Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . http://journal. id/index. php/keraton Semitau. Dari Hutan Menjadi Onderafdeling Pada Masa Penjajahan Belanda Basuki Wibowoa,1,* Agus Dediansyahb,2 Universitas PGRI Pontianak. Pontianak. Indonesia Universitas PGRI Pontianak. Pontianak. Indonesia khatulistiwa23@gmail. 2 agus. dediansyah@gmail. * Corresponding Author. Basuki Wibowo Received 18 Maret 2025. accepted 29 April 2025. published 31 Mei 2025 KEYWORDS ABSTRAK Semitau in 1936 was a part of Afdeling Sintang. This research aims to find out and explore the history of Semitau, which was originally a forest until finally it became an onder afdeling under the Afdeling Sintang area. The method used in this research is historical which consists of heuristics, criticism, interpretation and The results of the research explain that Semitau before Abang Umar Juned's arrival was a forest. Semitau became even busier after the Dutch from Majang Island moved offices, barracks . and warehouses and placed a Gouvernement representative, namely a Controleur, in Semitau until 1936 making it an under afdeling. Onderafdeling. Semitau. This is an openaccess article under the CCAeBY-SA Pendahuluan Keberadaan Semitau tidak lepas dari kerajaan Sintang. Pada masa pemerintahan Belanda tahun 1936, wilayah kerajaan Sintang di bagi menjadi 4 Onderafdeling dipimpin pejabat kolonial . Onder-afdeling Sintang. Onderafdeling Melawi. Onder-afdeling Semitau dan Onder-afdeling Boven Kapuas sekarang wilayah Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu (Firmansyah, 2023: . Sebelum kedatangan Belanda dan mendirikan Onderafdeling Semitau, wilayah ini adalah hutan yang sudah dijadikan pemukiman oleh Abang Umar Juned. Di sekitar daerah tersebut juga sudah berkembang kerajaan Islam, salah satunya di daerah Suhaid. Berdasarkan sensus pertama yang dilakukan oleh Belanda, jumlah penduduk Suhaid adalah. 516 jiwa adalah orang Melayu, dan 537 Dayak (Enthoven, 2013. Onderafdeling Semitau berdasarkan tulisan catatan perjalanan J. Enthovenn yang diterbitkan buku yang berjudul AuBijdragen tot de geographie van BorneoAos Wester-AfdelingAy dan diterbitkan di Laiden Belanda tahun 1905 menjelaskan bahwa wilayah ini sudah banyak di tempati oleh masyarakat. Rumah rumah panggung banyak ditemui di sepanjang Sungai Kapuas dan masuk ke pedalaman yang berbukit bukit di onderafdeling Semitau. Raja-raja Melayu juga menempati rumah panggung dengan tinggi tiang 6 Meter dan tongkat dari kayu belian. Rumah Masyarakat Melayu pada di wilayah Onderafdeling Semitau juga berbentuk panggung. Masyarakat membangun jembatan penghubung antar rumah dengan bagian tengah jembatan dibuat lebih tinggi daripada sisi kanan dan kiri masyarakat menyebutnya dengan geretak (Kusnoto, 2018: . Penelitian tentang Kalimantan sudah ada sejak jaman kolonial. Tulisan Viktor T King menggambarkan pengalamannya berkunjung ke desa desa yang ada di kepulauan Borneo (Kalimanta. Tulisan tentang sejarah desa dengan perspektif sejarah lingkungan belum ada di Kalimantan Barat, padahal lingkungan berpengaruh dalam perkembangan sebuah desa dari masa lalu, sekarang hingga masa yang akan datang. 32585/keraton. pendidikansejarahunivet@gmail. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Metode Penelitian Peneliti menggunakan metode penelitian sejarah yamg di laksanakan 4 tahap. Tahap tersebut Heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Kurangnya data tertulis membuat pada tahap heuristik dilakukan Focus Group Diskusi (FGD). Melalui FGD di dapat data lisan, hal ini dikarenakan peristiwa sejarah yang belum jelas persoalannya dapat diperjelas justru dari terungkapnya sumber sejarah lisan (Daliman, 2018. Pada tahap kritik eksternal peneliti mengecek otensitas dan integritas sumber sejarah yang didapat di daerah Semitau. Kritik internal, peneliti mengecek isi data dari sumber yang digunakan dalam penelitian (Sjamsudin, 2012: 104-. Tahap selanjutnya adalah penafsiran yang dilakukan dengan menguraikan sumber-sumber yang digunakan serta menghubungkan satu dengan yang lainnya sehingga pada tahap penulisan sejarah. Penulisan sejarah harus menekankan pada aspek kronologis (Kuntowijoyo, 2013: . Aspek kronologis tersebut dengan melakukan penulisan berdasarkan urutan