Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 at-Tarbiyah al-Mustamirrah: Jurnal Pendidikan Islam Pengelola: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Penerbit: Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar Website: https://ejournal. id/ojs/index. php/at-tarbiyah Email: at-tarbiyah@uinmybatusangkar. P-ISSN: 2775-7099 E-ISSN: 2775-7498 Dari Minangkabau ke Jakarta: Transformasi Pemikiran Pendidikan Islam Buya Hamka Muhamad Yahya UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Sumatera Barat. Indonesia myahyaalazami@gmail. Shitra Giofika UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Sumatera Barat. Indonesia giofikashitra@gmail. Rahmat Fradhitiya UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Sumatera Barat. Indonesia fradhitiyarahmat@gmail. *)Corresponding Author Received: 23-12-2025 Revised: 25-12-2025 Approved: 29-12-2025 Abstrak Perjalanan intelektual Buya Hamka dari akar tradisional Minangkabau ke pusat modernitas Jakarta membentuk transformasi signifikan dalam pemikirannya tentang pendidikan Islam. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran yang menyeluruh dan analitis tentang proses transformasi pemikiran pendidikan Islam Buya Hamka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka . ibrary researc. dengan teknik analisis analisis isi yang deskriptif-analitis dan historis. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pemikiran awal Hamka di Minangkabau sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai adat AiAdat Basandi Syarao. SyaraAobasandi KitabullahAn, sistem pendidikan surau dan ayahnya yaitu Haji Rasul yang menekankan pembentukan akhlak dan karakter. Setelah bermukim di Jakarta, interaksinya dengan pemikiran modernis, nasionalis, dan tantangan urban telah menggeser konsep dasar pemikirannya ke arah pendidikan yang membebaskan, mengintegrasikan ilmu aqli dan naqli, serta mengembangkan konsep pendidikan karakter untuk masyarakan Indonesia yang Tranformasi ini menunjukkan sintetis pemikiran yang berhasil menciptakan model pendidikan Islam yang bersifat kontekstual, integratif dan aplikatif antara tradisi dan modernitas, yang terlihat dalam karya-karya monumentalnya seperti Tafsir AlAzhar dan tulisan-tulisannya yang lain. Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Kata Kunci: Buya Hamka. Pemikiran Pendidikan Islam. Transformasi. Minangkabau. Jakarta Abstract Buya Hamka's intellectual journey from his traditional Minangkabau roots to the modern center of Jakarta shaped a significant transformation in his thinking on Islamic The purpose of this study is to provide a comprehensive and analytical overview of the transformation process of Buya Hamka's Islamic educational thinking. This study uses qualitative methods through library research with descriptive-analytical and historical content analysis techniques. The results reveal that Hamka's early thinking in Minangkabau was strongly influenced by the traditional values of "adat basandi syaraa', syara'basandi kitabullah", the surau education system and his father. Haji Rasul, who emphasized the formation of morals and character. After settling in Jakarta, his interaction with modernist, nationalist thought and urban challenges shifted his basic concept of thinking towards liberating education, integrating aqli and naqli knowledge, and developing the concept of character education for a civilized Indonesian society. This transformation shows a synthesis of thought that has succeeded in creating a contextual, integrative and applicable model of Islamic education between tradition and modernity, which is seen in his monumental works such as the Tafsir AlAzhar and his other writings. Keywords: Buya Hamka. Islamic Educational Thought. Transformation. Minangkabau. Jakarta PENDAHULUAN Abad ke-20 menandai periode transformatif dalam dunia pemikiran Islam global, di mana tokoh-tokoh pembaharu seperti Muhammad Abduh dan Jamaluddin alAfghani merencanakan pembauran antara modernitas dan tradisi keislaman. Gelombang pembaruan atau tajdid ini tidak hanya berhenti di Timur Tengah, tetapi terhubung hingga ke Nusantara yang menantang struktur pendidikan Islam tradisional yang telah stabil (Auanasova dkk. , 2. Dalam konteks inilah pemikiran-pemikiran besar lahir, berusaha menjawab tantangan kolonialisme, kemunduran umat, dan netralitas ilmu pengetahuan (Falaqi dkk. , 2. Di Indonesia, terdapat perbedaan yang kompleks antara pesantren, model pendidikan Islam tradisional, dan model pendidikan Barat modern yang dibawa oleh kolonial Belanda. Saat itu dunia Islam Indonesia dihadapan pada pilihan yag sulit. Mereka harus memilih untuk mengikuti tradisi yang dianggap murni tapi berisiko tertinggal atau mengikuti model Barat yang sekuler namun menjanjikan kemajuan. Para intelektual Muslim Indonesia kemudian berusaha menjembatani perbedaan ini dengan mencari cara untuk menggabungkan kekuatan dari kedua tradisi tersebut. Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Pada tahun 1908. Haji Abdul Malik Amrullah, juga dikenal sebagai Buya Hamka, lahir dan dibesarkan dalam lingkungan budaya dan agama Minangkabau yang Minangkabau memiliki sistem matrilineal dan tradisi merantau yang kuat serta menjadi pusat pendidikan Islam seperti Sumatera Thawalib dan semua itu menjadi Ailaboratorium pemikiraAn pertama bagi Hamka. Sejak kecil, figur ayahnya yaitu Dr. Abdul Karim Amrullah, yang memimpin gerakan pembaharuan Islam muda dan digambarkan sebagai Haji Rasul, menanamkan dasar-dasar pemikiran rasional dan anti taklid buta . Konsep awal pendidkanya yang menekankan kebeasan berpikir dibentuk oleh pengaruh ini. Nilai utama dalam budaya Minangkabau adalah bahwa transformasi pemikiran Hamka bergantung pada pengelaman hidupnya di perantauan. Perjalanan intelektualnya ke Jawa pada tahun 1920-an dan penetapannya di Jakarta membuka pesona barunya (Nofiardi, 2. Berada di pusat pergerakan nasional ini. Hamka berinteraksi dengan para nasionalis. Islam modernis, dan intelektual dari berbagai ideologi. Wacana kebangsaan, sisialisme, dan jurnalisme kontemporer juga memengaruhinya. Disebabkan oleh pergeseran geografis dari pusat budaya tradisional ( Minangkaba. ke pusat politik dan intelektual nasional (Jakart. , pergeseran ini berkontribusi pada pendewasaan dan transformasi konsep pendidikannya. Sebagai ulama, sastrawan, jurnalis, dan budayawan yang berbeda. Hamka memiliki alat dan pandangan yang lengkap untuk membangun gagasan pendidikan (Helim, 2. Aktivitas jurnalistik dan kepengarangannya membuatnya mampu menyampaikan ide-ide kepada rumit khalayak luas, sementara karya sastranya menjadi alat dakwah dan pendidikan. Posisi kompleks ini membuat pemikiran pendidikannya tidak hanya bersifat teoritis tapi juga demokratis dan praktis. Studi-studi sebelumnya telah banyak mengupas kontribusi Hamka. Studi-studi seperti (Ferdinal dkk. , 2. dan (Nasution dkk. , 2. fokus pada dimensi sastra dan nilai-nilai moral dalam karya Hamka, seperti AiTenggelamnya Kapal Van de WijckAn dan AiDi Bawah Lindungan KaAobahAn. Sementara itu kajian (Merican, 2. dan (Hidayat. Jamarudin dkk. , 2. fokus pada dimensi tasawuf dan keteladanan spritual Hamka dalam karya-karyanya, seperti Tasawuf modern. Dalam bidang pendidikan, (Langaji dkk. , 2. dan (Khairudin Aljunied, 2. telah mencoba membandingkan konsep pendidikan Islam Hamka secara keseluruhan. Mereka menemukan nilai-nilai utamanya, seperti pentingnya moralitas, integrasi ilmu, dan pembentukan karakter Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 (Salim dkk. , 2. Namun penelitian ini kurang mempelajariproses dinamis yang mendasari pemikiran Hamka dan lebih cenderung menempatkannya sebagai entitas yang sudah jadi dan statistik. Disinilah perbedaan yang berada didalam penelitian ini muncul. Penelitian sebelumnya biasanya menganggap pemikiran Hamka sebagai produk akhir, tanpa mempelajari proses tranformasi yang dialaminya. Studi sering terjadi perbedaan antara AiHamka sang anak MinangkabauAn dan Ai Hamka sang intelektual Jakarta. An Oleh karena itu, pemahamannya tentang evolusi, kontekstualisasi, dan bahkan kemungkinan perubahan dalam konsep pendidikannya menjadi semakin berkurang. Berdasarkan celah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan berikut: Bagaimana pemikiran pendidikan Islam Buya Hamka berubah dari fase awalnya di Minangkabau hingga fase dewasanya di Jakarta, dan apa saja faktor penting yang mendorong perubahan tersebut? Secara khusus, tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran yang menyeluruh dan analitis tentang proses transformasi pemikiran pendidikan Islam Buya Hamka. Tujuan pertama dari penelitian ini yaitu untuk membangun kembali dasar filosofis dan pemikiran sosial budaya Hamka tentang pendidikan pada periode Minangkabau. Pembangunan ini dilakukan untuk mendapatkan pemahaman tentang bagaimana konsep dasar awal pendidikannya dibentuk oleh dialektika antara nilai-nilai adat Minangkabau, pengelaman belajar di surau dan pengaruh jaringan intelektual ulama Minangkabau. Sangat penting untuk memahami secara menyeluruh fase formatif ini karena berfungsi sebagai dasar atau titik tolak untuk mengukur seberapa bsar transformasi yang terjadi dalam pemikirannya dikemudian hari. Tujuan penelitian yang kedua adalah untuk melihat bagaimana pemikiran pendidikan Buya Hamka berubah, berkembang dan diaktualisasikan setelah menetap di Jakarta. Fokus analisis ini adalah untuk menemukan titik-titik perbedaan dan perpaduan dalam pemikiran Hamka sebelumnya, dengan tekanan bagaimana dia menanggapi tantangan modernitas, pluralitas masyarakat urban dan wacana kebangsaan. Salah satu aspek penting yang dia pelajari termasuk perubahan dalam pemikirannya tentang konsep-konsep penting, seperti pergeseran dari pendidikan akhlak yang berbasis komunitas tradisional menuju gagasan tentang pendidikan karakter untuk madani Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Indonesia,dan penggabungan masyarakat ilmu agama dan umum kedalam kurikulum yang lebih kontekstual dan dinamis. Selanjutnya, tujuan yang terakhir yaitu untuk menemukan dan menggabungkan faktor-faktor internal dan eksternal yang berperan sebagai katalisator utama transformasi tersebut. Faktor internal termasuk kemajuan spritual dan intelektual Hamka yang tercermindi dalam karya-karya besarnya seperti Tafsir Al-Azhar, dan pengelaman organisasinya di Muhammadiyah yang memberikan wawasan strategi yang lebih luas (Syarif H, 2. Dengan memenuhi tujuan ketiga ini, penelitian ini diharapkan tidak hanya memberikan catatan sejarah yang lengkap, tetapi juga memberikan dasar teoritis untuk memahami bagaimana pemikiran pendidikan berubah, tetap dilepaskan pada tradisi responsif terhadap perkembangan zaman. Penelitian ini diharapkan akan memberikan kontribusi yang signifikan. Pertama, memberikan pemahaman yang lebih kontekstual dan dinamis tentang pemikiran pendidikan Hamka. Kedua, menawarkan model interpretasi Aigeografis-intelektualAn terhadap perkembangan pemikiran seorang tokoh. Ketiga, memberikan kontribusi sejarah bagi para penggiat pendidikan Islam modern untuk membangun model pendidikan yang tetap berakar pada tradisi namun responsif terhadap perubahan zaman. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. Penelitian ini menelusuri dan menganalisis transformasi pemikiran Buya Hamka, yang dibentuk oleh dua lingkungan sosial budaya yang dapat terlihat dimana akar tradisionalnya di Minangkabau dan perkembangan sosialnya di Jakarta. Sumber data asli penelitian ini meliputi karya-karya monumental Hamka yang langsung membahas pendidikan di samping pidato, artikel, dan catatan pribadinya yang relevan. Sementara data olahan penelitian brasal dari biografi, jurnal akademis, buku, dan disertasi yang mengkaji pemikiran Hamka, sejarah pendidikan Islam Indonesia, serta konteks sosial budaya Minangkabau dan Jakarta pada masanya. Metode pengumpulan data mengguakan literatur yang dikumpulkan, diteliti secara kritis dan dicatat untuk menemukan aspek penting dari pemikirannya. Metode penelitian dimulai dengan menganalisis sumber primer dan sekunder untuk melihat bagaimana pemikiran Buya Hamka berkembang di Minangkabau. Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Sumber primer terdiri dari karya Hamka yang berhubungan langsung dengan pendidikan, seperti artikel dalam Pedoman Masyarakat dan beberapa bagian dari Tafsir Al-Azhar yang relevan. Sumber sekunder terdiri dari biografi dan studi akademis tentang konteks sosial-budaya Minangkabau awal abad ke-20. Fokus analisis tahap ini adalah untuk memahami bagaimana konsep dasar pendidikan Hamka dibentuk oleh sistem pendidikan surau dan nilai-nilai adat "Adat Basandi Syara'. Syara' Basandi Kitabulah", khususnya dalam hal tujuan pendidikan, pembentukan karakter, dan hubungan guru-murid. Selain itu, penelitian ini menyelidiki sumber-sumber yang sama yang berkaitan dengan masa Jakarta. Penelitian ini melakukannya dengan membatasi perbedaan tematik pada perkembangan konsep-konsep utama dan dengan penempatan secara kronologis dalam dua fase utama (Minangkabau: 1908Aeakhir 1920-an. Jakarta: 1930-an seterusny. Dengan demikian, perkembangan pemikirannya dapat dilacak melalui dialektika antara pengaruh tradisional Minangkabau dan infrastruktur dengan konsep modernis, wacana kebangsaan, dan tantangan kota Jakarta. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis isi . ontent analysi. dengan pendekatan deskriptif-analitis dan historis. Sebagai dasar kajian pustaka, penelitian ini tidak hanya mengacu pada satu sumber utama . uku tertent. , melainkan juga melakukan pencarian dan kajian terhadap berbagai artikel ilmiah serta karya tulis akademik lain yang relevan dengan tema pemikiran pendidikan Islam Buya Hamka. Terlebih dahulu data yang dikumpulkan dari sumber data asli dan data olahan dikurangi dan dikelompokkan berdasarkan topik utama, seperti rekonstruksi akhlak, integrasi ilmu dan peran pendidikan dalam masyarakat. Selalnjutnya data disajikan secara sistematis untuk memikirkan pemikiran Hamka pada periode Minangkabau dan Jakarta. Interpretasi data ini dilakukan dengan menghubungkan perubahan pikiran Hamka dengan perkembangan konteks sosial, sejarah, dan intelektual Indonesia. Dengan demikian, sebuah model transformasi pemikiran pendidikan Islam Buya Hamka dapat dirumuskan untuk dikaji dalam konteks pendidikan modern. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Pemikiran Pendidikan Islam Hamka Periode Minangkabau Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal sebagai Hamka, lahir 16 Februari 1908 di Ranah Minangkabau, desa Kampung Molek. Nagari Sungai Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Batang, di tepian danau Maninjau. Luhak Agam. Sumatera Barat. Nama kecilnya adalah Abdul Malik, sedangkan Karim berasal dari nama ayahnya. Haji Abdul Karim dan Amrullah adalah nama dari kakeknya. Syeikh Muhammad Amrullah. Hamka seorang ulama multi dimensi, hal itu tercermin dari gelar-gelar kehormatan yang disandangnya. Dia bergelar Datuk Indomo yang dalam tradisi Minangkabau berarti pejabat pemelihara adat istiadat. Dalam pepatah Minang, ketentuan adat yang harus tetap bertahan dikatakan dengan sebaris tidak boleh hilang, setitik tidak boleh Gelar ini merupakan gelar pusaka turun temurun pada adat Minangkabau yang didapatnya dari kakek dari garis keturunan ibunya. Engku Datuk Rajo Endah Nan Tuo. Penghulu suku Tanjung. Pemikiran pendidikan Islam Buya Hamka pada masa Minangkabau terkait erat dengan budaya dan keluarganya. Hamka muda mendapatkan pengaruh terbesar dan paling langsung dari ayahnya yaitu Haji Rasul. Setelah menunaikan ibadah haji beliau mengganti namanya dengan Abdul Karim lalu melekat pada namanya gear Tuanku. Beliau adalah pelopor gerakan pembaharuan Islam atau lebih