DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial p-ISSN: 2809-3585, e-ISSN: 2809-3593 Volume 1, nomor 1, 2020, hal. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. untuk Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Materi Pokok Segiempat Kelas VII-4 Semester II SMP Negeri 1 Madapangga Tahun Pelajaran 2019/2020 Murtalib1*. Gunawan1. Mutmainah1. Pri Ayu Nurwadani2. Ayu Almahira2 Dosen Prodi Pendidikan Matematika. STKIP Bima. Kota Bima. Indonesia Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika. STKIP Bima. Kota Bima. Indonesia *Coresponding Author: murtalib_mat@stkipbima. Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah model pembelajran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Togethe. dapt meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa dalm pembelajran materi pokok segiempat kelas VII-4 SMP Negeri 1 Madapangga Tahun Pelajaran 2019/2020. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilakukan dalm tiga siklus, dimana setiap siklus terdiri dari tiga kali pertemuan, dua kali pertemuan untuk proses pembelajran, dan satu kali pertemuan untuk evaluasi. Data prestasi belajar dikumpulkan melalui tes evaluasi pada akhir siklus sedangkan data kegiatan guru dan siswa dikumpulkan melalui lembar observasi. Melalui analisis hasil evaluasi secara keseluruhan dari setiap siklus dapt dilihat adanya peningkatan persentase hasil belajar secara klasikal dari siklus I sebesar 71,42%, siklus II sebesar 80,64%, siklus i sebesar 90,32%. Sedangkan aktivitas siswa juga meningkat dari siklus kesiklus, dimana pada siklus I rata-rata skor 2,93 berkategori cukup aktif, siklus II rata-rata 3,52 berkategori aktif, siklus i rata-rata 4,03 berkategori aktif. Dengn melihat proses pembelajran dan hasil evaluasi yang diperoleh, diketahui bahawa penerapan model kooperatif tipe NHT dapt meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa materi pokok segiempat kelas VII-4 SMP Negeri 1 Madapangga tahun pelajaran 2019/2020. Kata Kunci: Model kooperatif tipe NHT. Prestasi Belajar. Aktivitas Siswa dalm Pembelajaran PENDAHULUAN Pendidikan disekolah merupakan pendidikan formal yang diselenggarakan melalui proses pembelajran. Proses pembelajran diharapkan mampu menghasilkan siswa yang mempunyai kemampuan berfikir logis, kritis, kreatif, berinisiatif dan adaftif terhadap perubahan dan perkembangan. Tampaknya diperlukan transformasi pendidikan dalm menghadapi era pembangunan, dari belajar secara menghafal ke belajar secara berfikir, dari belajar secara dangkal ke belajar secara mendalm, dari orientasi pada transfer pengetahuan ke pengembangan pengetahuan, keterampilan serta watak (Suarta, 2. Proses pendidikan di sekolah merupakan kegiatan belajar yang pokok. Ini berarti bahawa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik (Slameto, 2. Melihat hal ini, dalm proses pembelajran guru dituntut untuk lebih meningkatkan kemampuannya dalm merancang sebuah metode dan keterampilan yang tepat dalm pembelajran matematika untuk dapt membangkitkan minat dan keaktifan siswa dalm proses belajar mengajar. Dalm membuat rencana pembelajran yang akan diberikan di kelas seorang guru harus mampu membangkitkan semangat belajar dan motivasi belajar siswa, selain itu harus mampu membuat siswa berperan aktif dalm kegiatan belajar mengajar. Namun kenyataannya tidak demikian, guru sering mendominasi kelas dalm proses belajar mengajar. Kondisi ini akan berdampak terhadap perolehan hasil belajar matematika dan prestasi belajar siswa. @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A Rendahnya prestasi belajar siswa masih menjadi kendala yang sangat besar bagi dunia pendidikan. Rendahnya prestasi belajar tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya siswa yang mengalami masalah secara konprehensif, hal ini dipengaruhi oleh faktor internal siswa seperti kesiapan, minat, motivasi, intelegensi, sikap terhadap belajar dan faktor eksternal seperti model pembelajran yang dikembangkan oleh guru (Slameto, 2. Selanjutnya, menurut Bunyamin S. Bloom . alm Winkel, 1. menyatakan bahawa banyak guru terlalu sibuk dengn mengatur para siswa (Management of Learner. dan kurang memusatkan perhatian pada pengelolaan belajar siswa (Management of Learnin. Kualitas pengajaran sangat menentukan keberhasilan siswa. Kualitas pengajaran tergantung dari bagaimana guru menyajikan materi yang harus dipelajari, bagaimana guru memberikan penguatan (Reinforcemen. , bagaimana guru mengaktifkan siswa supaya berpartisipasi dan merasa terlibat dalm kegiatan pembelajran, dan bagaimana guru memberikan informasi kepada siswa tentang keberhasilan mereka. Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 1 Madapangga terlihat bahawa nilai rata-rata yang dicapai siswa kelas VII-4 pada mata pelajaran matematika untuk nilai semester I tahun pelajaran 2019/2020 lebih rendah dibandingkan kelas yang lain, datanya dapt dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Nilai rata-rata pelajaran matematika siswa kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga semester I tahun pelajaran 2019/2020. Kelas VII-1 VII-2 VII-3 VII-4 Nilai rata-rata 71,65 66,13 67,42 65,12 (Sumber: Guru Mata Pelajaran Matematika Kelas VII SMP Negeri 1 Madapangg. Nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu sebesar 65. Dari data di atas dapt dilihat bahawa nilai rata-rata kelas sudah diatas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), akan tetapi apabila dilihat dari hasil ulangan harian tiap materi pokok nilai rata-ratanya sangat rendah. Hal ini diduga karena model pembelajran yang digunakan oleh guru belum mampu mengajak/memotivasi siswa untuk belajar lebih aktif dan lebih banyak berpartisipasi dalm proses belajar mengajar. Penggunaan