DAMPAK PARIWISATA TERHADAP PERUBAHAN SIKAP MASYARAKAT DESA PENYANGGA TAMAN WISATA ALAM KAWAH IJEN Leily Suci Rahmatin, Sheidy Yudhiasta ABSTRACT Submitted Revised Inisiated Publish : 19-04-2021 : 20-04-2021 : 24-04-2021 AFFILIATION: Program Studi Pariwisata, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UPN “Veteran” Jawa Timur Co-Responding E-mail: leilysucirahmatin@gmail.com sheidyaz@gmail.com Diterbitkan oleh: Pusat Kajian Administrasi Publik Program Studi Administrasi Publik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur The current trend in the success of tourism development is based on the growth in the number of tourist arrivals. The existence of the tourist attraction of the Ijen Crater Natural Park with the uniqueness of the blue fire is a popular tourist attraction. The number of visits that continues to increase every year has an impact on life around tourist attractions. The impact of changing people's attitudes is the component most quickly affected by the high increase in the number of tourist visits. This research is important because the location of Ijen Crater is between two districts so that it can affect local communities from different administrative locations. Attitude changes were analyzed using the Irridex theory developed by Doxey on the stages of changing people's attitudes towards tourism development. This research was conducted using a qualitative descriptive research methodology with data collection methods in the form of observation, in-depth interviews and questionnaires to support qualitative data. From the theoretical analysis of Irridex Doxey, it provides an illustration that the development and increase in the number of tourists in the Ijen Crater Nature Park have an impact on changes in people's attitudes, namely at the Apathy and Annoyance stages. Changes in attitude also occur due to the entry of new capital owners outside the community. Minimizing the impact of the tourism development of Ijen Crater is very necessary to reduce changes in people's attitudes towards antagonism that lead to unsustainable tourism. Keywords: Ijen Crater, Changes in Community Attitudes, Tourism Impact ABSTRAK Tren keberhasilan perkembangan pariwisata saat ini yang didasarkan pada pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan. Keberadaan daya tarik wisata Taman Wisata Alam Kawah Ijen dengan keunikan blue fire menjadi daya tarik kunjungan yang populer. Jumlah kunjungan yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya memberikan dampak terhadap kehidupan disekitar daya tarik wisata. Dampak perubahan sikap masyarakat menjadi komponen paling cepat terpengaruh dari tingginya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Penelitian ini menjadi penting dikarenakan lokasi Kawah Ijen berada di antara dua kabupaten sehingga dapat mempengaruhi masyarakat lokal dari letak administrasi yang berbeda. Perubahan sikap dianalisis dengan teori Irridex yang dikembangkan oleh Doxey tentang tahapan perubahan sikap masyarakat terhadap perkembangan pariwisata. Penelitian ini dilakukan menggunakan metodologi penelitian deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam dan kuesioner sebagai pendukung data kualitatif. Dari analisis teori Irridex Doxey memberikan gambaran bahwa perkembangan dan peningkatan jumlah wisatawan di Taman Wisata Alam Kawah Ijen berdampak pada perubahan sikap masyarakat yaitu pada tahap Apatis dan Annoyance. Perubahan sikap terjadi juga diakibatkan dengan masuknya pemilik modal baru diluar lingkungan masyarakat. Meminimalisir dampak perkembangan pariwisata Kawah Ijen sangat diperlukan untuk mengurangi perubahan sikap masyarakat menuju antagonism sehingga menyebabkan pariwisata yang tidak berkelanjutan. Kata Kunci: Kawah ijen, Perubahan Sikap Masyarakat, Dampak Pariwisata. berkolaborasi dengan Indonesia Association of Public Administration Jawa Timur 213 Dampak Pariwisata Terhadap Perubahan Sikap Masyarakat Desa… Rahmatin, S.L & Yudhiasta, S (2021) PENDAHULUAN Pariwisata telah menjadi gaya hidup baru bagi kelompok masyarakat luas. Pariwisata tidak terjadi dalam ruang hampa melainkan sebuah kegiatan terbuka yang terdiri dari beberapa unsur pendukung di dalamnya (Pitana 2009). Sesungguhnya dalam pelaksanaannya pariwisata terdiri atas banyak industri, akan tetapi terlepas dari sektor pendukung yang terdapat di dalamnya, salah satu yang juga menjadi pendukung terjadinya kegiatan pariwisata yaitu adanya beberapa interaksi, baik itu interaksi sosial, politik, ekonomi maupun lingkungan fisik. Namun dalam kegiatan pariwisata salah satu yang harus menjadi perhatian adalah, bagaimana terjalinnya interaksi baik itu antara tuan