Jurnal Studi Pemuda Volume 14 Nomor 2 tahun 2025 doi: 10. 22146/studipemudaugm. Hegemoni Barat dalam Kebijakan Pemuda ASEAN: Analisis Wacana Kritis atas Paradigma Generasional dalam AMMY . 2Ae2. dan AMMY 3 . 7Ae2. Mahatma Aditya Mikaila Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Yogyakarta mahatmamikaila7@gmail. Submitted: 28 October 2025. Revised: 9 February 2026. Accepted: 27 Febtuary 2026 ABSTRACT This study critically examines how ASEANAos policies on youth issues reproduce development narratives rooted in Western hegemonic ideologies. The novelty of this research lies in its focus on the ideological construction of youth within ASEANAos policy discourse, differing from previous studies that primarily view youth as neutral subjects of development. Employing (FaircloughAos 2. Critical Discourse Analysis and (EscobarAos 1. decolonization framework, the study analyzes policy texts from the ASEAN Ministerial Meeting on Youth (AMMY) and ASEAN Ministerial Meeting on Youth 3 (AMMY . to uncover the underlying power structures and meanings embedded in ASEANAos development agenda. The findings reveal that youth within ASEAN discourse are constructed through the AuInstrumentalization of Youth,Ay where they are positioned primarily as objects and beneficiaries of development rather than as autonomous actors or decision-makers. The narratives emphasize youth as economic and social assets who contribute to regional stability and productivity, while concerns related to equity, participation, and social justice remain marginalized. The results demonstrate ASEANAos continued adherence to Western development paradigms prioritizing economic growth, employability, and resilience, often overlooking local contexts, cultural diversity, and political constraints. The study concludes by arguing for a transformative, inclusive, and justiceoriented policy framework recognizing young people as rights-bearing individuals capable of shaping ASEANAos social and political future. KEYWORDS ASEAN | Youth | Policy | Western Hegemony PENDAHULUAN Asia Tenggara, mencapai 685,4 juta jiwa pada tahun 2024 (Statesman 2. , merupakan salah satu kawasan dengan populasi muda terbesar di Pada tahun 2020, jumlah penduduk muda di kawasan ini mencapai 224,2 juta jiwa, di mana Generasi Z mencakup 53% dari total populasi (ASEAN Secretariat 2. Meskipun memiliki jumlah pemuda yang sangat besar. Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda akses terhadap pendidikan masih menjadi persoalan serius. Pada tahun 2024, tercatat sekitar 11,8 juta anak muda tidak bersekolah, yang tidak hanya menghambat pembangunan sumber daya manusia di kawasan ini, tetapi juga meningkatkan risiko eksploitasi tenaga kerja dan perdagangan manusia (SEAMEO Secretariat 2. Jumlah kasus perdagangan manusia bahkan meningkat 4,7 kali lipat, dari Mahatma Aditya Mikaila 296 kasus pada tahun 2022 menjadi 978 kasus pada tahun 2023, dengan mayoritas korban berusia antara 18 hingga 35 tahun (International Organisation for Migration 2. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun pemuda sering dianggap sebagai aset demografis, mereka juga rentan terhadap berbagai bentuk eksploitasi dan ketidakadilan institusional. sarana untuk menegaskan posisinya terhadap pengaruh Barat. Sejalan dengan pandangan (Wojczewski 2. , pergeseran kekuatan global dan munculnya tatanan pasca-Barat terjadi karena adanya perebutan hegemoni atas makna Association of Southeast Asian Nations atau dikenal sebagai ASEAN merupakan organisasi kawasan yang menaungi negaranegara di Asia Tenggara, organisasi regional ini tidak luput dari pengaruh hegemoni Barat. Terlihat dari berbagai rencana pembangunan yang meniru pola organisasi dan pemerintahan Barat. ASEAN didirikan pada 8 Agustus 1967 sebagai organisasi regional di Asia Tenggara yang berfungsi untuk memperkuat kerja sama di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan, serta memelihara stabilitas dan perdamaian kawasan dengan berlandaskan keadilan, supremasi hukum, dan prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (ASEANa Studi ini menganalisis dokumen menteri ASEAN tentang isu kepemudaan dengan menggunakan pendekatan analisis wacana kritis (Fairclough 2. dan paradigma (Arturo Escobar 1. untuk mengkaji bagaimana dokumen-dokumen pertemuan tingkat menteri ASEAN mengenai pemuda dibentuk. Dengan demikian, studi ini berlandaskan pada perspektif dekolonisasi dalam studi pembangunan yang menyoroti bagaimana wacana pembangunan mereproduksi dinamika kekuasaan global. Pendekatan ini sejalan dengan paradigma hegemoni Gramsci, yang menekankan bahwa hegemoni ideologis terjadi melalui persetujuan dan kendali wacana, sehingga memungkinkan analisis yang lebih mendalam mengenai bagaimana kebijakan ASEAN membentuk konstruksi tentang pemuda. ASEAN memiliki agenda yang luas terkait kepemudaan, antara lain ASEAN Youth Dialogue. ASEAN Plus Youth Summit. ASEAN Youth Organization. AMMY, dan AMMY Plus Three. Namun, studi ini berfokus pada AMMY dan AMMY Plus Three. Pertemuan Menteri ASEAN tentang Kepemudaan (AMMY) merupakan inisiatif kerjasama kepemudaan yang dibentuk pada tahun 1992 di Jakarta oleh para menteri negara anggota ASEAN (ASEANa Pada tahun 2007. AMMY memperluas mekanisme kerja samanya dengan tiga negara mitra, yaitu Republik Rakyat Tiongkok. Jepang, dan Republik Korea, melalui AMMY Plus Three yang menjadi wadah utama bagi negara-negara anggota untuk mengembangkan kebijakan kepemudaan di tingkat menteri. Seiring berjalannya waktu. ASEAN berupaya agenda AMMY dan AMMY Plus Three dengan Studi ini menunjukkan bahwa pemuda diposisikan sebagai objek pembangunan kawasan Asia Tenggara, sebuah konsep yang berakar pada hegemoni ideologi Barat. Negaranegara Barat telah mendominasi wacana pembangunan global, salah satunya melalui penggunaan lembaga swadaya masyarakat untuk memperluas pengaruh mereka di negara-negara berkembang (Wright 2. Dalam konteks pendidikan, berfungsi sebagai instrumen hegemoni, soft power (Lo 2011. Wright 2012. Bittencourt dan Willetts 2. Pola serupa ditemukan oleh (Ashcraft 2000. Roth dan Brooks 2003. dimana pendidikan berperan dalam membentuk kompetensi yang memperkuat kerangka pembangunan yang dipimpin oleh Barat. Hegemoni ini membuat negara-negara non-Barat bergantung pada paradigma yang dibentuk oleh lembaga internasional, yang pada dasarnya berakar pada nilai dan kepentingan Barat, sehingga Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Hegemoni Barat dalam Kebijakan Pemuda ASEAN: Analisis Wacana Kritis atas Paradigma Generasional dalam AMMY . 2Ae2. dan AMMY 3 . 7Ae2. menempatkan negara serta institusi non-Barat di bawah kendali mereka. Meskipun ASEAN menunjukkan sikap resistensi terhadap hegemoni Barat (Stubbs, 2. , sejalan dengan temuan (Malherbe dkk. Coleman dan Serpell 2008. Nordtveit Komlosy 2016. Buier 2. tetapi arah kebijakan kawasan ini masih banyak dipengaruhi oleh paradigma pembangunan Barat. Melalui kebijakan kepemudaan AMMY dan AMMY Plus Three, pemuda kerap diposisikan sebagai agen pembangunan yang disiapkan untuk memenuhi tuntutan ekonomi global, memperkuat kerja sama regional dan internasional, serta mendukung pembangunan dengan standar global. Orientasi tersebut secara tidak langsung mengalihkan perhatian dari kompleksitas realitas sosial, kultural, dan struktural yang khas di Asia Tenggara. Dalam konteks ini. ASEAN menempatkan pemuda sebagai instrumen pencapaian tujuan regional, yang selaras dengan narasi pembangunan global yang juga dipromosikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (Walker 1981. Bersaglio dkk. Ballard dkk. Wang 2023. Boat dkk. Samad 2. Studi bahwa kaum muda dipandang sebagai kelompok demografis yang diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan global yang dirumuskan oleh pembuat kebijakan lintas generasi (Woodman & Wyn 