model pembelajran yang tepat akan dapt meninggkatkan kemampuan siswa dalm memahami dan menguasai materi pelajaran sehingga pencapaian tujuan pembelajran dapt ditingkatkan. Dengn demikian, maka guru semestinya memilih dan menggunakan model pembelajran yang tepat untuk meningkatkan aktivitas belajar sehingga dapt meningkatkan prestasi belajar siswa. Tabel 2. Nilai rata-rata ulangan harian mata pelajaran matematika siswa kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga semester II tahun pelajaran 2018/2019. Materi Pokok Himpunan Garis dan Sudut Segitiga Segiempat VII-1 Nilai Rata-rata VII-2 VII-3 VII-4 50,73 60,13 50,78 60,32 50,67 61,12 60,32 52,45 62,50 50,55 53,35 61,11 50,23 50,78 50,19 50,76 60,20 51,25 62,12 50,41 Dari data di atas dapt dilihat bahawa nilai rata-rata ulangan harian matematika materi pokok segiempat sangat rendah. Di sisi lain, berdasarkan informasi dari guru @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A matematika di SMP Negeri 1 Madapangga, bahawa hanya sebagian kecil siswa yang melibatkan diri secara aktif dalm proses belajar mengajar matematika. Mereka itu adalah siswa-siswa yang berprestasi tinggi sedangkan siswa-siswa yang kurang pintar terlihat pasif, sehingga mereka sulit untuk memahami materi yang diajarkan dalm proses pembelajran. Selain itu guru lebih mendominasi pada saat pembelajran Untuk mencapai tujuan pembelajran matematika secara efektif dan efisien, maka diperlukan model pembelajran yang tepat sehingga pembelajran lebih terarah dan bermakna bagi siswa. Salah satu model pembelajran tersebut adalah model pembelajran kooperatif, karena pembelajran kooperatif lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama, aktif, kreatif, berfikir kritis dan kemampuan untuk membantu teman didalm proses belajar mengajar. Interaksi antar siswa sangat penting dalm pembelajran, interaksi antar siswa memudahkan siswa itu sendiri untuk dapt mengeluarkan ide, gagasan dan pendapt dengn mudah, sehingga bisa saling berbagi antara siswa yang satu dengn siswa yang Dalm kegiatan pembelajran penekanan aspek ini dapt diterapkan dengn kegiatan pembelajran kooperatif salah satunya adalah tipe NHT (Numbered Head Togethe. Teknik pembelajran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Togethe. adalah teknik yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat (Lie, 2. Selanjutnya Ibrahim, dkk . mengatakan bahawa pembelajran kooperatif tipe NHT adalah suatu pendekatan yang melibatkan lebih banyak siswa dalm menelaah materi yang tercakup dalm suatu pembelajran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Sebagai gantinya mengajukan pertanyaan pada seluruh kelas, guru menggunakan struktur 4 langkah, yaitu penomoran, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama dan menjawab. Selain itu teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka. Keunggulan teknik ini juga yaitu bisa digunakan pada semua mata pelajaran dan tingkatan usia anak didik (Lie, 2. Oleh karena itu model pembelajran kooperatif tipe NHT sangat perlu digunakan dalm proses pembelajran karena pada inti kegiatannya guru memberikan penomoran kepada setiap siswa dalm kegiatan diskusi kelmpok. Fungsi dari penomoran ini adalah agar setiap siswa selalu siap dengn menjawab atas pertanyaan yang diberikan dan tidak tergantung pada siswa yang sering aktif saja. Sehingga model pembelajran kooperatif tipe NHT mampu membantu siswa menumbuhkan kerjasama, berpikir kritis, membantu teman dan selalu siap dengn jawaban atas pertanyaan, mengaktifkan siswa, sehingga nantinya diharapkan mampu memperbaiki dan meningkatkan prestasi belajar siswa. Dari uraian diatas maka penulis bermaksut akan melakukan penelitian di SMP Negeri 1 Madapangga dengn mengangkat judul AyPenerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) untuk meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Materi Pokok Segiempat kelas VII-4 SMP Negeri 1 Madapangga Tahun Pelajaran 2019/2020Ay. @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A KAJIAN TEORI Pembelajran Pembelajran adalah suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusia, material, perlengkapan, dan prosedur yang paling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajran, (Aqib, 2. Berdasarkan teori belajar, pembelajran memiliki beberapa pengertian antara lain: . Pembelajran adalah upaya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik/ siswa sekolah. Pembelajran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang . Pembelajran adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah. Pembelajran adalah suatu proses untuk membantu siswa dalm menghadapi kehidupan sehari-hari, (Aqib, 2. Dari beberapa pengertian di atas dapt disimpulkan bahawa pembelajran adalah suatu proses atau upaya mempersiapkan peserta didik dengn cara menyampaikan pengetahuan melalui lembaga pendidikan sekolah supaya menjadi warga masyarakat yang baik. Model Pembelajran Model pembelajran kooperatif adalah model pengajaran dimana siswa belajar dalm kelmpok-kelmpok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda (Anonim, 2. Sedangkan menurut Ibraham, dkk . pembelajran kooperatif merupakan pembelajran yang dicirikan oleh struktur tugas, tujuan dan penghargaan Siswa yang bekerja dalm situasi pembelajran kooperatif didorong dan atau dikehendaki untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usaha untuk menyelesaikan tugasnya. Selanjutnya menurut Lie . , mengatakan bahawa model pembelajran kooperatif adalah pembelajran yang dicirikan dengn sistem kerjasama/belajar kelmpok yang terstruktur, dimana dalm menyelesaikan tugas kelmpok setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran, belajar belum selesai jika salah satu dari teman dalm kelmpok belum menguasai bahan Dari beberapa pendapt di atas, dapt disimpulkan mengenai definisi pembelajran kooperatif adalah pembelajran yang menempatkan siswa dalm kelmpok yang berbeda kemampuan, menyelesaikan tugas bersama dalm kelmpok, saling membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran sampai seluruh anggota kelmpoknya memahami bahan pelajaran. Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. Teknik pembelajran Tipe NHT (Numbered Head Togethe. adalah teknik yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat (Lie, 2. Selain itu teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka. Teknik ini bisa digunakan dalm semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik. Menurut Lie . langkah pembelajrannya adalah sebagai berikut: Siswa dibagi dalm kelmpok. Setiap siswa dalm tiap kelmpok mendapt nomor. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelmpok mengerjakannya Kelmpok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelmpok mengetahui jawabannya @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A Guru memanggil salah satu nomor yang dianggap melaporkan hasil kerjasama Selanjutnya menurut Ibrahim, dkk . mengatakan bahawa NHT atau penomoran berpikir bersama merupakan jenis pembelajran kooperatif yang sejenis dengn TPS (Think Pair Shar. yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Sebagai gantinya guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas untuk menggunakan struktur empat langkah berikut ini: . Penomoran. Guru membagi ke dalm kelmpok beranggotakan 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelmpok diberi nomor 1-5. Mengajukan pertanyaan. Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa, pertanyaan dapt bervariasi, dapt bersifat spesifik dan dalm bentuk kalimat tanya atau . Berpikir bersama. Siswa menyatukan pendapt terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota kelmpok mengetahui jawabannya. Menjawab. Guru memanggil nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Prestasi Belajar Dalm dunia pendidikan dan pengajaran, prestasi belajar memegang peranan Prestasi belajar merupakan gambaran keberhasilan seorang guru dalm mengajar dan juga gambaran keberhasilan siswa dalm belajar. Dalm kaitan ini. Sudjana . mengatakan bahawa prestasi belajar adalah kemampuan yang dimiliki setelah menerima pengalaman belajar. Prestasi belajar merupakan gambaran dari keberhasilan suatu proses belajar mengajar secara keseluruhan. Dengn demikian prestasi belajar merupakan perubahan-perubahan yang dicapai oleh seseorang. Perubahan-perubahan tersebut kemudian diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalm angka atau Menurut Djamarah . mengemukakan bahawa prestasi belajar adalah penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa dalm segala hal yang dipelajari di sekolah yang menyangkut pengetahuan dan percakapan/keterampilan yang dinyatakan sesudah hasil penilaian. Penilaian tersebut dilakukan dengn evaluasi. Setelah menelusuri pengertian prestasi belajar di atas, maka dapt diambil pengertian yang cukup sederhana mengenai prestasi belajar. Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalm diri individu sebagai hasil dari suatu aktivitas dalm belajar. Prestasi belajar merupakan suatu penghargaan yang diberikan di bidang akademik sebagai kebutuhan siswa sehingga siswa berusaha belajar seoptimal mungkin untuk memperoleh penghargaan berupa penilaian yang dapt dinyatakan dalm angka atau pernyataan. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru/peneliti mulai dari perencanaan sampai dengn penilaian terhadap tindakan nyata di dalm kelas yang @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A berupa kegiatan belajar mengajar untuk memperbaiki kondisi pembelajran yang dilakukan (Wibawa. B, 2. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalm penelitian ini ada 2 yaitu pendekatan kuantitatif merupakan data kuantitatif adalah pendekatan yang bersifat atau memiliki karakteristik bahawa datanya dinyatakan dalm statistik yang bentuk angka-angka (Arikunto, 2. Data kuantitatif berupa data hasil belajar siswa, dan pendekatan kualitatif, data kualitatif adalah berupa kata-kata yang dipaparkan sesuai kejadian dalm penelitian (Arikunto, 2. Data kualitatif berupa aktivitas atau tingkah laku siswa pada saat proses belajar mengajar dilaksanakan. Faktor Yang Diselidiki Adapun faktor-faktor yang diselidiki dalm penelitian ini antara lain: . Faktor siswa meliputi aktivitas belajar dan prestasi belajar matematika siswa pada materi pokok segiempat melalui penerapan model pembelajran kooperatif tipe NHT (Numbered Head togethe. Faktor guru meliputi cara guru dalm merencanakan pembelajran dan kesesuaian pelaksanaannya selama mengajar. Rancangan Penelitian Adapun rancangan yang dimaksud adalah tindakan berupa peningkatan prestasi belajar matematika pokok bahasan AysegiempatAy dengn menggunakan model pembelajran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Togethe. pada siswa kelas VII semester II SMP Negeri 1 Madapangga Tahun Pelajaran 2019/2020. Dalm meningkatkan aktivitas dan ketuntasan dalm pembelajran tersebut digunakan tindakan berulang atau siklus yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Pada penelitian ini rencana tindakan terdiri atas 3 siklus, yang setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan. Untuk setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut: Siklus Pertama Perencanaan Dalm tahap ini, hal-hal yang dilakukan adalah: Menyusun rencana program pembelajran . Menyusun lembar kerja siswa (LKS) . Membuat lembar observasi . Menyusun tes lembar evaluasi Pelaksanaan Tindakan Dalm tahap pelaksanaan tindakan dilakukan pembelajran sesuai dengn rencana pembelajran yang telah disusun. Observasi