Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 63-69 Analisa Kadar Antosianin pada Bunga Telang sebagai Antibakteri dengan Metode Maserasi Rusnia Junita Hakim*. Dina Adelina. Zakki Rosmi Mubarok. Radita Mellya Yolandari. Khana Aulia Romli Program Studi Teknik Kimia. Fakultas Teknik. Universitas Pamulang *E-mail: Dosen02727@unpam. Abstract Article history: Received: 28-01-2026 Accepted: 21-02-2026 Published: 01-04-2026 Keywords: butterfly pea flower. uv-vis spectrometry. Anthocyanins are natural flavonoid pigments widely recognized for their biological activities, including antibacterial properties. Butterfly pea (Clitoria ternatea L. ) flowers are known to contain significant levels of anthocyanins. however, the influence of extraction parameters on anthocyanin yield and their correlation with antibacterial activity remains limited. This study aimed to evaluate the effect of ethanol concentration . %, 80%, and 90%) and maceration time . , 16, and 24 hour. on total anthocyanin content of fresh butterfly pea flowers and to assess their antibacterial activity. Anthocyanin content was determined using the pH differential method with UVAeVis spectrophotometry at 510 nm and 700 nm. Extraction yield and physicochemical characteristics . H, viscosity, and densit. were also analyzed. The highest extraction yield . 64%) was obtained using 75% ethanol for 8 hours, while the highest anthocyanin content . 071 mg/100 . was achieved with 80% ethanol for 8 hours, corresponding to absorbance values of 1. H 1. H 4. These results indicate that solvent polarity significantly influences anthocyanin extraction efficiency. However, antibacterial testing against Staphylococcus sp. showed only limited inhibition zones under all treatment conditions, suggesting that the extract concentration did not reach the minimum inhibitory concentration (MIC). Overall, while extraction parameters significantly affected anthocyanin content, increased anthocyanin levels did not directly correspond to significant antibacterial activity. Pendahuluan Bunga telang (Clitoria ternatea L. merupakan tanaman herba leguminosa perenial yang dikenal baik sebagai tanaman hias maupun tumbuhan liar dengan kelopak berwarna biru hingga ungu yang khas. Tanaman ini dikenal secara internasional sebagai butterfly pea dan termasuk dalam famili Fabaceae. Secara etimologis, epitet spesifik AuternateaAy diduga merujuk pada Pulau Ternate di Indonesia, meskipun hingga saat ini asal geografis yang pasti dari C. ternatea masih belum dapat ditetapkan secara definitif. Bunga telang relatif mudah dibudidayakan karena memiliki toleransi yang baik terhadap kondisi kering, kemampuan fiksasi nitrogen, sifat self-pollination . enyerbukan sendir. , serta kemampuan berkembang biak melalui biji. Karakteristik tersebut menjadikan tanaman ini tersebar luas di wilayah tropis dan subtropis berkelanjutan. Selain itu, berbagai penelitian melaporkan bahwa bunga telang mengandung beragam senyawa bioaktif yang berpotensi untuk diaplikasikan dalam bidang kesehatan dan pangan fungsional. Warna biru intens pada bunga telang dihasilkan oleh senyawa antosianin, terutama ternatin, yang banyak dimanfaatkan sebagai pewarna alami dalam berbagai produk pangan dan minuman. Antosianin termasuk ke dalam kelompok flavonoid yang berperan sebagai senyawa bioaktif dengan aktivitas antioksidan tinggi serta bertanggung jawab terhadap pembentukan warna jingga, merah, hingga ungu pada berbagai jenis tumbuhan. , . Secara struktural, antosianin tersusun atas aglikon antosianidin yang terikat pada satu atau lebih molekul gula dan umumnya terakumulasi di dalam vakuola sel tanaman. Berbagai