P-ISSN 2559 Ae 2163 E-ISSN 2599 Ae 2155 Vol. No. Januari 2025 http://cjp. Cendekia Journal of Pharmacy ITEKES Cendekia Utama Kudus UJI AKTIVITAS ANTI AGING DARI FRAKSI N-HEKSAN. ETIL ASETAT. BUTANOL DAN AIR DARI RUMPUT LAUT COKLAT (Sargassum polycystu. YANG TUMBUH DI LAUT JEPARA Yanulia Handayani1. Dwi Susiloningrum2* Program Studi Farmasi. ITEKES Cendekia Utama Kudus Email: dsusiloningrum@gmail. ABSTRAK Aging atau penuaan kulit yang lebih cepat dari waktunya, bisa terjadi pada siapa saja. Proses penuaan dini ini banyak terjadi pada manusia yang berada di daerah beriklim tropis dengan intensitas matahari paparan sinar matahari yang tinggi. Proses Anti Aging ini banyak terjadi dialami Ketika usia dewasa sekitar usia 30-an. Di Indonesia hampir 57% wanita sudah menyadari tanda penuaan dini diusia 25 Proses penuaan dini biasanya ditandai dengan munculnya garis halus atau keriput wajah. Faktor terjadi Aging ini terjadi meliputi faktor keturunan, kejiwaan, dan daya tahan tubuh dan paparan sinar ultraviolet (UV). Karena hal inilah diperlukan pencarian senyawa AuAnti AgingAy dari bahan alam. Dipesisir laut Jepara terdapat rumput laut yaitu rumput laut coklat (Sargassum polycystu. yang kandungan flavonoid. Dimana senyawa yang yang bertanggung jawab sebagai AuAnti AgingAy. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas anti aging dari fraksi n-heksan, etil asetat, butanol, air dari ekstrak etanol 60 % rumput laut coklat. Aktivitas anti aging dilihat dari kemampuan antioksidan dan tabir surya. Semakin besar aktivitas antioksidan maka semakin besar nilai SPF nya. Rumput laut coklat di ekstraksi dengan metode ultasonic assisted extraction (UAE) kemudian dilakukan fraksinasi cair-cair dengan tingkat kepolaran pelarut yang berbeda yaitu n-heksan, etil asetat, butanol dan air. Selanjutnya dilakukan uji bioaktivitas antioksidan dan tabir surya pada fraksi. Hasil penelitian menunjukkan fraksi yang terbaik dan poten aktivitas anti aging adalah fraksi etil asetat dengan aktivitas antioksidan IC50 8. Aktivitas Tabir Surya dilihat nilai SPF 18. % eritema 0. 541 dan % pigmentasi 567 termasuk kategori Proteksi Ultra-Sunblock Kata Kunci: Anti Aging. Sargassum polycystum. Fraksinasi. Tabir Surya. Antioksidan ABSTRACT Anti Aging or skin aging faster than its time, can happen to anyone. This premature aging process often occurs in humans who live in tropical climates with high intensity exposure to sunlight. This anti-aging process often occurs when adults are around the age of 30. In Indonesia, almost 57% of women are aware of the signs of premature aging at the age of 25 years. The premature aging process is usually marked by the appearance of fine lines or facial wrinkles. Factors that occur when anti-aging occurs include hereditary, psychological, and immune factors and exposure to ultraviolet (UV) light. Because of this, it is necessary to search for "Anti Aging" compounds from natural ingredients. On the coast of the Jepara sea there is seaweed, namely brown seaweed (Sargassum polycystu. which contains Where the compound is responsible for "Anti Aging". The aim of this research was to determine the anti-aging activity of the n-hexane, ethyl acetate, butanol, water fractions from 60% ethanol extract of brown seaweed. Anti-aging activity can be seen from its antioxidant and sunscreen The greater the antioxidant activity, the greater the SPF value. Brown seaweed is extracted using the ultrasonic assisted extraction (UAE) method and then liquid-liquid fractionation is carried out with different levels of solvent polarity, namely n-hexane, ethyl acetate, butanol and water. Next, antioxidant and sunscreen bioactivity tests were carried out on the fractions. The research results showed that the best fraction and the most potent anti-aging activity was the ethyl acetate fraction with an antioxidant activity IC50 of 8. 