terjadinya peristiwa. Pembahasan Semitau adalah sebuah kecamatan yang secara administratif terletak di Kabupaten Kapuas Hulu. Kecamatan Semitau pada masa penjajahan Belanda menjadi wilayah tersendiri dan berstatus Onderafdeling. Sebelum menjadi Onderafdeling wilayah ini adalah hutan yang kemudian di buka oleh Abang Umar Juned anak dari Abang Singku yang sebelumnya tinggal di Pulau Mayang atau sekarang dikenal dengan Pulau Majang. Berdirinya Semitau tidak lepas dari perjalanan Abang Singku bin Abang Jarah dalam mencari daerah baru di daerah hulu Kerajaan Sintang. Beberapa kerajaan yang ada di wilayah Hulu kerajaan Sintang adalah kerajaan Silat. Suhaid. Selimbau. Piasa. Jongkong, dan Bunut (Sjamsuddin, 2013: 68-. Perkawinan antara raja raja Melayu dengan putri Dayak menjadikan makin banyak masyarakat Melayu yang tinggal di sekitar Danau Sentarum. Abang Tella menikahi putri Dayak Bunut, dan berdasarkan cerita masyarakat menjelaskan putri tersebut adalah suku Dayak Ulu Sungai (Sjamsuddin, 2013: . Masuknya mereka ke agama Islam menjadikan mereka memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan Selimbau, maka tidak heran jika di kemudian hari Selimbau memiliki peran penting dalam memajukan agama Islam pada masyarakat Pengkadan (Enthoven, 2013. Abang Singku membuka daerah baru di wilayah Danau Sentarum yang merupakan hulu Sungai Kapuas. Tempat yang dipilih oleh Abang Singku berdekatan langsung dengan perkampungan Dayak Iban Batang Lupar yang sudah berdiri tiga rumah betang yang masing masing diketuai oleh Tumenggung di Pulau Mayang. Masyarakat Dayak di Kalimantan berdasarkan catatan J. Lontaan terbagi dalam 6 suku besar yang terpecah menjadi 405 sub suku (Dediansyah, 2022: . Jensen . menjelaskan bahwa Istilah Iban yang berkembang dalam masyarakat merupakan kosakata dari orang Kayan "Ivan" yang berarti pengembara. Richards . dalam bukunya menjelaskan bahwa istilah AuIbanAy dalam bahasa Masyarakat Iban memiliki makna orang. Masyarakat Iban tersebar di dua negara, yaitu Kalimantan Barat (Indonesi. dan Sarawak (Malaysi. Belanda datang ke Pulau Mayang pada tanggal 11 Maret 1861, pasukan Belanda datang langsung dari Sintang. Dalam tulisan Kielstra istilah pulau Majang sudah dikenal oleh orang Belanda sejak awal Pasukan Belanda di bawah asisten residen Kater dan penduduk pulau Majang melakukan pertemuan yang hampir diikuti oleh semua perwakilan masyarakat, termasuk perwakilan masyarakat suku Dayak membuat sebuah perjanjian untuk mengakhiri kegiatan pengayauan (Kielstra, 2016:. Tahun 1862 untuk menghindari permusuhan antar kerajaan di sekitar Danau Sentarum, maka Belanda menempatkan satu buah kapal penjelajahnya di muara Sungai Ambalau. Kedatangan Belanda ke Basuki Wibowo. Agus Dediansyah (Semitau. Dari Hutan Menjadi Onderafdeling Pada Masa Penjajahan Beland. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. pulau Mayang menggunakan kapal yang bernama Kerius. Belanda datang ke Abang Singku dengan membawa sepucuk senapan yang merupakan pemberian langsung dari wakil raja Belanda di Betawi sebagai tanda persahabatan. Abang Singku meminta Belanda menjaga wilayah Badau. Guntul. Ukit dan Bakul karena pada saat itu terjadi perselisihan antara Iban Batang Lupar dengan Iban Serawak. Berdasarkan catatan Kielstra masyarakat Melayu kurang menyambut baik kedatangan Belanda di sepanjang hulu Sungai Kapuas, persahabatan Belanda tidak hanya dengan penduduk pulau Mayang. Jasa Abang Singku dalam menjaga perdamaian antara Belanda. Melayu dan Iban Batang Lupar di pulau Mayang menjadikannya mendapat gelar Raden Surya Raja. Abang Singku meninggal dunia akibat sakit dan dimakamkan di pulau Mayang. Sepeninggal Abang Singku nama pulau Mayang diubah oleh Belanda menjadi Pulau Majang. Sepeninggal Abang Singku. Abang Umar Juned meninggalkan Pulau Mayang untuk mencari daerah baru yang belum dikuasai oleh raja-raja di sepanjang Sungai Kapuas. Rombongan menuju Nanga Kenepai namun tidak lama dan mereka pindah ke Hulu Nanga Kenibung. Kondisi Nanga Kenibung yang tidak kondusif membuat Abang Umar Juned mencari tempat lain yang lebih tinggi guna membuka pemukiman baru dengan membuka hutan. Hutan yang dibuka oleh Abang Umar Juned sebagian masih berupa tembawang. Daerah yang dibuka ini merupakan cikal