studi dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa antosianin dan senyawa fenolik lain yang terkandung dalam bunga telang memiliki aktivitas biologis yang beragam, antara lain sebagai antioksidan, antibakteri, antivirus, antiinflamasi, antialergi, antidiabetes, dan Aktivitas dikembangkan sebagai sumber bahan alami dalam bidang farmasi dan pangan fungsional. Metode ekstraksi merupakan tahapan penting dalam memperoleh senyawa bioaktif Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 63-69 dari bahan alam. Salah satu metode yang umum digunakan dalam ekstraksi bunga telang adalah maserasi, karena metode ini relatif sederhana dan sesuai untuk mengekstraksi senyawa yang bersifat termolabil, seperti antosianin. Proses maserasi dilakukan melalui perendaman bahan dalam pelarut dengan kondisi pemanasan bersuhu rendah atau tanpa pemanasan, sehingga dapat meminimalkan degradasi senyawa aktif yang dihasilkan. Secara ilmiah, kajian mengenai optimasi parameter ekstraksi memiliki peran penting dalam menentukan stabilitas dan kadar senyawa bioaktif yang terkandung dalam bahan alam. Pada bunga telang (Clitoria ternatea L. antosianin merupakan komponen utama yang berkontribusi terhadap aktivitas biologis, termasuk potensi antibakteri. Oleh karena itu, penentuan kadar total antosianin secara kuantitatif menjadi aspek esensial dalam mengevaluasi efektivitas proses ekstraksi serta dalam mengidentifikasi kondisi optimum yang mampu mempertahankan stabilitas struktur senyawa tersebut. Secara praktis, penelitian ini pengembangan agen antibakteri alami berbasis bahan nabati yang lebih aman dan Sejumlah penelitian telah melaporkan berbagai aktivitas biologis bunga telang. Namun, sebagian besar studi masih menitikberatkan pada identifikasi kualitatif senyawa atau pengujian aktivitas antioksidan tanpa mengkaji parameter ekstraksi dan kadar total antosianin yang dihasilkan. Kajian yang mengevaluasi secara sistematis pengaruh variasi konsentrasi pelarut dan waktu maserasi terhadap kadar total antosianin serta korelasinya terhadap aktivitas antibakteri masih relatif terbatas. Padahal, aktivitas biologis suatu ekstrak sangat dipengaruhi oleh konsentrasi senyawa aktif yang terkandung di dalamnya, sehingga pendekatan kuantitatif diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih representatif dan akurat. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar total antosianin ekstrak bunga telang yang diperoleh melalui metode maserasi dengan variasi konsentrasi etanol dan waktu perendaman, serta mengkaji hubungannya terhadap aktivitas Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi analisis kuantitatif kadar antosianin dengan evaluasi parameter ekstraksi memungkinkan identifikasi kondisi ekstraksi yang optimal dalam menghasilkan ekstrak dengan potensi biologis yang maksimal. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat pengembangan pemanfaatan bunga telang sebagai sumber antibakteri alami serta memperkaya kajian mengenai keterkaitan antara parameter proses dan kandungan senyawa bioaktif. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan desain eksperimental faktorial 3y3 dengan dua variabel bebas yaitu konsentrasi etanol . %, 80%, 90%) dan waktu maserasi . , 16, 24 ja. Variabel terikat adalah kadar total antosianin dan aktivitas antibakteri. Seluruh perlakuan dilakukan dalam dua kali pengulangan . Pembuatan Ekstrak Bunga telang segar sebanyak 60 g diblender halus kemudian di ektraksi menggunakan pelarut etanol sebanyak 300 mL yang sudah ditambahkan HCl 1%, penambahan HCl 1% ini bertujuan untuk menjaga kestabilan antosianin selama proses ekstraksi. Sampel dimasukan kedalam