Redaktur PUTIH Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Ijin terbit Sk. Mudir MaAhad Aly No. 18/May-PAF/II/2018/SK Pembina Ahmad Syathori Abdur Rosyid Ahmad Kunawi Pengarah Imam Bashori Fathur Rozi Pimpinan Redaksi Mochamad Abduloh Dewan Editor Ainul Yaqin Anggota Mustaqim Nashiruddin Fathul Harits Abdul Hadi Abdullah Imam Nuddin Alamat Penyunting dan Surat Menyurat: Jl. Kedinding Lor 99 Surabaya P-ISSN: 2598-7607 E-ISSN: 2622-223X Diterbitkan: MAAHAD ALY PONDOK PESANTREN ASSALAFI AL FITHRAH Surabaya Daftar Isi C Daftar Isi C MUNASABAH DALAM TREN STUDI QURAoAN KONTEMPORER Textual Relation dalam Surah al-AhzAb Perspektif Salwa M. El-Awwa Dicky Adi Setiawan. Sultan Latif Rahmatulloh . C REVITALISASI KESEJAHTERAAN SOSIAL BERTETANGGA PERSPEKTIF KH. MUHAMMAD ROMZI AL-AMIRI MANNAN Studi kitab Umdatul Mukhtar AoAla Mabahisi Huquqi al-Jari< Kholilah . C TASAWUF FALSAFI Dalam Dua Dimensi Mistis dan Rasionalis Ahmad Syatori . C ETIKA BERINFORMASI DALAM AL-QURAoAN Upaya Membentuk Masyarakat Demokrasi Ideal Ahmad Bayu Setiawan . C ADAB MURID TERHADAP GURU DALAM PANDANGAN KH. HASYIM ASYAoARY Fauseh . Putih: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Ae ISSN: 2598-7607 (P). 2622-223X (E) Vol. VII. No. 1 (Maret 2. , 1-16. MUNASABAH DALAM TREN STUDI QURAoAN KONTEMPORER Textual Relation dalam Surah al-AhzAb Perspektif Salwa M. El-Awwa Dicky Adi Setiawan UIN Walisongo Semarang dickyadisetiawan_2104028024@student. Sultan Latif Rahmatulloh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta latifsulton@gmail. Abstract This article intends to take a deeper look at how the pattern of munAsabah offered by Salwa, this is certainly to see how new ideas are carried out and what is a significant difference between the idea of textual relation carried by Salwa and the theory of munAsabah initiated by his predecessors such as al-Zarkasy, as-Suyti and al-QaAn who are considered the most authoritative figures in the field of 'ulmu al-QurAn. Based on research conducted by the authors concluded that the theory used by Salwa is to use a historical-linguistic approach. So it is not only the pattern textually that Salwa tries to analyze the interrelationship but Salwa also sees how the historical context of the decline revelation and in the analysis as a mixture of themes and events that are interconnected between text and context. That is. Salwa basically tried to see how the pattern of munAsabah in surah al-AhzAb in answering political, cultural and social context problems in the early higiers in the Arabian Peninsula. Keywords: MunAsabah, al-AhzAb. Salwa M. El-Awwa Abstrak Artikel ini bermaksud untuk melihat lebih mendalam bagaimana pola munAsabah yang ditawarkan oleh Salwa, hal ini tentunya untuk melihat bagaimana gagasan-gagasan baru yang di usung dan apa yang menjadi perbedaan signifikan antara gagasan textual relation yang diusung oleh Salwa dengan teori munAsabah yang digagas oleh para pendahulunya seperti al-Zarkasy, as-Suyti dan al-QaAn yang dianggap sebagai tokoh paling otoritatif dalam bidang Aulmu al-QurAn. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis menyimpulkan bahwa teori yang digunakan oleh Salwa adalah menggunakan pendekatan historis-linguistic. Jadi bukan hanya pola secara tekstual yang coba Salwa analisis keterkaitannya melainkan Salwa juga melihat bagaimana konteks historis penurunan wahyu dan di analisis sebagai satu paduan tema dan kejadian yang saling berhubungan antara teks dan konteks. Artinya. Salwa pada dasarnya berusaha melihat bagaimana pola munAsabah dalam surah al-AhzAb dalam menjawab persoalan-persoalan politik, budaya dan konteks sosial pada masal awal Hijiriyah di Jazirah Arab. Kata kunci: MunAsabah, al-AhzAb. Salwa M. El-Awwa. Putih: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah, published by MaAohad Aly Al Fithrah Surabaya. Takhassus. Tasawwuf wa Thoriqotuhu. Dicky Adi Setiawan Pendahuluan MunAsabah sebagai salah satu disiplin keilmuan dalam Aulmul QurAoan tampaknya masih menjadi perdebatan di antara para pakar studi QurAan. Pasalnya munAsabah selain dianggap sebagai bukan dari bagian perangkat Aulmul QurAoan juga cara kerjanya lebi banyak menggunakan kemampuan pikiran dan daya kritis bagi mufassir. Meski demikian para ahli studi qurAan sperti az-Zarkasyi dalam masterpiese-nya al-BurhAn f AUlmi al-QurAoAn sebenarnya sudah membicarakan tentang munAsabah lengkap dengan definisi, pembagian serta mekanisme pemakaiannya. Begitu juga dengan MannaA alQaAn. Al-Biqai menyebutkan dalam Nazhm al-Durar fi TanAsub al-ayAti wa