dan Evaluasi Kegiatan observasi dilakukan secara kontinu dengn mengisi lembar observasi setiap kali pembelajran berlangsung, dalm pelaksanaan tindakan dengn mengamati kegiatan guru dan aktivitas siswa. Adapun yang menjadi observer adalah guru mata pelajaran matematika kelas VII semester II SMP Negeri 1 Madapangga dan peneliti sebagai pengajar. Sedangkan pada akhir siklus dilakukan evaluasi hasil belajar untuk mengetahui pemahaman atau penguasaan siswa terhadap konsep-konsep yang dipelajari. @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A Refleksi Hasil yang diperoleh dari hasil observasi dan hasil evaluasi belajar siswa dikumpulkan serta dianalisis, sehingga dari hasil tersebut guru dapt merefleksi diri dengn melihat data observasi, yaitu: identifikasi kekurangan, analisis sebab kekurangan dan menentukan perbaikan pada siklus berikutnya. Siklus Kedua Pelaksanaan siklus kedua ini urutannya sama dengn pelaksanaan pada siklus pertama dan tindakan yang dilakukan pada siklus kedua ini berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama. Siklus Ketiga Pelaksanaan siklus ketiga ini juga urutannya sama dengn pelaksanaan pada siklus pertama dan kedua. Tindakan yang dilakukan pada siklus ketiga ini berdasarkan hasil refleksi pada siklus kedua. Tabel 3. Adapun rincian dari siklus-siklus adalah sebagai berikut. Siklus i Materi Persegi Panjang Persegi Evaluasi Jajargenjang Belah ketupat Evaluasi Layang-layang Trapesium Evaluasi Pertemuan i i i Teknik Pengumpulan Data Sumber Data Lembar observasi siswa pada saat pembelajran berlangsung. Skor prestasi pada setiap siklus setelah diadakan evaluasi. Lembar observasi kegiatan guru dan rencana pelaksanaan pembelajran. Jenis Data Jenis data dalm penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif yang terdiri dari: Data kualitaif berupa hasil observasi kegiatan guru dan aktivitas belajar siswa pada saat proses pembelajran. Data kuantitatif berupa data hasil belajar yang diberikan pada setiap akhir siklus dengn menggunakan model pembekajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Togethe. Cara Pengambilan Data Cara pengambilan data dalm penelitian ini adalah: Data hasil belajar diperoleh dengn cara observasi awal untuk mengetahui prestasi siswa sebelum diajarkan dengn model pembelajran kooperatif tipe NHT. Tes dilakukan pada setiap akhir pelaksanaan tindakan . dengn jumlah soal 5 @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A butir soal essay per siklus. Siswa diberi tes hasil belajar yang diadakan secara individual dengn tujuan untuk mengetahui peningkatan prestasi siswa pada setiap pelaksanaan tindakan. Tes pada akhir penyampaian materi (Post Tes. ini diberikan untuk membandingkan prestasi belajar siswa sebelum dan sesudah diajarkan dengn model pembelajran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Togethe. Data tentang situasi belajar mengajar didapt dari lembar observasi yaitu berisikan deskriptor-deskriptor perilaku yang diamati selama berlangsungnya proses belajar mengajar. Instrumen Penelitian Arikunto . menerangkan bahawa instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalm mengumpulkan data. Instrumen penelitian ini berfungsi dalm memudahkan pekerjaan dan hasilnya lebih baik dalm arti cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Adapun instrumen yang digunakan dalm penelitian ini adalah: Lembar Observasi Lembar observasi adalah suatu alat penilaian yang digunakan untuk mengukur atau menilai hasil dan proses belajar misalnya tingkah laku siswa pada waktu belajar dan tingkah laku guru pada waktu mengajar (Sudjana, 2. Observasi dilakukan dengn menggunakan lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa. Pengamatan dilakukan oleh satu orang pengamat selama proses belajar mengajar berlangsung. Tes Hasil Belajar Untuk mengetahui hasil belajar siswa diperoleh dengn menggunakan instrumen Tes adalah alat ukur yang diberikan kepada individu untuk mendaptkan jawabanjawaban yang diharapkan baik secara tertulis atau secara lisan maupun dengn perbuatan (Sudjana, 1. Tes diberikan kepada siswa pada akhir penyampaian materi (Post Tes. secara individu. Analisis Data Data Tes Hasil Belajar (Data Kuantitati. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa, hasil tes belajar dianalisis secara deskriptif dengn menentukan skor rata-rata hasil tes. Analisis untuk mengetahui hasil tes belajar menurut Thoha . dirumuskan sebagai berikut: Eux Keterangan: M = Mean . ata-rat. Eux = Jumlah nilai total yang diperoleh dari hasil penjumlahan nilai setiap individu N = Banyaknya individu . eserta te. @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A Prestasi belajar dikatakan meningkat apabila terdapt peningkatan rata-rata dari nilai sebelumnya. Untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa, digunakan kriteria sebagai berikut: Ketuntasan individu, setiap siswa dalm proses belajar mengajar secara individu apabila siswa mampu memperoleh nilai > 65. Ketuntasan klasikal, dihitung dengn persamaan KK A x 100% Keterangan: = Ketuntasan Klasikal = Jumlah siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas = Jumlah siswa Sesuai dengn petunjuk teknik penilaian kelas dapt dikatakan tuntas secara klasikal terhadap prestasi pembelajran yang disajikan bila ketuntasan klasikal > 85% (Nasution, 1. Analisis Hasil Observasi (Data Kualitati. Aktivitas Guru Tabel 4. indikator perilaku guru pada penilaiannya mengikuti aturan berikut Kategori BS (Baik Sekal. B (Bai. C (Cuku. K (Kuran. SK (Sangat Kurang ) Penilaian Jika semua deskriptor nampak Jika 3 deskriptor nampak Jika 2 deskriptor nampak Jika 1 deskriptor Nampak Jika tidak ada deskriptor nampak Aktivitas Siswa Data aktivitas belajar siswa di analisis dengn cara sebagai