rumah (host) dalam hal ini masyarakat lokal dengan tamu (guest) yaitu wisatawan (Mahagangga 2017). Dalam kegiatan pariwisata interaksi yang terjadi sering juga memberikan pengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat, hal ini dikarenakan semakin tinggi perkembangan pariwisata yang membebaskan orang-orang untuk bergerak, dari lingkungan yang satu menuju lingkungan lainnya yang juga memiliki perbedaan adat dan kebiasaan (Yoety 2013). Interaksi sosial menjadi penting karena menyangkut hubungan antar manusia, yang artinya sifat hubungan tersebut tidak tetap dan akan terus mengalami perubahan, terutama ketika perkembangan pariwisata menjadi aspek utama dalam pembangunan daerah. Seperti halnya keberadaan daya tarik wisata Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen yang merupakan bagian dari kawasan Cagar Alam (CA) Kawah Ijen Merapi Ungup – Ungup, berada di bawah naungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah Jawa Timur (BKSDA 2013). Perkembangan pariwisata TWA Kawah Ijen juga tidak terlepas dari dukungan keberadaan masyarakat desa penyangga yang juga sebagai pelaku dan pemilik usaha wisata, sumber daya sosial masyarakat juga menjadi nilai jual dan keunikan daya tarik wisata TWA Kawah Ijen. Penelitian ini menjadi penting seiring tingginya tingkat kujungan di TWA Kawah Ijen selama lima tahun terakhir seperti yang ditunjukkan dalam table 1.1 Jumlah Kunjungan Wisatawan TWA Kawah Ijen. 214 DINAMIKA GOVERNANCE: JURNAL ILMU ADMINISTRASI NEGARA Volume 11 (1), April 2021 Tabel 1 Jumlah Kunjungan Wisatawan Taman Wisata Kawah Ijen Jumlah N Kunjungan Tahun o Wisatawan Asing 1 2015 20.662 2 2016 29.256 3 2017 25.828 4 2018 25.810 5 2019 23.875 Rata – Rata Peningkatan Kunjungan Sumber: Statistik BKSDA 2019 Jumlah Kunjungan Wisatawan Domestik 148.783 164.947 133.262 150.285 145.443 Persentase Peningkatan Wisatawan Asing 30 % 42 % - 12 % 0% -8% Persentase Peningkatan Wisatawan Domestik 101 % 11 % - 19 % 13 % -3% 10 % 27 % Tabel 1 menjelaskan tingkat pertumbuhan mencapai 10% untuk wisatawan asing dan 27% untuk wisatawan domestik hal demikian tentunya juga mempengaruhi intensitas interaksi yang dapat menimbulkan perubahan sikap masyarakat terutama pemilik dan pelaku usaha pariwisata, analisis mengenai perubahan sikap dan dampak terhadap sosial budaya masyarakat menjadi aspek penting agar tidak menimbulkan konflik antara guest dan host. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian Sebelumnya Penelitian yang dilakukan oleh Fan, D. X., Liu, A., & Qiu, R. T. (2019) dengan judul “Revisiting the relationship between host attitudes and tourism development A utility maximization approach”. Dalam tulisan dari hasil penelitiannya dijelaskan bahwa keberlanjutan sebuah daya tarik wisata desa juga harus didukung dengan model perkembangan yang sudah direncanakan, walaupun juga harus melibatkan peran aktif dari masyarakat lokal terutama mengenai sikap masyarakat lokal dalam menerima masuknya budaya baru yang dibawa wisatawan dan interaksi yang terjalin selama kegiatan pariwisata. Kekurangan dari tulisan ini tidak menjelaskan bagaimana menciptakan hubungan yang saling berketergantungan antara wisatawan dan masyarakat lokal perlu analisis lanjutan untuk menciptakan hubungan yang bersinergi sehingga daya dukung kawasan wisata dari aspek sosial tidak melewati ambang batas daya dukung yang seharusnya. Penelitian lainnya ditulis oleh Millati (2017) mengenai “Akuntansi Lingkungan sebagai Strategi Pengelolaan Lingkungan Daerah Wisata Gunung Ijen Kabupaten Banyuwangi”, dalam tulisan tersebut lebih mendalam menjelaskan mengenai akuntansi lingkungan terhadap pengelolaan di Kawah Ijen, fungsi utama atau pentingnya akuntansi lingkungan. Akuntansi lingkungan ini digunakan sebagai media dalam pelaporan tanggung 215 Dampak Pariwisata Terhadap Perubahan Sikap Masyarakat Desa… Rahmatin, S.L & Yudhiasta, S (2021) jawab sosial di bidang lingkungan kepada stakeholder khususnya wujud dari ketaatan hukum kepada pemerintah dalam meningkatkan pembangunan berkelanjutan. Kekurangan dalam tulisan tersebut tidak menjelaskan secara terperinci hasil analisis data mengenai akuntansi lingkungan, yang seharusnya diharapkan dapat memberikan kontribusi perencanaan pengelolaan Kawah Ijen sebagai daya tarik wisata yang berkelanjutan. Penelitian lainnya berjudul “The mutual gaze: Host and guest perceptions of sociocultural impacts of backpacker tourism: A case study of the Yasawa Islands, Fiji” oleh Sroypetch, S. (2016). Penelitian yang dilakukan di Yasawa Islands, Fiji ini menjelaskan mengenai dampak wisatawan backpacker terhadap hubungan yang terjalin dengan masyarakat lokal, penelitian tersebut