Nanda Gumilang. Bela Purnama Dewi FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN SOP RUMAH SAKIT DENGAN SITUASI PANDEMIK YANG MENYEBABKAN KECEMASAN PASIEN YANG AKAN DIRAWAT Nanda Gumilang1. Bela Purnama Dewi 2 Rumah sakit RSMH Palembang, 2Prodi S1 Keperawatan STIKES Mitra Adiguna Jl. Kenten Permai Blok J No 9-12 Bukit Sangkal Palembang Email : nandagumilang7786@gmail. belapurnamadewi@gmail. Abstrak Corona virus (Corona virus Disease. Covid-. merupakan jenis penyakit yang menginfeksi sistem pernafasan dan tidak diketahui etiologinya. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan SOP rumah sakit dengan situasi pandemik yang menyebabkan kecemasan pasien yang akan dirawat di RSUD Siti Fatimah Palembang Tahun 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan cross secitonal. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang akan dirawat di RSUD Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan dengan jumlah sampel sebanyak 35 responden yang diambil dengan menggunakan metode accidental Hasil penelitian didapatkan distribusi frekuensi sebagian besar responden mengalami kecemasan sebanyak 19 responden . ,3%), sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 20 responden . ,1%). Hasil uji statistik didapatkan ada hubungan pengetahuan . value=0,. dan riwayat penyakit . value = 0,. dengan tingkat kecemasan pasien yang akan dirawat di RSUD Siti Fatimah Palembang tahun 2022. Saran diharapkan dapat memberikan informasi atau konseling kepada pasien yang akan dilakukan rawat inap seputar masalah Covid-19 dan prosedur yang harus dijalani pasien sebelum dirawat sesuai dengan SOP rumah sakit dengan menggunakan bahasa yang mudah di pahami oleh pasien sehingga diharapkan dapat mengurangi tingkat kecemasan pasien sebelum dilakukan rawat inap di rumah sakit Kata Kunci : Kecemasan Pasien. Pengetahuan. Riwayat Penyakit Abstract Corona virus (Corona virus Disease. Covid-. is a type of disease that infects the respiratory system and has no known etiology. The purpose of the study was to determine the factors related to hospital SOPs with pandemic situations that caused anxiety in patients who would be treated at Siti Fatimah Hospital Palembang in 2022. The research method used was quantitative analytic with a cross-sectional approach. The population in this study were all patients who will be treated at Siti Fatimah Hospital. South Sumatra Province with a total sample of 35 respondents who were taken using the accidental sampling method. The results showed that the frequency distribution of most respondents experienced anxiety as many as 19 respondents . 3%), most of the respondents had less knowledge as many as 20 respondents . 1%). The results of statistical tests showed that there was a relationship between knowledge . value = 0. and disease history . value = 0. with the anxiety level of patients who would be treated at Siti Fatimah Hospital Palembang in 2022. Suggestions are expected to provide information or counseling to patients who will hospitalization regarding Covid-19 problems and procedures that must be followed by patients before being treated in accordance with hospital SOPs using language that is easily understood by patients so that it is expected to reduce the patient's level of anxiety before being hospitalized in the hospital. Keywords : Patient Anxiety. Knowledge. Medical History Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Nanda Gumilang. Bela Purnama Dewi PENDAHULUAN Corona virus (Corona virus Disease. Covid-. merupakan jenis penyakit yang menginfeksi sistem pernafasan dan tidak diketahui etiologinya. Pada banyak kasus virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan seperti flu, namun virus ini juga dapat menyebabkan infeksi pernapasan berat seperti pneumonia. Corona virus berasal dari kota Wuhan. Provinsi Hubei. Cina pada tanggal 7 Januari 2020. Corona virus (Covid-. telah dinyatakan sebagai pandemik oleh Word Health Organization (WHO) sejak 30 Januari 2020 karena kasus Covid-19 berlangsung cukup cepat dan sudah terjadi penyebaran diberbagai negara (Livana, 2. Data World Health Organization (WHO), menyatakan kasus global sampai dengan 3 Desember 2021 dilaporkan total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di dunia sebesar 264. 664 kasus, dengan 696 kasus. Amerika Serikat masih menduduki peringkat teratas kasus Covid19 dengan jumlah kasus 49. 