al-Suwar, bahwa munAsabah secara substansi merupakan bagian dari kajian ilmu balaghoh karena munAsabah bertujuan untuk mengungkap makna dibalik hunungan antara satu ayat dengan lain, atau surat dengan surat yang lain. Al-Biqai juga berpendapat bahwa derajat ilmu munAsabah paa hakikatnya sama pentingnya dengan Ailmu bayAn dalam balaghah, sebagaimana dalam Ailmu al-BayAn pada dasarnya dalam menjelaskan makna-makna susunan kata dalam Al-QurAan baik itu dalam metode mutasyabih, istiAoArah, majAz dan mursAl diperlukan adanya proses munAsabah yang sama-sama bertujuan sebagai kasyful ghaA. Sementara itu, sejak berjalannya waktu dan muncul beberapa tokoh studi qurAan, tampaknya munAsabah masih diperlukan adanya kajian yang mendalam dalam mengungkap bagaimana korelasi dalam satu surat itu sendiri. Gagasan munAsabah dalam tren studi quran kontemporer kemudian digunakan sebagai perangkat dalam menggali keserasian tema dalam satu surat. Hal ini muncul karena banyaknya kritikan-kritikan dari orientalis yang mengnaggap bahwa tema dalam Al-QurAan mengalami kerancuan dan tidak sistematis. Salwa M. S El-Awwa sebagai tokoh studi qurAan kontemporer kemudian hadir dalam menjawab tuduhan-tuduhan tersebut, hasil pemikirannya tentang munAsabah tersebut ia tuangkan dalam sebuah karya desertasinya dengan judul Textual Relations in The QurAoan:Relevance. Coherence, and Structure . Dalam karyanya Salwa berupaya membuktikan bagaimana keserasian ayat dan tema dalam satu surat . extual relatio. yang di analisis dengan pendekatan linguistik-koherensi dan teori Dalam hal ini Salwa memilih surah al-AhzAb dan al-QiyAmah yang dijadikan sebagai sampling penelitiannya dan di analisis dengan menggunakan pendektatan lingusitik, selain itu Salwa juga beranggapan bahwa analisisnya ini mencoba membuktikan secara rasional bagaimana pola-pola 1 M. Yusuf. AuPengunaan Ilmu Musabah dalam Istinbath HukumAy Jurnal Tajdid Vol. 6 No. 2019,4-6. 2 Burhanuddin al-Biqai. Nazm al-Durar Fi Tanasub al-Ayati Wa al-Suwar (Hiderebad: Dar al-Marif, 2. , 253. Jurnal Putih. Vol VII. No. 1, 2022 Dicky Adi Setiawan teks dalam setiap ayat, sehingga ayat-ayat tersbut menjadi sebuah bangunan tema yang serasi dan salin terkait satu sama lain. Berdasarkan asumsi tersebut penulis bermaksud untuk melihat lebih mendalam bagaimana pola munAsabah yang ditawarkan oleh Alwa, hal ini tentunya untuk melihat bagaimana gagasangagasan baru yang diusung dan apa yang menjadi perbendaan signifikan antara gagasan textual relation yang diusung oleh Alwa dengan teori munAsabah yang digagas oleh para pendahulunya seperti alZarkasy, as-Suyti dan al-QaAn yang dianggap sebagai tokoh paling otoritatif dalam bidang Aulmu al-QurAn. Tren Studi QurAoan era Modern: MunAsabah Sebagai Embrio Kajian Berbasis Surat dan Tartib Nuzuli. Munculnya tren kajian berbasis surat dan tartib nuzuli dikalangan studi QurAan kontemporer tidak terlepas dari banyaknya kritikan-kritikan miring para kesarjanaan orientalis yang menganggap bahwa Al-QurAan disusun secara serampangan dan tidak sistematis. Misalkan saja seperti pernyataan Nyketas of Byzantium Aiunreoseble unsysmatically thrown together, shoddy piece of work, filled white lies forgeries fables an contradictions. Ai . Pada abad sekitar abad ke-13 terbit sebuah buku para pendeta yang diutus ke Timur khusus unutk mengkaji dan melakukan penokan terhadap al-QurAan, karya ini juga dianggap sebagai sumber referensi paling ototritatif dalam membicarakan hal-hal miring terhadap al-QurAan, karya tersebut adalah Contra Legem Sarraceronum, dalam karya tersebut setidaknya disebutkan Aithe QurAoan contens nomerous internal contradictions apart form its entirely obvious lack of orderAn. Tradisi kritik terhadap al-QurAan tidak berhenti sampai ke abad 20-an, beberapa tokoh sarjana barat juga tidak sedikit yang masih melontarkan kritikan tentang ketidak sistematisan alQurAan seperti pernyataan Watt yang juga dikutip oleh Muller AiQuran its jointednessAn . ontdgomeri Thomas Charlyle yang juga pernah dikatakan oleh Gibb dengan perkataan Aia toilsome reading, a wearisome, cofused jumble crude incondite. nothing but a sense duty could carry any Europan through the KoranAn. Dari semua kritikan tersebut pada intinya adalah para kesarjanaan Barat beranggapan jika al-QurAan disusun secara tidak sistematis dan serampangan yang artinya al-QurAan juga tidak memilki koherensi Salwa. M El-Awwa. Textual Relations In The QurAoan: Relevance. Coherence, and Structure (London adn New York: Routledge, 2. IX. Hartmut Bobzin. AuPre -1800 Preoccupations of QurAanic