botol kaca gelap dan ditutup rapat serta terhindar dari cahaya matahari Proses perendaman dilakukan selama 8 jam, 16 jam dan 24 jam. Proses maserasi dilakukan pada suhu ruang (A27AC) tanpa pemanasan dan tanpa pengadukan kontinu. Setelah menggunakan kertas saring. Filtrat kemudian dipekatkan menggunakan distilasi pada suhu 60AC hingga diperoleh ekstrak kental. Setiap perlakuan dilakukan secara duplo. Pengujian Karakteristik Terdapat tiga pengujian karakteristik yaitu pH, densitas dan viskositas. Pengukuran pH larutan dilakukan menggunakan pH meter, densitas dilakukan menggunakan piknometer 50 mL dengan cara menimbang piknometer kosong untuk memperoleh massa awal Wo. Selanjutnya, piknometer diisi dengan larutan ekstrak hingga mencapai batas volume dan memperoleh massa total W. Massa larutan dihitung dari selisih antara massa piknometer berisi larutan dan massa piknometer kosong (W Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 63-69 Identifikasi Senyawa Identifikasi senyawa antosianin dilakukan secara kualitatif melalui uji fitokimia sederhana dengan penambahan asam dan basa. Uji asam dilakukan dengan menambahkan larutan HCl 2 M ke dalam ekstrak, kemudian dipanaskan, dimana tidak terjadinya perubahan warna merah menunjukkan keberadaan antosianin. Selanjutnya, uji basa dilakukan dengan menambahkan larutan NaOH 2 M secara bertahap ke dalam ekstrak, dan perubahan warna menjadi hijau kebiruan yang kemudian memudar secara perlahan mengindikasikan adanya senyawa antosianin. Penentuan Antosianin Total Penentuan kadar antosianin total dilakukan menggunakan metode perbedaan pH dengan buffer pH 1,0 dan pH 4,5. Pada pH 1,0, antosianin berada dalam bentuk kation oksinium yang berwarna, sedangkan pada pH 4,5 antosianin mengalami perubahan struktur menjadi bentuk karbinol yang tidak berwarna. Larutan buffer pH 1,0 disiapkan dengan melarutkan 0,465 g KCl ke dalam 250 mL akuades, kemudian ditambahkan HCl secara bertahap hingga mencapai pH 1,0. Sementara itu, buffer pH 4,5 dibuat dengan melarutkan 8,2 g natrium asetat ke dalam 250 mL akuades dan menambahkan HCl tetes demi tetes hingga pH 4,5. Sebanyak 1,0 mL ekstrak kental masingmasing dicampurkan ke dalam 10 mL buffer pH 1,0 dan 10 mL buffer pH 4,5, kemudian didiamkan selama A30 menit. Selanjutnya, absorbansi larutan diukur pada panjang gelombang 510 nm dan 700 nm menggunakan buffer pH 1,0 dan pH 4,5 sebagai blanko, dan nilai absorbansi yang diperoleh digunakan untuk menghitung kadar antosianin total. Uji Efektivitas Antibakteri Pengujian aktivitas antibakteri pada penelitian ini dilakukan menggunakan metode Setiap diinokulasikan ke dalam cawan petri, kemudian dituangkan media tryptic soy agar (TSA) menggunakan metode pour plate. Kertas cakram yang telah direndam dalam ekstrak selanjutnya ditempatkan pada permukaan media TSA yang telah mengandung bakteri dengan bantuan pinset steril, kemudian seluruh cawan diinkubasi selama 48 jam untuk mengamati terbentuknya zona hambat. Zona terbentuknya area bening di sekitar kertas cakram, yang selanjutnya diukur diameternya menggunakan jangka sorong. Terbentuknya kemampuan ekstrak dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian Setelah proses ekstraksi bunga telang selesai dilakukan, selanjutnya dilakukan perhitungan rendemen. Rendemen ekstrak ditentukan berdasarkan perbandingan antara bobot ekstrak yang diperoleh dan bobot simplisia awal, kemudian dikalikan dengan persamaan yang digunakan. Konsentrasi etanol 75% dengan waktu maserasi 8 jam menghasilkan rendemen ekstrak tertinggi sebesar 1,64%, seperti diperlihatkan pada Gambar 1. Rendemen Ae W. dan viskositas diukur menggunakan viskometer