Luh Made Ayu Wulan Dewi1. Ni Putu Eni Astuti2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 HAMBATAN KURIKULUM MERDEKA DI KELAS IV SDN 3 APUAN Luh Made Ayu Wulan Dewi1. Ni Putu Eni Astuti2 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. ITP Markandeya Bali. Bangli. Indonesia madeulan11@gmail. com1, putu. eniastuti@gmail. Abstrak Perubahan kurikulum merupakan suatu keniscayaan, perubahan kurikulum dimaknai dengan pengembangan kurikulum memang harus dilaksanankan karena merupakan tuntutan jaman. Namun dalam implementasinya perubahan atau pengembangan kurikulum, dari kurikulum 2006 (KTSP) ke kurikulum 2013 mengalami permasalahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji masalah penerapan Kurikulum Merdeka yang dihadapi sekolah, guru dan siswa. Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, sumber data dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, dan siswa SDN 3 Apuan. Teknik pengumpulan data dengan kajian dokumen, observasi partisipatif dan wawancara mendalam. Analisis data digunakan model interaktif, keabsahan data menggunakan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukan bahwa Permasalahan penerapan kurikulum 2013: . Sering bergantinya regulasi dan revisi peraturan yang berulang, belum meratanya pelatihan pada guru, belum lengkapnya sarana dan prasarana, buku pegangan guru dan buku pegangan siswa, perubahan budaya ilmiah, gerakan literasi sekolah dan supervisi internal belum optimal. Belum semua guru ikut pelatihan, guru belum memahami substansi Kurikulum Merdeka, guru masih kesulitan dalam menyusun RPP, dan menerapkan dengan model pembelajaran yang sesuai pendekatan saintifik, literasi dalam pembelajaran dan standar penilaian masih dirasa sulit dan rumit oleh guru. Permasalah yang dihadapi siswa yaitu siswa kebanyakan dari keluarga menengah ke bawah dengan dukungan belajar dari orang tua yang kurang. Siswa terbiasa pasif mendengarkan penjelasan guru, butuh waktu untuk menjadi aktif mencari dan mempelajari materi. Beban belajar siswa bertambah dari 46 jam menjadi 50 jam belajar dalam seminggu membuat siswa menjadi jenuh. Buku pegangan siswa jumlahnya masih kurang dan buku sumber belajar lainnya jumlahnya masih terbatas, menjadikan proses KBM kurang bisa optimal Kata kunci: Hambatan. Kurikulum Merdeka. Sekolah Dasar. Abstract Curriculum change is a necessity, curriculum change is interpreted as curriculum development that must be carried out because it is the demands of the times. However, in the implementation of changes or curriculum development, from the 2006 curriculum (KTSP) to the 2013 curriculum, there are problems. The purpose of this study was to examine the problems of implementing the Independent Curriculum faced by schools, teachers and students. The research used is a qualitative research, data sources from the principal, vice principal, teachers, and students of SDN 3 Apuan. Data collection techniques with document review, participatory observation and in-depth interviews. Data analysis used an interactive model, thevalidity of the data using data triangulation. The results showed that the problems of implementing the 2013 curriculum: . Frequent changes in regulations and repeated regulatory revisions, uneven training of teachers, incomplete facilities and infrastructure, teacher handbooks and student handbooks, changes in scientific culture, school literacy movement and supervision internal is not optimal. Not all teachers Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Luh Made Ayu Wulan Dewi1. Ni Putu Eni Astuti2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 have participated in the training, teachers have not understood the substance of the Independent Curriculum, teachers are still having difficulties in preparing lesson plans, and applying learning models that are in accordance with a scientific approach, literacy in learning and assessment standards