dikenal dengan tajdid di Minangkabau. Haji Rasul adalah putra seorang ulama berpengaruh di Nagari Sungai Batang yang kemudian lebih dikenal sebagai wilayah Nagari Danau bernama Syeikh Muhammad Amrullah. Beliau adalah ulama yang gigih menentang taqlid dan mendukung ajaran Islam. Haji Rasul mendapatkan semangat pembaruan Islam ini melalui pengajaran dan pengamatan langsung darinya. Haji Rasul tidak hanya mengajarkan ilmu Islam tradisional, tapi juga mendorong keberanian untuk mengatakan kebenaran (Syefriyeni & Nasrudin, 2. Dalam pendidikannya yang akan datang, kewibawaan gurudan kedalamanilmu agama menjadi landasan yang tak tergoyahkan, dan sosok ayah yang tegas, disiplin dan intelektual menjadi teladan utama. Kerangka berpikir Hamka dibentuk oleh sistem sosial budaya Minangkabau selain pengaruh langsung keluarga. Sistem matrilineal dan tradisi merantau adalah dua komponen utama yang paling menonjol. Dinamika sosial yang unik diciptakan oleh sistem matrilineal, dimana pihak ibu menurunkan harta pusaka dan garis Dalam sistem ini laki-laki diminta untuk lebih mandiri dan berusaha mencari informasi dan rezeki diluar komunitas nya, meskipun mereka tidak bertanggungjawab sebagai kepala keluarga inti. Ini adalah faktor yan mendorong Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 budaya merantau. Hamka belajar tentang pentingnya memperluas wawasan, beradaptasi dan kemandirian dari tradisi merantau. Setelah meninggalkankampung halaman untuk mendapatkan pendidikan, pengelaman hidupnya mengajarkannya bahwa pendidikan terjadi dalam interaksi dengan realitas sosial yang kompleks dan tidak hanya di ruang kelas. Pemikirannya tentang pendidikan menjadi dinamis dan kontekstual karena konteks ini. Selain itu, bagi Hamka pendidikan surau dan pesantren menjadi cara utama untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Surau dulunya merupakan pusat pembelajaran yang menawarkan pendidikan agama, pelatihan akhlak dan bahkan latihan bela diri sebelum munculnya sistem sekolah modern. Hamka tidak hanya belajar di surau yang dimiliki ayahnya, tapi dia juga mengembara dari satu surau ke surau lainnya untuk berguru kepada ulama-ulama terkenal. Dia memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang pendekatan pendidikan tradisional, seperti hafalan, sistem halaqah . ingkaran belaja. dan hubungan yang dekat antara guru dan murid . spek tarbaw. Meskipun Hamka kemudian banyak mengkritik sistem tradisional ini, seperti melemahkan materi pengetahuan umum dan nilai-nilai keteladanan guru, pemikiran pendidikan Hamka tetap sangat penting. Konsep pendidikan Hamka sangat menekankan pembentukan akhlak dan karakter sebagai pilar utama selama tahap awal perkembangannya di Minangkabau. Hamka percaya bahwa ilmu tanpa moralitas adalah sia-sia dan bahkan berbahaya. Penekanan pada akhlak ini adalah hasil dari pengaruh ajaran Islam yang dia pelajari dan nilai-nilai luhur adat Minangkabau. Hamka melihat bahwa adat dan syaraAo . saling meguatkan, bukan bertentangan. Untuk membangun sistem pendidikan yang integratif, filosofi Minangkabau AiAdat Basandi SyaraAo. SyaraAo Basandi KitabulahAn digunakan. Dalam pandangannya. Hamka percaya bahwa nilainilai budaya seperti penghormatan kepada orang tua, gotong royong dan musyawarah sebenarnya merupakan representasi dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Akibatnya, pendidikan harus mampu menggabungkan kedua warisan penting ini untuk menghasilkan individu yang baik secara pribadi dan bermanfaat bagi Sampai saat ini, metode pendidikan yang paling umum masih bersifat tradisional dan mengikuti standar yang berlaku di surau dan pesantren. Salah satu cara utama Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 untuk menyebarkan pengetahuan adalah melalui ceramah atau bahtsul masail, dialog, penghafalan teks klasik, dan contoh langsung dari guru. Metode ini menghasilkan hama. Namun berkat pengetahuan yang dia peroleh dari membaca dan mengamati, dia mulai menyadari bahwa metode harus diperbarui. Meskipun demikian, ia mempertahankan esensi dari metode tradisional berupa penamaan nilai dan pelatihan hubungan emosional dan spritual antara guru dan murid yang seringkali hilang dalam sistem pendidikan modern yang terlalu mekanis. Faktor-Faktor Transformasi Ke Jakarta Pemikiran Hamka tentang pendidikan Islam mengalami fase transformasi yang signifikan ketika dia berpindah dari ranah budaya Minangkabau ke metropolitan Jakarta dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktr internal dan eksternal. Faktor internal transformasi Hamka berasal dari dinamika pribadi, pengelamannya dan Pengelaman Minangkabau ke Jakarta pada dasarnya merupakan pengembangan dari kebiasaan merantau yang telah berlangsung lama. Namun, pergaulannya jauh lebih luas di Jakarta. Ia beruhubungan dengan orang-orang dari berbagai suku, aktivis dan pemikir dari seluruh nusantara. Dengan demikian, kesadaran akan realitas Indonesia yang beragam meningkat dan perspektif pendidikannya berubah dari rasa khas Minangkabau menuju kerangka yang lebih nasional, universal dan toleran. Hamka berkolaborasi dengan nasionalis dan modernis Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto. Agus Salim dan anggota Sarekat Islam yang mempercepat proses Hamka mengambil