Pancasakti Science Education Journal PSEJ Volume 11 Nomor 1. April 2026, (Hal. 15 - . http://scienceedujournal. org/index. php/psej DOI 10. 24905/psej. Submitted: 8 November 2025. Accepted: 27 April 2026. Published: 28 April 2026 Integrasi Media Powtoon pada Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Literasi Sains Dinda Sutiara1. Muhammad Azzarkasyi2*. Syamsul Rizal3. Nurul Fajri Saminan4. Mahyana5 1,2,3,4,5 Pendidikan Fisika. Universitas Serambi Mekkah. Indonesia *Email: azzarkasyi@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemampuan literasi sains siswa menggunakan media video animasi dan mengamati respons siswa terhadap metode pembelajaran ini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan mendistribusikan instrumen tes dan kuesioner kepada 30 siswa kelas Vi di SMPN 13 Banda Aceh sebagai sampel dari populasi total siswa yang dikelompokkan dan kemudian dipilih secara acak. Aspek-aspek kompetensi literasi sains yang digunakan sesuai dengan ketentuan PISA 2017 yang meliputi tiga aspek, yaitu kompetensi untuk menjelaskan fenomena secara ilmiah, kompetensi untuk merancang dan mengevaluasi penyelidikan ilmiah, serta kompetensi untuk menafsirkan data dan bukti secara ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains sebelum menerapkan pembelajaran berbasis Powtoon . dalam aspek menjelaskan fenomena ilmiah sebesar 31,90%, yang termasuk dalam kategori rendah, dan setelah menerapkan pembelajaran . , persentasenya menjadi 60,95%, yang termasuk dalam kategori sedang. Kemampuan dalam merancang dan mengevaluasi penyelidikan ilmiah, persentase sebelum menerapkan pembelajaran . adalah 33,33% dalam kategori sedang, dan setelah menerapkan pembelajaran . menjadi 56,67% dalam kategori Kompetensi dalam menafsirkan data dan bukti ilmiah: persentase sebelum pembelajaran . sebesar 42,08% dalam kategori sedang dan setelah pembelajaran . sebesar 67,08% dalam kategori Kata Kunci: Media Pembelajaran. Powtoon. Literasi Sains Abstract This study aims to determine students' science literacy skills using animated video media and to observe students' responses to this learning method. This study is a quantitative descriptive study. Data collection was carried out by distributing test instruments and questionnaires to 30 eighth-grade students at SMPN 13 Banda Aceh as a sample from the total population of students who were grouped and then selected at random. The aspects of science literacy competency used were in accordance with the 2017 PISA stipulations, which included three aspects, namely the competency to explain phenomena scientifically, the competency to design and evaluate scientific investigations, and the competency to interpret data and evidence scientifically. The results of the study show that the science literacy ability before implementing Powtoon-based learning . in the aspect of explaining scientific phenomena was 31. 90%, which is in the low category, and after implementing learning . , the percentage was 60. 95%, which is in the moderate category. The competency in designing and evaluating scientific investigations, the percentage before implementing learning . re-tes. 33% in the moderate category, and after implementing learning . it was 56. 67% in the moderate category. Competence in interpreting scientific data and evidence, the percentage before learning . 08% in the moderate category, and after learning . was 67,08% in the moderate category. Keywords: Learning Media. Powtoon. Science Literacy Copyright A2026. PSEJ. ISSN 2528 Ae 6714 (Prin. ISSN 2541 Ae 0628 (Onlin. Pancasakti Science Education Journal, 11 . April 2026- . Dinda Sutiara. Muhammad Azzarkasyi. Syamsul Rizal. Nurul Fajri Saminan. Mahyana PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan pada abad ke-21 telah mendorong transformasi teknologi pendidikan di Indonesia. Pendidikan memegang peranan krusial dalam kemajuan IPTEK untuk menciptakan sumber daya manusia berkualitas. Seiring modernisasi, guru dituntut menjadi agen pembelajaran yang responsif terhadap perkembangan teknologi (Toharuddin et al. Rahmi et al. Kotimah, 2024. Abdillah et al. Khairul et al. , 2. Pemahaman paradigma pembelajaran abad