Jurnal Kesehatan Indonesia. Volume 16. Nomor 1. November 2025 Gejala Hipoksia dan Barotrauma dalam Ruang Udara Bertekanan Rendah pada Awak Pesawat Lakespra dr. Saryanto Hypoxia and Barotrauma Symptoms in Military Aircrew at Lakespra dr. Saryanto Putri Avrilia Nurma Irani1*. Pritha Maya Savitri1. Riezky Valentina Astari1. Nurfitri Bustamam1 Program Studi Kedokteran. Fakultas Kedokteran. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Indonesia Korespondensi: putriavriliani@upnvj. Abstract In carrying out their duties, military aircrew must be able to adapt to an environment where the higher the location from sea level, the barometric pressure will decrease. This decrease in pressure leads to the occurrence of hypoxia. Hypoxia is a condition of lack of oxygen due to decrease in atmospheric oxygen pressure so that ventilation-perfusion disturbances occur. addition to causing hypoxia, changes in barometric pressure give rise to several gas changes in the body, one of which is barotrauma. The fatal conditions due to changes in barometric pressure can be prevented through hypobaric chamber training at 25. 000 feet. This study aims to determine the description of hypoxia symptoms and barotrauma in military aircrew at Lakespra dr. Saryanto. The design of the study was descriptive with data derived from 97 out of 147 the medical records of military aircrews with simple random sampling. The result showed that 16 people . ,5%) experienced cognitive symptoms, 7 people . ,2%) experienced psychomotor symptoms, 21 people . ,6%) experienced visual symptoms, and 61 people . ,9%) experienced non-specific symptoms. Keywords: Barotrauma. Hypoxia. Military Aircrew Pendahuluan TNI AU bertugas melaksanakan tugas TNI matra udara di bidang pertahanan . Dalam menjalankan tugas, awak pesawat TNI AU harus mampu beradaptasi dengan lingkungan udara yang berbeda dengan Ketika berada di ketinggian, semakin tinggi lokasi dari permukaan laut, maka tekanan barometrik akan menurun . Penurunan tekanan ini akan menyebabkan penurunan progresif kejenuhan oksigen arteri sehingga terjadi hipoksia . Hipoksia secara umum adalah kondisi kekurangan oksigen untuk mencukupi kebutuhan tubuh akibat paparan penurunan PO2 atmosfer sehingga terjadi penurunan PiO2 dan gangguan ventilasi-perfusi. Hipoksia yang terjadi pada awak pesawat merupakan akibat dari adanya perubahan tekanan barometrik dan disebut dengan hipoksia hipobarik . Pada tahun 2005, dilaporkan terjadi insiden kecelakaan pesawat Helios Airways dengan salah satu faktor penyebabnya adalah hipoksia pada awak pesawat. Hal ini terjadi akibat adanya kegagalan sistem tekanan kabin dan kegagalan dalam memperhatikan gejala hipoksia ketika pesawat mencapai ketinggian 28. 000 kaki . Ketika awak pesawat mengalami hipoksia, akan timbul gejala yang dapat mengganggu penerbangan. Penelitian tahun 2021 menunjukkan terjadi 13,49% hipoksia pada awak pesawat militer saat penerbangan dengan keluhan antara lain, 43,5% sensasi panas, 34,8% gangguan konsentrasi, 23,9% gangguan penglihatan, 13% pusing, dan 10,9% mati rasa . Selain menimbulkan beberapa perubahan gas dalam tubuh. Penelitian tahun 2017 mengevaluasi tuba eustachius pada 42 pilot dalam Ruang Udara Bertekanan Rendah (RUBR) dengan ketinggian hingga 25. kaki menggunakan The new eustachian tube Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama sesi di RUBR, 23,8% mengeluhkan rasa penuh di telinga yang menghilang setelah manuver valsava dan 4,7% rasa penuh yang menetap . Putri Avrilia Nurma Irani, dkk. Upaya untuk mencegah kondisi fatal akibat perbedaan lingkungan darat dengan udara dapat dilakukan melalui Indoktrinasi dan Latihan Aerofisiologi (ILA), salah satunya adalah dengan hypobaric chamber (RUBR). RUBR adalah latihan yang bertujuan untuk memberikan pemahaman terkait hipoksia, pengembangan gas, dan memastikan awak pesawat untuk kesiapan oksigenasi tubuh pada Ruang Udara Bertekanan Rendah (RUBR) . Dewasa . Ae 35 tahu. Dewasa . Ae 45 tahu. Lansia awal . Ae 55 tahu. Total Dewas a awal . Ae Dewas a akhir . Ae Tabel 1. Distribusi