StudiesAy edited by J. McAuliffe. Encyclopaedia of the QurAoan Vol. : 241. Gibb. Mohammadenism: An Historical Survey (London: Oxford University Press, 1. , 25. Jurnal Putih. Vol VII. No. 1, 2022 Dicky Adi Setiawan secara tematik dari satu ayat ke ayat yang lain, hal ini tentu sangat berebda dengan Alkitab yang kala itu memang sudah tersusun secara runtut dan saling koheren satu sama lain. Banyaknya lontaran kritikan di atas kemudian memunculkan para pemikir tafsir kontemorer untuk mengagas al-QurAan berbasis surat dan dengan metode tartib nuzuli. Mir menyebutkan bahwa adanya tren kajian tersebut pada dasarnya adalah berakar dari konsep munAsabah. Sebagaimana dalam tradisi studi QurAan klasik munAsabah adalah term resmi yang disebut dalam beberapa litratre ulml QurAoan seperti BurhAn f AUlmi al-QurAn, al-ItqAn, dan beberapa karya lainnya yang secara intensifi hanya membahas tentang munAsabah f ayAti wa suwAr. Mir juga menyebutkan bahwa para kesarjanaan modern dalam menyusun al-QurAan berbasis surat dengan metode tartb nuzui merupakan sebuah inovasi secara radikal, karena munAsabah di era kalsik yang awalnnya dilakukan hanya sebuah proses penafsiran menghubungkan satu ayat dengan ayat yang lain seperti yang dilakukan Fakhruddin arRazi dalam mafAtihu al-Ghab nya dengan metode linier-atomistik atau al-Biqai yang juga melakukan kajian munAsabah dengan pendekatan organik-holistik. Berbeda dengan para kesarjanaan modern yang secara intens mencoba membangus suatu koherensi antar satu ayat dengan ayat lain dan dijadidan dalam satu tema surat tertentu dengan menggali bagaimana tema-tema yang terhubung dalam surat tersebut, bukan hanya itu mereka juga dianggap oleh Mir mampu menggali koherensi antar satu surat dengan yang lain sehingga kesulurhan surat dalam Al-QurAan saling terhubung satu sama lain. Beberapa karya yang muncul pada abad ke 20 seperti bayAn al-QurAoAn terdiri dari 12 julid . karya Asnaf AAli Sanafi . 2/1. , dalam karya tersebut Ali Sanafi secara spesifik mendiskusikan tentang hubungan antara bagian dalam surat dengan surat yang lain, kajian ini disebut dengan istilah rab . aris hubunga. Kemudian pada tahun 1973 seorang mufassir Hamd al-Dn alFarAh menerbitkan sebuah karya dengan judul MajmAoah li TafAsir FarAh. al-FarAh beranggapan bahwa susunan al-QurAan pada dasarnya mengandung hikmah tertentu yang perlu diungkap maknanya secara mendalam, oleh karena itu diperlukan susunan sesuai dengan masa turunnya alQurAan . artb nuzu. Selanjutnya yang juga karyanya cukup terkanal di kalangan studi QurAan adalah Tafhmu al-QurAoAn karya ini bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dengan judul the Meaning of the QurAoan, sebagaimana sebagaimana tokoh yang lain al-Maududi --ahbul kitAbAijuga beranggapan bahwa surat-surat dalam al-QurAan mempunyai tema-tema yang padu dan terkait satu sama lain. Mir Mustansir Mir. AuThe Sura as a Unity: A Twentieth Century Development in QurAan Exegesis. Ay in Approaches to the QurAan, edited by A. Kader. London and (New York: Routledge, 1. Jurnal Putih. Vol VII. No. 1, 2022 Dicky Adi Setiawan juga menyebutkan bahwa latar belakang disusunnya karya tersebut karena membantah tuduhantuduhan miring para sarjana Barat terhadap al-QurAan. Beralih ke dataran Mesir, beberapa karya yang dianggap otoritatif dan secara intens mendiskusikan kajian al-QurAan berbasis surat adalah di antaranya Sayyid Qub dengan karyanya tafsr f dzilAli al-QurAoAn . , kerangka dasar dari karya ini berawal dari argumentasi Sayyid Qub yang mengatakan jika Al-QurAan memilki satu sumbu tema tertentu dalam suatu surat yang menghubungkan antara satu ayat dengan ayat yang lain, konsep ini kemudian dikenal dengan sebutan mihwAr . kson/tema utam. Demikian juga dengan Muhammad Husain al-aba abai yang mengarang sebuah tafsir dengan judul al-MizAn f tafsri Al-QurAoan . Menurut al-aba abai dalam menelisik hubungan ayat dalam sebuah surat diperlukan adanya analisis awalan ayat dalam surat . dan menghubungkan dengan akhiran surat . serta memperhatikan bagaimana prosesi penyajian bahasa dalam bahasanya . l-syiyAqu al-JAr. , peroses analisis ini kemudian disebut oleh al-aba abai dengan metode gharadl. Kita beranjak ke era yang lebih modern, beberapa tokoh studi QurAan pada era ini lebih menekankan aspek munAsabah dengan berusaha mengaitkan antara teks dan konteks ketika wahyu tersebut diturunkan, maka tidak heran jika beberapa tokoh yang muncul pada era ini kemudian mengagas karya tafsir dengan metode tartib nuzuli, beberapa tokoh yang mendiskusikan hal tersebut di antaranya adalah AIzzat Darwaza, dalam karyanya yang berjudul al-Tafsr al-Hadts ia mengkonsepsi bagaimana al-QurAan seharusnya dipahami dengan memperhatikan bagaimana kronologisasi pewahyuan al-QurAan. Karena menurutnya pemahaman munAsabah yang hanya mengandalkan teks semata akan berimbas kepada distorsi makna. 