2013. Dalam agenda kepemudaan ASEAN, penguatan ASEAN sarana untuk mendorong kontribusi generasi muda terhadap integrasi regional sekaligus menempatkan mereka sebagai sasaran utama Namun, orientasi kebijakan tersebut berpotensi menciptakan jarak antara kaum muda dan akar kebudayaan lokal mereka (Coleman dan Serpell 2008. Ungar dkk. Selain itu, dominasi pendekatan yang menitikberatkan pada penguatan kapasitas individu cenderung mengabaikan faktorJurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda faktor struktural yang membentuk pengalaman hidup pemuda di Asia Tenggara, sehingga isu kesejahteraan dan keadilan sosial pemuda sering kali terpinggirkan dalam agenda resmi ASEAN. Berangkat dari permasalahan tersebut, tujuan studi ini adalah menelusuri bagaimana kebijakan ASEAN tentang isu kepemudaan merepresentasikan wacana pembangunan yang masih dipengaruhi oleh hegemoni Barat. Dengan menggunakan pendekatan analisis wacana kritis (Fairclough 2. , studi ini tidak hanya menelaah bagaimana para menteri ASEAN membicarakan pemuda, tetapi juga bagaimana pilihan diksi, narasi, dan kerangka kebijakan tersebut merefleksikan relasi kuasa antara ASEAN dan paradigma pembangunan Barat. Berdasarkan kerangka tersebut, penelitian ini mengajukan pertanyaan utama: AuBagaimana para menteri ASEAN merepresentasikan pemuda dalam agenda kepemudaan dan bagaimana representasi tersebut mereproduksi atau menegosiasikan relasi hegemonik antara ASEAN terhadap wacana pembangunan?Ay Pertanyaan ini berangkat dari asumsi bahwa, sebagaimana ditegaskan dalam analisis wacana kritis, bahasa kebijakan bukanlah ruang yang netral, melainkan arena yang sarat kepentingan, ideologi, dan praktik kekuasaan. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya menggali lebih dalam dinamika produksi, reproduksi, dan legitimasi wacana kebijakan pemuda ASEAN, sekaligus mengidentifikasi kemungkinan ruang resistensi dan negosiasi terhadap dominasi paradigma global. KAJIAN LITERATUR Menurut Analisis Wacana Kritis Fairclough, hegemoni bekerja melalui teks, praktik wacana, dan praktik sosial yang memperlihatkan bagaimana kekuasaan serta ideologi membentuk bahasa dan institusi. Sejumlah bahwa hegemoni Barat dalam pembangunan Mahatma Aditya Mikaila mendominasi bidang pendidikan, kebijakan, dan tata kelola, dengan mendorong modernisasi sekaligus menyingkirkan pandangan lokal. Di sisi lain, beberapa penelitian berpendapat bahwa upaya tandingan terhadap hegemoni telah muncul untuk menentang narasi tersebut, namun kebijakan pemuda ASEAN masih mencerminkan norma-norma Barat. Berdasarkan dokumen dari pertemuan menterimenteri ASEAN tentang Pemuda menunjukkan bahwa pemuda diposisikan berdasarkan standar global, dengan penekanan pada produktivitas keterlibatan kewargaan yang berakar pada konstruksi Aunormative adulthoodAy (Woodman dan Wyn 2013. Akibatnya, partisipasi pemuda cenderung bersifat simbolis dan memperkuat pendekatan top down yang memandang pemuda sebagai objek pembangunan, bukan sebagai agen perubahan. Bentuk pemeliharaan hegemoni barat Sejumlah bahwa hegemoni Barat dipertahankan melalui berbagai konteks. (Walker 1. menyoroti wacana hegemonik dalam skema klasifikasi global, sementara (Wright 2. menekankan non-pemerintah memperkuat dominasi tersebut sekaligus menawarkan alternatif solusinya. Dalam bidang pendidikan, (Harper 2. menunjukkan dominasi pendidikan berbahasa Inggris yang sedangkan (Lo 2. mengungkap dominasi model pendidikan tinggi Barat melalui mekanisme peringkat universitas sebagai bentuk kekuatan lunak. (Bittencourt dan Willetts 2. juga menegaskan bahwa narasi internasionalisme dan multinasionalisme pasar turut menopang hegemoni neoliberalisme. Bentuk perlawanan hegemoni barat Sejumlah bahwa perlawanan terhadap hegemoni Barat muncul di berbagai bidang. (Coleman dan Serpell 2. mengkritik pendekatan normatif dalam psikologi perkembangan barat serta mendorong kurikulum yang lebih inklusif. (Stubbs 2. melihat perlawanan ASEAN terhadap hegemoni Barat melalui prinsip kemandirian, non-intervensi, dan diplomasi damai yang juga sejalan dengan Tiongkok. (Nordtveit 2. menyoroti upaya menentang dominasi hegemoni kapitalisme dalam globalisasi yang melahirkan keseragaman wacana. (Komlosy 2. menunjukkan melemahnya hegemoni Amerika Serikat seiring bangkitnya kekuatan Global Selatan, terutama Tiongkok. (Malherbe 2. menampilkan resistensi pemuda Etiopia melalui ekspresi visual untuk menentang hegemoni Barat, sementara (Wojczewski 2. membahas pergeseran hegemoni kekuatan global melalui gagasan Hubungan Internasional Pasca-Barat. Lebih jauh, (Buier 2. juga menyoroti proyek transportasi AVE sebagai contoh dominasi tanpa hegemoni sekaligus memicu resistensi lokal di wilayah Basque. Hegemoni barat dalam kebijakan pemuda ASEAN Hegemoni Barat tersirat dalam berbagai teks kebijakan pembangunan pemuda ASEAN, terutama dalam cara pemuda dirumuskan dan diarahkan. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pengaruh Barat membentuk retorika dan orientasi kebijakan pembangunan pemuda. Dalam bidang pendidikan, (Ashcraft 2. menunjukkan peran pendidikan tinggi dalam pengembangan pemuda berbasis kompetensi dan pengalaman, sementara (Roth dan Brooks 2. menegaskan bahwa program cenderung diarahkan pada standar global. Namun, pendekatan ini juga menuai kritik karena dianggap normatif dan kurang peka terhadap konteks budaya lokal, khususnya dalam kajian psikologi perkembangan dan ketahanan pemuda (Ungar dkk. Coleman Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Hegemoni Barat dalam Kebijakan Pemuda ASEAN: Analisis Wacana Kritis atas Paradigma Generasional dalam AMMY . 2Ae2. dan AMMY 3 . 7Ae2. dan Serpell 2. Dalam konteks global, (Bersaglio dkk. menunjukkan bahwa wacana PBB kerap memosisikan pemuda secara instrumental sebagai aset, risiko, atau warga negara ideal yang sedang dibentuk. Sejumlah studi mutakhir juga menegaskan bahwa inisiatif pembangunan pemuda masih dominan menempatkan mereka sebagai objek kebijakan (Ballard dkk. Wang dkk. Boat dkk. Pada level nasional, (Wound 2. menunjukkan penggunaan kekuatan lunak Jepang melalui budaya populer untuk mempengaruhi pemuda ASEAN, sementara (Sutopo 2022. menegaskan bahwa di Indonesia wacana kewirausahaan digunakan negara dan industri sebagai janji kesuksesan masa Meski demikian, (Malherbe dkk. mengingatkan bahwa pemuda tidak semata menjadi objek, tetapi juga dapat tampil sebagai subjek perlawanan terhadap hegemoni Barat. Sebagai kesimpulan, hegemoni Barat terus direplikasi melalui pendidikan, kebijakan, dan wacana internasional. Dalam konteks ASEAN, dominasi ini tampak pada kebijakan pembangunan pemuda yang menerima norma global secara instrumental, mengabaikan realitas lokal, dan memperkuat ketergantungan pada lembaga global. Studi ini memperkaya literatur dimana, pemuda direpresentasikan sebagai objek pembangunan, dengan partisipasi simbolis yang diarahkan oleh tujuan global. METODE Desain penelitian dan pengambilan data Studi ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) dikembangkan oleh Norman Fairclough 2023. Pendekatan ini berfokus pada analisis struktur teks, praktik wacana, dan konteks sosialpolitik untuk mengkaji bagaimana wacana kebijakan ASEAN membentuk pemuda sebagai sasaran pembangunan sekaligus merefleksikan kerangka ideologis regional yang lebih luas. Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Melalui kerangka ini, penelitian menelusuri bagaimana identitas, partisipasi, dan peran pemuda diproduksi, dinegosiasikan, serta dilembagakan dari waktu ke waktu. Data utama penelitian berasal dari dokumen resmi hasil ASEAN Ministerial Meeting on Youth dan ASEAN Ministerial Meeting on Youth 3. Pemilihan dokumen tersebut sebagai korpus penelitian didasarkan pada otoritas institusional dan kesinambungannya dalam membentuk arah kebijakan kepemudaan di tingkat regional. Sebagai forum tingkat menteri yang secara khusus membahas isu kepemudaan. AMMY dan AMMY 3 menghasilkan dokumen kebijakan yang konsisten dan normatif, sehingga menyediakan basis yang kuat untuk menganalisis perkembangan serta reproduksi narasi resmi ASEAN mengenai pemuda dalam kerangka pembangunan regional. Untuk memastikan relevansi dan ketepatan data, penelitian ini menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi. Adapun kriteria inklusi sebagai Dokumen yang tersedia dalam bentuk publikasi resmi dan dapat diakses melalui situs resmi ASEAN. Dokumen yang secara spesifik berfokus pada ASEAN Ministerial Meeting on Youth (AMMY) dan ASEAN Ministerial Meeting on Youth 3 (AMMY . Dokumen yang tersedia dalam bahasa Inggris untuk menjaga konsistensi analisis. Adapun Kriteria Eksklusi sebagai berikut: Dokumen berupa opini, artikel media, publikasi akademik sekunder, atau laporan organisasi non-ASEAN. Dokumen yang tidak secara spesifik membahas ASEAN Ministerial Meeting on Youth (AMMY) dan ASEAN Ministerial Meeting on Youth 3 (AMMY . Dokumen yang tidak tersedia secara Mahatma Aditya Mikaila publik atau tidak dapat diverifikasi keasliannya melalui sumber resmi. Tabel 1. Kronologi Pertemuan ASEAN Ministerial Meeting on Youth (AMMY) dan AMMY 3 . 2Ae Agenda AMMY dan AMMY 3 Tahun AMMY I AMMY II AMMY i AMMY IV AMMY 3 I AMMY Vi AMMY 3 IV AMMY 3 V AMMY X AMMY 3 VI AMMY XI AMMY 3 VII AMMY XII AMMY 3 Vi AMMY 3 IX AMMY Xi Total (Sumber :Penuli. Setelah berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta penilaian relevansi terhadap fokus studi, studi ini mengidentifikasi 16 dokumen yang memenuhi kriteria analisis. Dokumen tersebut terdiri atas 9 dokumen yang dihasilkan dari ASEAN Ministerial Meeting on Youth (AMMY) dan 7 dokumen dari ASEAN Ministerial Meeting on Youth 3 (AMMY . , yang kemudian dijadikan sebagai korpus data dalam analisis. Pengumpulan data dan keterbatasan penelitian Data dikumpulkan melalui penelusuran sistematis dokumen resmi ASEAN Ministerial Meeting on Youth dan ASEAN Ministerial Meeting on Youth 3 yang tersedia untuk publik, kemudian ditabulasi menggunakan Microsoft Excel untuk membangun korpus data yang terorganisasi dan dapat dilacak. Proses tabulasi bertujuan memastikan keterlacakan sumber, mempermudah seleksi dan peninjauan ulang dokumen, serta mendukung analisis wacana secara sistematis. Distribusi jumlah dokumen tiap pertemuan disajikan pada tabel berikut berdasarkan hasil penabulasian tersebut. Ketersediaan memengaruhi pemilihan rentang tahun studi Akses yang terbatas terhadap sebagian dokumen kebijakan menjadi tantangan utama, sehingga studi ini bergantung pada arsip yang dapat diakses secara terbuka. Keterbatasan transparansi institusional dalam distribusi dokumen kebijakan regional, yang secara metodologis memengaruhi kedalaman analisis terhadap konstruksi wacana kepemudaan. Analisis data Melalui kerangka Analisis Wacana Kritis Fairclough, penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap utama, dimana di antaranya adalah : Analisis teks: Mengkaji Pemuda ASEAN Ministerial Meeting on Youth (AMMY) dan ASEAN Ministerial Meeting on Youth Plus Three (AMMY . melalui pilihan diksi dan narasi. Analisis praktik diskursif: Menelaah bagaimana wacana pemuda dinormalisasi dalam kebijakan ASEAN Ministerial Meeting on Youth (AMMY) dan ASEAN Ministerial Meeting on Youth Plus Three (AMMY . Analisis praktik sosialAebudaya: Mengaitkan wacana pemuda dengan konteks sosial, budaya, dan ideologis ASEAN. Paradigma Arturo Escobar Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Hegemoni Barat dalam Kebijakan Pemuda ASEAN: Analisis Wacana Kritis atas Paradigma Generasional dalam AMMY . 2Ae2. dan AMMY 3 . 7Ae2. bentuk marginalisasi tersebut. Paradigma Escobar menjelaskan bagaimana kebijakan pemuda ASEAN dibentuk dan direplikasi dalam wacana pembangunan regional. Dalam bukunya. Escobar menyatakan bahwa pembangunan merupakan konstruksi wacana yang mengubah realitas sosial di negara-negara berkembang. Ia menulis Dimensi AWK Fairclough Fokus Analisis Proses yang Dilakukan dalam Analisis Analisis Praktik Diskursif (Discourse Practic. Produksi, distribusi, dan ASEAN Mengkaji bagaimana dokumen kebijakan pemuda ASEAN diproduksi oleh aktor institusional dalam forum AMMY dan AMMY 3. Menelaah intertekstualitas antar dokumen kebijakan untuk melihat kesinambungan wacana pembangunan pemuda. Mengkaji bagaimana wacana kebijakan tersebut didistribusikan dan dinormalisasi dalam kerangka kebijakan regional ASEAN. AuA type of development was promoted which conformed to the ideas and expectations of the affluent West, to what the Western countries judged to be a normal course of evolution and progressAy (Escobar 1995: . Dengan menjadi sebuah rezim representasi yang memengaruhi cara negara-negara Selatan dipandang dan diubah sesuai dengan cita-cita Barat. Tabel 2. Proses Analisis Wacana Kritis Fairclough Dimensi AWK Fairclough Fokus Analisis Analisis Teks (Text Analysi. Struktur diksi, narasi kebijakan, dan tema dominan Proses yang Dilakukan dalam Analisis Menyusun korpus 16 dokumen resmi hasil pertemuan AMMY dan AMMY 3 periode 1992Ae Mentabulasi data dokumen . ahun pertemuan, jenis dokumen, agenda kebijakan, dan isi tek. Mengidentifikasi pola narasi dan representasi pemuda dalam dokumen kebijakan. Memilih kutipan teks yang merepresentasikan pola wacana dominan terkait pembangunan pemuda ASEAN. Mengamati pola pengulangan dan konsistensi narasi kebijakan pemuda antar pertemuan. Analisis Praktik SosialAe Budaya (Sociocultural Practic. Konteks sosial, politik, dan Menghubungkan representasi pemuda dalam kebijakan ASEAN dengan paradigma pembangunan regional dan global. Menafsirkan implikasi ideologis dari wacana pembangunan pemuda ASEAN terhadap konstruksi identitas dan peran Menginterpretasikan bagaimana kebijakan pemuda ASEAN merefleksikan rezim wacana pembangunan global yang berpotensi memarjinalisasi pemuda sebagai subjek Menggunakan paradigma Encountering development (Escobar, 1. untuk menjelaskan relasi kekuasaan dan hegemoni dalam pembentukan kebijakan pemuda ASEAN. Paradigma Escobar membantu menjelaskan bagaimana wacana ini mereproduksi relasi kuasa dan praktik eksklusi dalam kebijakan pemuda ASEAN yang dipengaruhi oleh dominasi Barat. Dalam pandangan Escobar . 5: . AuThe West has a certain dominance over the Third World that has profound political, economic, and cultural effectsAy Dalam konteks ASEAN, pembangunan kepemudaan dapat dipahami sebagai bagian dari proyek hegemonik yang membentuk pemuda sebagai objek pembangunan (Sumber: Penuli. HASIL DAN PEMBAHASAN Wacana pembangunan ASEAN masih sangat dipengaruhi oleh hegemoni Barat, mencerminkan paradigma yang dibentuk oleh Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Mahatma Aditya Mikaila lembaga-lembaga global alih-alih kebutuhan Asia Tenggara. Meskipun ASEAN dengan menonjolkan identitas regional melalui berbagai inisiatif yang berfokus pada pemuda, kebijakan yang dihasilkan justru tanpa sadar mereproduksi logika pembangunan Barat. Sejalan dengan pemikiran yang dikemukakan oleh Arturo Escobar 1995, kerangka semacam ini lebih mengutamakan modernitas hegemonik dan mengabaikan pandangan lokal. Kebijakan pemuda ASEAN menekankan pemberdayaan, namun dalam praktiknya memosisikan kaum muda sebagai alat bagi integrasi ekonomi dan stabilitas kawasan, bukan sebagai agen perubahan yang aktif. Akibatnya, pemuda dipandang sebagai aset sosial dan ekonomi yang mendukung kepentingan elit, bukan sebagai pihak yang berperan dalam membentuk arah Ketiadaan isu-isu kritis seperti keadilan sosial dan kesenjangan menunjukkan bahwa agenda kepemudaan ASEAN lebih berfungsi sebagai kelanjutan dari ideologi pembangunan berpusat pada Barat, bukan sebagai proyek transformasi. paradigma pembangunan yang adaptif terhadap dinamika generasi. ASEAN