juga melihat bagaimana dampak yang terjadi akibat adanya perkembangan pariwisata, dengan demikian dapat memberikan manfaat untuk menjadikan pariwisata yang berkelanjutan. Penelitian mengenai dampak pariwisata yang berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di destinasi wisata, oleh Mathew, P. V., & Sreejesh, S. (2017) dengan judul “Impact Of Responsible Tourism On Destination Sustainability And Quality Of Life Of Community In Tourism Destinations”. Penelitian tersebut menjelaskan mengenai bagaimana menciptakan pariwisata yang berkelanjutan terutama dalam mensejahterakan komunitas lokal dan keberlanjutan perkembangan destinasi, dengan menggunakan pendapat dari beberapa masyarakat yang dijadikan sebagai sampel penelitian untuk melihat dampak yang terjadi. Penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi dan Nawangsari (2018) mengenai “Evaluasi Dampak Pembangunan Rumah Majapahit Bagi Masyarakat Desa Bejijong Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto”, dalam tulisan tersebut menjelaskan mengenai dampak dari pembangunan rumah majapahit sebagai daya tarik wisata terhadap masyarakat lokal. Dampak yang ditimbulkan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, sebagian besar dampak kegiatan pariwisata masih dalam tahapan positif. Pariwisata dianggap sebagai industri bernilai positif dan mnguntungkan, masyarakat menyambut perkembangan pariwisata dengan di bangunnya Rumah Majapahit. Konsep Desa Penyangga Daerah penyangga dalam Undang undang Nomor 5 Tahun 1990 diartikan sebagai wilayah atau kawasan yang sebagai wilayah berada di luar kawasan konservasi sebagai kawasan pelestarian alam, berupa kawasan hutan tanah Negara maupun tanah yang diberikan hak, untuk menjaga kelestarian suaka alam ataupun kawasan peletarian alam. Kawasan 216 DINAMIKA GOVERNANCE: JURNAL ILMU ADMINISTRASI NEGARA Volume 11 (1), April 2021 penyangga juga merupakan kawasan penting sebagai pendukung kawasan konservasi, dan merupakan daerah yang sangat potensial untuk dikelola guna mempertahankan kelestarian biodiversitas dan ekosistem taman nasional baik sebagai asset wisata alam, penyangga kawasan konservasi kawasan budidaya, sumber penghasil pangan, kayu bakar dan obatobatan. Desa dalam Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014 diartikan desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari kedua konsep tersebut diartikan bahwa Desa Penyangga merupakan kawasan atau wilayah yang berada diluar kawasan konservasi, tetapi masih menjadi kawasan pelestarian alam, yang terdapat kesatuan masyarakat didalamnya yang diakui oleh system pemerinta. Dalam penelitian ini Desa Penyangga adalah Desa yang berbatasan langsung dengan TWA Kawah Ijen , yaitu Kecatan Ijen dari wilayah Bondowoso dan Kecamatan Licin dari wilayah Kabupaten Banyuwangi. Konsep Taman Wisata Alam Taman Wisata Alam dalam Undang – Undang No 5 tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, mengartikan bahwa TWA merupakan kawasan konservasi yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan rekreasi dengan mengedepankan ketentuan konservasi di setiap kegiatan rekreasi. Konsep Masyarakat Masyarakat adalah sekelompok manusia yang bertempat tinggal di daerah tertentu dalam waktu yang relatif lama, memiliki norma - norma yang mengatur kehidupannya menuju tujuan yang dicita - citakan bersama, dan di tempat tersebut anggota - anggotanya melakukan regenerasi (beranak - pinak) (Setiadi, 2011) 217 Dampak Pariwisata Terhadap Perubahan Sikap Masyarakat Desa… Rahmatin, S.L & Yudhiasta, S (2021) Konsep Dampak Sosial Budaya Pizam and Milman (1984) juga mengklasifikasikan dampak sosial – budaya pariwisata. 1. Dampak terhadap aspek demografi (jumlah penduduk, umur, perubahan piramida penduduk). 2. Dampak terhadap mata pencaharian (perubahan pekerjaan dan distribusi pekerjaan). 3. Dampak terhadap aspek budaya (tradisi, keagamaan, bahasa). 4. Dampak terhadap transformasi norma (nilai, moral, peranan seks). 5. Dampak terhadap pola modifikasi pola konsumsi (infrastruktur, komoditas). (dalam Pitana, 2009). Teori Irridex Model irridex dari Doxey 1975 (dalam Pitana, 2009), Tahapan - tahapan perubahan sikap masyarakat lokal terhadap wisatawan. 1. Euphoria, kedatangan wisatawan diterima dengan baik, dengan sejuta harapan. Masyarakat lokal mendukung pembangunan pariwisata dan mereka siap hidup berdampingan dalam kehidupan sehari – hari dengan wisatawan. 2. Apathy, masyarakat menerima wisatawan sebagai sesuatu yang lumrah, dan hubungan antara masyarakat dengan wisatawan didominasi dengan hubungan komersial. 3. Annoyance, titik kejenuhan sudah hampir dicapai, dan masyarakat mulai merasa terganggu dengan kehadiran wisatawan. 