9 Gagasan yang diusung oleh AIzzat kemudian diteruskan oleh AAbid al-JAbir dengan karyanya yang berjudul Fahm al-QurAAn al-Hakm. Tafsri alWadih tartb al-Nuzl tidak berbeda jauh dengan AIzzat, al-Jabr beranggapan bahwa al-QurAan harus disusun berdasarkan koronologisasi pewahyuan, karena dengan demikian maka dapat dilihat bagaimana proses al-QurAan dalam membicarakan sebuah tema-tema tertentu yang berkaitan dengan konteks ketika al-QurAan diturunkan, analisis ini tentunya sangat memerlukan kajian yang mendalam terkati bagaimana sejarah kehidupan nabi Muhammad Saw dan awal tahun Hijriyah. Ibid, 37-44. Ibid, 63-64. Muhammad Izzat Darwaza. Al-Tafsr al-Hadts vol. (Bairut: DAr al-Gharb al- IslAm, 2. , 16. Muhammad AAbd al-JAbir. Fahm Al-QurAoAn al-Hakm: Tafsr al-Wadh Hasb Tartb al-Nuzl. (Beirut: Markaz DirAsat al-Wihdah al-AArabiyah, 2. , 16. Jurnal Putih. Vol VII. No. 1, 2022 Dicky Adi Setiawan MunAsabah dalam Pandangan Para Ahli AoUlmu al-QurAoAn. Az-Zarkasyi dalam karya burhAn f Almi al-QurAoAn membahas seputar munAsabah dalam satu babnya dengan diberi judul maAorifatul munAsabah bainal Ayah . engetahui korelasi antar aya. MnAsabah diartikan secara bahasa oleh az-Zarkasy sebagai muqArabah . , dicontohkan dengan istilah wafulAn yunAsubu fulAnan yang maksudnya disini adalah dua fulan saling berdekatan, ia memberikan perumpamaan lain al-arbu al-Mutail kal akhwiyyin wabnu al-AAm. Dari logika yang coba dibangun oleh zarkasyi dapat dipahami bahwa sejatinya munAsabah dalam konteks al-QurAan adalah kedekatan antar ayat dengan ayat, surat dengan ayat dan sebaliknya yang saling terpaut satu sama lain dan memiliki kesinambungan dalam penggalian makna. Selanjutnya az-Zarkasyi juga mengatakan bahwa dengan munAsabah kita dapat membuktikan bagaimana keserasian dan ketersinambungan dalam al-QurAan, sebagaimana ia mengutip dari pendapat Fakhruddin ar-Razi dalam karya mafAtihu al-Ghob Aiaktsaru laAiful QurAoAn maudAoatun min tarbAi warrawAbii . elembutan Al-QurAan tersimpan pada susunan serta korelasi didalamny. Dari ungkapan ini sangat jelas dapat dipahami bahwa disiplin ilmu munAsabah selain sebagai tujuan dalam menyingkap makna juga menunjukkan untuk menyingkap keindahan dibalik korelasi yang disuguhkan oleh al-QurAan. Lebih lanjur az-Zarkasyi juga menyatakan Aimin mahAsini al-kalAm ayyartabia baAodluhu baAodlan liallA yakna munqaiAoanAn sebagaimana kaidah suatu kalimat bahwa keindahan ungkapan itu terletak pada keterpautan dan korelasi antar satu kata dengan kata lain, dan hal ini sebagaimana dalam al-QurAan karna musthil jika susunan dalam al-QurAan yang merupakan minklAmi rabbi al-AAlamn tidak memilki korelasi satu sama lain. Az-Zarkasy kemudian mencontohkan baberapa munAsabah dalam al-QurAan, seperti munAsabah antara walan surah al-IsrAA dengan tasbih kemudian awalan surah al-Kahfi dengan thmd yang mana keduanya memili relasi satu sama lain, karena permulaan dari adanya tasbih adalah dengan bertahmid terlebih dahulu. Selain itu az-Zarkasy juga mencontohkan musabah antara ayat dengan ayat yaitu munAsabah antara awalah surah al-Baqarah AidzAlikal kitAbulA raibafhAn . l-Baqarah: . dengan surah alFAtihah AiihdinA a-irAa al- mustaqmAy . l-Fatihah: . Yang mejadi munAsabah di sini adalah a-irA . , yitu jalan bagaimana yang lurus? Yaitu jalan yang sesuai dengan kitAb . l-QurAa. al-ImAm Badriddn MuhmmAd bin AAbdullAh az-Zarkasy. Al-BurhAn F AUlmi al-QurAoAn. (Mesir: DAru alHAdits, 2. , 36. Ibid, 26-27. Ibid, 36-37. Jurnal Putih. Vol VII. No. 1, 2022 Dicky Adi Setiawan As-Suyuti adalah satu tokoh yang juga secara intensif dalam membahas munAsabah, pembahasan ini ia tuangkan dalam karyanya al-tqAn f AUlmi al-QurAoAn. Dari beberapa tokoh ahli Alumu al-QurAoAn as-Suyuti adalah salah satu tokoh yang komprehensif dalam membahas munAsabah, dalam sub babnya yang berjudul f munAsabatil ayAti wa suwAr as-Suyuti banyak mengutip pendapat para pendahulunya dalam mendifinisikan munAsabah di antaranya seprti Fakhruddin ar-RAsi. Ibnu AArrabi dan AIzzudn ibnu AAbdu al-SalAm. Sebagaimana az-Zarkasy, as-Suyuti mendefinisikan munAsabah dengan al-MuqArabah . aling berdekata. Yang memebdakan adalah as-Suyuti mengatakan bahwa munAsabah merupakan kesesuaian dalam ayat-ayat al-QurAan yang dapat dipandang secara