are still considered difficult and complicated by teachers. The problems faced by students are students mostly from lower middle class families with less support for learning from their parents. Students are used to passively listening to the teacher's explanation, it takes time to be active in seeking and studying the material. The student's learning load increased from 46 hours to 50 hours of study in a week, making students bored. The number of student handbooks is still lacking and the number of other learning resource books is still limited, making the teaching and learning process less than Key words : Barriers. Independent Curriculum. Elementary School. PENDAHULUAN Kurikulum merupakan suatu sistem rencana dan pengaturan mengenai bahan pelajaran yang dapat dipedomi dalam aktivitas belajar mengajar. Menurut Robert gagne . Kurikulum adalah suatu rangkaian unit materi belajar yang disusun sedemikian rupa, sehingga anak didik dapat mempelajarinya berdasarkan kemampuan awal yang dimiliki atau dikuasai sebelumnya (Ahma. Sedangkan Syalor . Kurikulum adalah usaha maksimal dari sekolah untuk mencapai hasil yang diinginkan didalam sekolah dan diluar situasi sekolah (Sukmadinat. Oleh karena itu Kurikulum mempunyai peran penting bagi seorang individu dalam bidang Pendidikan karena Kurikulum harus mampu dijadikan sebagai pedoman ketercapaian Pendidikan. Kurikulum memiliki berbagai tujuan, salah satu tujuan utama dari Kurikulum itu sendiri adalah untuk membantu peserta didik dalam mempersiapkan masa depannya agar mampu menjadi pribadi yang memiliki kecakapan yang tinggi, memiliki daya nalar yang tinggi serta cara berpikir yang kritis dan kreatif untuk diterapkan nantinya dalam lingkungan masyarakat. Konsep Kurikulum terus berkembang dan berubah dari tahun ke tahun sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Di Indonesia Kurikulum yang diterapkan iyalah Kurikulum 2013. Dalam penerapan Kurikulum 2013, yang dimana setiap mata pelajaran meliputi tiga kompetensi, yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan. Namun dalam penerapan K13 terjadi Pandemi covid-19 yang berdampak pada semua sektor kehidupan berbangsa khususnya Indonesia. Dampak ini dirasakan disemua bidang salah satunya bidang Pendidikan (Napitupul. Sehingga Mansyur . , menjelaskan bahwa salah satu model pembelajaran efektif ditengah situasi pandemi adalah pembelajaran daring. Dalam pembelajaran daring peserta didik dan guru dapat berinteraksi melalui aplikasi seperti classroom, video, telepon, zoom dan pengguna whatsapp group (Dew. Untuk mendukung pembelajaran dalam kondisi covid-19 saat ini lembaga Pendidikan menyiapkan bahan ajar melalui aplikasi yang akan digunakan untuk pembelajaran dengan hal ini guru, siswa serta orang tua dapat mencapai pembelajaran yang optimal. Sebagaimana diketahui. Kurikulum Merdeka Diluncurkan mendikbudristek pada Februari 2022 lalu sebagai salah satu program Merdeka Belajar untuk meningkatakan kualitas pelajar. Kurikulum Merdeka merupakan suatu program yang sangat sejalan dengan agenda peningkatan mutu Pendidikan yang sejatinya selalu ditegaskan sejak bangsa Indonesia merdeka. Menurut mendikbud, program ini akan menjadi arah pembelajaran ke depan yang berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Program Kurikulum Merdeka ini merupakan lanjutan dari gagasan untuk memperbaiki sistem Pendidikan nasional yang selama ini terkesan masih perlu banyak perbaikan. Kurikulum Merdeka menjadi salah satu program untuk menciptakan suasana belajar di sekolah yang berbahagia Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Luh Made Ayu Wulan Dewi1. Ni Putu Eni Astuti2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 . Bahagia bagi peserta didik dan bahagia bagi para guru. Menurut Mendikbudritek no 7 tahun 2021 tentang standar isi pada ruang lingkup materi jenjang sekolah dasar mengacu pada rumusan ruang lingkup materi pembelajaran