ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Desain Pusat Informasi Wisata sebagai Media untuk Mengimplementasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan melalui Arsitektur Hijau Tourist Information Center Design as a Medium for Implementing the Sustainable Development Goals through Green Architecture Dandy Veri Fernanda1. Aryani WidyakusumaA 1Prodi Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Borobudur AProdi Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Borobudur very19@gmail. Aaryaniwidyakusuma@borobudur. Abstract Tourist Information Centers are a crucial element of tourism infrastructure, serving as a medium for education, service, and orientation for visitors. In the context of sustainable development, the design of Tourist Information Centers is required not only to fulfill informative and representative functions but also to address environmental and sustainability issues. This article aims to examine the design of Tourist Information Centers as an implementable tool for achieving the Sustainable Development Goals (SDG. through a green architecture approach. The research method used is descriptive qualitative, incorporating literature studies, analysis of green architecture principles, and their application in the design concept of Tourist Information Centers. The analysis parameters include energy efficiency, climate response, natural resource utilization, and the quality of the built environment, all of which are linked to SDG targets, specifically SDG 7 (Affordable and Clean Energ. SDG 11 (Sustainable Cities and Human Settlement. , and SDG 13 (Addressing Climate Chang. The study results indicate that the implementation of green architecture strategies through passive design, optimization of natural lighting and ventilation, the use of environmentally friendly materials, and efficient water and energy management can improve the sustainability performance of buildings. Tourist Information Centers serve not only as tourism service facilities but also as educational resources that reflect a commitment to sustainable development. Therefore, green architecture can be a relevant and contextual approach to supporting the achievement of the SDGs through the design of public facilities in the tourism sector. Keywords: green architecture, tourist information centers, sustainable development. SDGs, sustainable design Abstrak Pusat Informasi Wisata merupakan salah satu elemen penting dalam infrastruktur pariwisata yang berperan sebagai media edukasi, pelayanan, dan orientasi bagi pengunjung. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, perancangan Pusat Informasi Wisata tidak hanya dituntut memenuhi fungsi informatif dan representatif, tetapi juga mampu merespons isu lingkungan dan keberlanjutan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji perancangan Pusat Informasi Wisata sebagai media implementatif dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. melalui pendekatan arsitektur hijau. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, analisis prinsip arsitektur hijau, serta penerapannya dalam konsep desain Pusat Informasi Wisata. Parameter analisis meliputi efisiensi energi, respon terhadap iklim, pemanfaatan sumber daya alam, dan kualitas lingkungan binaan, yang dikaitkan dengan target SDGs, khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangka. SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjuta. , dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Ikli. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan strategi arsitektur hijau melalui desain pasif, optimalisasi pencahayaan dan ventilasi alami, penggunaan material ramah lingkungan, serta pengelolaan air dan energi yang efisien mampu meningkatkan kinerja keberlanjutan bangunan. Pusat Informasi Wisata tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pelayanan pariwisata, tetapi juga sebagai sarana edukatif yang merepresentasikan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, arsitektur hijau dapat menjadi pendekatan yang relevan dan kontekstual dalam mendukung pencapaian SDGs melalui perancangan fasilitas publik di sektor pariwisata. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Kata kunci: arsitektur hijau, pusat informasi wisata, pembangunan berkelanjutan. SDGs, desain Pendahuluan Sektor bangunan merupakan salah satu penyumbang terbesar konsumsi energi dan emisi karbon secara Peningkatan aktivitas pembangunan, terutama pada fasilitas publik dan pariwisata, turut memperbesar tekanan terhadap lingkungan melalui penggunaan energi, eksploitasi sumber daya alam, serta produksi limbah yang signifikan. Di negara berkembang dan wilayah beriklim tropis seperti Indonesia, permasalahan tersebut menjadi semakin kompleks seiring dengan pertumbuhan urbanisasi, peningkatan mobilitas wisata, dan ketergantungan tinggi terhadap sistem pendingin buatan dalam bangunan. Pariwisata sebagai sektor strategis pembangunan memiliki peran ganda, yaitu sebagai penggerak ekonomi sekaligus sebagai sektor yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. Salah satu fasilitas penting dalam kawasan pariwisata adalah Pusat Informasi Wisata, yang berfungsi sebagai media orientasi, edukasi, dan pelayanan bagi wisatawan. Namun dalam praktiknya, banyak Pusat Informasi Wisata dirancang hanya berorientasi pada fungsi dan citra visual, tanpa mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan dan efisiensi energi secara menyeluruh. Seiring dengan komitmen global terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. , diperlukan pendekatan perancangan arsitektur yang mampu menjawab tantangan lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan fungsional dan sosial. Beberapa tujuan SDGs memiliki keterkaitan langsung dengan bidang arsitektur dan lingkungan binaan, khususnya SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau. SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, serta SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim. Dalam konteks ini, arsitektur tidak hanya dipandang sebagai produk fisik, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Arsitektur hijau hadir sebagai pendekatan perancangan yang menekankan efisiensi energi, pemanfaatan sumber daya alam secara bijak, penggunaan material ramah lingkungan, serta penciptaan kenyamanan termal secara pasif. Pendekatan ini relevan diterapkan pada bangunan publik seperti Pusat Informasi Wisata karena mampu mengurangi dampak lingkungan sekaligus memberikan nilai edukatif kepada masyarakat dan wisatawan terkait pentingnya keberlanjutan. Oleh karena itu, perancangan Pusat Informasi Wisata dengan pendekatan arsitektur hijau menjadi penting untuk dikaji sebagai media implementatif pencapaian SDGs. Bangunan tidak hanya berperan sebagai fasilitas pendukung pariwisata, tetapi juga sebagai representasi komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan yang kontekstual, adaptif terhadap iklim lokal, serta berorientasi pada masa depan lingkungan binaan yang Tinjauan Literatur Arsitektur Hijau (Green Architectur. Arsitektur hijau merupakan pendekatan perancangan yang bertujuan meminimalkan dampak negatif bangunan terhadap lingkungan melalui efisiensi energi, konservasi sumber daya alam, penggunaan material ramah lingkungan, serta peningkatan kualitas lingkungan dalam ruang (Kibert, 2. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara aspek ekologis, sosial, dan ekonomi dalam siklus hidup bangunan, mulai dari tahap perencanaan, konstruksi, hingga operasional. Menurut Vale dan Vale . , prinsip utama arsitektur hijau mencakup pengurangan konsumsi energi, optimalisasi desain pasif, serta integrasi bangunan dengan konteks iklim dan lingkungan sekitarnya. Dalam konteks bangunan publik, penerapan arsitektur hijau tidak hanya berdampak pada efisiensi energi, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan bagi pengguna bangunan. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Arsitektur Tanggap Iklim (Climate-Responsive Architectur. Arsitektur tanggap iklim merupakan bagian integral dari arsitektur hijau yang menjadikan kondisi iklim lokal sebagai dasar utama perancangan bangunan. Olgyay . menyatakan bahwa desain arsitektur harus merespons faktor iklim seperti radiasi matahari, suhu udara, arah angin, dan kelembapan guna mencapai kenyamanan termal secara pasif. Pada wilayah tropis, strategi arsitektur tanggap iklim meliputi perlindungan terhadap radiasi matahari berlebih, optimalisasi ventilasi silang, penggunaan atap dengan overhang lebar, serta penciptaan ruang transisi seperti teras dan selasar (Szokolay, 2. Strategi ini telah lama diterapkan dalam arsitektur vernakular Indonesia, seperti rumah panggung, rumah adat Minangkabau, dan rumah tradisional Jawa, yang terbukti adaptif terhadap iklim tropis lembap. Desain Pasif dan Efisiensi Energi Bangunan Desain pasif merupakan strategi perancangan yang memanfaatkan potensi alam untuk menciptakan kenyamanan termal dan visual tanpa ketergantungan tinggi pada sistem mekanikal. Givoni . menjelaskan bahwa desain pasif mencakup pengaturan orientasi bangunan, tata massa, ventilasi alami, pencahayaan alami, serta pemilihan material dengan karakteristik termal yang sesuai. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penerapan desain pasif dapat menurunkan konsumsi energi operasional bangunan secara signifikan, terutama pada bangunan publik di iklim tropis (Rakhshandehroo et , 2. Dengan demikian, desain pasif berkontribusi langsung terhadap pengurangan emisi karbon sektor Pusat Informasi Wisata sebagai Bangunan Publik Pusat Informasi Wisata merupakan fasilitas publik yang berfungsi sebagai media informasi, orientasi, dan edukasi bagi wisatawan. Menurut UNWTO . , fasilitas pariwisata yang berkelanjutan harus mampu memberikan pelayanan optimal sekaligus meminimalkan dampak lingkungan dan sosial. Sebagai bangunan publik. Pusat Informasi Wisata memiliki potensi besar untuk menerapkan prinsip arsitektur hijau karena intensitas penggunaan ruang bersama yang tinggi dan karakter bangunan yang bersifat representatif (Tombeg, 2. Desain bangunan ini dapat menjadi contoh nyata penerapan prinsip keberlanjutan melalui pengolahan ruang, sistem bangunan, serta penyampaian pesan edukatif tentang lingkungan kepada pengunjung. Keterkaitan Arsitektur dan Sustainable Development Goals (SDG. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. merupakan kerangka global yang menekankan keseimbangan antara pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam bidang arsitektur, beberapa tujuan SDGs memiliki keterkaitan langsung, antara lain SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangka. SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjuta. , dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Ikli. Menurut United Nations . , sektor bangunan memiliki peran strategis dalam menurunkan konsumsi energi dan emisi karbon melalui penerapan desain hemat energi dan bangunan berkelanjutan. Arsitektur hijau dan arsitektur tanggap iklim menjadi pendekatan implementatif yang mampu menerjemahkan target SDGs ke dalam bentuk fisik bangunan yang kontekstual dan terukur. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Sintesis Tinjauan Literatur Berdasarkan kajian literatur, dapat disimpulkan bahwa arsitektur hijau dan arsitektur tanggap iklim merupakan pendekatan yang relevan dan efektif dalam mendukung pencapaian SDGs, khususnya pada bangunan publik seperti Pusat Informasi Wisata. Integrasi desain pasif, pemanfaatan potensi iklim lokal, serta penggunaan material ramah lingkungan tidak hanya meningkatkan efisiensi energi, tetapi juga memperkuat peran bangunan sebagai media edukasi keberlanjutan bagi masyarakat dan wisatawan. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan utama: Bagaimana prinsip arsitektur hijau dan arsitektur tanggap iklim dapat diterapkan pada desain Pusat Informasi Wisata sebagai media implementatif pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. ? Pertanyaan utama tersebut kemudian dijabarkan ke dalam beberapa pertanyaan penelitian turunan, yaitu: Bagaimana strategi desain pasif . rientasi bangunan, ventilasi alami, pencahayaan alami, dan pemilihan materia. dapat meningkatkan efisiensi energi pada bangunan Pusat Informasi Wisata? Bagaimana keterkaitan antara arsitektur hijau dan SDG 7. SDG 11, serta SDG 13 dapat diwujudkan secara nyata melalui perancangan bangunan publik di sektor pariwisata? Bagaimana Pusat Informasi Wisata dapat berfungsi tidak hanya sebagai fasilitas pelayanan, tetapi juga sebagai sarana edukasi keberlanjutan bagi masyarakat dan wisatawan? Bagaimana integrasi nilai lokal, konteks iklim, dan prinsip keberlanjutan dapat memperkuat kualitas desain arsitektur yang adaptif, efisien, dan berkelanjutan? Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan pemahaman konseptual dan aplikatif mengenai peran arsitektur dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, sekaligus memberikan kontribusi terhadap pengembangan model desain Pusat Informasi Wisata yang hemat energi, kontekstual, dan selaras dengan target SDGs. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan merumuskan penerapan prinsip arsitektur hijau dan arsitektur tanggap iklim dalam desain Pusat Informasi Wisata sebagai media implementatif pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. Sedangkan tujuan khususnya adalah: Mengidentifikasi prinsip-prinsip arsitektur hijau dan arsitektur tanggap iklim yang relevan untuk diterapkan pada bangunan Pusat Informasi Wisata di wilayah beriklim tropis. Menganalisis strategi desain pasif, meliputi orientasi bangunan, tata massa, ventilasi alami, pencahayaan alami, dan pemilihan material, dalam upaya meningkatkan efisiensi energi bangunan. Mengkaji keterkaitan penerapan arsitektur hijau dengan pencapaian SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangka. SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjuta. , dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Ikli. Menilai peran Pusat Informasi Wisata sebagai bangunan publik yang tidak hanya berfungsi secara operasional, tetapi juga sebagai sarana edukasi keberlanjutan bagi masyarakat dan wisatawan. Merumuskan konsep desain Pusat Informasi Wisata yang kontekstual, adaptif terhadap iklim lokal, serta mendukung keberlanjutan lingkungan, sosial, dan ekonomi. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan tujuan memahami dan menganalisis penerapan prinsip arsitektur hijau dan arsitektur tanggap iklim dalam desain Pusat Informasi Wisata sebagai media implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada pemaknaan konsep, strategi desain, serta keterkaitannya dengan aspek keberlanjutan, bukan pada pengukuran kuantitatif semata. Data sekunder diperoleh melalui: Studi literatur dari buku teks, jurnal ilmiah, dan publikasi terkait arsitektur hijau, arsitektur tanggap iklim, desain pasif, serta SDGs. Standar dan pedoman desain bangunan hijau yang Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Data visual berupa gambar, diagram, dan dokumentasi arsitektural dari studi kasus bangunan yang menerapkan prinsip desain pasif dan arsitektur hijau, baik di tingkat internasional maupun lokal. Hasil dan Pembahasan Tourist Information Center (TIC) ini dirancang sebagai fasilitas publik yang mampu menghadirkan informasi, edukasi, dan juga pengalaman budaya bagi wisatawan yang memasuki kawasan strategis Sudirman. Jakarta. Kawasan ini dikenal sebagai pusat bisnis dan finansial Indonesia, sehingga dibutuhkan bangunan representatif yang bukan hanya fungsional, tetapi juga memiliki identitas budaya yang sangat kuat. Bangunan ini memadukan nilai tradisi Indonesia melalui simbol Garuda sebagai lambang kebangsaan, dengan ekspresi arsitektur kontemporer dan urban yang sesuai tentunya dengan karakter pada kawasan CBD tersebut. Narasi Konsep Perancangan Arsitektural Garuda Tourist Information Center dirancang dengan pendekatan UrbanAeRegionalism, yaitu pendekatan arsitektur yang menggabungkan ekspresi modern perkotaan dengan nilai-nilai regional dan budaya lokal. Pendekatan ini dipilih untuk menjawab konteks Jakarta sebagai kota metropolitan sekaligus pusat budaya nasional yang terus berkembang. Bangunan tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pelayanan wisata, tetapi juga sebagai representasi identitas nasional dan media edukasi budaya. Bentuk arsitektural bangunan diekspresikan melalui rancangan atap yang terinspirasi dari siluet sayap burung Garuda, simbol negara Indonesia. Bentuk ini dimaknai sebagai lambang perlindungan, kebanggaan, dan keterbukaan terhadap Material metal berwarna hitam dipadukan dengan aksen emas diaplikasikan pada elemen atap dan fasad untuk menegaskan karakter modern, formal, dan representatif, sekaligus mencerminkan citra Jakarta sebagai kota global. Interior bangunan dirancang dengan pendekatan yang lebih hangat dan humanis melalui penggunaan material kayu, warna-warna alami, serta pencahayaan yang lembut. Strategi ini bertujuan menciptakan suasana ruang yang nyaman, ramah, dan berbudaya, sehingga pengunjung tidak hanya memperoleh informasi wisata, tetapi juga pengalaman ruang yang berkesan. Dengan dimensi bangunan 20 y 10 meter, tata ruang dirancang secara efisien untuk mengakomodasi berbagai fungsi, yaitu pusat informasi wisata, galeri budaya Jakarta Betawi, kios suvenir, serta mezzanine yang difungsikan sebagai galeri interaktif Nusantara. Keberadaan mezzanine berperan penting sebagai ruang transisi vertikal yang memperkaya pengalaman spasial sekaligus menjadi media naratif untuk menampilkan keberagaman budaya Indonesia. Secara keseluruhan, desain Garuda Tourist Information Center merepresentasikan wajah Jakarta yang modern dan dinamis, namun tetap berakar pada nilai tradisi dan identitas budaya nasional. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Integrasi Arsitektur Hijau dan SDGs dalam Desain Desain Garuda Tourist Information Center juga mengintegrasikan prinsip arsitektur hijau dan arsitektur tanggap iklim sebagai bentuk implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. Strategi desain pasif diterapkan melalui pengolahan bukaan, ventilasi silang, pencahayaan alami, serta penggunaan material yang sesuai dengan iklim tropis. Pendekatan ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada sistem mekanikal dan menurunkan konsumsi energi operasional bangunan. Dalam kaitannya dengan SDG 7 (Affordable and Clean Energ. , desain bangunan memaksimalkan pencahayaan alami dan ventilasi udara untuk mengurangi kebutuhan energi listrik. SDG 11 (Sustainable Cities and Communitie. diwujudkan melalui perancangan bangunan publik yang kontekstual, inklusif, dan berfungsi sebagai ruang edukasi budaya bagi masyarakat dan wisatawan. Sementara itu. SDG 13 (Climate Actio. dicapai melalui pengurangan emisi karbon sektor bangunan dengan strategi desain pasif dan pemilihan material yang lebih ramah lingkungan. Dengan demikian. Garuda Tourist Information Center tidak hanya berperan sebagai fasilitas pariwisata, tetapi juga sebagai contoh nyata bagaimana arsitektur dapat berkontribusi secara langsung terhadap agenda pembangunan berkelanjutan. Design Statement Ringkas Garuda Tourist Information Center dirancang sebagai bangunan publik yang merepresentasikan identitas nasional Indonesia melalui pendekatan UrbanAeRegionalism. Inspirasi bentuk sayap burung Garuda menegaskan simbol kebanggaan dan keterbukaan, sementara material modern dipadukan dengan elemen interior bernuansa hangat dan berbudaya. Dengan fungsi sebagai pusat informasi, galeri budaya, dan ruang interaktif