akal, indra dan maknanya. MunAsabah dalam pandangan as-Suyuti dibagi ke dalam beberapa model di antranya adalah munAsabah bainal ayAti wal ayAt,. ubungan antara ayat dengan aya. munAbah bainal ayAti wa al-suwAr . ubungan antara ayat dengan sura. , munAsabah bainal ayAti wa suwAr, munasabah baina iftitAhi suwAr wa akhrihA . unasbah antara pembukaan surat dengan akhir sura. Yang menarik dari penjelasan munAsabah dalam al-itqAn ketika menjelaskan hubungan antara pembukaan surat dengan akhir surat seperti awalan Ad yang diakhiri dengan inhuwa illA dzikrun lilAoAlamn, yang menunjukkan adanya hungan untuk berdzikir, kemudian awalan surah nn diakhiri dengan mA anta biniAomati rabbika bimajnn yang secara leksikal menunjukan pola yang sama. Selanjutnya as-Suyuti juga menjelaskan hubungan akhir surah dengan awalan surah berikutnya seperti hubungan antara akhir surah al-Fl dengan awalan surah al-Qurisy. Sementara itu para ulama seperti az-Zarkasy dan as-Suyuti bersepakat bahwa pencetus ilmu munAsabah pertama kali adalah Syaikh Imam Abu Bakar Abdullah Ibn Muhammad Ziyad anNaisaburi (W. 324 H). Merupakan seorang al-fAqih yang cukup terpandangan dengan keluasan ilmunya, beliau juga pernah menimba ilmu di Syam. Irak dan di Mesir. Sebelum ia kemudian tinggal di kota Baghdad ia pernah berguru kepada seorang Syaikh yang bernama Musni yang juga merupakan seorang tokoh ulama as-SyafiAiyyah. As-SyahrabAni bernah mengatakan berkenaan dengan kontribusi Naisaburi dalam bidang ilmu munAsabah: AOE II N EI IEI OEI IEI IIN II ON OO EO EII O E EIo OEI O EEI OA EOA A OI EEI OA E ON EO OEA,AOE OEI OCO EO EEO C EOO EO IE E ON EO OE I ONA AI ON EO OEI OO EO EI EI EINNI IEIA JalAluddin al-Suy, al-IqAn F AUlmi al-QurAoAn (Libanon: Bairut, 1. , 361. Ibid. Jurnal Putih. Vol VII. No. 1, 2022 Dicky Adi Setiawan AuOrang yang pertama kali menggagas konsep munAsabah di Baghdad dan orang tersebut berlum kita mendengarnya dari orang lain ialah Syaikh ImAm ab Bakar an-Naisaburi, belia adalah seorang ulama yang mahir dalam ilmu fiqih dan kebahasaannya. Ketika ia duduk di atas kursi dan ketika dibacakan sebuah ayat al-QurAan ia akan bertanya Auapa hikmah dari surat ini diletakkan disamping surat ini?Ay lalu kemudian beliau mengkritik beberapa ulama Baghdad karena kebanyakan mereka tidak mendalami ilmu munAsabah. Ay16 Berikutnya konsep munAsabah diteruskan oleh beberapa ulamanya dengan kajian yang intens dan bahkan di antara mereka banyak yang tidak segan-segan menulis satu karya hanya khusus membahas munAsabah, beberapa ulama tersebut seperti: Syaikh BurhAnu al-Dn al-Biqai dengan karyanya Nadzmu al-DurAr f TanAsubi al-AyAti wa al-SuwAr, kemudian Abu JaAfar Ahmad Ibnu IbrAhm Ibn Jubair al-Andalusi al-Nahwi al-Hafidz dengan karyanya al-BurhAn f MunAsabah Tartib SuwAr QurAn, kemudian as-Sayuti dengan kitabnnya al-FahmiAo li MunAsabah suwAr wa al-Ayat, dan Ahmad Hasan Farhat al-MunAsabah baina al-AyAti wa al-SuwAr. MunAsabah kemudian hadir bukan hanya dalam sebuah konsepsi dalam ranah Aulmul qurAoAn Para mufassir juga tidak sedikit yang menuangkan hasi penafsirannya terhadap ayat al-QurAan dengan metode munAsabah seperti karya tafsir MafAtihu al-Ghab karya Fakhruddin ar-Razi. Tafsir alWadlh karya Muhammad Mahmud Hijazi, kemudian tafsr al-MannAr karya Muhammad Abduh dan muridnya Rasyid Ridla, afwat al-Tafsr karya Syaik AAli al-abuni, kemudian di indonesia seperti tafsir al-AzhAr karya Buya Hamka. Meski demikian, tidak semua mufassir menerima konsep munAsabah terutama para mufassi ryang memegang teguh ideologi konservatif, seperti Ibnu Qoyyum al-Jauzi. Karena mengingat munAsabah ini pada dasarnya adalah sebuah eksplorasi dari hasil ijtihAdi yang bersumber dari raAoyu, maka dari itu munAsabah belum populer secara konseptual pada awal abad hijriyah. Dan pada pemikir tafsir menduga itu ada hubungannya dengan hasil penafsiran hadis tentang mereka yang menafsirkan al-QurAan dengan pemikiran maka telah mendaftarkan diri untuk masuk neraka. Para pengamat tafsir menduga bahwa munAsabah ini mulai populer sejak era pertengahan yaitu ketika an-Naisaburi memperkenalkannya di Baghdad terlebih lagi konsep munAsabah juga dibahas oleh para tokoh yang dianggap otoritatif dalam bidang ulumul qurAan seperti Imam as-Suyuthi. Fakhruddin al-Razi, azZarkasyi. ImAm AIzzu al-Dn, dan bahkan Ibnu Arabi. Beberapa pengakuan tentang keutamaan al-ImAm Badriddn MuhmmAd bin AAbdullAh az-Zarkasy. Al-BurhAn F AUlmi al-QurAoAn, 36. Ab Muhammad Makki ibn Abi Alib al-Qaisi. Al-dhAh Li NAsikh al-QurAn Wa Manskhih. (Riyadl: Maktabah Ab Muhammad Makki ibn Abi