ide-ide mereka tentang persahabatan, demokrasi dan pentingnya membangun kemandirian umat melalui sistem pendidikan dan institusi Berteman dan berbicara dengan mereka membantu menyelaraskan keyakinan keislamannya dengan semangat kebangsaannya. Semangat ini lalu pembentukan Muslim yang saleh sekaligus warga negara yang setia. Selain itu, pengembangan diri melalui pengetahuan dan jurnalisme menjadi pendorong transformasi internalnya. Kedatangan Hamka ke Jakarta memiliki kaitan yang erat dengan dunia tulis menulis. Dalam pekerjaannya sebagai penulis dan penyunting untuk berbagai majalah seperti Pedoman Masyarakat. Hamka terus membaca, menelaah dan menanggapi masalah aktual. Hamka belajar berpikir logis, kritis, dan Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 komunikatif dari aktivitas jurnalistik. Ia menyadari bahwa metode dakwah dan pendidikan untuk mendidik masyarakat harus memanfaatkan kekuatan media massa sebagai madrasah modern yang menjangkau khalayak lebih luas daripada hanya mengandalkan ceramah di surau. Sementara faktor eksternal pemikiran transformasional Hamka tidak dapat terlepas dari pengaruh kuat komponen luar yang membentuk lingkungan zaman Jakarta. Dia semakin terpengaruh oleh gerakan pembaharuan Islam di seluruh dunia, terutama ide-ide Muhammad Abduh dan Rashid Ridha dari Mesir. Visi pendidikannya didasarkan pada gagasan bahwa ijtihad dapat dibuka, tauhid harus dimurnikan dan ilmu agama harus dipadukan dengan ilmu umum . Di Jakarta, ia menyaksikan secara langsung betapa umat Islam tertinggal secara intelektual dan Oleh karena itu, ia memutuskan untuk membangun sistem pendidikan Islam yang integratif yang menghasilkan ulama, intelektual, dokter dan insinyur yang beriman. Selanjutnya. Hamka menghadapi tekanan tetapi juga peluang karena tantangan kolonialisme dan modernitas. Jakarta adalah pusat politik Hindia Belanda fan penyebaran politik kolonial Bara. Hamka berpendapat bahwa pendidikan Islam ko nvensional tidak cukup untuk membekaligenerasi muda untuk menghadapi masalah ini. Ia kemudian berpikir tentang kurikulum yang dapat mempertahankan moralitas dan iman sambil menggunakan teknologi dan pengetahuan kontemporer untuk memajukan dan melawan penjajahan. Terakhir, pemikiran Hamka menjadi lebih strategis dan lentur karena dinamika sosial politik ibu kota yang rumit. Jakarta memiliki banyak kepentingan politik mulai dari kemunis dan nasionalis sekuler hingga berbagai kelompok keagamaan yang membuatnya berbeda dari suatu tempat yang tenang. Situasi ini mengajarkan Hamka untuk berdakwah dan mendidik dengan pendekatan yang lebih toleran dan fokus pada persatuan umat . khuwah islamiya. dan bangsa. Konsep pendidikannya juga berkembang menjadi alat untuk membangun kesadaran sosial politil yang kuat dan membentuk manusia Indonesia yang bermoral, mampu menghadapi tantangan zamannya dengan bijaksana. Bentuk Transformasi Pemikiran Pendidikan Pemikiran pendidikan Buya Hamka mengalami perubahan yang sangat mendalam selama perjalanan intelektual dan spiritualnya dari Minangkabau ke Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Jakarta. Perubahan tersebut dapat dilihat melalui tiga aspek utama, yaitu pergeseran paradigma, pengembangan konsep, dan aplikasi dalam karya. Ketiga aspek ini saling berhubungan dan membentuk kesatuan yang utuh dalam ide pendidikan Islam yang memberikan pencerahan, kebebasan, dan berpegang kuat pada nilai-nilai Pergeseran Paradigma Perubahan pertama yang dilakukan oleh Buya Hamka adalah transisi dari pendidikan sekolah tradisional ke pendidikan yang membebaskan. Pada awalnya, tradisi pendidikan Islam di Minangkabau didominasi oleh sistem surau yang fokus pada hafalan dan ketundukan kepada guru tanpa syarat. Buya Hamka percaya bahwa sistem seperti ini berpotensi menciptakan generasi yang pasif dan kurang kritis terhadap realitas sosial. Oleh sebab itu, ia mendukung munculnya model pendidikan yang membebaskan, yang mengajak peserta didik untuk berpikir reflektif, mandiri, dan bertanggung jawab dalam mencari ilmu. Menurut Hamka, pendidikan harusnya tidak membatasi akal, tetapi justru membebaskannya agar manusia dapat mengenal Tuhan dan diri mereka secara utuh. Selanjutnya. Buya Hamka juga berpindah dari pemisahan ilmu ke integrasi ilmu. Ia menolak adanya pemisahan antara ilmu agama . dan ilmu dunia . , karena keduanya bersumber dari Allah. Ia menyatakan bahwa semua ilmu, jika digunakan dengan niat baik dan cara yang benar, akan membawa manusia kepada kebenaran dan iman. Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu bersifat integratifAi menggabungkan nilai spiritual dengan kemampuan rasional dan ilmiah. Dengan pendekatan ini. Hamka berusaha menghapus batas antara pesantren dan sekolah modern, serta menegaskan bahwa kemajuan pengetahuan tidak boleh menggerus Selanjutnya, ada juga pergeseran dari otoritas guru menuju kebebasan Menurut Hamka, guru tetap memiliki peran signifikan sebagai pembimbing moral dan intelektual, tetapi bukan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Ia ingin agar siswa diberikan ruang untuk mengemukakan pendapat, berpikir kritis, dan menafsirkan ilmu dengan cara yang kreatif. Kebebasan berpikir ini adalah dasar bagi terbentuknya generasi Muslim yang aktif dan mampu menghadapi tantangan zaman. Dengan cara ini, pendidikan menjadi proses dialog antara akal, hati, dan wahyu, bukan lagi sekadar indoktrinasi. Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Pengembangan Konsep Dalam aspek pengembangan konsep. Buya Hamka menekankan prinsip keberanian dan kebebasan berpikir sebagai inti dari pendidikan Islam. berpendapat bahwa umat Islam tidak akan maju jika terus terikat pada taklid buta dan ketakutan dalam berpikir. Ia memberikan contoh semangat ijtihad para ulama klasik yang berani menafsirkan dan memahami wahyu dalam konteks zaman Bagi Hamka, keberanian berpikir merupakan bagian dari ibadah intelektual, karena dengan berpikir, manusia dapat memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Konsep lain yang dikembangkan oleh Hamka adalah pendidikan integratif antara naqli dan akli. Ia menekankan bahwa wahyu . dan akal . tidaklah saling bertentangan, tetapi merupakan dua sumber kebenaran yang saling melengkapi. Pendidikan yang baik, menurutnya, harus mencakup ilmu agama dan ilmu umum agar menghasilkan individu yang seimbang antara aspek spiritual dan rasional. Model pendidikan ini konsisten dengan pandangan Islam klasik yang menempatkan semua ilmu dalam kerangka tauhid. Selanjutnya. Hamka memperkenalkan sistem pendidikan karakter yang didasari tauhid sebagai fondasi untuk menciptakan individu yang utuh. Menurutnya, ilmu tidak disertai iman dapat menyebabkan kesombongan, sementara iman yang tanpa ilmu berpotensi menghasilkan fanatisme yang sempit. Oleh karena itu, pendidikan harus memupuk nilai-nilai tauhid di setiap aspek kehidupan, termasuk moral, sosial, dan intelektual. Dalam perspektif Hamka, tauhid bukan hanya ajaran dalam teologi, tetapi juga pondasi etika yang membimbing orang untuk bersikap jujur, amanah, disiplin, dan bertanggung jawab dalam melaksanakan perannya dalam masyarakat. Pelaksanaan dalam Karya Pemikiran pendidikan Buya Hamka tidak hanya berhenti sebagai gagasan, namun juga direalisasikan melalui karya-karya yang dihasilkan. Tafsir Al-Azhar merupakan sebuah karya yang merangkum paradigma pendidikan yang memberikan kebebasan dan pencerahan. Dalam tafsir ini. Hamka mengaitkan pendekatan ilmiah yang logis dengan nilai-nilai spiritual yang dalam. Ia menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat umum, sehingga membuat tafsir ini lebih dari sekadar karya ilmiah, tetapi juga sebagai media pendidikan bagi masyarakat. Selain Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 itu, karya sastra Hamka, seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Di Bawah Lindungan KaAobah, dan Merantau ke Deli, juga berfungsi sebagai alat pendidikan moral yang efektif. Melalui karakter dan konflik yang terdapat dalam cerita. Hamka menyampaikan pesan-pesan mengenai pentingnya kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, dan perjuangan hidup. Bagi Hamka, sastra bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga alat untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan membentuk karakter pembaca. Di sisi lain, upaya Hamka dalam dunia jurnalistik juga menunjukkan peran pendidikan yang luas dan inklusif. Melalui majalah seperti Pedoman Masyarakat dan berbagai tulisan di media lain. Hamka memanfaatkan jurnalistik sebagai alat untuk mendidik publik. Ia menulis mengenai keislaman, kebangsaan, moralitas, dan perkembangan peradaban, dengan target untuk meningkatkan kesadaran sosial dan spiritual masyarakat. Dia meyakini bahwa pena adalah alat dakwah dan pendidikan yang berpotensi membentuk opini publik yang cerdas dan bermoral. Dengan demikian, transformasi pemikiran pendidikan Buya Hamka merefleksikan perjalanan dari tradisi menuju pembaruan, dari kepatuhan ke kebebasan berpikir, dan dari dikotomi ke integrasi ilmu. Semua idenya berlandaskan pada nilai tauhid yang menyatukan iman, ilmu, dan amal dalam kesatuan yang harmonis. Melalui pendidikan, sastra, tafsir, dan jurnalistik. Hamka tidak hanya berperan sebagai ulama, tetapi juga sebagai pendidik bangsa yang menanamkan nilai-nilai kebebasan berpikir, moralitas, dan keislaman yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Analisis Transformasi Perubahan pemikiran pendidikan Islam yang dilakukan Buya Hamka dari Minangkabau ke Jakarta menggambarkan kompleksitas dan kemajuan intelektual. Proses ini lebih dari sekadar mencerminkan perubahan pandangan seorang ulama tentang sistem pendidikan. juga mencerminkan hubungan antara tradisi, modernitas, dan nilai-nilai Islam yang bersifat universal. Melalui analisis pola dan faktor apa yang membuat transformasi pemikiran Hamka berhasil, terlihat bagaimana ia menggabungkan budaya lokal dengan pandangan global, tetap menjaga nilai-nilai lama sambil melakukan inovasi yang sesuai, dan memajukan paradigma pendidikan Islam yang bersifat membebaskan, rasional, serta memiliki akhlak. Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Pola pertama dalam perubahan pemikiran Hamka adalah interaksi antara tradisi dan modernitas. Sejak masa kanak-kanak. Hamka dibesarkan dalam lingkungan surau di Minangkabau yang mengutamakan ajaran agama, hafalan kitab, dan penghormatan kepada pengajar. Namun, pengalaman hidupnya di Jakarta dan lingkungan Islam yang lebih luas membawanya bertemu dengan semangat modern, cara berpikir rasional, serta ide-ide pembaruan Islam. Hamka tidak menolak tradisi, tetapi mengintegrasikannya dengan modernitas. Ia berpendapat bahwa nilai-nilai tradisional harus dijaga, namun cara berpikir dan pendekatan pendidikan perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Hasil dari interaksi ini adalah pemikiran pendidikan Islam yang kokoh pada nilai-nilai Islam klasik tetapi tetap terbuka untuk perubahan sosial dan intelektual yang modern. Pola kedua mencakup penggabungan nilai-nilai lokal dan global. Hamka berhasil mengkombinasikan nilai-nilai budaya Minangkabau seperti adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah dengan prinsip-prinsip Islam yang bersifat universal dan pemikiran modern dari dunia Islam. Bagi Hamka, pendidikan Islam harus relevan dengan konteks sosial dan budaya masyarakat tanpa kehilangan Dengan pendekatan ini. Hamka menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal yang berasal dari budaya dapat digunakan untuk memperkuat identitas umat Islam di tengah arus globalisasi. Ia tidak hanya mengambil ide-ide dari Timur Tengah, tetapi juga menafsirkan kembali ajaran Islam agar sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Dengan cara ini, pemikiran pendidikan Hamka berfungsi sebagai jembatan antara kebijaksanaan lokal dan peradaban global, sehingga Islam terwujud secara konkret namun tetap bersifat universal. Pola ketiga dalam perubahan pemikiran Hamka adalah kesinambungan dan Menurut Hamka, pembaruan pendidikan tidak harus memutuskan hubungan dengan masa lalu, tetapi harus memperbarui nilai-nilai lama agar tetap relevan. tetap mempertahankan tujuan utama pendidikan Islam, yaitu membentuk individu yang beriman dan berbudi pekerti, tetapi memperbarui pendekatan dan metodologinya agar cocok dengan tantangan zaman modern. Ia mengubah fokus pendidikan dari sekadar penyampaian ilmu menjadi proses internalisasi nilai, berpikir kritis, dan pembentukan karakter. Dengan demikian. Hamka menunjukkan Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 keseimbangan antara melestarikan warisan spiritual Islam dan menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat yang dinamis. Perubahan pemikiran pendidikan Buya Hamka tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi didukung oleh beberapa faktor penting yang mempengaruhi keberhasilannya. Faktor pertama adalah kemampuan berpikir yang fleksibel. Hamka dikenal sebagai individu yang terbuka terhadap berbagai sumber pengetahuan, baik dari tradisi Islam klasik maupun dari pemikiran modern Barat. Ia tidak menolak perbedaan pandangan, melainkan menjadikannya sebagai ruang untuk dialog intelektual yang memperdalam pemahaman. Fleksibilitas ini membuat pemikirannya sesuai dengan perubahan zaman dan dapat diterapkan dalam berbagai situasi sosial. Faktor kedua berkaitan dengan kemampuan untuk beradaptasi dengan budaya. Sebagai anak Minangkabau yang telah terbiasa tinggal di lingkungan yang beragam dan dengan tradisi merantau. Hamka memiliki keahlian luar biasa dalam menyesuaikan diri dengan berbagai budaya dan pemikiran intelektual. Saat berpindah ke Jakarta, ia menemui beragam ide dan gaya hidup modern, tetapi ia berhasil mengolahnya tanpa kehilangan identitas keislaman yang dimilikinya (Mursal, 2. Ia juga mampu menjadikan nilai-nilai lokal sebagai dasar untuk memahami fenomena modern, sehingga gagasan pendidikannya tetap terhubung dengan kenyataan masyarakat Indonesia. Adaptasi kultural ini membuat pemikiran Hamka relevan di berbagai lapisan masyarakat. Faktor ketiga adalah pandangan pendidikan yang jauh ke depan. Hamka tidak hanya memikirkan pendidikan dalam batas ruang kelas, tetapi juga melihatnya sebagai alat untuk membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan Ia percaya bahwa pendidikan Islam harus mampu membentuk manusia secara utuhAiyang beriman, berpengetahuan, dan berbudi pekerti luhur. Dalam Tafsir Al-Azhar. Hamka menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan iman serta antara akal dan wahyu sebagai dasar kemajuan masyarakat. Pandangan pendidikan yang visioner ini membuat pemikirannya melewati zamannya, dan menjadi sumber inspirasi bagi pembaruan pendidikan Islam yang lebih manusiawi dan relevan hingga saat ini. Secara keseluruhan, analisis mengenai perkembangan pemikiran pendidikan Buya Hamka menunjukkan bahwa perjalanannya dari Minangkabau ke Jakarta Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 bukan sekadar pengubahan lokasi, tetapi sebuah proses dialog yang mengarah pada kematangan intelektual dan spiritual. Dengan menyatukan tradisi dan modernitas, serta nilai lokal dan global dalam kesinambungan dan perubahan. Hamka berhasil menciptakan model pendidikan Islam yang sesuai dengan tantangan zaman (Fatih. Didukung oleh kebebasan berpikir, kemampuan untuk beradaptasi, dan visi yang luas. Buya Hamka menjadi simbol transformasi pendidikan Islam di IndonesiaAiseorang ulama yang memperbarui dan mengajarkan bahwa kemajuan harus senantiasa berpijak pada nilai-nilai tauhid dan kemanusiaan. PEMBAHASAN Hasil penelitian yang menunjukkan transformasi dinamis dalam pemikiran pendidikan Hamka dari basis lokal Minangkabau ke arah persatuan bangsa di Jakarta, menyediakan koreksi penting terhadap