yang sesuai dengan standar kompetensi lulusan, pada jenjang Pendidikan dasar yang difokuskan dengan kesiapan peserta didik dalam beriman, bertakwa kepada TYME, berakhlak mulia, berkarakter sesuai dengan nilai Ae nilai Pancasila, dan menumbuhkan kompetensi literasi, numerasi untuk mengikuti Pendidikan lebih lanjut (Mendikbudriste. Implementasi Kurikulum Merdeka melalui jalur mandiri dengan pedoman penerapan Kurikulum Merdeka yang tertuang pada permendikbudristek no 56 tahun 2020, pada pedoman penerapan Kurikulum Merdeka ini khususnya di Sekolah Dasar terdapat beberapa faktor utama yakni : . Struktur Kurikulum dengan pembelajaran intrakulikuler dan projek pengutan profil pelajar Pancasila. Capaian pembelajaran, yakni kompetensi pembelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik sesusi fase yang sudah di bagikan, untuk sekolah dasar CP disusun untuk setiap mata pelajaran. Pembelajaran dan asesmen merupakan proses peserta didik dalam Pendidikan dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Projek penguatan profil pelajar Pancasila yakni melaksanakan kegiatan kokurikuler berbasis projek yang dirancang untuk mengutkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila. Perangkat ajar, dalam hal ini pendidik dapat menentukan bahan ajar dalam upaya mencapai perofil pelajar Pancasila dan capaian pembelajaran. Kurikulum operasional satuan Pendidikan mengacu pada struktur Kurikulum yang telah ditetapkan oleh Mekanisme Implementasi Kurikulum Merdeka, pengimplementasianKurikulum Merdeka ada tiga opsi sebagai berikut : menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, tanpa mengganti Kurikulum satuan Pendidikan. Menerapkan Kurikulum Merdeka dengan menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan oleh pemerintah pusat. Menerapkan Kurikulum Merdeka dengan pengembangan berbagai perangkat ajar oleh satuan Pendidikan. Evaluasi Kurikulum pada satuan Pendidikan pelaksanaan Kurikulum Merdeka, dalam evaluasi Kurikulum pada satuan Pendidikan merupakan kegiatan terencana dan tersistematis dalam mengumpulkan data dan mengelolah informasi serta data yang valid hal ini bertujuan untuk menguji efektivitas, efesiensi, relevansi dan kelayakan rancangan Kurikulum (Kebudayaa. Di SDN 3 Apuan merupakan salah satu sekolah penggerak yang berada di Kecamatan Susut. Kabupaten Bangli, sebagai salah satu sekolah penggerak disekolah tersebut mengimplementasikan proses pembelajaran dengan kurikulum merdeka dan setiap proses pembelajaran pasti adanya rancangan pembelajaran sedemikian rupa agar apa yang menjadi capaian pembelajaran terwujud termasuk dalam pemulihan kurikulum 2013. Pembelajaran Kurikulum Merdeka merupakan proses terwujudnya capaian pembelajaran yang telah ditetapkan, agar capaian pembelajaran tersebut terwujud secara maksimal maka perlu diterapakan manajemen pembelajaran Kurikulum Merdeka yang tepat. Manajemen pembelajaran Kurikulum Merdeka di SDN 3 Apuan telah direncanakan sedemikian rupa oleh musyawarah guru mata pelajaran tingkat sekolah terutama untuk kelas IV. Berkenaan dengan hal tersebut, penulis termotivasi melakukan penelitian dengan tujuan mendeskripsikan . Perencanaan pembelajaran Kurikulum Merdeka di SDN 3 Apuan pada Kelas IV. Pelaksanaan pembelajaran Kurikulum Merdeka di SDN 3 Apuan pada kelas Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Luh Made Ayu Wulan Dewi1. Ni Putu Eni Astuti2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 IV. Evaluasi pembelajaran Kurikulum Merdeka di SDN 3 Apuan pada kelas IV, agar memperoleh gambaran hambatan dalam penerapan Kurikulum Merdeka. Penelitian ini kami lakukan karena kurikulum merdeka belajar merupakan kurikulum yang harus dipelajari dan dipahami oleh semua pendidik yang berkecimpung langsung dengan dunia pendidikan untuk menjadikan generasi emas yang berakhlak, berkarakter, cerdas dan berbudaya. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran seperti kuantitatif dan Dengan demikian terdapat data dan informasi yang bersifat kuantitatif, di sisi lain terdapat juga yang bersifat kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena mudah dalam mencari data dan informasi yang diinginkan dalam menggunakan pendekatan kuantitatif. Sedangkan penggalian identifikasi gejala masalah dan informasi-informasi yang kaya memerlukan dukungan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan dalam waktu 2 bulan pada tahun 2022, penelitian ini dilaksanakan pada Sekolah dasar Negeri 3 Apuan yang menerapkan Kurikulum Merdeka, sedangkan sempel penelitian diambil dengan teknik observasi, wawancara, serta tes pembelajaran Kurikulum Merdeka. Jumlah responden 10 orang. Responden terdiri dari guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Sesuai dengan pendekatan penelitian yang digunakan, maka teknik dan alat pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan wawancara. Angket, digunakan untuk mengungkapkan pelaksanaan kurikulum terhadap ide dasar Kurikulum Merdeka dan terhadap isi dokumen perangkat Kurikulum Merdeka, keterlaksanaan isi dokumen/perangkatnya, dan faktor pendukung dan penghambat, baik melalui pertanyaan terbuka . pen questio. maupun tertutup . lose questio. Wawancara, digunakan untuk mendukung pengungkapan seluruh variabel penelitian, terutama masukan-masukan dari stakeholders dalam rangka merumuskan langkah-langkah pemecahan dalam penerapan Kurikulum Merdeka. Analisis data penelitian ini menggunakan gabungan antara analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis deskriptif kuantitatif dengan persentase untuk mengetahui kesiapan implementasi Kurikulum Merdeka. Analisis kualitatif untuk mengetahui efektivitas implementasi kurikulum Merdeka. Dalam hal ini wawancara juga dijadikan sebagaicara/alat untuk mengecek keabsahan data yang diperoleh dari angket. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menguatkan beberapa hasil proses pembelajaran, bahwa Kurikulum Merdeka sudah terimplementasikan dengan baik di SDN 3 Apuann dengan opsi Kurikulum Mandiri Belajar Hal tersebut ditunjukkan dengan fakta bahwa hanya melaksanakan beberapa bagian dari Kurikulum Merdeka. Namun ada Fakta lain menunjukkan bahwa belum semua guru memperoleh pelatihan, termasuk banyak guru mengaku belum menerapkan pembelajaran sesuai Capaian kurikulum merdeka, juga belum menerapkan penilaian kognitif untuk mengukur hasil belajar siswa-siswinya. Namun demikian kecukupan buku pelajaran untuk murid telah mencapai 100%, demikian juga buku untuk guru telah mencapai 100%. Hal ini karena pemerintah telah menyediakan buku dalam bentuk hard copy dan soft copy yang dapat diunduh dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan . Penyediaan buku elektronik oleh pemerintah telah membantu sekolah-sekolah dalam mendapatkan buku untuk siswa dan buku untuk guru. Seringkali kurikulum yang tertulis di dalam berbagai dokumen kebijakan ternyata masih sulit dipahami oleh para guru. Inilah yang menyebabkan terjadinya distorsi dari yang diharapkan oleh pemerintah dengan kenyataan yang ada di tingkat kelas. Artinya apa yang telahditulis dalam dokumen kurikulum yang dikeluarkan oleh pemerintah, belum tentu dapat dilaksanakan oleh para guru. Karena masing-masing guru memiliki persepsi dan Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Luh Made Ayu Wulan Dewi1. Ni Putu Eni Astuti2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 pemahaman yang berbeda-beda tentang isi dan proses kurikulum. Data dan perhitungan kuantitatif tersebut kemudian penelitian padukan dengan wawancara kepada beberapa guru, kepala sekolah, dan pengawas secara acak. Fokus wawancara ini untuk menjawab 5 . hal, yaitu . kesiapan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka . dukungan sekolah dalam implementasi Kurikulum Merdeka, . dukungan Pemerintah Daerah (Pemd. dalam implementasi Kurikulum merdeka, . faktor pendukung