NUSANTARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Mei 2023 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 139-147 DOI: https://doi. org/10. 55606/nusantara. Edukasi Manfaat Tanaman Piperaceae dan Pelatihan Pembuatan Hand Sanitizer Alami kepada Siswa SMK Farmasi Surabaya Education on the Benefits of Piperaceae and Workshop on Making Natural Hand Sanitizer for SMK Farmasi SurabayaAos Students Meyke Herina Syafitri1*. Mercyska Suryandari2. Hanny Ferry Fernanda3 Akademi Farmasi Surabaya. Surabaya *Email: meyke. herina@akfarsurabaya. Article History: Received: 23 Maret 2023 Revised: 20 April 2023 Accepted: 22 Mei 2023 Keywords: antiseptics, betel leaves, hand sanitizer Abstract: Betel leaves contain phenols that function as powerful Hand sanitizer (HS) is a product that can kill parasites on the hands and is easy to use. Therefore, in this event, education will be provided to the students of SMK Farmasi Surabaya regarding the benefits of betel leaves, followed by a training session on making hand sanitizers containing extract. The participant's level of understanding is evaluated by comparing the scores obtained before and after receiving information from the speaker. questionnaire is given to allow participants to evaluate the overall conduct of the event, and they are invited to try the hand sanitizers prepared by the team. The results show that 76% of the participants achieved higher scores, 24% maintained the same scores, and none of the participants received lower scores compared to the pre-test. Overall, the participants expressed that the event was very Abstrak Daun sirih mengandung fenol yang berfungsi sebagai antiseptik kuat. Hand sanitizer (HS) merupakan sediaan yang dapat mematikan parasit yang terdapat di tangan serta mudah penggunaannya. Oleh karena itu pada kegiatan ini akan dilakukan edukasi kepada siswa SMK Farmasi Surabaya mengenai manfaat daun sirih, dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan HS yang mengandung ekstrak etanol daun sirih. Diharapkan melalui kegiatan ini, minat dan keterampilan peserta dalam membuat sediaan farmasi berbasis bahan alam dapat meningkat. Tingkat pemahaman peserta dievaluasi melalui perbandingan skor yang diperoleh peseta sebelum dan setelah diberikan informasi dari Kuesioner diberikan agar peserta dapat menilai keseluruhan jalannya acara dan dipersilahkan untuk mencoba HS yang telah dibuat oleh tim. Hasilnya, 76 % peserta mendapatkan nilai lebih tinggi, 24 % memperoleh nilai tetap, dan tidak ada peserta yang mendapat nilai lebih rendah dibandingkan dengan tes sebelumnya. Keseluruhan peserta menyatakan acara ini sangat bermanfaat dan tidak ada yang mengalami iritasi setelah mencoba produk. Kata Kunci: antiseptik, daun sirih, hand sanitizer http://prin. id/index. php/nusantara 139 Edukasi Manfaat Tanaman Piperaceae dan Pelatihan Pembuatan Hand Sanitizer Alami kepada Siswa SMK Farmasi Surabaya PENDAHULUAN Mengutamakan kebersihan telah menjadi suatu hal yang sangat penting bagi masyarakat secara luas. Bahkan tindakan sekecil mencuci tangan secara rutin dapat memberikan perlindungan yang besar terhadap penyebaran penyakit menular. Penyakit-penyakit ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti bakteri, virus, atau patogen protozoa yang dapat ditularkan melalui udara, makanan, atau feses manusia. Kebiasaan manusia untuk menyentuh wajah, makanan, dan permukaan benda juga turut berperan penting dalam penyebaran penyakit. Oleh karena itu, menjaga kebersihan tangan merupakan langkah krusial dalam mencegah penyebaran penyakit ini. Daun sirih terkenal karena mengandung zat antiseptik. Secara tradisional, daun sirih biasanya direbus dalam air mendidih untuk membersihkan berbagai bagian tubuh, atau digiling halus dan dioleskan pada luka. Daun sirih mengandung sejumlah senyawa seperti hidroksi