berupaya menolak hegemoni Barat dengan membangun identitas ASEAN di kalangan pemuda. Kutipan verbatim terhadap dokumen-dokumen ASEAN, seperti terlihat pada tabel di bawah, menunjukkan bahwa para menteri ASEAN dalam agenda kepemudaan membahas penguatan identitas regional. Tabel 3. Interpretasi Wacana Pemberdayaan pemuda sebagai penguatan identitas ASEAN Dokumen AMMY dan AMMY 3 Kutipan Verbatim Interpretasi Wacana Pemberdayaan pemuda sebagai identitas ASEAN ASEAN Ministerial Meeting on Youth I . Aupromote ASEAN youth cooperationA enhance ASEAN awarenessAy Pemuda sebagai sarana integrasi regional melalui kerja sama lintas negara. Pemberdayaan dimaknai sebagai proses meningkatkan kesadaran kolektif terhadap identitas (Halaman . ASEAN Ministerial Meeting on Youth II . Hegemoni Barat dan Politik Generasi: Konsep Pembangunan ASEAN Konsep pembangunan yang diadopsi dari negara-negara Barat telah mendominasi paradigma global. Sejalan dengan studi terdahulu oleh (Walker 1981. Wright 2012. Harper 2011. Lo 2011. Bittencourt dan Willetts 2. , dimana diamini oleh beberapa organisasi termasuk ASEAN. Akibatnya, kebijakan pembangunan di kawasan ini cenderung mereplikasi indikator dan narasi Barat tanpa mempertimbangkan konteks sosial-ekonomi lokal. Namun, pendekatan tersebut gagal menangkap dimensi generasional, di mana kebutuhan dan nilai pemuda terus Sebagaimana dinyatakan (Woodman dan Wyn 2013. AuEven when they reach middle age, todayAos young people may not have the same middle-aged priorities,Ay menunjukkan perlunya Ausharing of values, responsibilities and a common vision, and ASEAN fraternity among the young generationAy (Ayat 6. Poin . ASEAN Ministerial Meeting on Youth i . Aunurture a resilient and responsible ASEAN youthAy (Poin . AuStrengthening internal capacities to inculcate a sense of ASEAN awareness and identity among the ASEAN youthAy (Poin . Pemuda sebagai sarana integrasi regional melalui kerja sama lintas negara. Pemberdayaan dimaknai sebagai proses meningkatkan kesadaran kolektif terhadap identitas Pemberdayaan dipahami sebagai karakter pemuda yang tangguh dan bertanggung jawab, selaras dengan kebutuhan Wacana menekankan penguatan kapasitas internal sebagai identitas kolektif Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Hegemoni Barat dalam Kebijakan Pemuda ASEAN: Analisis Wacana Kritis atas Paradigma Generasional dalam AMMY . 2Ae2. dan AMMY 3 . 7Ae2. Dokumen AMMY dan AMMY 3 Kutipan Verbatim ASEAN Ministerial Meeting on Youth Vi . Auboost ASEAN solidarity by offering voluntary community servicesAy (Poin . AuPromote greater awareness of ASEAN to youth, and engage themA in promoting social dialogues and people-to-people exchangesAy (Poin . ASEAN Ministerial Meeting on Youth X . Auplay a more active role to promote greater inclusiveness and toleranceA develop an appreciation of diversityAy (Poin . Auengage, participate and provideA contributions in the policy-making processesAy (Poin . ASEAN Ministerial Meeting on Youth XI . Auraising awareness on ASEAN among youthsA create a wefeeling of ASEANAy (Poin . Interpretasi Wacana Pemberdayaan pemuda sebagai identitas ASEAN Aktivitas sebagai instrumen solidaritas dan integrasi sosial Dokumen AMMY dan AMMY 3 Kutipan Verbatim Interpretasi Wacana Pemberdayaan pemuda sebagai identitas ASEAN ASEAN Ministerial Meeting on Youth Xi . Aupromote the critical role of youth in socio-economic development and ASEAN Community BuildingAy Pemuda diposisikan sebagai sumber daya strategis sosial-ekonomi dan integrasi komunitas ASEAN. (Poin . Pemberdayaan dimaknai sebagai pemuda dalam diplomasi sosial dan pertukaran budaya untuk memperkuat identitas regional. Auintensify the multilateral and bilateral youth initiatives for enhancing mutual understandingAy Pemuda sebagai agen sosial yang bertugas menjaga keberagaman sebagai fondasi identitas ASEAN. Augreater awareness of ASEAN common identity and shared valuesA sense of belonging and togethernessA appreciation of diversity among ASEAN youthAy Wacana pergeseran menuju partisipasi pemuda dalam proses kebijakan, namun tetap dalam kerangka institusional yang telah ditentukan. (Poin . Identitas ASEAN dikonstruksi melalui rasa kebersamaan emosional yang solidaritas regional. (Poin . (Poin . AuEmpowering and inspiring young people through activitiesA raising greater awareness of ASEAN CommunityAy ASEAN Ministerial Meeting on Youth 3 I . AuForging youth cooperationA ASEAN responsibilities/leadership development. and youth employabilityAy (Poin . ASEAN Ministerial Meeting on Youth 3 IV . Auengagement with youth at all levels in building ASEAN today, and empower them being our tomorrowAos leadersAy (Poin . Pemberdayaan pemuda dimaknai sebagai perluasan jejaring kerja sama regional untuk identitas kolektif. Wacana menegaskan identitas ASEAN melalui nilai bersama, rasa memiliki, dan Sukarelawan diposisikan sebagai mekanisme ideologis untuk menanamkan identitas komunitas Pemberdayaan pemuda menggabungkan integrasi identitas regional dengan pembentukan kapasitas dan produktivitas Pemuda direpresentasikan sebagai pemimpin masa depan ASEAN, sehingga pemberdayaan diposisikan sebagai investasi jangka panjang pembangunan (Sumber: Penuli. Tabel di atas menunjukkan bahwa dokumen kebijakan yang dihasilkan oleh ASEAN pemuda sebagai instrumen strategis dalam membangun identitas regional. Tetapi di Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Mahatma Aditya Mikaila sisi lain. ASEAN juga mengadopsi sejumlah kerangka kerja internasional yang membahas isu-isu global seperti perubahan iklim, hak asasi manusia, integrasi ekonomi, dan pembangunan Tabel di bawah ini menunjukkan agenda-agenda ASEAN yang secara langsung maupun tidak langsung mengadopsi lembaga Agenda ASEAN dalam Mengadopsi Lembaga Internasional Sitasi dalam Dokumen ASEAN Rujukan terhadap Lembaga Internasional yang Mempengaruhi ASEAN ASEAN Centre for Sustainable Development Studies and Dialogue (ACSDSD) . AuASEAN Member States and external partners to promote between the ASEAN Community Vision 2025 and the UN 2030 Agenda for Sustainable DevelopmentAy Sustainable Development Goals (SDG. Tabel 4. Agenda ASEAN dalam Mengadopsi Lembaga Internasional Agenda ASEAN dalam Mengadopsi Lembaga Internasional Sitasi dalam Dokumen ASEAN ASEAN Charter AuAdherence to the principles of the United Nations CharterAy Rujukan terhadap Lembaga Internasional yang Mempengaruhi ASEAN United Nations Charter . (ASEANb 1. ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) . AuASEAN Member countries participated at the UN World Conference on Human Rights. ASEAN for the first time set itself towards the development of regional human rights regime. Ay Universal Declaration of Human Rights . AuMember States shall make exceptions to their foreign exchange restrictions relating to payments for the products under the CEPT Scheme, as well as repatriation of such payments without prejudice to their rights under Article XVi of the General Agreement on Tariffs and Trade (GATT)Ay AuStrengthen global and support the implementation of relevant international agreements and frameworks, the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNF. (ASEAN 2. AuPromotion of youthAos role in sports for development and peace (SDP) at the community level by supporting the implementation of UNESCO Sports and SDGs Youth FunshopAy Sustainable Development Goals (SDG. (ASEAN 2. Tabel 5. Agenda ASEAN dalam Mengadopsi Lembaga Internasional secara Tidak Langsung World Trade Organization . (ASEANb 1. ASEAN Working Group on Climate Change (AWGCC) . ASEAN Work Plan on Youth 2021-2025 (Sumber. Penuli. (ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights n. ASEAN Economic Community (AEC) . (ASEAN Centre for Sustainable Development Studies and Dialogue n. United Nations Framework Convention on Climate Change(UNF. Agenda ASEAN untuk Mengadopsi Lembaga Internasional Referensi Lembaga Internasional yang Mempengaruhi ASEAN ASEAN Regional Forum - ARF United Nations Security Council Initiative for ASEAN Integration - IAI . United Nations Development Programme . ASEAN Disaster Management and Emergency Response AADMER . United Nations Office for Disaster Risk Reduction . ASEAN Health Ministers' Meetings . World Health Organization . ASEAN Climate Change Initiative - ACCI . Kyoto Protocol . Paris Agreement . ASEAN Declaration on the Adoption of the 2030 Agenda for Sustainable Development . Sustainable Development Goals . (Sumber: Penuli. Dua tabel di atas menunjukkan bahwa ASEAN sebagai lembaga regional tidak sepenuhnya terlepas dari pengaruh organisasi internasional global. Hal ini terlihat dari ASEAN mengadopsi dan menempatkan berbagai isu global yang banyak dipromosikan Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Hegemoni Barat dalam Kebijakan Pemuda ASEAN: Analisis Wacana Kritis atas Paradigma Generasional dalam AMMY . 