berikut: Menentukan skor yang diperoleh Data aktivitas siswa dalm proses pembelajran diperoleh melalui pengamatan langsung dalm setiap pertemuan kelas yang diamati oleh observer dan mengacu pada lembar observasi aktivitas belajar siswa yang sudah dibuat oleh peneliti. Setiap indikator prilaku siswa pada penelitian ini, cara pemberian skor berdasarkan pedoman berikut: Skor 5 diberikan jika X > 75% Skor 4 diberikan jika 50% < X C 75% Skor 3 diberikan jika 25% < X C 50% Skor 2 diberikan jika X C 25% Skor 1 diberikan jika X = 0% Untuk mengetahui aktivitas siswa dalm pembelajran, maka data hasil observasi yang berupa skor diolah dengn rumus: M= Eu Keterangan: = Skor rata-rata aktivitas siswa @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A EuX = Jumlah skor aktivitas siswa = Banyaknya indikator Skor Maksimal Ideal (SMI) merupakan skor tertinggi aktivitas siswa yang didapt apabila semua deskriptor yang diamati nampak yaitu skor 5. Untuk menilai kategori aktivitas siswa, ditentukan terlebh dahulu MI dan SDI. Menentukan MI dan SDI (Skor tertinggi skor terenda. = . = x MI = x3 SDI Keterangan: MI = Mean Ideal SDI = Standar Deviasi Ideal Untuk menentukan kateogri kegiatan aktivitas belajar siswa dapt dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. Pedoman skor standar aktivitas siswa Interval Nilai MI 1,5 SDI < M A> 4,5 Kategori Sangat aktif MI 0,5 SDI < M < MI 1,5 SDI 3,5 < A < 4,5 Aktif MI Ae 0,5 SDI < M < MI 0,5 SDI 2,5 < A < 3,5 Cukup Aktif MI Ae 1,5 SDI < M < MI Ae 0,5 SDI 1,5 < A < 2,5 Kurang Aktif Sangat Kurang M < MI Ae 1,5 SDI A < 1,5 Aktif Indikator Kerja Adapun yang menjadi indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah pencapaian prestasi dan aktivitas belajar siswa dengn ketuntasan berikut: Prestasi belajar siswa dikatakan meningkat melalui penerapan model pembelajran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Togethe. apabila mencapai nilai rata-rata kelas minimal 65. Dan apabila minimal 85% siswa mencapai nilai minimal 65. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila aktivitas belajar siswa minimal berkategori aktif. @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan untuk mengetahui tingkat prestasi dan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas VII-4 SMP Negeri 1 Madapangga dengn menerapkan model pembelajran kooperatif tipe NHT. Dari observasi dan tes diperoleh data kualitatif tentang aktivitas siswa dan data kuantitatif hasil belajar siswa. Data-data tersebut selanjutnya dianalisis dengn menggunakan metode dan rumus yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun analisis tiap-tiap siklus akan dipaparkan sebagai berikut: Siklus I Adapun langkah-langkah pokok yang dilaksanakan pada siklus I adalah: perencanaan, pelaksanaan tindakan, tahap observasi, evaluasi dan refleksi diakhir Perencanaan Tahap perencanaan siklus I diawali dengn mensosialisasikan model pembelajran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Togethe. kepada guru matematika kelas VII4 SMP Negeri 1 Madapangga. Pada tahap perencanaan ini juga dilakukan persiapan seperti: membuat kelmpok yang terdiri dari 8 kelmpok beranggotakan 4 orang dan ada yang 3 orang membuat Rencana Pelaksanaan pembelajran, menyiapkan lembar observasi kegiatan guru dan siswa, menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan diskusi, serta membuat soal evaluasi siklus I lengkap dengn kunci jawabannya. Pelaksanaan Tindakan Pada tahap ini, pelaksanaan siklus I dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan, dua kali pertemuan untuk pembelajran dan satu kali pertemuan untuk evaluasi. Pertemuan pertama berlangsung dua jam pelajaran, materi yang dibahas yaitu persegi, yang mencangkup pengertian persegi, sifat-sifat persegi, luas dan keliling Pertemuan kedua dengn materi persegi panjang selama dua jam pelajaran. Sedangkan pada pertemuan ketiga yaitu dilakukan evaluasi satu jam pelajaran . x 40 Observasi dan Evaluasi Observasi Kegiatan observasi dilakukan secara kontinu setiap kali pembelajran berlangsung dalm pelaksanaan tindakan dengn mengamati aktivitas belajar siswa dan aktivitas guru dalm mengajar. Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Berdasarkan hasil observasi aktivitas belajar siswa siklus I pertemuan pertama dan pertemuan kedua skor rata-rata aktivitas belajar siswa dapt dilihat pada tabel @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A Tabel 5. Data aktivitas belajar siswa siklus I Siklus I Jumlah Skor Skor Rata-rata Pertemuan 1 Pertemuan 2 2,87 3,00 Rata-rata Aktivitas Siswa 2,93 Kategori Cukup Aktif Berdasarkan interval kategori aktivitas belajar siswa pada pertemuan pertama jumlah skor yang diperoleh 46, sehingga skor rata-rata aktivitas belajar siswa 2,87. Sedangkan pada pertemuan kedua jumlah skor yang diperoleh 48, sehingga skor ratarata aktivitas belajar siswa adalah 3,00. Adapun rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I menjadi 2,93 dengn kategori cukup aktif. Adapun kekurangan-kekurangan pada siklus I sebagai berikut: Siswa masih ragu dalm merespon pertanyaan guru. Siswa tidak bertanya pada rekannya yang lebih bisa. Siswa tidak mengemukakan pendapt pada guru. Komunikasi dan kerjasama siswa dalm kelmpok masih Hasil Observasi Aktivitas Guru Hasil observasi aktivitas guru selama proses pembelajran siklus I terlihat bahawa kegiatan yang dilakukan guru sudah cukup baik, meskipun demikian masih ada kekurangan-kekurangan yang terdapt pada siklus ini, yaitu: a. Guru kurang menguasai materi pembelajran. Guru masih kurang dalm membimbing siswa dalm diskusi kelmpok. Hasil Evaluasi Kegiatan evaluasi dilakukan pada akhir siklus I yaitu pada pertemuan ketiga dengn memberikan soal essay yang dikerjakan secara individu. Data lengkap