ini tentunya harus didukung dengan bukti ilmiah lainnya. Selain usia, data menunjukan bahwa mayoritas responden yang mengalami hipertensi adalah laki-laki . 5%). Selaras dengan hal tersebut, terdapat studi sebelumnya yang menjelaskan terkait angka kejadian hipertensi pada laki-laki umumnya lebih tinggi daripada perempuan pada usia dewasa (Mills et al. , 2. Hal ini berkaitan dengan faktor hormonal, gaya hidup serta tingkat paparan terhadap faktor resiko seperti merokok, konsumsi alkohol dan stres kerja (Khasanah & Airlangga, 2. Hipertensi merupakan masalah kesehatan jangka panjang yang harus mendapatkan terapi P a g e | 26 tepat dan sesuai. Pada hasil penelitian di tabel 2 menunjukan bahwa hampir 50% responden telah menderita hipertensi lebih dari lima tahun. Kondisi ini menunjukan bahwa hipertensi adalah masalah kesehatan kronis yang membutuhkan pengelolaan dalam waktui panjang (Yang et al. Hipertensi memerlukan penanganan yang sesuai dan tepat, apabila kondisi hipertensi tidak meningkatkan peluang terjadinya masalah kesehatan lain seperti jantung koroner, stroke serta penyakit gagal ginjal (Sushma et al. , 2. Dalam penelitian ini diperoleh juga hasil yang menunjukan bahwa sebanyak 36 orang responden . %) sudah mengkonsumsi obat anti hipertensi namun masih terdapat 10% responden yang belum mengkonsumsi obat anti hipertensi. Untuk alasan ataupun kondisi terkait yang menyebabkan masih adanya responden yang belum mengkonsumsi obat anti hipertensi tidak diteliti lebih mendalam pada penelitian ini. Berdasarkan hal tersebut, akupuntur adalah metode pengobatan alternatif yang aman dipergunakan dalam mengontrol tekanan darah. Hal ini tentunya untuk mendukung kinerja terapi farmakologis sebagai terapi utama dan juga kolaborasinya dengan terapi pelengkap yaitu Setelah diberikan terapi akupuntur terjadi penurunan pada tekanan darah responden baik sistolik maupun diastolik. Tekanan darah sistolik, mengalami penurunan signifikan dari Md=152 mmHg sebelum intervensi menjadi Md=140 mmHg setelah intervensi. Hal serupa juga terjadi pada tekanan diastolik dari Md=93 mmHg menjadi Md=84 mmHg. Penurunan ini signifikan yang dibuktikan dengan nilai p value <0. 001, nilai Z=4. dan effect size . 52 yang menunjukan bahwa intervensi akupuntur memberikan efek yang cukup kuat untuk menurunkan tekanan Hasil ini juga mengindikasikan bahwa akupuntur berpotensi menjadi terapi pelengkap yang efektif untuk mengontrol tekanan darah pada pasien hipertensi. Selaras dengan penelitian ini, dijelaskan bahwa akupuntur merupakan terapi yang digunakan untuk menstimulasi titik akupuntur sehingga mampu melancarkan sirkulasi bio energi tubuh yang merujuk pada filosofi keseimbangan melalui sistem meridian yang spesifik sehingga mampu menciptakan kondisi homeostatis (Astuti. Saputra. , 2. Kondisi bagaimana terapi akupuntur mampu meregulasi tekanan darah pada penderita hipertensi. Sejalan antara hasil penelitian ini dengan studi sebelumnya pada tahun 2024 menunjukan penggunaan akupuntur mampu menurunkan tekanan sistolik sebanyak 17. 73% dan diastolik 44% lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan akupresur dengan nilai 13. 38% pada tekanan sistolik dan 14. 