4. Antagonism, masyarakat secara terbuka sudah menunjukkan ketidaksenangan, dan melihat wisatawan sebagai sumber masalah. METODE Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan metode deskriptif kualitatif. Mencari gambaran umum dari data hasil penelitian, membandingkan data yang didapat serta mencari hubungan setiap data yang diperoleh (Arikunto 2010). Pendekatan kuantitatif digunakan, untuk memperkuat data hasil pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan di kawasan TWA Kawah Ijen dengan desa penyangga di Kecamatan Licin dan Kecamatan Ijen. fokus penelitian yang akan dilakukan, penelitian ini 218 DINAMIKA GOVERNANCE: JURNAL ILMU ADMINISTRASI NEGARA Volume 11 (1), April 2021 terbatas pada implikasi perkembangan pariwisata terhadap perubahan sikap masyarakat dan dampak sosial budaya. Metode pengumpulan data menggunakan observasi atau pengamatan, wawancara mendalam dan kuesioner sebagai data pendukung kualitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian TWA Kawah Ijen berada di kawasan CA Kawah Ijen Merapi Ungup – Ungup, ditetapkan sebagai TWA dengan luas 92 ha sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 1017/Kpts-II/Um/12/1981 pada tanggal 10 Desember 1981. Luas TWA 3,59 % dari total keseluruhan CA Kawah Ijen Merapi Ungup – Ungup yakti seluas 2.560 ha. TWA Kawah Ijen secara geografis berbatasan langsung dengan Kawasan CA Kawah Ijen Merapi Ungup – Ungup, jalan lintas Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi, lereng Merapi dan aliran sungai Banyulinu. Secara administrasi wilayah terletak di dua kabupaten yakni Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi. Karakteristik cuaca TWA Kawah Ijen termasuk daerah kering yang dipengaruhi oleh angin musim dengan curah hujan 1500 – 3000 mm/tahun dan suhu udara harian 2o C hingga 23o C. Topografi TWA Kawah Ijen bergelombang berat dengan puncak yang tertinggi yaitu 2.386 mdpl (Sumber: Desain Tapak TWA Kawah Ijen 2013). Geografi wilayah dan demografi masyarakat lokal yang berpengaruh atau dipengaruhi oleh TWA Kawah Ijen sebagai CA maupun daya tarik wisata, terutama adalah keberadaan masyarakat yang tinggal di Kabupaten Banyuwangi. Daerah pemukiman masyarakat lokal yang langsung berbatasan dengan CA maupun TWA Kawah Ijen merupakan desa penyangga yang terdapat di Kecamatan Licin bagian Timur yang masuk wilayah Kabupaten Banyuwangi (Kecamatan Licin Dalam Angka 2019). Wilayah lainnya adalah keberadaan masyarakat yang tinggal di Kabupaten Bondowoso. Daerah pemukiman masyarakat lokal yang langsung berbatasan dengan CA maupun TWA Kawah Ijen merupakan desa penyangga yang terdapat di Kecamatan Ijen di bagian Barat yang masuk wilayah Kabupaten Bondowoso (Kecamatan Ijen Dalam Angka 2019). 219 Dampak Pariwisata Terhadap Perubahan Sikap Masyarakat Desa… Rahmatin, S.L & Yudhiasta, S (2021) Desa Penyangga Desa penyangga TWA Kawah Ijen diantaranyan Kecamatan Sempol yang kini menjadi Kecamatan Ijen sebagai bentuk branding dengan adanya pariwisata di Kawah Ijen. Merupakan salah satu kecamatan dari 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Bondowoso dengan jarak + 60 Km arah Timur dari ibukota kabupaten. Kecamatan Ijen terletak pada ketinggian 1.050 s/d 1.500 mdpl (Kecamatan Ijen Dalam Angka 2019). Desa penyangga berikutnya yakni wisalaya Kecamatan Licin yang merupakan bagian dari 24 kecamatan yang terdapat dalam wilayah Kabupaten Banyuwangi, yang beralamat di Jalan Ijen Desa Licin. Letak Kecamatan Licin berbatasan dengan beberapa kecamatan yaitu Kabupaten Bondowoso di sebelah Utara, Kecamatan Glagah di sebelah Selatan, Kecamatan Songgon disebelah Barat dan Kecamatan Kalipuro di sebelah Timur. Kecamatan Licin berada di kawasan dataran tinggi, dengan ketinggian antara 425 – 650 mdpl, luas wilayah Kecamatan Licin sekitar 82.86 Km2 (Kecamatan Licin Dalam Angka 2019). Dampak Pariwisata Terhadap Sosial Budaya Masyarakat Desa Penyangga Taman Wisata Alam Kawah Ijen Taman wisata saat ini menjadi ikon wisata dan sebagai bahan promosi wisata yang wajib dikunjungi, keberadaan TWA Kawah Ijen dengan potensi fenomena yang tidak dimiliki taman wisata lainnya menjadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang akan berkunjung. Produk wisata yang ditawarkan, keragaman hayati dan sosial budaya desa penyangga, menjadikan daya tarik wisata tersebut sebagai daerah tujuan wisata dengan keberagaman atraksi. Budaya dan landscape lokasi wisata memberikan peran besar terhadap perkembangan TWA, perpaduan antara lingkungan fisik dan budaya masyarakat memberikan kontrol besar terhadap keberlanjutan daya tarik wisata (Widowati, S., & Nadra, N. M. 2017). Namun seiring perkembangan waktu dan