ke-21 menjadi kerangka pedagogis esensial, terutama dalam merangsang perhatian, minat, dan motivasi Media pembelajaran diartikan sebagai peralatan atau teknik penyampai pesan yang mempertegas materi melalui daya tarik visual, salah satunya adalah Powtoon (Zamora et al. Husna & Supriyadi, 2. Powtoon merupakan software animasi berbasis cloud yang memungkinkan penciptaan presentasi interaktif dengan fitur-fitur menarik. Media ini efektif meningkatkan motivasi belajar siswa melalui pendekatan visual yang konvensional (Sari & Manurung, 2021. Lubis et , 2023. Simanullang, 2. Dalam konteks fisika, media berbasis Powtoon dengan pendekatan kontekstual dikembangkan untuk mengoptimalkan penyampaian materi Hukum Archimedes. Observasi dan wawancara saat Program Pengalaman Lapangan (PLP) di SMPN 13 Banda Aceh . November 2. menunjukkan bahwa pembelajaran masih bergantung pada metode tradisional . uku cetak dan pake. , yang berdampak pada minimnya partisipasi dan antusiasme siswa. Akar permasalahan terletak pada kesulitan siswa memahami konsep akibat model pembelajaran yang kurang menarik. Penelitian potensi Powtoon dalam meningkatkan kualitas Azhar . membuktikan penggunaan Powtoon pada mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti di SMPI Al-Anshor Cibinong berpengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Pasaribu et al. melalui pendekatan deskriptif kuantitatif di SMPN 2 Bukittinggi menemukan efektivitas Powtoon Sementara itu. Azaly & Fitrihidajati . menekankan bahwa media animasi Powtoon pemahaman konsep, pengembangan soft skills, dan literasi sains. Literasi sains sendiri didefinisikan sebagai kemampuan menggunakan lingkungan, memecahkan masalah, serta membuat keputusan berbasis bukti ilmiah (Azzarkasyi et al. , 2. Meskipun penelitian sebelumnya telah mengeksplorasi Powtoon dalam berbagai mata pelajaran, terdapat gap analisis yang signifikan. Pertama, minimnya kajian tentang penerapan Powtoon pada pembelajaran fisika, khususnya materi Hukum Archimedes yang memerlukan visualisasi konsep abstrak seperti gaya apung dan prinsip hidrostatika. Kedua, belum adanya penelitian yang mengintegrasikan pendekatan Powtoon meningkatkan literasi sains siswa SMP di Indonesia. Ketiga, studi terdahulu umumnya berfokus pada motivasi atau hasil belajar, belum mengeksplorasi dampaknya terhadap literasi sains sebagai kompetensi abad ke-21. Keempat, implementasi di SMPN 13 Banda Aceh belum didukung oleh inovasi media pembelajaran yang responsif terhadap karakteristik siswa generasi Z. Kelima, belum ada penelitian yang mengukur efektivitas Powtoon dalam konteks lingkungan belajar dengan keterbatasan sumber daya teknologi seperti di Banda Aceh. Penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pengembangan media pembelajaran fisika berbasis Powtoon dengan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan literasi sains siswa SMP. Integrasi animasi interaktif, konteks lokal, dan asesmen literasi sains menjadi pembeda dari penelitian sebelumnya. Tujuan penelitian dirumuskan sebagai berikut: . Menganalisis efektivitas media pembelajaran fisika berbasis Powtoon dalam meningkatkan Copyright A2026. PSEJ. ISSN 2528 Ae 6714 (Prin. ISSN 2541 Ae 0628 (Onlin. Pancasakti Science Education Journal, 11 . April 2026- . Dinda Sutiara. Muhammad Azzarkasyi. Syamsul Rizal. Nurul Fajri Saminan. Mahyana literasi sains siswa SMPN 13 Banda Aceh. Mengidentifikasi dampak penggunaan media tersebut terhadap pemahaman konsep Hukum Archimedes. Mengevaluasi respons siswa terhadap implementasi media animasi Powtoon dalam pembelajaran fisika. METODE Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 13 Banda Aceh dengan melibatkan 30 siswa kelas Vi yang dipilih sebagai sampel melalui teknik purposive sampling dari populasi seluruh siswa kelas Vi di sekolah tersebut. Pemilihan sampel didasarkan pada pertimbangan keragaman kemampuan akademik dan kesiapan teknologi siswa dalam mengakses media pembelajaran Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan jenis deskriptif kuantitatif. Desain ini dipilih karena bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis data numerik mengenai pencapaian literasi sains siswa setelah