Jurnal Pembangunan Nagari JPN Vol. No. Juni, 2025. Hal. DOI: 10. 30559/jpn. Copyright A Balitbang Provinsi Sumatera Barat ISSN: 2527-6387 Balitbang Provinsi Sumatera Barat Dinamika Pengembangan Desa Wisata di Indonesia: Analisis Sistematik tentang Pendorong. Tantangan, dan Dampak Ari Mukti1 Universitas Tidar. Magelang. Indonesia. Email: arimukti@untidar. Artikel Diterima: . November 2. Artikel Direvisi: . April 2. Artikel Disetujui: . Mei 2. ABSTRACT This study aims to analyze the dynamics of tourism village development in Indonesia through a systematic approach, focusing on the driving factors, challenges, and impacts generated. The Systematic Literature Review (SLR) approach was used to synthesize related literature published in the 2022Ae2024 period, using the thematic content analysis method. The results of the study indicate that the main driving factors for tourism village development include the wealth of local potential, multi-party collaboration, and infrastructure and innovation Development challenges include limited infrastructure, weak management, and minimal digital In addition, this study also found that the development of tourism villages has a positive impact, including improving the local economy, community welfare, cultural preservation, and the environment, so that tourism villages are not only a tool for local economic development, but also a model of sustainable development that aligns social, economic, and environmental aspects. To support the sustainability of tourism villages, this study recommends increasing synergy between stakeholders, improving infrastructure, optimizing digital promotion, empowering communities, mitigating risks, and implementing regulations for preserving culture and the environment. Keywords: Tourism Village Development. Driver Factors. Challenges. Impacts ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika pengembangan desa wisata di Indonesia melalui pendekatan sistematis, dengan fokus pada faktor pendorong, tantangan, dan dampak yang dihasilkan. Pendekatan Systematic Literature Review (SLR) digunakan untuk menyintesis literatur terkait yang diterbitkan dalam rentang waktu 2022Ae2024, dengan metode analisis konten tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendorong utama pengembangan desa wisata mencakup kekayaan potensi lokal, kolaborasi multipihak, serta dukungan infrastruktur dan inovasi. Tantangan pengembangan antara lain keterbatasan infrastruktur, manajemen yang lemah, dan minimnya promosi digital. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa pengembangan desa wisata memberikan dampak positif, termasuk peningkatan ekonomi lokal, kesejahteraan masyarakat, pelestarian budaya, dan lingkungan. Dengan demikian, desa wisata tidak hanya menjadi alat pembangunan ekonomi lokal, tetapi juga sebagai model pembangunan berkelanjutan yang menyelaraskan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Untuk mendukung keberlanjutan desa wisata, penelitian ini merekomendasikan peningkatan sinergi antar pemangku kepentingan, perbaikan infrastruktur, optimalisasi promosi digital, pemberdayaan masyarakat, mitigasi risiko, serta penerapan regulasi pelestarian budaya dan lingkungan. Kata Kunci: Pengembangan Desa Wisata. Faktor Pendorong. Tantangan. Dampak Penulis Koresponden: Nama : Ari Mukti Email : arimukti@untidar. Jurnal Pembangunan Nagari. Vol. No. Juni, 2025 | 21 Pendahuluan Pariwisata merupakan sektor strategis yang berkontribusi signifikan terhadap ekonomi global, menyumbang 10,2% dari PDB dunia pada tahun 2016, dengan proyeksi peningkatan hingga 11% pada tahun 2027 (Liu et al. , 2. Di negara berkembang, khususnya di daerah pedesaan, pariwisata menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, peningkatan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, dan pengentasan kemiskinan (Comerio F. & Strozzi, 2018. Nunkoo et al. , 2019. PaniN, 2024. Wu et al. , 2. Pariwisata berkontribusi besar dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan perolehan devisa, menjadikannya komponen vital dari strategi ekonomi berkelanjutan (Liu et al. , 2018. Suhel & Bashir, 2. Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa keterkaitan antara sektor pariwisata dengan pembangunan ekonomi sangatlah Dalam konteks Indonesia, pariwisata pedesaan melalui pengembangan desa wisata memainkan peran penting dalam mendukung pembangunan. Desa wisata merupakan bentuk pariwisata berbasis masyarakat yang mengandalkan keunikan alam, budaya, dan kehidupan sosial pedesaan sebagai daya tarik utama, sekaligus berfungsi sebagai instrumen peningkatan ekonomi lokal, pelestarian budaya, penguatan kohesi sosial, serta penerapan prinsip keberlanjutan lingkungan (IursiN et al. , 2021. Gao et al. , 2019. Li et al. , 2023. Sanagustin-Fons et al. , 2. Kekayaan budaya dan keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia merupakan potensi strategis dalam pengembangan desa wisata sebagai motor penggerak pembangunan pedesaan dan penguatan ekonomi lokal. Keragaman dengan lebih dari 300 kelompok etnis dan sekitar 700 bahasa daerah. Indonesia memiliki sumber daya sosial-budaya yang dapat diintegrasikan secara optimal ke dalam perencanaan dan pengembangan desa wisata berkelanjutan (Minardi et al. , 2020. Revida, 2. Pada tahun 2024, data jaringan desa wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, menyatakan bahwa sebanyak 6. 047 desa wisata telah berdiri di Indonesia. Perkembangan ini diproyeksikan akan menyumbang sekitar 4,5% terhadap PDB nasional, yang menegaskan pentingnya desa wisata dalam perekonomian (Fanida & Oktarianda, 2. Desa wisata tidak hanya mendukung perekonomian lokal tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui pelestarian kearifan lokal dan sustainability (Ginting et , 2. Dengan demikian, pengembangan desa wisata sejalan dengan tujuan ekonomi Indonesia yang lebih luas, sekaligus meningkatkan pengalaman wisatawan secara keseluruhan (Antara et al. , 2021. Sutoni et al. , 2. Sebagai bagian dari pariwisata berkelanjutan, desa wisata memberikan manfaat multidimensi dengan mendukung pemberdayaan ekonomi lokal melalui pengembangan usaha mikro yang menarik wisatawan untuk membeli produk lokal, seperti kerajinan dan kuliner tradisional (Iswari, 2. , serta berkontribusi pada pelestarian budaya melalui tradisi dan tata ruang khas yang memperkuat identitas masyarakat (Towoliu et al. , 2. Pemberdayaan berbasis komunitas mendorong partisipasi aktif masyarakat, meningkatkan kesejahteraan sosial, dan mendukung keberlanjutan ekonomi lokal, menjadikan desa wisata elemen strategis untuk pembangunan pariwisata yang berkelanjutan (Nurhasanah et al. , 2017. Pribadi et al. Purnomo, 2. Di samping besarnya potensi dan kontribusi yang diberikan, pengembangan desa wisata hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan yang mencakup keterbatasan infrastruktur (Achsa et al. , 2024a. Ananda & Koswara, 2022. Azzam & Koswara, 2. , rendahnya 22 | Ari Mukti pemahaman masyarakat mengenai praktik pariwisata berkelanjutan (Allyreza & Winangsih. Maheswari et al. , 2. , serta keterbatasan pendanaan (Monika & Prakoso, 2023. Setiawan et al. , 2024. Suherman AR, 2. yang menghambat pengembangan sektor ini secara Selain itu, pengelolaan desa wisata yang buruk juga menyebabkan perubahan tata guna lahan, mengakibatkan degradasi lingkungan yang berdampak negatif pada keberlanjutan ekosistem (NurAoAzmi et al. , 2. Berbagai tantangan ini memerlukan revitalisasi tradisi budaya sekaligus memastikan keberlanjutan lingkungan, yang menjadi kunci kelangsungan hidup desa wisata dalam jangka panjang (Jeelani et al. , 2. Kolaborasi strategis antara pemerintah, masyarakat lokal, dan pemangku kepentingan lainnya sangat penting untuk mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan dan memaksimalkan manfaat desa wisata (Kawuryan et al. , 2. Pendekatan kolaboratif ini dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat, memastikan partisipasi aktif, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan pelestarian budaya (Pramono et al. , 2. Sejauh ini, sejumlah hasil studi yang kontributif terkait pengembangan desa wisata telah dilakukan dalam berbagai topik diantaranya manajemen pengembangan, keterlibatan masyarakat, peran stakeholder, kolaborasi, eksplorasi potensi, tata kelola, kearifan lokal, aspek kebijakan, dampaknya karena pandemi dan bencana, keberlanjutan, pemasaran, dan digitalisasi (Mukti & Fadlurrahman, 2. Studi terkait yang mengadopsi metode SLR juga telah banyak dilakukan, misalnya, pemetaan tren umum desa wisata (Yunani et al. , 2. pemetaan trend pengembangan desa wisata (Ammar, 2021. Mukti & Fadlurrahman, 2. teknologi informasi di desa wisata (Ananda & Dirgahayu, 2. , serta studi-studi lain terkait isu-isu tematik dalam pariwisata seperti keberlanjutan, pariwisata budaya, dan pariwisata halal (Hariani et al. , 2023. MuAoalim & Habibussalam, 2021. Parta & Maharani, 2. Meskipun demikian, hasil riset dan tinjauan tersebut umumnya bersifat tematis dan belum secara eksplisit mengkaji secara sistematik mengenai faktor pendorong, tantangan, dan dampak dalam pengembangan desa wisata. Untuk menjawab kesenjangan tersebut, penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan SLR untuk menghasilkan pola-pola umum dari pendorong, tantangan, serta dampak dalam pengembangan desa wisata di lingkup tanah air. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan literatur akademik, mendukung perumusan kebijakan, dan meningkatkan kualitas praktik pengelolaan desa wisata yang berkelanjutan di Indonesia. Metodologi Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan panduan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyse. untuk menjawab pertanyaan penelitian terkait faktor pendorong, tantangan, serta dampak pengembangan desa wisata. Metodologi ini dirancang untuk menghasilkan sintesis literatur yang komprehensif dan berbasis bukti. SLR dimulai dengan merumuskan protokol penelitian, meliputi tujuan, strategi pencarian, kriteria inklusi dan eksklusi, serta prosedur analisis data (Page et al. , 2021. Sharif et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan mengidentifikasi faktor pendorong, penghambat, dan dampak pengembangan desa wisata di Indonesia tahun 2022Ae2024. Database Google Scholar digunakan sebagai sumber utama data karena cakupannya yang luas dan kemampuannya dalam menemukan artikel yang terindeks SINTA, yang menjadi fokus Jurnal Pembangunan Nagari. Vol. No. Juni, 2025 | 23 penelitian ini. Pencarian dilakukan pada periode Juli Ae Oktober 2024 dengan kata kunci Aupengembangan desa wisata. Ay Artikel yang diidentifikasi mencakup publikasi dalam rentang waktu 2022Ae2024. Kriteria inklusi dan eksklusi ditentukan untuk memastikan hanya artikel yang relevan dan berkualitas tinggi yang dianalisis. Berikut adalah kriteria yang digunakan: Tabel 1. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Seleksi Artikel Kriteria Jenis Publikasi Indeksasi Jenis Jurnal Ketersediaan Artikel Isi Artikel Jenis Artikel Inklusi Artikel jurnal kategori peerreviewed Terindeks SINTA Jurnal penelitian Artikel dengan teks lengkap Hanya pengembangan desa Studi empiris . Eksklusi Prosiding, book chapter, laporan penelitian, buku, editorial Tidak terindeks SINTA Jurnal pengabdian kepada masyarakat Artikel dengan teks tidak lengkap Topik di luar pengembangan desa wisata Studi pustaka normatif Berikutnya, sebanyak 2. 500 artikel awal diidentifikasi dari database. Setelah melalui proses penyaringan berdasarkan abstrak, kriteria inklusi, dan eksklusi, 153 artikel memenuhi kriteria Proses ini menerapkan metode PRISMA, yang mencakup langkah identifikasi, penyaringan, kelayakan, dan inklusi. Seluruh artikel yang lolos seleksi dianalisis menggunakan pendekatan analisis konten tematik, dengan bantuan perangkat lunak Excel untuk mengorganisasi data dan mengidentifikasi tema atau pola yang relevan. Excel digunakan untuk mempermudah pengelompokan data berdasarkan kategori tematik serta untuk memvisualisasikan distribusi tema yang muncul dalam artikel. Validasi internal dilakukan melalui triangulasi data dengan literatur yang relevan dan tinjauan ulang hasil pengelompokan Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi potensi bias interpretasi dan memastikan konsistensi temuan. Hasil dan Pembahasan Pendorong Pengembangan Desa Wisata Faktor pendorong dalam pengembangan desa wisata memainkan peran strategis sebagai fondasi keberhasilan implementasi. FaktorAefaktor inilah yang berperan memperkuat kapasitas lokal, memperluas jejaring desa ke pasar wisata, dan meningkatkan daya tarik bagi wisatawan. Tanpa adanya dorongan yang kuat, baik dari dalam maupun luar komunitas desa, potensi yang dimiliki desa tidak akan dapat dioptimalkan menjadi daya tarik wisata. Selain itu, faktor-faktor pendorong ini juga mendukung pengelolaan sumber daya secara efektif, mempercepat adaptasi desa terhadap perubahan kebutuhan pasar wisata, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan kehadirannya, desa wisata tidak hanya dapat berkembang sebagai destinasi, tetapi juga sebagai model pembangunan yang menyelaraskan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berimbang. Jika faktor-faktor pendorong ini tidak tersedia, pengembangan desa wisata akan berjalan lambat, terfragmentasi, dan berpotensi kehilangan relevansi di tengah persaingan yang semakin ketat. Berbagai faktor yang telah mendorong pengembangan desa wisata di Indonesia dapat dikategorikan sebagai berikut: 24 | Ari Mukti Tabel 2. Kategori dan Sub-Kategori Faktor Pendorong Pengembangan Desa Wisata di Indonesia Kategori Sub-Kategori Keunikan dan daya tarik alam . emandian air panas, view Potensi Alam persawahan, air terjun, potensi alam karst, keindahan alam, wisata Budaya lokal / warisan budaya . udaya