Alib al-Qaisi, 2. , 410. Yusuf. AuPenggunaan Ilmu Munasabah Dalam Istinbyth Hukum. Ay Tajdid 26, no, 02 . : 122. Jurnal Putih. Vol VII. No. 1, 2022 Dicky Adi Setiawan konsep munAsabah pernah diungkapkan oleh Fakhruddin ar-Razi dalam tafsirnya Mafatikhul Ghaib yang juga dikutip oleh Imam as-Suyuthi Aikebanyakan keindahan al-quran adalah dilihat dari ketersinambungan satu ayat dengan ayat yang lainAn. Lebih lanjut lagi. Syaikh AIzzu al-Dn ibn Abd as-SalAm mengemukakan secara rinci mengenai konsep munAsabah sebagai berikut: AIEI EI I EEI O OA I eI I OC OA I I I OEO N AI OC EO IEA IE OCA AAOO OII EE ANO IEEA I E OC EOO OE EOE OAI I IEO I EO AE I IO AI ECIA AIE AOO IOA OOI I OEI IEA O E IEA OI EI e E OO O A AiMunAsabah itu ilmu yang bagus, tetapi dalam indahnya hubungan perkatan itu disyaratkan adanya pada masalah yang menyatu, yang bagian awalnya berkaitan dengan bagian akhirnya. Jika perkataan itu terjadi karena beberapa faktor yang berlainan, maka hubungan kata itu tidak terdapat di dalamnya. Barang siapa yang menghubung-hubungkannya berarti ia termasuk orang yang memaksakan diri atas sesuatu yang sebenarnya ia tidak mampu Kalaupun ada, itu hanyalah hubungan yang janggal, bukan redaksi yang indah, yang terpelihara dari kejanggalan tersebut, apalagi untuk yang lebih baik . eperti alQurAa. Al-QurAan diturunkan dalam masa lebih dua puluh tahun, menyangkut pelbagai hukum yang berbeda, yang ditetapkan . isyariAatka. karena faktor-faktor yang berlainan. Perkataan yang demikian itu adalah tidak mudah sebagian dengan sebagian lainnya untuk dapat dihubungkan. Ay20 Dari pernyataan AIzzu al-Dn kita dapat melihat betapa pentingnya penerapan minAsabah dalam menafsirkan al-QurAan, selain itu munsAbah juga harus dilakukan secara hati-hati dan dengan proses ijtihad yang kuat, karena proses penghubungan antara satu ayat dengan ayat yang lain bukan suatu hal yang mudah, dibutuhkan kemampuan dalam analisisi penurunan Al-QurAan sesuai dengan tartib nuzuli dan mengetahui secara spesifik bagaimana asbAb nul ayat tersebut diturunkan. Karena pertimbangan ini lah kemudian para sarjana muslim modern mulai mengagas bagaimana Al-QurAan dengan susunan tartb nuzuli seperti Izza Darwaza, dan AAbid al-Jabir. Salwa M. S El-Awwa dan Gagasan munAsabah dengan Metode Linguistik (Lingusitic Unit. Salwa merupakan seorang dosen bidang QurAoanic Studies departemen Theology and Relious Studies di Universitas Birmingham. Salwa membidangi dan sekaligus mengajarkan Hermeneutika AlQurAan, ia juga terkenal dengan intensitasnya dalam membidangi kajian Linguistik, sehingga tidak al-ImAm Badriddn MuhmmAd bin AAbdullAh az-Zarkasy. Al-BurhAn F AUlmi al-QurAoAn. , 37. JalAluddin al-Suy, al-IqAn F AUlmi al-QurAoAn, 108. Jurnal Putih. Vol VII. No. 1, 2022 Dicky Adi Setiawan heran jika banyak karya dari Salwa adalah kajian linguistik Al-QurAan. Salah satu karya monumentalnya yang juga merupakan sumber primer dari artikel ini adalah Textual Relation in The QurAoan: Relevance. Cohernece, and Structure. Karya tersebut merupakan penelitian desertasi yang ia selesaikan untuk memperoleh gelar doktor di bidang School of Oriental and African Studies di bawah bimbingan Prof M. S Abdel Haleem. Dalam karya tersebut Alwa secara spesifik membahas textual relation atau dalam kajian Islam disebut dengan munAsabah, alasan penting ia dalam menyusun konsepsi ini adalah karena menurutnya beberapa tokoh yang mengkaji munAsabah belum memiliki kerangka teoritis yang kuat dan dapat diakui oleh berbegai kalangan termasuk para kesarjanaan Barat. Dalam karya tersebut permasalahan pokok paling utama yang hendak dijawab oleh Alwa adalah AiDo Quranic surras possess coherence or organic unity and is this necessary all as a quality of the text or is it not?An. 22 Meskipun dalam karya tersebut Alwa tidak membahas munAbah secara komprehensif setiap surat dalam Al-QurAan melainkan ia hanya mengambil dua sampel dalam surah Al-QurAan yaitu surah al-AhzAb dan al-QiyAh, alasan Alwa membahas surat ini karena dalam pandangannya kedua surat tersebut menyimpan banyak tema yang berbeda-beda dan seolah tidak berpautan sama lain, oleh karena itu ia berusaha membuktikan bahwa ternyata dalam surah tersbeut tedapat munAsabah antara satu ayat dengan yang lain dan justru saling berhubungan dan terpadu satu sama lain. Sebagai upaya Alwa dalam menjawab rumusan permasalah tersbut, ia menggunakan pendekatan historis-linguistic. Jadi bukan hanya pola secara tekstual yang coba Alwa analisis keterkaitannya melainkan Alwa juga melihat bagaimana konteks historis penurunan wahyu