350 kasus, dan sebanyak 806. 576 kasus meninggal Indonesia peringkat ke 14 kasus Covid-19 di dunia per 3 Desember 2021 dengan jumlah kasus 243 kasus dan jumlah kasus meninggal dunia sebanyak 143. Kasus Covid-19 tertinggi terdapat pada DKI Jakarta sebanyak 863. 231 kasus dengan kasus meninggal sebanyak 13. ttp://w. Sedangkan kasus Covid-19 di Provinsi Sumatera Selatan per tanggal 3 Desember 2021, jumlah kasus positif Covid-19 916 kasus dengan jumlah meninggal dunia sebanyak 3. 070 kasus dan kasus sembuh sebanyak 56. 805 kasus (Satgas Covid-19, 2. Data kasus Covid-19 di Kota Palembang pada hari Kamis 03 Desember 2021 kasus Covid-19 masih bertambah setiap hari. Kasus konfirmasi bertambah 2 kasus dengan total 30. 398 dan suspek bertambah 2 kasus dengan total 52. kasus, kasus sembuh sebanyak 29. kasus dan meninggal dunia sebanyak 185 kasus (Dinkes Kota Palembang. Kebijakan penyebaran Covid-19 di berbagai belahan dunia telah mempengaruhi berbagai aspek Permenkes RI Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Percepatan Penanganan Covid-19 tersebut mengatur beberapa pembatasan bagi masyarakat, seperti pada jam sekolah, pengoperasian transportasi umum, bekerja dari rumah, dan sebagainya. Peraturan ini membatasi mobilitas masyarakat sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19 (Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Keterbatasan mobilitas masyarakat selama Covid-19 juga menambah potensi memicu kecemasan, depresi, dan stres di masyarakat (Bohlken et al. , 2. Beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan antara lain faktor lingkungan, emosional, dan fisik. Kecemasan muncul karena masyarakat disarankan untuk tinggal di rumah. Sehingga menimbulkan efek domino karena situasi yang tertekan. Misalnya, orang tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya, berinteraksi dengan kelompok sosialnya, melakukan kegiatan keagamaan di luar, dan sebagainya (Mukhtar dan Rana, 2. Hasil sebuah survei yang dilakukan Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) terhadap lebih dari 1000 orang dewasa di Amerika, ditemukan 48% responden merasa cemas akan tertular virus corona. Sedangkan hasil riset (Adi, 2. Covid-19 menyebabkan 18% warga Cilacap Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Nanda Gumilang. Bela Purnama Dewi Merebaknya pandemi virus corona menyesuaikan secara mendadak terhadap perubahan pola, yakni dari kondisi normal menjadi kecemasan, adapun kecemasan muncul akibat ketidaktahuan dalam menghadapi sesuatu yang baru yaitu pandemi virus corona. Temuan tersebut diperkuat dengan pendapat dari dokter spesialis kesehatan jiwa Jiemi Ardian, perasaan cemas yang muncul pada seseorang dapat dikatakan sebagai bagian dari adaptasi normal seseorang dalam Covid-19 (Manggala, 2. Berdasarkan data survey yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) pada bulan Mei 2020, bahwa sebanyak 64,3% dari 1. 522 orang mengalami kecemasan bahkan depresi akibat Covid-19. (PDSKJI, 2. Menurut Firmansyah pandemi Covid-19 memang melahirkan kecemasan warga, jika tidak ditangani secara serius, maka kecemasan dapat menyebabkan gangguan mental dan kejiwaan bagi seseorang seperti stres dan Menurut Dewi menyatakan bahwa rasa cemas, khawatir serta stres sering dialami banyak orang dalam menghadapi pandemi Covid-19, yang penyebarannya semakin merebak di berbagai negara. Stres diketahui bisa menurunkan imunitas tubuh, sementara yang dibutuhkan untuk menangkal Covid19 adalah kekebalan tubuh yang baik (Anna, 2. Kecemasan perlu dikelola agar tidak mengganggu produktivitas dan kinerja seseorang. Menurut Rochmawati . , ada beberapa cara pencegahan kecemasan antara lain: . Bertanya pada diri sendiri dan mengenali kepribadian . Menghindari paparan-paparan yang memicu kecemasan, dan menjaga jarak dari informasi. Melakukan hobi yang menyenangkan, berolah raga, dan tetap memenuhi gizi seimbang. Kecemasan merupakan respon individu terhadap suatu keadaan yang tidak menyenangkan, menggambarkan keadaan kehawatiran, kegelisahan yang tidak menentu, dan terkadang disertai dengan keluhan fisik. Kecemasan adalah hal yang normal bagi semua manusia, bila individu tersebut dapat menanggapi dengan baik maka kecemasan tersebut tidak akan menganggu kesehatannya. Namun beberapa menanggapi kecemasan dengan tidak wajar dapat memperburuk kondisi kesehatannya yang mengakibatkan gangguan fisik, psikis, dan social (Pieter. Janiwarti, &Saragih, 2. Kecemasan menjadi sebuah masalah yang sering muncul di pusat pelayanan kesehatan atau rumah sakit. Rumah sakit adalah sebuah fasilitas, sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. Saat pasien berada pada keadaan sakit, perilaku seseorang mengalami perubahan yaitu, adanya perasaan takut, menarik diri, egosentris, sensitive terhadap persoalan kecil, reaksi emosional tinggi, perubahan persepsi,dan berkurang minat. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu penyakit akan menggambarkan penyakit tersebut sesuai dengan pemikirannya sendiri dalam rangka memahami dan menanggapi masalah yang dihadapi (Hidayat,2. Faktor-faktor mempengaruhi kecemasan diantaranya tingkat usia, jenis kelamin, pengalaman, konsep diri, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi serta dukungan keluarga. Hasil penelitian Wiwik . menyatakan bahwa ada hubungan antara persepsi Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Nanda Gumilang. Bela Purnama Dewi pasien tentang penyakitnya dengan tingkat kecemasan di Poli Klinik Rawat Jalan Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang. Hasil penelitian Hendrawati . menunjukkan ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang tingkat kecemasan . value = 0,. , usia dan tingkat kecemasan . -value = 0,. , jenis kelamin dengan tingkat kecemasan . value = 0,. , tingkat pendidikan dan tingkat kecemasan . -value = 0,. , status ekonomi dengan tingkat kecemasan . -value = 0,. Berdasarkan data yang didapat dari Rumah Sakit Siti Fatimah Palembang, jumlah kunjungan pasien di Poli Rawat Inap tahun 2019 sebanyak. orang, tahun 2020 sebanyak. orang dan tahun 2021 orang (RS Siti Fatimah, 2. Berdasarkan hasil survei awal di Poli Rawat Jalan Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021, hasil wawancara dengan 10 orang pasien sebanyak 6 orang menyatakan merasa cemas dengan penyakit yang dialaminya dan ditambah dengan kondisi pandemi Covid-19 pada saat ini. Kecemasan yang dialami pasien saat kontrol berobat rawat jalan ke rumah sakit, akan berdampak buruk pada kondisi kesehatannya namun jika tidak melanjutkan pengobatan atas penyakit yang dialaminya kesembuhan penyakit pasien juga akan terhambat. Berdasarkan uraian latar belakang di atas bahwa kecemasan pasien rawat jalan menjadi masalah baru akibat dari pandemi Covid-19 ini. Sehingga peneliti tertarik untuk meneliti AuFaktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan SOP Rumah Sakit Dengan Situasi Pandemik Yang Menyebabkan Kecemasan Pasien Yang Akan Dirawat di RSUD Siti Fatimah Palembang Tahun 2022Ay. METODE PENELITIAN Format Penelitian Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dan sampel Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien yang akan di rawat di RSUD Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan saat dilakukan penelitian dengan jumlah sampel sebanyak 40 orang. Cara pengumpulan data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat bantu dalam pengambilan data pengetahuan, riwayat penyakit dan tingkat kecemasan pasien yang akan dirawat. Teknis Analisis Data Analisa data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen yang dianalisis dengan uji chi-square . dengan taraf signifikan () = 0,05 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Karakteristk Responden Jenis Kelamin Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di RSUD Siti Fatimah Palembang Tahun 2022 Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%) Laki-Laki Perempuan Jumlah Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa distribusi frekuensi yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 22 orang . ,9%) sedangkan perempuan sebanyak 13 orang . ,1%) Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Nanda Gumilang. Bela Purnama Dewi Umur Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di RSUD Siti Fatimah Palembang Tahun 2022 Umur Jumlah Persentase (%) 20-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun > 50 tahun Jumlah Berdasarkan tabel 4. 