Suku Dayak, budaya Suku Sasak, budaya Suku Tengger, budaya Suku Bajo, dl. Kearifan lokal Potensi Sosial Kesenian tradisional Budaya Warisan sejarah Atraksi budaya dan festival. Arsitektur bangunan tradisional Keramahtamahan masyarakat Potensi Produk Potensi ekonomi kreatif lokal . roduk herbal, kuliner, dan kerajinan Lokal Penyusunan paket wisata Inovasi Promosi berbasis digital Sarana Ketersediaan fasilitas penunjang . kses jalan, fasilitas promosi. Prasarana sarana prasarana lain yang mendukung pariwisat. Partisipasi aktif masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan wisata Partisipasi pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan pelatihan dan Masyarakat peningkatan kapasitas pengelolaan wisata Kesadaran masyarakat akan potensi wisata desa Kebanggaan komunitas lokal terhadap desa wisata Modal sosial yang kuat . aringan sosial, kepercayaan, norma, dan Modal Sosial literasi yang mendukung kerjasam. Bantuan dan dukungan dari pemerintah desa dan pemerintah daerah Dukungan . ana desa, peningkatan infrastruktur, regulasi dan kebijakan yang Pemerintah mendukung, inisiatif program yang mendukung, dan kepemimpinan lokal yang kua. Kolaborasi Kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan (Pokdarwis. Multipihak BUMDes, swasta, perguruan tinggi, komunitas, dan medi. Sumber: hasil ekstraksi diolah peneliti Jumlah Artkel Temuan Dari tabel tersebut diketahui bahwa pengembangan desa wisata di Indonesia didorong oleh sembilan kategori antara lain potensi alam, potensi sosial budaya, potensi produk lokal, inovasi, sarana prasarana, partisipasi masyarakat, modal sosial, dukungan pemerintah dan kolaborasi Berdasarkan kategori tersebut, pengembangan desa wisata di Indonesia memiliki pola yang dapat digambarkan dalam beberapa poin berikut: Berdasarkan potensi lokal yang dimiliki Potensi alam, potensi sosial budaya, hingga produk lokal menjadi kategori yang sering disebutkan pada kajian terdahulu. Desa wisata umumnya dikembangkan dengan memanfaatkan keunikan alam seperti pemandangan persawahan dan pemandian air panas (Ananda & Koswara, 2. , air terjun dan perbukitan (Dewi et al. , 2. , kekayaan budaya seperti festival dan situs sejarah (Wardoyo, 2. Sementara itu produk lokal seperti kerajinan, kuliner, maupun herbal (Sari & Dewi, 2. memberikan nilai tambah bagi daya tarik yang ada serta memberikan peluang berkembangnya ekonomi lokal. Hal ini mencerminkan bahwa daya tarik desa wisata berasal dari kekayaan yang dimiliki desa secara alami dan turun-temurun. Kolaborasi dengan pihak eksternal Dukungan pemerintah dan stakeholder menjadi elemen penting dalam pengembangan desa Pengembangan desa wisata tidak hanya bergantung pada potensi lokal saja, tetapi juga pada kolaborasi multipihak, termasuk dengan pemerintah, swasta, perguruan tinggi. Jurnal Pembangunan Nagari. Vol. No. Juni, 2025 | 25 masyarakat, bahkan media (Nainggolan, 2024. Rahmat et al. , 2023. Yesayabela et al. , 2. Dukungan pemerintah diantaranya diwujudkan melalui kebijakan, regulasi, dan infrastruktur. Sementara stakeholder lain berkontribusi menyediakan program pelatihan, pendanaan, hingga promosi (Kusumawidjaya et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan desa wisata adalah hasil kolaborasi antara potensi internal desa dan dukungan eksternal atau aksi pendekatan lintas sektoral. Kontribusi partisipasi masyarakat dan modal sosial Keberadaan partisipasi masyarakat dan modal sosial menjadi elemen yang tidak dapat Keberhasilan pengembangan desa wisata sangat bergantung pada tingginya kesadaran masyarakat akan potensi wisata desanya, tingkat keterlibatan mereka dalam proses pengembangan (Arum et al. , 2. Pada aspek modal sosial diperlukan kepercayaan serta jejaring sosial yang kuat (Ningsih & Wijaya, 2. Kelengkapan infrastruktur dan inovasi Sarana prasarana dan inovasi mencerminkan bahwa keberhasilan desa wisata juga memerlukan adaptasi terhadap tren modern dan kenyamanan wisatawan, seperti penggunaan teknologi digital untuk promosi (Indrawati et al. , 2. , penyusunan paket wisata, serta penyediaan berbagai fasilitas fisik seperti akses jalan (Mulyana et al. , 2. , dan sarana prasarana lain yang memadai (Dianto et al. , 2024. Lokeswara et al. , 2. Keberadaan keduanya mendukung daya saing desa wisata agar tetap relevan dan kompetitif di tengah perkembangan zaman. Tantangan Pengembangan Desa Wisata Pengkajian terhadap tantangan dalam pengembangan desa wisata sangat penting, mengingat bangsa ini memiliki potensi sumber daya lokal desa yang sangat besar, tetapi masih sering dihadapkan pada berbagai tantangan yang