dan penghambat implementasi Kurikulum Merdeka, dan . langkah langkah yang harus ditempuh untuk mengatasi kendala yang dihadapi sekolah. Lima pertanyaan tersebut akan menjawab mengapa implementasi Kurikulum merdeka selama ini daerah belum optimal. Terutama diihat dari sisi manajerial yang melibatkan guru dan berbagai komponen terkait, baik di lingkungan internal sekolah maupun eksternal hingga ke para pemangku kepentingan dan pemerintah. Berikut di bawah ini uraian lebih lengkapnya. Kesiapan guru dalam implementasi Kurikulum Merdeka Berdasarkan pada wawancara yang telah dilakukan, sebagian besar guru merasa belum siap mengimplementasikan Kurikulum merdeka dengan alasan belum memahami hakikat Kurikulum baru tersebut. Kurangnya pemahaman guru disebabkan karena pelatihan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota. Provinsi, bahkan pemerintah di level nasional belum didesain dengan baik. Beberapa informasi menyatakan bahwa terkesan pelatihan diselenggarakan secara asal-asalan, misalnya waktu pelaksanaan pelatihan sering dipadatkan atau waktu pelatihan sampai malam hari. Dalam praktik implementasi Kurikulum merdeka dalam membuat persiapan pembelajaran, guru tidak membuat RPP. Sebagian besar guru dalam persiapan pembelajaran berbekal materi yang ada dalam buku siswa. Melihat kondisi ini, yang perlu diperbaiki mentalitas para guru, bukan perubahan kurikulum. Hal ini sesuai dengan kesimpulan penelitian tersebut yang menyatakan bahwa solusi yang dilakukan selama ini antara lain dengan mengikuti pelatihan, belajar dan menggali informasi dari internet atau sumber yang lebih mengetahui Kurikulum merdeka. Informasi dari para guru yang lebih lengkap diperoleh oleh peneliti. Mereka mengaku bahwa pelatihan Kurikulum merdeka diberikan tanpa memperhatikan prinsipprinsip belajar yang baik, karena pelatihan dilakukan dari pukul 08. 00 WIB hingga pukul 00 WIB . Para guru yang mengikuti pelatihan ini merasa tidak bisa menyerap materi dengan maksimal, apalagi jika pesertanya sudah berusia lanjut. Para instruktur dari provinsi dan kabupaten pun banyak yang belum berpengalaman menerapkan kurikulum ini, karena mereka hanya menerima pelatihan sebelumnya saat mengikuti pelatihan tingkat Akibatnya banyak instruktur yang hanya paham dalam konsep, sehingga contoh yang diberikan tidak aplikatif. Terkait dengan materi yang belum dipahami oleh para guru di SDN 3 Apuan sebagian besar menyatakan belum paham mengenai pembelajaran tematik, dan menyatakan belum paham pendekatan pembelajaran kognitif. Sebenarnya, berdasarkan wawancara terhadap para guru, mereka sangat berharap agar mereka mendapatkan pendampingan setelah selesainya pelatihan. Pendampingan bisa dilakukan oleh kepala sekolah, pengawas atau instruktur kabupaten. Hal tersebut karena menurut mereka kunci keberhasilan implementasi inovasi pembelajaran bukan pada pelatihannya, melainkan pada pendampinganya. Oleh karena itu, menurut mereka para Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Luh Made Ayu Wulan Dewi1. Ni Putu Eni Astuti2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 kepala sekolah dan pengawas sekolah juga harus dilatih Kurikulum merdeka agar mereka jugadapat mendampingi para guru. Perubahan dan pengembangan kurikulum di Indonesia dengan menerapkan Kurikulum merdeka sebenarnya menuju ke arah yang benar. Karena dalam Kurikulum merdeka yang menjadi perhatian utama adalah siswa dan guru mendapatkan otonomi untuk membuat perencanaan pembelajaran dan melaksanakannya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Dalam hal ini setidaknya terdapat 3 . kecenderungan umum dalam pembaruan kurikulum. Pertama, menggabungkan pendekatan top-down dan bottom-up untuk perencanaan kurikulum. Kedua, memposisikan peserta didik sebagai pusat kegiatan Kurikulum Merdeka. Ketiga, memberikan proses pembelajaran yang efektif sesuai dengan jaman teknologi dan siswa menjadi mandiri belajar sesuai