59, sunscreen activity seen with an SPF value of 18. % erythema 541 and % pigmentation 4. 567 in the Ultra-Sunblock Protection category. Keywords: Anti Aging. Sargassum polycystum. Fractionation. Sunscreen. Antioxidant LATAR BELAKANG Rumput laut merupakan salah satu biota laut terbesar Di Indonesia. Diperkirakan Total biota laut Di Indonesia sekitar 8,6%. Setiap tahun terjadi peningkatan produksi rumput laut secara signifikan, peningkatan pertahun sekitar 5,2 % (Kementerian Kelautan dan Perikanan. Potensi rumput laut dilaporkan mencapai Rp. 22,8 triliun pada tahun 2020 dengan rincian Rp. 22,3 triliun dihasilkan oleh rumput laut di laut dan Rp. 541,5 miliar di tambak (BPS. Salah satu jenis rumput laut yang banyak terdapat di Indonesia adalah rumput laut Coklat((Sargassum polycystu. Salah satu daerah di Jawa Tengah yang menghasilkan rumput laut Coklat adalah Kabupaten Jepara. Jepara merupakan salah satu kabupatan di Jawa Tengah yang masyarakatnya banyak melakukan budidaya rumput laut. Masyarakat mempunyai kebiasaan mengkonsumsi rumput laut sebagai campuran makan. Rumput laut juga mempunyai potensi secara ekonomi sampai menembus pasar Internasional. Tumbuhan laut ini dapat dibudidaya dan banyak tumbuh liar sehingga mudah didapatkan (Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau, 2. Pada Penelitian ini menggunakan rumput laut coklat dengan alasan Berdasarkan penelitian Abbas et al. menyatakan bahwa rumput laut coklat positif flavonoid . Flavonoid merupakan salah satu senyawa ini bertanggung jawab terhadap aktivitas Auanti agingAy. Berdasarkan penelitian Prasiddha et al. beberapa tanaman yang mengandung metabolit sekunder flavonoid mampu menyerap sinar UV karena memiliki gugus kromofor yang termasuk sistematik aromatic terkonjugasi dimanan saat terpapar sinar UV akan terjadi resonasi transfer electron sehingga akan membantu mengatasi dan menetralisir energi sinar UV yang bersifat melindungi. Aging atau penuaan kulit adalah fenomena biologis yang sangat kompleks yang dikendalikan oleh banyak faktor intrinsik dan ekstrinsik yang menyebabkan hilangnya progresif yang integritas dan fungsi fisiologis kulit secara umum (Popoola, et al. , 2. Penyebab utama anti aging pada kulit adalah adanya paparan sinar ultraviolet (UV) dari Terdapat tiga jenis ultraviolet yaitu ultraviolet A. B dan C. Sinar ultraviolet adalah bagian dari spketrum sinar matahari dengan efek berbahaya bagi tubuh terutama sinar ultraviolet A dan B (Kaffah, 2. Proses Anti Aging ini banyak terjadi dialami Ketika usia dewasa sekitar usia 30-an (Oktavia et al. , 2. Di Indonesia hampir 57% wanita sudah menyadari tanda penuaan dini diusia 25 tahun. Proses penuaan dini biasanya ditandai dengan munculnya garis halus atau keriput wajah. Sinar matahari dapat menyebabkan ekspresi protein klagenase, gelatinase dan stromelyn. Protein-protein ini dapat mendegradasi