2 diatas diketahui bahwa distribusi frekuensi responden yang berusia 20-30 tahun sebanyak 8 responden . ,9%), usia 31-40 tahun sebanyak 11 responden . ,4%), usia 41-50 tahun sebanyak 14 responden . %) dan usia > 50 tahun sebanyak 2 responden . ,7%). Pendidikan Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan di RSUD Siti Fatimah Palembang Tahun 2022 Pendidikan Jumlah Persentase (%) SMP SMA Diploma /S1 Jumlah Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa distribusi frekuensi yang berpendidikan SD sebanyak 5 ,3%), berpendidikan SMP ,9%), SMA ,6%), dan berpendidikan Diploma atau Sarjana sebanyak 5 responden . ,3%). Analisa Univariat Tingkat Kecemasan Pasien yang Akan Dirawat Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Kecemasan Pasien Yang Akan Dirawat di RSUD Siti Fatimah Palembang Tahun 2022 Tingkat Kecemasan Pasien Yang Akan Jumlah Dirawat Tidak ada kecemasan Kecemasan Jumlah Berdasarkan tabel 4. 5 diatas diketahui bahwa distribusi frekuensi sebagian besar responden mengalami kecemasan sebanyak 19 responden . ,3%) dan responden yang tidak mengalami kecemasan sebanyak 16 responden . ,7%) Pengetahuan Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan di RSUD Siti Fatimah Palembang Tahun 2022 Pengetahuan Jumlah Persentase (%) Baik Kurang Jumlah Berdasarkan tabel 4. 6 diatas diketahui bahwa distribusi frekuensi sebagian besar responden memiliki responden . ,1%) dan responden yang responden . ,9%). Riwayat Penyakit Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Riwayat Penyakit di RSUD Siti Fatimah Palembang Tahun 2022 Riwayat Penyakit Tidak Jumlah Jumlah Persentase (%) Berdasarkan tabel 4. 7 diatas diketahui bahwa distribusi frekuensi sebagian besar responden tidak memiliki riwayat penyakit penyerta sebanyak 23 responden . ,7%) dan responden yang memiliki riwayat penyakit penyerta sebanyak 12 responden . ,3%). Persentase (%) Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Nanda Gumilang. Bela Purnama Dewi Dirawat di RSUD Siti Palembang Tahun 2022 Analisa Bivariat Hubungan Pengetahuan Tingkat Kecemasan Pasien Yang Akan Dirawat Penelitian ini dilakukan pada 35 orang responden. Analisis bivariat ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan tingkat kecemasan pasien yang akan dirawat, yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 4. 7 Hubungan Pengetahuan dengan Tingkat Kecemasan Pasien Yang Akan Dirawat di RSUD Siti Fatimah Palembang Tahun Pengetahuan Baik Kurang Total Tingkat Kecemasan Pasien Yang Akan Dirawat Tidak ada Kecemasan Kecemasan p value 0,012 8,250 Berdasarkan tabel diatas diketahui berpengetahuan baik sebagian besar tidak ada kecemasan sebanyak 11 responden . ,3%) sedangkan dari 20 responden yang berpengetahuan kurang sebagian besar mengalami kecemasan sebanyak 15 responden . %) Dari hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p value = 0,012 < . hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan pengetahuan dengan tingkat kecemasan pasien yang akan dirawat di RSUD Siti Fatimah Palembang tahun 2022. Dan didapatkan nilai OR = 8,250 yang artinya responden yang berpengetahuan kurang akan berpeluang mengalami kecemasan ketika akan dirawat di rumah sakit sebesar 8,250 kali dibandingkan dengan responden yang berpengetahuan baik. Hubungan Riwayat Penyakit dengan Tingkat Kecemasan Pasien Yang Akan Dirawat Tabel 4. Hubungan Riwayat Penyakit dengan Tingkat Kecemasan Pasien Yang Akan Riwayat Penyakit Tidak ada Ada Total Tingkat Kecemasan Pasien Yang Akan Dirawat Tidak ada Kecemasan Kecemasan Fatimah p value 0,033 7,778 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa dari 23 responden yang tidak ada riwayat penyakit penyerta sebagian besar tidak ada kecemasan sebanyak 14 responden . ,9%) sedangkan dari 12 responden yang ada riwayat penyakit penyerta sebagian besar mengalami kecemasan sebanyak 10 responden . ,3%). Dari hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p value = 0,033 < . hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan kecemasan pasien yang akan dirawat di RSUD Siti Fatimah Palembang tahun Dan didapatkan nilai OR = 7,778 yang artinya responden yang memiliki riwayat penyakit penyerta akan berpeluang mengalami kecemasan ketika akan dirawat di rumah sakit sebesar 7,778 kali dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki riwayat penyakit penyerta. PEMBAHASAN Tingkat Kecemasan Pasien Yang Akan Dirawat Berdasarkan hasil analisis univariat diketahui distribusi frekuensi sebagian besar responden mengalami kecemasan sebanyak 19 responden . ,3%) dan kecemasan sebanyak 16 responden . ,7%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitin yang dilakukan Sirait . yang berjudul Hubungan Pengetahuan Tentang Covid-19 Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Lansia