bakal wilayah Semitau. Tembawang adalah hutan khas masyarakat di Kalimantan. Hutan tembawang merupakan warisan leluhur yang di dalamnya berisi tanaman buah. Tembawang keberadaannya sekarang dilindungi secara adat terutama oleh masyarakat Dayak (Wibowo, 2022: . Ada istilah lain dari hutan tembawang Masyarakat Dayak Kanayatn menyebutnya Timawakng. Dayak Iban dengan istilah Temawai. Dayak Uud Danum menyebut Karloka Kermurlan, sementara masyarakat Dayak Bekati menyebutnya dengan istilah Temau (Wibowo, 2021: 9-. Belanda yang berdiam di pulau Majang mendengar Abang Umar Juned membuka tempat baru akhirnya meminta untuk di perkenankan pindah ke tempat tersebut. Abang Umar Juned mengingat orang tuanya sudah bersahabat dengan Gouvernement Hindie Nederlands mengabulkan permintaan dengan memberi satu kawasan di dekat Sungai Semitau. Belanda mendirikan Kantor Controleur dan gudanggudang dan loji serta tangksi militer . Gouvernement Hindie Nederlands menempat seorang wakil Gouvernement yaitu seorang Controleur dalam surat Controleur Van Felltahenen bertarich Smitau 9 Februari 1885 M atau 1303 H. Semitau akhirnya menjadi wilayah Belanda dan menjadi sebuah onderafdeling di bawah afdeling Sintang. Nama wilyah Semitau secara administratif muncul karena Belanda menjadikan wilayah ini sebagai bagian dari wilayahnya. Tulisan SMITAU sudah mulai muncul dan tercantum pada surat Controleur tahun 1911-1912 atau 1329-1330 H yang ditujukan kepada Kepala Distrik, para raja dan Secara administratif pemerintahan Hindia Belanda. Semitau masuk dalam Afdeling Sintang. Belanda membagi wilayah Kalimantan Barat dalam sistem administrasi yang terbagi atas 5 bagian (Afdelin. Zuijdelijk Afdeling. Afdeling Pontianak. Afdeling Sintang. Afdeling Sambas dan afdeling Monterado. Wilayah Semitau saat itu menjadi pusat onderafdelling yang masuk di bawah Afdeling Sintang beserta dengan Onderafdeling Boven Kapuas. Onderafdeling Sintang dan Melawi (Sjamsuddin, 2013:. Onderafdeling Semitau membawahi kerajaan kerajaan Islam yang ada di sekitar danau Sentarum seperti Silat, jongkong. Selimbau. Suhaid dan Piasa. Dasar pembentukan Onderafdeling Semitau adalah keputusan Gubernemen tanggal 11 April 1895 yang menjelaskan bahwa wilayah Kapuas Hulu dan wilayah yang ada di sekitar Batang Lupar merupakan bagian dari Afdeling Sintang dipecah menjadi dua yaitu Onderafdeling Kapuas Hulu dan Onderafdeling Semitau. Pada saat penetapan jumah penduduk yang Basuki Wibowo. Agus Dediansyah (Semitau. Dari Hutan Menjadi Onderafdeling Pada Masa Penjajahan Beland. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . mendiami wilayah Onderafdeling Semitau adalah orang Dayak 11. 000 jiwa. Melayu 8. 500 jiwa dan beberapa ratus orang Tionghua (Enthoven, 2013: . Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 menjadikan Semitau menjadi sebuah kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu. Peninggalan Belanda di Semitau sampai saat ini masih ada. Beberapa peninggalan di antaranya adalah meriam, senapan dan bangunan yang dulu merupakan kantor Onderafdeling. Hingga saat ini masih terawat dan menjadi asset dari Pemerintah daerah Kabupaten Kapuas Hulu. Kalimantan Barat. Simpulan Semitau sebelum di buka oleh Abang Umar Juned hutan Tembawang. Kedatangan Abang Umar Juned membuka wilayah ini menjadikan hutan berubah menjadi pemukiman untuk masyarakat Dayak maupun Melayu. Secara administratif pemerintahan Hindia Belanda. Semitau masuk dalam Afdeling Sintang. Pada tahun 1936 pemerintahan Belanda membagi wilayah kerajaan Sintang dibagi menjadi 4 onder afdeling dipimpin pejabat kolonial . Semitau di tetapkan menjadi ibukota Onder afdeling Semitau yang di sekitarnya merupakan wilayah kerajaan Melayu Islam. Afdeling Sintang terdiri dari. Onder afdeling Sintang. Onderafdeling Melawi. Onder afdeling Semitau dan Onder afdeling Boven Kapuas sekarang wilayah Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu. Belanda, seperti yang tercantuh dalam surat Controleur Van Felltahenen bertarich Smitau 9 Februari 1885 M atau 1303 H, meminta ijin kepada Abang Umar Juned untuk diperkenankan pindah dari Pulau Mayang ke Semitau. Sampai saat ini peninggalan Onderafdeling Semitau masih ada berupa bangunan yang menjadi aset Pemerintah daerah Kapuas Hulu. References