kompleksitas industri pariwisata menjadikan sumber daya tertentu terancam mengalami perubahan dan modifikasi, terutama dari segi kerentanan budaya yang akan mengalami perubahan jika intensitas budaya baru yang masuk semakin tinggi. Pariwisata massal juga menjadi faktor utama perubahan, ketahanan budaya masyarakat lokal akan mengalami penurunan, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa budaya asli masyarakat juga menjadi potensi perkembangan pariwisata (Putra 2017). Budaya asli masyarakat saat ini menjadi daya tarik yang sangat dominan dalam perkembangan pariwisata, keberadaan sosial budaya masyarakat lokal yang beragam menjanjikan perkembangan kemandirian ekonomi dan perkembangan budaya itu sendiri. Peremajaan dan pelestarian budaya menjadi potensi dalam perkembangan pariwisata, 220 DINAMIKA GOVERNANCE: JURNAL ILMU ADMINISTRASI NEGARA Volume 11 (1), April 2021 perencanaan perkembangan pariwisata yang berkelanjutan tentunya memberikan ruang bagi kekayan budaya asli masyarakat lokal, kebijakan dalam perlindungan budaya mengurangi dampak negatif terhadap degradasi budaya. Eksistensi budaya masyarakat dengan aktivitas tradisional tentunya akan memberikan daya saing dalam industri pariwisata, keunggulan dalam keberanekaragaman budaya masyarakat lokal akan memberikan dampak terhadap peningkatan keunggulan produk lokal. Pariwisata juga dianggap sebagai pembawa implikasi atau dampak yang dapat merubah tatanan sosial budaya masyarakat lokal, yang diakibatkan kedatangan wisatawan dan perpaduan budaya dalam proses interaksi selama kegiatan pariwisata. Perkembangan pariwisata dianggap memiliki peluang dan ancaman bagi keberlangsungan sosial budaya masyarakat lokal, pengaruh dari faktor luar dan masyarakat tidak memiliki kontrol kuat, di lain hal masyarakat lokal memiliki faktor internal yang dapat memengaruhi serta mempertahankan budaya asli. Perubahan dibawa sebagai akibat adanya intrusi dari luar, umumnya dari sistem sosial – budaya yang superordinat terhadap kebudayaan penerima yang lebih lemah. Perkembangan pariwisata TWA Kawah Ijen berdampak pada perubahan namun hanya terbatas pada perubahan perilaku bebas pada kalangan remaja karena adanya peniruan budaya yang dibawa wisatawan, terutama ketika kegiatan pariwisata intens berlangsung. Dari 100 responden 72 % pada Tabel 2 mengenai perubahan perilaku pada remaja, memberikan pendapat bahwa pariwisata cukup buruk berpengaruh terhadap kehidupan remaja, terutama dari segi perilaku dan gaya berpakaian. Tabel 2 Persepsi Masyarakat mengenai Dampak Pariwisata terhadap Perilaku Remaja Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid 2 72 72,0 72,0 72,0 3 12 12,0 12,0 84,0 4 15 15,0 15,0 99,0 5 1 1,0 1,0 100,0 Total 100 100,0 100,0 Sumber: Data Primer diolah 2020 Masyarakat setuju bahwa pariwisata dengan berbagai aktivitas pendukung akan memberikan dampak bagi kehidupan dan perilaku remaja, terutama dengan adanya pertemuan budaya yang berbeda. “Peniruan cara berpakaian dan perilaku remaja seringkali tidak sesuai dengan adat ketimuran, tetapi untuk sopan santun dan perilaku terhadap orang yang lebih tua masih tetap terjaga, hanya jaga pola perilaku sesama remaja dan rasa budaya 221 Dampak Pariwisata Terhadap Perubahan Sikap Masyarakat Desa… Rahmatin, S.L & Yudhiasta, S (2021) malu mulai sedikit berkurang, melakukan hal yang dirasa tabu menjadi lumrah di kalangan remaja terutama ketika berada di kawasan TWA Kawah Ijen karena peniruan dari apa yang dilihat dari wisatawan kami masih berusaha mencari solusi agar perubahan perilaku saat ini tidak berlanjut lebih buruk sehingga akan berdampak pada pariwisata itu sendiri” (Pernyataan dari Kepala Seksi Wilayah V BKSDA). Perubahan terjadi juga akibat kurangnya pemberdayaan terhadap SDM yang mengakibatkan, masyarakat tidak banyak memahami dan memilih dalam menanggapi budaya lain yang masuk. Pengaruh perubahan tidak dianggap suatu hal yang perlu diantisipasi secara baik, karena justru dengan adanya pariwisata, budaya asli menjadi bangkit dan dimunculkan kembali demi menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Perubahan yang bersifat destruktif bagi budaya asli saat ini tidak banyak dirasakan, perkembangan pariwisata massal menjadikan budaya asli rentan perubahan, upaya pemerintah dalam mengatasi hal demikian dengan mendeklarasikan kepada umum melalui beberapa event pariwisata, keberadaan budaya juga dijadikan sebagai ciri khas daerah untuk meningkatkan nilai jual daya tarik wisata dengan memanfaatkan sebagai brand pemasaran pariwisata. Perubahan yang cukup banyak dirasakan lebih kepada modifikasi budaya dan perubahan aspek pendukung lainnya yang tidak bisa serta merta ditampilkan