Yang Mengalami Hipertensi. Hasil penelitian didapatkan Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Nanda Gumilang. Bela Purnama Dewi sebagian besar responden mengalami kecemasan berjumlah 21 orang . ,0%). Dalam penelitian ini responden yang mengalami kecemasan lebih besar dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami kecemasan. Hal ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Menurut Pieter. Janiwarti &Saragih . , kecemasan merupakan respon individu terhadap suatu keadaan yang tidak menyenangkan, menggambarkan keadaan kehawatiran, kegelisahan yang tidak menentu, dan terkadang disertai dengan keluhan fisik. Kecemasan adalah hal yang normal bagi semua manusia, bila individu tersebut dapat menanggapi dengan baik maka kecemasan tersebut tidak akan menganggu kesehatannya. Namun beberapa menanggapi kecemasan dengan tidak wajar dapat memperburuk kondisi kesehatannya yang mengakibatkan gangguan fisik, psikis, dan social. Hal yang sama diungkapkan Hidayat . , yang menyatakan bahwa kecemasan menjadi sebuah masalah yang sering muncul di pusat pelayanan kesehatan atau rumah sakit. Rumah sakit adalah sebuah fasilitas, sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. Saat pasien berada pada keadaan sakit, perilaku seseorang mengalami perubahan yaitu, adanya perasaan takut, menarik diri, egosentris, sensitive terhadap persoalan kecil, reaksi emosional tinggi, perubahan persepsi,dan berkurang minat. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu penyakit akan menggambarkan penyakit tersebut sesuai dengan pemikirannya sendiri dalam rangka memahami dan menanggapi masalah yang dihadapi. Faktor-faktor yang diantaranya tingkat usia, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan, tingkat ekonomi serta dukungan keluarga. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas peneliti berasumsi mengalami kecemasan . ,3%). Hal ini disebabkan karena pasien yang akan menjalani perawatan di rumah sakit harus menjalani berbagai prosedur yang wajib dilakukan oleh setiap pasien seperti tes swap PCR. Pasien cenderung merasa cemas karena takut jika hasil swab positif karena jika positif pasien harus dilakukan karantina dan di rawat di ruangan khusus dengan penjagaan ketat. Selain itu disebabkan karena faktor jenis kelamin karena perempuan lebih cepat dari lakilaki dan faktor umur karena semakin bertambah usia akan semakin beresiko tertular covid-19. Pengetahuan Berdasarkan hasil analisis univariat diketahui distribusi frekuensi sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 20 responden . ,1%) dan responden yang berpengetahuan baik sebanyak 15 responden . ,9%). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitin yang dilakukan Sirait Hubungan Pengetahuan Tentang Covid-19 Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Lansia Yang Mengalami Hipertensi. Dalam penelitian ini responden yang berpengetahuan baik responden yang berpengetahuan kurang. Hasil penelitian didapatkan responden yang mempunyai pengetahuan baik berjumlah 14 orang . ,0%), tingkat pengetahuan cukup 8 orang . ,6%) dan tingkat pengetahuan kurang 6 orang . ,4%). Dalam penelitian ini responden yang berpengetahun baik lebih besar Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Nanda Gumilang. Bela Purnama Dewi dibandingkan dengan responden yang berpengetahuan kurang Hal ini tidak sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti karena dari hasil penelitian sebagian besar responden berpengetahuan Menurut Yueniwati . , kurangnya informasi dan beredarnya informasi yang keliru tentang pandemi berkontrobusi terhadap perubahan perilaku masyarakat yang berkontribusi terhadap Kerentanan tersebut berkontribusi dalam munculnya gangguan mental. Cemas, depresi, dan insomnia adalah gejala gangguan mental yang paling sering dialami selama pandemi. Gejala tersebut dapat menimpa pasien yang terdiagnosis Covid-19, populasi umum, orang-orang sebelumnya, pekerja medis, dan kelompok Menurut Bela . , menyatakan bahwa pengetahuan seseorang atau responden mengenai kesehatan juga dapat dibentuk dari berbagai media melalui televisi, koran, radio dan media sosial serta diberikan penyuluhan yang intensif dari petugas kesehatan puskesmas setempat. Hal ini didukung dengan alasan masyarakat yang menggunakan internet melalui smartphone sebagai media informasi dalam mengenali pemahaman tentang kejadian