kavikol, kavibetol, estradiol, eugenol, metil eugenol, karvakrol, terpena, sesquiterpena, fenilpropana, kadinen, alil katekol, p-cymene, kariofilen, dan sitosterol. Dalam daun sirih terdapat metabolit yang memiliki sifat antibiotik, seperti kavikol dan alilpirokatekol. Ekstrak dari daun sirih dapat diolah menjadi antiseptik yang efektif dan telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri yang baik. Staphylococcus aureus sering digunakan sebagai indikator kebersihan untuk mengurangi risiko infeksi bakteri melalui kontak langsung, terutama transmisi melalui tangan, karena S. dikenal sebagai flora normal pada manusia yang sehat. (Go et al. Hand sanitizer (HS) menjadi pilihan produk yang populer di kalangan masyarakat saat ini karena kepraktisannya. HS mudah dibawa ke mana saja dan tersedia dengan mudah di pasaran. Penggunaannya pun sangat sederhana, yaitu dengan meneteskan gel pada telapak tangan dan meratakannya secara merata ke seluruh permukaan telapak tangan. (Triyani et al. Mencuci tangan dengan sabun merupakan cara sederhana namun efektif dalam mencegah berbagai penyakit seperti diare. Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), infeksi kulit, mata, flu burung, dan juga penyakit serius seperti SARS yang dapat menyebabkan pandemi seperti Covid-19. Sayangnya, ada beberapa kendala yang membuat orang enggan mencuci tangan, seperti keterbatasan waktu, jarak yang jauh dengan wastafel, atau pengeringan tangan yang dianggap merepotkan. Oleh karena itu, pembersih tangan tanpa air atau hand sanitizer (HS) dapat menjadi alternatif yang praktis, cepat, dan mudah digunakan sebagai pengganti mencuci tangan. Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Pasal 3 dan Penjelasan Pasal 15 Tahun 2003 menjelaskan tentang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai lembaga pendidikan menengah yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik dalam bidang pekerjaan tertentu. SMK bertujuan untuk menyediakan peserta didik dengan keterampilan yang relevan dan sikap profesional yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja. Selain itu. SMK juga bertugas untuk menyediakan tenaga kerja tingkat menengah yang memenuhi kebutuhan dunia usaha dan industri baik saat ini maupun di masa mendatang (Setiyawami et al. Direktorat SMK memiliki target untuk mengembangkan SMK berbasis industri 4. 0, di mana salah satu sektor prioritasnya adalah bidang farmasi. Dalam upaya ini. SMK akan fokus pada pengintegrasian teknologi industri 4. dalam kurikulum dan pembelajaran di SMK yang bergerak dalam bidang farmasi. Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik dengan keterampilan dan pengetahuan terkini yang relevan dengan perkembangan teknologi di industri farmasi. (Kemdikbud 2. Oleh karena itu, melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada siswa SMK Farmasi Surabaya tentang beragam potensi daun sirih yang dapat dimanfaatkan di era pandemi. Selain itu, peserta kegiatan juga diajarkan bagaimana cara membuat HS berbasis bahan alam yang NUSANTARA - VOLUME 3. NO. MEI 2023 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 139-147 efektif, lembut, dan tidak kering, sehingga dapat meningkatkan daya tarik produk herbal di masa METODE Metode pelaksanaan kegiatan ini terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut: Perencanaan: Tahap ini dimulai dengan diskusi mengenai tantangan yang dihadapi masyarakat di tengah kondisi pandemi. Setelah melalui musyawarah, tim memutuskan untuk memberikan pelatihan pembuatan HS berbasis bahan alam, yaitu daun sirih. Subyek pengabdian yang dipilih adalah siswa SMK Farmasi Surabaya. Pemilihan siswa SMK Farmasi didasarkan pada pertimbangan bahwa dalam situasi pandemi, kegiatan belajar mengajar harus memperhatikan protokol kesehatan, termasuk penggunaan HS. Selain itu, siswa SMK Farmasi telah memiliki