Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 4. April 2025 ISSN: 27342488 PENDAMPINGAN SISWA DENGAN KESULITAN MEMBACA MELALUI MEDIA FLASHCARD BER-LEVEL DI SDN JUNGCANGCANG 3 Yessica Rofiatul Qutsiya1. Rofiatul Choiriyah2 Email: yessicarofiatul111@gmail. com1, rofiatulchoiriyah0207@gmail. IAIN Madura ABSTRAK Laporan pengabdian ini menyajikan hasil kegiatan pendampingan siswa kelas 1 di SDN Jungcangcang 3 yang mengalami kesulitan membaca. Intervensi yang diterapkan adalah penggunaan media flashcard ber-level sebagai alat bantu pembelajaran. Kegiatan pendampingan dilaksanakan dalam enam sesi tatap muka. Hasil dari pengabdian ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca siswa secara bertahap, mulai dari pengenalan huruf, kata, hingga kalimat sederhana. Penggunaan flashcard ber-level juga meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri siswa dalam belajar Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam mengatasi kesulitan membaca siswa di sekolah dasar. Kata Kunci: Kesulitan Membaca. Media Flashcard Ber-Level. Pendampingan Siswa. Sekolah Dasar. Membaca Permulaan. ABSTRACT This community service report presents the results of mentoring activities for grade 1 students at SDN Jungcangcang 3 who have difficulty reading. The intervention implemented is the use of leveled flashcard media as a learning aid. The mentoring activities were carried out in six face-to-face The results of this community service show a gradual increase in students' reading ability, starting from recognizing letters, words, to simple sentences. The use of leveled flashcards also increases students' motivation and confidence in learning to read. This activity is expected to provide a positive contribution in overcoming students' reading difficulties in elementary schools. Keywords: Reading Difficulties. Leveled Flashcard Media. Student Mentoring. Elementary School. Beginning Reading. PENDAHULUAN Kemampuan membaca merupakan fondasi utama dalam proses pembelajaran di tingkat sekolah dasar. Namun, kenyataannya, masih banyak siswa di jenjang ini yang mengalami kesulitan dalam membaca. Kesulitan tersebut mencakup berbagai aspek, seperti membedakan huruf yang mirip, mengeja kata dengan benar, membaca dengan lancar, dan memahami isi Di SDN Jungcangcang 3, ditemukan sejumlah siswa yang menunjukkan gejala kesulitan membaca, seperti tidak mampu membedakan huruf dengan benar, membaca suku kata secara terputus-putus, hingga tidak memahami isi bacaan sederhana. Hal ini tentu menjadi perhatian khusus karena kemampuan membaca sangat erat kaitannya dengan keberhasilan belajar siswa secara keseluruhan. Faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan membaca antara lain adalah kurangnya minat baca, rendahnya motivasi belajar, serta metode pembelajaran yang belum bervariasi dan kurang disesuaikan dengan kebutuhan siswa . Selain itu, kurangnya bimbingan dan perhatian dari orang tua juga turut berkontribusi terhadap rendahnya kemampuan membaca siswaUnt. ngatasi permasalahan ini, diperlukan pendekatan pembelajaran yang inovatif dan Salah satu metode yang efektif adalah penggunaan media flashcard ber-level. Flashcard adalah alat bantu pembelajaran berbentuk kartu yang berisi informasi di kedua sisinya, seperti kata, gambar, atau angka, yang dikemas secara menarik. Media ini dapat menarik perhatian siswa, memperkuat kemampuan memori, dan meningkatkan pemahaman siswa, terutama dalam pembelajaran bahasa dan keterampilan dasar lainnya . Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan flashcard dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa pada tingkat membaca permulaan. Dalam pembelajaran di kelas, siswa menjadi lebih semangat dan tertarik saat diberikan tugas untuk mencocokkan kartu dengan gambar, yang membuktikan bahwa media ini mampu meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas rendah di sekolah dasar Melalui program pengabdian AuPendampingan Siswa dengan Kesulitan Membaca Melalui Media Flashcard Ber-Level di SDN Jungcangcang 3Ay, diharapkan dapat membantu siswa yang mengalami hambatan dalam membaca untuk lebih mudah mengenal huruf, membentuk suku kata, memahami kata-kata, hingga mampu membaca kalimat sederhana dengan lancar. Program ini juga diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan dasar di lingkungan SDN Jungcangcang 3. ME TODE PE NE LITIA N Model kegiatan pendampingan ini dikemas dalam bentuk sesi belajar yang interaktif dan menyenangkan dengan memanfaatkan flashcard berlevel. Pertama. Asesmen Awal dan Pemetaan Tingkat Kemampuan Membaca Siswa. Guru atau pendamping akan melakukan asesmen sederhana untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang mengalami kesulitan membaca serta memetakan tingkat kemampuan membaca mereka. Asesmen ini dapat berupa identifikasi huruf, suku kata, kata sederhana, hingga kalimat pendek. Hasil asesmen ini akan digunakan untuk menentukan level flashcard yang sesuai untuk setiap siswa. Kedua. Sesi Pendampingan dengan Flashcard Berlevel. Sesi pendampingan akan dilaksanakan secara Level 1 (Pengenalan Huruf dan Suku Kat. : Menggunakan flashcard berisi huruf vokal dan konsonan, serta kombinasi suku kata sederhana. Pendamping akan membacakan dan siswa menirukan, kemudian siswa diminta untuk menunjukkan huruf atau suku kata yang Metode bermain seperti mencocokkan atau tebak kata dapat diterapkan. Level 2 (Membaca Kata Sederhan. : Menggunakan flashcard berisi kata-kata sederhana yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Pendamping akan membacakan, siswa menirukan, dan kemudian siswa diminta untuk membaca sendiri. Penggunaan gambar yang relevan pada flashcard dapat membantu pemahaman makna kata. Level 3 (Membaca Kalimat Pende. : Menggunakan flashcard berisi kalimat-kalimat pendek dengan kosakata yang telah dipelajari pada level sebelumnya. Pendamping akan membacakan, siswa menirukan, dan kemudian siswa diminta untuk membaca sendiri dan memahami makna kalimat tersebut. Kegiatan pendampingan dilaksanakan di ruang kelas dengan setting tempat duduk yang fleksibel agar interaksi antara pendamping dan siswa lebih efektif. Pendamping menyampaikan materi secara bertahap sesuai dengan level flashcard dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif bertanya atau berbagi kesulitan yang dialami. Ketiga. Pemberian Penguatan dan Motivasi. Selama sesi pendampingan, pendamping akan memberikan penguatan positif atas setiap kemajuan yang dicapai siswa, sekecil apapun. Pujian, stiker, atau bentuk apresiasi lainnya dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Pendamping juga akan membangun suasana belajar yang menyenangkan dan tidak menekan. Keempat. Evaluasi dan Tindak Lanjut. Setelah beberapa sesi pendampingan, akan dilakukan evaluasi untuk melihat perkembangan kemampuan membaca siswa. Evaluasi dapat berupa membaca kata atau kalimat secara mandiri. Hasil evaluasi akan digunakan untuk menentukan apakah siswa perlu melanjutkan ke level flashcard berikutnya atau memerlukan pendampingan lebih lanjut pada level yang sama. Komunikasi dengan guru kelas dan orang tua juga penting untuk memantau perkembangan siswa secara holistik. Kegiatan terakhir adalah sesi tanya jawab atau diskusi santai antara siswa dan pendamping untuk memberikan kesempatan kepada siswa menyampaikan kendala atau berbagi pengalaman belajar