Karakteristik Sampel Berdasarkan Usia pada Awak Pesawat Aktif di Lakespra dr. Saryanto Tahun 2021 Usia Remaja . Ae 25 tahu. Tabel 2. Gambaran Awak Pesawat Aktif Berdasarkan Usia dengan Gejala Hipoksia Gejala Hipoksia Usia Tot Merasakan Tidak Merasakan Remaja Ae Sebanyak 97 rekam medis awak pesawat aktif di Lakespra dr. Saryanto menjadi sampel penelitian. Awak Pesawat Aktif Berdasarkan Usia dengan Gejala Hipoksia Hasil Frekuensi (N=. Berdasarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, usia dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu masa balita . Ae 5 tahu. , masa kanak-kanak . Ae 11 tahu. , masa remaja awal . Ae 16 tahu. , masa remaja akhir . Ae 25 tahu. , masa dewasa awal . Ae 35 tahu. , masa dewasa akhir . Ae 45 tahu. , masa lansia awal . Ae 55 tahu. , masa lansia akhir . Ae 65 tahu. , dan masa manula (>65 tahu. Pada penelitian ini, sebagian besar sampel masuk dalam kategori masa dewasa awal . Ae 35 tahu. dengan jumlah 59 orang atau 60,8% dari total Dalam pengambilan data, peneliti mendapatkan sampel dengan usia termuda adalah 22 tahun dan usia tertua adalah 47 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan data sekunder yang didapatkan dari dokumen hasil RUBR untuk mengetahui gambaran gejala hipoksia dan barotrauma berdasarkan hasil latihan di RUBR. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik probability sampling. Teknik probability sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah simple random sampling. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif untuk mengetahui gambaran gejala hipoksia dan barotrauma pada awak pesawat aktif di Lakespra dr. Saryanto Analisis univariat bertujuan untuk melihat distribusi frekuensi dari gejala hipoksia dan barotrauma. Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan masingmasing variabel yang diteliti. Data diambil dari 147 rekam medis awak pesawat yang dipilih dengan menggunakan simple random sampling. Besar sampel pada penelitian ini dihitung menggunakan rumus estimasi proporsi. Dengan penambahan sampel drop out sebesar 10%, maka didapatkan jumlah sampel penelitian adalah 97 orang. Karakteristik Lansia Ae Putri Avrilia Nurma Irani, dkk. Awak pesawat aktif yang paling banyak merasakan gejala hipoksia berasal dari kelompok usia 26 Ae 35 tahun, yaitu sebanyak 39 orang . ,2%). Sebanyak 16 orang . ,5%) merasakan gejala kognitif dengan mayoritas gejala mudah lupa . %), 7 orang . ,2%) merasakan gejala psikomotor dengan mayoritas gejala gemetar . ,7%), 21 orang . ,6%) merasakan gejala visual dengan keseluruhan mengalami pandangan kabur . %), 61 orang . ,9%) merasakan gejala non spesifik dengan mayoritas gejala pusing/mual . ,4%), dan tidak ada yang meraskaan gejala psikologis. Gejala Hipoksia pada Awak Pesawat Aktif Tabel 3. Gambaran Gejala Hipoksia pada Awak Pesawat Aktif Gejala Kognitif Mudah Berpikir Reaksi Konsentras i menurun Psikomoto Gemetar Koordinasi Visual Pandangan Non Spesifik Perut Otot Merasa Kesemutan Keluar air Sesak Sakit dada Pusing/mu Sakit perut Area Sakit Sakit Psikologis Merasakan Total Tidak Merasakan Total Barotrauma pada Awak Pesawat Aktif Tabel 4. Gambaran Barotrauma pada Awak Pesawat Aktif Kategori Tidak Suspek barotrauma Terdiagnosis barotrauma Mengalami Earblock Sinusblock Barodontalgia Mengalami lebih dari satu barotrauma Total Sebanyak 93 orang . ,9%) tidak mengalami barotrauma, 3 orang . ,1%) keseluruhannya mengalami satu barotrauma, yaitu earblock, dan 1 orang . %) suspek Kategori suspek adalah awak pesawat yang merasakan gejala barotrauma, tetapi masih mampu melaksanakan sesi penuh latihan Ruang Udara bertekanan Rendah (RUBR). Dalam penelitian, awak pesawat yang termasuk dalam kategori suspek mengalami gejala sakit telinga. Kategori terdiagnosis adalah awak pesawat yang tidak mampu melanjutkan sesi latihan Ruang Udara bertekanan Rendah (RUBR) sehingga harus keluar dari Ruang Udara bertekanan Rendah (RUBR) dan menjalani pemeriksaan terhadap gendang telinga dan rontgen sinus paranasal oleh dokter Sp. THT. Pembahasan Penelitian yang dilakukan di Lakespra Saryanto dengan 97 sampel dari 147 rekam medis awak pesawat aktif militer lakilaki dan data gejala berasal dari lembar ILA yang diisi oleh awak pesawat terkait keluhan yang dirasakan oleh masing-masing awak Kelompok usia dengan awak Putri Avrilia Nurma Irani, dkk. pesawat yang merasakan gejala hipoksia kelompok dewasa awal . Ae 35 tahu. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menunjukkan bahwa 25 dari 26 orang merasakan gejala hipoksia pada sesi latihan RUBR dengan rata-rata usia sampel yang mengalami hipoksia yaitu 31. 6 tahun di mana usia tersebut juga termasuk dalam kelompok dewasa awal . Kondisi ini berkaitan dengan fungsi respirasi berdasarkan usia. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa fungsi pernapasan mulai menurun pada usia 30 tahun, di mana usia tersebut juga termasuk dalam kelompok dewasa awal. Perubahan fungsi tersebut antara lain penurunan kekuatan otot pernapasan, dan respon terhadap hipoksia . Selain itu, hasil ini dapat dipengaruhi juga oleh distribusi sampel yang mayoritas berasal dari kelompok usia tersebut. Latihan Ruang Udara bertekanan Rendah (RUBR) mendemonstrasikan gejala hipoksia pada lingkungan bertekanan rendah. Gejala hipoksia tersebut bersifat individual, sehingga akan bervariasi pada setiap awak pesawat. Gejala hipoksia dapat diklasifikasikan menjadi gejala ringan, sedang, dan berat . Namun, karena keterbatasan data, peneliti tidak dapat mengklasifikasikan gejala hipoksia berdasarkan klasifikasi tersebut. Pada penelitian ini, gejala hipoksia dikelompokkan menjadi gejala kognitif, psikomotor, visual, non spesifik, dan psikologis dengan distribusi gejala kognitif 16,5%, psikomotor 7,2%, visual 21,6%, non spesifik 62,9%, dan tidak ada awak pesawat yang mengalami gejala psikologis. Gejalagejala tersebut muncul pada sesi latihan RUBR selama 5 menit. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menunjukkan bahwa gejala hipoksia dapat muncul mulai durasi 2 menit . Gejala kognitif dapat muncul akibat Mekanisme bertanggung jawab belum sepenuhnya dipahami, tetapi dikaitkan oleh keterlambatan oksigenasi pada otak yang menyebabkan gangguan formasi neurotransmitter sehingga mengganggu fungsi kognitif. Salah satu fungsi kognitif yang terpengaruh adalah memori jangka pendek dan jangka panjang yang terjadi ketika tekanan oksigen alveolar berkurang menjadi sekitar 60 mmHg dan menyebabkan fungsi memori menurun hingga 25% mulai ketinggian 15. 000 kaki . Hipoksia dapat memengaruhi fungsi kognitif yang terjadi pada 32,6% dari 341 Pada penelitian ini, gejala kognitif dialami oleh 16 awak pesawat . ,5%) dengan gejala yang paling banyak muncul adalah mudah lupa . % dari 16 sampel yang merasakan gejala kogniti. Gejala mudah lupa dapat timbul akibat pengaktifan sistem neuroimun pada kondisi hipoksia, khususnya IL-1 yang mengatur fungsi otak, sehingga menyebabkan gangguan memori . Fungsi psikomotor juga terpengaruh dalam kondisi hipoksia ketika oksigen alveolar turun menjadi kurang dari 50 mmHg . 000 kak. Di atas ketinggian 000 kaki, mulai muncul gejala gemetar pada tangan . Pada penelitian ini, gejala psikomotor dialami oleh 7 awak pesawat . ,2%) dengan gejala yang paling banyak muncul adalah gemetar . ,7% dari 7 sampel yang merasakan gejala psikomoto. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menunjukkan di mana gejala psikomotor yang dapat muncul pada kondisi hipoksia adalah gemetar . %) . Hipoksia juga mengganggu fungsi visual mulai dari ketinggian 5. 000 kaki atau ketika terjadi penurunan oksigen alveolar hingga 75 mmHg. Beberapa gejala yang dapat timbul adalah gangguan adaptasi gelap, penyempitan lapang pandang, dan pandangan kabur . Penelitian lain juga menunjukkan bahwa gangguan visual terjadi saat latihan Ruang Udara bertekanan Rendah (RUBR), yaitu dengan persentase sebesar 30,2% . Pada penelitian ini, gejala visual muncul pada 21 orang . ,6%) dengan gejala berupa pandangan kabur. Pandangan kabur merupakan gejala umum pada hipoksia karena mata merupakan organ dengan oksigenasi tinggi dan sensitif terhadap fluktuasi oksigen sehingga akan menyebabkan penurunan aliran darah retina pada kondisi hipoksia . Penelitian lain juga menunjukkan bahwa hipoksia dapat menimbulkan gejala non spesifik, seperti paresthesia, sakit kepala, pusing . Pada penelitian ini, gejala non spesifik dirasakan oleh 61 orang . ,9%) dengan gejala yang paling banyak muncul adalah pusing/mual. Rasa pusing Putri Avrilia Nurma Irani, dkk. merupakan akibat dari penurunan suplai darah serebral, sedangkan mual dikaitkan dengan perfusi adrenal dalam tubuh . Kekurangan oksigen akibat ketinggian juga menyebabkan gangguan kinerja psikologis . Hipoksia dapat menyebabkan kerusakan enzim otak tertentu, seperti triptofan hidroksilase yang berperan dalam menyebabkan produksi serotonin menurun. Akibatnya, dapat muncul gejala suasana hati terasa buruk . Penelitian lain juga menunjukkan gejala psikologis lain yang dapat muncul, seperti merasa cemas . %) dan depresi . %) . Pada penelitian ini, tidak ditemukan gejala psikologis yang Perbedaan hasil penelitian ini dapat terjadi akibat subjektivitas subjek penelitian di mana awak pesawat mungkin tidak menyadari bahwa gejala yang dirasakannya tersebut adalah gejala hipoksia. Selain menyebabkan hipoksia, kondisi lingkungan bertekanan rendah dapat menyebabkan barotrauma. Pada penelitian ini, sebagian besar sampel . ,9%) tidak mengalami barotrauma. Hal ini disebabkan karena sebelum melaksanakan sesi latihan RUBR, awak pesawat telah menjalankan serangkaian pemeriksaan, salah satunya adalah pemeriksaan THT. Meskipun begitu, terdapat 1 awak pesawat . %) yang suspek barotrauma, dan 3 awak pesawat . ,1%) yang mengalami barotrauma, dengan keseluruhan barotrauma yang dialami adalah Hal ini sesuai dengan penelitian yang menunjukkan bahwa barotrauma yang paling banyak terjadi pada latihan RUBR adalah earblock . Awak pesawat pertama dengan earblock, mengalami earblock sinistra pada 000 kaki. Awak pesawat kedua dengan earblock, mengalami earblock dextra dan sinistra saat descent di ketinggian 8. kaki dengan hasil pemeriksaan sebelum sesi latihan didapatkan tuli konduktif ringan pada auricula dextra. Awak pesawat ketiga dengan earblock, mengalami earblock dextra saat descent di ketinggian 8. 000 kaki dan earblock sinistra di ketinggian 6. 000 kaki. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menunjukkan bahwa barotrauma telinga umumnya terjadi pada fase descent . Tubuh manusia, termasuk telinga, memiliki rongga yang mengandung sejumlah gas dan rongga tersebut memiliki bukaan yang memungkinkan gas untuk masuk. Ketika ascent, tuba eustachius terbuka dan gas keluar ke nasofaring setiap kira-kira 500 Ae 1. 000 kaki. Ketika descent, gas dari nasofaring harus masuk ke telinga tengah untuk menjaga keseimbangan tekanan atmosfer di luar dan tekanan gas di dalam telinga tengah . Namun, tuba eustachius seringkali tidak dapat terbuka dengan upaya sadar . Kondisi inilah yang menyebabkan barotrauma yang dapat menimbulkan gejala sakit telinga dan sensasi penuh. Salah satu awak pesawat yang terdiagnosis earblock memiliki kondisi tuli konduktif ringan pada auricula dextra. Pada umumnya, gejala earblock meliputi rasa sakit di telinga. Beberapa gejala yang dapat muncul meskipun jarang, antara lain perforasi membran timpani, tuli konduktif, dan kemungkinan bahwa tuli konduktif yang terjadi dapat disebabkan karena barotrauma pada sesi RUBR sebelumnya . Kesimpulan Penelitian menunjukkan bahwa gejala hipoksia yang muncul dikelompokkan menjadi gejala kognitif . ,5%) dengan mayoritas gejala adalah mudah lupa . %), psikomotor . ,2%) dengan mayoritas gejala adalah gemetar . ,7%%), visual . ,6%) berupa pandangan kabur . %), psikologis . %), dan non spesifik . ,9%) dengan pusing/mual . ,4%). Selain itu, didapatkan juga bahwa 93 sampel . ,9%) tidak mengalami barotrauma, 1 sampel . %) suspek ,1%) terdiagnosis 1 jenis barotrauma dengan keseluruhan jenis barotrauma adalah Ucapan Terima Kasih: Terima kasih diucapkan kepada Lembaga Kesehatan Penerbangan (Lakespr. Saryanto yang telah memberikan izin dilakukannya penelitian. Daftar Pustaka