hasil prestasi belajar siswa siklus I. Tabel 6. Data hasil evaluasi belajar siswa siklus I Jumlah siswa yang mengikuti tes Nilai tertinggi Nilai terendah Rata-rata nilai Banyaknya siswa yang tuntas Banyaknya siswa yang tidak tuntas Persentase ketuntasan 61,25 71,42% Dari tabel di atas persentase ketuntasan yang diperoleh pada evaluasi siklus I sebesar 71,42% dengn nilai rata-rata sebesar 61,25 dari 28 siswa yang mengikuti tes. Refleksi Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I diperoleh persentase ketuntasan belajar sebesar 71,42% dengn nilai rata-rata 61,25 dan aktivitas belajar siswa baik pertemuan 1 dan 2 masih berkategori cukup aktif dengn rata-rata skor pada pertemuan 1 sebesar 2,87 dan pertemuan 2 sebesar 3,00. Berdasarkan indikator yang telah ditentukan, ketuntasan belajar belum mencapai Ou 85% dan aktivitas belajar siswa juga belum berkategori aktif, karena itu penelitian ini dilanjutkan kesiklus II. Pada siklus II diadakan penyempurnaan dan perbaikan terhadapt kekurangan yang muncul pada siklus I. Adapun penyempurnaan dan perbaikan yang dilakukan pada siklus II adalah: @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A Guru tidak menanyakan kesulitan belajar kepada siswa saat melakukan proses Oleh karena itu diharapkan pada guru, di siklus kedua agar menanyakan kendala atapun kesulitan yang dialami oleh siswa saat melakukan proses pembelajran. Kurangnya interaksi antara siswa yang berkemampuan lebih dengn siswa yang berkemampuan rendah, sehingga siswa yang berkemampuan rendah tidak bisa Untuk mengatasi hal ini pada siklus II diharapkan pada setiap siswa yang berkemampuan lebih untuk menjelaskan kepada teman kelmpoknya yang belum mengerti tentang materi yang dipelajari Berusaha mendorong atau membimbing siswa untuk aktif dalm mengeluarkan pendapt dan menjawab pertanyaan guru, sehingga komunikai antar guru dan siswa Komunikasi dan kerja sama siswa masih kurang. Dimana siswa yang berkemampuan lebih yang selalu mengerjakan tugas-tugas diskusinya sedangkan yang lain kurang berpartisipasi dalm melakukan diskusi. Untuk mengatasi hal tersebut, maka pada siklus II diharapkan pada guru untuk melakukan pembagian tugas masing-masing dalm diskusinya. Guru harus lebih aktif mengarahkan siswa dalm menyimpulkan materi. Guru harus memperdalm pemahaman materi sebelum menyampaikanya ke siswa. Siklus II Pada siklus II materi yang dibahas adalah jajargenjang dan belah ketupat pertemuan I membahas tentang sifat-sifat jajargenjang dan menghitung luas dan kelilingnya, sedangkan pada pertemuan II membahas sifat-sifat belah ketupat,menghitung luas dan kelilingnya. Adapun tahap pelaksanaan pada siklus II sama dengn siklus I, untuk menyempurnakan permasalahan yang dihadapi pada siklus I akan diberikan tindakan antara lain peneliti kembali memberikan arahan kepada siswa mengenai proses pembelajran dengn menggunakan model pembelajran kooperatif tipe NHT. Berikut ini akan diuraikan pelaksanaan penelitian siklus II dari masing-masing tahap: Perencanaan Perencanaan tindakan siklus II tidak jauh berbeda dengn siklus I. Pada tahap perencanaan ini juga dilakukan persiapan seperti: membuat rencana pelaksanaan pembelajran, menyiapkan lembar observasi kegiatan guru dan siswa, menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan diskusi serta membuat soal evaluasi siklus II lengkap dengn kunci jawabannya. Pelaksanaan Tindakan Pada siklus II, tindakan yang dilaksanakan pada dasarnya hampir sama dengn siklus I yaitu melaksanakan tindakan belajar mengajar di kelas sesuai dengn rencana yang dituangkan dalm rencana pelaksanaan pembelajran dan pelaksanaan tindakan dilakukan sebanyak tiga ali pertemuan, dua kali pertemuan untuk pembelajran dan satu kali pertemuan untuk evaluasi. Observasi dan Evaluasi Observasi Berdasarkan observasi kegiatan guru dan siswa diperoleh hasil sebagai berikut: @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A Hasil Observasi Aktivitas Siswa Berdasarkan hasil observasi aktivitas belajar siswa siklus II pertemuan pertama dan pertemuan kedua skor rata-rata aktivitas belajar siswa dapt dilihat pada tabel berikut: Tabel 7. Data hasil observasi aktivitas belajar siswa siklus II Siklus II Jumlah Skor Ratarata Pertemuan 1 Pertemuan 2 3,37 3,68 Rata-rata belajar siswa 3,52 Kategori Aktif Berdasarkan tabel di atas skor rata-rata aktivitas belajar siswa pada pertemuan pertama sebesar 3,37 dan pada pertemuan kedua meningkat menjadi 3,68. Adapun rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus II ini adalah 3,52 dengn kategori aktif. Pada siklus II ini terlihat adanya keterlibatan siswa dalm kelmpok, keterlibatan individu, antusias siswa dalm kegiatan pembelajran dan aktivitas siswa dalm diskusi kelmpok sudah lebih baik dari siklus I. Meskipun aktivitas siswa dari tiap-tiap pertemuan mengalami peningkatan tetapi masih ada beberapa kekurangan-kekurangan selama proses belajar mengajar berlangsung, adapun kekurangan-kekurangan sebagai berikut: Siswa masih malu untuk bertanya sehingga komunikasi dua arah antara siswa dan guru masih kurang Komunikasi dan kerjasama siswa dalm kelmpok nampak kurang. Demikian siswa yang berkemampuan rendah, malu bertanya pada temannya yang berkemampuan tinggi. Hasil Observasi Kegiatan Guru Hasil observasi kegiatan guru selama proses pembelajran pada siklus II dilaksanakan dengn baik, meskipun demikian masih ada kekurangan-kekurangan yang terdapt pada siklus II ini yaitu: Guru kurang memotivasi siswa dalm membangkitkan minat pada awal Guru belum pernah mengaitkan materi pelajaran yang akan dibahas dengn materi sebelumnya Evaluasi Hasil evaluasi pada siklus II selengkapnya dapt dilihat pada data yang diperoleh sebagai berikut: Tabel 8. Data hasil evaluasi belajar siswa