mereka. Hal ini diharapkan dapat membangun kedekatan dan kepercayaan antara siswa dan pendamping, sehingga proses pendampingan menjadi lebih Metode pelaksanaan ini dirancang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik masing-masing siswa di SDN Jungcangcang 3. Penggunaan flashcard berlevel diharapkan dapat membuat proses belajar membaca menjadi lebih terstruktur, visual, dan menyenangkan bagi siswa yang mengalami kesulitan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan pendampingan kepada siswa kelas 1 yang memiliki kesulitan membaca di SDN Jungcangcang 3 di jadwalkan selesai pada 6 kali pertemuan secara tatap muka. Sebelum kegiatan pendampingan di mulai peneliti telah melakukan observasi pada tanggal 5 April 2025 ke lokasi pengabdian. Adapun tahapan proses pendampingan pengabdian kepada siswa yang memiliki kesulitan membaca ialah sebagai berikut. Kegiatan persiapan kegiatan observasi ke tempat pendampingan pengabdian di SDN Jungcangcang 3. Membuat surat izin pendampingan pengabdian. Menemui kepala sekolah dan memberikan surya izin pengabdian. Memantau siswa mana yang kesulitan membaca di kelas rendah khusus nya kelas 1. Menemukan siswa yang memiliki kesulitan membaca. Memulai kegiatan pendampingan pengabdian. Kegiatan pendampingan pengambdian Kegiatan pendampingan pendampingan dilaksanakan selama 6 kali pertemuan, ya ini pada tanggal 7,8,14,15,21,22 April 2025. Pembuatan laporan Pembahasan Hasil Pelaksanaan Proses pelaksanaan pengabdian Proses pelaksanaan pengabdian dilakukan selama 6 hari, di mana pada hari ke-1 dan ke-2 siswa diberikan pelajaran berupa mengenal huruf, dan di hari ke-3 dan ke-4 siswa diberi pelajaran dengan mengenal kata, lalu di hari ke-5 dan ke-6 gua diberi pelajaran dengan mengenal kalimat. Pada hari pertama siswa diberikan flash card yang berisi gambar macam-macam huruf mulai dari huruf A hingga Z. Di mana pada setiap flashcard nantinya akan terdapat gambar huruf besar dan huruf kecil. Pada saat awal pelaksanaan penggunaan media flash card ini kedua siswa tersebut ternyata masih belum terlalu mengenal macammacam huruf, di mana mereka hanya mengenal sebagian kecil saja huruf yang ada di Sehingga kami memberikan pengajaran tentang bagaimana cara mengenal huruf dengan baik dan benar dan juga cepat dibantu dengan menggunakan media flashcard. Ternyata setelah diamati lebih dalam lagi. Siswa A memiliki kecepatan pemahaman yang lebih baik daripada siswa B. Di mana siswa tersebut lebih banyak mengenal huruf-huruf setelah diberikan pelajaran daripada siswa B. Namun seiring berjalannya waktu siswa B dapat mengejar ketertinggalan tersebut. Pada hari kedua siswa diberikan flashcard lagi yang berisi macam-macam huruf tadi, namun bedanya pada saat penerapan kali ini kami tidak menjelaskan lagi seperti di Namun dengan memberikan tebak-tebakan tentang huruf yang ada di depan Jadi siswa disuruh untuk mengambil kartu yang berisi huruf yang telah kami Misal ketika kami mengucapkan Au ambillah kartu yang bertuliskan huruf AAy. Maka Siswa memiliki kewajiban untuk mengambil kartu mana yang memiliki tulisan huruf A. Setelah melakukan tebak-tebakan tersebut dapat kami simpulkan bahwa kedua anak tersebut sudah mulai bisa mengenal huruf-huruf. Pada hari ketiga siswa diberikan flashcard yang berisi kata sederhana seperti apel, foto, yoyo dan juga menunjukkan gambar yang sesuai dengan kata. Dalam pelaksanaan nya siswa A bisa membaca 2 kata dari 4 kata yang disajikan walaupun masih mendapatkan bantuan dalam pengenalan huruf dan pelafalan. Sedangkan siswa B menunjukkan kemampuan yang lebih baik yakni berhasil membaca 4 kata yang di sediakan dengan lancar walaupun kecepatan