dalam kegiatan pariwisata, hal demikian terjadi karena beberapa budaya asli desa penyangga TWA Kawah Ijen cukup sakral dan hanya dilakukan pada kegiatan – kegiatan yang memang sudah menjadi tradisi. Namun dengan adanya modifikasi budaya dan revitalisasi budaya masyarakat, memberikan pengaruh terhadap keberadaan budaya asli, setiap atraksi wisata budaya dianggap sebagai bentuk asli budaya setempat padahal hal demikian telah mengalami perubahan, baik dari tata cara pelaksanaan maupun tujuan pelaksanaan. Komersialisasi budaya tidak dapat terhindari, masuknya modal di luar masyarakat lokal dalam pengadaan atraksi budaya akan menjadikan keberadaan dan keberlanjutan budaya disesuaikan dengan kegiatan pariwisata yang berkembang saat ini, namun segi positif pariwisata dengan memunculkan kembali budaya yang mulai dilupakan hingga generasi saat ini banyak belajar mengenai budaya yang mulai hilang. Tabel 3 merupakan persepsi masyarakat terhadap perubahan dalam perkembangan tradisi, yang diakibatkan dari aktivitas pariwisata. 222 DINAMIKA GOVERNANCE: JURNAL ILMU ADMINISTRASI NEGARA Volume 11 (1), April 2021 Tabel 3 Persepsi Masyarakat mengenai Dampak Pariwisata terhadap Tradisi Masyarakat Valid Cumulative Frequency Percent Percent Percent Valid 1 3 3,0 3,0 3,0 2 15 15,0 15,0 18,0 3 5 5,0 5,0 23,0 4 50 50,0 50,0 73,0 5 27 27,0 27,0 100,0 Total 100 100,0 100,0 Sumber: Data Primer diolah 2020 Pendapat dari responden sebanyak 100 orang 50 % pada Tabel 3 menganggap pariwisata berdampak baik terhadap perkembangan tradisi dalam masyarakat, selain itu dengan adanya pariwisata bahasa yang digunakan setiap masyarakat juga mengalami peningkatan terutama dalam penguasaan bahasa asing, untuk bahasa daerah masyarakat lokal masih sangat mempertahankan bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari – hari antar pelaku usaha wisata, yakni dengan bahasa daerah jika dari Banyuwangi yaitu dengan bahasa Osing dan jika dari arah Bondowoso cenderung kental dengan bahasa Madura. Perubahan dan modifikasi budaya dalam kegiatan pariwisata akan membawa pada homogenisasi budaya, perbedaan di setiap daerah dalam melaksanakan tradisi budaya tidak akan memiliki perbedaan yang signifikan, di mana identitas etnik lokal akan tenggelam dalam bayangan sistem dengan teknologi barat, birokrasi nasional dan multinasional (Putri 2019). Hal demikian biasanya terjadi pada penggunaan alat musik gending tradisional yang digantikan dengan audio sound system yang lebih modern, baju tradisional dimodifikasi untuk dapat digunakan dengan mudah dan bisa masuk pada setiap acara, keperluan dalam kegiatan tradisi digantikan dengan bahan yang lebih modern, seperti pada kegiatan dalam masyarakat baik berupa acara syukuran kelahiran, pernikahan maupun kematian. Pelaksanaan tradisi keagamaan juga mengalami perubahan, kegiatan pariwisata yang lebih banyak menghabiskan waktu di musim libur juga menjadikan beberapa kegiatan keagamaan tidak dapat terlaksana dengan maksimal, pelaksanaan peribadatan dan tradisi dalam masyarakat lokal menjadi lebih dominan digantikan dengan kewajiban dalam pelaksanaan di industri pariwisata. Kegiatan keagamaan yang biasanya mengalami perubahan lebih kepada saat bulan hari raya dan ibadah subuh, karena kegiatan pariwisata dilakukan dini hari hingga pertengahan siang. Pariwisata sebagai faktor luar yang memengaruhi perubahan di dalam masyarakat, perlindungan terhadap keberadaan sosial budaya masyarakat lokal menjadi penting, sebagai lawan dari pertumbuhan pariwisata yang tidak terkontrol terutama pada wisata massal, 223 Dampak Pariwisata Terhadap Perubahan Sikap Masyarakat Desa… Rahmatin, S.L & Yudhiasta, S (2021) menempatkan penekanan pada keberlanjutan sumber daya, keadaan sosial dan integrasi budaya, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa fokus utama kegiatan pariwisata pada dasarnya adalah berupa perpaduan kegiatan dengan fenomena sosial yang terjadi antara wisatawan dan masyarakat lokal. Dampak Pariwisata Terhadap Perubahan Sikap Masyarakat Desa Penyangga Taman Wisata Alam Kawah Ijen Pemahaman yang meningkat menghasilkan perubahan sikap dan perilaku yang pada gilirannya, mengarah pada hubungan yang lebih adil dan merata antara masyarakat, akan tetapi sering kali perubahan sikap terjadi diakibatkan laju pertumbuhan pariwisata tidak dapat terkontrol. Model irridex dari Doxey’s (dalam Pitana 2009) menggambarkan perubahan sikap dan respon masyarakat lokal terhadap wisatawan secara linier, sikap masyarakat dalam menghadapi perkembangan pariwisata yang cenderung berubah, yang mula - mula positif berubah menjadi semakin negatif ketika wisatawan yang datang dianggap sebagai pengganggu dalam