kecenderungan penelitian sebelumnya yang memandang pemikiran Hamka sebagai subjek angka. Nilai-nilai inti yang ditemukan dalam karya Hamka seperti penekanan pada akhlak dan integrasi ilmu ditemukan oleh penelitian seperti (Langaji dkk. , 2. dan (Khairudin Aljunied, 2. Namun proses dialektis yang mendasari pemikiran Hamka terungkap melalui pendekatan esensialis Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai integratif adalah hasil dari konflik kreatif antara AiHamka sang anak MinangkabauAn yang dibentuk oleh surau dan adat dan AiHamka sang intelektual JakartaAn yang dipengaruhi oleh modernitas, wacana kebangsaan dan jaringan intelektual Muslim modernis. Dengan kata lain penelitian sebelumnya berhasil menangkap apa pemikiran Hamka, sementara penelitian ini menjawab bagaimana dan mengapa pemikirannya berkembang dan berubah yang memberikan pemahaman yang lebih historis dan kontekstual. Selain itu jenis transformasi terutama yang mencangkup integrasi ilmu naqli-aqli dan karakter pendidikan memiliki hubungan dan perbedaan dengan diskusi pemikiran penddikan Islam yang lebih luas. Disatu sisi, visi integrasi Hamka sejalan dengan semangat pembaharuan Muhammad Abduh dan Rasyid Rida yang menekankan relavansi Islam dengan modernitas (Wahyu Ningsih, 2. dan mendukung penelitian (Nurtawab, 2. tentang upaya untuk mengatasi dualisme ilmu. Sebaliknya, penelitian ini menemukan bahwa integrasi ala Hamka memiliki kekhasan yang unik karena memiliki landasan budaya Minangkabau yang tidak dimiliki oleh penulis lain. Filosifi AiAdat Basandi SyaraAo. Syara Basandi KitabullahAn memberikan jembatan pengetahuan Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 yang luar biasa yang memungkinkan integrasi itu berkembang sebagai penyusunan nilai-nilai lokal yang telah diislamkan daripada impor konsep asing. Hal ini membedakan Hamka dari usaha integrasiyang lebih filosofis-abstrak seperti Islamisasi ilmu pengetahuan dan menempatkannya sebagai arsitek sintetis budaya-pengetahuan yang sangat kontekstual dengan Indonesia. Terakhir penekanan pada faktor geografis-intelektual sebagai pemicu perubahan dalam penelitian ini menunjukkan kelemahan dalam penelitian sebelumnya dan memberikan model analitis yang bermanfaat. Studi biografis atau tematik sering mengabaikan pergeseran bagaimana fisik dari pusat budaya tradisional (Minangkaba. ke pusat politik modern nasional (Jakart. menciptakan kategori yang memaksa pemulihan identitas dan pemikiran. Proses berpikir Hamka dari lokal ke nasional, dari otoritas guru ke kebebasan akal dan dari surau ke publik luas melalui jurnalistik dan sastra, aksi interaksi di Jakarta dengan orang-orang seperti Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto ini bukan sekedar latarbelakang (Wahyu Ningsih, 2. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya melengkapi cerita yang ada, tetapi juga menggunakan paradigma Aigeografis-intelektualAn sebagai lensa penting untuk melihat bagaimana pikiran tokoh-tokoh Indonesia lainnya berkembang dari daerah ke pusat, dari tradisi hingga modernitas. Penelitian ini mencapai kesimpulan utama bahwa warisan pemikiran Hamka memberikan sudut pandang yang relevan untuk pendidikan Islam modern dalam menghadapi tantangan era teknologi. Nilai-nilai Islam dapat tetap relevan dalam membentuk generasi muslim yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan kesadaran spiritual yang mendalam, yang dapat membantu peradaban modern dengan cara yang tepat. KESIMPULAN Nilai-nilai adat AiAdat basandi syaraAo, syaraAo basandi kitabullahAn, pengaruh kuat ayahnya (Haji Rasu. yang anti-taklid buta, dan sistem pendidikan surau yang tekanan pembentukan akhlak dan karakter membentuk konsep pendidikannya pada tahap awal di Minangkabau. Tapi setelah merantau ke Jakarta, gagasan awal ini berkembang dan Dia memperluas pandangan di ibu kota karena berinteraksi dengan para modernis, nasionalis dan percakapan kebangsaan, serta menghadapi Muhamad Yahya, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Pola pikir juga berubah, pendidikan tradisional yang berpusat pada guru berubah menjadi pendidikan yang memerdekakan dan kritis, dikotomi ilmu berubah menjadi integrasi ilmu naqli dan aqli dan fokus pada komunitas lokal berubah menjadi visi pendidikan karakter untuk masyarakat madani Indonesia. Karya-karya besarnya, seperti Tafsir Al-Azhar, novel, dan pekerjaan jurnalistiknya, menunjukkan transformasi ini, yang tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga nyata. Dinamika internal Hamka . eperti semangat merantau, pergulatan intelektual, dan pengembangan diri melalui jurnalism. dan faktor eksternal . eperti dampak gerakan pembaruan Islam global, tantangan modernitas, dan pluralitas sosial-politik Jakart. adalah pendorong utama. Oleh karena itu, contoh dari "transformasi geografis- intelektual" yang berhasil menjembatani modernitas dan tradisi adalah perjalanan pemikiran Hamka dari Minangkabau ke Jakarta. Teori-teorinya masih relevan untuk pendidikan Islam modern, memberikan inspirasi untuk membangun sistem pendidikan yang tetap berdasarkan nilai-nilai spiritual dan moral, namun tetap responsif terhadap perkembangan zaman, terbuka, dan mendorong integrasi ilmu pengetahuan dan kebebasan berpikir. DAFTAR PUSTAKA