ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. No. Desember 2025 Hal. e-ISSN: 2723-6269 Pendampingan Bahasa Jepang bagi Mahasiswa Pariwisata Berbasis Kemitraan Industri Herman Supriadi*1. Jamaluddin2. Muhammad Ramli1. Baiq Desi Dwi Arianti2 hermansupriadi8@hamzanwadi. 1Pariwisata. FBSH. Universitas Hamzanwadi 2Pendidikan Informatika. FMIPA Universitas Hamzanwadi Received: 27 November 2025 Accepted: 17 Desember 2025 Online Published: 31 Desember 2025 DOI: 10. 29408/ab. Abstrak: Kualitas layanan pariwisata sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi, sehingga penguasaan bahasa asingAitermasuk bahasa JepangAimenjadi kompetensi penting bagi mahasiswa pariwisata. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat kemampuan dasar bahasa Jepang mahasiswa Pariwisata Universitas Hamzanwadi melalui pendampingan berjenjang berbasis kemitraan industri dengan PT Ina Nippon Indonesia. Program berlangsung selama enam bulan (JuliAeDesembe. dengan 23 peserta . emester 3, semester 5, dan alumn. , difokuskan pada tiga komponen literasi dasar: Hiragana (JuliAeAgustu. Katakana (SeptemberAeOktobe. , dan Kanji (NovemberAeDesembe. Pembelajaran dilakukan melalui latihan terstruktur, diskusi kelompok, dan simulasi komunikasi layanan, disertai evaluasi berkala berupa tes tertulis dan wawancara . etiap tiga bula. oleh pihak Jepang. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan skor rata-rata yang konsisten pada setiap komponen: Hiragana meningkat dari 49 menjadi 76 ( 27 poi. Katakana dari 50 menjadi 81 ( 31 poi. , dan Kanji dari 48 menjadi 79 ( 31 poi. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa pendampingan yang terjadwal, intensif, dan relevan dengan konteks layanan pariwisata efektif memperkuat fondasi literasi bahasa Jepang serta mendorong kesiapan komunikasi fungsional mahasiswa. Program ini merekomendasikan penguatan instrumen evaluasi . ubrik dan dokumentasi skor per pesert. agar dampak pendampingan dapat dipotret lebih rinci dan mendukung keberlanjutan program. Kata kunci: Bahasa Jepang. Industri Pariwisata. Kemitraan Industri. Mahasiswa Pariwisata. Abstract: Tourism service quality is strongly shaped by communication quality. therefore, foreign-language competenceAiincluding JapaneseAihas become increasingly relevant for tourism students. This community service program aimed to strengthen basic Japanese skills among Tourism students at Universitas Hamzanwadi through an industry-partnership mentoring model with PT Ina Nippon Indonesia. The six-month program (JulyAeDecembe. involved 23 participants . hird semester, fifth semester, and alumn. and focused on three foundational literacy components delivered sequentially: Hiragana (JulyAeAugus. Katakana (SeptemberAeOctobe. , and Kanji (NovemberAeDecembe. Learning activities combined structured drills, group discussions, and service-dialog simulations, supported by periodic assessments through written tests and Japanese-led interviews . very three Quantitative results from average scores show consistent improvement across all components: Hiragana increased from 49 to 76 ( 27 point. Katakana from 50 to 81 ( 31 point. , and Kanji from 48 to 79 ( 31 point. These gains suggest that scheduled, intensive mentoring aligned with tourism-service communication needs is effective in building basic Japanese literacy and supporting studentsAo functional communication readiness. Future implementation should strengthen the assessment system using detailed scoring rubrics and individual score documentation to provide more robust evidence of program impact and sustainability . Keyword: Industry Partnership. Japanese Language. Tourism Students. Tourism Service Communication ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Desember 2025 | 142 Supriadi. Jamaluddin. Ramli. , & Arianti. Pendampingan bahasa Jepang bagi mahasiswa pariwisata berbasis kemitraan ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 6. , 142Ae150. https://doi. org/10. 29408/ab. PENDAHULUAN Pariwisata merupakan sektor yang sangat bergantung pada kualitas layanan, dan kualitas layanan itu pada akhirnya banyak ditentukan oleh kualitas komunikasi. Di lapangan, kemampuan berbahasa asing tidak hanya berfungsi sebagai Aunilai tambahAy, tetapi menjadi bagian dari pengalaman wisata . ourist experienc. : wisatawan lebih mudah memahami informasi, merasa aman saat berinteraksi, dan cenderung menilai layanan sebagai profesional ketika komunikasi berjalan lancar. Dalam konteks Indonesia, arus kunjungan wisatawan mancanegara juga menunjukkan bahwa pasar AsiaAitermasuk JepangAimasih relevan dan perlu dilayani secara lebih serius. (BPS, 2. mencatat kunjungan wisatawan mancanegara asal Jepang ke Indonesia pada 2024 mencapai 338. 934 kunjungan. Secara konseptual, teori harapan dalam pelayanan pelanggan menekankan bahwa pemahaman bahasa dan budaya berperan penting dalam memenuhi bahkan melampaui ekspektasi pelanggan (Parasuraman , 2. Dalam praktiknya, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Jepang tidak hanya meningkatkan kualitas interaksi antara wisatawan dan penyedia layanan, tetapi juga membentuk persepsi wisatawan terhadap profesionalitas layanan serta reputasi destinasi sebagai tempat yang ramah dan profesional (Supriadi et al. , 2. Dengan demikian, pendampingan bahasa Jepang memiliki dimensi strategis, karena dapat memperkuat daya tarik destinasi melalui pengalaman layanan yang lebih baik. Pada saat yang sama, tren global menunjukkan bahwa wisatawan semakin mencari pengalaman yang otentik dan personal, yang banyak dipengaruhi oleh interaksi langsung dengan masyarakat lokal (Yeni, 2. Dalam konteks ini, kemampuan berbahasa Jepang berpotensi menjadi pembeda yang signifikan bagi destinasi wisata di Indonesia. Sejalan dengan itu. Kim dan Lee . menunjukkan bahwa wisatawan cenderung lebih puas dan memiliki niat kunjungan ulang yang lebih tinggi ketika mereka dapat berkomunikasi dengan mudah menggunakan bahasa mereka sendiri. Meskipun kebutuhan tersebut semakin jelas, masih terdapat kesenjangan antara pembelajaran bahasa asing dan praktik layanan pada sektor pariwisata. Kesenjangan ini tampak pada perbedaan antara pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran formal dan kemampuan komunikasi fungsional yang diperlukan di lapangan (Kanah et al. , 2. Walaupun banyak institusi pendidikan menawarkan pelatihan bahasa Jepang, implementasi di dunia kerja sering belum optimal karena kurangnya integrasi antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan industri yang dinamis (Muryati & Astuti, 2. Kondisi ini menunjukkan pentingnya model intervensi yang lebih aplikatif, berorientasi praktik, serta berkelanjutan agar peserta tidak hanya memahami materi bahasa, tetapi juga mampu menggunakannya dalam situasi layanan pariwisata yang nyata. Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan ini diarahkan untuk menjembatani kesenjangan teoriAepraktik melalui pengembangan model pendampingan bahasa Jepang yang efektif dan berkelanjutan, dengan menekankan relevansi materi terhadap kebutuhan komunikasi layanan di industri pariwisata (Setiawati & Budiarto, 2. Secara lebih spesifik, kegiatan ini berupaya mengidentifikasi kebutuhan komunikasi yang paling dibutuhkan dalam layanan pariwisata serta merancang pendampingan yang membantu peningkatan kompetensi peserta secara bertahap. Secara keseluruhan, kegiatan ini penting untuk menjawab tantangan industri pariwisata dalam memenuhi kebutuhan wisatawan Jepang, sekaligus berkontribusi ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Desember 2025 | 143 Supriadi. Jamaluddin. Ramli. , & Arianti. Pendampingan bahasa Jepang bagi mahasiswa pariwisata berbasis kemitraan ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 6. , 142Ae150. https://doi. org/10. 29408/ab. pada peningkatan kualitas layanan, penguatan daya saing destinasi, dan pengembangan kebijakan pendidikan bahasa asing yang lebih responsif terhadap kebutuhan industri METODE PELAKSANAAN Waktu dan Lokasi Kegiatan pengabdian dilaksanakan di Universitas Hamzanwadi selama 6 bulan, mulai Juli hingga akhir tahun. Program diselenggarakan melalui kemitraan dengan PT Ina Nippon Indonesia yang memiliki dasar kerja sama formal melalui perjanjian kelembagaan. Kemitraan ini menjadi landasan pelaksanaan pendampingan sekaligus penguatan aspek legal dan tata kelola program. Kegiatan difokuskan pada pendampingan Bahasa Jepang dasar yang mencakup Hiragana. Katakana, dan Kanji. Skema pembelajaran dirancang bertahap: setiap dua bulan peserta difokuskan pada satu keterampilan utama sebelum berlanjut ke keterampilan Evaluasi dilakukan setiap bulan untuk memantau perkembangan kemampuan Table 1. Jadwal pelaksanaan pelatihan Bahasa Jepang Bulan Keterampilan PIC Hari Juli Hiragana Agustus Instruktur Senin-Jumat September (Ruang . Katakana Oktober November Kanji Desember Peserta kegiatan berjumlah 23 orang, berasal dari Program Studi Pariwisata . emester 3, semester 5, dan alumn. Prosedur Pelaksanaan Persiapan Identifikasi kebutuhan dan tingkat kemampuan awal peserta untuk menentukan fokus materi dan strategi pendampingan. Sosialisasi program serta rekrutmen peserta melalui kanal internal kampus. Koordinasi pelaksanaan antara pihak universitas . rodi dan unit kerja sam. dan mitra Penetapan penanggung jawab dan instruktur dari pihak kampus dan mitra . ihat Tabel 3: Penanggung Jawab Kegiata. Penyusunan perangkat pembelajaran dan mekanisme evaluasi bulanan. Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan inti dilakukan melalui pembelajaran langsung dan latihan terstruktur. Materi disampaikan secara sistematis oleh instruktur, dengan metode yang bervariasi seperti penjelasan singkat, latihan individu, diskusi kelompok, serta simulasi percakapan. Variasi metode ini digunakan untuk menguatkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam konteks pembelajaran bahasa kedua. Interaksi aktif dalam bahasa target dipandang penting untuk mendorong kemajuan kemampuan berbahasa (Ellis, 2. Pelaksanaan pendampingan juga mempertimbangkan dinamika minat belajar bahasa ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Desember 2025 | 144 Supriadi. Jamaluddin. Ramli. , & Arianti. Pendampingan bahasa Jepang bagi mahasiswa pariwisata berbasis kemitraan ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 6. , 142Ae150. https://doi. org/10. 29408/ab. Jepang yang terus meningkat di Indonesia (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. , sehingga pembelajaran dibuat bertahap dan konsisten agar capaian lebih terukur. Evaluasi Kegiatan Evaluasi dilakukan secara berkala untuk menilai efektivitas program dan kemajuan Bentuk evaluasi mencakup: Tes tertulis . isalnya penguasaan huruf/kanji dan pemahaman mater. Wawancara/penilaian lisan untuk melihat kelancaran dan ketepatan penggunaan bahasa, dan/atau Observasi praktik . isalnya pada sesi simulas. Hasil evaluasi digunakan sebagai umpan balik untuk perbaikan pendampingan pada bulan berikutnya dan sebagai dasar rekomendasi pengembangan program. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Pelaksanaan pendampingan Bahasa Jepang dievaluasi secara berkala untuk memantau perkembangan peserta. Evaluasi dilakukan dua kali setiap bulan, dan setiap dua bulan difokuskan pada penguasaan satu keterampilan utama secara bertahap, yaitu Hiragana. Katakana, dan Kanji. Proses evaluasi menggunakan dua pendekatan. Pertama, evaluasi berbasis soal/latihan tertulis yang dikumpulkan peserta dan dinilai oleh instruktur. Kedua, evaluasi berupa wawancara . langsung oleh pihak Jepang yang dilaksanakan setiap tiga bulan. Skor evaluasi tertulis kemudian direkap, dihitung rata-ratanya, dan disajikan dalam bentuk tabel 2. berukut ini: Hasil Evaluasi Kemampuan Mahasiswa Agustus Oktober Desember Juli September November Hiragama Katakana Series1 Series2 Peningkatan Kemampuan Mahasiswa setiap Bulan Series1 Series2 Grafik 1. Perkembangan kemampuan peserta pada komponen Hiragana. Katakana, dan Kanji ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Desember 2025 | 145 Supriadi. Jamaluddin. Ramli. , & Arianti. Pendampingan bahasa Jepang bagi mahasiswa pariwisata berbasis kemitraan ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 6. , 142Ae150. https://doi. org/10. 29408/ab. Grafik 1 di atas menunjukkan kemampuan mahasiswa pada tiga keterampilan (Hiragana, katakana dan kanj. Pada awal bulan pertama pelaksanaan kemampuan mahasiswa dalam kategori minim kemampuan baik Hiragana, katakana dan kanji. Setelah pendampingan selama dua bulan mulai bulan Juli-Agustus (Hiragan. September-Oktober . November-Desember . Peningkatan kemampuan mahasiswa naik signifikan pada setiap keterampilan. Sejalan dengan kemampuan mahasiswa dalam tiga keterampilan bersama dengan kemampuan mahasiswa dalam komunikasi. Mereka mampu menyampaikan pendapat dan komunikasi sehari-hari. Hasil dari chart batang di atas diambil dari hasil rata-rata nilai peserta setiap evaluasi. Evaluasi awal menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan mahasiswa masih dalam kategori rendah. Kemudian pada evaluasi akhir menunjukkan adanya peningkatan kemampuan yang signifikan. Gambar 1. Bersama pihak jepang yang mewawancara peserta Gambar 2. Wawancara online tahap kedua ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Desember 2025 | 146 Supriadi. Jamaluddin. Ramli. , & Arianti. Pendampingan bahasa Jepang bagi mahasiswa pariwisata berbasis kemitraan ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 6. , 142Ae150. https://doi. org/10. 29408/ab. Gambar 3. Persiapan pendampingan Bahasa Jepang Bersama instruktur dan pihak Universitas Gambar 4. Pelaksanaan pendampingan di dalam kelas bersama instruktur PEMBAHASAN Pendampingan Bahasa Jepang bagi mahasiswa Program Studi Pariwisata merupakan program yang relatif baru. Pada tahap awal, sebagian besar mahasiswa masih memiliki pengetahuan yang terbatas tentang Bahasa Jepang. Hasil observasi sebelum pelatihan menunjukkan bahwa kemampuan peserta umumnya masih berada pada tingkat sangat dasar. sebagian besar hanya mengenal budaya dan sejumlah kosakata Jepang secara informal melalui anime serta interaksi dengan wisatawan yang pernah mereka temui. Bahkan, beberapa mahasiswa mengaku belum memiliki pengetahuan Bahasa Jepang sama sekali. Dalam kondisi tersebut, program pembelajaran tambahan kemudian dilaksanakan secara intensif selama enam bulan, dan perkembangan kemampuan peserta menunjukkan peningkatan yang nyata setelah mengikuti rangkaian pendampingan. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Desember 2025 | 147 Supriadi. Jamaluddin. Ramli. , & Arianti. Pendampingan bahasa Jepang bagi mahasiswa pariwisata berbasis kemitraan ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 6. , 142Ae150. https://doi. org/10. 29408/ab. Temuan ini sejalan dengan pengabdian yang dilakukan oleh Supriadi berjudul AuPeningkatan Kemampuan TOEFL melalui Pelatihan Intensif untuk Siswa Kelas 12 SMAS NW Ulil Albab GegekAy yang melaporkan bahwa kemampuan siswa meningkat melalui pertemuan langsung selama enam bulan (Supriadi, 2. Walaupun konteks dan target kompetensinya berbeda, kesamaan durasi pendampingan memperlihatkan bahwa program intensif dan berkelanjutan dalam rentang waktu beberapa bulan dapat memberikan dampak positif pada perkembangan kemampuan peserta. Hasil serupa juga dilaporkan dalam pengabdian oleh Andriyani dan rekan berjudul AuPelatihan Berkomunikasi Lisan Melalui Tata Bahasa Jepang bagi Pemandu Wisata Khusus di Kabupaten BangliAy, yang menunjukkan adanya peningkatan kemampuan komunikasi peserta setelah pelatihan (Andriyani. Rahayu, & Hartati, 2. Pelaksanaan program tersebut samasama berlangsung selama enam bulan, namun terdapat perbedaan pada intensitas jadwal: pendampingan di Universitas Hamzanwadi dilakukan lima hari dalam seminggu, sedangkan program Andriyani dkk. dilaksanakan dua hari pada akhir pekan. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa desain intensitas pelatihan dapat bervariasi, tetapi tetap berpotensi efektif selama pembelajaran berlangsung konsisten dan terstruktur. Dalam industri pariwisata saat ini, penguasaan bahasa asing merupakan kebutuhan penting, tidak terbatas pada Bahasa Inggris, tetapi juga bahasa lain sesuai segmen wisatawan. Penguasaan bahasa wisatawan dapat memperkuat kedekatan komunikasi dengan penutur asli sehingga relasi layanan menjadi lebih personal dan berpeluang meningkatkan pengalaman wisata (Sundayra & Nurita, 2. Karena itu, program pendampingan seperti ini perlu didorong agar pelaksanaannya lebih luas dan berkelanjutan. Selain untuk mendukung layanan wisata, pelatihan bahasa Jepang juga relevan dengan dinamika demografi beberapa negara yang mengalami aging population, termasuk Jepang. Kondisi penuaan penduduk dan rendahnya angka kelahiran berdampak pada kebutuhan tenaga kerja produktif, termasuk pada sektor layanan. Dalam konteks ini, pelatihan bahasa dan pengenalan budaya Jepang menjadi penting agar calon tenaga kerja tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga mampu berkomunikasi sesuai konteks sosial-budaya di lingkungan kerja (Wijayanti. Poetranto, & Saharjo, 2. Dengan demikian, pendampingan Bahasa Jepang bagi mahasiswa pariwisata dapat dipandang sebagai strategi penguatan kompetensi yang relevan bagi kebutuhan layanan pariwisata sekaligus kesiapan SDM pada peluang kerja yang lebih luas. SIMPULAN Berdasarkan hasil evaluasi selama enam bulan pendampingan, kemampuan mahasiswa dalam penguasaan dasar Bahasa Jepang menunjukkan peningkatan yang konsisten pada tiga komponen utama, yaitu Hiragana. Katakana, dan Kanji. Perbandingan capaian awal dan akhir program memperlihatkan adanya perbaikan kemampuan pada setiap komponen, yang mengindikasikan bahwa pendampingan berjenjang disertai evaluasi berkala efektif membantu mahasiswa memperkuat fondasi literasi bahasa Jepang. Temuan ini menegaskan bahwa program pendampingan yang terstruktur dapat menjadi strategi yang relevan untuk meningkatkan penguasaan sistem penulisan dasar, sebagai prasyarat penting menuju keterampilan bahasa Jepang yang lebih lanjut, termasuk pengembangan kosakata, pemahaman bacaan, dan komunikasi fungsional. Secara praktis, peningkatan penguasaan Hiragana. Katakana, dan Kanji juga menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya mengenali karakter. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Desember 2025 | 148 Supriadi. Jamaluddin. Ramli. , & Arianti. Pendampingan bahasa Jepang bagi mahasiswa pariwisata berbasis kemitraan ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 6. , 142Ae150. https://doi. org/10. 29408/ab. tetapi semakin terampil menerapkannya dalam konteks latihan pembelajaran. Ke depan, program serupa disarankan melengkapi evaluasi dengan instrumen yang lebih rinciAimisalnya rubrik penilaian dan dokumentasi skor per pesertaAiagar peningkatan kemampuan dapat dipotret lebih komprehensif dan mendukung analisis yang lebih kuat. PERNYATAAN PENULIS Para penulis dengan ini menyatakan bahwa naskah ini belum pernah dipublikasikan dan saat ini tidak sedang dipertimbangkan untuk dipublikasikan di jurnal lain mana pun. DAFTAR PUSTAKA