kehidupan masyarakat lokal, wisatawan tidak lagi diharapkan kedatangannya. Perkembangan pariwisata TWA Kawah Ijen yang saat ini berada pada tahap development berdampak pada sikap masyarakat, kontrol lokal dan ketersediaan infrastruktur lokal mulai digantikan dengan yang lebih modern. Pada perkembangan saat ini masyarakat lokal masih menerima wisatawan sebagai sesuatu yang lumrah, dan hubungan antara masyarakat dengan wisatawan didominasi dengan hubungan komersial. Tabel 4 Persepsi Masyarakat Terhadap Dampak Ekonomi Pariwisata Valid 1 2 3 4 5 Total Frequency Percent Valid Percent 1 2 2 53 42 100 1,0 2,0 2,0 53,0 42,0 100,0 1,0 2,0 2,0 53,0 42,0 100,0 Cumulative Percent 1,0 3,0 5,0 58,0 100,0 Sumber: Data Primer diolah 2020 Tabel 4 menunjukkan pendapat masyarakat mengenai perubahan pendapatan dengan adanya pariwisata. Masyarakat berpendapat bahwa pariwisata memberikan dampak baik dan sangat baik pada perubahan dan peningkatan pendapatan, 53% responden menyatakan 224 DINAMIKA GOVERNANCE: JURNAL ILMU ADMINISTRASI NEGARA Volume 11 (1), April 2021 pariwisata berdampak baik dan 42% sangat baik bagi pendapatan dan peningkatan ekonomi di masyarakat. Harapan masyarakat lokal sebagian besar juga mengarah pada peningkatan kegiatan pariwisata agar kesejahteraan kehidupan masyarakat lebih baik. Namun keberadaan pariwisata massal TWA Kawah Ijen juga berdampak pada struktur sosial kawasan yang mulai mengalami perubahan oleh kedatangan orang baru yang mencari pekerjaan. Konflik persaingan dalam pencarian dan pemenuhan lapangan kerja semakin tinggi, masyarakat lokal menganggap bahwa keberadaan orang baru menjadi ancaman dalam pembagian manfaat ekonomi di TWA Kawah Ijen, terutama jika musim sepi pariwisata tidak dapat diprediksi dengan baik. Peningkatan kondisi ekonomi dengan mengandalkan kegiatan pariwisata tidak terasa sangat berpengaruh dominan, dan dianggap hanya orang tertentu yang dapat merasakan dampak langsung, terutama bagi masyarakat pemilik modal atau pemilik usaha wisata yang berada dalam pembinaan BKSDA. Kesempatan dalam memperoleh dampak ekonomi langsung dalam pariwisata TWA Kawah Ijen juga menjadi permasalahan utama dimana terjadi persaingan antar unit usaha, baik local guide, jasa warung, jasa sewa masker, ojek trolli maupun asongan. Hal ini juga menjadi penyebab perubahan sikap masyarakat lokal, yang mulai merasakan pariwisata dapat menimbulkan konflik diantara sesama masyarakat lokal. Beberapa kondisi titik kejenuhan masyarakat lokal sudah hampir dicapai, dan masyarakat mulai merasa terganggu dengan kehadiran wisatawan, hal ini terjadi ketika tingkat kunjungan wisatawan sangat tinggi terutama pada musim libur wisatawan domestik sehingga menimbulkan kemacetan disepanjang jalur menuju TWA Kawah Ijen terutama jalur antara Desa Tamansari menuju Paltuding. Peningkatan jumlah penggunaan sumber daya lainnya juga akan terbatas tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat lokal, melainkan masyarakat lokal harus rela berbagi lebih banyak dengan adanya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Perubahan sikap pada masyarakat lokal jika dilihat dari kondisi yang terjadi saat ini dapat diklasifikasikan sebagai bentuk sikap Apathy dan Annoyance. Sebagian besar masyarakat masih menerima perubahan dalam pariwisata dengan sikap wajar dan menganggap bahwa kegiatan ekonomi meningkat dengan adanya pariwisata, namun beberapa sikap menunjukkan kejenuhan terutama ketika perubahan fungsi lahan dan pembangunan infrastruktur di luar rencana awal perkembangan pariwisata, seperti pembangunan pagar di puncak dan beberapa lokasi pendakian yang di keraskan dengan bahan semen. Di lain sisi 225 Dampak Pariwisata Terhadap Perubahan Sikap Masyarakat Desa… Rahmatin, S.L & Yudhiasta, S (2021) harapan terbesar terhadap perkembangan pariwisata adalah mendatangkan pengunjung yang tinggi dengan kondisi alam tetap lestari. Melanggar dan merubah fungsi lahan merupakan kesalahan yang harus ditindak tegas, namun sikap yang kontradiktif hingga saat ini masih sering terjadi pelanggaran terhadap beberapa aturan yang telah ditetapkan demi menjaga dan meminimalisir dampak kebakaran hutan, berupa pembakaran api unggun di beberapa lokasi yang memungkinkan munculnya percikan api di kawasan lindung sehingga memicu kebakaran, pelanggaran memasuki blok yang dilindungi dan blok pemanfaatan terbatas dengan alasan profesionalisme dalam pariwisata yaitu lokasi blue fire dan spot sunrise. Beberapa masyarakat juga memiliki sikap yang selaras dengan pendapat yang diberikan, dimana kawasan puncak dan blue fire bukan wilayah untuk dijadikan sebagai lokasi pembangunan. KESIMPULAN Dampak Sosial Budaya yang terjadi ketika