dengan kemampuanya. Dukungan sekolah dalam implementasi Kurikulum Merdeka Peneliti juga memperoleh banyak informasi dari para informan di sekolah bahwa dukungan warga sekolah untuk implementasi kurikulum ini dirasa kurang, walau mereka juga menyatakan menyambut baik Kurikulum Merdeka. Rendahnya dukungan ini karena mereka belum tahu apa yang harus dilakukan oleh masing-masing pihak dalam memberikan dukungan demi suksesnya implementasi Kurikulum ini. Oleh karena itu, menurut mereka perlu segera ditinjau kembali pelatihan untuk kepala sekolah, pengawas sekolah, komite sekolah, dan tenaga administrasi mengenai Kurikulum Merdeka. menurut peneliti, dalam implementasi kurikulum yang diperlukan adalah inovasi program pemberlajaran. Inovasi seperti ini akan muncul jika di sekolah terdapat kepemimpinankepala sekolah yang visioner. Kepala sekolah harus mampu menciptakan iklim kerja yang baik yang memungkinkan para guru bekerja dengan nyaman terutama dalam rangka mengembangkan berbagai perangkat persiapan mengajar kurikulum baru. Oleh karena itu kurikulum yang akan diimplementasikan adalah kurikulum baru, maka wajar jika guru memerlukan waktu lebih banyak dari biasanya untuk membuat RPP dan media Selain itu para guru hendaknya juga menerapkan model-model pembelajaran yang membuat siswa bisa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Di antaranya adalah penggunakan model yang beragam dimana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. metode Peer Teaching method pada Kurikulum merdeka dapat meningkatkan kemampuan komunikasi, berani dalam menjawab suatu persoalan dan dapat mengaktifkan daya fikir serta daya nalar siswa. Adapun juga metode yang digunakan Problem Based Learning yang di mana peserta didik akan memanfaatkan keterampilan berpikirnya, semakin besar peluang masalah untuk di selesaikan hal ini bertujuan untuk meningkaykan keterampilan berpikir kritis peserta didik, melatih peserta didik dalam menyelesaikan suatu persoalan secara sistematis, membantu peserta didika dalam memahami peran orang dewasa di kehidupan nyata, mendorong peserta didik untuk menjadi individu yang mandiri dan bertanggujawab. Hal ini juga berpatokan pada matematis siswa berdasarkan kemampuan mereka sendiri. Kemampuan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan model yang beragam dan menggunakan metode peer teaching method dan problem based learning pada materi Tema 1 tentang indahnya kebersamaan. Faktor pendukung dan penghambat implementasi Kurikulum merdeka Berdasarkan pada hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti, terdapat beberapa faktor yang dapat mendukung implementasi Kurikulum Merdeka di lapangan, yaitu . Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Luh Made Ayu Wulan Dewi1. Ni Putu Eni Astuti2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 penganggaran yang jelas dari pemerintah daerah untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, . koordinasi yang baik dari pemerintah daerah baik kabupaten maupun provinsi dengan pemerintah pusat dalam pengadaan sarana pembelajaran dan pelatihan, perencaan yang baik, dan . ketersediaan sarana pembelajaran lainnya seperti LCD dan sambungan internet. Implementasi Kurikulum Merdeka walaupun sudah berjalan dengan efektif dalam beberapa bulan ini namun tetap terdapat beberapa kendala seperti, antara lain tidak memiliki pengalaman dengan kemerdekaan belajar, kkebatasan referensi, akses yang dimiliki dalam pembelajaran belum merata, manajemen waktu. Walau keberadaan buku sudah cukup, namun perlu ada evaluasi lebih lanjut apakah isi buku-buku pelajaran tersebut sudah berdimensi global. Langkah-langkah untuk mengatasi kendala implementasi Kurikulum Merdeka Berdasarkan pada temuan penelitian tersebut, beberapa hal yang urgen dilakukan antara lain adalah perbaikan manajemen implementasi Kurikulum merdeka. Sebisa mungkin pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus Bersama-sama menetapkan target berapa sekolah yang akan mengimplementakan dalam kurun waktu 1 tahun, 2 tahun, dan 3 tahun Siklus impementasi Kurikulum merdeka harus di buat mulai dari penganggaran, pengadaan sarana pendidikan, pelatihan, implementasi dan pendampingan, serta evaluasikeberhasilan dan kegagalannya. Berikutnya, pelatihan sebaiknya dilakukan secara berjenjang dengan koordinasi yang baik antara Pemerintah Pusat. Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Pelatihan dilakukan dengan mengindahkan prinsip pembelajaran yang baik dan diberikan oleh para instruktur yang berpengalaman dalam implementasi kurikulum. Tidak sekadar memenuhi formalitas datang ke tempat pelatihan, ada pelatihan, dan pulang dengan begitu mendapat uang saku. Pelatihan guru pun hendaknya lebih banyak difokuskan pada pendekatan tematik untuk guru SD, karena hal-hal itulah yang sebagian besar dikeluhkan oleh para guru yang menjadi informan penelitian ini di lapangan. Pedoman penilaian untuk guru dalam memberikan penilaian terhadap hasil belajar siswa juga harus segera diterbitkan oleh Pemerintah Pusat danakan diadopsi oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Berdasarkan pembahasan sebelumnya, dapat peneliti simpulkan beberapa hal berkaitan dengan implementasi Kurikulum merdeka di SDN 3 Apuan. Kabupaten Bangli. Sebagai penelitian kuantitatif yang dipadu dengan investigasi kualitatif, maka temuan penelitian ini kiranya dapat dipahami sebagai gambaran yang bisa jadi terjadi juga di beberapa daerah lain. Dengan demikian hasil dan pembahasan dalam artikel ini berguna sebagai penguat bagi para pengambil kebijakan untuk segera mengatasi masalah implementasi Kurikulum merdeka yangbetul-betul terjadi di lapangan. Penelitian ini secara umum menguatkan beberapa temuan penelitian terdahulu, bahwa implementasi Kurikulum M erdeka belum berjalan dengan efektif, dikarenakan beberapa hal di bawah ini. Pertama, belum semua guru mendapatkan pelatihan, banyak guru yang belum bisa menerapkan pembelajaran tematik dan saintifik, serta banyak guru yang belum bisa melakukan penilaian autentik. Kedua, guru belum memahami substansi kurikulum sehingga tidak bisa menerapkannya dengan baik. Kelemahan utama guru dalam pembelajaran adalah kurangnya pemahaman pendekatan tematik saintifik tanpa tes kognitif dan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Ketiga, dukungan sekolah masih rendah karena belum banyak warga sekolah yang mendapatkan pelatihan kurikulum ini. Penyebab utama rendahnya dukungan sekolah karena kurangnya pemahaman warga sekolah tentang kurikulum baru ini, terutama kepala sekolah dan pengawas sekolah. Keempat. Pemerintah Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Luh Made Ayu Wulan Dewi1. Ni Putu Eni Astuti2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 Daerah sudah memberikan dukungan dalam bentuk anggaran pelatihan, anggaran pendampingan, anggaran pengadaan buku, dan mengirimkan para guru-kepala sekolahpengawas sekolah mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, namun kurang optimal hasilnya. Kelima, kurang matangnya perencanaan dalam implementasi Kurikulum merdeka ini akan menjadi faktor Koordinasi yang lemah antara berbagai jenjang pemerintahan yang bertanggungjawab terhadap implementasi kurikulum juga mendaji kelemahan lain. Keenam, manajemen implementasi kurikulum harus diperbaiki mulai dari penentuan target implementasi, penganggaran, pengadaan sarana pendidikan, pelatihan, implementasi dan pendampingan, serta evaluasi keberhasilan dan kegagalannya. Di era desentralisasi mestinya implementasi kurikulum juga dilakukan secara desentralistik. Kunci utamanya koordinasi yang baik antar berbagai jenjang pemerintahan dari pusat, provinsi, hingga kabupaten atau kota. Saran-saran untuk perbaikan dalam implementasi Kurikulum merdeka dengan memperhatikan kelemahan-kelemahan di atas adalah sebagai berikut. Pertama, perlu