Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42- 57 Jurnal Penyuluhan Pertanian Journal homepage: https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp Journal homepage: https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerapan Inovasi Sistem Pertanian Padi Organik (Studi Kasus: Desa Purwabakti. Kecamatan Pamijahan. Kabupaten Bogo. Factors Affecting Implementation of Organic Rice Farming System Innovations (Case Study: Purwabakti Village. Pamijahan District. Bogor Regenc. Yumna Luthfia*. Dwi Sadono IPB University. Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Kabupaten Bogor. Jawa Barat. Indonesia, 16680 Email korespondensi: yumnaluthfia137@gmail. Informasi Artikel Abstract Diterima 22 Desember 2024 Direvisi 29 Mei 2025 Disetujui terbit 24 Juni 2025 Diterbitkan online 25 Juni 2025 Organic rice farming is an integrated production management system innovation that avoids the use of chemical fertilizers and synthetic pesticides. This innovation has been introduced to farmers to improve productivity and promote sustainable However, its implementation has not yet met the Indonesian National Standard (SNI) for organic rice farming systems. This study aims to analyze the level of implementation of the organic rice farming system and its relationship with farmersAo characteristics, innovation characteristics, and extension support. The research was conducted in Purwabakti Village. Bogor Regency, from June to August 2023. quantitative survey method was used, supported by qualitative data, with 53 respondents selected through simple random sampling. The results indicate that the level of implementation of the organic rice farming system is relatively low. A significant relationship was found between the level of implementation and factors such as cosmopolitanism . armersAo exposure to external informatio. , farmer motivation, participation in agricultural extension programs, perceptions of innovation characteristics, and extension support. These findings highlight the need to strengthen farmersAo capacity by improving access to information, intensifying extension activities, and promoting innovation approaches that are adaptive to local conditions. Keywords Inovasi, padi organik, pertanian Abstrak Sistem pertanian padi organik merupakan inovasi sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis. Inovasi ini telah diperkenalkan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan pertanian. Namun, penerapannya belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk sistem pertanian padi organik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penerapan sistem pertanian padi organik dan hubungannya dengan karakteristik petani, karakteristik inovasi, serta dukungan penyuluhan. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Purwabakti. Kabupaten Bogor, pada bulan Juni hingga Agustus 2023. Metode yang digunakan adalah survei kuantitatif yang didukung data kualitatif, dengan 53 responden yang dipilih melalui teknik simple random Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penerapan sistem pertanian padi organik tergolong rendah. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat penerapan dengan faktor-faktor seperti kekosmopolitan . ingkat keterpaparan petani terhadap informasi dari luar des. , motivasi petani, intensitas mengikuti penyuluhan, persepsi terhadap karakteristik inovasi, dan dukungan penyuluhan. Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan kapasitas petani melalui peningkatan akses informasi, intensifikasi program penyuluhan, serta pendekatan inovasi yang adaptif terhadap kondisi lokal. E-ISSN: 1907-5893 P-ISSN: 2599-0403 DOI: 10. 51852/d03mhv41 A 2025 Jurnal Penyuluhan Pertanian. All right reserved This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International License Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 Pendahuluan Sebagai negara agraris. Indonesia perlu menjaga dan meningkatkan ketersediaan padi untuk memenuhi kebutuhan beras yang terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik . , pada tahun 2022 produksi padi nasional mencapai 54,75 juta ton dari luas panen 10,45 juta hektar dengan produktivitas rata-rata 5,23 ton per hektar. Jika dikonversi menjadi beras, jumlah produksi mencapai 31,54 juta ton. Mengingat populasi Indonesia sebanyak 278 juta jiwa dengan konsumsi beras per kapita sekitar 114 kg per tahun, kebutuhan nasional diperkirakan mencapai 31,69 juta ton. Dengan demikian, pada tahun 2022 Indonesia masih harus mengimpor beras sebanyak 429. 207 ton, meningkat 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Beragam upaya telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas padi di Indonesia, salah satunya melalui Revolusi Hijau pada masa Orde Baru. Revolusi ini berhasil mencukupi kebutuhan beras nasional dan mencapai swasembada pada 1984 (Sulaiman et al. Paket Revolusi Hijau mencakup pembangunan prasarana pengairan, kredit berbunga rendah, subsidi sarana produksi, penggunaan benih unggul, serta pupuk kimia dan pestisida. Meskipun berhasil meningkatkan produktivitas jangka pendek, penggunaan bahan kimia yang berlebihan menyebabkan kerusakan ekosistem tanah, peningkatan populasi hama, dan risiko kesehatan manusia seperti keracunan kronis dan akut (Pamungkas, 2. Kesadaran terhadap bahaya konsumsi pangan yang mengandung residu pestisida serta dampak negatifnya terhadap lingkungan kini semakin mendapat perhatian dari konsumen dan Peningkatan kesadaran akan pentingnya mengonsumsi pangan sehat mendorong petani untuk menghasilkan produk yang aman dikonsumsi, bernutrisi tinggi, dan ramah lingkungan (Indriana & Putra, 2. Produk dengan ketiga karakteristik tersebut umumnya dihasilkan melalui sistem pertanian organik. Permintaan akan beras organik pun terus meningkat seiring dengan berkembangnya kesadaran tersebut. Oleh sebab itu, program pengembangan padi organik telah digalakkan sejak 2010 melalui program AuGo OrganicAy. Pemerintah mendukung prorgam pertanian organik dengan menetapkan beberapa Salah satunya. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 64 Tahun 2013 Tentang Sistem Pertanian Organik. Pertanian organik diartikan sebagai sistem manajemen produksi yang holistik, bertujuan meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agroekosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah. Sistem tersebut juga diterapkan pada komoditas pangan seperti padi organik. Sistem Pertanian Padi Organik (SP2O) merupakan teknologi budidaya yang mengedepankan praktik-praktik yang menjaga dan mendukung kelestarian lingkungan (Nugroho et al. , 2. Inovasi ini memiliki keunggulan dalam menghasilkan bahan pangan yang aman, bernutrisi tinggi, dan ramah lingkungan (Arianti et al. , 2. Selain itu, penerapan SP2O terbukti mampu meningkatkan produktivitas pada tahun kelima hingga kedelapan, melebihi hasil padi non-organik seiring dengan proses pemulihan lahan (Prayoga, 2. SP2O memang menawarkan keuntungan produksi dibandingkan sistem padi konvensional, namun tingkat adopsi di lapangan masih cenderung rendah (Widiarta et al. Beberapa faktor penyebabnya antara lain sulitnya memenuhi kebutuhan pupuk organik dan akses air yang bebas kontaminasi bahan kimia, keterbatasan akses pemasaran, serta kebiasaan penggunaan pupuk kimia (Azzahra et al. , 2019. Nugroho et al. , 2. Namun demikian, penelitian Gunawan et al. menunjukkan bahwa intensitas adopsi sistem pertanian padi organik di beberapa lokasi sudah tergolong tinggi, dengan penerapan unsurunsur pendukung yang cukup baik. Secara umum, penerapan suatu inovasi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang Adopsi inovasi merupakan suatu proses pengambilan keputusan di mana individu Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 melewati serangkaian tahapan mental sebelum memutuskan untuk menerima atau menolak suatu inovasi (Nugroho et al. , 2. Tingkat adopsi menggambarkan sejauh mana petani memilih untuk mengimplementasikan atau menolak inovasi tersebut. Proses pengambilan keputusan dalam penerapan inovasi dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain karakteristik individu, dukungan eksternal, serta karakteristik inovasi itu sendiri (Rogers, 1. Penerapan inovasi juga didukung oleh efektivitas penyuluhan yang diberikan oleh penyuluh kepada petani, terutama terkait dengan hal-hal yang bersifat teknis (Putra & Sadono, 2. Desa Purwabakti. Kecamatan Pamijahan. Kabupaten Bogor, telah menerima penyuluhan mengenai Sistem Pertanian Padi Organik (SP2O) sejak 2017 melalui Dana Dekonsentrasi Jawa Barat dan dilanjutkan dengan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanam Terpadu (SL-PTT) pada 2022. Namun, hingga 2023, masih banyak petani yang belum mengadopsi SP2O, terutama karena terbatasnya akses pemasaran dan mayoritas petani yang berstatus penggarap. Kondisi ini menyoroti kesenjangan antara potensi manfaat inovasi dan tingkat penerapannya, yang perlu diteliti lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat penerapan sistem pertanian padi organik dan hubungannya dengan karakteristik petani, karakteristik inovasi, serta dukungan penyuluhan. Metode Penelitian Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Purwabakti. Kecamatan Pamijahan. Kabupaten Bogor. Provinsi Jawa Barat. Indonesia. Desa Purwabakti dipilih secara purposive karena merupakan salah satu desa yang telah menerima penyuluhan dan mulai menerapkan Sistem Pertanian Padi Organik (SP2O) sejak tahun 2017 melalui program Dana Dekonsentrasi Jawa Barat. Penelitian ini berlangsung selama periode Januari hingga November 2024, mencakup seluruh proses pengumpulan data, analisis, dan pelaporan hasil penelitian. Rancangan Penelitian Dan Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan adalah survei kuantitatif dengan instrumen kuesioner tertutup yang dirancang berdasarkan kerangka pemikiran yang telah ditetapkan. Selain itu, data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci, yaitu penyuluh pertanian dan ketua Kelompok Tani Mukti Tani Jaya Abadi, yang dipilih secara purposive untuk memperoleh informasi lebih mendalam tentang faktor-faktor yang memengaruhi adopsi inovasi dari perspektif penyuluh dan petani. Populasi penelitian adalah seluruh anggota Kelompok Tani Mukti Tani Jaya Abadi yang berjumlah 111 petani. Sampel sebanyak 53 orang dipilih menggunakan metode simple random sampling, dengan pertimbangan populasi yang homogen dan agar setiap anggota memiliki peluang yang sama untuk terpilih (Sugiyono, 2. Besaran sampel tersebut ditentukan berdasarkan rumus Slovin dengan toleransi kesalahan 10 persen. Teknik ini digunakan untuk memastikan representativitas sampel dalam menggambarkan karakteristik dan perilaku populasi (Yadewani & Wijaya, 2. Fokus utama adalah hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas meliputi karakteristik petani, seperti umur, pendidikan, pengalaman bertani, kekosmopolitan, luas lahan, motivasi, dan intensitas mengikuti penyuluhan. Selain itu, persepsi terhadap karakteristik inovasi juga menjadi variabel bebas, yang mencakup keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, trialabilitas, dan observabilitas. Variabel bebas lainnya adalah tingkat dukungan penyuluhan. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat penerapan inovasi Sistem Pertanian Padi Organik (SP2O), yang diukur melalui Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 berbagai aspek praktik pertanian, mulai dari pengolahan lahan hingga teknik panen. Kerangka penelitian ini disajikan dalam gambar berikut. Gambar 1 Kerangka pemikiran Rancangan Penelitian dan Metode Pengumpulan Data Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman dengan bantuan aplikasi SPSS for Windows versi 25. Uji korelasi ini dipilih karena data yang diperoleh berskala ordinal dan untuk mengukur kekuatan serta arah hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat (Abu-Bader, 2. Pengujian hipotesis dilakukan dengan tingkat signifikansi 5 persen ( = 0,. , di mana hipotesis diterima apabila nilai signifikansi . -valu. kurang dari 0,05, yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara variabel yang diuji (Agresti, 2. Sementara itu, data kualitatif diolah secara sistematis melalui tiga tahap utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Jason & Glenwick, 2. Pada tahap reduksi data, data hasil wawancara dan observasi disaring untuk fokus pada hal-hal relevan dengan tujuan penelitian. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi atau tabel untuk memudahkan pemahaman. Tahap penarikan kesimpulan menginterpretasikan data secara mendalam dan mengaitkan temuan kualitatif dengan analisis kuantitatif, untuk memperkuat validitas temuan dan memberikan pemahaman menyeluruh tentang faktor-faktor yang memengaruhi penerapan SP2O. Hasil dan Pembahasan Karakteristik Petani Karakteristik responden dalam penelitian ini mengacu pada ciri-ciri umum petani anggota Kelompok Tani Mukti Tani Jaya Abadi di Desa Purwabakti. Kecamatan Pamijahan. Kabupaten Bogor. Penelitian ini meninjau karakteristik responden dari beberapa dimensi, yaitu umur, tingkat pendidikan formal, luas lahan, pengalaman bertani, tingkat kosmopolitan, motivasi, dan intensitas penyuluhan. Tabel 1 menunjukkan jumlah dan persentase responden berdasarkan karakteristik petani di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi tahun 2024. Umur petani yang menjadi salah satu indikator karakteristik menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori dewasa, yaitu 56,6 persen . mur 45-62 tahu. , diikuti oleh kelompok muda sebanyak 34 persen . mur 27-44 tahu. Petani dari berbagai Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 kelompok umur ini mayoritas belum menerapkan inovasi SP2O dengan baik, dengan alasan produktivitas padi organik yang dianggap kurang signifikan dan masa tanam yang lebih lama dibandingkan padi konvensional. Tabel 1 Jumlah dan persentase responden berdasarkan karakteristik petani di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi No Uraian Umur Muda: 27-44 tahun Dewasa: 45-62 tahun Tua: 63-80 tahun Tingkat Pendidikan Formal Rendah: 0-6 tahun Sedang: 7-9 tahun Tinggi: 10-12 tahun Luas Penguasaan Lahan Sempit: O0,5 hektar Sedang: 0,6-0,99 hektar Luas: Ou1,0 hektar Pengalaman Berusatani Rendah: 3-23 tahun Sedang: 24-44 tahun Tinggi: 45-65 tahun Tingkat Kekosmopolitan Lokalit Semi-kosmopolit Kosmopolit Tingkat Motivasi Rendah . -6 poi. Sedang . -9 poi. Tinggi . -12 poi. Intensitas Mengikuti Penyuluhan Rendah: 1-6 Sedang: 7-11 Tinggi: 12-16 Frekuensi . Persentase (%) 34,00 56,60 9,40 90,60 7,50 1,90 92,50 1,90 5,70 50,90 45,30 3,80 90,60 9,40 0,00 32,10 35,80 32,10 73,60 20,80 5,70 Tingkat pendidikan formal responden tergolong rendah, di mana 90,6 persen petani hanya menyelesaikan pendidikan setara Sekolah Dasar (SD). Hal ini umumnya dipengaruhi oleh keterbatasan ekonomi yang menyebabkan banyak petani harus putus sekolah lebih awal untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi ini berimplikasi pada kemampuan mereka dalam memahami dan menerima inovasi pertanian yang relatif kompleks. Selanjutnya, sebagian besar petani mengelola lahan dengan luas yang sempit, yaitu 92,5 persen memiliki lahan seluas kurang dari atau sama dengan 0,5 hektar. Lahan tersebut terutama digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga sehari-hari. Sementara itu, petani dengan lahan lebih luas biasanya menjual sebagian hasil panen mereka untuk menambah pendapatan keluarga. Pengalaman bertani para responden bervariasi, namun sebagian besar memiliki pengalaman yang cukup lama, dengan 50,9 persen berpengalaman selama 3 hingga 23 tahun, dan 45,3 persen memiliki pengalaman antara 24 hingga 44 tahun. Banyak dari mereka telah bertani sejak usia muda sebagai bagian dari tradisi keluarga dan untuk mendukung ekonomi rumah tangga. Selanjutnya, dalam hal pencarian informasi terkait SP2O, mayoritas petani . ,6 perse. termasuk kategori lokalit, yaitu mengandalkan sumber informasi dari lingkungan sekitar, seperti sesama anggota kelompok tani dan penyuluh desa. Hanya 9,4 persen yang termasuk semi-kosmopolit, yaitu mereka yang juga mencari informasi dari Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 sumber eksternal seperti penyuluh atau kelompok tani di luar desa. Tidak ada petani yang tergolong kosmopolit, yang biasanya memiliki akses dan keterbukaan informasi luas dari luar Tingkat motivasi petani untuk menerapkan SP2O relatif merata di antara kategori rendah, sedang, dan tinggi. Motivasi utama berasal dari keinginan mengurangi biaya produksi dengan memanfaatkan pupuk organik dan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian Namun, beberapa petani masih ragu akibat penurunan hasil panen pada tahap awal penerapan yang membutuhkan waktu beberapa musim tanam untuk pulih. Terakhir, intensitas mengikuti penyuluhan mengenai SP2O juga didominasi oleh tingkat rendah, dengan 73,6 persen petani hanya menghadiri 1 hingga 6 kali pertemuan dalam setahun terakhir. Faktor-faktor penghambat utama adalah kesibukan petani, ketidaksesuaian materi penyuluhan dengan kebutuhan mereka, serta kondisi geografis lahan yang sulit dijangkau, khususnya bagi petani yang mengelola lahan di bagian bawah desa dengan akses air yang tercemar sehingga sulit menerapkan sistem organik. Persepsi Petani Mengenai Karakteristik Inovasi SP2O Penerapan inovasi dipengaruhi oleh bagaimana inovasi tersebut diterima oleh petani sebagai pengguna utama. Penilaian persepsi ini mengacu pada lima dimensi karakteristik inovasi menurut Rogers . , yaitu keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, trialabilitas, dan observabilitas. Tabel 2 menunjukkan Jumlah dan persentase responden berdasarkan persepsi petani mengenai karakteristik inovasi SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi tahun 2024. Tabel 2 Jumlah dan