dan di analisis sebagai satu paduan tema dan kejadian yang saling berhubungan antara teks dan konteks. Artinya. Alwa pada dasarnya berusaha melihat bagaimana pola munAsabah dalam surah al-AhzAb dan al-QiyAmah dalam menjawab persoalan-persoalan politik, budaya dan konteks sosial pada masal awal Hijiriah di Jazirah Arab. Sementara itu, pada dasarnya dalam Salwa menganalisis munAsabah kedua surat tersebut dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan koherensi dan relevansi. Kedua pendekatan Salwa ini pada dasarnya diususung sebagai bentuk jawan karena adanya kegelisahan mengenai konseps munAsabah yang sampai saat itu masih belum memiliki landasan teori yang jelas, hal itu Salwa M. El-Awwa. Textual Relations in The QurAoan:Relevance. Coherence, and Structure (London and New York: Routledge, 2. IX. Ibid, 2 Ibid, 3. Jurnal Putih. Vol VII. No. 1, 2022 Dicky Adi Setiawan terlihat dari beberapa tokoh studi Quran yang masih berbeda-beda dalam menjelaskan perangkan munAsabah, oleh karena itu Salwa beranggapan bahwa toori yang diusungnya dapat menjadi sumbangan kerangka teori yang lebih matang dan objektif. Teori koherensi digunakan oleh Alwa dalam menganalisis teks-teks ayat secara tekstual dengan menggunakan pendekatan linguistik, pada porses analisis ini Alwa menjelaskan bagaimana bubungan ayat dalam bingkai tekstual, seperti bunyi teks awalan surat, akhiran surat kemudian kata sambung yang digunakan dalam Al-QurAan seperti wAw, waidzA, aw dan beberapa kata sambung yang lain. Kemudian teori relevansi digunakan oleh Alwa sebagai upayanya dalam menjelaskan relasi antar ayat yang tidak dapat terjawab dengan analisis koherensi tekstual semata, pada taraf ini analisis yang dilakukan adalah bagaimana hubungan antar teks dengan hal-hal yang diluar teks, dalam kasus ini yang dimaksud diluar teks segala seperti kejadian-kejadian ketika diturunkannya Al-QurAan yang terdokumentasi kedalam sebuah hadis maupun riwayat para sahabat nai, serta kejadian-kejadian yang meliputinya secara makro yang tidak terekam secara riwayat akan tetapi dapat dilacak historisitasnya dengan pendekatan kritik-historis. Dalam kasus ini proses kontekstualisasi dalam pandangan Alwa terbagi kedalam tiga bagian: Perubahan makna historisitas yang sibabkan karena adanya informasi baru yang didapatkan dari hasil kontekstualisasi. Dan jiga asumsi yang baru didaptakan setelah proses kontekstualisasi maka dapat menggagalkan makna asumsi lama. Pesan tersebut kemudian menjadi legitimasi khusus kepada pendengar sehingga asumsi tersebut kemudian menjadi lebih kuat. Textual Relation Surah al-AhzAb dalam Pandangan Salwa M. S El-Awwa. Pada bagian ini penulis hendak menunjukkan bagaimana teori Salwa ketika di aplikasikan kedalam sebuah ayat, dalam kasus ini penulis hanya mengambil contoh dari al-AhzAb. Dari hasil analisisnya Salwa membaginya kedalam sepuluh tema-tema besar. Ia juga sekaligus berasumsi bahwa hasil pembagian ini bukanlah dari hasil subjektifitasnya dan hasil intuisinya melainkan dari hasil analisis yang mendalam secara teoritis dan metodologis, yaitu dengan menggunakan metode linguistik dan beberapa pertimbangan penting sebagaimana yang penulis sebutkan pada poin-poin Ibid, 28-31. Ibid, 48. Jurnal Putih. Vol VII. No. 1, 2022 Dicky Adi Setiawan Salwa menyebutkan bahwa bagian-bagian tersebut pada dasarnya terhubung dalam satu kesatuan . yang menurutnya memiki korelasi dan koherensi satu sama lain di antaranya. Satu kesatuan ini juga disebut oleh Salwa dapat digali dengan menggunakan teori marke . , yang sekaligus menunjukkan bahwa kesatuan tersbut mungkin saja tidak dapat dilihat secara literal melainkan harus dilihat sebagai pertanda yang memiliki interpretasi sebagai sumber kesatuan. Paragraf dan kata sambung menurut Salwa adalah petanda yang paling utama. Di sni petanda dipetakan kedalam dua bagian yaitu petanda yang menunjukkan adanya perubahan tema dan perubahan sub tema. Yang artinya menurut Salwa analisis tanda ini adalah merupakan sebuah pengamatan secara mendalam bagaimana tanda penghubung yang digunakan dalam setiap ayat ketika beranjak pada paragraf ataupun ayat yang lain. Salwa mencontohkan, dalam surat al-Ahzab tanda paragraf atau major paragraph switches adalah lafad ya ayyuha. Lafadz tersebut menurut Salwa adalah sebuah tanda adanya sebuah awal paragraf dan menuju pada pergantian tema baru. Hal itu ditunjukkan dengan adanya letak lafadz ya ayyuha diulang Ibid, 50. Jurnal Putih. Vol VII. No. 1, 2022 Dicky Adi Setiawan selama sembilan kali, dan dalam kesempatan lain Salwa menyebutkan