ostwald. Rendemen Ekstrak Rendemen duplo Gambar 1. Hasil rendemen ekstrak Hal ini menunjukkan bahwa pada kondisi tersebut terjadi keseimbangan optimal antara kemampuan pelarut dalam melarutkan senyawa target dan efisiensi pemindahan senyawa dari matriks sampel ke pelarut. Penelitian sebelumnya mengindikasikan kondisi ekstraksi yang menggunakan etanol 96% dengan perbandingan sampel 5:2,5 dan waktu maserasi 2 y 24 jam yang menghasilkan rendemen 1,11%, maka penggunaan etanol 75% dengan waktu maserasi yang lebih singkat menunjukkan peningkatan hasil ekstraksi. Penurunan polaritas pelarut akibat meningkatnya fraksi etanol dapat menurunkan kelarutan antosianin serta menghambat proses pelepasan senyawa dari sel. Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 63-69 Uji Karakteristik Setelah dilakukan penentuan rendemen ekstrak, selanjutnya dilakukan uji karakteristik yang meliputi uji pH, viskositas dan densitas. 1 Densitas dan Viskositas Pengujian viskositas dilakukan dengan menggunakan viskometer oswald dan densitas dengan menggunakan piknometer. Hasil pengujian disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil pengukuran densitas dan Konsentrasi Air 75% duplo 80% duplo 90% duplo 75% duplo 80% duplo Waktu (Ja. Viskositas (N/mA) 1,199 0,899 0,889 0,893 0,941 0,947 0,906 0,977 0,859 0,859 Densitas . /mL) 1,72 0,9845 0,9735 0,9775 0,9754 0,9537 0,9629 0,9774 0,9559 0,9593 Nilai viskositas tertinggi terdapat pada sampel 75% duplo dengan waktu 24 jam yaitu sebesar 0,977 N/m2. Nilai densitas tertinggi dipeoleh pada sample 75% duplo dengan waktu 24 jam, yaitu sebesar 0,9774 g/mL. Semakin besar jumlah zat terlarut yang terdispersi dalam pelarut, semakin besar pula massa per satuan volume larutan yang dihasilkan. Dengan demikian, tingginya nilai densitas menunjukkan bahwa ekstrak memiliki kandungan zat terlarut Berdasarkan hasil pengujian di atas, diketahui bahwa nilai densitas dan viskositas dipengaruhi oleh konsentrasi serta waktu maserasi. Viskositas dan densitas meningkat seiiring lamanya waktu perendaman, yang menunjukan adanya proses homogenisasi dan penguatatan molekul dalam larutan sehingga larutan semakin padat dan kental. 2 Pengujian pH Pengujian pH dilakukan untuk mengetahui tingkat keasaman ekstrak yang sangat berpengaruh terhadap stabilitas antosianin. Senyawa antosianin yang bersifat asam umumnya lebih stabil sehingga menyebabkan sehingga menyebabkan sebagian antosianin mengalami degradasi selama proses ekstraksi. Nilai Gambar 2. Hasil pengukuran pH Berdasarkan Gambar 2, nilai pH ekstrak berada pada kisaran 6,4 - 6,8 yang mendekati netral. Hal ini menunjukan bahwa pelarut dengan konsentrasi lebih tinggi mampu mengekstraksi senyawa yang berperan sebagai buffer, yang dapat berdasarkan dari variasi waktu maserasi menunjukan hasil yang sangat berpengaruh terhadap pH ekstrak. Semakin lama waktu maserasi, pH ekstrak meningkat, dari yang cenderung lebih asam pada 8 jam hingga mencapai pH tertinggi pada 24 jam. Hal ini menyebabkan meningkatnya jumlah zat terlarut dalam ekstrak, termasuk senyawa fenolik dan komponen noantosianin. Pada kondisi asam antosianin berada dalam bentuk kation flavilium yang lebih stabil dan berwarna intens, sedangkan pada pH mendekati netral antosianin dapat mengalami transformasi struktur menjadi bentuk hemiketal atau chalcone yang kurang 3 Uji Fitokimia Antosianin sekunder yang termasuk dalam golongan flavonoid dan dikenal sebagai pigmen alami yang sensitif terhadap perubahan pH. Identifikasi keberadaan antosianin dalam ekstrak bunga telang dilakukan secara kualitatif melalui uji fitokimia dengan metode perubahan warna menggunakan pereaksi asam dan