persentase responden berdasarkan persepsi petani mengenai karakteristik inovasi SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi No Uraian Tingkat Keuntungan Relatif Tidak Menguntungkan (Skor 5-. Cukup Menguntungkan (Skor 11-. Menguntungkan (Skor 16-. Tingkat Kompatabilitas Tidak Sesuai (Skor 5-. Cukup Sesuai (Skor 11-. Sesuai (Skor 16-. Tingkat Kompleksitas Sulit (Skor 6-. Cukup mudah (Skor 13-. Mudah (Skor 19-. Tingkat Trialabilitas Tidak Bisa (Skor 4-. Cukup bisa (Skor 9-. Bisa (Skor 13-. Tingkat Observabilitas Tidak Terlihat (Skor 4-. Cukup Terlihat (Skor 9-. Terlihat (Skor 13-. Karakteristik Inovasi Rendah (Skor 24-. Sedang (Skor 42-. Tinggi (Skor 60-. Frekuensi . Persentase (%) 41,50 34,00 24,50 77,40 18,90 3,80 45,30 41,50 13,20 62,30 1,90 35,80 64,20 22,60 13,20 49,10 32,10 18,90 Sebagian besar petani di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi menilai bahwa SP2O belum memberikan keuntungan signifikan dibandingkan sistem pertanian padi non-organik, dengan Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 41,50% responden menganggapnya tidak menguntungkan karena tidak langsung meningkatkan produktivitas, pendapatan, atau menurunkan serangan hama. Meski demikian, aspek kesehatan menjadi nilai positif utama dari SP2O, karena konsumsi beras organik dianggap lebih menyehatkan. Petani yang telah menerapkan SP2O lebih dari tiga musim juga melaporkan adanya efisiensi biaya karena tidak perlu membeli pupuk dan pestisida kimia, meskipun produktivitas setara baru tercapai setelah beberapa musim tanam. Namun, 77,40% petani merasa bahwa SP2O tidak sesuai dengan kondisi dan kebiasaan bertani mereka, terutama karena faktor geografis, seperti lahan terasering dan aliran air yang mudah tercemar dari petani di hulu. Selain itu, kebiasaan penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang sudah mendarah daging di kalangan petani membuat mereka kesulitan beradaptasi dengan sistem organik. Meskipun beberapa petani dan penyuluh melihat potensi kesesuaian SP2O dengan kondisi lahan dan sumber air di Desa Purwabakti, resistensi budaya bertani dan kebutuhan ekonomi jangka pendek menjadi hambatan utama dalam penerapan SP2O secara luas. Sebagian besar responden . ,30%) menilai SP2O sebagai sistem yang sulit Kesulitan utama terletak pada proses pembuatan pupuk dan pestisida organik yang memerlukan banyak tenaga dan bahan baku seperti kotoran ternak dan daun suren sebagai salah satu kelimpahan di sana. Sebaliknya, petani justru menilai pengolahan lahan dan akses terhadap benih organik sebagai aspek yang mudah, terutama karena adanya bantuan dari Dinas Pertanian dan pengelolaan penangkaran benih lokal. Namun, pengendalian hama tetap menjadi tantangan besar karena hambatan kultural dan teknis, terutama terhadap hama seperti babi dan monyet yang tidak bisa dikendalikan secara Sebanyak 62,30% petani menyatakan bahwa SP2O tidak bisa dicoba dalam skala kecil. Hal ini disebabkan oleh risiko kontaminasi dari lahan sekitar yang masih menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Karena sistem pengairan di Desa Purwabakti saling terhubung dari hulu ke hilir, keberhasilan uji coba SP2O memerlukan penerapan kolektif oleh seluruh petani dalam satu hamparan. Meski ada beberapa petani yang menganggap SP2O bisa dicobakan dalam skala kecil, pandangan ini umumnya muncul dari kurangnya pemahaman tentang risiko kontaminasi lintas lahan. Sebagian besar petani . ,20%) merasa bahwa hasil penerapan SP2O tidak terlihat secara signifikan, terutama dari segi produktivitas, jumlah anakan, atau kesuburan tanah. Banyak yang menyatakan bahwa hasil panen dari padi organik lebih rendah dibandingkan dengan padi non-organik, terutama di musim tanam awal. Namun, petani yang telah konsisten menerapkan SP2O selama lebih dari tiga musim mulai melihat tanda-tanda positif, seperti tanah yang lebih gembur, peningkatan hasil panen, dan tampilan tanaman yang lebih sehat. Perbedaan persepsi ini menunjukkan bahwa durasi penerapan berpengaruh terhadap tingkat keteramatan hasil inovasi SP2O. Secara agregat, persepsi petani terhadap karakteristik inovasi SP2O di Desa Purwabakti menunjukkan kecenderungan negatif. Dari total responden, 49,10% menilai karakteristik inovasi SP2O secara keseluruhan berada dalam kategori rendah, dengan hanya 18,90% yang menilainya tinggi. Aspek yang paling banyak dianggap tidak mendukung adalah kompatibilitas . ,40% tidak sesua. , trialabilitas . ,30% tidak bisa dicob. , dan observabilitas . ,20% tidak terlihat hasilny. Di sisi lain, keuntungan relatif dan kompleksitas menunjukkan persebaran yang lebih seimbang meski tetap didominasi oleh persepsi negatif. Temuan ini mengindikasikan bahwa rendahnya penerimaan inovasi SP2O bukan semata disebabkan oleh ketidaktahuan, melainkan lebih pada ketidaksesuaian inovasi dengan kondisi sosial-ekonomi, budaya bertani, serta ekosistem lokal petani. Pemahaman ini menjadi dasar Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 penting dalam merancang strategi adopsi inovasi pertanian yang lebih partisipatif dan Dukungan Penyuluhan Penyuluhan pertanian memiliki peran strategis dalam memperkenalkan, menjelaskan, dan mendorong adopsi inovasi di tingkat petani. Dalam konteks inovasi Sistem Pertanian Padi Organik (SP2O), dukungan penyuluhan dinilai penting sebagai jembatan antara kebijakan program dan penerapan di lapangan. Dukungan ini dilihat dari dua aspek utama, yaitu keefektifan metode dan materi penyuluhan yang diberikan oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Wilayah V Cibungbulang kepada Poktan Mukti Tani Jaya Abadi. Penilaian terhadap kedua aspek ini menjadi indikator penting untuk melihat seberapa besar peran penyuluhan dalam mendorong adopsi SP2O. Tabel 3 menunjukkan jumlah dan persentase responden berdasarkan dukungan penyuluhan di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi tahun 2024. Tabel 3. Jumlah dan persentase responden berdasarkan dukungan