dapat membatasi pertumbuhannya. Pemahaman akan hal ini memungkinkan pemerintah dan para pengelola desa wisata untuk merumuskan strategi, beradaptasi, dan mencari solusi terbaik. Analisis terhadap faktor penghambat memungkinkan perencanaan yang lebih komprehensif dan strategis, sehingga sumber daya dapat dialokasikan secara efektif untuk mengatasi tantangan yang muncul. Selain itu, dengan memahami kendala yang ada, pengelola desa wisata dapat mengantisipasi risiko dan merancang solusi inovatif yang mendukung keberlanjutan jangka panjang. Tanpa perhatian yang memadai terhadap penghambat, pengembangan desa wisata berisiko menjadi inefisien, tidak kompetitif, dan gagal dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat. Berikut adalah berbagai tantangan pengembangan desa wisata yang berhasil dipetakan dalam kajian ini: Tabel 3. Kategori dan Sub-Kategori Tantangan Pengembangan Desa Wisata di Indonesia Kategori Keterbatasan Infrakstruktur Keterbatasan SDM Keterbatasan Dana Sub-Kategori Akses jalan menuju lokasi . ulit, rusak, tidak memadah. Tidak terjangkau transportasi umum Fasilitas pendukung kurang memadahi dan kurang terawat . komodasi, toilet, penerangan, rumah makan, lahan parki. Kurangnya kapasitas . eterampilan dan pemahama. SDM pengelola desa wisata Kurangnya pengelola wisata profesional Kurangnya modal untuk pengembangan Rendahnya alokasi anggaran Jumlah Artkel Temuan 26 | Ari Mukti Keterbatasan Manajemen Keterbatasan Promosi Keterbatasan Peran Pemerintah Konflik Sosial dan Budaya Manajemen pengelolaan kurang optimal Kurangnya strategi pengembangan Kurangnya koordinasi dan sinergi antar pemangku Terjadi pungutan liar Kinerja pengelola lemah Struktur organisasi lemah Belum ada visi dan misi Kurangnya SOP Persaingan dengan desa wisata lain Pengembangan ekonomi lokal kurang maksimal Strategi promosi tidak efektif kegiatan promosi kurang Rendahnya pemanfaatan media Kurangnya dukungan kebijakan Peran pemerintah kurang maksimal Konflik kepentingan Pengaruh budaya negatif dari pengunjung Sikap destruktif wisatawan Masalah penerimaan sosial Rendahnya kesadaran akan potensi wisata Rendahnya partisipasi dalam program pariwisata Kurangnya dukungan atau motivasi dari masyarakat lokal Kurangnya Kesadaran dan Partisipasi Masyarakat Keadaan Memaksa Pandemi Covid-19, (Force Majeur. Bencana alam . anjir dan longso. Sumber : hasil ekstraksi diolah peneliti Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa pengembangan desa wisata di Indonesia menghadapi sembilan kategori tantangan utama, yang meliputi keterbatasan infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), dana, manajemen, promosi, peran pemerintah, konflik sosial dan budaya, kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat, serta kejadian force majeure. Berbagai tantangan ini dapat dikelompokkan dalam beberapa isu besar sebagai berikut: Kelemahan tata kelola Keterbatasan infrastruktur menjadi tantangan utama dalam pengembangan desa wisata. Jalan yang rusak, sulit diakses, atau tidak terjangkau transportasi umum membuat wisatawan kesulitan untuk mengunjungi destinasi tersebut (Dewi et al. , 2022. Prasetio et al. , 2. Selain itu, fasilitas pendukung (Ulma & Pertiwi, 2. seperti penginapan, toilet, penerangan, rumah makan, dan lahan parkir yang kurang memadai atau tidak terawat, mengurangi kenyamanan bagi wisatawan. Di sisi lain, keterbatasan SDM yang berkualitas, seperti kurangnya keterampilan dan pemahaman pengelola desa wisata (Haikal et al. , 2. , juga menjadi masalah. Banyak desa wisata di Indonesia yang belum memiliki pengelola profesional dan kompeten untuk mendukung pengembangan destinasi tersebut. Manajemen yang lemah (Achsa et al. , 2024. , seperti tidak adanya strategi pengelolaan yang terarah (Saputra & Kamindang, 2. , dan lemahnya koordinasi antar stakeholder (Semara et al. , 2. , menunjukkan pentingnya penguatan tata kelola yang lebih baik di desa wisata. Kelemahan finansial dan promosi Minimnya dana menjadi salah satu tantangan yang sering dihadapi dalam pengembangan desa Keterbatasan modal untuk membangun infrastruktur, menjalankan program wisata, atau mengembangkan atraksi baru menyebabkan stagnasi dalam inovasi dan daya tarik destinasi Jurnal Pembangunan Nagari. Vol. No. Juni, 2025 | 27 (Selvia & Danasari, 2. Rendahnya alokasi anggaran dari pemerintah maupun minimnya investor juga memperparah kondisi tersebut (Simamora & Rangkuti, 2. Selain itu, strategi promosi yang kurang efektif dan jarang dilakukan, mengurangi peluang desa wisata untuk dikenal di pasar wisata yang lebih luas. Pemanfaatan media digital untuk