pengetahuan dasar tentang manfaat bahan alam, proses ekstraksi, dan pembuatan sediaan farmasi, sehingga proses pelatihan dapat lebih mudah dipahami oleh mereka. Persiapan Proses persiapan dimulai dengan pembentukan panitia yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Akademi Farmasi Surabaya. Panitia bertanggung jawab untuk merencanakan dan mengorganisir seluruh kegiatan pelatihan. Selain itu, tim juga melakukan studi literatur untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang manfaat bahan alam, proses ekstraksi, pembuatan sediaan HS, dan penggunaan daun sirih sebagai bahan aktif. Selanjutnya, tim menyusun proposal kegiatan yang berisi rincian tentang tujuan, metode pelaksanaan, dan rencana anggaran untuk mendukung pelaksanaan pelatihan. Proposal ini penting untuk memperoleh persetujuan dan dukungan dari pihak yang berwenang. Selama proses persiapan, tim juga menjalin kerjasama dengan SMK Farmasi Surabaya sebagai subyek sasaran. Hal ini melibatkan pertemuan dan diskusi antara tim dengan pihak SMK untuk menyepakati segala sesuatu terkait acara, termasuk jadwal, fasilitas yang diperlukan, dan partisipasi siswa. Sementara itu, tim juga melakukan optimasi formula HS berbahan ekstrak daun sirih di laboratorium Farmakognosi Akademi Farmasi Surabaya. Proses ini melibatkan pengujian dan penyesuaian komposisi bahan. Tujuannya adalah untuk menghasilkan formula HS yang optimal dengan konsistensi yang baik. Pelaksanaan Kegiatan penyuluhan dan pelatihan pembuatan HS dilaksanakan secara offline di ruang kuliah Akademi Farmasi Surabaya. Acara dimulai dengan pengerjaan pre-test oleh peserta untuk mengukur pemahaman awal mereka sebelum presentasi oleh narasumber. Narasumber memberikan informasi tentang manfaat daun sirih sebagai bahan alam dalam pembuatan HS, tahap-tahap formulasi yang perlu diperhatikan, serta perlakuan khusus yang diperlukan saat menggunakan ekstrak sebagai bahan aktif. Penjelasan ini memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya penggunaan bahan alam dan langkahlangkah yang perlu diikuti dalam pembuatan HS berbahan ekstrak. Edukasi Manfaat Tanaman Piperaceae dan Pelatihan Pembuatan Hand Sanitizer Alami kepada Siswa SMK Farmasi Surabaya Selanjutnya, perwakilan peserta diminta untuk maju ke depan ruangan untuk mendemonstrasikan secara langsung pembuatan HS berbahan ekstrak daun sirih dengan didampingi oleh tim. Dalam tahap ini, peserta dapat melihat dan belajar langsung dari proses pembuatan sediaan HS yang dipandu oleh tim yang telah menguasai teknik dan langkah-langkah yang tepat. Setelah sesi demonstrasi selesai, peserta diminta untuk mengerjakan post-test untuk mengukur pemahaman mereka setelah mengikuti presentasi dan demonstrasi. Selain itu, peserta juga diminta untuk mengisi kuesioner yang bertujuan untuk mengevaluasi keberhasilan acara dan kepuasan peserta terhadap materi yang disampaikan. Evaluasi Kemampuan narasumber dalam memberikan edukasi dievaluasi melalui perbandingan hasil pre-test dan post-test. Dengan membandingkan skor sebelum dan setelah penyuluhan, dapat dilihat apakah pemahaman peserta mengalami peningkatan yang signifikan. Jika skor posttest peserta lebih tinggi daripada skor pre-test, hal ini menunjukkan bahwa penyuluhan telah berhasil dalam meningkatkan pemahaman peserta. Selain itu, jalannya acara juga dievaluasi melalui pemberian kuesioner di akhir acara. Kuesioner tersebut berisi pertanyaan yang mengevaluasi berbagai aspek acara, seperti kejelasan penjelasan narasumber, kepuasan peserta terhadap materi yang disampaikan, kualitas penyampaian, kebermanfaatan acara, dan sebagainya. Tanggapan peserta dalam kuesioner akan memberikan masukan penting dalam mengevaluasi keberhasilan acara dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada untuk kegiatan serupa di masa depan. Dengan menggabungkan hasil pre-test