basa. Pengujian dilakukan dengan menambahkan larutan HCl 2 M sebagai medium asam dan NaOH 2 M sebagai medium basa ke dalam sampel Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada kondisi asam terjadi perubahan warna menjadi merah yang stabil, sedangkan pada kondisi basa Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 63-69 terbentuk warna hijau kebiruan yang secara bertahap memudar. Perubahan warna tersebut mengindikasikan adanya transformasi struktur antosianin akibat perubahan pH, di mana pada suasana asam antosianin berada dalam bentuk kation flavilium yang berwarna intens dan relatif Sebaliknya, pada suasana basa terjadi perubahan struktur menjadi bentuk kuinonoidal atau chalcone yang kurang stabil sehingga warna menjadi pudar. Hasil ini mengonfirmasi secara kualitatif keberadaan senyawa antosianin dalam ekstrak bunga telang yang dianalisis. 4 Nilai Absorbansi Analisis kadar total antosianin dilakukan menggunakan metode pH differential dengan bantuan spektrofotometer UV-Vis untuk memperoleh spektrum serapan masing-masing Pengukuran ini bertujuan untuk mengidentifikasi panjang gelombang maksimum . serta menentukan nilai absorbansi yang digunakan dalam perhitungan kadar antosianin secara kuantitatif. Spektrum hasil pengukuran ditampilkan pada Gambar 3. Gambar 3 Pengukuran nilai absorbansi Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 510 nm sebagai puncak serapan maksimum antosianin dan 700 nm sebagai . atau gangguan absorbansi nonspesifik. Panjang gelombang 510 nm dipilih karena pada kondisi asam . H 1,. antosianin berada dalam bentuk kation flavilium yang memiliki intensitas warna maksimum dan stabilitas struktur yang tinggi. Sementara itu, pembacaan pada pH 4,5 digunakan untuk menghitung selisih absorbansi berdasarkan metode pH differential, yang merepresentasikan kadar antosianin aktual dalam sampel. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa sampel ekstrak etanol 80% . dengan waktu maserasi 8 jam memiliki nilai absorbansi tertinggi, yaitu sebesar 1,3425 pada pH 1,0 dan 1,3365 pada pH 4,5. Berdasarkan hukum LambertAeBeer, nilai absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi senyawa dalam larutan, sehingga peningkatan nilai absorbansi menunjukkan peningkatan kadar antosianin. Perhitungan differential menghasilkan kadar antosianin tertinggi sebesar 1,071 mg/100 g sampel pada perlakuan tersebut. Peningkatan konsentrasi etanol dari 75% menjadi 80% menunjukkan peningkatan kadar antosianin, sedangkan pada konsentrasi 90% terjadi penurunan. Hal ini mengindikasikan bahwa polaritas pelarut berperan signifikan antosianin, mengingat senyawa ini bersifat polar hingga semi-polar dan memerlukan komposisi pelarut air-etanol yang optimum. , . Campuran etanol berair dengan konsentrasi . Ae80%) meningkatkan difusi dan kelarutan antosianin secara lebih efektif dibandingkan etanol dengan konsentrasi tinggi yang cenderung menurunkan polaritas sistem. Selain itu, waktu maserasi yang terlalu lama berpotensi menyebabkan degradasi antosianin akibat oksidasi dan ketidakstabilan struktur flavilium terhadap faktor lingkungan seperti cahaya dan oksigen. , 5 Hasil Uji Antibakteri Uji aktivitas antibakteri dilakukan terhadap bakteri Staphylococcus sp. , yaitu bakteri aerob gram-positif yang umum ditemukan sebagai flora normal pada kulit manusia dan sering digunakan sebagai model pengujian aktivitas antimikroba. Hasil pengujian menunjukkan terbentuknya zona bening yang sangat terbatas di sekitar titik aplikasi ekstrak pada seluruh variasi konsentrasi yang diuji. Namun demikian, diameter zona hambat yang terbentuk tidak menunjukkan nilai yang signifikan atau terukur