pemasaran juga masih terbatas (Razak, 2. , meskipun digitalisasi mampu menjangkau segmen wisatawan yang lebih besar. Kombinasi antara masalah finansial dan promosi yang lemah ini mengindikasikan bahwa desa wisata memerlukan dukungan khusus dalam mengembangkan strategi pemasaran yang inovatif serta akses pendanaan yang berkelanjutan. Kelemahan peran pemerintah dan masyarakat Pemerintah desa dan pemerintah daerah memang memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan desa wisata, baik melalui kebijakan, regulasi, maupun pembangunan infrastruktur, dan pelatihan SDM. Namun, peran mereka sering dianggap kurang maksimal (Aquatama et al. , 2. , seperti kebijakan yang tidak konsisten atau kurangnya koordinasi pemerintah dalam pelaksanaan program wisata. Di sisi lain, rendahnya kesadaran masyarakat akan potensi wisata di desanya (Kando et al. , 2. , kurangnya motivasi untuk berkontribusi, bahkan penolakan terhadap hadirnya program wisata menunjukkan kurangnya pendekatan yang lebih partisipatif. Kelemahan mitigasi resiko Berbagai bentuk ketegangan sering kali muncul dalam proses pengembangan desa wisata, seperti konflik kepentingan antar stakeholder, pengaruh budaya negatif dari wisatawan, atau resistensi masyarakat lokal terhadap hadirnya aktivitas wisata di desanya. Selain itu, risiko eksternal seperti pandemi COVID-19 dan bencana alam . anjir, longso. (Maharani & Effendi, 2. juga menjadi hambatan yang berarti. Pandemi khususnya, telah menyebabkan guncangan yang luar biasa terhadap keberlanjutan pengembangan desa wisata (Mirayani et al. , 2. Persoalan-persoalan ini mengindikasikan belum optimalnya upaya mitigasi . terhadap berbagai risiko yang akan terjadi, baik dalam perencanaan kontingensi, diversifikasi pendapatan, hingga adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Dampak Pengembangan Desa Wisata Mengidentifikasi dampak positif dari pengembangan desa wisata sangat penting untuk menilai efektivitas program dan inisiatif yang dilakukan serta memastikan bahwa tujuan pembangunan yang diharapkan tercapai. Pemahaman terhadap dampak positif memberikan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pengembangan desa wisata. Dengan diketahuinya dampak pengembangan desa wisata juga membantu mengidentifikasi manfaat yang dirasakan oleh masyarakat lokal, sehingga memperkuat dukungan dan partisipasi mereka dalam pengelolaan wisata. Dengan informasi ini, berbagai pihak dapat lebih percaya diri dalam mengalokasikan sumber daya dan melibatkan diri dalam pengembangan, baik melalui investasi, kolaborasi, maupun promosi. Kajian dampak positif juga berfungsi sebagai alat untuk mengomunikasikan keberhasilan kepada publik, yang dapat meningkatkan reputasi desa wisata dan menarik lebih banyak pengunjung. Tanpa memahami dampak positifnya, sulit untuk mengetahui apakah pengembangan desa wisata benar-benar membawa perubahan yang konstruktif dan berkelanjutan bagi masyarakat dan 28 | Ari Mukti Berikut adalah kategori dampak positif yang dihasilkan dari pengembangan desa wisata di Indonesia. Tabel 4. Kategori dan Sub-Kategori Dampak Pengembangan Desa Wisata di Indonesia Kategori Sub Kategori Berkembangnya berbagai kegiatan usaha oleh masyarakat Terciptanya peluang ekonomi baru Peningkatan Ekonomi Terbukanya peluang kerja baru Lokal Pengurangan urbanisasi Meningkatkan daya saing ekonomi desa Mendukung kemandirian desa Peningkatan Meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui Kesejahteraan peningkatan pendapatan Masyarakat Meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa Meningkatkan kesadaran dan upaya pelestarian budaya Peningkatan Upaya serta tradisi lokal . arian, kerajinan, dan upacara ada. Pelestarian Budaya dan Meningkatkan upaya pelestarian situs sejarah Tradisi Lokal Meningkatkan upaya pelestarian kearifan lokal Mendukung pelestarian lingkungan melalui konservasi Peningkatan Upaya Pelestarian Meningkatan perhatian masyarakat terhadap kebersihan Lingkungan dan keberlanjutan lingkungan desa Memperkuat hubungan sosial antar warga Meningkatkan kerukunan antar umat beragama melalui Peningkatan Interaksi kolaborasi dalam kegiatan pariwisata Sosial Menciptakan interaksi antara warga desa dengan Sumber: hasil ekstraksi diolah peneliti Jumlah Artikel Temuan Dari tabel di atas, terdapat lima kategori dampak positif utama yang dihasilkan dari pengembangan desa wisata di Indonesia, yakni peningkatan ekonomi lokal, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pelestarian budaya dan tradisi lokal, pelestarian lingkungan, serta peningkatan interaksi sosial. Dampak-dampak tersebut dapat