pariwisata massal menjadi dominan, memeprikan tekanan terhadap aspek tatanan sosial budaya masyarakat. Perubahan perilaku remaja dan percmapuran budaya juga menjadi catatan dalam pengembangan pariwisata, walaupun pariwisata juga memberikan dampak positif terhadap revitalisasi budaya masyarakat lokal. Sikap Apathy dan Annoyance, dominan terjadi dalam masyarakat. Secara umum sikap masyarakat masih menerima dengan baik kegiatan pariwisata namun perubahan yang sangat cepat dan masuknya pihak swasta menjadi penyebab masyarakat mulai merasa khawatir dengan lingkungan yang nantinya akan terus mengalami perubahan, baik dari kepemilikan maupun izin masuk kawasan. Saran Bagi pemerintah selaku pengelola dan pembuat kebijakan perkembangan TWA Kawah Ijen, saran yang dapat diberikan setelah proses penelitian, meminimalisir dampak sosial budaya yang diakibatkan oleh pengaruh budaya baru yang masuk dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia baik dalam bentuk pendampingan terprogram serta berkelanjutan, sehingga interaksi yang tebentuk antara masyarakat lokal dan wisatawan mengurangi tingkat perubahan sikap masyarakat lokal kearah negatif. 226 DINAMIKA GOVERNANCE: JURNAL ILMU ADMINISTRASI NEGARA Volume 11 (1), April 2021 DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. (2010) Prosedure Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (2013) Desain Tapak Pengelolaan Pariwisata Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, Surabaya. Fan, D. X., Liu, A., & Qiu, R. T (2019) Revisiting the relationship between host attitudes and tourism development: A utility maximization approach. Tourism Economics, 25(2), 171-188. Data Statistik. Kecamatan Licin Dalam angka 2019. Data Statistik. Kecamatan Ijen Dalam angka 2019. Mahagangga, I. G. A. O., & NUGROHO, S. (2017). Pemahaman lintas budaya dalam kepariwisataan. Cakra Press bekerja sama dengan Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana. Mathew, P. V., & Sreejesh, S. (2017). Impact of responsible tourism on destination sustainability and quality of life of community in tourism destinations. Journal of Hospitality and Tourism Management, 31, 83-89. Millati, I. (2017) Akuntansi Lingkungan Sebagai Strategi Pengelolaan Lingkungan Daerah Wisata Gunung Ijen Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis Airlangga, 1(1). Pemerintah Indonesia. UU Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Pemerintah Indonesia. UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Pemerintah Indonesia. Keputusan Menteri Pertanian No. 1017/Kpts-II/Um/12/1981 Tentang Penetapan CA Kawah Ijen Merapi Ungup - Ungup dan TWA Kawah Ijen Pemerintah Indonesia. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.48/Menhut-Ii/2010 Tentang Pengusahaan Pariwisata Alam Di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya Dan Taman Wisata Alam Pemerintah Indonesia. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.4/Menhut-Ii/2012 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.48/Menhut-Ii/2010 Tentang Pengusahaan Pariwisata Alam Di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya Dan Taman Wisata Alam Pitana, I Gde dan I Ketut Surya Diarta (2009) Pengantar Ilmu Pariwisata. Penerbit Andi, Yogjakarta. Pratiwi, S. E., & Nawangsari, E. R. (2018). Evaluasi Dampak Pembangunan Rumah Majapahit Bagi Masyarakat Desa Bejijong Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Dinamika Governance: Jurnal Ilmu Administrasi Negara, 8(1). Putra, I. N. D. (2017) Kajian-kajian Mikro Metamorfosis Pariwisata Bali. Pustaka Larasan, Denpasar Putri, A. P., & Abdillah, Y. (2019). Analisis perkembangan industri pariwisata dan perubahan nilai budaya pada kelurahan ubud kabupaten gianyar. Jurnal Administrasi Bisnis, 68(1), 9-18. Rahmatin, Leily Suci (2019) Persepsi Dan Sikap Masyarakat Terhadap Dampak Perkembangan Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Universitas Udayana, Denpasar. Setiadi, Elly M dan Usman Kolip (2011) Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Kencana Prenada Media Group, Jakarta. Sroypetch, S (2016) The mutual gaze: Host and guest perceptions of socio-cultural impacts of backpacker tourism: A case study of the Yasawa Islands, Fiji. Nong Khai : Khon Kaen University, Journal of Marine and Island Cultures, 5(2), 133-144. 227 Dampak Pariwisata Terhadap Perubahan Sikap Masyarakat Desa… Rahmatin, S.L & Yudhiasta, S (2021) Widowati, S., & Nadra, N. M. (2017). Evaluasi penerapan prinsip-prinsip dan kriteria ekowisata di Kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen Banyuwangi. Soshum: Jurnal Sosial dan Humaniora, 3(3), 312. Yoeti, Oka A (1996) Pengantar Ilmu Pariwisata. PT. Ikasa Bandung. 228