matriks kulit. Paparan sinar matahari dalam waktu lama akan menyebakan aging atau penuaan kulit dengan tanda bintik hitam dan garis halus berupa keriput (Dewiastuti & Hasanah, 2. Kemampuan anti aging suatu dapat dilihat dari aktivitas tabir surya dan antioksidan. Semakin besar aktivitas antioksidan maka semakin besar nilai SPF (Himawan et al. , 2. SPF adalah indikator universal yang menjelaskan keefektifan suatu produk yang bersifat UV protector. Dimana semakin tinggi nilai SPF dalam suatu tabir surya maka semakin tinggi pula kemampuan untuk melindungi kulit dari efek berbahaya sinar UV (Suryadi et al. , 2. Berdasarkan latar belakang di atas maka dilakukan fraksinasi cair-cair dengan Tingkat kepolaran yang berbeda yang n- heksan, etil asetat, butanol dan air dari ekstrak rumput laut Untuk mengetahui aktivitas anti aging dari rumput laut ini maka dilakukan uji aktivitas antioksidan dan tabir surya. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini digunakan penelitian eksperimental secara kuantitatif yaitu pengujian aktivitas anti aging dari fraksi n-heksan, etil asetat, butano dan air dari ekstrak etanol 60% rumput laut coklat (Sargassum polycystu. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengekstrasikan rumput laut coklat. Selanjutnya di lakukan fraksinasi cair-cair dengan Tingkat kepolaran yang berbeda. Alat dan Bahan Alat ultrasonic bath, neraca analitik, lemari pengering, spektrofotometri UV Vis (SHIMADZU), pipet volume (Pyre. , timbangan analitik (Ohau. , kuvet, corong pisah, beaker glas (Pyre. Bahan Rumput laut coklat (Sargassum polycystu. , etanol 60%. N-Heksan. Etil Asetat. NButanol. Air. Serbuk magnesium (Merc. NaOH 10% (Merc. FeCl3 (Merc. , eter (Merc. Ektraksi Rumput Laut Coklat (Sargassum polycystu. Serbuk simplisia rumput laut coklat (Sargassum polycystu. ditimbang sebanyak 200 gram ditambah dengan pelarut etanol 60% sebanyak 850 ml kemudian di ekstraksi menggunakan metode UAE (Ultrasonic Assisted Extraction ) selama 2 menit dan diulangi 3 Selanjutnya residu direndam Kembali dengan pelarut etanol 60% 750 ml, diekstraksi selama 2 menit dan diulangi sebanyak 3 kali, kemudian disaring dan ekstrak dipisahkan dari Selanjutnya residu direndam Kembali dengan pelarut etanol 60% di ekstraksi selama 2 menit dan diulangi sebanyak 3 kali. Ekstrak yang didapat dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental (Susiloningrum dan Sari, 2. Indentifikasi Flavonoid Larutan induk dimabil sebanyak 5 ml kemudian dipanaskan selama 5 menit kemudian dipanaskan selama 5 menit dibagi menjadi 3 tabung dan dilakukan uji (Rahayu et al. , 2. Uji Wilstater Filtra sebanyak 1 ml ditambahkan 2-4 HCl pekat dan kemudian dikocok. Perubahan yang terjadi yaitu larutan mengalami perubahan warna jingga menandakan adanya flavon, sedangkan jika terbentuk merah tua menunjukkan adanya senyawa flavonoid. Uji Bate Smith Filtrak sebanyak 1 ml ditambahkan tetes HCl pekat, kemudian dipanaskan di atas penangas. Jika sampel menjadi warna merah tua sampai unggu, hal tersebut menunjukkan flavonoid jenis antosianin. Uji NaOH 10% Filtrat sebanyak 1 ml ditambahkan dengan larutan NaOH 10 % sebanyak 2 tetes. Perubahan warna seperti kuning, merah atau coklat menunjukkan positif mengandung flavonoid golongan fenol. Fraksinasi Cair-Cair Sampel sebanyak 50 gram ekstrak rumput laut coklat dilarutkan dalam 600 ml aquades kemudian