penerapan media pembelajaran berbasis Powtoon. Pendekatan deskriptif kuantitatif memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pola pencapaian literasi sains secara objektif melalui instrumen terstandar (Creswell, 2. Pengumpulan menggunakan dua instrumen utama, yaitu Tes Literasi Sains berupa 20 soal pilihan ganda yang mengukur tiga aspek kompetensi literasi sains sesuai kerangka PISA 2017 (OECD, 2. , dan Angket Respons Siswa, yang terdiri dari 15 pernyataan dengan skala Likert 4 poin . : Sangat Tidak Setuju, 4: Sangat Setuj. untuk mengukur persepsi siswa terhadap media Powtoon. Penelitian dilaksanakan melalui tahapan: validasi instrumen tes oleh dua ahli fisika dan satu ahli pendidikan . aliditas isi > 0,. Uji coba soal kepada 20 siswa di luar sampel untuk menghitung reliabilitas (CronbachAos = 0,. Untuk pelaksanaan: Sesi 1: Pre-test untuk mengukur literasi sains awal. Sesi 2Ae4: Pembelajaran Hukum Archimedes Powtoon pendekatan kontekstual . pertemuan y 80 Sesi 5: Post-test dengan soal identik dengan pre-test. Sesi 6: Pengisian angket respon siswa Etika Penelitian: Memperoleh izin dari sekolah dan persetujuan siswa melalui informed consent (Arikunto, 2. Untuk mengukur skor soal literasi sains menggunakan rumus (Azzarkasyi et al. , 2. ycycoycuyc yccycnycyyceycycuycoyceEa ycuycnycaycn = y 100 ycycoycuyc ycoycaycuycnycoycyco Nilai kategori pencapaian literasi sains yang diperoleh kemudian diinterpretasikan berdasarkan kriteria yang disajikan pada Tabel 1 Tabel 1. Kriteria Capaian Literasi Sains Tingkat Pencapaian Kategori 67 Ae 100 Tinggi 33 Ae 66 Sedang < 33 Rendah (Azzarkasyi et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Media pembelajaran yang menarik seperti Powtoon bisa dijadikan sebagai aplikasi video animasi berbasis online, memungkinkan pengguna, baik guru maupun mahasiswa, untuk mengoperasikan berbagai fitur seperti animasi, gambar, dan perekaman narasi. Video yang dibuat dapat dibagikan melalui YouTube atau diakses secara offline oleh pengguna Sementara itu, aktivitas pembelajaran yang di laksanakan pada satu kelas untuk melihat kemepuan literasa sains menggunkan media powtoon Pada pembelajaran menggunakan video animasi berbasis Powtoon, peneliti dapat melihat hasil literasi sains siswa sebelum . dan sesudah . melakukan pembelajaran dengan menganalisis data menggunakan Excel untuk melihat perbedaan nilai literasi sains siswa sebelum dan sesudah Copyright A2026. PSEJ. ISSN 2528 Ae 6714 (Prin. ISSN 2541 Ae 0628 (Onlin. Pancasakti Science Education Journal, 11 . April 2026- . Dinda Sutiara. Muhammad Azzarkasyi. Syamsul Rizal. Nurul Fajri Saminan. Mahyana menggunakan media pembelajaran berbasis Powtoon. Pengumpulan data disajikan dengan 20 soal pilihan ganda sesuai dengan 3 aspek kompetensi literasi sains dengan penetapan PISA 2017 dan diberikan kepada 30 siswa sebagai sampel penelitian. Distribusi 20 soal berdasarkan tiga aspek literasi sains, yaitu: pertama, menjelaskan fenomena secara ilmiah, terdiri dari 7 item soal mengevaluasi investigasi ilmiah, terdiri dari 5 item soal pertanyaan. dan yang ketiga, menafsirkan data dan bukti secara ilmiah, terdiri dari 8 item soal pertanyaan. Tabel 2. Persentase seluruh Kompetensi Tingkat Literasi Sains Siswa Berdasarkan Hasil Pretest Kompetensi Literasi Sains Persentase Kategori Menjelaskan fenomena secara ilmiah 31,90 Rendah Merancang dan mengevaluasi investigasi ilmiah 33,33 Sedang Menafsirkan data dan bukti secara ilmiah 42,08 Sedang Berdasarkan tabel di atas dari 20 item soal yang di bagikan kepada 30 siswa sebelum melaksanakan pembelajaran berbasis powtoon terdapat pada keseluruhan aspek kompetensi literasi sains berdasarkan PISA 2017 yaitu menjelaskan fenomena secara ilmiah dengan persentase 31,90% berada pada kategori rendah, merancang dan mengevaluasi investigasi ilmiah Dengan persentase 33,33% berada pada kategori sedang, dan menafsirkan data dan bukti secara ilmiah 42,08% berada pada kategori sedang. Tingkat Literasi sains siswa Berdasarkan hasil Distribusi pada 20 soal posttest sama dengan 20 soal pretest berdasarkan tiga aspek literasi sains, yaitu: pertama, menjelaskan fenomena secara ilmiah yang terdiri dari 7 item