2Ae2. dan AMMY 3 . 7Ae2. oleh institusi Barat sebagai bagian dari agenda kebijakan kawasan. Studi ini berargumen bahwa ASEAN berupaya melawan hegemoni Barat melalui kebijakan kepemudaan, di mana pemuda diposisikan sebagai instrumen pembangunan identitas regional, selaras dengan temuan (Malherbe dkk. bahwa pemuda dapat melawan hegemoni barat melalui melalui ekspresi visualnya. Sejak awal pembentukan agenda kepemudaan, narasi kebijakan dalam ASEAN pentingnya penguatan kesadaran kawasan, solidaritas regional, pembentukan nilai-nilai bersama, serta penumbuhan rasa memiliki terhadap komunitas regional. Keseluruhan elemen tersebut diarahkan untuk memperkuat pembangunan identitas regional ASEAN dalam melawan hegemoni Barat, selaras dengan argumen (Stubbs 2. Pola serupa ditemukan dalam beberapa studi terdahulu dalam melawan hegemoni Barat melalui beberapa aspek (Coleman dan Serpell 2. mengkritik dominasi kelas menengah kulit putih EropaAmerika yang dijadikan standar intelektual dan kritik terhadap dominasi kapitalisme dalam arus globalisasi (Nordtveit 2. Kemudian dipertegas oleh temuan (Komlosy 2. menyoroti kemunduran hegemoni negara barat yaitu Amerika Serikat karena adanya kekuatan global di negara Selatan, yaitu Tiongkok, yang kemudian diamini oleh (Wojczewski 2. dimana adanya pergeseran hegemoni barat dalam perebutan makna dan identitas dalam tatanan dunia. Lebih jauh temuan (Buier 2. transformasi sistem transportasi di Spanyol sebagai bentuk dominasi tanpa hegemoni. Berdasarkan temuan di atas, pada saat yang sama meskipun pemuda dikonstruksikan sebagai objek pembangunan identitas regional. ASEAN sebagai lembaga regional tetap berada dalam bayang-bayang hegemoni organisasi internasional global. Escobar menyebutnya sebagai AuWestern ModernityAy (Escobar 1995: , dimana negara-negara Barat mendominasi Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda wacana pembangunan dan menyingkirkan negara-negara non-Barat. Lebih lanjut Escobar menegaskan bahwa AuDevelopment has relied exclusively on one knowledge system, namely, the modern Western oneAy (Escobar 1995: . Dalam konteks ini. ASEAN juga mengadopsi sejumlah kebijakan dari lembaga internasional Barat, baik dalam bentuk regulasi maupun penguatan struktur kelembagaan, sebagai upaya merespons tantangan global walaupun kebijakan yang diadopsinya tidak selaras dengan isu-isu yang ada di Asia tenggara. ASEAN lembaga-lembaga internasional membuat ruang geraknya pun menjadi terbatas pada lingkup Oleh karena itu kebijakan yang muncul lebih diarahkan untuk menyesuaikan dengan standar global daripada menjawab kebutuhan dan realitas kawasan. Fenomena ini sejalan dengan berbagai studi terdahulu yang mengamini bahwa hegemoni Barat mendominasi dunia global (Walker 1981. Wright Hegemoni tersebut dibangun melalui retorika, lembaga swadaya masyarakat, serta wacana perubahan yang diperkuat oleh bahasa, sistem peringkat, dan diskursus neoliberalisme dalam pendidikan Barat (Harper 2011. Lo 2011. Bittencourt dan Willetts, 2. Sebagai kesimpulan, dalam sub bab ini menunjukkan bahwa ASEAN sebagai organisasi regional berupaya melawan hegemoni Barat, dalam hal ini pemuda digunakan sebagai objek pembangunan identitas ASEAN. Namun, karena kuatnya hegemoni Barat (Western modernit. ASEAN tidak cukup kuat dan tetap terseret dalam arus wacana pembangunan yang didefinisikan oleh dunia Barat. Oleh karena itu, subbab ini membuka ruang terhadap kebijakan ASEAN secara diskursif dalam membentuk dan mereproduksi posisi pemuda sebagai objek pembangunan yang tidak terlepas dari pengaruh hegemoni pembangunan Barat. Mahatma Aditya Mikaila Kebijakan ASEAN: Bagaimana Pemuda Menjadi Objek Pembangunan Berdasarkan (Walker Wright 2012. Harper 2011. Lo 2011. Bittencourt dan Willetts 2. , hegemoni Barat mendominasi konsep pembangunan di tingkat internasional, dan ASEAN menjadi salah satu organisasi yang berada dalam lingkup hegemoni tersebut. Negara-negara Barat telah lama menguasai wacana dan arah pembangunan global. Sejak berdirinya pada 8 Agustus 1967, konsep pembangunan ASEAN terus berkembang, namun tetap bersifat abstrak dan bergantung pada kerja sama di kawasan Asia Tenggara. Dalam konteks pembangunan, pemuda kerap ditempatkan sebagai aset strategis dalam agenda pembangunan regional, sebagaimana terlihat dalam berbagai dokumen yang dihasilkan oleh agenda kementerian ASEAN mengenai kepemudaan. Pemuda ASEAN bukan sebagai subjek yang membentuk arah pembangunan, melainkan sebagai penerima agenda yang ditentukan oleh elit yang diposisikan dalam Auproyek pembangunanAy, dimana diharapkan mampu mewujudkan dan memperkuat cita-cita regional ASEAN. Hal ini tampak jelas dalam kebijakan yang tertuang dalam berbagai dokumen ASEAN, seperti agenda menteri mengenai kepemudaan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut. Dokumen AMMY dan AMMY 3 Kutipan Verbatim Interpretasi Wacana Pemuda Sebagai Objek Pembangunan ASEAN ASEAN Ministerial Meeting on Youth II . AuTo inculcate the sharing of values, responsibilities and a common vision, and ASEAN fraternity among the young generationAy Pemuda dijadikan sasaran penanaman nilai dan visi (Ayat 6. Poin . ASEAN Ministerial Meeting on Youth i . (Poin . AuStrengthening internal capacities to inculcate a sense of ASEAN awareness and identity among the ASEAN youthAy ASEAN Ministerial Meeting on Youth Vi . ASEAN Ministerial Meeting on Youth I . Auto establish a firm foundation for common action to promote ASEAN youth cooperation in the spirit to enhance ASEAN awarenessAy Aupromote greater awareness of ASEAN to youth, and engage them through different platforms in promoting social dialogues and people-to-people exchangesAy Pemuda dipandang sebagai objek peningkatan kapasitas untuk memperkuat identitas regional. Pemuda dimobilisasi sebagai tenaga sosial untuk mendukung solidaritas Partisipasi pemuda diarahkan melalui program yang dirancang institusi (Poin . ASEAN Ministerial Meeting on Youth X . Auplay a more active role to promote greater inclusiveness and tolerance as well as to develop an appreciation of diversity in our regionAy Pemuda dijadikan agen penyebaran nilai sosial dan politik kawasan. (Poin . Auengage, participate and provide suitable contributions in the policy-making processes in the regionAy Interpretasi Wacana Pemuda Sebagai Objek Pembangunan ASEAN Pemuda diposisikan sebagai target penguatan kesadaran dan kerja sama Auboost ASEAN solidarity by offering voluntary community servicesAy (Poin . Pembangunan Kutipan Verbatim Pemuda dikonstruksikan sebagai kelompok yang harus dibentuk melalui kebijakan (Poin . Tabel 6. Interpretasi Wacana Pemuda Sebagai Objek Dokumen AMMY dan AMMY 3 AuCommitment and determination to nurture a resilient and responsible ASEAN youthAy Keterlibatan pemuda dibatasi pada kontribusi yang sesuai dengan agenda kebijakan yang sudah ditentukan. (Poin . ASEAN Ministerial Meeting on Youth XI . Auraising awareness on ASEAN among youths in order to create a we-feeling of ASEANAy Pemuda menjadi sasaran pembentukan identitas kolektif regional. (Poin . (Halaman . Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Hegemoni Barat dalam Kebijakan Pemuda ASEAN: Analisis Wacana Kritis atas Paradigma Generasional dalam AMMY . 2Ae2. dan AMMY 3 . 7Ae2. Dokumen AMMY dan AMMY 3 Kutipan Verbatim Interpretasi Wacana Pemuda Sebagai Objek Pembangunan ASEAN ASEAN Ministerial Meeting on Youth Xi . Aupromote the critical role of youth in socio-economic development and ASEAN Community Building in the ASEANAy Pemuda diposisikan sebagai sumber daya pembangunan sosial-ekonomi (Poin . Auintensify the multilateral and bilateral youth initiatives for enhancing mutual understandingAy Kerja sama pemuda diarahkan untuk mendukung stabilitas dan integrasi (Poin . Audeepening greater awareness of ASEAN common identity and shared values, reinforcing a sense of belonging and togetherness, and cultivating an appreciation of diversity among ASEAN youthAy Pemuda dijadikan objek pembentukan identitas dan nilai bersama kawasan. Retorika pemberdayaan digunakan untuk mendorong keterlibatan pemuda dalam agenda AuForging youth cooperation among ASEAN Member Countries in the priority areas of . ASEAN awareness. civic responsibilities/leadership . promoting youth employabilityAy Pemuda dikonstruksikan sebagai sumber daya manusia untuk mendukung daya saing ekonomi dan sosial kawasan. (Poin . ASEAN Ministerial Meeting on Youth 3 IV . Aucontinue engagement with youth at all levels in building ASEAN today, and empower them being our tomorrowAos leadersAy Pemuda diposisikan sebagai aset pembangunan jangka panjang kawasan. (Poin . (Sumber: Penuli. Berdasarkan analisis tabel ASEAN, Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Auneed to meet present challenges and new developments by cooperating with all peace and freedom loving nations, both within and outside the region, in the furtherance of world peace, stability, and harmonyAy Secara lebih konkret, gagasan ini mulai dilembagakan dalam ASEAN Vision 2020, dalam dokumen yang menyatakan. AuWe resolve to chart a new direction towards the year 2020 called. ASEAN 2020: Partnership in Dynamic Development, which will forge closer economic integration within ASEANAy (ASEAN 2. (Poin . ASEAN Ministerial Meeting on Youth 3 I . Studi ini berfokus pada konsep pembangunan yang diterapkan ASEAN melalui kerja sama, sebagaimana selaras dengan Deklarasi Kuala Lumpur tahun 1971 tentang Kawasan Damai. Bebas, dan Netral (ZOPFAN), yang secara tegas menyatakan, (ZOPFAN 1971: . (Poin . AuEmpowering and inspiring young people through volunteering activities and raising greater awareness of ASEAN Community among ASEAN young populationAy secara dominan direpresentasikan sebagai objek pembangunan yang diarahkan untuk menginternalisasi nilai sosial, politik, identitas, serta agenda integrasi kawasan, sehingga peran mereka lebih ditempatkan sebagai instrumen pendukung proyek pembangunan regional. di atas. Gagasan tersebut ditegaskan kembali dalam ASEAN Community Vision 2025, yang menekankan Authe complementarity of the United Nations 2030 Agenda for Sustainable Development ASEAN building efforts to raise our peoplesAo living standardsAy (ASEAN 2. Dari sinilah lahir tiga pilar utama komunitas, yaitu Komunitas Politik dan Keamanan. Komunitas Ekonomi, serta Komunitas Sosial Budaya. Berdasarkan garis sejarah tersebut, konsep pembangunan ASEAN telah ada sejak tahun 1971, yakni sejak berdirinya organisasi ini. Meskipun misi awalnya tidak secara langsung menyinggung ASEAN pentingnya kerja sama regional sebagai sarana pembangunan bagi negara-negara berkembang di Asia Tenggara. Mahatma Aditya Mikaila Sejak AMMY dan AMMY 3, wacana yang berkembang cenderung menempatkan pemuda sebagai pihak yang menjadi sasaran berbagai program Berdasarkan temuan di atas, terlihat bahwa pemuda dimobilisasi dalam berbagai aspek pembangunan, termasuk dalam pelibatan kerja sama regional dan internasional (Malherbe dkk. , yang sebagian besar dipengaruhi oleh agenda dan isu-isu yang berkembang di negara-negara Barat (Bersaglio Dalam konteks ini, kebijakan ASEAN pemuda sebagai target pembangunan (Ballard Wang dkk. Boat dkk. , dalam konteks yang lebih luas, dalam ranah pendidikan global sering memandang kaum muda sebagai modal manusia yang harus selaras dengan standar internasional (Ashcraft 2000. Roth dan Brooks 2003. Namun pendekatan ini kerap dikritik karena mengabaikan konteks nilai-nilai lokal (Coleman dan Serpell, 2008. Ungar dkk 2. Dengan demikian, studi ini menunjukkan bahwa pemuda tidak sekadar diposisikan sebagai aktor pembangunan, melainkan juga sebagai objek yang dikonstruksi melalui relasi kuasa, kepentingan global, dan dinamika identitas Studi ini memperkaya literatur dengan menegaskan bahwa konstruksi pemuda dalam kebijakan regional ASEAN tidak terlepas dari kuatnya hegemoni Barat yang memengaruhi arah, standar, serta orientasi pembangunan Dalam penelitian ini berargumen bahwa kebijakan ASEAN terhadap pemuda cenderung bersifat instrumental, karena pemuda kerap dijadikan fokus pembangunan, sementara persoalan struktural yang secara langsung dihadapi oleh kaum muda sering kali kurang memperoleh Kondisi ini menunjukkan adanya praktik kuasa yang beroperasi melalui kebijakan pembangunan, yang secara tidak langsung berfungsi untuk mengontrol, membisukan, dan menundukkan kaum muda (Sutopo 2022. Logika yang bersifat instrumental ini tampak jelas dalam konteks ASEAN, di mana pemuda digambarkan sebagai aset produktif dalam Orientasi tersebut tercermin dalam arah kebijakan yang memposisikan partisipasi pemuda untuk melayani kepentingan ekonomi (Samad 2020. Wound 2. , sosial, dan politik kawasan melalui program-program terbatas seperti kewirausahaan, kepemimpinan, dan pelatihan kerja (Sutopo 2022. , sekaligus memperkuat simbol identitas kawasan. Dengan demikian, wacana pembangunan ASEAN utama dalam proyek kemajuan pembangunan Studi fenomena tersebut sebagai bagian dari paradigma pembangunan yang dikemukakan (Escobar 1995: . yang disebut sebagai AuunderdevelopingAy, dimana masyarakat diharapkan untuk menyesuaikan diri melalui tindakan yang terarah, tepat, dan menyeluruh. Dalam konteks ASEAN, temuan di atas menunjukkan bahwa para menteri ASEAN menempatkan kaum muda untuk mengikuti berbagai intervensi yang telah Intervensi yang dimaksud merujuk kebijakan-kebijakan kepemudaan ASEAN yang menempatkan pemuda sebagai pusat pembangunan kawasan, yang pada saat yang sama menunjukkan keterkaitan dengan paradigma pembangunan yang berakar dari konsep pembangunan Barat. Sebagai kesimpulan dalam subbab ini, terlihat bahwa kebijakan ASEAN terhadap pemuda cenderung bersifat instrumental, dimana berbagai kebijakan yang dirumuskan masih menempatkan pemuda sebagai objek pembangunan kawasan. Hal ini menunjukkan bahwa peran pemuda lebih sering diarahkan untuk mendukung agenda pembangunan yang telah ditentukan oleh para pembuat kebijakan, dibandingkan diberikan ruang yang lebih luas untuk terlibat dalam menentukan arah pembangunan tersebut. Selain itu, kecenderungan ini juga memperlihatkan adanya Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Hegemoni Barat dalam Kebijakan Pemuda ASEAN: Analisis Wacana Kritis atas Paradigma Generasional dalam AMMY . 2Ae2. dan AMMY 3 . 