Nusantara, bangunan ini menjadi media edukasi wisata sekaligus contoh penerapan arsitektur hijau yang mendukung pencapaian SDGs di lingkungan perkotaan Jakarta. Gambar 1. Tapak yang Dipilih untuk Perancangan Tourist Information Center Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Konsep Tapak Garuda Tourist Information Center Pendekatan Kontekstual Tapak Konsep tapak Garuda Tourist Information Center dirancang dengan mempertimbangkan konteks perkotaan Jakarta sebagai lingkungan yang padat, dinamis, dan beriklim tropis. Tapak diposisikan sebagai ruang transisi antara kawasan kota dan aktivitas wisata, sehingga bangunan diharapkan mampu berfungsi sebagai titik orientasi . sekaligus ruang publik yang inklusif. Pendekatan UrbanAeRegionalism diterapkan dengan mengintegrasikan pola ruang perkotaan modern dan nilai lokal dalam penataan tapak. Gambar 2. Zonasi Sekitar Tapak yang Dipilih untuk Perancangan Tourist Information Center Orientasi Bangunan terhadap Iklim Bangunan diorientasikan untuk merespons kondisi iklim tropis Jakarta, khususnya intensitas radiasi matahari dan arah angin dominan. Orientasi massa bangunan diatur memanjang pada sumbu timurAebarat untuk meminimalkan paparan langsung sinar matahari pagi dan sore. Bukaan utama ditempatkan pada sisi utara dan selatan guna mengoptimalkan pencahayaan alami dan ventilasi silang. Strategi ini mendukung pencapaian kenyamanan termal secara pasif serta mengurangi beban energi bangunan. Tata Massa dan Zonasi Tapak Tata massa bangunan dirancang kompak namun terbuka, dengan pembagian zona yang jelas antara area publik, semi-publik, dan servis. Area publik ditempatkan pada bagian depan tapak sebagai zona penerima, meliputi plaza masuk, area drop-off, dan ruang transisi luarAedalam. Zona semi-publik berisi ruang informasi wisata, galeri budaya, dan kios suvenir, sedangkan area servis ditempatkan pada bagian belakang tapak untuk menjaga kualitas visual dan kenyamanan pengunjung. Ruang terbuka dirancang sebagai elemen penting dalam tapak, berfungsi sebagai area pertemuan, ruang tunggu luar, serta penyangga iklim mikro. Elemen lansekap seperti pepohonan peneduh dan permukaan berpori digunakan untuk mengurangi panas permukaan dan meningkatkan kualitas lingkungan tapak. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Sirkulasi dan Aksesibilitas Sirkulasi tapak dirancang sederhana dan mudah dipahami untuk berbagai pengguna, termasuk wisatawan lokal dan mancanegara. Akses utama pejalan kaki dipisahkan dari sirkulasi kendaraan guna meningkatkan keamanan dan kenyamanan. Jalur pejalan kaki dirancang teduh dengan elemen kanopi dan vegetasi, sementara akses servis memiliki jalur tersendiri agar tidak mengganggu aktivitas publik. Prinsip aksesibilitas universal diterapkan melalui penyediaan ramp, jalur landai, dan penataan ruang luar yang ramah bagi semua pengguna, termasuk penyandang disabilitas. Integrasi Ruang Terbuka dan Lanskap Lanskap tapak dirancang sebagai bagian dari strategi arsitektur hijau, dengan memaksimalkan ruang terbuka hijau dan vegetasi lokal. Pepohonan peneduh ditempatkan di area plaza dan sepanjang jalur pejalan kaki untuk mengurangi radiasi matahari langsung. Permukaan tapak menggunakan material berpori untuk meningkatkan resapan air hujan dan mengurangi limpasan permukaan. Ruang luar juga berfungsi sebagai ruang edukatif yang mendukung tema pariwisata dan budaya, misalnya melalui elemen informasi luar ruang atau instalasi seni bertema budaya Nusantara. Konsep Keberlanjutan Tapak dan Keterkaitan SDGs Konsep tapak Garuda Tourist Information Center mendukung pencapaian SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjuta. melalui penyediaan ruang publik yang inklusif dan kontekstual. SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangka. melalui optimalisasi desain pasif dan iklim mikro, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Ikli. melalui pengurangan panas lingkungan dan peningkatan kualitas ekologi tapak. Gambar 3. Konsep Ide Desain Gubahan Massa bangunan Tourist Information Center Ide Konsep Desain Konsep desain Garuda Urban Nexus diangkat sebagai filosofi utama perancangan Garuda Tourist Information Center, yang memaknai bangunan sebagai titik temu antara identitas nasional Indonesia dan dinamika kebutuhan urban modern. Konsep ini menempatkan arsitektur tidak hanya sebagai wadah aktivitas, tetapi juga sebagai medium representasi simbolik dan kultural di tengah konteks perkotaan Jakarta. Melalui pendekatan ini, bangunan diharapkan mampu menjadi landmark yang komunikatif sekaligus relevan terhadap perkembangan kota. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Gambar 4. Perspektif Eksterior Garuda Tourist Information Center Konsep Denah Garuda Tourist Information Center Denah Garuda Tourist Information Center dirancang sebagai representasi spasial dari filosofi Garuda Urban Nexus, yaitu pertemuan antara identitas nasional Indonesia dan dinamika kehidupan urban modern. Konsep ini diterjemahkan ke dalam penataan ruang yang jelas, terbuka, dan komunikatif, sehingga bangunan tidak hanya berfungsi secara efisien, tetapi juga menyampaikan makna simbolik dan kultural kepada Pola Denah dan Organisasi Ruang Pola denah dirancang linearAeterpusat, dengan ruang publik utama ditempatkan di area paling mudah diakses dari pintu masuk. Ruang ini berfungsi sebagai zona transisi antara ruang kota dan ruang dalam bangunan, sekaligus menjadi titik temu berbagai aktivitas. Penataan ini mencerminkan konsep nexus, di mana alur pergerakan pengunjung bertemu, berinteraksi, dan terdistribusi ke fungsi-fungsi lain di dalam bangunan. Gambar 5. Denah Bangunan Garuda Tourist Information Center Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Zona penerima meliputi area informasi wisata dan galeri budaya Jakarta Betawi yang dirancang terbuka secara visual untuk menarik perhatian pengunjung sejak awal memasuki bangunan. Keterbukaan ruang ini menegaskan peran bangunan sebagai ruang publik yang inklusif dan mudah diakses oleh berbagai lapisan Hirarki Ruang dan Narasi Budaya Denah bangunan disusun berdasarkan hirarki ruang yang membentuk alur naratif budaya. Lantai dasar menampilkan identitas lokal Jakarta melalui galeri Betawi, kios suvenir, dan interactive zone yang bersifat edukatif dan komunikatif. Penempatan fungsi-fungsi ini pada lantai dasar memperkuat keterkaitan bangunan dengan konteks lokal dan aktivitas urban sehari-hari. Sementara itu, mezanin dirancang sebagai ruang galeri interaktif Nusantara yang merepresentasikan identitas nasional