Covid-19 lebih mudah memperoleh dari internet. Masyarakat saat ini banyak yang memiliki pemahaman yang kurang tepat mengenai penyebab penyakit sehingga dapat menimbulkan persepsi masyarakat yang kurang tepat mempengaruhi perilaku penangangan penyakit tersebut. Dengan pengetahuan yang baik tentang Covid-19 di harapkan masyarakat dapat melakukan penanganan dan pencegahan terhadap kejadian Covid19 saat ini Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas peneliti berasumsi Hal disebabkan faktor pendidikan karena responden yang berpendidikan rendah cenderung kurang terpapar informasi tentang Covid-19 sebaiknya responden yang berpendidikan tinggi maka akan semakin banyak pengetahuan yang didapat tentang Covid-19. Riwayat Penyakit Berdasarkan hasil analisis univariat diketahui distribusi frekuensi sebagian besar responden tidak memiliki riwayat penyakit penyerta sebanyak 23 responden . ,7%) dan responden yang memiliki riwayat penyakit penyerta sebanyak 12 responden . ,3%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Guslinda . yang berjudul Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Lansia Pada Masa Pandemi Covid 19. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden . ,3%) mengalami penyakit penyerta. Dalam penelitian ini responden yang memiliki penyakit penyerta lebih banyak dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki penyakit penyerta sama halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Hal ini sesuai dengan teori Yueniwati . , yang menjelaskan bahwa Covid-19 dengan komorbiditas termasuk wanita hamil, bayi baru lahir, orang tua, dan pasien dengan komorbid seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan mengalami kejadian lebih lebih parah dan sering memerlukan perawatan ke unit perawatan intensif Menurut Bela . , menjelaskan bahwa kondisi pandemi Covid-19 yang berkepanjangan menimbulkan krisis pada semua aspek kehidupan dan berdampak terhadap peningkatan masalah kesehatan Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Nanda Gumilang. Bela Purnama Dewi jiwa khususnya kecemasan. Kecemasan dialami hampir seluruh masyarakat di dunia terutama pasien yang memiliki penyakit komorbid. Berbagai penelitian menunjukkan pasien dengan penyakit komorbid merupakan pasien yang paling berisiko mengalami kematian apabila terpapar penyakit ini. Menurut Kencana menyatakan bahwa penyakit Covid-19 lebih berisiko bagi orang yang sebelumnya mengidap penyakit . alam istilah medis disebut Komorbi. Beberapa waktu lalu, laporan yang dikeluarkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menunjukkan bahwa 94 persen kasus kematian Covid-19 di Amerika Serikat terjadi pada pasien dengan komorbiditas atau memiliki penyakit Daftar Kementerian Kesehatan memuat 12 penyakit penyerta Covid-19 yang paling banyak pada pasien positif Covid. Lima di antaranya adalah hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, penyakit paru, dan penyakit Orang yang telah memiliki penyakit ini harus lebih ketat menerapkan protokol kesehatan demi menghindari penularan Covid-19 Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas peneliti berasumsi bahwa responden yang tidak memiliki dibandingkan dengan responden yang memiliki riwayat penyakit penyerta. Responden yang memiliki riwayat penyakit peryerta dapat disebabkan oleh faktor usia. Karena semakin bertambah usia seseorang maka organ-organ tubuh tidak dapat berfungsi secara maksimal sehingga sangat rentan mengalami berbagai penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, dan lain sebagainya. Hubungan Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Yang Akan Dirawat Berdasarkan hasil analisis bivariat diketahui dari 15 responden yang berpengetahuan baik sebagian besar tidak ada kecemasan sebanyak 11 responden . ,3%) sedangkan dari 20 responden yang berpengetahuan kurang sebagian besar mengalami kecemasan sebanyak 15 responden . %). Dari Chi-Square didapatkan nilai p value = 0,012 < . hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan pengetahuan dengan tingkat kecemasan pasien yang akan dirawat di RSUD Siti Fatimah Palembang tahun Dan didapatkan nilai OR = 8,250 berpengetahuan kurang akan berpeluang mengalami kecemasan ketika akan dirawat di rumah sakit sebesar 8,250 kali dibandingkan dengan responden yang berpengetahuan baik. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Sirait . yang berjudul Hubungan Pengetahuan Tentang Covid-19 Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Yang Mengalami Hipertensi. Hasil penelitian didapatkan responden yang mempunyai pengetahuan baik berjumlah 14 orang . ,0%), tingkat pengetahuan cukup 8 orang . ,6%) dan tingkat pengetahuan kurang 6 orang . ,4%). Dan Kecemasan Berat berjumlah 21 orang . ,0%). Hasil analisis bivariat didapatkan ada hubungan antara pengetahuan tentang Covid-19 dengan tingkat kecemasan pada lansia yang mengalami hipertensi di RW Perumahan Gerbang Permai Pamengkang Wilayah kerja Puskesmas pamengkang tahun 2020 dengan p value = 0,007 (= 0,. Hal ini didukung teori Yueniwati . , tentang Covid-19 akan menimbulkan rasa takut, cemas yang berlebihan. Sebagian besar masyarakat memiliki kewaspadaan Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Nanda Gumilang. Bela Purnama Dewi yang berlebihan . yang mengarah pada gangguan ketakutan, kecemasan yang berlebihan, depresi. Dalam teori, stress dapat mempengaruhi kesehatan tubuh, seperti tubuh akan memberikan reaksi atas stres yang muncul seperti detak jantung menjadi cepat, otot menjadi kaku, bahkan tekanan darah meningkat. Hal ini jika dibiarkan, maka tubuh terus menerus akan mengeluarkan hormone stress atau kortisol yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh sehingga seseorang akan mudah terserang Hal ini sesuai dengan pernyataan Bela . yang menyatakan bahwa kecemasan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan tiap orang, dengan adanya pengetahuan maka muncul pula perilaku tiap orang dalam menyikapi situasi atau Dengan pengetahuan, kecemasan akan berkurang karena pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki tiap orang dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah psikis termasuk kecemasan. Kecemasan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan tiap orang, dengan adanya pengetahuan maka muncul pula perilaku tiap orang dalam menyikapi situasi atau keadaan tertentu. Dengan adanya pengetahuan, kecemasan akan berkurang karena pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki tiap orang dapat masalahmasalah psikis termasuk kecemasan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas peneliti berasumsi bahwa pengetahuan berhubungan dengan tingkat kecemasan pasien yang akan Hal ini disebabkan karena semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang Covid-19 maka akan mudah untuk melakukan tindakan pencegahan agar tidak tertular Covid-19. Sebaliknya berpengetahuan kurang cenderung kurang mendapat informasi tentang Covid-19 sehingga timbul rasa khawatir dan cemas jika tertular Covid-19. Hubungan Riwayat Penyakit Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Yang Akan Dirawat Berdasarkan hasil analisis bivariat diketahui dari 23 responden yang tidak ada riwayat penyakit penyerta sebagian besar tidak ada kecemasan sebanyak 14 responden . ,9%) sedangkan dari 12 responden yang ada riwayat penyakit penyerta sebagian besar mengalami kecemasan sebanyak 10 responden . ,3%). Dari Chi-Square didapatkan nilai p value = 0,033 < . hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan riwayat penyakit dengan tingkat kecemasan pasien yang akan dirawat di RSUD Siti Fatimah Palembang tahun Dan didapatkan nilai OR = 7,778 yang artinya responden yang memiliki riwayat penyakit penyerta akan berpeluang mengalami kecemasan ketika akan dirawat di rumah sakit sebesar 7,778 kali dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki riwayat penyakit penyerta. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lumban Tobing . yang berjudul Tingkat Kecemasan Bagi Lansia Yang Memiliki Penyakit Penyerta Ditengah Situasi Pandemik Covid-19 Di Kecamatan Parongpong Bandung Barat. Hasil yang diperoleh adalah tingkat kecemasan yang dialami oleh lansia dengan penyakit penyerta . adalah berat sekali dengan skala tingkat kecemasan 30. Lansia penderita penyakit hipertensi mengalami tingkat kecemasan berat sekali dengan skala tingkat kecemasan 31. 