dimasukan dalam corong pisah. Setelah itu ditambahkan 200 ml n-heksan kedalam larutan ekstrakdan dikocok-kocok sampai homogen. Fraksi n-heksan yang terbentuk dipisahkan dari fraksi air dengan cara membuka kran pada corong pisah. Perlakuan tersebut di ulangi sebanyak 2 kali. Fraksi sisa air dari n-heksana ditambahkan dengan pelarut etil asetat sebanyak 200 mL. Selanjutnya dilakukan hal yang sama seperti n heksan sehingga diperoleh fraksi etil Setelah itu, dilanjutkan denganmenambahkan sebanyak 200 mL n-butanol kedalam fraksi sisa air dari etil asetat,sehingga dihasilkan ekstrak n-butanol dan fraksi sisa air (Rahmadani. , 2. Aktivitas Tabir Surya Penentuan Nilai Sun Protection Factor Penentuan nilai SPF, transmisi eritema dan pigemntasi dilakukan berdasarkan optimasi dilaboratorium, sampel fraksi rumput laut coklat (Sargassum polycystu. 05 gram dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL lalu dilarutkan dengan etanol p. a sampai tanda batas dan diperoleh konsentarsi 5000 ppm. Nilai absorbansinya diukur pada daerah Panjang gelombang 290-320 nm dengan interval 5 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan digunakan etanol sebagai blangko. Hasil absorbansiny masing-masing konsentrasi dan dihitung nilai SPF nya. Penentuan Nilai Transmisi Eritema Sampel fraksi rumput laut coklat (Sargassum polycystu. 05 gram dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL lalu dilarutkan dengan etanol p. a sampai tanda batas dan diperoleh konsentarsi 5000 ppm. Nilai absorbansinya diukur pada daerah Panjang gelombang 292,5-317,5 nm dengan interval 5 nm untuk eritema. Penentuan Nilai Transmisi Pigmentasi Sampel fraksi rumput laut coklat (Sargassum polycystu. 05 gram dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml dilarutkan dengan etanol p. a sampai tanda batas dan diperoleh konsentrasi 5000 ppm. Larutan uji kemudian diukur transmisinya pada Panjang 5- 372. 5 nm setiap interval 5 nm untuk pigmentasi. Uji SPF. Transmisi Eritema dengan rumus metode Mansur (Yulianti et al. , 2. SPFycycyyceycaycycycuycyEaycuycycuycoyceycycycnyca = yaya Oc yaya( ) x I() ycu yaycayc . uI) Keterangan : CF = Faktor Koreksi . EE = Spektrum Eritema I = Spektrum Intensitas Cahaya Abs = Absorbansi Sampel Tabir Surya % Transmisi Eritema = Keterangan : yayce Oc yayce Oc ( ycN ycu yayce ) = nilai transmisi = Fluks eritema = T. Fe = banyaknya fluks eritema yang diteruskan oleh tabir surya. % Transmisi Pigmentasi = yaycy Oc yaycy Oc ( ycN ycu yaycy Pengukuran aktivitas peredaman radikal bebas dengan DPPH Larutan ekstrak di buat 1000 ppm dengan cara menimbang 25 mg sampel kemudian dimasukkan dalam labu ukur 25 ml dan ditambah dengan etanol sampai tanda batas. Selanjutnya dibuat seri konsentrasi 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm, dan 500 ppm. Sebanyak 1 mL larutan 0,4 mM DPPH ditambahkan dengan tiap-tiap konsetrasi larutan sampel sampai tanda batas. Serapan diukur dengan spektrofotometri UV Vis pada Panjang gelombang 509,0 nm (Susiloningrum & Sari, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengambilan sampel rumput laut dalam penelitian ini dilakukan dipesisir laut Jepara kemudian dikumpulkan langsung untuk selanjutnya dilakukan pengolahan. Rumput laut dilakukan sortasi basah dengan mencuci menggunakan air mengalir. Tujuan dilakukan pencucian untuk memisahkan kotoran atau bahan asing lainnya dari