secara optimal. Tidak terbentuknya zona hambat yang jelas mengindikasikan bahwa senyawa aktif dalam ekstrak belum mampu berdifusi secara efektif ke dalam media agar, serta konsentrasi ekstrak yang digunakan kemungkinan belum concentration (MIC) yang diperlukan untuk Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 63-69 menghambat pertumbuhan bakteri secara nyata. Selain itu, senyawa bioaktif dalam ekstrak bunga telang, termasuk antosianin dan karakteristik molekul yang relatif besar dan bersifat polar, sehingga laju difusinya di dalam matriks agar menjadi terbatas dan kurang Kondisi ini dapat memengaruhi terbentuknya zona hambat meskipun senyawa tersebut secara biologis memiliki potensi Meskipun tidak diperoleh zona hambat yang signifikan, teramati adanya penurunan kepadatan koloni bakteri di sekitar area aplikasi Hal ini mengindikasikan adanya aktivitas antibakteri yang bersifat bakteriostatik, yaitu menghambat pertumbuhan bakteri tanpa menyebabkan kematian sel secara langsung. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa ekstrak etanol bunga telang pada konsentrasi 5% mampu menghasilkan diameter zona hambat sebesar 7,917 mm. , sedangkan studi lain menunjukkan daya hambat minimum sebesar 5,26 mm pada konsentrasi yang sama. Perbedaan hasil tersebut dapat dipengaruhi oleh variasi konsentrasi ekstrak, kondisi bahan baku, metode ekstraksi, serta perbedaan sensitivitas strain bakteri yang digunakan. Secara teoritis, peningkatan kadar antosianin seharusnya berkorelasi positif terhadap aktivitas antibakteri karena senyawa ini diketahui mampu merusak integritas membran sel bakteri melalui peningkatan permeabilitas membran, denaturasi protein, serta gangguan fungsi enzim intraseluler. Senyawa fenolik, termasuk antosianin, juga dilaporkan dapat menyebabkan kebocoran komponen seluler dan menghambat sintesis asam nukleat pada bakteri gram-positif. Namun dalam penelitian ini, meskipun kadar antosianin tertinggi diperoleh pada perlakuan etanol 80% dengan waktu maserasi 8 jam, aktivitas antibakteri yang dihasilkan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini memperkuat dugaan bahwa konsentrasi senyawa aktif yang diperoleh masih berada di bawah nilai MIC yang diperlukan untuk menghasilkan efek hambat yang nyata. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh variasi konsentrasi etanol dan waktu maserasi terhadap kadar total antosianin serta aktivitas antibakteri ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L. ), dapat disimpulkan bahwa parameter ekstraksi berpengaruh terhadap karakteristik dan kandungan senyawa bioaktif yang diperoleh. Rendemen tertinggi diperoleh pada penggunaan etanol 75% selama 8 jam sebesar 1,64%, sedangkan kadar total antosianin tertinggi diperoleh pada konsentrasi etanol 80% dengan waktu maserasi 8 jam sebesar 1,071 mg/100 g sampel. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi optimum ekstraksi antosianin tidak selalu sejalan dengan rendemen tertinggi, tetapi dipengaruhi oleh kesesuaian polaritas pelarut terhadap karakteristik senyawa target. Meskipun kadar antosianin meningkat pada kondisi tertentu, hasil uji aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus sp. menunjukkan zona hambat yang terbatas pada seluruh perlakuan. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan kadar antosianin belum secara langsung menghasilkan aktivitas antibakteri yang signifikan, kemungkinan karena konsentrasi ekstrak yang diperoleh belum mencapai nilai minimum inhibitory (MIC). Dengan mengevaluasi konsentrasi hambat minimum serta metode ekstraksi yang lebih efektif guna meningkatkan potensi antibakteri ekstrak bunga Daftar Pustaka