dan post-test peserta serta tanggapan peserta melalui kuesioner, tim penyelenggara dapat memperoleh gambaran yang komprehensif tentang sejauh mana peningkatan pemahaman peserta dan keberhasilan acara secara keseluruhan. Hal ini akan menjadi bahan evaluasi dan umpan balik yang berharga untuk meningkatkan kualitas penyuluhan dan pelatihan di masa mendatang. Secara singkat, metode pelaksanaan kegiatan pengabdian yang kami lakukan tercantum dalam diagram yang terdapat pada Gambar 1 berikut: Gambar 1. Tahapan Metode Kegiatan HASIL Acara ini diikuti oleh 31 siswa dari SMK Farmasi Surabaya yang didampingi oleh seorang Panitia telah menyediakan leaflet sebagai panduan bagi peserta agar lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Berikut ini adalah leaflet yang dibagikan kepada masing-masing peserta: NUSANTARA - VOLUME 3. NO. MEI 2023 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 139-147 Gambar 2. Leaflet Kegiatan Formula yang digunakan dalam membuat produk HS yang mengandung ekstrak daun sirih ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Triyani et al. Berikut ini adalah formula pembuatan 100 ml HS sebagai berikut: Tabel 1. Formula Pembuatan HS No. Komponen Jumlah yang diperlukan Ekstrak Daun Sirih 12 mL . Aquadest 81 mL TEA . 0,2 mL Propilen glikol 3 mL Carbomer 0,3 g . Nipagin 0,02 g Gliserin 3 mL Fragrance Secukupnya Untuk menghasilkan HS yang tercampur merata, tanpa partikel halus, dan dengan konsistensi yang baik, tim memberikan tips yang melibatkan pengembangan carbomer. Pertama, carbomer ditaburkan secara merata ke permukaan air panas dan digerus hingga homogen. Kemudian. TEA ditambahkan untuk membentuk musilago. Setelah mencapai tahap ini, bahan-bahan pembantu lainnya dapat dicampurkan hingga homogen. Campuran ini disebut sebagai campuran basis dan Terakhir, ekstrak daun sirih dimasukkan ke dalam mortir dan ditambahkan campuran basis dalam jumlah yang sama . eometric dilutio. , kemudian digerus hingga homogen. Dengan mengikuti langkah-langkah ini, diharapkan HS yang dihasilkan tercampur homogen dan memiliki konsistensi yang baik. Secara garis besar, jalannya acara berlangsung dengan lancar dan peserta juga sangat Dokumentasi saat pemberian penyuluhan dan pelatihan pembuatan HS yang mengandung ekstrak daun sirih tercantum dalam Gambar 2 berikut: Edukasi Manfaat Tanaman Piperaceae dan Pelatihan Pembuatan Hand Sanitizer Alami kepada Siswa SMK Farmasi Surabaya Gambar 2. Dokumentasi Kegiatan Pemberian informasi oleh narasumber. Peserta menyimak kegiatan. Praktik pembuatan HS langsung oleh peserta. Foto bersama tim dan peserta Setelah kegiatan selesai dilaksanakan, tim mengevaluasi pemahaman peserta melalui perbandingan nilai pre- dan post-test yang ditunjukkan pada Gambar 3 berikut: Perbandingan Nilai Pre- dan Post-Test Nilai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Identitas Peserta Pre-Test Post-Test Gambar 3. Perbandingan nilai pre- dan post-test peserta NUSANTARA - VOLUME 3. NO. MEI 2023 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 139-147 Melalui rekapitulasi data pada Gambar 3, selanjutnya tim mengolah data lebih lanjut dan diperoleh data pemahaman peserta sebagai berikut: Pemahaman Peserta Setelah Pemaparan Narasumber Meningkat Tetap Gambar 4. Tingkat pemahaman peserta setelah pemaparan materi oleh narasumber Dari hasil Gambar 4, dapat dilihat bahwa sebanyak 76% dari peserta mengalami peningkatan dalam pemahaman setelah mendapatkan penjelasan dari narasumber. Sementara itu, sebanyak 24% siswa tetap pada tingkat pemahaman sebelumnya. Dari data ini, dapat disimpulkan bahwa tidak ada peserta yang mengalami penurunan dalam pemahamannya setelah diberi penjelasan oleh narasumber. Hal ini menunjukkan efektivitas penyuluhan dan kemampuan narasumber dalam menyampaikan materi dengan baik sehingga dapat meningkatkan pemahaman DISKUSI