43, penderita penyakit Jantung mengalami tingkat kecemasan berat dengan skala tingkat 41, dan penderita penyakit Diabetes Melitus mengalami tingkat kecemasan berat dengan skala tingkat Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Nanda Gumilang. Bela Purnama Dewi Hal ini didukung teori Yueniwati . , yang menyatakan bahwa tingginya angka kematian Covid-19 disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya adalah lanjut usia dan adanya penyakit penyerta Pasien dengan penyakit penyerta yang mendasari lebih mudah tertular Covid-19 dan berkembang menjadi parah serta memburuk secara klinis dibandingkan pasien tanpa penyakit penyerta sebelumnya. Pasien dengan penyakit penyerta juga memiliki prognosis buruk dan sering berakhir dengan komplikasi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), pneumonia dan Hal ini sejalan dengan pernyataan Utami . , yang menyatakan bahwa kecemasan dan depresi merupakan masalah pada penderita dengan Diabetes Melitus karena berhubungan dengan berkurangnya control kadar glukosa darah, demikian juga penderita hipertensi yang sedang mengalami kecemasan, maka yang terjadi dalam tubuhnya adalah pelepasan bahan kimia seperti adrenalin ke dalam darah sehingga mengakibatkan terjadinya berbagai perubahan antara lain, denyut jantung semakin meningkat, nafas menjadi berat, berkeringat dan meningkatkan aliran Meningkatnya aliran darah tersebut bagi seorang penderita hipertensi adalah dibandingkan individu yang bertekanan darah normal. Apabila kondisi seperti ini terjadi secara terus menerus, maka menurut Sarafino, lama kelamaan akan menimbulkan gangguan terhadap fungsi organ dan dengan adanya kerusakan Lebih lanjut menurut Utami . , menjelaskan bahwa kondisi pandemi Covid-19 yang berkepanjangan menimbulkan krisis pada semua aspek kehidupan dan berdampak terhadap masalah kesehatan jiwa khususnya kecemasan. Kecemasan dialami seluruh masyarakat di dunia terutama pasien yang memiliki penyakit Berbagai menunjukkan pasien dengan penyakit komorbid merupakan pasien yang paling berisiko mengalami kematian apabila terpapar penyakit ini. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas peneliti berasumsi berhubungan dengan tingkat kecemasan pasien yang akan dirawat di rumah sakit. Hal ini disebabkan karena dengan adanya penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes mellitus akan semakin beresiko tertular covid-19 sehingga menimbulkan sewaktu-waktu Covid-19 dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki riwayat penyakit penyerta. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di RSUD Siti Fatimah Palembang, dapat disimpulkan sebagai Distribusi frekuensi sebagian besar responden mengalami kecemasan sebanyak 19 responden . ,3%) dan responden yang tidak mengalami kecemasan sebanyak 16 responden ,7%) Distribusi frekuensi sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 20 responden ,1%) berpengetahuan baik sebanyak 15 responden . ,9%). Distribusi frekuensi sebagian besar responden tidak memiliki riwayat penyakit penyerta sebanyak 23 responden . ,7%) dan responden yang memiliki riwayat penyakit penyerta sebanyak 12 responden . ,3%). Ada hubungan pengetahuan dengan tingkat kecemasan pasien yang akan Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Nanda Gumilang. Bela Purnama Dewi dirawat di RSUD Siti Fatimah Palembang tahun 2022 dengan nilai value = 0,012. Ada hubungan riwayat penyakit dengan tingkat kecemasan pasien yang akan dirawat di RSUD Siti Fatimah Palembang tahun 2022 dengan nilai p. value = 0,033. Saran Bagi STIKES Mitra Adiguna Palembang Diharapkan bahan bacaan atau literatur di perpustakaan STIKES Mitra Adiguna Palembang seperti buku dan jurnal seputar masalah hubungan pengetahuan dan riwayat penyakit dengan situasi pandemic yang menyebabkan kecemasan pasien yang akan dirawat di rumah sakit sehingga dapat membantu bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian lebih lanjut tentang tingkat kecemasan pasien. Bagi RSUD Siti Fatimah Palembang Diharapkan dapat memberikan informasi atau konseling kepada pasien yang akan dilakukan rawat inap seputar masalah Covid-19 dan prosedur yang harus dijalani pasien sebelum dirawat sesuai dengan SOP rumah sakit dengan menggunakan bahasa yang mudah di pahami oleh pasien sehingga diharapkan dapat mengurangi tingkat kecemasan pasien sebelum dilakukan rawat inap di rumah sakit. Bagi peneliti Selanjutnya Dapat melakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan sampel yang lebih banyak lagi, mencari variabel lain yang bisa mepengaruhi tingkat kecemasan pasien seperti faktor umur, jenis kelamin dan pendidikan. Serta dapat menggunakan metode penelitian yang berbeda seperti metode kualitatif dan studi literatur, sehingga diharapkan penelitian tentang tingkat kecemasan pada pasien dapat lebih DAFTAR PUSTAKA