bahwa dalam surah al-AhzAb terbagi kedalam 10 bagian. Salwa kemudian menyebutkan istilah sub miror, dijelaskan sebagai perubahan sub tema, pertanda ini digunakan untuk peralihan tema yang pada dasarnya masih berhubungan secara tekstual. Beberapa sub mirar yang disebutkan oleh Salwa dalam al-ahzAb adalah waw, inna, laqad, waAoidh. Beberapa kata tersebut menurutnya menunjukkan adanya peralihat yang tidak membedakan tema yang mana jika terdapat kata dengan lafadz tersbut menunjukkan adanya perpindahan tema dengan hubungan secara tekstual yang masih melekat. Sebagaimana yang tertera dalam surah al-AhzAb pada bagian pertama, di ayat 18- terdapat perubahan kata ganti dengan menggunakan lafadz waAoidh. Begitu juga dengan ayat 13- yang menceritakan tentang nabi, dan pada ayat 46 yang bercerita tentang nabi dan aspek yang meliputinya yaitu lingkungan sosial dan umat nabi. Dilanjutkan pada ayat 78 yang merupakan konten tentang hubungan nabi dan Tuhan. Penjelasan menarik lain dari Salwa adalah ketika ia menggunakan teori relevansi, menurutnya penggunaan kata li lam taAolil adalah lafadz-lafadz yang menunjukkan adanya korelasi tema kesuluruhan ayat dalam surat karena lafadz tersebut pada dasarnya tidak dapat dilihat dengan analisis tekstual melainkan juga diperlukan adanya metode kontekstual agar dapat mengetahuai kesatuan tema tersebut. Menurut Salwa li taAolil juga sekaligus menjawab pertanya mengapa, lebih spesifik adalah pertanyaan Aimengapa Allah tidak mengijinkan orang Makkah mengangkat anak sebagai anaknya sendiriAn dan menariknya hampir setiap ayat dalam surah al-AhzAb terdapat lafadz li taAolil tersebut, yang mana lafadz tersebut ternyata menjadi tema utama dalam surat tersebut. Salwa kemudian menambahkan bahwa adanya pola tersebut menunjukkan satu kesatuan hubungan antara ayat dalam surah al-AhzAb bahwa pada intinya adalah surat tersebut hendak menjelaskan Aibarang siapa berbuat baik maka ia akan dibalas dengan kabaikan dan barang siapa yang berbuat jahat maka ia akan dibalas dengan sebagaimana yang ia lakukanAn Sementara itu berkenaan dengan konteks relevansinya Salwa menjelaskan jika surat tersebut berkeaitan erat dengan sejarah yang menjelaskan bahwa pada saat dahulu orang Makkah seringkali menyebut anak angkatnya sebagai anak kandung mereka sendiri, yang mana perbuatan tersebut merupakan larangan dari Allah yang artinya terkategorikan sebai perbuatan jelek . aAoiya. Sedangkan jika melihat lebih lanjut Salwa juga mengatakan bahwa pelarangan ini berkaitan erat Ibid, 52. Ibid, 52-53. Jurnal Putih. Vol VII. No. 1, 2022 Dicky Adi Setiawan dengan efek kontekstualisasi, karena konsekuensi logisnya ketika seorang menganggap anak angkat sebagai anak kandung maka hukum tersebut akan terbebani . sampai anak tersebut kemudian menikah, waris dan hukum-hukum Islam yang lainnya yang artinya satu perbuatan kejahatan akan menjalar pada akibat perbuatan yang lain, kembali lagi dengan tema utama dalam surah tersebut adalah Aibarang siapa berbuat baik maka ia akan dibalas dengan kabaikan dan barang siapa yang berbuat jahat maka ia akan dibalas dengan sebagaimana yang ia lakukanAn. Kesimpulan Kesarjanaan modern dalam menyusun Al-QurAan berbasis surat dengan metode tartb nuzui merupakan sebuah inovasi secara radikal, karena munAsabah di era kalsik yang awalnnya dilakukan hanya sebuah proses penafsiran menghubungkan satu ayat dengan ayat yang lain seperti yang dilakukan Fakhruddin Ar-Razi dalam mafAtihu al-Ghab nya dengan metode linier-atomistik atau al-Biqai yang juga melakukan kajian munAsabah dengan pendekatan organik-holistik. Berbeda dengan para kesarjanaan modern yang secara intens mencoba membangus suatu koherensi antar satu ayat dengan ayat lain dan dijadidan dalam satu tema surat tertentu dengan menggali bagaimana tema-tema yang terhubung dalam surat tersebut, bukan hanya itu mereka juga dianggap oleh Mir mampu menggali koherensi antar satu surat dengan yang lain sehingga kesulurhan surat dalam Al-QurAan saling terhubung satu sama lain. Teori yang digunakan oleh Alwa adalah menggunakan pendekatan historis-linguistic. Jadi bukan hanya pola secara tekstual yang coba Alwa analisis keterkaitannya melainkan Alwa juga melihat bagaimana konteks historis penurunan wahyu dan di analisis sebagai satu paduan tema dan kejadian yang saling berhubungan antara teks dan konteks. Artinya. Alwa pada dasarnya berusaha melihat bagaimana pola munAsabah dalam surah al-AhzAb dalam menjawab persoalan-persoalan politik, budaya dan konteks sosial pada masal awal Hijiriah di Jazirah Arab. Daftar Pustaka