siklus II Jumlah siswa yang mengikuti tes Nilai tertinggi Nilai terendah Rata-rata nilai Banyaknya siswa yang tuntas Banyaknya siswa yang tidak tuntas Persentase ketuntasan 68,22 80,64% Dari tabel di atas terlihat bahawa persentase ketuntasan yang diperoleh pada evaluasi siklus II sebesar 80,64% dengn nilai rata-rata sebesar 68,22 dari 31 siswa yang mengikuti tes. Persentase ketuntasan yang diperoleh meningkat dari siklus sebelumnya. @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A Refleksi Berdasarkan hasil penelitian pada siklus II diperoleh persentase ketuntasan belajar sebesar 80,64% dengn nilai rata-rata 68,22 dan aktivitas belajar siswa pada siklus II tergolong aktif. Berdasarkan indikator yang dibuat maka penelitian ini belum berhasil, karena persentase ketuntasan belajar belum mencapai Ou 85%, oleh karena itu penelitian ini dilanjutkan kesiklus berikutnya. Pada siklus selanjutnya yaitu siklus i diadakan penyempurnaan terhadap siklus II. Adapun rencana perbaikan yang akan dilakukan yaitu: Guru memberikan beberapa pertanyaan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, sehingga komunikasi antara guru dan siswa tercipta Guru menentukan tutor sebaya untuk tiap-tiap kelmpok agar mau membantu atau mengajari temannya yang belum bisa. Guru menekankan kepada siswa bahawa kelmpok yang dikatakan berhasil apabila tiap anggota kelmpoknya mengerti atau bisa menjawab pertanyaan yang diberikan. Guru memberikan motivasi kepada siswa untuk membangkitkan minat pada pelajaran yaitu dengn memberikan gambaran tentang kegunaan materi yang sedang dipelajari dalm kehidupan sehari-hari. Siklus i Hasil penelitian siklus i merupakan kelanjutan sekaligus perbaikan dari siklus II. Penelitian pada siklus i sama dengn siklus II yang diawali dengn tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi sampai refleksi. Untuk lebih jelasnya tindakan yang dilakukan pada siklus i akan dipaparkan sebagai berikut: Perencanaan Perencanaan pada siklus i ini tidak jauh berbeda dengn siklus I dan II. Pada tahap perencanaan ini juga dilakukan persiapan-persiapan seperti: menyiapkan RPP, lembar observasi kegiatan guru dan siswa, lembar kerja siswa (LKS), soal evaluasi serta kunci jawabannya. Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan tindakan pada siklus i dilakukan selama tiga kali pertemuan, dua kali pertemuan untuk pembelajran dan satu kali pertemuan untuk evaluasi. Pertemuan pertama dengn materi menemukan sifat-sifat layang-layang, menghitung luas dan kelilingnya. Pertemuan kedua dengn materi menemukan sifat-sifat trapesium,menghitung luas dan kelilingnya. Sedangkan pada pertemuan ketiga dilakukan evaluasi. Observasi dan Evaluasi Observasi Kegiatan observasi dilakukan secara kontinu setiap kali pembelajran berlangsung dalm pelaksanaan tindakan dengn mengamati aktivitas belajar siswa dan aktivitas guru dalm mengajar. Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A Berdasarkan hasil observasi aktivitas belajar siswa siklus i pertemuan pertama dan pertemuan kedua skor rata-rata aktivitas belajar siswa dapt dilihat pada tabel Tabel 9. Data hasil observasi aktivitas belajar siswa siklus i Siklus i Jumlah Skor ratarata Rata-rata Kategori Pertemuan 1 Pertemuan 2 4,00 4,06 4,03 Aktif Berdasarkan tabel di atas skor rata-rata aktivitas belajar siswa pada pertemuan pertama sebesar 4,00 dan pertemuan kedua skor rata-rata aktivitas belajar siswa meningkat menjadi 4,06. Dari hasil observasi rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus i adalah 4,03 selama 2 kali pertemuan dan hasilnya lebih baik dibandingkan dengn siklus-siklus sebelumnya. Hasil observasi Kegiatan Guru Hasil observasi kegiatan guru selama proses pembelajran siklus i terlihat bahawa kegiatan yang dilakukan guru sudah sesuai dengn apa yang direncanakan dan proses belajar mengajar sudah berjalan dengn baik. Evaluasi Data lengkap prestasi belajar siswa siklus i dapt dilihat pada, data yang diperoleh sebagai berikut: Tabel 10. Data hasil evaluasi belajar siswa siklus i Jumlah siswa yang mengikuti tes Nilai tertinggi Nilai terendah Rata-rata nilai Banyak siswa yang tuntas Banyak siswa yang tidak tuntas Persentase ketuntasan 71,29 90,32% Dari tabel di atas terlihat bahawa persentase ketuntasan yang diperoleh pada evaluasi siklus i sebesar 90,32% dengn nilai rata-rata sebesar 71,29 dari 31 siswa yang mengikuti tes, ini berarti bahawa proses pembelajran pada siklus i sudah dikatakan berhasil. Refleksi Dari hasil evaluasi siklus i dapt dikatakan bahawa ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai, hal ini dapt diketahui dari persentase ketuntasan belajar yang mencapai 90,32%. Selain itu aktivitas belajar siswa juga berkategori aktif. Dengn demikian, maka penelitian dihentikan sampai siklus i. Pembahasan Berdasarkan hasil analisa data pada tiap-tiap siklus, terlihat bahawa hasil dari siklus kesiklus mengalami peningkatan. Hal ini dapt dilihat pada tabel berikut: @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A Tabel 11. Hasil observasi aktivitas dan prestasi belajar siswa dari siklus I sampai siklus i Siklus i Rata-rata 2,93 3,52 4,03 Kategori Cukup aktif Aktif Aktif Nilai rata-rata 61,25 68,22 71,29 Persentase ketuntasan 71,42% 80,64% 90,32% Berdasarkan analisis data hasil penelitian aktivitas siswa pada sikus I, pada tabel 7 terlihat bahawa skor rata-rata aktivitas belajar siswa sebesar 2,93 dengn kategori cukup aktif dan analisis hasil evaluasi belajar siswa siklus I dengn rata-rata skor sebesar 61,25 dengn persentase ketuntasan 71,42%, sehingga kegiatan belajar siswa pada siklus I belum dikatakan tuntas karena persentase ketuntasan pada siklus I masih kurang dari 85%, jadi kesimpulan pada siklus I belum mencapai ketuntasan belajar