bahan simplisia, kemudian simplisia dilakukan proses proses pengeringan. Pengeringan ini menggunakan metode dianginanginkan kemudian dilanjut dengan almari pengering pada suhu 50AeC selama 3 hari. Hal ini bertujuan agar pengeringan lebih merata kadar air berkurang signifikan, serta mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk tanpa mempengaruhi cuaca. Pengeringan dengan suhu 50AeC bertujuan untuk menjaga senyawa yang ada pada simplisia tidak rusak serta mutu simplisi tetap terjaga (Depkes RI. Tabel 1. Hasil Pengolahan Rumput Laut Jenis Rumput Laut Sargassum polycystum Simplisia Basah 10000 gram Simplisia Kering 4780 gram Serbuk 4700 gram Warna Coklat Proses selanjutnya setelah diperoleh simplisia kering adalah dilakukan penyerbukan dengan cara diblender. Tujuan dilakukan penyerbukan pada simplisia yaitu untuk meningkatkan luas permukaan partikel, karena semakin luas permukaan partikel akan semakin memperbesar kontak dengan pelarut sehingga proses ekstraksi dapat berjalan dengan efektif. Serbuk simplisia diayak menggunakan ayakan no. 40 mesh artinya 1 inchi terdapat 40 lubang untuk memperkecil ukuran sehingga dapat menghomogenkan ukuran serbuk dan memisahkan bagian simplisia kasar dan halus (Andriani et al. , 2. Proses ekstraksi dilakukan dengan menimbang serbuk rumput laut rumput laut coklat sebanyak 200 gram kemudian dilarutkan dengan pelarut etanol konsentrasi 60% sebanyak Larutan kemudian di sonifikasi dengan metode Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) pada suhu 40AC selama 2 menit dan diulang sebanyak 3x. Selanjutnya ekstrak disaring untuk memisahkan ampas yang sudah disaring disonifikasi kembali menggunakan pelarut yang sama sebanyak 750 ml selama 2 menit dan diulang 3x. Setelah itu ekstrak disaring dan di residu disonifikasi kembali menggunakan pelarut sebanyak 750 mL selama 2 menit dan diulang 3x (Susiloningrum & Sari, 2. Larutan hasil ekstrak dikumpulkan dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator dengan suhu 40AC. Tujuan pemekatan pada suhu 40AC untuk menjaga senyawa metabolit agar tidak rusak karena pemanasan. Ekstrak Sargassum polycystum 60% Tabel 2. Bobot Ekstrak Bobot serbuk Bobot ekstrak 200 gram 75 gram % Rendemen Hasil rendemen yang diperoleh dari rumput laut coklat adal 2. 38 %. Rendemen adalah perbandingan antara hasil banyaknya metabolit yang didapatkan setelah proses ekstraksi dengan simplisia awal yang digunakan. Hasil rendemen suatu sampel diperlukan untuk mengetahui banyak ekstrak yang diperoleh selama ekstraksi. Semakin tinggi nilai rendemen menujukkan bahwa ekstrak yang dihasilkan semakin besar. Rendemen dikatak baik jika lebih dari 10% (Wardaningrum, 2. Hasil Fraksinasi dari ekstrak Sargassum polycystum 60% Langkah selanjutnya setelah diperoleh ekstrak kemudian dilanjutkan dengan fraksi cair-cair dengan menggunakan pelarut bertingkat kepolarannya. Fraksinasi bertujuan untuk memisahkan golongan senyawa kimia dengan golongan senyawa kimia yang lain berdasarkan kepolarannya. Berdasarkan polarity index, pelarut n-heksan memiliki index . sedangkan etil aetat . , butanol . , dan air memiliki nilai . (Haris, 2. Semakin besar nilai polarity index maka semakin polar pelarut tersebut. Dari ragam nilai index tersebut dapat diketahui bahwa urutan pelarut dari non polar ke polar. Pemilihan pelarut ini dimaksudkan agar senyawa-senyawa yang memiliki kepolaran