dijelaskan lebih rinci sebagai Dampak besar pada ekonomi lokal Pengembangan desa wisata memiliki kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Desa wisata membuka berbagai peluang usaha baru (Daniati et al. , 2. , seperti homestay, penyewaan alat wisata, restoran lokal, dan penjualan kerajinan tangan khas desa. Desa wisata juga menciptakan peluang kerja yang dapat mengurangi tingkat urbanisasi. Masyarakat yang sebelumnya hanya bergantung pada sektor pertanian atau merantau ke kota, kini memiliki kesempatan untuk bekerja di sektor pariwisata (Widiantana & Indrayani, 2. Dengan meningkatnya aktivitas ekonomi, daya saing ekonomi desa di tingkat regional dan nasional pun ikut meningkat (Ibrahim et al. , 2. Selain itu, desa wisata berperan dalam meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADe. , yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas publik dan program sosial yang lebih baik. Hubungan erat antara pariwisata dan kesejahteraan masyarakat Salah satu dampak positif yang menonjol adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Dengan adanya usaha ekonomi mandiri yang dibuka oleh masyarakat memungkinkan mereka untuk memperoleh pendapatan tambahan guna meningkatkan taraf hidup (Maryantina & Jurnal Pembangunan Nagari. Vol. No. Juni, 2025 | 29 Agustiani, 2. Di sisi lain, adanya pelatihan dan pemberdayaan masyarakat, seperti pelatihan pengelolaan wisata, keterampilan hospitality, dan pemasaran digital, juga turut berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat untuk bersaing dalam industri pariwisata (Nainggolan, 2024. Rizani & Sabila, 2. Pelestarian budaya, pelestarian lingkungan, dan interaksi sosial menjadi nilai tambah Pengembangan desa wisata yang tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga menciptakan keberlanjutan desa secara komprhensif. Desa wisata berperan sebagai wadah untuk melestarikan budaya lokal (Aftina et al. , 2. melalui kegiatan pariwisata berbasis tradisi, seperti seni tari, kerajinan tangan, upacara adat, dan pelestarian situs sejarah, yang mendorong kebanggaan masyarakat terhadap identitas budayanya. Pelestarian lingkungan juga menjadi bagian integral dari desa wisata (Rohmah & Ahwan, 2. , dengan mendorong masyarakat menjaga kebersihan, melestarikan ekosistem, dan melakukan konservasi seperti reboisasi serta pengelolaan limbah yang lebih baik, sehingga memberikan manfaat ekologis jangka panjang. Selain itu, desa wisata juga meningkatkan interaksi sosial dengan memperkuat hubungan antarwarga melalui kolaborasi yang memperkaya wawasan masyarakat dan menciptakan komunitas yang terbuka dan harmonis (Sari et al. , 2. Kontribusi dan Implikasi Studi Penelitian ini berhasil memetakan tiga aspek utama yang menjadi determinan pengembangan desa wisata, yakni faktor pendorong, tantangan, dan dampak, yang berbeda dari SLR terdahulu yang terbatas menyoroti aspek-aspek tertentu, seperti pemanfaatan teknologi informasi di desa wisata (Ananda & Dirgahayu, 2. , keberlanjutan pariwisata, pariwisata budaya, dan pariwisata halal (Hariani et al. , 2023. MuAoalim & Habibussalam, 2021. Parta & Maharani. Dengan demikian, hasil penelitian ini mengisi kesenjangan dalam literatur . esearch ga. yang telah diidentifikasi pada bagian pendahuluan. Hasil yang menyatakan bahwa potensi lokal, kolaborasi multipihak, dan dukungan infrastruktur menjadi faktor pendorong utama, serta bahwa kelemahan tata kelola dan promosi digital merupakan tantangan dominan, menegaskan perlunya pendekatan interdisipliner dan berbasis sistem. Hal ini mengandung makna bahwa pengembangan desa wisata tidak hanya soal peningkatan ekonomi dari penyajian wisata, tetapi juga berkaitan dengan dinamika sosial dan Oleh karena itu hasil penelitian ini sekaligus memperluas pemahaman teoretis terhadap konsep community-based tourism dan collaborative governance, di mana partisipasi masyarakat, dukungan kelembagaan, dan inovasi bukan lagi elemen tambahan, tetapi menjadi syarat keberhasilan (Ansell & Gash, 2008. Bianchi et al. , 2021. Giampiccoli & Saayman, 2018. Marzo-Navarro et al. , 2017. Prakoso et al. , 2020. Suganda, 2. Temuan ini juga menguatkan bahwa desa wisata dapat menjadi lokus penerapan pembangunan berbasis masyarakat . eoplecentered developmen. , yang berakar pada kekuatan masyarakat dan nilai-nilai lokal (Korten. Penelitian ini juga mengusulkan klasifikasi baru atas dampak pengembangan desa wisata yang belum banyak dikaji sebelumnya secara menyeluruh, yaitu dampak ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pelestarian budaya dan lingkungan, serta penguatan interaksi sosial. Dari