adanya perencanaan yang matang mulai penentuan target, penganggaran, pengadaan sarana, pelatihan, implementasi dan pendampingan, serta evaluasi. Kedua, meningkatkan koordinasi antara Dinas Pendidikan Kabupaten atau Kota. Dinas Pendidikan Provinsi, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam memberikan pelatihan terhadap guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Termasuk di antaranya adalah koordinasi dalam pengadaan buku dan proses pengirimannya hingga ke sekolah-sekolah sehingga tidak mengalami keterlambatan. SIMPULAN Berdasarkan pembahasan sebelumnya, dapat peneliti simpulkan beberapa hal berkaitan dengan implementasi Kurikulum merdeka di SDN 3 Apuan. Kabupaten Bangli. Sebagai penelitian kuantitatif yang dipadu dengan investigasi kualitatif, maka temuan penelitian ini kiranya dapat dipahami sebagai gambaran yang bisa jadi terjadi juga di beberapa daerah lain. Dengan demikian hasil dan pembahasan dalam artikel ini berguna sebagai penguat bagi para pengambil kebijakan untuk segera mengatasi masalah implementasi Kurikulum merdeka yang betul-betul terjadi di lapangan. Penelitian ini secara umum menguatkan beberapa temuan penelitian terdahulu, bahwa implementasi Kurikulum merdeka belum berjalan dengan efektif, dikarenakan beberapa hal di bawah ini. Pertama, belum semua guru mendapatkan pelatihan, banyak guru yang belum bisa menerapkan pembelajaran tematik dan saintifik, serta banyak guru yang belum bisa melakukan penilaian Kedua, guru belum memahami substansi kurikulum sehingga tidak bisa menerapkannya dengan baik. Kelemahan utama guru dalam pembelajaran adalah kurangnya pemahaman pendekatan tematik saintifik tanpa tes kognitif dan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Ketiga, dukungan sekolah masih rendah karena belum banyak warga sekolah yang mendapatkan pelatihan kurikulum ini. Penyebab utama rendahnya dukungan sekolah karena kurangnya pemahaman warga sekolah tentang kurikulum baru ini, terutama kepala sekolah dan pengawas sekolah. Keempat. Pemerintah Daerah sudah memberikan dukungan dalam bentuk anggaran pelatihan, anggaran pendampingan, anggaran pengadaan buku, dan mengirimkan para guru-kepala sekolah-pengawas sekolah mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh Dinas Pendidiakan Provinsi dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, namun kurang optimal hasilnya. Kelima, kurang matangnya perencanaan dalam Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Luh Made Ayu Wulan Dewi1. Ni Putu Eni Astuti2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 implementasi Kurikulum Merdeka ini akan menjadi faktor penghambat. Koordinasi yang lemah antara berbagai jenjang pemerintahan yang bertanggungjawab terhadap implementasi kurikulum juga mendaji kelemahan lain. Keenam, manajemen implementasi kurikulum harus diperbaiki mulai dari penentuan target implementasi, penganggaran, pengadaan sarana pendidikan, pelatihan, implementasi dan pendampingan, serta evaluasi keberhasilan dan Di era desentralisasi mestinya implementasi kurikulum juga dilakukan secara Kunci utamanya koordinasi yang baik antar berbagai jenjang pemerintahan daripusat, provinsi, hingga kabupaten atau kota. Saran-saran untuk perbaikan dalam implementasi Kurikulum merdeka dengan memperhatikan kelemahan-kelemahan di atas adalah sebagai berikut. Pertama, perlu adanya perencanaan yang matang mulai penentuan target, penganggaran, pengadaan sarana, pelatihan, implementasi dan pendampingan, serta evaluasi. Kedua, meningkatkan koordinasi antara Dinas Pendidikan Kabupaten atau Kota. Dinas Pendidikan Provinsi, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam memberikan pelatihan terhadap guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Termasuk di antaranya adalah koordinasi dalam pengadaan buku dan proses pengirimannya hingga ke sekolah-sekolah sehingga tidak mengalami keterlambatan. UCAPAN TERIMAKASIH