7Ae2. pengaruh kuat dari wacana pembangunan global yang membentuk cara pandang kebijakan kepemudaan di tingkat regional, sehingga pemuda diposisikan sebagai sarana untuk mendorong pertumbuhan, stabilitas, dan integrasi kawasan. Eksklusi dan Bias Generasional: Isu Keadilan bagi Pemuda ASEAN regional yang didominasi oleh negara-negara berkembang dan pada awalnya didirikan untuk serta generasi masa depan (ASEANc 1. Namun, seiring berjalannya waktu, kepentingan ekonomi dan politik negara-negara anggotanya sering kali lebih diutamakan dibandingkan Sebagaimana dijelaskan oleh (Woodman dan Wyn 2013. Auyouth policy may be based on the understandings of youth held by policy makers who themselves grew up as part of a different generationAy. Perspektif ini menyoroti bahwa kebijakan pemuda ASEAN juga merefleksikan pandangan generasional para pembuat kebijakan yang membentuk wacana pembangunan berdasarkan nilai dan pengalaman generasi sebelumnya, sehingga suara dan kebutuhan pemuda kontemporer sering kali tidak terakomodasi dalam proses perumusan kebijakan. Dalam konteks pemuda, ketimpangan ini tampak semakin jelas melalui pertemuan tingkat menteri ASEAN yang merumuskan strategi pembangunan dengan menempatkan kaum muda sebagai alat kemajuan regional, bukan sebagai individu yang memiliki hak dan suara dalam pembangunan itu sendiri. Wacana ASEAN tentang keadilan bagi pemuda mencerminkan orientasi neoliberalisme yang Sejalan dengan konsep Escobar Auongoing processAy (Escobar 1995: . kebijakan ASEAN cenderung memposisikan pemuda sebagai Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda objek pembangunan, bukan sebagai subjek yang dihadapkan pada ketimpangan struktural. Pengakuan terhadap keadilan sosial masih terbatas, terlihat hanya dalam beberapa dokumen pertemuan yang menunjukkan bahwa inklusi pemuda lebih bersifat retoris daripada Keterbatasan ruang wacana yang berorientasi pada keadilan dalam agenda kepemudaan ASEAN tampak dalam beberapa dokumen berikut ini. Tabel 7. Eksklusi Isu: Masalah Keadilan Pemuda Dokumen AMMY dan AMMY 3 Kutipan Verbatim Interpretasi Wacana Eksklusi Isu: Masalah Keadilan Pemuda ASEAN ASEAN Ministerial Meeting on Youth I . Aucherished ideals of peace, freedom, social justice and economic well-being are best attained by among othersAAy Keadilan sosial hanya disampaikan sebagai tujuan umum tanpa menyasar kelompok pemuda rentan, sehingga berpotensi ketimpangan nyata. (Halaman . ASEAN Ministerial Meeting on Youth IV . AuEnsure that all youth subsectors, particularly the out-of-school youth, youth with special needs, youth-atrisk, are given appropriate access to policy and program development both as beneficiaries and partners in sustainable employment. Ay Kelompok rentan diakui, tetapi pemuda tetap diposisikan sebagai penerima program, bukan pengambil keputusan, sehingga eksklusi partisipasi masih terjadi. (Poin . ASEAN Ministerial Meeting on Youth 3 Vi AuEngagement of youth in mutually beneficial programmes to support youthAos health and wellbeing, including mental health. Ay (Poin . AuFostering mutual understanding, a sense of commonality and a stronger Community spirit among ASEAN Plus Three youth, enhancing their physical and mental well-being and promoting their skills development in the era of Fourth Industrial Revolution. Ay Partisipasi pemuda dibatasi pada program yang sudah ditentukan, sehingga akses kelompok marjinal berpotensi tetap terbatas. Penekanan pada kapasitas pemuda kesenjangan akses teknologi dan pendidikan, yang dapat memperkuat (Poin . (Sumber: Penuli. Mahatma Aditya Mikaila Berdasarkan pada tabel di atas, para menteri ASEAN secara eksplisit membahas isu keadilan bagi pemuda hanya pada pertemuan tingkat menteri tahun 1992, 2003, dan 2023. Berbeda dengan sub bab sebelumnya, di mana pembahasan kebijakan erat kaitannya dengan pembangunan dan pembentukan identitas, isu keadilan bagi pemuda justru tampak terpinggirkan dan terfragmentasi (Woodman dan Wyn 2013. Hal ini menunjukkan bahwa wacana tentang keadilan bagi pemuda bukan merupakan perhatian sistemik, melainkan terbatas pada inisiatif sektoral atau momen kebijakan tertentu. Dalam konteks ini, pendekatan ASEAN terhadap pemuda dapat dipahami sebagai bentuk AuinstrumentalisasiAy, di mana pemuda diposisikan sebagai penerima manfaat, bukan sebagai rekan pembuat Pola yang berulang ini sejalan dengan kritik Escobar bahwa wacana pembangunan di negara-negara Selatan masih memproduksi pada Barat. Akibatnya, meskipun ASEAN secara retoris menonjolkan inklusivitas dan pemberdayaan, agenda kepemudaannya tetap berpijak pada logika pembangunan neoliberal yang lebih mengutamakan produktivitas dan stabilitas kawasan daripada keadilan dan kesetaraan. Menurut Escobar, model pembangunan global sering mengabaikan perbedaan budaya lokal dan memaksakan satu pola yang dianggap sebagai standar universal, sehingga masyarakat lokal diarahkan untuk mengikuti model pembangunan berdasarkan nilai-nilai Barat. AuA political economy of global economic and cultural production must thus explain both the new forms of capital accumulation and the local discourses and practices through which the global forms are necessarily deployed. must explain, briefly put. Authe production of cultural difference within a structured system of global political economyAy (Escobar 1995: . Dalam ASEAN, tentang pemuda sering kali disusun secara seragam, seolah-olah semua anak muda memiliki kebutuhan yang sama. Konsep ini berakar pada model kebijakan Barat. Padahal, pemuda di Asia Tenggara berasal dari latar belakang sosial dan ekonomi yang sangat beragam. Pendekatan semacam itu berisiko mengabaikan kesenjangan kesempatan, dan cita-cita para pemuda. Seperti terlihat pada tabel berikut, kebijakan ASEAN belum sepenuhnya mencerminkan realitas yang dihadapi pemuda di kawasan Asia Tenggara. Tabel 8. Kesenjangan Nasional dan Regional dalam Isu Kepemudaan: Narasi ASEAN dan Realitas Negara Negara Fokus Kebijakan Negara terhadap Isu Pemuda Isu Empiris Pemuda Perbandingan dengan Isu di Tingkat ASEAN Indonesia Pemberdayaan pemuda di sektor pelatihan vokasional, dan Reformasi 1998 peran penting dalam proses Krisis ekonomi 1997 memicu di kalangan Setelah tahun 2000, muncul kecenderungan di sebagian Sejak 2021 hingga 2024, ekonomi GIG berkembang pesat dan menjadi pilihan kerja bagi banyak anak muda. Narasi ASEAN menonjolkan identitas dan kepemimpinan, namun mengabaikan kesenjangan ekonomi serta risiko radikalisasi nasional. Malaysia Akses pendidikan dan inklusi etnis, serta program Ketimpangan etnis dalam masih terlihat antara tahun 2003 hingga Tingkat pemuda terus pekerjaan digital berkembang pesat Kebijakan ASEAN menyoroti pentingnya pendidikan, namun kurang memberi perhatian pada ketimpangan sosial ekonomi yang dihadapi pemuda di Malaysia. Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Hegemoni Barat dalam Kebijakan Pemuda ASEAN: Analisis Wacana Kritis atas Paradigma Generasional dalam AMMY . 2Ae2. dan AMMY 3 . 7Ae2. Negara Fokus Kebijakan Negara terhadap Isu Pemuda Isu Empiris Pemuda Perbandingan dengan Isu di Tingkat ASEAN Thailand Program partisipasi politik, ekonomi bagi muda, dan Aksi protes tuntutan kuat reformasi politik. Partisipasi pemuda dalam keputusan masih terbatas. ASEAN lebih menekankan identitas regional daripada keterlibatan pemuda dalam aktivisme Filipina Kebijakan ekspor tenaga kerja, program kewirausahaan muda, dan kampanye anti-narkotika. Migrasi tenaga kerja muda meningkat sejak 2005 hingga 2024. Selain itu, muncul kekhawatiran tentang pemuda serta risiko eksploitasi digital. ASEAN menyoroti peningkatan keterampilan kerja, tetapi mengabaikan ketergantungan struktural migrasi tenaga kerja di Filipina. Pelatihan STEM dan digital, keterlibatan pemuda dalam kebijakan ekonomi negara, serta inisiatif kohesi Transformasi yang cepat pada keamanan kerja bagi pemuda. Kekhawatiran terhadap keamanan siber dan keselamatan di ruang digital juga ASEAN mendorong literasi digital, tetapi belum memiliki strategi regional yang kuat untuk melindungi pemuda dari eksploitasi Keterwakilan pemuda dalam pemerintahan masih dengan fokus pada kewirausahaan dan Setelah kudeta militer tahun 2021, banyak negara