penyuluhan di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi No Uraian Keefektifan Metode Penyuluhan Rendah (Skor 3-. Sedang (Skor 7-. Tinggi (Skor 10-. Frekuensi . Keefektifan Materi Penyuluhan Rendah (Skor 5-. Sedang (Skor 9-. Tinggi (Skor 13-. Dukungan Penyuluhan Rendah (Skor 8-. Sedang (Skor 15-. Tinggi (Skor 22-. Persentase (%) 81,10 13,20 5,70 66,00 17,00 17,00 77,40 18,90 3,80 Sebagian besar petani . ,10%) menilai keefektifan metode penyuluhan yang digunakan dalam sosialisasi SP2O berada dalam kategori rendah. Penyuluhan yang dominan menggunakan metode ceramah dan diskusi dianggap kurang efektif karena informasi disampaikan secara verbal tanpa media pendukung yang membantu daya ingat. Hal ini menyebabkan materi mudah dilupakan, terutama oleh petani lansia dengan latar pendidikan Meskipun metode demonstrasi dianggap paling mudah dipahami oleh sebagian kecil petani, sayangnya metode ini jarang digunakan, yaitu hanya tiga kali dalam satu tahun. Kurangnya variasi metode dan minimnya partisipasi aktif dalam kegiatan penyuluhan menjadi faktor yang memperkuat persepsi negatif terhadap efektivitas penyampaian informasi SP2O. Sebanyak 66 persen responden menyatakan bahwa keefektivan materi penyuluhan berada dalam kategori rendah. Hal ini ditinjau dari rendahnya tingkat pengetahuan petani terhadap berbagai aspek teknis SP2O, seperti masa konversi lahan, kriteria benih organik, sumber pupuk yang sesuai, teknik pengendalian hama alternatif, hingga waktu panen yang Penyebab utama rendahnya pemahaman ini adalah minimnya intensitas dan partisipasi petani dalam penyuluhan, serta kesenjangan antara materi teknis dari Kementerian Pertanian dan kapasitas belajar petani yang didominasi oleh pendidikan dasar. Meskipun beberapa petani mampu menjelaskan konsep masa konversi secara memadai, mayoritas lainnya tidak memahami substansi materi yang disampaikan oleh penyuluh. Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 Secara agregat, dukungan penyuluhan terhadap adopsi SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi tergolong rendah, sebagaimana ditunjukkan oleh 77,40% responden. Keefektifan metode dan materi penyuluhan belum mampu membentuk pemahaman dan keterampilan teknis yang memadai bagi petani dalam menerapkan SP2O secara optimal. Minimnya penggunaan metode demonstratif, rendahnya partisipasi petani, serta tantangan literasi menjadi kendala utama dalam pelaksanaan penyuluhan. Temuan ini menegaskan perlunya pendekatan penyuluhan yang lebih kontekstual, partisipatif, dan adaptif terhadap karakteristik petani lokal, agar inovasi pertanian seperti SP2O dapat diadopsi secara lebih luas dan Penerapan Inovasi SP2O di Desa Purwabakti. Kecamatan Pamijahan. Kabupaten Bogor Inovasi Sistem Pertanian Padi Organik (SP2O) mulai dikenalkan di Desa Purwabakti sejak tahun 2017 dan intensif disebarluaskan melalui Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) pada tahun 2022. Meskipun program ini telah berjalan selama beberapa tahun, adopsi dan penerapan SP2O oleh petani belum merata dan masih mengalami banyak Penerapan SP2O dinilai berdasarkan lima standar utama yang tercantum dalam Standar Nasional Indonesia 6729:2016 Tentang Sistem Pertanian Organik . dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 64 Tahun 2013 Tentang Sistem Pertanian Organik . , yaitu pengolahan lahan, penyiapan benih, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta teknik pemanenan. Tabel 4 menunjukkan jumlah dan persentase responden berdasarkan penerapan inovasi SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi tahun 2024. Tabel 4 Jumlah dan persentase responden berdasarkan penerapan inovasi SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi Komponen Inovasi Tingkat Kesesuaian Pengolahan Lahan Rendah (Skor 4-. Sedang (Skor 7-. Tinggi (Skor 10-. Tingkat Kesesuaian Penyiapan Benih Rendah (Skor 6-. Sedang (Skor 11-. Tinggi (Skor 15-. Tingkat Kesesuaian Pemupukan Rendah (Skor 4-. Sedang (Skor 7-. Tinggi (Skor 10-. Tingkat Kesesuaian Pengendalian Hama dan Penyakit Rendah (Skor 4-. Sedang (Skor 7-. Tinggi (Skor 10-. Tingkat Kesesuaian Teknik Pemanenan Rendah (Skor 4-. Sedang (Skor 7-. Tinggi (Skor 10-. Tingkat Penerapan Inovasi SP2O Rendah (Skor 22-. Sedang (Skor 37-. Tinggi (Skor 52-. Jumlah . Persentase (%) 64,20 11,30 24,50 62,30 00,00 37,70 75,50 22,60 1,90 64,20 34,00 1,90 77,40 22,60 00,00 62,30 32,10 5,70 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 Sebanyak 64,20% petani masih belum melakukan pengolahan lahan sesuai standar SP2O. Mayoritas belum menjalani masa konversi minimal 3 musim tanam, masih menggunakan pupuk/pestisida kimia, serta tidak menggunakan lahan secara konsisten untuk Salah satu kendala utama adalah ketidakumuman penggunaan pematang di lahan terasering Desa Purwabakti karena akan mengurangi luas tanam. Petani umumnya hanya membuat pematang selebar 10Ae15 cm, jauh dari standar minimal 20 cm yang dianjurkan untuk mencegah kontaminasi. Kemudian, sebanyak 62,30% responden juga belum menyiapkan benih secara sesuai dengan standar SP2O. Banyak petani masih menggunakan benih nonorganik dan melakukan penyemaian menggunakan input kimia. Hanya sebagian petani, terutama yang telah rutin menerapkan SP2O, yang menggunakan benih organik hasil dari penangkaran lokal atau bantuan penyuluh, serta melakukan perendaman dan penyemaian sesuai prosedur organik. Penerapan pemupukan menjadi salah satu aspek terlemah dengan 75,50% responden berada pada kategori rendah. Sebagian besar petani masih menggunakan pupuk urea dan belum menerapkan takaran yang dianjurkan . ton/h. Bahkan yang menggunakan pupuk organik pun sering tidak mengukur dosisnya. Selain itu, waktu pemupukan tidak sesuai dengan ketentuan SP2O . Ae25 hari setelah tana. , melainkan mengikuti budaya lokal yaitu 7 HST atau bahkan sebelum tanam. Petani juga tidak melakukan rotasi tanam karena sudah terbiasa menanam padi sepanjang tahun. Sekitar 64,20% petani belum