berbeda dapat terekstrak kedalam pelarut yang sesuai dalam proses ini terdapat dua lapisanyang tidak saling bercampur. Lapisan yang bersifat polar . ase ai. mengekstrak komponen gula . sedangkan pelarut semi polar maupun non polar . ase organi. mengekstrak metabolit sekunder . (Sukandar et al. , 2. Fraksi yang diperoleh berbentuk ekstrak kental. Fraksi n-heksana dan etil asetat berwarna hijau pekat sedangkan butanol bewarna kuning. Perbedaan warna ini disebabkan karena pada saat di ekstrakasi menggunakan pelarut etanol . senyawa fitokimia yang bersifat polar yang ada pada sampel telah terekstrak lebih dulu dari pada pelarut n-butanol (Suryadi et al. Senyawa bioaktif tanaman mempunyai afinitas yang berbeda-beda terhadap sifat polaritas pelarut yang digunakan oleh karena itu untuk mengambil senyawa bioaktif yang terkandung di dalam jaringan tanaman digunakan pelarut yang berbeda-beda tingkat Pelarut n-heksana adalah pelarut non polar yang digunakan untuk melarutkan senyawa-senyawa non polar seperti minyak, karetenoid, steroid/terpenoid, sedangkan pelarut semipolar seperti etil asetat dan n-butanol dapat melarutkan senyawa flavonoid aglikon (Sembiring et al. , 2. Berdasarkan skrining fitokimia pada N heksan, etil asetat, butanol dan air positif mengandung flavonoid. Hal ini dapat dilihat dari tabel 3. Tabel 3. Hasil Skrining Fitokimia N-Heksan. Etil Asetat. Butanol dan Air Hasil skrining Golongan Pereaksi Fraksi NFraksi Etil Fraksi Butanol Heksan Asetat Uji willstater Jingga ( ) Jingga ( ) Jingga ( ) Uji bate-smith Merah ( ) Merah ( ) Merah ( ) Flavonoid Kuning kehijauan Kuning kehijauan Kuning kehijauan Uji NaOH 10% ( ) ( ) ( ) Fraksi Air Jingga ( ) Merah ( ) Kuning kehijauan ( ) Hasil Uji SPF. Eritema dan Pigmentasi Fraksi ekstrak Sargassum polycystum 60% Ekstrak Sargassum polycystum 60% Etil Asetat n-Heksan n-Butanol Air Tabel 4. Hasil uji dari 4 fraksi pelarut Uji Uji Antioksidan SPF Eritema Pigmentasi 8,59 20,28 21,43 24,01 18,60 10,22 7,96 5,74 0,541 0,619 0,778 0,837 4,567 6,642 7,812 8,895 Kategori Proteksi Ultra-Sunblock Proteksi maksimal-Sunblock Proteksi maksimal-Sunblock Proteksi maksimal-Sunblock Penentuan nilai SPF Fraksi n heksan, etil asetat, butanol dan air pada konsentarsi 5000 ppm yang terbaik adalah pada fraksi etil aseta dengan nilai 18,60 termasuk dalam kategori proteksi ultra (>. Dalam proteksi ultra pada aktivitas tabir surya mampu memberikan perlindungan pada sinar UV A . -375 n. dan Sinar UV B( 290-320 n. Adanya aktivitas tabir surya pada fraksi etil asetat Sargassum polycystum 60% dikarenakan adanya metabolit sekunder flavonoid (Hasil skrining menunjukkan hasil yang positi. Proteksi ultra dalam tabir surya mampu melindungi kulit terhadap paparan sinar matahari selama 4-5 jam(Wiraningtyas et al 2. Senyawa flavonoid berpotensi sebagai tabir surya kareana adanya gugus kromofor. Senyawa ini apabila terkena sinar UV maka senyawa terkonjugasi dalam inti benzene akan terjadi resonansi dengan cara transfer electron yang mampu menyerap sinar UV A dan sinar UV B sehingga mengurangi intensitas pada kulit (Shovyana et al. , 2. Transmisi eritema adalah banyaknya energi sinar ultraviolet yang di teruskan pada panjang gelombang uktraviolet (UV B) 290-320 nm. Nilai Presentase eritema menggambarkan kemampuan suatu senyawa kimia dalam memproteksi sinar ultraviolet (UV B) 290-320 nm yang dapat