membaca nya tidak terlalu lancar dan tingkat kepercayaan diri nya dalam membaca masih kurang. Penggunaan media flashcard ini mendapatkan respon yang positif dari kedua siswa. Adanya gambar yang sesuai dengan kata yang dibacakan itu dapat membantu siswa dalam mengaitkan bunyi kata dengan makna, serta bisa meningkatkan minat belajar membaca mereka. Pada pertemuan ke empat ini dilanjutkan latihan kata dengan melanjutkan kata yang terdiri dari 5 sampai 6 huruf. Kegiatan hari ke empat ini lebih difokuskan pada peningkatan kelancaran membaca siswa. Siswa A mampu membaca 3 kata dari 4 kata yang diberikan dengan lebih lancar daripada pertemuan sebelum nya, walaupun masih memerlukan sedikit bantuan, tetapi dalam segi pelafalan dan kecepatan membaca siswa A sudah menunjukkan peningkatan. Sedangkan siswa B sudah mampu membaca ke empat kata yang diberikan, dia sudah menunjukkan pelafalan yang lebih jelas dan kecepatan membacanya juga sudah jelas daripada pertemuan sebelum nya. Tingkat kepercayaan dirinya pun sudah mulai meningkat. Pada hari kelima siswa diberikan flashcard yang berisi kalimat sederhana seperti Auibu sedang memasakAy. Dalam pelaksanaannya Siswa A bisa membaca dua kata dari kalimat yang disajikan walaupun masih mendapatkan bantuan dalam pelafalan kalimat. Sedangkan siswa B kemampuan membaca kalimat lebih baik yaitu Iya berhasil membaca satu kalimat tanpa ada bantuan namun tingkat kepercayaan dirinya dari membaca masih kurang. Pada hari keenam siswa dilanjutkan dengan latihan kalimat yang terdiri dari 5 sampai 6 kata seperti Au Ibu membeli ikan, sayur dan buah di pasarAy. Siswa A mampu membaca satu kalimat yang terdiri dari 5 sampai 6 kata, walaupun masih memerlukan sedikit bantuan pelafalan, namun ada peningkatan dari pertemuan kelima. Sedangkan siswa B sudah mampu membaca satu kalimat yang diberikan dengan baik dan benar, tanpa adanya bantuan dia sudah menunjukkan pelafalan yang lebih jelas dan kecepatan membacanya sudah meningkat dari sebelumnya. Setelah melewati 6 kali pertemuan, dengan menggunakan teknik publish speaking yang efektif dan juga berbentuk media flashcard akhirnya siswa tersebut mulai dapat membaca meskipun masih dalam tingkat membaca permulaan. Dan dapat kita simpulkan bahwa penggunaan teknik public speaking yang benar dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu materi pembelajaran dan juga tak lupa melibatkan media untuk menunjang pembelajaran yang diberikan oleh guru tersebut. Outcome Adapun outcome yang diperoleh dari pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut: Dengan adanya kegiatan pendampingan siswa yang memiliki kesulitan membaca melalui media flashcard berlevel, dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa secara bertahap sesuai dengan level kemampuan masing-masing. Program ini diharapkan dapat membentuk lingkungan belajar yang lebih inklusif, di mana guru lebih memahami karakteristik dan kebutuhan siswa yang mengalami kesulitan membaca. Kegiatan ini juga mendorong keterlibatan aktif guru dan orang tua dalam memantau serta mendampingi perkembangan membaca siswa, sehingga tercipta kolaborasi yang baik antara sekolah dan keluarga. Media flashcard berlevel yang digunakan dalam penelitian ini dapat menjadi inovasi pembelajaran yang aplikatif dan mudah digunakan oleh guru untuk mengatasi masalah kesulitan membaca di kelas. Lebih jauh, kegiatan ini dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan dasar, khususnya dalam bidang literasi, yang menjadi dasar penting bagi penguasaan materi pelajaran lainnya. Siswa yang mendapatkan pendampingan dengan media ini menunjukkan peningkatan motivasi belajar membaca, serta lebih percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Keberlanjutan program Kegiatan Pendampingan Siswa yang Memiliki Kesulitan Membaca dengan Menggunakan Media Flashcard Berlevel terlaksana dengan baik dan mendapat respons positif dari siswa, guru, maupun orang tua. Para guru berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut di masa yang akan datang, karena terbukti efektif membantu siswa yang mengalami kesulitan membaca. Tidak hanya guru, pihak sekolah juga mendukung penuh keberlanjutan program ini agar seluruh siswa mendapatkan kesempatan belajar yang setara dan mampu berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing. Ke depannya, media flashcard berlevel diharapkan dapat diintegrasikan secara lebih luas dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan literasi dasar siswa secara menyeluruh. Faktor Pendukung Kegiatan Faktor pendukung egiatan pengabdian pendampingan ini terlaksana dengan baik karena adanya beberapa faktor pendukung, diantaranya. Adanya dukungan dari kepala sekolah sdn jungcangcang 3 yang langsung menerima peneliti dengan antusias. Adanya dukungan penuh dari guru kelas dalam proses pendampingan pengabdian ini. Adanya gambar pendukung yang membantu siswa dalam mengaitkan antara gambar dengan kata yang diberikan. Respon positif siswa yang ditunjukkan saat proses pendampingan berlangsung dan juga siswa menunjukkan minat yang tinggi selama proses pendampingan. Lingkungan belajar yang kondusif, saat proses pendampingan berlangsung suasana yang tenang dan menyenangkan dapat membantu siswa lebih fokus saat belajar Faktor Penghambat kegiatan Di samping adanya faktor pendukung, pelaksanaan kegiatan penelitian Pendampingan Siswa yang Memiliki Kesulitan Membaca dengan Menggunakan Media Flashcard Berlevel juga mengalami beberapa kendala, di antaranya: Waktu pendampingan yang terbatas, yaitu hanya dilakukan selama 6 kali pertemuan, membuat proses peningkatan kemampuan membaca siswa belum dapat dilakukan secara optimal dan berkesinambungan. Beberapa siswa masih mengalami rasa malu dan kurang percaya diri saat harus membaca di depan teman-temannya, sehingga perlu pendekatan khusus dari KESIMPULAN Berdasarkan pelaksanaan kegiatan penelitian Pendampingan Siswa yang Memiliki Kesulitan Membaca dengan Menggunakan Media FlashcardBerlevel, dapat disimpulkan halhal berikut: Kegiatan pendampingan dengan menggunakan media flashcard berlevel sangat membantu siswa yang mengalami kesulitan membaca dalam meningkatkan kemampuan literasinya secara bertahap. Kesulitan membaca masih menjadi permasalahan yang cukup banyak ditemukan pada siswa sekolah dasar, terutama pada siswa kelas rendah. Guru memiliki peran penting dalam memilih dan menerapkan media pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa, agar proses belajar menjadi lebih efektif. Kolaborasi antara guru dan orang tua sangat dibutuhkan untuk mendampingi dan memotivasi siswa dalam proses belajar membaca di sekolah maupun di rumah. Saran Saran dari kegiatan penelitian Pendampingan Siswa yang Memiliki Kesulitan Membaca dengan Menggunakan Media Flashcard Berlevel adalah sebagai berikut: Lembaga pendidikan dasar perlu secara aktif melakukan identifikasi dini terhadap siswa yang mengalami kesulitan membaca, agar dapat segera diberikan pendampingan yang Guru diharapkan dapat menjadi pionir dalam penggunaan media pembelajaran inovatif, seperti flashcard berlevel, yang mendukung pembelajaran yang bersifat individual dan Sekolah perlu menyediakan pelatihan atau pendampingan bagi guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran membaca yang responsif terhadap kebutuhan siswa dengan kesulitan belajar. DAFTAR PUSTAKA