menerapkan pengendalian hama dan penyakit secara Meskipun sebagian mempertahankan musuh alami seperti kepik dan laba-laba, banyak yang tetap menggunakan pestisida kimia bahkan saat tidak ada hama. Penggunaan perangkap tidak dilakukan karena dianggap pamali secara budaya, terutama untuk mengendalikan hama babi dan monyet. Penggunaan mulsa juga tidak dilakukan karena dianggap merepotkan dan tidak lazim dalam praktik pertanian lokal yang mengandalkan penggenangan alami dari aliran mata air. Teknik pemanenan menjadi aspek dengan tingkat kesesuaian terendah, dengan 77,40% responden berada pada kategori rendah. Meskipun waktu panen relatif sesuai . Ae 118 har. , praktik pengeringan padi tidak mengikuti anjuran karena dilakukan di area rumah yang rentan kontaminasi. Selain itu, keterbatasan pematang dan sistem tata air menyebabkan petani kesulitan menerapkan strategi pengelolaan air dan pemisahan lahan sebagaimana diwajibkan dalam SP2O. Secara keseluruhan, penerapan inovasi SP2O di Desa Purwabakti masih berada pada tahap awal dan tergolong rendah, sebagaimana ditunjukkan oleh 62,30% responden. Kendala utama tidak hanya bersumber dari teknis, tetapi juga berkaitan dengan budaya bertani, kondisi geografis lahan, akses terhadap informasi, serta faktor sosial-ekonomi petani. Meskipun terdapat sebagian kecil petani yang telah berhasil menerapkan SP2O secara menyeluruh, skala adopsinya belum cukup untuk menciptakan sistem pertanian organik yang utuh dan berkelanjutan di desa ini. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif, kolektif, dan berkelanjutan agar SP2O tidak hanya dikenalkan, tetapi juga benar-benar diterapkan secara Hubungan Karakteristik Petani dengan Penerapan Inovasi SP2O Pemahaman terhadap karakteristik individu petani sangat penting dalam menganalisis tingkat keberhasilan adopsi inovasi pertanian. Dalam konteks penerapan SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi, tujuh karakteristik petani diuji hubungannya dengan penerapan inovasi menggunakan analisis korelasi Rank Spearman. Tiga dari tujuh karakteristik menunjukkan Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 hubungan signifikan, sementara empat lainnya tidak. Tabel 5 menunjukkan hasil uji korelasi karakteristik petani dengan penerapan inovasi SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi, 2024. Tingkat kekosmopolitan petani memiliki hubungan signifikan terhadap penerapan inovasi SP2O . s = 0,480**). Petani dengan sifat semi-kosmopolit, yakni mereka yang terbuka terhadap informasi dari luar desa, cenderung lebih aktif dalam mencari tahu tentang SP2O, berdiskusi dengan penyuluh, dan menjalin komunikasi lintas kelompok tani. Karakter ini banyak dimiliki oleh pengurus poktan yang berperan sebagai perantara informasi, sehingga membuat mereka lebih percaya diri dan termotivasi dalam menerapkan inovasi. Sebaliknya, petani yang bersifat lokalit hanya mengandalkan informasi dari sesama petani dan cenderung pasif, membuat penerapan SP2O rendah. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Nurazira et . yang menyatakan bahwa ketua kelompok tani cenderung memiliki tingkat kosmopolitan yang tinggi dan menjadi sumber informasi bagi petani-petani lainnya. Tabel 5 Hasil uji korelasi karakteristik petani dengan penerapan inovasi SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi Karakteristik Petani Penerapan Inovasi SP2O 0,142 0,007 0,050 0,267 0,480** 0,416** 0,802** Umur Tingkat pendidikan formal Luas penguasaan lahan Pengalaman berusahatani Tingkat kekosmopolitan Tingkat motivasi bertani organik Intensitas mengikuti penyuluhan Keterangan: rs = koefisien korelasi Rank Spearman. **signifikan pada O 0,05 Tingkat motivasi bertani organik juga menunjukkan hubungan signifikan dengan penerapan SP2O . s = 0,416**). Petani yang termotivasi oleh manfaat jangka panjang seperti menurunnya biaya input, perbaikan kondisi tanah, dan kelestarian lingkungan, lebih konsisten dalam menerapkan prinsip SP2O. Mereka yang memahami nilai strategis pertanian organik lebih bersedia berinvestasi waktu dan tenaga dalam produksi pupuk serta pestisida organik. Sebaliknya, petani dengan motivasi rendah, umumnya menghindari SP2O karena takut pada potensi penurunan hasil panen yang bisa mengganggu kebutuhan konsumsi rumah tangga. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Astuti et al. yang menyatakan bahwa petani cenderung takut untuk mengadopsi suatu inovasi jika bersinggungan langsung dengan pendapatan rumah tangga. Variabel dengan hubungan paling kuat adalah intensitas mengikuti penyuluhan . s = 0,802**), yang sangat signifikan terhadap tingkat penerapan SP2O. Petani yang rutin mengikuti penyuluhan, minimal sebulan sekali, menunjukkan tingkat penerapan SP2O yang lebih tinggi bahkan hingga kategori tinggi. Penyuluhan memberi pemahaman praktis, keyakinan, dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengadopsi SP2O secara utuh. Sementara itu, petani yang jarang mengikuti penyuluhan umumnya adalah mereka yang merasa inovasi tidak relevan dengan kondisi lahannya, khususnya petani yang berada di posisi lahan bawah yang rawan kontaminasi. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Putra & Sadono . yang menyatakan bahwa intensitas penyuluhan memiliki hubungan yang signifikan dengan penerapan inovasi yang bersifat teknis. Empat karakteristik lainnya, yaitu umur . s = 0,. , pendidikan formal . s = 0,. , luas penguasaan lahan . s = 0,. , dan pengalaman berusahatani . s = 0,. , tidak Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 menunjukkan hubungan signifikan terhadap penerapan SP2O. Artinya, faktor-faktor demografis ini bukanlah penentu utama dalam keputusan petani untuk mengadopsi SP2O. Petani tua maupun muda, berpendidikan rendah maupun tinggi, dengan lahan sempit atau luas, semuanya memiliki kecenderungan serupa dalam memilih metode bertani, tergantung pada motivasi internal dan akses informasi yang mereka miliki. Hasil tersebut tidak sejalan dengan penelitian Effendy et al. dan Nugroho et al. yang menunjukkan bahwa tingkat adopsi inovasi dipengaruhi oleh karakteristik petani seperti pendidikan. Penelitian Pamungkas et al. menyatakan umur tidak berhubungan dengan penerapan inovasi, meskipun dalam penelitian ini juga dikatakan bahwa luas lahan berpengaruh pada penerapan inovasi berbasis tanaman padi. Faktor budaya, kebiasaan lama, serta keterbatasan fisik atau logistik dalam penelitian ini lebih memengaruhi sikap petani terhadap perubahan sistem Hubungan Persepsi Petani Mengenai Karakteristik Inovasi SP2O dengan Penerapan Inovasi SP2O Penerapan suatu inovasi oleh petani sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka memersepsikan karakteristik inovasi tersebut. Rogers . menyatakan bahwa terdapat lima karakteristik utama yang memengaruhi proses adopsi inovasi, yaitu keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, trialabilitas, dan observabilitas. Persepsi terhadap kelima dimensi ini akan menentukan apakah suatu inovasi dianggap layak, mudah, dan bermanfaat untuk diterapkan. Tabel 6 menunjukkan hasil uji korelasi karakteristik petani dengan penerapan inovasi SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi, 2024. Tabel 6 Hasil uji korelasi persepsi petani mengenai karakteristik inovasi SP2O dengan penerapan inovasi SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi Persepsi Petani Mengenai Karakteristik Inovasi SP2O Penerapan Inovasi SP2O Tingkat keuntungan relatif Tingkat kompatabilitas Tingkat kompleksitas Tingkat trialabilitas Tingkat observabilitas Persepsi petani mengenai karakteristik inovasi SP2O Keterangan: rs = koefisien korelasi Rank Spearman. **signifikan pada O 0,05 0,512** 0,541** 0,516** 0,176 0,690** 0,661** Hasil uji korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa secara agregat, persepsi petani terhadap karakteristik inovasi SP2O berhubungan nyata dengan tingkat penerapannya . s = 0,661**). Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik persepsi petani terhadap aspek-aspek SP2O, semakin tinggi kemungkinan mereka untuk menerapkannya. Namun, tidak semua komponen memiliki pengaruh yang sama. Tingkat keuntungan relatif memiliki korelasi signifikan dengan penerapan SP2O . s = 0,512**), menunjukkan bahwa persepsi akan manfaat SP2O menjadi pemicu penting dalam adopsi. Hal ini sejalan dengan penelitian Charina et al. yang menyatakan bahwa persepsi petani mengenai keuntungan relatifnya berpengaruh pada penerapan pertanian organik. Mayoritas petani yang menganggap SP2O tidak menguntungkan . ,4%) cenderung tidak menerapkannya. Mereka menganggap SP2O tidak meningkatkan hasil panen, tidak menurunkan serangan hama, dan tidak menaikkan pendapatan. Hal ini diperburuk oleh kendala geografis . ahan teraserin. Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 yang menyulitkan dalam distribusi dan tidak adanya pasar khusus yang memberikan insentif harga lebih tinggi bagi padi organik. Sebaliknya, petani yang sudah menerapkan SP2O lebih dari tiga musim cenderung menilai SP2O menguntungkan dari segi penghematan biaya input dan kesehatan. Tingkat kompatibilitas juga memiliki hubungan nyata . s = 0,541**), memperlihatkan bahwa kesesuaian SP2O dengan kebiasaan bertani lama dan kondisi lokal sangat berpengaruh terhadap penerapannya. Petani menilai SP2O tidak cocok dengan kebiasaan penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang sudah mengakar sejak Revolusi Hijau. Hal tersebut didukung dengan hasil penelitian Charina et al. , yang menyatakan bahwa pertanian organik tidak sesuai dengan kebiasaan petani sebelumnya yang biasa menggunakan pupuk kimia. Kesulitan ini diperparah oleh kepercayaan lokal yang melarang pengendalian hama babi dan monyet secara agresif, sehingga petani merasa terbatas dalam mengelola risiko hama dan enggan menerapkan inovasi. Tingkat kompleksitas, yang dalam konteks ini berarti persepsi akan kemudahan inovasi, juga berhubungan signifikan dengan penerapan SP2O . s = 0,516**). Mayoritas petani yang menganggap SP2O sulit . ,2%) cenderung berada pada penerapan rendah. Kesulitan terutama terjadi dalam pembuatan pupuk dan pestisida organik yang membutuhkan bahan tertentu seperti kotoran hewan dan daun suren yang tidak mudah diperoleh. Ditambah lagi, kondisi geografis seperti lahan bertingkat dan pengairan yang saling tersambung dari atas ke bawah, dianggap menyulitkan penerapan SP2O secara bersih dan terisolasi dari kontaminasi bahan kimia. Kekhawatiran akan kontaminasi ini semakin kuat mengingat lahan di sekitar sawah untuk padi organik masih menggunakan sistem non-organik. Tingkat observabilitas menunjukkan korelasi paling kuat . s = 0,690**) dalam subdimensi karakteristik inovasi. Petani yang tidak dapat melihat perbedaan nyata dalam hasil panen, jumlah anakan, atau kesuburan tanah, cenderung enggan menerapkan SP2O. Persepsi bahwa padi organik tidak memberikan hasil yang terlihat lebih baik dari padi biasa membuat adopsi rendah. Namun, meski mayoritas petani tidak melihat perubahan signifikan pada hasil panen awal, para pengurus poktan yang telah menerapkan SP2O lebih dari tiga musim mulai mengamati perbaikan kualitas tanah dan tanaman yang mendorong mereka untuk tetap bertahan. Perbaikan ini meliputi tekstur tanah yang lebih gembur, jumlah cacing tanah yang meningkat, dan daun tanaman yang lebih sehat. Satu-satunya karakteristik inovasi yang tidak memiliki hubungan signifikan adalah tingkat trialabilitas . s = 0,. , yang berarti kepercayaan bahwa SP2O bisa dicoba dalam skala kecil tidak serta-merta membuat petani lebih tertarik menerapkannya. Ini dipengaruhi oleh kondisi geografis dan sistem pengairan kolektif di Desa Purwabakti yang menyebabkan potensi kontaminasi antar lahan sangat tinggi. Petani menyadari bahwa untuk menerapkan SP2O secara efektif diperlukan adopsi kolektif, sehingga mencoba secara individu justru dianggap sia-sia atau bahkan merugikan bagi lahan tetangga. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Putra & Sadono . yang menyatakan bahwa persepsi mengenai triabilitas inovasi tidak berhubungan dengan penerapan inovasi pertanian. Hubungan Dukungan Penyuluhan dengan Penerapan Inovasi SP2O Penyuluhan merupakan salah satu pilar penting dalam proses adopsi inovasi pertanian. Melalui penyuluhan, petani mendapatkan informasi, pengetahuan, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk memahami dan menerapkan teknologi baru seperti SP2O. Tabel 7 menunjukkan hasil uji korelasi dukungan penyuluhan dengan penerapan inovasi SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi tahun 2024. Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 Tabel 7 Hasil uji korelasi dukungan penyuluhan dengan penerapan inovasi SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi Dukungan Penyuluhan Penerapan Inovasi SP2O Keefektifan metode penyuluhan Keefektifan materi penyuluhan Dukungan penyuluhan 0,597** 0,627** 0,644** Keterangan: rs = koefisien korelasi Rank Spearman. **signifikan pada O 0,05 Dukungan penyuluhan yang terdiri dari keefektifan metode dan materi penyuluhan, terbukti memiliki hubungan signifikan dengan penerapan inovasi SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi, dengan korelasi Rank Spearman masing-masing sebesar 0,597** untuk metode, 0,627** untuk materi, dan 0,644** secara agregat. Hal ini menunjukkan bahwa semakin efektif penyuluhan yang diberikan, semakin tinggi tingkat penerapan inovasi SP2O oleh petani. Hal ini sejalan dengan penelitian Kumar et al. yang menyatakan bahwa penyuluhan mampu meningkatkan keterampilan dan pemahaman petani tentang praktik pertanian organik serta berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti pemerintah dan kelompok tani untuk meningkatkan keberlanjutan praktik pertanian organik. Kelompok petani dengan dukungan penyuluhan rendah biasanya adalah petani biasa yang memiliki lahan sempit dan motivasi rendah, jarang ikut penyuluhan, serta merasa materi tidak sesuai kebutuhan. Pendidikan rendah membuat mereka sulit memahami penyuluhan yang lebih banyak ceramah dan diskusi tanpa praktik langsung, sehingga sering lupa materi. Sebaliknya, kelompok dengan dukungan penyuluhan sedang hingga tinggi . iasanya pengurus poktan atau petani akti. memiliki penerapan SP2O lebih baik. Mereka percaya manfaat inovasi dan rutin mengikuti penyuluhan, meski demonstrasi cara jarang dilakukan. Namun, kelompok ini masih minoritas sehingga dampaknya belum luas. Petani yang menilai metode penyuluhan rendah cenderung berada pada kategori penerapan SP2O yang rendah, sedangkan petani yang menilai metode tersebut tinggi sebagian besar berada pada kategori penerapan tinggi. Metode penyuluhan yang dominan adalah ceramah dan diskusi, dengan demonstrasi cara yang jarang dilakukan dan dinilai kurang efektif. Metode penyuluhan demonstrasi, meskipun sangat efektif menurut beberapa petani yang mengikutinya, ternyata sangat jarang diterapkan oleh penyuluh. Dari 10 kali penyuluhan dalam setahun, demonstrasi hanya dilakukan tiga kali, biasanya saat pelatihan membuat pupuk organik atau pestisida nabati. Sebagian besar petani juga mengaku sulit mengikuti demonstrasi karena faktor pendidikan yang rendah dan jarak lahan yang jauh, sehingga penyuluhan metode ceramah dan diskusi tetap mendominasi. Sementara itu, keefektifan materi penyuluhan juga sangat berpengaruh. Petani yang menilai materi penyuluhan rendah menunjukkan penerapan SP2O rendah. Meskipun materi sudah disusun sesuai panduan resmi dan disesuaikan dengan kebutuhan petani, banyak petani yang tidak memahami durasi konversi lahan, syarat benih organik, dan teknik pengendalian hama mekanis. Rendahnya intensitas kehadiran dalam penyuluhan dan kendala belajar akibat pendidikan rendah menjadi faktor utama ketidakpahaman ini. Bahkan penyuluh sendiri menyadari banyak petani merasa penyuluhan Autidak sesuaiAy sehingga memilih tidak ikut lagi, apalagi bagi petani yang belum siap menerapkan SP2O. Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 . , 2025, 42-57 DOI: 10. 51852/d03mhv41 Simpulan Penerapan inovasi SP2O di Poktan Mukti Tani Jaya Abadi masih tergolong rendah dan belum sesuai dengan anjuran standar, dengan seluruh komponen penerapan seperti pengelolaan lahan, penyiapan benih, pemupukan, pengendalian hama, dan teknik pemanenan berada pada tingkat kesesuaian yang rendah. Mayoritas petani berusia dewasa dengan pendidikan rendah, lahan terbatas, dan motivasi sedang yang terutama didorong oleh pengurangan biaya dan kepedulian lingkungan. Intensitas mereka dalam mengikuti penyuluhan terkait SP2O juga masih rendah. Persepsi petani terhadap karakteristik inovasi cenderung negatif, menilai SP2O kurang menguntungkan, sulit diterapkan, tidak sesuai dengan kondisi geografis serta budaya tanam lokal, dan hasilnya sulit diamati. Selain itu, dukungan penyuluhan dinilai kurang efektif, terutama karena metode ceramah yang dominan tanpa praktik langsung dan materi yang kurang dipahami oleh petani. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa penerapan inovasi SP2O berhubungan signifikan dengan tingkat kekosmopolitan, motivasi bertani, serta intensitas mengikuti Persepsi petani terhadap karakteristik inovasi, khususnya keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, dan observabilitas, juga berpengaruh nyata terhadap tingkat penerapan, sedangkan trialabilitas tidak signifikan. Dukungan penyuluhan secara keseluruhan, termasuk keefektifan metode dan materi penyuluhan, memiliki korelasi positif yang signifikan dengan penerapan SP2O. Artinya, semakin terbuka petani terhadap informasi, termotivasi, dan mendapatkan penyuluhan yang efektif, maka semakin baik tingkat penerapan inovasi SP2O. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan kualitas dan kuantitas penyuluhan serta perubahan persepsi petani untuk mempercepat adopsi inovasi pertanian padi organik. Daftar Pustaka