menyebabkan eritema (Kemerahan ). Semakin kecil nilai % transmisi dapat di artikan bahwa potensi tabir surya untuk melindungi kulit semakin baik (Susanti et al. , 2. Hasil penentuan fraksi yang paling baik adalah pada fraksi etil asetat Sargassum polycystum dengan kategori Sun block (<1 %). Dari Hasil tabel menunjukkan bahwa transmisi pigmentasi terbaik adalah fraksi etil asetat dengan kategori Sun block. Sunblock adalah kemampuan suatu molekul kimia yang dapat memberikan perlindungan maksimum terhadap radiasu sinar UV pada kulit dalam bentuk penghalang fisik dan memproteksi secara total untuk kulit yang sangat sensitif terhadap sinar UV A dan UV B serta mencegah terjadinya eritema dan pigmentasi (Syarif et al. , 2. Aktivitas senyawa tabir surya dapat di nyatakan dalam presentase transimisi eritema dan pigmentasi secara spektrofotometri Uv Vis. Transmisi eritema adalah banyaknya gelombang ultraviolet (UV B) 290-320 nm sedangkan transmisi pigmentasi merupakan banyakya energi sinar ultraviolet yang diteruskan pada panjang gelombang ultraviolet. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari empat jenis pelarut yang digunakan dalam fraksinasi yang paling poten untuk di jadikan kandidat senyawa baru berasal dari fraksi etil asetat. Dari hasil skrining fitokimia menunjukkan etil asetat positif mengandung flavonoid. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sargassum polycystum dari hasil skrining fitokimia positif senyawa flavonoid. Senyawa flavonoid berpotensi sebagai tabir surya dan antioksidan karena adanya gugus kromofor yang umumnya memberikan warna pada tanaman. Gugus kromofor merupakan sistem aromatic terkonjugasi yang meyebabkan kemapuan untuk menyerap kuat sinar matahari pada panjang gelombang sinar UV (Shovyana et al. , 2. Kemapuan senyawa anti aging dapat dilihat dari aktivitas antioksidan dan tabir surya. Kedua aktivitas ini menunjukkan hal yang positif. Dimana semakin besar aktivitas antioksidan maka semakin besar aktivitas tabir surya (Susanti et al. ,2. Antioksidan mempunyai fungsi mengurangi kerusakan sel dan penuaan dini dengan menginhibisi terjadinya reaksi oksidasi sel (Maya & Mutakin, 2. Tingkat efektifitas suatu tabir surya didasarkan pada pengukuran nilai SPF. Semakin tinggi nilai SPF dalam suatu tabir surya maka semakin tinggi pula kemampuan untuk melindungi kulit dari efek berbahaya sinar UV (Susiloningrum et al. , 2. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Hasil uji aktivitas Anti Aging dari fraksinasi n-heksan, etil asetat, butanol dan air yang paling poten sebagai kandidat anti aging baru adalah fraksi etil asetat. Kemampuan anti aging dapat dilihat dari aktivitas tabir surya. Kedua aktivitas ini menunjukkan hal yang selaras dimana semakin besar aktivitas antioksidan maka semakin besar aktivitas tabir surya. Saran Hasil uji aktivitas Anti Aging dari fraksinasi n-heksan, etil asetat, butanol dan air yang paling poten sebagai kandidat anti aging baru adalah fraksi etil asetat. Kemampuan anti aging dapat dilihat dari aktivitas tabir surya. Kedua aktivitas ini menunjukkan hal yang selaras Dimana semakin besar aktivitas antioksidan maka semakin besar aktivitas tabir surya. UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih kepada Kemristek BRIN yang telah mendanai PDP berdasarkan surat kontrak No: No. 072/LL/PB/AL. 04/2024 tanggal 12 Juni 2024 DAFTAR PUSTAKA