dan sebagian terlibat dalam konflik Narasi ASEAN tentang pembentukan identitas tidak mampu menjawab krisis unik yang dialami pemuda Myanmar, yakni keterasingan dan penindasan Pelatihan mental, dan kerja-hidup. Tekanan biaya hidup yang tinggi menjadi beban bagi generasi Banyak kerja dalam ekonomi gig dan mengalami krisis Rencana kerja ASEAN menonjolkan kepemimpinan, tetapi kurang menanggapi kecemasan ekonomi pemuda perkotaan. Vietnam Myanmar Singapura Negara Fokus Kebijakan Negara terhadap Isu Pemuda Isu Empiris Pemuda Perbandingan dengan Isu di Tingkat ASEAN Laos Program pembangunan pemuda kerja, dan Akses masih terbatas. Kesenjangan antara daerah dan pedesaan semakin melebar. Migrasi ke luar negeri dari tahun ke ASEAN menyoroti peningkatan keterampilan kerja, tetapi belum memerhatikan dampak sosial dari migrasi Kamboja Penindakan bisnis ilegal, bagi korban manusia, serta terhadap industri digital. Jaringan perdagangan manusia pemuda, terutama dalam pusat penipuan digital. Banyak pemuda terjebak dalam sindikat daring dan kerja paksa, hukum masih Fokus keamanan regional ASEAN belum menyentuh kerentanan pemuda terhadap perdagangan manusia dan eksploitasi kerja Brunei Darussalam Penguatan identitas nasional pemuda dan kebijakan yang berjalan Ketergantungan ekonomi pada minyak masih tinggi. Peluang politik bagi pemuda sangat dan inovasi ASEAN mendorong identitas regional, namun belum menantang ketergantungan ekonomi pada industri (Sumber: Penuli. Tabel di atas menunjukkan perbedaan dan pendekatan ASEAN terhadap isu-isu Kebijakan ASEAN lebih berfokus kepemimpinan pemuda, dan digitalisasi, namun kurang memberikan perhatian terhadap persoalan spesifik yang dihadapi masing-masing negara, seperti pengangguran, eksploitasi tenaga kerja, dan represi politik. Kebijakan pemuda di negara-negara anggota ASEAN menunjukkan kecenderungan untuk menempatkan pemuda sebagai bagian Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Mahatma Aditya Mikaila pendidikan, dan peningkatan daya saing Di Indonesia, kebijakan pemuda ekonomi dan deradikalisasi sebagai respons pemuda serta dinamika ideologi setelah Pendekatan yang relatif serupa juga terlihat di Malaysia, yang menekankan pentingnya inklusi pendidikan dan penguatan kewirausahaan untuk mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi Sementara itu. Filipina lebih memprioritaskan peningkatan keterampilan kerja global karena ketergantungan ekonomi negara tersebut pada migrasi tenaga kerja muda. Berbeda dengan itu. Vietnam menempatkan pengembangan keterampilan digital dan STEM sebagai strategi utama untuk menopang industrialisasi dan transformasi ekonomi nasional. Di sisi yang lain. Singapore lebih menekankan penguatan keterampilan teknologi untuk mempertahankan posisi sebagai negara dengan ekonomi maju. Sementara itu. Brunei Darussalam mengarahkan kebijakan pemudanya pada upaya diversifikasi ekonomi dan penguatan identitas nasional sebagai konsekuensi dari ketergantungan pada sektor minyak. Selain berorientasi pada pembangunan ekonomi, kebijakan pemuda di beberapa negara juga mencerminkan upaya pemerintah dalam mengelola pemuda sebagai kelompok yang rentan terhadap dinamika stabilitas sosial dan politik. Di Thailand, misalnya, kebijakan pemuda diarahkan untuk mendorong partisipasi sosial dan kewirausahaan sebagai respons terhadap meningkatnya mobilisasi politik generasi muda. Kondisi yang lebih kompleks terlihat di Myanmar, dimana konflik politik membatasi ruang partisipasi pemuda dalam kehidupan publik. Selanjutnya. Laos pedesaan serta pengelolaan migrasi tenaga kerja karena terbatasnya peluang kerja di dalam Adapun Cambodia menitikberatkan kebijakan pemuda pada perlindungan terhadap perdagangan manusia dan eksploitasi digital, mengingat tingginya kerentanan pemuda terhadap kejahatan transnasional. Secara keseluruhan, variasi konteks konstruksi kebijakan pemuda di kawasan ASEAN tidak seragam, melainkan sangat ditentukan oleh kebutuhan pembangunan nasional masing-masing negara. Hal ini ASEAN memiliki kerangka kepemudaan yang inklusif, pendekatan yang lebih kontekstual masih dibutuhkan untuk menjawab tantangan unik di setiap negara anggota. Dalam konteks ini, masalah kepemudaan di ASEAN tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan yang memperkuat identitas ASEAN (Stubbs 2. atau tujuan pembangunan yang sejalan dengan (Ashcraft 2000. Roth dan Brooks 2003. Bersaglio dkk. Ballard dkk. Wang et al. Boat et al. Samad 2020. Malherbe et al. Penyelesaiannya juga memerlukan perubahan struktural dalam kebijakan ketenagakerjaan, partisipasi politik, dan perlindungan hak sipil di setiap negara (Ungar dkk. Coleman dan Serpell 2. Jika pemuda terus diperlakukan sebagai objek pembangunan tanpa ruang yang memadai untuk berpartisipasi aktif, maka berbagai persoalan yang mereka hadapi akan terus berulang dalam lingkaran yang sama. KESIMPULAN Berdasarkan analisis terhadap dokumen ASEAN Ministerial Meeting on Youth (AMMY) dan ASEAN Ministerial Meeting on Youth 3 (AMMY . , studi ini menunjukkan bahwa kebijakan kepemudaan ASEAN secara diskursif strategis dalam proyek pembangunan kawasan. Pemuda diposisikan sebagai sarana untuk Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Hegemoni Barat dalam Kebijakan Pemuda ASEAN: Analisis Wacana Kritis atas Paradigma Generasional dalam AMMY . 2Ae2. dan AMMY 3 . 7Ae2. mendukung agenda integrasi ekonomi, sosial, dan politik ASEAN. Meskipun ASEAN berupaya membangun identitas kawasan yang mandiri, kebijakan kepemudaan yang dirumuskan masih berlandaskan paradigma pembangunan Barat. Melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis Fairclough, studi ini mengungkap bahwa representasi pemuda dalam dokumen kebijakan ASEAN tidak bersifat netral, melainkan dibentuk melalui relasi kuasa yang mereproduksi paradigma pembangunan Analisis terhadap dimensi teks, praktik diskursif, dan praktik sosial-budaya menunjukkan bahwa narasi pemberdayaan pemuda dalam kebijakan ASEAN lebih sering pembangunan kawasan dibandingkan sebagai upaya memperluas ruang partisipasi substantif pemuda dalam proses pengambilan keputusan. Temuan studi ini juga mengajukan Auinstrumentalisasi pemudaAy, yaitu kondisi ketika pemuda lebih sering ditempatkan sebagai target pembangunan daripada sebagai aktor yang menentukan arah Dalam konteks ini, berbagai persoalan mendasar seperti ketimpangan akses pendidikan, pekerjaan layak, serta partisipasi politik cenderung terpinggirkan. Sebaliknya, kebijakan kepemudaan lebih diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia dalam kerangka kepentingan ekonomi, politik, dan identitas regional. Ketimpangan tersebut semakin diperkuat oleh adanya jarak generasional antara pemuda kontemporer dan para pembuat kebijakan, yang memiliki pengalaman sosial serta orientasi nilai yang berbeda dalam memandang masa depan Dalam Arturo Escobar, studi ini menunjukkan ASEAN masih beroperasi dalam rezim wacana pembangunan yang berakar pada modernitas Barat. Paradigma Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda stabilitas dan produktivitas sebagai tujuan utama pembangunan, sehingga mengabaikan kompleksitas realitas sosial, budaya, dan struktural yang membentuk pengalaman hidup pemuda di Asia Tenggara. Berdasarkan temuan tersebut, studi ini menekankan pentingnya pergeseran paradigma ASEAN pendekatan yang lebih partisipatif, kontekstual, dan berkeadilan sosial. Kebijakan kepemudaan di kawasan Asia Tenggara perlu membuka ruang yang lebih substantif bagi pemuda untuk terlibat dalam proses perumusan kebijakan, sekaligus mengakomodasi keragaman realitas nasional dan lokal. Tanpa perubahan paradigma tersebut, kebijakan kepemudaan ASEAN berisiko terus melanggengkan relasi kuasa pembangunan global yang menempatkan pemuda sebagai objek pembangunan, bukan sebagai subjek transformasi sosial kawasan. DAFTAR PUSTAKA