secara lebih luas. Pergerakan vertikal dari lantai dasar menuju mezanin dimaknai sebagai perjalanan simbolik dari skala lokal menuju skala nasional, selaras dengan filosofi Garuda sebagai lambang pemersatu bangsa. Sirkulasi dan Keterbacaan Ruang Sirkulasi pengunjung dalam denah dirancang jelas dan intuitif, dengan jalur utama yang mengalir secara alami dari pintu masuk menuju ruang informasi, galeri, dan area komersial. Sirkulasi vertikal menuju mezanin ditempatkan pada posisi strategis dan mudah dikenali, sehingga mendukung keterbacaan ruang . dan kenyamanan pengunjung. Denah juga memperhatikan pemisahan yang jelas antara sirkulasi publik dan area servis, guna menjaga kelancaran operasional bangunan tanpa mengganggu aktivitas utama pengunjung. Integrasi dengan Konteks Urban Sebagai bagian dari kawasan perkotaan Jakarta, denah bangunan dirancang untuk berinteraksi secara aktif dengan ruang luar. Bukaan visual dan hubungan langsung antara ruang dalam dan ruang publik luar memungkinkan bangunan berfungsi sebagai perpanjangan ruang kota. Hal ini memperkuat peran Garuda Tourist Information Center sebagai landmark yang komunikatif dan mudah diakses dalam konteks urban Denah sebagai Medium Representasi Secara keseluruhan, denah Garuda Tourist Information Center tidak hanya berfungsi sebagai alat pengorganisasian ruang, tetapi juga sebagai medium representasi filosofi Garuda Urban Nexus. Melalui pengaturan hirarki ruang, sirkulasi, dan narasi budaya, denah ini mengintegrasikan fungsi, simbolisme, dan konteks perkotaan dalam satu kesatuan desain yang relevan, adaptif, dan berkarakter. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Ekspresi Bentuk Arsitektural Ekspresi bentuk arsitektural diwujudkan melalui rancangan atap yang terinspirasi dari bentangan sayap burung Garuda. Bentuk tersebut dimaknai sebagai simbol kekuatan, perlindungan, dan kebanggaan bangsa, sekaligus merepresentasikan keterbukaan Indonesia terhadap dunia. Secara visual, siluet atap yang dinamis memberikan identitas kuat pada bangunan, sehingga mudah dikenali dan berfungsi sebagai penanda kawasan . rban marke. dalam lingkungan perkotaan. Gambar 6. Tampak Bangunan Garuda Tourist Information Center Pemilihan material dan warna mengacu pada karakter AuEmas Ae Hitam Ae Kayu NaturalAy sebagai elemen pembentuk atmosfer ruang dan citra bangunan. Warna emas diaplikasikan sebagai aksen untuk merepresentasikan keagungan, nilai luhur, dan kekayaan budaya Indonesia. Warna hitam digunakan sebagai elemen dominan yang mencerminkan modernitas, ketegasan, dan karakter urban Jakarta. Sementara itu, penggunaan material kayu natural pada interior dan elemen ruang tertentu menghadirkan kesan hangat, ramah, dan berakar pada budaya tropis Indonesia, sekaligus menyeimbangkan kesan formal dan monumental bangunan. Gambar 7. Detail Struktur Rangka Atap Garuda Tourist Information Center Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Skema Warna Desain Skema warna desain Garuda Tourist Information Center menggunakan pendekatan Analogous Warm Earth Gold, yaitu komposisi warna-warna hangat yang saling berdekatan dalam spektrum warna, seperti coklat kayu, emas, dan krem, yang dipadukan dengan aksen hitam sebagai elemen penegas. Pendekatan ini dipilih untuk menciptakan kesan visual yang harmonis, elegan, dan berkarakter, sekaligus mendukung identitas bangunan sebagai representasi nasional dalam konteks perkotaan modern. Warna emas berperan sebagai aksen utama yang merepresentasikan keagungan, kebanggaan, dan nilai kebangsaan yang melekat pada simbol Garuda. Penggunaannya difokuskan pada elemen-elemen tertentu seperti detail fasad, signage, dan elemen interior representatif agar tetap memberikan kesan monumental tanpa bersifat berlebihan. Warna ini juga berfungsi sebagai visual focal point yang memperkuat citra bangunan sebagai landmark informasi wisata. Elemen coklat kayu dan krem diaplikasikan pada interior dan area publik untuk menciptakan suasana ruang yang hangat, ramah, dan berbudaya. Penggunaan warna-warna earth tone ini mendukung karakter tropis bangunan serta meningkatkan kenyamanan visual pengunjung. Material kayu tidak hanya berfungsi secara estetis, tetapi juga sebagai representasi kedekatan arsitektur Indonesia dengan alam dan tradisi lokal. Sementara itu, warna hitam digunakan sebagai elemen kontras yang merepresentasikan modernitas, ketegasan, dan karakter urban kawasan Sudirman. Aksen hitam diaplikasikan pada struktur, elemen fasad, dan detail interior tertentu untuk menyeimbangkan dominasi warna hangat serta memperkuat kesan kontemporer bangunan. Gambar 8. palet warna Analogous Warm Earth Gold dipilih untuk Garuda Tourist information Center Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Secara keseluruhan, palet warna Analogous Warm Earth Gold memungkinkan terciptanya identitas visual Garuda Tourist Information Center yang megah namun tetap kontekstual, menyatu dengan lingkungan urban Sudirman, serta mampu mengkomunikasikan nilai kebangsaan, budaya, dan modernitas dalam satu kesatuan desain yang harmonis. Konsep ruang dirancang secara naratif melalui pengolahan vertikal bangunan. Lantai dasar difungsikan sebagai ruang publik utama yang menampilkan galeri budaya Jakarta Betawi, pusat informasi wisata, dan area interaksi pengunjung. Ruang ini dirancang terbuka dan mudah diakses untuk menciptakan kesan inklusif dan komunikatif. Sementara itu, ruang mezanin dirancang sebagai galeri interaktif Nusantara yang mengangkat keberagaman budaya Indonesia secara lebih luas. Pergerakan vertikal dari lantai dasar ke mezanin dimaknai sebagai perjalanan naratif dari identitas lokal menuju identitas nasional. Gambar 9. Potongan Garuda Tourist information Center Galeri Mezzanine Galeri mezzanine dirancang sebagai ruang pamer budaya Nusantara yang bersifat ringkas, edukatif, dan Ruang ini menampilkan kekayaan budaya Indonesia melalui media visual, instalasi grafis, serta artefak ringan yang mudah dipahami oleh pengunjung dalam waktu kunjungan yang relatif singkat. Pendekatan ini selaras dengan fungsi bangunan sebagai Tourist Information Center, di mana informasi disajikan secara padat, komunikatif, dan menarik. Secara spasial, galeri mezzanine memanfaatkan ketinggian ruang di bawah dome untuk menciptakan suasana yang terbuka dan monumental. Kesan vertikal ruang memberikan pengalaman visual yang kuat, memungkinkan pengunjung melihat koleksi pameran dari berbagai sudut pandang sekaligus merasakan keterhubungan antara lantai dasar dan lantai atas. Transparansi visual ini juga memperkuat kontinuitas ruang dan memperkaya pengalaman berkunjung. Pengalaman pameran dirancang sebagai perjalanan singkat namun bermakna, dengan kurasi tema budaya Nusantara yang disusun secara naratif dan informatif. Setiap elemen pameran berfungsi sebagai pengantar bagi pengunjung untuk mengenal keragaman budaya Indonesia, sehingga galeri mezzanine tidak hanya berperan sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai media edukasi budaya yang melengkapi fungsi utama Tourist Information Center. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Dengan demikian, galeri mezzanine memperkuat peran Garuda Tourist Information Center sebagai bangunan publik yang mengintegrasikan fungsi informasi, edukasi, dan representasi budaya dalam satu kesatuan ruang yang komunikatif dan kontekstual. Dengan demikian, konsep Garuda Urban Nexus menghadirkan integrasi antara simbolisme budaya, fungsi publik, dan ekspresi arsitektur modern. Desain ini tidak hanya memenuhi kebutuhan operasional Pusat Informasi Wisata, tetapi juga membangun pengalaman ruang yang edukatif, representatif, dan berkelanjutan dalam konteks arsitektur perkotaan Indonesia. Zona Interaktif Zona interaktif dirancang sebagai ruang utama penyampaian informasi wisata yang mengintegrasikan teknologi digital dengan pengalaman ruang fisik. Area ini menghadirkan berbagai media informasi modern, seperti augmented reality (AR), virtual reality (VR), layar sentuh interaktif, peta digital, serta konten audiovisual, yang memungkinkan pengunjung memperoleh informasi secara cepat, intuitif, dan menarik. Melalui pemanfaatan teknologi tersebut, pengunjung dapat mengeksplorasi rute perjalanan, destinasi unggulan, agenda wisata, serta kekayaan budaya lokal secara mandiri dan fleksibel. Penyajian informasi berbasis digital memungkinkan konten diperbarui secara berkala, sehingga informasi yang disampaikan tetap relevan dengan perkembangan pariwisata dan kebutuhan pengunjung. Secara konseptual, zona interaktif berperan sebagai jembatan antara pendekatan informasi tradisional dan pengalaman wisata modern yang semakin maju. Integrasi teknologi dalam ruang ini tidak hanya meningkatkan efektivitas penyampaian informasi, tetapi juga memperkuat daya tarik bangunan sebagai pusat informasi wisata yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Dengan demikian, zona interaktif mendukung fungsi Garuda Tourist Information Center sebagai fasilitas publik yang edukatif, inovatif, dan responsif terhadap kebutuhan wisatawan di era digital. Respon Ekonomi Garuda Tourist Information Center dirancang tidak hanya sebagai fasilitas pelayanan wisata, tetapi juga sebagai katalisator penggerak ekonomi lokal. Keberadaan bangunan ini diharapkan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi kawasan melalui penyediaan ruang komersial berskala kecil yang terintegrasi dengan fungsi publik, seperti area kios suvenir dan refreshment corner. Fasilitas tersebut dirancang sebagai bagian dari alur kunjungan wisatawan, sehingga memiliki potensi tingkat visibilitas dan interaksi yang tinggi. Kios suvenir secara khusus dirancang untuk memprioritaskan produk lokal Jakarta serta produk unggulan UMKM Nusantara. Strategi ini bertujuan membuka peluang pendapatan bagi pelaku usaha kecil dan menengah, sekaligus memperkuat identitas budaya melalui produk kreatif berbasis lokal. Dengan menampilkan kerajinan, cendera mata, dan produk khas daerah, bangunan ini berfungsi sebagai etalase ekonomi kreatif yang mempertemukan wisatawan dengan pelaku usaha lokal. Selain itu, refreshment corner memberikan ruang bagi pelaku usaha kuliner lokal untuk memperkenalkan produk makanan dan minuman khas dengan konsep yang sederhana dan berkelanjutan. Integrasi fungsi ekonomi dalam bangunan publik ini mendorong terciptanya sirkulasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan prinsip pengembangan pariwisata yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Secara keseluruhan, respon ekonomi dalam desain Garuda Tourist Information Center mendukung pencapaian SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonom. serta SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjuta. dengan menciptakan ruang yang mampu menumbuhkan ekonomi lokal, memperkuat UMKM, dan meningkatkan nilai tambah kawasan wisata secara berkelanjutan. Respon Sosial Garuda Tourist Information Center dirancang sebagai ruang publik yang inklusif dan terbuka bagi berbagai lapisan masyarakat, termasuk wisatawan, pekerja perkantoran, serta warga sekitar kawasan. Bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pariwisata, tetapi juga sebagai ruang bersama yang mampu mendukung interaksi sosial dan aktivitas komunitas di tengah lingkungan perkotaan yang padat dan berorientasi bisnis. Gambar 10. Perspektif Interior Ruang dalam dan luar dari Garuda Tourist information Center Penyediaan ruang-ruang publik seperti Reading Terrace dan Interactive Zone dirancang untuk mendorong aktivitas sosial, edukatif, dan rekreatif secara bersamaan. Reading Terrace berfungsi sebagai ruang santai yang memungkinkan pengunjung mengakses informasi, membaca, atau beristirahat dalam suasana yang nyaman dan terbuka. Sementara itu. Interactive Zone dirancang sebagai ruang edukatif yang menghadirkan informasi wisata, budaya, dan sejarah secara interaktif, sehingga mampu meningkatkan keterlibatan pengunjung dari berbagai usia dan latar belakang. Keberadaan fasilitas toilet publik menjadi elemen penting dalam respon sosial bangunan, khususnya di kawasan bisnis yang minim fasilitas umum. Penyediaan layanan dasar ini meningkatkan kenyamanan dan aksesibilitas ruang kota bagi masyarakat luas, serta memperkuat peran bangunan sebagai bagian dari infrastruktur sosial perkotaan. Secara keseluruhan, respon sosial dalam desain Garuda Tourist Information Center mendukung terciptanya ruang publik yang aman, nyaman, dan inklusif, serta sejalan dengan pencapaian SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjuta. melalui penyediaan fasilitas publik yang mendukung kualitas hidup dan interaksi sosial di lingkungan perkotaan. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Respon Budaya Garuda Tourist Information Center dirancang sebagai medium representasi dan interpretasi identitas budaya Indonesia dalam konteks arsitektur kontemporer. Bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi wisata, tetapi juga sebagai ruang kultural yang memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia secara modern, komunikatif, dan relevan bagi masyarakat urban serta wisatawan domestik maupun mancanegara. Elemen budaya dalam perancangan diwujudkan melalui strategi pemilihan material, palet warna, serta pengolahan interior yang berakar pada kekayaan tradisi Nusantara. Penggunaan kayu tropis sebagai material utama pada elemen interior tidak hanya menghadirkan suasana hangat dan alami, tetapi juga merefleksikan karakter arsitektur Indonesia yang responsif terhadap iklim tropis dan berkelanjutan. Selain itu, motif batik Betawi diintegrasikan secara selektif sebagai elemen grafis dan aksen ruang, bukan sebagai ornamen dekoratif yang dominan, melainkan diterjemahkan ke dalam ekspresi desain kontemporer. Pendekatan ini memungkinkan nilai-nilai budaya lokal tetap hadir dan terbaca, sekaligus selaras dengan karakter bangunan modern yang bersih, efisien, dan kontekstual. Warna emas Garuda digunakan sebagai aksen simbolik yang merepresentasikan keagungan, nilai luhur, dan identitas nasional. Warna ini dipadukan dengan palet warna netral dan material modern untuk menciptakan keseimbangan antara ekspresi tradisi dan estetika urban. Selain itu, kurasi pameran budaya Nusantara dirancang secara naratif dan tematik, memungkinkan pengunjung mengenal keberagaman budaya Indonesia melalui media visual, instalasi interaktif, dan informasi edukatif. Melalui pendekatan ini. Garuda Tourist Information Center diposisikan sebagai ruang dialog yang mempertemukan nilai-nilai masa lalu dengan dinamika masa kini, serta menjembatani tradisi budaya dengan tuntutan modernitas. Bangunan tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi wisata, tetapi juga sebagai medium representatif yang menyampaikan narasi identitas Indonesia secara kontekstual dan kontemporer. Respon budaya yang dihadirkan dalam desain tercermin melalui pengolahan bentuk, material, warna, serta kurasi ruang pamer yang mengangkat kekayaan budaya lokal dalam bahasa arsitektur modern. Pendekatan ini berkontribusi pada upaya pelestarian identitas budaya sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan warisan tradisi, adaptif terhadap perubahan, dan terbuka terhadap perkembangan Upaya pelestarian identitas budaya dalam perancangan ini tidak hanya berfungsi sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan tradisi, tetapi juga sebagai strategi untuk memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa yang memiliki kekayaan budaya yang beragam, adaptif terhadap dinamika perubahan zaman, serta terbuka terhadap perkembangan global. Melalui pendekatan desain yang kontekstual dan kontemporer, nilai-nilai lokal ditransformasikan menjadi ekspresi arsitektural yang relevan dengan kebutuhan masa kini tanpa kehilangan esensi budayanya. Ekspresi arsitektural yang diterapkan dalam perancangan ini diarahkan untuk menjawab kebutuhan masa kini tanpa kehilangan esensi budaya yang menjadi landasannya. Melalui pengolahan bentuk, ruang, dan material yang kontekstual, arsitektur tidak hanya berfungsi sebagai wadah aktivitas modern, tetapi juga sebagai media representasi nilai-nilai tradisional yang relevan. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya bahasa desain yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus menjaga kesinambungan identitas budaya lokal, sehingga bangunan mampu berperan sebagai simbol keterhubungan antara tradisi dan modernitas dalam konteks lingkungan perkotaan kontemporer. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Ekspresi arsitektural tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan prinsip arsitektur hijau dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDG. Pendekatan desain yang kontekstual dan adaptif tidak hanya menjaga nilai budaya, tetapi sekaligus mengoptimalkan respon bangunan terhadap iklim dan lingkungan. Penerapan strategi pasif seperti pencahayaan alami, ventilasi silang, penggunaan material lokal berdaya serap panas rendah, serta pengurangan ketergantungan pada sistem mekanikal mendukung efisiensi energi dan berkontribusi terhadap pencapaian SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangka. Selain itu, integrasi identitas lokal dalam desain yang berkelanjutan memperkuat peran bangunan sebagai bagian dari lingkungan perkotaan yang inklusif dan berkarakter, sejalan dengan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjuta. Upaya pengurangan konsumsi energi dan pemilihan material ramah lingkungan juga berkontribusi pada penurunan emisi karbon sektor bangunan, yang mendukung SDG 13 (Penanganan Perubahan Ikli. Dengan demikian, arsitektur hijau tidak hanya menjadi pendekatan teknis, tetapi juga strategi holistik yang menghubungkan keberlanjutan lingkungan, nilai budaya, dan tanggung jawab global dalam satu kesatuan desain. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Tabel 1. Gambar Perspektif beserta Fungsi Ruang dalam Garuda Tourist Information Center Perspektif Ruang Nama Ruang Fungsi Ruang MEZZANINE GALLERY Galeri mezzanine menampilkan pameran budaya Nusantara dalam format visual dan artefak ringan. Dengan suasana terbuka yang memanfaatkan tinggi dome, area ini memberikan pengalaman melihat koleksi budaya secara ringkas namun bermakna, melengkapi fungsi TIC sebagai pusat informasi sekaligus ruang edukasi. INTERACTIVE ZONE Zona interaktif menghadirkan informasi wisata melalui AR/VR, layar sentuh, peta digital, dan konten audiovisual. Pengunjung dapat mengeksplorasi rute perjalanan, destinasi unggulan, dan budaya lokal melalui media digital yang sudah mudah diakses. Ruang ini menjadi jembatan antara informasi tradisional dan pengalaman modern yang semakin maju. OFFICE STAFF ROOM Ruang office staff berfungsi sebagai pusat administrasi dan pengelolaan operasional TIC. Di ruangan ini, staf mengatur data informasi wisata, menyimpan kebutuhan dokumen dan perlengkapan kerja. Interior dibuat sederhana dan efisien dengan meja kerja, rak arsip, serta perlengkapan dasar administrasi yang mendukung aktivitas harian bagi staff. SOUVENIR KIOSK Kios lantai dasar merupakan area penjualan utama yang dijaga staf untuk melayani transaksi. Produk yang ditawarkan berfokus pada cendera mata khas Jakarta. Sedangkan Area mezzanine berfungsi sebagai galeri display tanpa penjaga, menampilkan kurasi produk Nusantara seperti tenun, ukiran kayu, dan kerajinan daerah. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 RECEPTION AREA Area resepsionis menjadi titik pertama yang menyambut pengunjung. Meja informasi dirancang dengan bentuk melengkung yang mengikuti garis desain bangunan, memberikan kesan ramah dan modern. Staf memberikan panduan wisata, peta, dan rekomendasi destinasi, sehingga area ini berfungsi sebagai pusat orientasi utama bagi wisatawan yang baru datang. PUBLIC TOILET Toilet publik disediakan sebagai fasilitas dasar bagi pengunjung dengan desain compact dan efisien. Material keramik dan panel kayu memberikan kesan bersih dan nyaman, sejalan dengan karakter modern Pada gambar disamping merupakan visualisasi dari toilet pria dan juga toilet wanita, keduanya dipisah tidak berdekatan karena alasan privasi lebih. READING TERRACE Ruang ini menjadi area santai bagi pengunjung untuk membaca brosur wisata, melihat majalah, atau jika sekedar menikmati foto-foto budaya. Suasananya dibuat tenang dengan seating ringan dan material hangat, sehingga cocok sebagai tempat rehat sebelum atau sesudah mengeksplorasi informasi wisata lainnya. REFRESHMENT CORNER Zona refreshment/caffe ini menyediakan minuman ringan dan snack untuk pengunjung yang ingin beristirahat sejenak. Area ini ditempatkan di bawah salah satu struktur sayap agar tetap terpisah dari alur utama TIC, namun mudah diakses. Desainnya sederhana dan bersih, fokus pada pelayanan cepat tanpa mengganggu fungsi utama bangunan. Kesimpulan penerapan arsitektur hijau dan arsitektur tanggap iklim dalam perancangan Garuda Tourist Information Center menunjukkan bahwa bangunan publik dapat dirancang secara fungsional, representatif, dan berkelanjutan secara bersamaan. Pendekatan desain pasif yang memanfaatkan potensi iklim lokal seperti pencahayaan alami, ventilasi silang, pengolahan massa bangunan, serta pemilihan material ramah lingkungan terbukti mampu meningkatkan kenyamanan termal sekaligus menekan kebutuhan energi operasional. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Lebih dari aspek teknis, integrasi nilai budaya Nusantara dalam bahasa arsitektur kontemporer memperkuat identitas lokal dan menjadikan bangunan sebagai medium dialog antara tradisi dan modernitas. Strategi ini tidak hanya relevan terhadap konteks urban Jakarta, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap pencapaian SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangka. SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjuta. , dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Ikli. Dengan demikian. Garuda Tourist Information Center dapat dipahami sebagai contoh implementasi desain berkelanjutan yang holistik, di mana arsitektur berperan aktif dalam menjawab tantangan lingkungan global sekaligus memperkuat karakter dan citra budaya Indonesia. Daftar Rujukan . Irawati. PARIWISATA BERBASIS ARSITEKTUR HIJAU: KONSEP. IMPLEMENTASI. DAN DAMPAK. Azis. Galupamudia. , & Prayoga. PERANCANGAN GEDUNG MICE DENGAN KONSEP ARSITEKTUR HIJAU. DESA-DESIGN AND ARCHITECTURE JOURNAL, 5. , 59-71. Wira. Dewi. , & Giri. Strategi Perancangan Arsitektur dan Interior dalam Penataan Hutan Wisata Berbasis Potensi dan Budaya Lokal untuk Pariwisata Berkelanjutan di Desa Abang Baturiti. Waca Cipta Ruang, 11. , 99-111. Rangkuty. , & Nursyamsu. Pesisir yang berkelanjutan: green Architecture dengan budaya popular dalam exhibition dan convention center di Kota Batam. Journal of Architectural Design and Development (JAD), 5. , . Bahari. , & Zuhri. Penerapan Arsitektur Berkelanjutan pada Bangunan Komersial & Pariwisata sebagai Upaya Mewujudkan Kota Hijau. JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH), 8. , 59-68. Mutsanna. Perancangan Tourism Information Center di Kota Batu dengan pendekatan Arsitektur Keberlanjutan (Doctoral dissertation. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahi. Widyasih. PERANCANGAN WATERFRONT DANAU PERINTIS BONE BOLANGO SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU DAN PASAR KULINER DENGAN PENDEKATAN PARIWISATA BERKELANJUTAN (Doctoral dissertation. UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA). Rizka. Diartika. , & Indartin. Strategi Pengelolaan Destinasi Wisata Pantai Papuma Berbasis Arsitektur Ekologis untuk Mendukung Pariwisata Berkelanjutan. TOBA: Journal of Tourism. Hospitality, and Destination, 4. , 319-328. Sunarya. Utomo. , & Avenzoar. Landasan Konseptual Perancangan Desa Wisata Berkelanjutan Di Desa Penanggungan. Mojokerto. Jurnal Arsitektur TERRACOTTA, 5. , 30-42. Tombeg. Pangkey. Lagarense. , & Mozes. DESAIN PERENCANAAN PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA PANTAI CANADA KOTA BITUNG UNTUK PENINGKATAN KUALITAS INFRASTRUKTUR. LAYANAN PARIWISATA DAN DAYA TARIK KAWASAN BERBASIS KEBERLANJUTAN. Jurnal Ilmu Pariwisata, 4. Saputri. Perancangan Desain Waterfront Kawasan Rekreasi Tepi Pantai Di Cilacap Dengan Konsep Green Architecture Yang Tangguh Terhadap Tsunami (Doctoral dissertation. Universitas Pelita Bangs. Bunawardi. , & Uleng. Penerapan Arsitektur Hijau dalam Desain Indoor Waterpark di Kota Makassar. TIMPALAJA: Architecture Student Journals, 3. , 95-103. Mulia. , & Aritonang. PERENCANAAN RESORT HIJAU TANGKAHAN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU. Jurnal Ruang Luar dan Dalam, 6. , 58-65. Saputra. ARSITEKTUR EKOLOGIS SEBAGAI PENDEKATAN DESAIN FASILITAS WISATA. Jurnal Desain Lingkungan Binaan Indonesia, 1. , 29-35. Sagala. Sinambela. , & Fachrudin. Septembe. Kajian Geopark sebagai Sarana Edukasi dengan Pendekatan Arsitektur Hijau. In Talenta Conference Series: Energy and Engineering (EE) (Vol. No. 1, pp. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 . Kusumawanto. , & Astuti. Arsitektur hijau dalam inovasi kota. Ugm Press. Azkia. Klarisa. Wulandari. Silalahi. , & Ikhsan. Upaya Pengembangan dan Implementasi Pariwisata Berkelanjutan di Desa Wisata Serangan Bali. Arsitektura: Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, 23. , 281-294. Persada. , & Rusmiati. MENUJU ARSITEKTUR BERKELANJUTAN. Analogi. Perilaku dan Kearifan Lokal dalam Perancangan. GrahaILmu/Teknosain. Limbong. Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau dalam Desain Arsitektur Kota. Tugas Mahasiswa Program Studi Arsitek, 1. Husna. Rancangan Resort Berbasis Arsitektur Berkelanjutan sebagai Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tegal (Doctoral dissertation. Universitas Islam Indonesi. Sholikhah. Perancangan terminal wisata dengan pendekatan green architecture di kabupaten TulungagunG (Doctoral dissertation. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahi. Satrya. Nuraini. , & Putra. Penerapan Prinsip Sustainable Architecture Pada Desain Hotel Bintang 5 di Medan. JUITECH: Jurnal Ilmiah Fakultas Teknik Universitas Quality, 7. , 57-67. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026