soal pertanyaan. kedua, merancang dan mengevaluasi investigasi ilmiah yang terdiri dari 5 item soal pertanyaan. dan yang ketiga, menafsirkan data dan bukti secara ilmiah yang terdiri dari 8 item soal pertanyaan. Tabel 3. Persentase seluruh Kompetensi Tingkat literasi sains Siswa Kompetensi Literasi Sains Persentase Kategori Menjelaskan fenomena secara ilmiah 60,95 Sedang Merancang dan mengevaluasi investigasi ilmiah 56,67 Sedang Menafsirkan data dan bukti secara ilmiah 67,08 Tinggi Berdasarkan tabel di atas, dari 20 item soal yang dibagikan kepada 30 siswa sesudah melaksanakan pembelajaran berbasis Powtoon, terdapat pada keseluruhan aspek kompetensi literasi sains berdasarkan PISA 2017, yaitu menjelaskan fenomena secara ilmiah dengan persentase 60,95% berada pada kategori sedang, merancang dan mengevaluasi investigasi ilmiah dengan persentase 56,67% berada pada kategori sedang, dan menafsirkan data dan bukti secara ilmiah 67,08% berada pada kategori tinggi. Adapun Hasil perbandingan persentase analisis data sesuai aspek kompetensi literasi sains sesuai (PISA 2. yang terdiri dari tiga kompetensi sains yaitu sebagai berikut: Copyright A2026. PSEJ. ISSN 2528 Ae 6714 (Prin. ISSN 2541 Ae 0628 (Onlin. Pancasakti Science Education Journal, 11 . April 2026- . Dinda Sutiara. Muhammad Azzarkasyi. Syamsul Rizal. Nurul Fajri Saminan. Mahyana Gambar 1. Perbandingan Pretest dan Postest Aspek Kompetensi Ilmiah Berdasarkan grafik di atas, diperoleh perbandingan hasil pretest dan posttest siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis Powtoon pada aspek kompetensi ilmiah. Pada aspek menjelaskan fenomena secara ilmiah, sebelum pembelajaran, persentase siswa yang berada pada kategori rendah sebesar 31,90%. Setelah pembelajaran berbasis Powtoon dilaksanakan, persentase mencapai 60,95% pada kategori Hal ini menunjukkan adanya peningkatan literasi sains pada aspek tersebut. Selanjutnya, pada aspek merancang dan mengevaluasi investigasi ilmiah, sebelum pembelajaran persentase siswa berada pada kategori sedang sebesar 33,33%. Setelah pembelajaran, masih berada dalam kategori yang sama, namun terjadi peningkatan persentase menjadi 56,66%, yang menunjukkan adanya perbaikan meskipun belum mengubah Sementara itu, pada aspek menafsirkan data dan bukti secara ilmiah, sebelum pembelajaran, siswa berada pada kategori sedang dengan persentase 42,08%. Setelah pembelajaran, terjadi peningkatan signifikan ke kategori tinggi dengan persentase 67,08%. Dengan demikian, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis Powtoon mampu meningkatkan literasi sains siswa pada ketiga aspek kompetensi ilmiah yang diukur. Dalam pembelajaran berbasis Powtoon ditunjukkan oleh aspek menafsirkan data dan bukti secara ilmiah, dengan persentase 42,08% sebelum melaksanakan pembelajaran berbasis Powtoon . re-tes. dan 67,08% setelah melaksanakan pembelajaran berbasis Powtoon . ost-tes. Menunjukkan adanya peningkatan tertinggi pada soal-soal tersebut. SIMPULAN Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan analisis menggunakan Excel, setiap aspek tingkat literasi sains pembelajaran menggunakan media Powtoon terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi ilmiah siswa. Terdapat peningkatan signifikan pada semua aspek yang diukur. Aspek menjelaskan bahwa fenomena ilmiah mengalami peningkatan hampir dua kali lipat dari kategori rendah ke sedang, dari persentase 31,90% ke persentase 60,95%. Aspek merancang dan mengevaluasi investigasi ilmiah menunjukkan peningkatan persentase meskipun masih dalam kategori sedang, menandakan adanya perbaikan kemampuan prosedural. Sementara itu, aspek menafsirkan data dan bukti secara ilmiah menunjukkan peningkatan tertinggi hingga mencapai kategori tinggi dari persentase 42,08% ke persentase 67,08%. Secara keseluruhan, penggunaan media visual animatif seperti Powtoon mampu membantu siswa memahami konsep ilmiah dengan lebih baik dan meningkatkan kemampuan berpikir ilmiah Copyright A2026. PSEJ. ISSN 2528 Ae 6714 (Prin. ISSN 2541 Ae 0628 (Onlin. Pancasakti Science Education Journal, 11 . April 2026- . Dinda Sutiara. Muhammad Azzarkasyi. Syamsul Rizal. Nurul Fajri Saminan. Mahyana DAFTAR PUSTAKA