19% pada diastolik (Mardiyani. , 2. Tentunya hal ini menunjukan bahwa terapi akupuntur adalah terapi yang menjanjikan untuk digunakan sebagai terapi pelangkap pada pasien dengan hipertensi. Dalam perspective TCM hipertensi seringkali dikaitkan dengan ketidakseimbangan energi (Q. terutama yang berhubungan dengan hiperaktivitas Qi Hati, defisiensi yin ginjal serta gangguan sirkulasi Qi dan darah (Man et al. , 2. Stimulasi titik-titik akupuntur pada tubuh dapat membantu menyeimbangkan energi (Q. sehingga efek yang timbul adalah terkontrolnya tekanan darah (Sudhakaran, 2. Secara fisiologis, mekanisme kerja akupuntur dalam menurunkan tekanan darah sering kali dikaitkan dengan modulasi saraf otonom melalui peningkatan parasimpatis dan P a g e | 27 penurunan aktivitas simpatis (Seo et al. , 2. Aktivitas jalur saraf tersebut dapat menyebabkan pelebaran pembuluh darah, penurunan resistensi perifer, serta regulasi hormon yang berperan dalam pengendalian tekanan darah termasuk mengontrol renin dan angiostensin (P. Li et al. Hasil pada penelitian ini menunjukan hal serupa dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menyatakan akupuntur mampu memberikan efek dan dampak positif terhadap pengendalian tekanan darah. Zhao et al. dalam studinya mengungkapkan bahwa terapi akupuntur yang dilakukan secara rutin dan dikombinasikan dengan terapi antihipertensi konvensional mampu menstabilkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien dengan hipertensi esensial. Terapi akupuntur mampu menstimulasi saraf simpatis untuk menghasilkan asetilkolin kemudian membentuk Nitrit oksida (NO) lokal dan berdifusi ke dalam otot polos pembuluh darah yang menyebabkan terjadinya perubahan tekanan darah serta sirkulasi lokal untuk merangsang proses relaksasi otot polos pembuluh darah sehingga menyebabkan terjadinya penurunan tekanan darah (Fuadah. Rohayati, 2. Hal ini menunjukan bahwa akupuntur memiliki dampak positif dan dapat digunakan sebagai terapi tambahan bagi pasien yang menderita Dalam penelitian ini, hasil yang didapatkan tentunya menunjukan implikasi penting dalam pengembangan pendekatan integrative dalam penatalaksanaan hipertensi. Akupuntur dapat dipertimbangkan sebagai terapi alternatif dan pelengkap yang aman serta efektif untuk membantu mengendalikan tekanan darah, terutama pada pasien yang membutuhkan terapi tambahan selain pengobatan farmakologis. Namun demikian, penelitian ini masih memeiliki beberapa keterbatasan, seperti jumlah sampel yang relatif terbatas, belum adanya kelompok kontrol sebagai pembanding, serta pengaturan terkait konsumsi obat antihipertensi masih perlu diperhitungkan sehingga mampu mengurangi bias dari hasil yang didapatkan. Dengan demikian, pada penelitian selanjutnya penggunaan design eksperimental study menggunakan jumlah sampel yang lebih besar, serta periode intervensi yang lebih panjang, serta adanya regulasi terkait penggunaan obat antihipertensi masih sangat diperlukan untuk dilakukan guna memperoleh bukti ilmiah yang lebih kuat terkait dengan efektivitas akupuntur dalam pengelolaan hipertensi. KESIMPULAN Merujuk pada data penelitian dan paparan yang telah disampaikan, kesimpulan yang dapat ditarik adalah akupuntur mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan tekanan darah bagi pasien dengan Hal ini didukung dengan nilai p value <0. Sebagai terapi pelengkap, penelitian ini menunjukan bahwa akupuntur merupakan terapi yang potensial digunakan dalam pengendalian tekanan darah pada penderita hipertensi. Integrasi akupuntur dalam pelayanan kesehatan dapat dijadikan sebagai salah satu pendekatan alternatif untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan hipertensi. REFERENSI