Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. PELATIHAN KADER POSYANDU BALITA DANDAN IBU HAMIL DALAM PELATIHAN KADER POSYANDU BALITA IBU HAMIL DALAM DETEKSI DINI STUTING YOGYAKARTA. raining for posyandu cadres on early detection of stunting in yogyakart. Received: 02 Desember 2025 Revised: 10 Desember 2025 Accepted: 24 Desember 2025 Riski Wulandari1. Deni Lusiana2. Christina Ririn Widianti3 1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Rapih Yogyakarta *e-mail: riskiwulandari@stikespantirapih. id1 , denilusiana@stikespantirapih. ririn_widianti@stikespantirapih. Abstract Abstract Stunting attention because has aa permanent permanent impact impact on on child Stuntingisisaa problem problem that that requires requires serious serious attention because it it has yet many many do do not not yet Posyandu Posyanducadres the forefront forefront of of community community health health services, services, yet Therefore. Therefore, this this community community service service activity activity aims the early early detection detection of of stunting. cadres in in stunting stunting detection detection through through training. The Themethods methods used skills of of cadres Toddler Pregnant Women Posyandu Baciro Village. The education and simple demonstration for Toddler and Pregnant Women Posyandu cadres in Baciro Village. PHBS (Clean Healthy Living Behavio. The training materials included the concept of PHBS (Clean and Healthy Living Behavio. in preventing early detection for pregnant women, and for toddlers. early for for adolescents, early detection for pregnant early detection Additionally, and and Additionally, the training involved demonstrations uch as anthropometric measurements as wellasaswell for afor for for data interpretation, as demonstrating a balanced (MP-ASI) infants/toddlers. The and complementary foods (MP-ASI) for infants/toddlers. The results showed a significant increase in the of knowledge in identifying stunting risks in toddlers as proven by the level of knowledge in identifying risks and in toddlers as proven pre-test post-test This increase in the pre-test and post-test scores. This activity is important for strengthening the role of cadres in promotive efforts against stunting. Keywords: Early Detection of Stunting. Posyandu Cadres. Training. Keywords: Early Detection of Stunting. Posyandu Cadres. Training. Abstrak Stunting merupakan masalah yang perlu penanganan serius karena berdampak pada tumbuh kembang anak secara permanen. Kader Posyandu merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat, namun banyak yang belum memiliki kemampuan secara optimal dalam deteksi dini stunting. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam deteksi stunting melalui pelatihan. Metode yang digunakan adalah edukasi dan demonstrasi sederhana kepada kader Posyandu Balita dan Ibu Hamil di Kelurahan Baciro. Materi pelatihan meliputi konsep PHBS dalam mencegah stunting, deteksi dini remaja, deteksi dini ibu hamil dan deteksi dini balita. Selain itu dalam pelatihan dilakukan demonstrasi seperti pengukuran antropometri dan interpretasi data, serta mendemonstrasikan resep menu gizi seimbang ibu hamil dan MP-ASI. Hasilnya, terjadi peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan kader dalam mengidentifikasi risiko stunting pada balita dan ibu hamil, dibuktikan dengan kenaikan nilai pre-test dan post-test. Kegiatan ini penting untuk memperkuat peran kader dalam upaya promotif dan preventif stunting. Kata kunci: . Deteksi Dini Stunting. Kader Posyandu. Pelatihan PENDAHULUAN Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan yang menyebabkan tinggi badan anak tidak sesuai dengan usianya dan menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Prevalensi stunting secara global pada tahun 2016 sekitar 22,9% atau 154,8 juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami stunting dengan tinggi badan anak rendah sesuai usianya (WHO. Selain itu persentase balita stunting tercapai 11,6% dari target 24,1% atau persentase pencapaian kinerja sebesar 207,76% (Kementerian Kesehatan RI, 2. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan. Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2AP2KB) Pemkot Yogyakarta, tahun 2021 angka stunting di Yogyakarta mencapai P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Riski Wulandari. Deni Lusiana. Christina Ririn Widianti ISSN: 1978-1520 433 . ,88 %) (Riyadi, 2. Menurut (Sandjojo, 2017. WHO, 2. beberapa faktor penyebab terjadinya stunting antara lain status sosial ekonomi, asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, kekurangan zat gizi mikro, serta masih terbatasnya pelayanan kesehatan dan pengetahuan ibu terhadap kesehatan dan gizi sebelum dan selama kehamilan. Masalah kehamilan seperti anemia pada ibu hamil juga berkontribusi terhadap kejadian stunting. Berdasarkan Riskesdas, prevalensi anemia pada ibu hamil mengalami peningkatan yaitu 1% di tahun 2013 menjadi 48. 9% di tahun 2018. Sehingga perlu upaya yang dilakukan yaitu melalui peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil . ntenatal car. menjadi 6 kali seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2021 tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil. Masa Hamil. Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan. Pelayanan Kontrasepsi, dan Pelayanan Kesehatan Seksual (PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2021, 2. Sehingga diperlukan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil melalui kegiatan yang lebih menyentuh masyarakat, salah satunya melalui kader posyandu. Kegiatan posyandu balita maupun ibu hamil merupakan bentuk pelayanan kesehatan masyarakat yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Kader posyandu memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran kegiatan posyandu dan berfungsi sebagai penggerak utama dalam upaya deteksi dini serta pencegahan stunting. Akan tetapi, hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak kader yang belum memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam melaksanakan tugasnya, termasuk dalam melakukan skrining deteksi dini stunting. Perbandingan antara jumlah posyandu dengan kader aktif masih belum seimbang, motivasi kader cenderung menurun, dan angka drop out kader cukup tinggi (Tri Astuti & Ratnawati, 2. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas kader melalui pelatihan yang terstruktur dan terarah. Kelurahan Baciro. Kecamatan Gondokusuman, merupakan salah satu wilayah yang menjadi fokus kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kelurahan Baciro memiliki 21 RW, dan setiap RW memiliki kader balita maupun kader ibu hamil. Masing-masing wilayah memiliki satu hingga dua kader, satu karena kader biasanya merangkap peran jadi kader ibu hamil dan balita . ttps://bacirokel. id/page/visi-mis. , sehingga jumlah kader aktif yang terlibat secara rutin masih terbatas. Berdasarkan hasil wawancara, sebagian kader mengelola kegiatan posyandu secara mandiri dengan bimbingan petugas puskesmas, namun masih terdapat kendala berupa kurangnya pelatihan kader baru, keterbatasan pemahaman mengenai stunting, serta minimnya inisiatif kader dalam melakukan tindakan pencegahan secara mandiri. Hasil kegiatan sebelumnya yang dilakukan oleh tim pengabdian menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mendeteksi dini stunting pada ibu hamil dan balita, dengan hasil peningkatan dari kriteria cukup menjadi baik sebesar 66,7%. Namun pemerataan pelatihan masih belum merata di seluruh wilayah RW di Baciro. Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan lanjutan berupa pelatihan yang menyeluruh agar setiap kader memiliki kompetensi yang sama dalam pelaksanaan kegiatan posyandu dan deteksi dini stunting. Pelatihan kader ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar tentang informasi stunting, tugas dan fungsi kader dalam pelaksanaan posyandu, serta memberikan keterampilan dalam penggunaan alat ukur seperti LiLA, pengukuran panjang dan tinggi badan balita, serta pembuatan media edukasi gizi. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan kader dalam mendeteksi dini stunting, memantau pertumbuhan balita dan ibu hamil, serta menerapkan hasil pelatihan dalam kegiatan posyandu di wilayah masing-masing. Dengan demikian, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan mampu memperkuat peran kader posyandu sebagai ujung tombak dalam upaya pencegahan stunting di Kelurahan Baciro. Yogyakarta. METODE Kegiatan dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang dilakukan, diantaranya : . melakukan studi pendahuluan dan observasi, . mengurus izin pelaksanaan di kelurahan Baciro, . Melakukan penyusunan modul pelatihan, . Pelatihan kader disertai pendampingan dalam pelaksanaan, . evaluasi hasil dan pembuatan laporan akhir. Pelatihan dilaksanakan di Balai P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. Kelurahan Baciro dengan peserta sebanyak 23 kader Posyandu dari 21 RW. Materi pelatihan mencakup konsep Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), deteksi dini stunting pada ibu hamil dan balita, serta demonstrasi pembuatan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Proses yang terjadi dari tahapan-tahapan diatas sebagai berikut: Tahap studi pendahuluan dan observasi . Tim PkM melakukan studi pendahuluan dan observasi terkait permasalahan yang terjadi di Kelurahan Baciro. Pada tahap ini tim PkM bertemu dengan Kader Posyandu balita dan ibu hamil di Kelurahan Baciro untuk berdiskusi tentang kondisi dan fenomena kader di daerah yang dikelolanya . Mendata jumlah kader, pelatihan yang pernah diikuti, pengetahuan dan ketrampilan yang sudah dikuasai terkait pelaksanaan posyandu balita dan ibu hamil di Kelurahan Baciro . Selanjutnya tim PkM menyusun proposal secara lengkap yang terdiri dari latar belakang, tujuan dan manfaat, rancangan kegiatan, jadwal kegiatan, luaran, serta pembiayaan Ijin pelaksanaan Mengurus perijinan pelaksanaan PkM ke Kesbangpol Kota Yogyakarta, dengan nomor surat kesbangpol Kota Yogyakarta dengan nomor surat pengantar : 000. 9/679 di tembuskan ke Mantri Pamong Praja Kemantren Gondokusuman dengan Lokasi Kelurahan Baciro, dengan demikian kegiatan yang dilaksanakan tim PkM bersama dengan Mitra PkM dapat berjalan sesuai dengan peraturan yang ada dan beraspek legal. Penyusunan modul pelatihan . Mempelajari referensi untuk membuat modul pelatihan Kader Posyandu Balita dan Ibu Hamil . Menyusun modul pelatihan . Mencetak Modul Pelatihan . Pendistribusian modul Pelatihan Kader Pelatihan kader dilaksanakan pada satu sesi dengan materi yang diberikan: Penyuluhan kader terkait konsep PHBS dalam pencegahan stunting . Penyuluhan kader terkait deteksi dini remaja, ibu hamil dan balita untuk pencegahan . Mengajarkan dan meredemonstrasi pengukuran LiLA, panjang badan, dan tinggi badan untuk cegah stunting. Mengajarkan dan meredemostrasikan resep menu gizi seimbang ibu hamil dan MP-ASI Pendampingan dalam pelaksanaan Kegiatan pelatihan sebelum sesi penyampaian materi dilakukan pre test terkait pengetahuan deteksi dini stunting pada remaja, ibu hamil dan balita. Kader juga telah dilakukan post test setelah penyampaian materi Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test pengetahuan deteksi dini stunting pada remaja, ibu hamil dan balita untuk menilai peningkatan pengetahuan kader setelah pelatihan. Instrumen yang digunakan selama kegiatan berlangsung berupa LiLA, alat peraga dari buku KIA, dan Booklet. HASIL DAN PEMBAHASAN Kelurahan Baciro merupakan salah satu dari lima Kelurahan yang ada di Kecamatan Gondokusuman. Kelurahan Baciro memiliki luas wilayah lebih kurang 1,03 km persegi dan terbagi dalam 21 RW, 87 RT serta terdiri atas enam kampung yaitu Kampung Mangkukusuman. Danukusuman. Pengok Kidul. Baciro. Baciro Sanggrahan dan Gendeng. Jumlah penduduk Kelurahan Baciro berdasarkan data Monografi semester I tahun 2018 adalah sebanyak 12. 301 jiwa, terdiri dari 5. 889 jiwa Laki-laki dan 6. 412 jiwa Perempuan. Sedangkan jumlah KK adalah 4. KK. Mengenai kondisi sosial ekonomi warga Kelurahan Baciro masih ada yang perlu mendapatkan P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Riski Wulandari. Deni Lusiana. Christina Ririn Widianti ISSN: 1978-1520 perhatian karena tergolong Keluarga Miskin (Gakin/Keluarga Menuju Sejahtera (KMS)) . ttps://bacirokel. id/page/index/gambaran-umum, 2. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada Sabtu, 06 Juli 2024. Dengan total kader yang mengikuti kegiatan pelatihan kader posyandu berjumlah 23 orang yang berasal dari 20 RW beserta ketua PKK dan Pak Lurah. Peserta diberikan materi pelatihan dalam satu sesi pertemuan dan dilakukan evaluasi pengetahuan dengan kuesioner pre dan post test. Tabel 1. Data Demografi Peserta Pelatihan Usia Pekerjaan Peran Data Jumlah Dewasa awal 26-35 tahun Dewasa akhir 36-45 tahun Lansia awal 46-55 tahun Lansia akhir 56-65 tahun Manula >65 tahun Ibu Rumah Tangga Swasta PNS Kader balita Kader Ibu Hamil Kader Balita dan Ibu Hamil TOTAL Persentase (%) Berdasarkan Tabel 1. Data Demografi Peserta Pelatihan, mayoritas responden berusia lansia awal 46-55 tahun berjumlah sembilan orang . %). Mayoritas pekerjaan dari ibu-ibu kader bekerja sebagai ibu rumah tangga sebesar 18 orang . %). Mayoritas peran kader merupakan Kader Balita sebesar 15 orang . %) meski tidak memungkiri ada yang memiliki peran ganda sebagai kader ibu hamil maupun balita sebanyak tiga orang . %). Kader kesehatan merupakan suka relawan kesehatan yang berasal dari swadaya Hal tersebut memungkinkan banyaknya lansia awal yang berperan atau terlibat sebagai kader. Kondisi tersebut juga didukung data sebagian besar kader posyandu memiliki peran sebagai ibu rumah tangga yang semakin memungkinkan lansia awal terlibat menjadi kader(Wulandari & Lusiana, 2. Penanganan dan pencegahan stunting sangat memerlukan peran kerjasama antara orang tua anak, masyarakat dan pemerintah. Peran kader posyandu juga sangat penting dalam keberhasilan program yang akan dilaksanakan untuk upaya penanganan dan pencegahan stunting (Monikasari et al. , 2. P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. Gambar 1. Sesi Pemaparan Materi Gambar 2. Dokumentasi beserta peserta PkM Tabel 2. Hasil tingkat pengetahuan kader posyandu ibu hamil dan balita Kriteria Nilai Pre-test Persentase (%) Post-test Persentase (%) Baik Cukup Kurang Total P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Riski Wulandari. Deni Lusiana. Christina Ririn Widianti ISSN: 1978-1520 Berdasarkan Tabel 2. Hasil tingkat pengetahuan kader posyandu ibu hamil dan balita, diperoleh hasil pada pre-test mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan cukup sebesar sembilan orang . %) sedangkan pada saat post test sebagian besar meningkat menjadi tingkat pengetahuan baik sebesar 12 orang . %). Pengetahuan merupakan domain yang penting untuk terbentuknya perilaku hidup Peran kader sangat penting dalam setiap program posyandu. Kader yang tidak aktif dapat menyebabkan terhambat pelaksanaan posyandu yang mengakibatkan status gizi bayi dan balita tidak terpenuhi. Pengetahuan kader tentang pencegahan stunting akan mempengaruhi kinerja kader dalam program pencegahan stunting, oleh karena itu para kader kesehatan perlu mendapatkan penguatan pengetahuan serta pendampingan (Setianingsih. et al. , 2. Hasil penelitian Hartono et al. , . tentang edukasi gizi yang diberikan kader untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang pencegahan stunting diperoleh hasil pre dan post test terhadap pengukuran tingkat pengetahuan kader adalah nilai pre test 13,4 dan 16,9 pada post test. Hasil tersebut terjadi kenaikan tingkat pengetahuan kader sebesar 26% setelah dilakukan edukasi gizi berbasis media. Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat yang sejalan juga menyebutkan terjadi peningkatan pengetahuan setelah diberikan edukasi (Lusiana et al. , 2. Hasilnya menyebutkan bahwa pengetahuan responden berdasarkan hasil pre test dan post test yaitu sekitar 57,1% kader mendapatkan kriteria nilai cukup . -74%). Sedangkan hasil pos-test terdapat 14 . 7%) kader mendapatkan kriteria nilai baik (>75%). Kegiatan tersebut mendukung bahwa dengan pemberian update materi maupun pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan kader sehingga diharapkan dapat meningkatkan pelayanan KESIMPULAN DAN SARAN Pelatihan kader Posyandu di Kelurahan Baciro berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mendeteksi dini stunting pada ibu hamil dan balita. Porgram ini juga memperkuat peran kader sebagai penggerak utama dalam pencegahan stunting di tingkat masyarakat. Disarankan kegiatan yang serupa dapat dilaksanakan secara berkesinambungan dengan dukungan Puskesmas Gondokusuman I dan pemerintah kelurahan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kalurahan Baciro. Ketua PKK. Puskesmas Gondokusuman I, seluruh kader posyandu yang telah berpartisipasi secara aktif dalam mendukung kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA