Available at: https://stt-su. id/e-journal/index. php/immanuel/index Volume 7. No 1. April 2026 . DOI: https://doi. org/10. 46305/im. e-ISSN 2721-432X p-ISSN 2721-6020 Suksesi Kepemimpinan Gereja dalam Penggembalaan Monarkhi: Kritik Teologi atas Dimensi Etis-Teologis Michael Sofian Tanuhendrata, 2Andreas Eko Nugroho, 3Kornelius Rulli Jonathans 1, 2, 3 Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way. Jakarta sofian@gmail. Abstract: Church leadership succession is a crucial issue in ensuring continuity of service, stability of pastoral care, and the sustainability of the church's mission amid the dynamics of modern society. Monarchical leadership practices that place a single figure in power often pose ethical and theological challenges, especially when leadership transitions are not carried out transparently. Unclear succession procedures have the potential to cause internal conflict and weaken the integrity of church ministry. This phenomenon can be seen in various cases of churches facing succession turmoil due to a lack of ethical-theological principles to guide them. This study aims to analyse the ethical and theological dimensions of church leadership succession practices based on monarchical pastoral care. The research method used is qualitative with a literature study approach. This study concludes that church leadership succession from a biblical theological perspective emphasises the importance of leadership based on moral and spiritual principles. The monarchical pastoral model offers advantages in terms of continuity of service, but also presents problems if the succession practice is not transparent and fair. Therefore, theological criticism of monarchical practices emphasises the need for a structured ethical-theological approach to ensure the continuity of the church's mission and the integrity of pastoral care. Keywords: Leadership succession. monarchical pastoral care. church ethics. leadership theology. Abstrak: Suksesi kepemimpinan gereja menjadi isu krusial dalam memastikan kesinambungan pelayanan, stabilitas penggembalaan, dan keberlangsungan misi gereja di tengah dinamika masyarakat modern. Praktik kepemimpinan monarkhi yang menempatkan figur tunggal seringkali menimbulkan tantangan etis dan teologis, terutama ketika transisi kepemimpinan tidak dijalankan secara transparan. Ketidakjelasan prosedur suksesi berpotensi menimbulkan konflik internal dan melemahkan integritas pelayanan gereja. Fenomena ini terlihat pada berbagai kasus gereja yang menghadapi gejolak suksesi akibat minimnya prinsip etis-teologis yang dijadikan pedoman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi etis dan teologis dalam praktik suksesi kepemimpinan gereja berlandaskan penggembalaan monarkhi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, dan wawancara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa suksesi kepemimpinan gereja dalam perspektif teologi Alkitabiah menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan prinsip moral dan spiritual. Model penggembalaan monarkhi menawarkan keunggulan dalam kontinuitas pelayanan, namun juga menghadirkan problematika jika praktik suksesi tidak transparan dan adil. kritik teologis terhadap praktik monarkhi menegaskan perlunya pendekatan etis-teologis yang terstruktur untuk memastikan keberlangsungan misi gereja dan integritas penggembalaan. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 34 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 Kata kunci: Suksesi kepemimpinan. penggembalaan monarkhi. etika gereja. teologi kepemimpinan. praktik gerejawi. Pendahuluan Suksesi kepemimpinan dalam gereja selalu menjadi isu penting dalam menjaga kesinambungan pelayanan, stabilitas penggembalaan, serta keberlangsungan misi gereja di tengah masyarakat modern saat ini. Seperti yang terjadi di aras utama gereja beraliran pentakosta, terutama pada masa-masa yang penuh tantangan, perencanaan suksesi kepemimpinan yang strategis menjadi hal yang sangat krusial. Persiapan pemimpin baru melalui proses suksesi yang kontekstual dan terstruktur dengan baik merupakan kunci bagi keberhasilan kepemimpinan di masa mendatang. 1 Adanya pola suksesi kepemimpinan dalam gereja apostolik memberikan kerangka acuan untuk menilai praktik-praktik Fokus pada sumber-sumber Alkitab dan tulisan para Bapa Gereja menekankan pentingnya pendekatan yang terstruktur dan berprinsip untuk mencapai 2 Namun, pola penggembalaan monarkhi yang menempatkan figur pemimpin tunggal seringkali menimbulkan persoalan serius, terutama ketika transisi kepemimpinan tidak dijalankan secara transparan dan sesuai prinsip Alkitabiah. Perencanaan suksesi kepemimpinan dalam gereja yang strategis, terstruktur, dan berprinsip, sambil menghindari model monarkhi yang tidak transparan, menjadi kunci untuk memastikan kesinambungan pelayanan, stabilitas penggembalaan, dan keberhasilan misi gereja di era modern. Suksesi Kepemimpinan Gereja terkadang terhalang dengan faktor-faktor di dalam maupun diluar gereja, seperti yang diungkapkan oleh Eddie Gibbs di mana keteguhan kepemimpinan alkitabiah tidak dapat ditemukan pada sosok yang lemah atau tidak setia, karena Yosua yang telah lama menjadi tangan kanan Musa justru menghadapi tanggung jawab besar saat Israel memasuki Tanah Perjanjian. tanpa kepemimpinannya yang kokoh, bangsa yang belum berpengalaman ini akan gagal menghadapi gejolak suksesi dan mempertahankan identitas yang dibentuk melalui hubungan perjanjian Allah. 3 Setiap kepemimpinan memiliki batas waktu dan tujuan tertentu, dan baik Musa maupun Yosua dipilih oleh Tuhan untuk mewujudkan maksud-Nya atas umat-Nya, dengan kepribadian dan kesadaran ilahi sebagai faktor utama dalam kepemimpinan mereka. Musa memimpin Israel keluar dari Mesir dengan visi ilahi untuk mengenalkan hukum Tuhan dan menegakkan janji Tuhan kepada Abraham dan keturunannya, sehingga dari satu keluarga kecil terbentuklah bangsa yang besar. Sebagai nabi dan pemimpin rohani. Musa menjadi perantara komunikasi langsung antara Tuhan dan umat-Nya, menegaskan bahwa Mikha Agus Widiyanto and Yohanes Parapat. AuSuksesi Kepemimpinan Pentakostal Di Era Disruptif,Ay Kurios 7, no. 1 (May 2, 2. : 29Ae41, https://doi. org/10. 30995/kur. 2 Cephas Tushima. AuLeadership Succession Patterns in the Apostolic Church as a Template for Critique of Contemporary Charismatic Leadership Succession Patterns,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 72, no. : 8, https://doi. org/10. 4102/hts. 3 Eddie Gibbs. Kepemimpinan Gereja Masa Mendatang (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 150. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 35 M. Tanuhendrata. Nugroho. Jonathans: Suksesi Kepemimpinan Gereja A kepemimpinannya adalah wujud penyampaian pimpinan dan kehendak Tuhan di tengah perjalanan Israel di padang gurun. 4 Penjelasan di atas dalam kepemimpinan gereja maka suksesi kepemimpinan harus direncanakan dalam perencanaan yang benar, hal ini sangat penting untuk stabilitas gereja. 5 Untuk itu suksesi kepemimpinan gereja perlu direncanakan secara matang dan strategis untuk memastikan stabilitas, keberlanjutan pelayanan, serta penerusan visi dan pimpinan Tuhan dalam gereja. Dasar teologis mengenai suksesi kepemimpinan gereja dalam penggembalaan monarkhi berakar pada prinsip etis dan tanggung jawab rohani yang diajarkan Alkitab. Keluaran 18:21 menegaskan bahwa kepemimpinan harus diberikan kepada orang yang takut akan Allah, dapat dipercaya, dan menjauhi suap, sehingga aspek moral menjadi syarat utama seorang pemimpin. Mazmur 78:70Ae72 menunjukkan bahwa Daud dipilih bukan menggembalakan umat, menekankan bahwa pemimpin sejati dipanggil untuk melayani dengan hati yang murni. 6 Bahkan Yeremia 23:1Ae2 menghadirkan kritik tajam bagi gembala yang mengabaikan tanggung jawabnya, sekaligus memperingatkan bahwa Tuhan menuntut pertanggungjawaban etis dari para pemimpin. 7 Prinsip ini dipertegas dalam 1 Petrus 5:2Ae3 yang menolak pola kepemimpinan otoritarian, melainkan mengajarkan penggembalaan yang tulus, penuh kerendahan hati, dan teladan hidup. Sementara itu, 2 Timotius 2:2 menekankan pentingnya suksesi yang sehat melalui pemuridan, yakni mempercayakan tugas kepada orang yang setia dan cakap. Dengan demikian, suksesi kepemimpinan dalam gereja seharusnya tidak sekadar bersifat monarkhi formal, melainkan harus mencerminkan nilai etis-teologis yang alkitabiah, yakni kepemimpinan yang berakar pada karakter, 8 tanggung jawab rohani, dan keteladanan Kristus. Fenomena yang memperkuat persoalan suksesi ini dapat ditemukan pada dinamika gereja kontemporer saat ini, di mana praktik penggembalaan monarkhi masih kuat Tri Prasetya and Herman Simarmata. AuSuksesi Kepemimpinan Musa Kepada Yosua Sebagai Pola Ideal Suksesi Kepemimpinan Gereja,Ay THRONOS: Jurnal Teologi Kristen 3, no. 48Ae58. 5 Kepha Nyamweya Omae and Gladys Gakenia Njoroge. AuThe Effect of Leadership Succession Planning on the Stability of Evangelical Churches in Nairobi County. Kenya,Ay Eastern African Journal of Humanities and Social Sciences 3, no. 1 (June 11, 2. : 80Ae95, https://doi. org/10. 58721/eajhss. 6 Steven Tugabus. AuMakna Kepemimpinan Daud Dalam Perjanjian Lama,Ay KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen Dan Pemberdayaan Jemaat 1, no. : 56Ae67. 7 Ferdinandus Butarbutar. AuSignifikansi Responsibilitas Dan Akuntabilitas Sebagai Pilar Utama Dalam Kepemimpinan Kristen Yang Beretika,Ay YADA: Jurnal Teologi Biblika Dan Reformasi 2, 2 . : 68Ae86. 8 Muh Syilfa Nooviar et al. AuIntegrasi Kearifan Lokal Suku Bugis Dalam Pendidikan: Membentuk Karakter Dan Pengembangan Kepemimpinan Berkelanjutan Di Sekolah,Ay Jurnal Riset Dan Inovasi Pembelajaran 4, no. : 2029Ae40. 9 Fransiscus Xaferius Wanggai. Sutikto Sutikto, and Roberth Ruland Marini. AuImplementasi Keteladanan Pemimpin Rohani Berdasarkan Filipi 2: 1-8 Bagi Gembala Gereja Pentakosta Di Papua Klasis Mimika,Ay Manna Rafflesia 8, no. : 265Ae86. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 36 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 dipertahankan, terutama pada gereja-gereja dengan struktur kepemimpinan paternalistik. Seperti kasus konflik antar pemimpin Gereja Bethany Nginden Surabaya menunjukkan bahwa kepemimpinan gereja tidak selalu harmonis dan dapat terhambat oleh perselisihan Pdt. DAT justru berseteru dengan ayahnya sendiri. Pdt. AAT- yang menempatkan kepentingan pribadi di atas stabilitas jemaat. Gugatan yang diajukan terhadap ayahnya terkait pencabutan jabatan gembala menandakan kegagalan komunikasi dan transparansi dalam pengambilan keputusan. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa tanpa mekanisme penyelesaian konflik yang jelas, suksesi dan kepemimpinan gereja berpotensi terganggu dan merugikan semua pihak. 10 Bahkan kasus-kasus perpecahan jemaat, konflik internal mengenai pewarisan kepemimpinan, dan krisis spiritualitas umat yang timbul dari transisi yang tidak sehat menunjukkan bahwa isu suksesi kepemimpinan tidak sekadar administratif, tetapi berdampak langsung pada spiritualitas dan kesaksian gereja. Realitas ini menegaskan bahwa persoalan kepemimpinan gereja memerlukan analisis teologis yang kritis agar tetap selaras dengan etika Injili dan mandat alkitabiah. Fenomena lain yang berkaitan dengan suksesi ini dapat dilihat dari proses pergantian kepemimpinan pada gereja Jakarta Praise Community Church (JPCC). Pdt. menyerahkan estafet kepemimpinan gereja kepada wakilnya yang lebih muda Pdt. JC. Dari hasil wawancara dinyatakan bahwa suksesi ini berlangsung pada saat gereja JPCC sedang dalam keadaan yang baik dan sedang bertumbuh secara sehat. Pdt. JR mengatakan bahwa gereja perlu memikirkan regenerasi kepemimpinan agar dapat terus bertumbuh dan mengikuti perkembangan jaman. Lebih jauh Pdt. JR mengatakan: AuSebagai pemimpin, kita bukanlah pemilik, tetapi pengelola yang dipercayakan oleh Tuhan. Menjadi gembala adalah panggilan untuk memperoleh dan mewariskan amanah Tuhan dengan integritas. Jadi siapapun bisa menjadi pemimpin selama dia punya kapasitas, kemampuan, panggilan dan integritas yang baikAy11 Berkaitan dengan penelitian tema ini pernah diteliti oleh Yuslina Halawa. Apia Ahalapada, dan Jonidius Illu dalam penelitiannya membahas bahwa dalam menghadapi arus transformasi digital yang cepat dan disrupsi yang kompleks, kepemimpinan gereja dituntut untuk mengintegrasikan strategi bijak, fleksibilitas, dan visi jangka panjang demi menjaga keberlanjutan pelayanan. 12 Partisipasi lintas generasi menjadi kunci dalam membangun regenerasi kepemimpinan, dengan generasi tua memberikan bimbingan berpengalaman dan generasi muda membawa inovasi serta relevansi kontekstual. Konflik antargenerasi dan perbedaan pandangan teologis dapat disikapi melalui dialog konstruktif. Lori. AuKonflik GBI Nginden. Anak Ayah Saling Gugat,Ay jawaban. com, 2014, https://w. com/read/article/id/2014/10/07/90/141007144219/Konflik-GBI-Nginden,-AnakAyah-Saling-Gugat. 11 Jeffrey Rachmat. AuGereja. Kerajaanku Atau Kerajaan Allah? Suksesi Pemimpin dan Masa Depan GerejaAy Jakarta. 9 oktober 2025. 12 Yuslina Halawa. Apia Ahalapada, and Jonidius Illu. AuMembangun Kepemimpinan Gereja Yang Berkelanjutan: Menyikapi Tantangan Regenerasi Dan Konflik Sinode,Ay Jurnal Riset Rumpun Agama Dan Filsafat 4, no. : 582Ae93. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 37 M. Tanuhendrata. Nugroho. Jonathans: Suksesi Kepemimpinan Gereja A keselarasan nilai, dan kepemimpinan transformasional yang menekankan kasih, solidaritas, dan inklusivitas. Pemimpin Kristen modern harus responsif terhadap perkembangan teknologi dan media digital, sehingga visi dan misi gereja tetap tangguh dan adaptif di tengah perubahan zaman. 13 Penelitian lain yang senada juga dinyatakan dalam penelitiannya Johanes Perdamean Siahaan, bahwa kepemimpinan penggembalaan merupakan bentuk kepemimpinan rohani yang menuntut panggilan khusus, tanggung jawab, dan komitmen untuk membimbing pertumbuhan spiritual jemaat, bukan sekadar jabatan atau profesi. 14 Model regenerasi kepemimpinan yang diwariskan, seperti melalui keluarga atau kedekatan personal, dapat menjaga kesinambungan visi dan stabilitas gereja, namun berisiko menimbulkan nepotisme dan mengabaikan kualifikasi spiritual serta kapasitas pemimpin yang sejati. Oleh karena itu, regenerasi penggembalaan sebaiknya didasarkan pada standar kualifikasi yang jelas agar kepemimpinan berikutnya mampu memajukan gereja secara sehat dan relevan dengan perkembangan zaman. Berdasarkan latar belakang masalah dan fenomena serta penelitian terdahulu atau research gap dari kajian ini terletak pada kurangnya penelitian teologis yang secara eksplisit menyoroti relasi antara suksesi kepemimpinan, pola penggembalaan monarkhi, dan dimensi etis-teologis dalam kerangka kritik teologi praktika. Banyak studi sebelumnya hanya bersifat penekanan aspek teologis dari personal antara tokoh satu ke tokoh lain dalam alkitab, namun belum cukup menggali persoalan etika teologis yang muncul dari praktik suksesi dalam konteks penggembalaan monarkhi. Untuk itu penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan akademik tersebut dengan menawarkan kerangka kritik teologi yang mendalam, sehingga dapat memberikan kontribusi konseptual bagi pembaruan praktik kepemimpinan gereja yang lebih sesuai dengan prinsip Alkitabiah dan tuntutan etisteologis. Penelitian ini bertujuan untuk secara komprehensif penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi etis dan teologis dari praktik suksesi kepemimpinan gereja yang berakar pada model penggembalaan monarkhi, yaitu pola kepemimpinan yang terpusat pada figur gembala tunggal sebagai otoritas tertinggi dalam jemaat. Dalam analisis ini, fokus diarahkan pada bagaimana prinsip-prinsip etika dan teologi berinteraksi dalam menentukan legitimasi serta dinamika regenerasi kepemimpinan rohani di tengah konteks gereja masa kini. Selain itu, penelitian ini juga menelaah implikasi yang muncul dari penerapan model penggembalaan monarkhi terhadap keberlanjutan visi dan misi gereja, termasuk potensi kesenjangan antara panggilan rohani dan kualifikasi kepemimpinan yang dibutuhkan dalam pelayanan. Dengan demikian, kajian ini berupaya mengungkap sejauh mana model kepemimpinan monarkhi mampu mempertahankan integritas teologis. Halawa. Ahalapada, and Illu. Johanes Perdamean Siahaan. AuPandangan Jemaat Terhadap Penggembalaan Yang DiwariskanAy (Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti Malang, 2. , 2Ae5, https://media. com/media/publications/618640-pandangan-jemaat-terhadap-penggembalaanfcd94111. 15 Siahaan, 6. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 38 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 relevansi etis, dan efektivitas misiologis gereja dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. Selain itu, penelitian ini juga menelaah implikasi praktik tersebut terhadap keberlanjutan visi dan misi gereja, termasuk potensi tantangan seperti nepotisme, konflik kepentingan, dan kesenjangan antara panggilan rohani dengan kualifikasi pemimpin. II. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. dan wawancara dengan para pemimpin gereja hal itu untuk mengeksplorasi suksesi kepemimpinan gereja dalam penggembalaan monarkhi dari perspektif etis-teologis. Sumber penelitian meliputi Alkitab, tulisan para Bapa Gereja, literatur teologi kontemporer, buku-buku tentang kepemimpinan gerejawi, serta jurnal akademik terkait praktik monarkhi dan etika kepemimpinan. Penelitian ini dimulai dengan kajian ini menelusuri suksesi kepemimpinan gereja dalam perspektif teologi Alkitabiah sebagai dasar normatif bagi regenerasi rohani yang berlandaskan panggilan ilahi dan prinsip pelayanan yang setia. Selanjutnya, penelitian ini mengulas model penggembalaan monarkhi sebagai bentuk kepemimpinan yang terpusat, sekaligus menyajikan kritik teologis terhadap praktik suksesi Selanjutnya, penggembalaan monarkhi, mengevaluasi keunggulan dan problematikanya, serta menyoroti dimensi etis yang terkait dengan proses suksesi kepemimpinan. Pada akhirnya, penelitian ini membahas kritik teologis terhadap praktik suksesi dalam penggembalaan monarkhi untuk merumuskan kerangka evaluatif yang berlandaskan prinsip etis dan i. Hasil dan Pembahasan Suksesi Kepemimpinan Gereja dalam Perspektif Teologi Alkitabiah Suksesi kepemimpinan gereja merupakan topik yang krusial dalam teologi Alkitabiah karena menyentuh bagaimana gereja mempertahankan kontinuitas pelayanan, pertumbuhan rohani, dan stabilitas organisasi melalui pergantian pemimpin. Hal ini secara nyata dilandaskan pada seorang pemimpin perlu menyadari bahwa waktu dan faktor usia tidak bisa dihindari, sehingga ia harus bersiap untuk digantikan dan menentukan pengganti yang layak bagi kepemimpinan yang ditinggalkannya. 16 Maka itu suksesi kepemimpinan, terutama dalam konteks kepemimpinan rohani, dapat ditelaah berdasarkan perspektif Alkitab. Oleh karena itu, calon pemimpin ideal seharusnya memenuhi kriteria tertentu, yaitu memiliki takut akan Tuhan, bijaksana, peduli terhadap jemaat, serta menunjukkan sikap adil, jujur, dan berintegritas. 17 Perlunya gereja dan kepemimpinan untuk mencari calon pemimpin yang dipersiapkan, di mana seorang pemimpin senior sebaiknya memiliki Puji Swismanto. AuYosua Sebagai Model Hamba Tuhan Dalam Suksesi Kepemimpinan,Ay Sabda: Jurnal Teologi Kristen, 2021, https://doi. org/10. 55097/sabda. 17 Agus Prayitno. AuSuksesi Kepemimpinan Kristen,Ay FILADELFIA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 3, no. : 338Ae60, https://doi. org/10. 55772/filadelfia. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 39 M. Tanuhendrata. Nugroho. Jonathans: Suksesi Kepemimpinan Gereja A kemampuan dan kepekaan untuk menangkap konfirmasi dari Allah. Selain persiapan yang bersifat ilahi. Alkitab juga menunjukkan bahwa Allah, dalam kedaulatan-Nya, mempersiapkan seorang pemimpin dengan memanfaatkan manusia sebagai sarana untuk membimbing, melatih, dan memuridkan, sehingga calon pemimpin tersebut mampu meneruskan visi dan misi Allah bagi lembaga atau gereja yang dipimpinnya. 18 Seperti yang diungkapakan oleh. Mikha Agus Widiyanto sesungguhnya kepemimpinan itu harus memiliki perencanaan dalam menyiapkan pemimpin baru bagi gereja menjadi faktor yang paling dominan mempengaruhi suksesi kepemimpinan. 19 Bila melihat secara konfrehensif prinsip suksesi kepemimpinan telah terlihat sejak Perjanjian Lama, di mana Allah memanggil dan menempatkan hamba-hamba-Nya untuk memimpin umat-Nya. Contoh yang sering diungkapkan adalah Musa, yang memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan menyiapkan Yosua sebagai penerusnya (Bil 27:18-. Di sini terlihat bahwa suksesi kepemimpinan bukan semata-mata pewarisan posisi secara administratif, tetapi proses yang melibatkan persiapan, penetapan oleh otoritas ilahi, dan pengakuan dari komunitas yang Prinsip ini menekankan tanggung jawab moral dan spiritual pemimpin dalam membimbing umat serta pentingnya penerus yang memiliki kemampuan dan panggilan yang sejati dari Allah. Namun dalam Perjanjian Baru, suksesi kepemimpinan juga memiliki dasar yang kuat, terutama melalui ajaran dan praktik Yesus Kristus serta para rasul. Dengan meneladani kepemimpinan Yesus Kristus dalam mempersiapkan pengganti melalui proses suksesi, gembala jemaat diharapkan mampu menjalankan peran-peran penting, seperti memperlengkapi calon pemimpin, memberikan penugasan, melakukan evaluasi kinerja, serta mendelegasikan tanggung jawab, sekaligus menjadi teladan dalam kehidupan 20 Tentunya dalam kepemimpinan Yesus yang mengutus murid-murid-Nya untuk meneruskan pelayanan-Nya, membentuk komunitas yang berlandaskan pada nilai kesetiaan kepada Tuhan. Bahkan Paulus Yang menjadi pembina Timotius menekankan pentingnya pemimpin gereja yang layak dan berdedikasi, yang mampu membimbing jemaat secara benar dan menjaga integritas doktrin . Tim 3:1-7. Tit 1:5-. Hal ini menunjukkan bahwa suksesi kepemimpinan dalam konteks Perjanjian Baru tidak hanya terkait dengan aspek administratif, tetapi juga dengan kualitas rohani, karakter, dan kemampuan pembinaan jemaat. Pemimpin yang dipilih harus memenuhi standar tertentu, baik dari sisi integritas moral, pengajaran, maupun pengalaman spiritual, agar kesinambungan pelayanan gereja tetap terjaga. Karlitu Dias Markes. AuSuksesi Kepemimpinan Musa Kepada Yosua Sebagai Model Regenerasi Kepemimpinan Kristen Masa Kini,Ay Bonafide: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 2, no. : 214Ae36. 19 Mikha Agus Widiyanto and Yohanes Parapat. AuSuksesi Kepemimpinan Pentakostal Di Era Disruptif,Ay KURIOS (Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kriste. 7, no. : 29Ae41. 20 Yohanes Parapat. AuFungsi Gembala Jemaat Dalam Suksesi - Refleksi Atas Kepemimpinan Yesus Pada Model Gereja Otonomi,Ay HARVESTER: Jurnal Teologi Dan Kepemimpinan Kristen, 2020, https://doi. org/10. 52104/harvester. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 40 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 Gereja modern dihadapkan pada tantangan regenerasi kepemimpinan yang kompleks, termasuk perbedaan pandangan jemaat, dinamika sosial-budaya, serta kebutuhan untuk tetap relevan di era digital. Dengan merujuk pada teladan Alkitab, gereja dapat mengembangkan sistem suksesi kepemimpinan yang memastikan penerus memiliki kualifikasi spiritual, kompetensi kepemimpinan, serta pemahaman yang mendalam terhadap misi dan visi gereja. Walaupun memang ada minusnya terkait kurangnya prioritas dalam regenerasi kepemimpinan telah menyebabkan generasi muda merasa terasing, karena mereka sering tidak termasuk dalam rencana pembangunan gereja. Pengecualian ini dapat mengakibatkan kesenjangan generasi yang secara tidak langsung memecah belah komunitas orang percaya. 21 Apalagi kepemimpinan antargenerasi di dalam gereja ditandai dengan perbedaan pandangan dan nilai antara generasi yang lebih tua dan yang lebih muda, yang dapat menyebabkan ketegangan dan konflik. Dengan demikian, suksesi kepemimpinan bukan sekadar pergantian figur, tetapi sebuah proses strategis yang menggabungkan kehendak Allah, bimbingan rohani, dan partisipasi komunitas gereja untuk menjamin pertumbuhan spiritual dan keberlanjutan misi gereja di masa depan. Penggembalaan Monarkhi: Model. Keunggulan dan Problematikanya Penggembalaan monarkhi adalah pola kepemimpinan gereja yang berpusat pada figur tunggal seorang gembala atau pemimpin jemaat. Dalam model ini, gembala memiliki otoritas tertinggi dalam pengambilan keputusan, pembinaan rohani, hingga pengelolaan organisasi gereja. Sebab bila melihat secara keseluruhan dalam 1 Petrus 5:3. Rasul Petrus mengajarkan kepada para penatua agar dalam menggembalakan mereka jangan bertindak dengan otoriter, memaksakan kehendak mereka untuk diikuti oleh jemaat-jemaat di Asia Kecil tetapi sebaliknya mereka harus menjadi teladan. 23 1 Petrus 5:3 juga menegaskan bahwa kepemimpinan dalam jemaat tidak boleh dijalankan dengan cara menguasai atau memerintah secara otoriter, melainkan melalui keteladanan hidup yang mencerminkan karakter Kristus. Secara teologis, ayat ini menghadirkan paradigma kepemimpinan pastoral yang berakar pada kerendahan hati dan pelayanan, di mana seorang gembala dipanggil bukan untuk menunjukkan superioritas, tetapi untuk mewujudkan kasih Allah melalui tindakan nyata. Dengan demikian, kepemimpinan gerejawi dipahami sebagai partisipasi dalam karya Kristus Sang Gembala Agung, yang memimpin umat bukan dengan paksaan, melainkan dengan memberi diri sebagai contoh hidup yang layak diteladani. Walaupun Georges Nicolas Djone et al. AuAnalysis of Patterns of Leadership Regeneration with the Church Today,Ay East Asian Journal of Multidisciplinary Research 1, no. 7 (August 31, 2. : 1419Ae28, https://doi. org/10. 55927/eajmr. 22 Heintje Barry Kobstan and Markus Lewi Sasonto. AuKompleksitas Kepemimpinan Kristen Antargenerasi Dalam Konteks Kontemporer,Ay Jurnal Penggerak 5, no. 2 (December 31, 2. : 120Ae87, https://doi. org/10. 62042/jtp. 23 Yesri Esau Talan. Dyulius Thomas Bilo, and Anita Yumbu Tomusu. AuAnalisis PrinsipPrinsip Penggembalaan Berdasarkan 1 Petrus 5:1-3 Dan Implementasinya Masa Kini,Ay Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) 5, no. : 155Ae67, https://doi. org/10. 37364/jireh. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 41 M. Tanuhendrata. Nugroho. Jonathans: Suksesi Kepemimpinan Gereja A karakteristik utamanya terletak pada sentralisasi kepemimpinan, di mana figur gembala dianggap sebagai wakil Allah yang membimbing jemaat dalam iman dan kehidupan seharihari. Pola ini banyak dijumpai dalam tradisi gereja tertentu yang menekankan kuatnya otoritas gembala sebagai pusat dari kehidupan bergereja. Seperti yang disampaikan dalam wawancara dengan Pdt. PS, bahwa kepemimpinan otoriter menjadi bagian gereja yang memang sengaja dirintis dan diusahakan sencara mandiri. 24 Seiirama dengan hal itu Pdm. TM sebagai gembala GSJPdI di Jatinegara, mengungkapkan bahwa penggembalaan di gereja lokal dalam konteks penggembalaan monarkhi, sering kali gembala lokal memegang otoritas penuh sehingga pola kepemimpinannya menjadi otoriter dan sulit dikritisi. Akibatnya, proses regenerasi dan suksesi kepemimpinan terhambat karena kepemimpinan tidak dapat dialihkan secara sehat kepada penerus yang layak. Kondisi ini menimbulkan ketegangan etis-teologis karena hanya bisa diteruskan kepada keluarganya. Model penggembalaan monarkhi memiliki sejumlah keunggulan yang dapat Pertama, memungkinkan adanya kejelasan visi dan arah pelayanan. Gembala yang kuat mampu memberikan panduan yang konsisten dan terarah dalam menuntun jemaat menghadapi tantangan zaman. 26 Kedua, model ini sering menumbuhkan ikatan emosional yang erat antara gembala dan jemaat. Jemaat merasa dilindungi, diperhatikan, dan memiliki figur yang dapat diandalkan sebagai pemimpin rohani. 27 Ketiga, pola ini dapat mempercepat pengambilan keputusan karena tidak melalui proses birokratis yang panjang. Hal ini memberi keuntungan dalam situasi tertentu yang membutuhkan respons cepat, terutama dalam menghadapi krisis atau dinamika internal jemaat. Namun, pola penggembalaan monarkhi tidak lepas dari problematika. Sentralisasi kekuasaan yang terlalu kuat berpotensi melahirkan praktik otoritarianisme. 28 Gembala yang memonopoli keputusan berisiko mengabaikan partisipasi jemaat dan rekan sekerja dalam pelayanan. Hal ini dapat menimbulkan ketidakseimbangan relasi antara gembala dan jemaat, di mana jemaat hanya menjadi objek pelayanan, bukan subjek yang turut ambil bagian dalam kehidupan bergereja. Petrus Suparno. AuPenggembalaan Gereja GPdI Apakah Bersifat AbsolutAy (Lampung. Timotius Mualim. AuPenggembalaan Gereja GSJPdI Apakah Bersifat AbsolutAy (Jakarta Timur, 2. 26 Adelia Tamo Ina and Yeremia Hia. AuPembinaan Jemaat Sebagai Wujud Peran Gembala Dalam Membangun Kedewasaan Rohani,Ay Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen Dan Katolik 3, no. : 91Ae112. 27 Felipus Nubatonis. AuPentingnya Kepemimpinan Jemaat Dan Motivasi Dalam Pelayanan Untuk Kedewasaan Rohani Jemaat,Ay Voice of HAMI: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 3, 2 . : 67Ae84. 28 Yusa Farchan and others. AuDinamika Sistem Politik Otoritarianisme Orde Baru,Ay Jurnal Adhikari 1, no. : 152Ae61. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 42 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 Selain itu, risiko penyalahgunaan wewenang juga menjadi problem serius dalam pola ini. Tidak jarang muncul kasus di mana figur gembala menjadi terlalu dominan sehingga membatasi ruang kebebasan jemaat untuk berkembang. Problematika lain adalah munculnya ketergantungan jemaat yang berlebihan pada figur gembala. 30 Jemaat sering kali sulit mandiri dalam menghidupi iman dan terlalu mengandalkan keputusan serta arahan pemimpin. Dalam jangka panjang, hal ini dapat melemahkan pertumbuhan iman jemaat karena mereka tidak dilatih untuk mengambil tanggung jawab rohani secara pribadi maupun kolektif. Ketika gembala mengalami kelemahan, krisis, atau bahkan meninggal dunia, jemaat bisa kehilangan arah karena seluruh pola kepemimpinan berpusat pada satu figur. 31 Dengan demikian, ketergantungan berlebihan pada figur gembala perlu diatasi melalui pembinaan disiplin rohani yang menumbuhkan kemandirian iman dan tanggung jawab rohani jemaat secara dewasa. Tidak dipungkiri adanya implikasi dari penggembalaan monarkhi bagi relasi gereja dan jemaat cukup signifikan. Di satu sisi, pola ini dapat mempererat hubungan karena adanya figur pemersatu yang kuat. Namun di sisi lain, hubungan ini juga dapat rapuh apabila terjadi ketegangan atau krisis kepercayaan terhadap gembala. Gereja yang terlalu bergantung pada satu tokoh dapat mengalami stagnasi dan konflik internal. 32 Oleh karena itu, penggembalaan monarkhi perlu disertai dengan kesadaran akan keterbatasan manusiawi seorang gembala, serta upaya untuk membangun partisipasi jemaat dalam Dengan demikian, kepemimpinan yang bersifat sentralistik dapat tetap menjaga keutuhan jemaat tanpa mengorbankan prinsip kolegialitas dan partisipasi dalam tubuh Kristus. Dimensi Etis dalam Suksesi Kepemimpinan Gereja Suksesi kepemimpinan gereja merupakan salah satu proses paling krusial dalam kehidupan bergereja. Apalagi adanya fenomena yang terjadi di gereja-gereja Pentakostal di Benua Afrika, sebagaimana dicatat oleh Cephas Tushima, memperlihatkan pola suksesi kepemimpinan yang kerap menuai kritik karena kecenderungan bernuansa nepotisme. Tushima menyoroti bahwa proses pergantian pemimpin sering kali diberikan kepada anggota keluarga dekat, seperti istri atau anak, daripada didasarkan pada kapasitas, integritas, dan kedewasaan rohani. Praktik seperti ini tidak hanya ditemukan di Afrika. Leniwan Darmawati Gea. Deni, and Sulianus Susanto. AuFaktor Keberhasilan Dan Kegagalan Kepemimpinan Kristen Dan Implikasinya Bagi Pemimpin Kristen Masa Kini,Ay Jurnal Teologi Injili 2, no. : 60Ae71, https://doi. org/10. 55626/jti. 30 Eliezer Andelta Sinukaban. AuModel Kepemimpinan Gembala Sidang Dalam Terang Narasi Teologis Injil Yohanes Dan Masukan Praktis Bagi Gereja Lokal,Ay Sabar: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Dan Katolik 2, no. : 206Ae21. 31 Ratna Setiowati. AuStudi Kasus Deskriptif Transisi Kepemimpinan Gembala Sidang Di Gereja Jemaat Kristen Indonesia Wilayah Semarang,Ay Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen Dan Katolik 2, 4 . : 174Ae86. 32 Jonri Muksen Siregar. AuPenyelesaian Konflik Yang Sehat Di Dalam Gereja Berdasarkan Eksposisi Kisah Para Rasul,Ay SAINT PAULAoS REVIEW 5, no. : 267Ae81. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 43 M. Tanuhendrata. Nugroho. Jonathans: Suksesi Kepemimpinan Gereja A tetapi juga muncul dalam sejumlah kasus di Amerika Serikat, yang menandakan adanya pergeseran dari model kepemimpinan kolegial menuju kepemimpinan yang terpusat pada figur tunggal. 33 Model kepemimpinan semacam ini banyak dijumpai dalam gereja-gereja Pentakostal yang menganut sistem pemerintahan berbasis kekeluargaan . amily enterpris. Dalam pola ini, keluarga berfungsi sebagai otoritas tertinggi yang berhak menentukan arah dan keputusan gereja. Kewenangan penuh yang dimiliki keluarga dalam mengatur sistem maupun suksesi kepemimpinan sering kali menjadikan gereja sebagai ajang perebutan kuasa di antara anggota keluarga. 34 Bila melihat pergantian pemimpin sejatinya tidak sekadar peralihan administratif, melainkan juga menyangkut kelanjutan visi, arah pelayanan, serta kesejahteraan rohani jemaat. Oleh karena itu, dimensi etis menjadi aspek yang sangat penting dalam memastikan transisi kepemimpinan berjalan sehat, adil, dan berkenan kepada Tuhan. Dengan demikian suksesi kepemimpinan gereja menuntut landasan etis yang kuat, sebab tanpa transparansi, keadilan, dan akuntabilitas, proses tersebut berpotensi terjebak pada praktik nepotisme yang merugikan gereja serta mengaburkan esensi pelayanan rohani. Dimensi etis dalam suksesi kepemimpinan gereja dapat dilihat melalui prinsipprinsip yaitu pertama, transparansi menjadi nilai utama. Proses pemilihan atau penunjukan pemimpin baru harus dilakukan secara terbuka, tidak didasarkan pada intrik politik, nepotisme, atau kepentingan kelompok tertentu. Kualitas pemimpin dan kepemimpinan Kristen mengalami kemunduran akibat adanya manipulasi dalam proses seleksi, minimnya kepedulian gereja dalam menyiapkan calon pemimpin, serta rendahnya Kristen, kepemimpinan yang dihasilkan. Maka itu diperlukan transparansi mendorong kepercayaan jemaat bahwa keputusan yang diambil benar-benar berlandaskan doa, hikmat, dan kebutuhan pelayanan, bukan sekadar ambisi pribadi. Dengan demikian, transparansi dalam suksesi kepemimpinan gereja menjadi fondasi penting untuk melahirkan pemimpin yang berintegritas, berkarakter rohani, dan mampu membawa jemaat pada pertumbuhan iman yang sejati. Tushima. AuLeadership Succession Patterns in the Apostolic Church as a Template for Critique of Contemporary Charismatic Leadership Succession Patterns. Ay 34 Amos Hosea et al. AuTeologi Regenerasi Dalam Kisah Musa: Pembelajaran Untuk Kepemimpinan Kristen Di Era Globalisasi,Ay Matheo: Jurnal Teologi/Kependetaan 11, no. : 156Ae 35 Julius Reynaldi Eka Saputra. AuPengaruh Gaya Kepemimpinan. Komitmen Organisasi. Dan Tekanan Eksternal Terhadap Penerapan Transparansi Pelaporan Keuangan Di Gereja Paroki Keuskupan Agung Semarang Rayon Yogyakarta Dan Rayon Sleman,Ay Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents (Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2. 36 Martin L Manao et al. AuPembentukan Dan Pemilihan Pemimpin Gereja Yang Berkualitas,Ay JMPK: Jurnal Manajemen Pendidikan Kristen 2, no. : 50Ae64. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 44 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 Kedua, keadilan perlu dijunjung tinggi. 37 Setiap kandidat pemimpin berhak mendapatkan kesempatan yang sama tanpa diskriminasi latar belakang sosial, ekonomi, maupun kedekatan dengan pihak tertentu. Prinsip keadilan menegaskan bahwa kepemimpinan gereja adalah panggilan rohani, bukan jabatan duniawi yang dikejar untuk kepentingan diri. 38 Sebab sejatinya seorang pemimpin rohani diperlengkapi oleh Kristus Yesus untuk membangun persekutuan umat, sebab persekutuan jemaat merupakan bagian dari rencana Allah. Kehadiran jemaat di dunia bertujuan untuk memuliakan nama Tuhan Yesus Kristus serta saling menguatkan dalam semangat pelayanan kepada Tuhan dan sesama, sehingga kehidupan spiritual jemaat semakin bertumbuh. 39 Dengan demikian, penerapan prinsip keadilan dalam suksesi kepemimpinan gereja akan memastikan lahirnya pemimpin rohani yang benar-benar dipanggil Kristus untuk memuliakan-Nya melalui pelayanan dan pertumbuhan spiritual jemaat. Ketiga, akuntabilitas menjadi ciri khas kepemimpinan yang etis. Proses suksesi harus dapat dipertanggungjawabkan, baik di hadapan jemaat maupun di hadapan Allah. Pemimpin yang baru tidak hanya mewarisi struktur organisasi, tetapi juga tanggung jawab untuk melanjutkan pelayanan dengan integritas. Akuntabilitas ini memastikan bahwa setiap langkah dalam proses transisi memiliki dasar yang jelas, serta dapat diaudit secara moral dan spiritual. Namun akuntabilitas dapat terwujud apabila seorang pemimpin Kristen memiliki kerendahan hati untuk bersikap terbuka dan menerima koreksi, sebab melalui koreksi itulah pemimpin ditolong untuk tetap waspada terhadap godaan dan dosa yang berpotensi merusak integritas pribadinya. 41 Dengan demikian, akuntabilitas dalam kepemimpinan gereja menjadi landasan penting untuk menjaga integritas rohani pemimpin sekaligus memastikan keberlangsungan pelayanan yang berkenan di hadapan Allah dan Keempat, terdapat tanggung jawab moral seorang pemimpin terhadap jemaat dan Tuhan. Pemimpin gereja dipanggil untuk menggembalakan, bukan menguasai namun Harold Pardede. Martin Lumingkewas, and Amran Simangunsong. AuTeologi Keadilan (Mishpa. Dalam Kitab Mikha Dan Relevansinya Terhadap Keadilan Sosial Bagi Orang Kristen Di Indonesia,Ay EKKLESIA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 2, no. : 83Ae101. 38 Budisatyo Tanihardjo. Integritas Seorang Pemimpin Rohani (Yogyakarta: PBMR ANDI, 2. , 78. 39 Nubatonis. AuPentingnya Kepemimpinan Jemaat Dan Motivasi Dalam Pelayanan Untuk Kedewasaan Rohani Jemaat. Ay 40 Jozethian Watta. Yudhy Sanjaya, and Talizaro Tafonao. AuPeran Pemimpin Kristen Dalam Meregenerasi Dan Memperlengkapi Para Pemimpin Muda Di Era Globalisasi,Ay MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen, 2023, https://doi. org/10. 55967/manthano. 41 D N Tanusaputra. AuHubungan Yesus-Petrus Dan Signifikansinya Bagi Integritas Dan Akuntabilitas Pemimpin Kristen Masa KiniAy (Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2. , http://repository. id/handle/123456789/1305. 42 Maria Magdalena Swantina and Nicolien Meggy Sumakul. AuImplementasi Etika Kristen Sebagai Tanggung Jawab Moral Hamba Tuhan Dalam Pelayanan Dan Kehidupan Sosial,Ay KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta 5, no. : 212Ae28, https://doi. org/10. 47167/kharis. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 45 M. Tanuhendrata. Nugroho. Jonathans: Suksesi Kepemimpinan Gereja A untuk melayani, bukan dilayani. Kepemimpinan dalam perspektif Kristen tidak dimaknai sebagai kekuasaan penuh atas para pengikut atau penggunaan otoritas sebagaimana dilakukan para penguasa dunia, melainkan sebagai panggilan untuk melayani. Seorang pemimpin sejati dituntut untuk menjadi pelayan bagi orang-orang yang dipimpinnya, sebagaimana Yesus Kristus sendiri menjadi teladan utama kepemimpinan yang berlandaskan kerendahan hati. Bagi Yesus, pemimpin sejati adalah pelayan. Hal ini ditegaskan kembali oleh rasul Petrus dalam 1 Petrus 5:1Ae10, yang menggambarkan seorang gembala sebagai pemimpin jemaat yang harus melayani dengan sukarela, memberikan diri dalam pengabdian, menunjukkan keteladanan, bersikap rendah hati, serta menguatkan iman umat. Dengan demikian, kualitas kepemimpinan Kristen sejati terletak pada kerendahan hati yang diwujudkan dalam pelayanan yang tulus demi pertumbuhan rohani 43 Maka itu suksesi sebagai tanggung jawab moral berarti pemimpin yang lama harus rela melepas tongkat estafet dengan kerendahan hati, sementara pemimpin yang baru harus siap melanjutkan pelayanan dengan kesetiaan. Dengan demikian, dimensi etis dalam suksesi kepemimpinan gereja bukanlah hal sekunder, melainkan fondasi utama yang memastikan kontinuitas pelayanan tetap murni, sehat, dan berbuah. Proses yang berlandaskan transparansi, keadilan, akuntabilitas, dan tanggung jawab moral akan meneguhkan bahwa kepemimpinan gereja sejati adalah panggilan ilahi yang dijalankan dengan integritas penuh di hadapan jemaat dan Tuhan. Kritik Teologi atas Praktik Suksesi dalam Penggembalaan Monarkhi Praktik suksesi dalam model penggembalaan monarkhi kerap menimbulkan perdebatan dalam teologi praktika. Dalam banyak kasus, suksesi kepemimpinan tidak didasarkan pada proses seleksi yang adil dan transparan, melainkan diwariskan kepada anggota keluarga atau pihak tertentu yang dekat dengan pemimpin sebelumnya. Hal ini kepemimpinan lebih dilihat sebagai hak turun-temurun daripada panggilan rohani. Dari perspektif teologi praktika, praktik semacam ini menimbulkan persoalan serius, terutama dalam dimensi etis dan spiritual. Pertama, praktik suksesi monarkhi sering kali mengabaikan prinsip kolegialitas gereja yang menekankan kebersamaan tubuh Kristus. Kedua, kecenderungan nepotisme dalam model ini melemahkan keadilan dan mereduksi kepemimpinan rohani menjadi sekadar warisan kekuasaan. Ketiga, pola tersebut berpotensi menimbulkan konflik internal jemaat, karena keputusan kepemimpinan tidak lagi Natanael S. Prajogo. AuImplementasi Kepemimpinan Gembala Yang Melayani Berdasarkan 1 Petrus 5:2-10 Di Kalangan Gembala Jemaat Gereja Bethel Indonesia Se-Jawa Tengah,Ay HARVESTER: Jurnal Teologi Dan Kepemimpinan Kristen 4, no. : 1Ae21, https://doi. org/10. 52104/harvester. 44 Paulin Maureel Titiheru. Irene Ludji, and Simon Julianto. AuTinjauan Etika Kepemimpinan Kristen Terhadap Kolegialitas Pelayan Di GPIB ATK Ambarawa,Ay HARVESTER: Jurnal Teologi Dan Kepemimpinan Kristen 8, no. : 1Ae18. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 46 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 berlandaskan doa, hikmat, 45 dan pengakuan komunitas iman, melainkan kepentingan keluarga atau kelompok tertentu. Dalam prinsip organisasi gereja yang tertuang dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (ADAeART) berbagai sinode di Indonesia menegaskan bahwa kepemimpinan dalam gereja tidak bersifat turun-temurun atau diwariskan berdasarkan hubungan Kepemimpinan gerejawi dipandang sebagai amanat pelayanan yang berasal dari panggilan Tuhan, bukan sebagai hak milik pribadi. Misalnya, dalam ADAeART Gereja Bethel Indonesia (GBI) ditegaskan bahwa semua pejabat gerejawi, baik gembala sidang, pengurus BPD maupun BPH, dipilih dan diangkat melalui proses sidang gereja atau keputusan Tidak ada ketentuan yang memperbolehkan Auwarisan jabatan,Ay sebab kepemimpinan dipahami sebagai mandat rohani yang harus dijalankan dengan tanggung jawab dan integritas. Hal yang sama berlaku dalam Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), di mana pasal 11Ae14 ADAeART-nya menyatakan bahwa pemimpin dipilih berdasarkan musyawarah sidang, bukan berdasarkan garis keturunan. Jika pun seorang anak atau istri gembala hendak melanjutkan pelayanan, hal tersebut hanya dimungkinkan apabila mereka telah memenuhi syarat rohani, ditahbiskan secara resmi, dan disetujui oleh Majelis Daerah serta Sinode. 47 Prinsip serupa juga diterapkan oleh GPIB dan HKBP, di mana jabatan rohani hanya dapat diperoleh melalui tahbisan dan pemilihan sinodal, dengan penegasan bahwa jabatan gerejawi bukanlah jabatan turun-temurun. Bahkan. Gereja Kristen Anugerah (GKA) secara eksplisit menyebutkan dalam ART-nya bahwa calon pengurus sinode harus dicalonkan dan dipilih melalui Sidang Raya Sinode tanpa adanya mekanisme penyerahan pribadi atau Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa kepemimpinan gereja yang sejati harus berlandaskan pada panggilan ilahi dan karakter yang terbukti, bukan pada faktor Kepemimpinan yang sah diuji dan diteguhkan oleh tubuh Kristus, yaitu jemaat dan sinode, dalam semangat keterbukaan, regenerasi, dan akuntabilitas. Prinsip ini meneguhkan bahwa gereja bukanlah lembaga keluarga, melainkan komunitas rohani yang hidup berdasarkan panggilan Allah dan kedaulatan Kristus sebagai Kepala Gereja. Secara etis-teologis, suksesi dalam penggembalaan seharusnya dipahami sebagai bagian dari panggilan Allah bagi orang yang dipilih-Nya. 48 Kepemimpinan bukanlah jabatan duniawi yang diwariskan, melainkan amanat ilahi yang menuntut integritas, kerendahan hati, dan kesediaan melayani. Dalam hal ini, teladan Yesus sebagai Gembala Agung memberikan fondasi bahwa pemimpin gereja dipanggil untuk melayani dengan Reza Sandiki Natalino and Anon Dwi Lukito. AuHikmat Pemimpin: Analisa Tentang Hikmat Pemimpin Berdasarkan 1 Raja-Raja 3:3-15 Dan Implementasinya Dalam Dunia Bisnis,Ay TEOLOGIS. RELEVAN. APLIKATIF. CENDIKIA. KONTEKSTUAL 04, no. : 12Ae46. 46 BPH GBI. Tata Gereja Gereja Bethel Indonesia, 1st ed. (Jakarta, 2. 47 Team GPdI. Anggaran Dasar Dan Anggaran Rumah Tangga GPdI Serta Penjelasannya, (Jakarta: Team MP GPdI, 2. 48 Prasetya and Simarmata. AuSuksesi Kepemimpinan Musa Kepada Yosua Sebagai Pola Ideal Suksesi Kepemimpinan Gereja. Ay Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 47 M. Tanuhendrata. Nugroho. Jonathans: Suksesi Kepemimpinan Gereja A kasih, 49 bukan menguasai dengan otoritas absolut. Maka itu, pemimpin dalam suksesi kepemimpinan tidak dipusatkan pada satu figur saja, melainkan dijalankan dalam semangat Dengan demikian, suksesi kepemimpinan dapat menjadi sarana pertumbuhan rohani jemaat sekaligus cerminan nilai-nilai Kerajaan Allah. IV. Kesimpulan Suksesi kepemimpinan gereja, baik dalam perspektif teologi alkitabiah maupun dalam konteks praktik penggembalaan, merupakan aspek yang sangat krusial bagi keberlangsungan pelayanan dan pertumbuhan jemaat. Alkitab menunjukkan bahwa suksesi bukan sekadar pergantian administratif, tetapi sebuah proses rohani yang melibatkan panggilan Allah, persiapan yang matang, serta pengakuan komunitas iman, sebagaimana terlihat dalam kisah Musa dan Yosua maupun praktik Yesus mempersiapkan murid-muridNya. Prinsip-prinsip etis seperti transparansi, keadilan, akuntabilitas, dan tanggung jawab moral menjadi fondasi utama agar kepemimpinan berjalan sehat, berintegritas, dan berkenan kepada Tuhan. Dengan demikian, kepemimpinan gereja sejati ditandai bukan oleh otoritas absolut, melainkan oleh kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani. Di sisi lain, praktik penggembalaan monarkhi menyingkapkan problematika yang muncul ketika kepemimpinan terlalu dipusatkan pada figur tunggal. Meskipun model ini dapat memberikan kejelasan visi, ikatan emosional, dan efektivitas dalam pengambilan keputusan, risiko otoritarianisme, nepotisme, serta ketergantungan jemaat yang berlebihan tidak dapat diabaikan. Situasi ini menimbulkan ketegangan etis-teologis yang dapat menghambat regenerasi pemimpin dan merugikan pertumbuhan rohani jemaat. Karena itu, gereja perlu menyeimbangkan antara ketegasan pemimpin dengan partisipasi jemaat, serta membangun sistem kepemimpinan yang kolegial, terbuka, dan berakar pada Injil. Hanya dengan cara demikian, suksesi kepemimpinan akan menjadi sarana yang meneguhkan iman jemaat sekaligus mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan bergereja, dan suksesi kepemimpinan gereja dalam perspektif teologi alkitabiah menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan prinsip moral dan spiritual. Model penggembalaan menghadirkan problematika jika praktik suksesi tidak transparan dan adil. Maka kritik teologis terhadap praktik monarkhi menegaskan perlunya pendekatan etis-teologis yang terstruktur untuk memastikan keberlangsungan misi gereja dan integritas penggembalaan. Referensi