secara klasikal. Berdasarkan analisis data di atas ternyata belum memenuhi indikator keberhasilan penelitian secara keseluruhan, maka penelitian dilanjutkan ke siklus II. Pelaksanaan siklus II berdasarkan penyempurnaan dari siklus I. Pada siklus II pelaksanaan tindakan dilakukan seperti halnya pada siklus I. Berdasarkan analisis data pelaksanaan tindakan pada siklus II menunjukkan bahawa nilai rata-rata kelas sebesar 68,22 dan persentase ketuntasan sebesar 80,64%, ini berarti prestasi belajar siswa belum tuntas, sehingga dilanjutkan ke siklus i. Pelaksanaan siklus i dilakukan berdasarkan penyempurnaan siklus II. Pada siklus i, pelaksanaan tindakan dilakukan seperti halnya pada siklus I dan II yaitu menerapkan model pembelajran kooperatif tipe NHT dalm proses pembelajran. Pada siklus i ketuntasan klasikal sudah tercapai yaitu sebesar 90,32% dengn nilai ratarata 71,29. Jika dibandingkan untuk setiap aktivitas dan ketuntasan klasikal yang diperoleh pada siklus I adalah dari 16 deskriptor yang diamati pada siswa terdapt 6 deskriptor yang masih kurang baik yaitu O 25% dari jumlah siswa yang aktif dan persentase ketuntasan belajarnya 71,42% dengn nilai rata-rata 61,25, pada siklus II untuk aktivitasnya dari 16 deskriptor yang diamati pada siswa terdapt 3 deskriptor kurang baik dan ketuntasan klasikalnya 80,64% dengn nilai rata-rata 68,22. Sedangkan pada siklus i untuk setiap aktivitas siswanya sudah terlaksana dengn baik dan ketuntasan klasikalnya adalah 90,32% dengn nilai rata-rata 71,29. Dari siklus I ke siklus II untuk setiap aktivitas dan ketuntasan belajar masingmasing mengalami peningkatan yaitu, pada siklus I terdapt 6 deskriptor masih Sedangkan pada siklus II hanya 3 deskriptor kurang baik dan ketuntasan belajar meningkat sebesar 9,22%, begitu juga dengn siklus II dan i, untuk setiap aktivitas dan ketuntasan belajar masing-masing mengalami peningkatan dari kurang baik menjadi baik dan ketuntasan belajarnya meningkat sebesar 9,68%. Seperti apa yang telah diuraikan di atas, melalui penerapan model pembelajran kooperatif tipe NHT dalm pembelajran matematika dapt meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapt dilihat dari peningkatan yang diperoleh pada tiap-tiap Dari hasil yang diperoleh dalm menerapkan model pembelajran kooperatif tipe NHT dapt melibatkan siswa secara aktif dalm meningkatkan aktivitas belajar serta hasil belajar siswa. Karena dalm pembelajran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Thogethe. siswa dapt saling membantu memahami pembelajran dan @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A memperbaiki jawaban teman serta kegiatan lainnya dengn mencapai tujuan belajar Dalm model pembelajran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Togethe. ini siswa diajak untuk belajar menuntaskan suatu masalah-masalah yang timbul dalm proses pembelajran sehingga nantinya siswa mampu menjadi siswa yang aktif dan Hasil penelitian yang diperoleh ternyata pembagian kelmpok dapt meningkatkan interaksi antara siswa. Hal ini sesuai dengn pendapt Joice dan Weil dalm (Dimyati, 1. , yang menyatakan pembelajran kelmpok adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional. Dengn demikian model pembelajran kooperatif tipe NHT dapt diterapkan pada mata pelajaran matematika, dengn menggunakan beberapa petunjuk praktis, antara . Membentuk kelmpok yang terdiri dari 3-5 orang, anggota yang terlalu banyak kurang efektif. Menetapkan siapa pimpinan kelmpok yang mengatur belajar . dan penulis yang mencatat hasil diskusi . Merumuskan pertanyaan atau masalah yang akan dipecahkan bersama dan membatasi ruang lingkup, agar pembahasan tidak menyimpang . Membahas setiap persoalan sampai tuntas, dengn memberi kesempatan kepada setiap anggota mengajukan pendaptnya. Dari beberapa yang muncul dikaji bersama sampai menemukan pemecahan yang paling tepat . Bila ada persoalan yang tidak dapt dipecahkan atau tidak ada kesepakatan antara para anggota, persoalan tersebut ditangguhkan untuk dimintakan pendapt kepada KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapt disimpulkan bahawa: . Penerapan model pembelajran kooperatif tipe NHT dapt meningkatkan aktivitas belajar siswa materi pokok segiempat kelas VII-4 SMP Negeri 1 Madapangga tahun pelajaran 2019/2020. Peningkatan ini dapt dilihat dari lembar observasi aktivitas belajar siswa pada siklus I rata-ratanya sebesar 2,93 dengn kategori cukup aktif, siklus II rata- ratanya sebesar 3,52 dengn kategori aktif dan siklus i meningkat menjadi 4,03 dengn kategori aktif. Penerapan model pembelajran kooperatif tipe NHT dapt meningkatkan prestasi belajar siswa materi pokok segiempat kelas VII-4 SMP Negeri 1 Madapangga tahun pelajaran 2019/2020. Peningkatan ini dapt dilihat dari ketuntasan belajar klasikal siswa siklus I sebesar 71,42% dan tergolong belum tuntas, pada siklus II sebesar 80,64% dan siklus i sebesar 90,32% sudah mencapai Adapun saran yang dapt disimpulkan berdasarkan hasil yang telah dicapai dari penelitian ini adalah: Berpedoman dari hasil yang dicapai dalm penelitian ini, maka saran-saran yang dapt disampaikan adalah . Diharapkan pada guru matematika untuk menerapkan model pembelajran kooperatif tipe NHT seoptimal mungkin. Diharapkan bagi siswa, model pembelajran kooperatif tipe NHT ini menjadi salah satu motivasi belajar khususnya matematika karena selama ini matematika dianggap sebagai pelajaran yang sulit. Diharapkan kepada peneliti yang lain supaya @2020 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Murtalib dkk. Penerapan Model Pembelajran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Togethe. A mencoba menerapkan model pembelajran kooperatif tipe NHT pada materi pokok yang lain dan lebih sempurna. DAFTAR PUSTAKA