sisi praktis, temuan ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah pusat, daerah, desa, pengelola BUMDes, swasta, dan pelaku wisata lainnya dalam merancang kebijakan dan program jangka panjang. Pengembangan desa wisata sejalan dengan Prioritas Nasional 6 30 | Ari Mukti RPJMN 2025Ae 029 yang mengarahkan upaya pembangunan dari desa dan dari bawah dalam rangka pertumbuhan ekonomi, pemerataan ekonomi, dan pemberantasan kemiskinan (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2025-2029, 2. Oleh karena itu hal ini perlu didukung dengan mekanisme monitoring dan evaluasi melalui indikator yang mencakup tingkat pelestarian nilai-nilai lokal, peningkatan kualitas hidup masyarakat, dan keberlanjutan Kesimpulan dan Rekomendasi Penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara potensi lokal, dukungan eksternal, dan partisipasi masyarakat sebagai elemen utama dalam pengembangan desa wisata berkelanjutan di Indonesia. Faktor-faktor seperti kekayaan alam, warisan budaya, inovasi, infrastruktur, dan kolaborasi multipihak menjadi fondasi utama yang mendukung perpaduan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan demi kesejahteraan masyarakat desa. Kontribusi penelitian ini terhadap ilmu administrasi publik terletak pada pemahaman tentang pentingnya praktik kemitraan dan kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, masyarakat lokal, dan sektor swasta, serta regulasi yang mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini juga berkontribusi terhadap pemahaman konsep pembangunan berbasis masyarakat . eople centered developmen. melalui praktik community-based tourism dan collaborative governance. Namun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan, karena sifatnya yang deskriptif tanpa mendalami keterkaitan antar faktor maupun dampak pengembangan desa wisata. Studi mendatang diharapkan dapat mengintegrasikan pendekatan kuantitatif atau eksperimental untuk mengevaluasi intervensi kebijakan yang lebih terukur, sehingga dapat memperkuat keberlanjutan dan daya saing desa wisata. Berdasarkan temuantemuan penelitian ini, penulis merekomendasikan kepada pengelola desa wisata dan segenap pihak yang terlibat dalam pengembangannya untuk : Memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, sektor swasta, dan perguruan tinggi melalui kebijakan yang mendukung pengembangan desa wisata. Pemerintah perlu berperan sebagai fasilitator utama yang menciptakan sinergi antar-pemangku kepentingan untuk memastikan keberlanjutan pembangunan desa wisata yang holistik dan berkelanjutan. Meningkatkan infrastruktur desa wisata, termasuk akses jalan, akomodasi, sanitasi, dan transportasi, menjadi prioritas untuk meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan Selain itu, pembangunan fasilitas pendukung seperti pusat informasi wisata dan layanan digital dapat meningkatkan daya saing desa wisata, memperkuat citra destinasi, dan memperluas jangkauan pasar. Mengoptimalkan promosi melalui media digital dengan strategi branding yang menonjolkan keunikan lokal desa. Penggunaan platform online dan media sosial dapat memperluas pasar serta menarik lebih banyak wisatawan, baik domestik maupun Menguatkan modal sosial masyarakat melalui program pelatihan keterampilan, pemberdayaan, dan peningkatan kapasitas dalam pengelolaan wisata. Langkah ini akan mendorong rasa kepemilikan dan tanggung jawab masyarakat terhadap pengelolaan desa wisata, serta memastikan keberlanjutan dan kualitas pengalaman wisatawan. Merancang strategi mitigasi risiko untuk mengatasi tantangan seperti pandemi atau bencana Diversifikasi ekonomi desa juga sangat diperlukan untuk mengurangi ketergantungan Jurnal Pembangunan Nagari. Vol. No. Juni, 2025 | 31 pada sektor pariwisata dan memperkuat ketahanan ekonomi desa dan menciptakan peluang baru bagi masyarakat lokal. Menetapkan regulasi yang melindungi tradisi lokal dan mencegah komodifikasi budaya Upaya konservasi lingkungan, seperti reboisasi, pengelolaan limbah, dan edukasi masyarakat, harus diintegrasikan dalam setiap rencana pengembangan desa wisata untuk menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kelestarian alam. Mengembangkan mekanisme monitoring dan evaluasi berbasis indikator keberlanjutan untuk menilai dampak pengembangan desa wisata secara berkala. Dengan demikian, proses pengembangan dapat tetap relevan dan responsif terhadap perubahan kebutuhan masyarakat dan selaras dengan tuntutan pasar pariwisata yang dinamis. Konflik Kepentingan Penulis menyatakan tidak memiliki konflik kepentingan dalam penelitian dan penulisan artikel Referensi