Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 3 No 3 4 Juli Oktober E-ISSN: 2774-5244 2023,2023, E-ISSN: 2774-5244 Indonesian Journal of Health and Medical ISSN: 2774-5244 (Online) Journal Homepage: http://ijohm.rcipublisher.org/index.php/ijohm FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DI PUSKESMAS JAYAPURA KABUPATEN OKU TIMUR Desi Salpiana1*, Elwan Candra2, Sabtian Sarwoko3, Yudi Budianto4 1,2,3S1 Kesehatan Masyarakat, STIKes Al Ma’arif Baturaja Corresponding Author: * desisaalpianadesisalpiana@gmail.com ABSTRAK Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan umum dan kesejahteraan dan merupakan faktor penting yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Rongga mulut dan gigi yang sehat menjadi hal yang sangat penting dan hanya dapat dicapai apabila rongga mulut senantiasa bersih. Tujuan Penelitian Mengetahui Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Jayapura Kabupaten OKU Timur tahun 2023. Metode Penelitian menggunakan desain penelitian Cross Sectional. Populasi adalah jumlah kunjungan pasien yang berobat di balai pengobatan UPTD Puskesmas Jayapura periode Januari-April 2023. Pengambilan sampel dilaksanakan selama kurang lebih 1 bulan dan mendapatkan jumlah sampel sebanyak 71 responden. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square. Metode pengumpulan data diperoleh dari pengisian lembar kuesioner. Teknis Analisis data dengan menghitung jumlah data hasil dari kuisioner kemudian dibuat rata-rata dalam bentuk distribusi frekuensi dan presentase serta disajikan dalam bentuk tabel. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan, pendapatan, pekerjaan dan aksesibilitas dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Jayapura Kabupaten OKU Timur tahun 2023. Kata Kunci: Pemanfaatan Pelayanan Kesehata Gigi dan Mulut, Pengetahuan, Pendapatan, Pekerjaan dan Aksesibilitas. PENDAHULUAN Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan umum dan kesejahteraan dan merupakan faktor penting yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Rongga mulut dan gigi yang sehat menjadi hal yang sangat penting dan hanya dapat dicapai apabila rongga mulut senantiasa bersih.Rongga mulut dan gigi yang bersih membuat orang merasa lebih percaya diri untuk berbicara, makan, dan bersosialisasi tanpa rasa sakit, tidak nyaman ataupun rasa malu (Azikin, dkk, 2020). Kesehatan gigi dan mulut masyarakat di Indonesia masih perlu mendapatkan perhatian tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat gigi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018 menyebutkan bahwa prevalensi nasional masalah 16 Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 3 No 4 Oktober 2023, E-ISSN: 2774-5244 kesehatan gigi dan mulut adalah 57,6% dan yang mendapatkan pelayanan tenaga kesehatan adalah sebesar 10,2%. Target pemanfaatan Puskesmas di Indonesia yang ditetapkan Departemen Kesehatan RI adalah sembilan orang perhari, sedangkan kenyataannya di Indonesia kunjungan masyarakat ke poliklinik gigi di Puskesmas masih dikategorikan rendah (Widayati, dkk, 2020). Kesadaran orang dewasa di Indonesia untuk datang ke dokter gigi kurang dari 7% dan pada anak hanya sekitar 4% kunjungan. Fakta yang terjadi, 72,1% penduduk Indonesia memiliki masalah gigi berlubang dan 46,5% diantaranya tidak merawat gigi berlubang. Kunjungan penderita ke puskesmas rata- rata sudah dalam keadaan lanjut untuk berobat, sehingga dapat diartikan bahwa tingkat kesadaran masyarakat pada umumnya untuk berobat sedini mungkin masih belum dapat dilaksanakan. Masyarakat berkunjung bila sudah mengalami sakit gigi. Hal ini terlihat dari rendahnya jumlah pengunjung yang memanfaatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas. Pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut tidak saja berupa pencabutan gigi dan penambalan gigi tetapi masyarakat harus berkunjungminimal 6 bulan sekali (Kemenkes RI, 2015). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, jumlah kunjungan pelayanan kesehatan gigi dan mulut menurut Kecamatan dan Puskesmas pada tahun 2020 yaitu sebanyak 5.112 kunjungan, kemudian pada tahun 2021 menjadi 5.424 kunjungan dan pada tahun 2022 menjadi sebanyak 5.765 kunjungan (Dinkes Kab. OKU Timur, 2022). Berdasarkan data kunjungan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Jayapura pada tahun 2020 sebanyak 98 kunjungan, kemudian pada tahun 2021 menjadi sebanyak 109 kunjungan dan pada tahun 2022 sebanyak 122 kunjungan. Dari data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata angka kunjungan perhari di Puskesmas Jayapura masih jauh dibawah target nasional yaitu sembilan orang perhari (Puskesmas Jayapura, 2022). Rendahnya pemanfaatan fasilitas kesehatan seperti puskesmas, seringkali berhubungan dengan faktor pengetahuan, jarak antara fasilitas tersebut dengan masyarakat yang terlalu jauh (baik jarak secara fisik maupun secara sosial), tarif yang tinggi, pelayanan yang tidak memuaskan dan sebagainya. Faktor aksesibilitas yang meliputi jarak dan tidak tersedianya transportasi dan ketidakmampuan finansial diketahui juga dapat memengaruhi masyarakat dalam mengakses pelayanan kesehatan gigi dan mulut karena biaya yang mahal dan tidak selalu tercakup asuransi. METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam karya tulis ini adalah deskriptif yaitu untuk mendeskripsikan atau menguraikan suatu kejadian di dalam masyarakat dengan pendekatan cross sectional yaitu pengamatan sesaat atau dalam periode tertentu dan setiap subjek studi hanya dilakukan satu kali pengamatan penelitian (Notoatmodjo, 2010). Sasaran penelitian ini yaitu pasien yang berkunjung dan berobat di balai pengobatan UPTD Puskesmas Jayapura periode Januari- April 2023 17 Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 3 No 4 Oktober 2023, E-ISSN: 2774-5244 sebesar 305 kunjungan. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari-April 2023. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Data dilakukan secara deskriptif yaitu dengan melihat persentase data yang terkumpul dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi, persentase data yang diperoleh untuk tiap-tiap ketegori dan disertai penjelasan HASIL DAN PEMBAHASAN Responden dalam penelitian ini adalah pasien yang berkunjung dan berobat di balai pengobatan UPTD Puskesmas Jayapura periode Januari- April 2023 sebesar 305 kunjungan. Lokasi ini juga mudah dan dijangkau karena lokasinya yang terletak di UPTD Puskessmas Jayapura yang memudahkan pasien untuk berobat. Hasil Pengumpulan Data dan Analisis Data Hasil pengumpulan data dan analisis data berdasarkan hasil pengisian kuesioner didapatkan jawaban responden yang disajikan dalam bentuk tabel, maka diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 1 Distribusi frekuensi Pengetahuan dengan Pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut Pemanfaatan pelayanan Kesehatan gigi dan mulut Pengetahuan Baik Kurang baik Jumlah Memanfaatkan Tidak memanfaatkan Jumlah 26 (53,1%) 3 (13,5%) 29 (40,8%) 23 (46,9%) 19 (86,4%) 42 (59,2%) 49 (100%) 22 (100%) 71 (100%) p Value 0,002 Berdasarkan Tabel 1, menunjukkan bahwa proporsi responden dengan pengetahuan baik dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sebanyak 26 (53,1%) responden, lebih besar dibandingkan dengan proporsi responden dengan pengetahuan kurang baik dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yaitu sebesar 3 (13,5%) responden. Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square diperoleh p value 0,002. Maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut 18 Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 3 No 4 Oktober 2023, E-ISSN: 2774-5244 Tabel 2 Distribusi frekuensi Pendapatan dengan Pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut Pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut Pendapatan Tinggi Rendah Jumlah Memanfaatkan 16 (59,3%) 13 (29,5%) 29 (40,8%) Tidak memanfaatkan 11 (40,7%) 31 (70,5%) 42 (59,2%) Jumlah 27 (100%) 44 (100%) 71 (100%) p Value 0,026 Berdasarkan Tabel 2 menunjukan bahwa proporsi responden dengan pendapatan tinggi dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sebanyak 16 (59,3%) responden, lebih besar dibandingkan dengan proporsi responden dengan pendapatan rendah dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yaitu sebanyak 13 (29,5%) responden. Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square diperoleh p value 0,026. Maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara pendapatan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Tabel 3 Distribusi frekuensi Pekerjaan dengan Pemanfaatan pelayanan kesehatan gigidan mulut Pemanfaatan pelayanankesehatan gigi dan mulut Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Jumlah Memanfaatkan 18 (58,1%) 11 (27,5%) 29 (40,8%) Tidak memanfaatkan 13 (41,9%) 29 (72,5%) 42 (59,2%) Jumlah 31 (100%) 40 (100%) 71 (100%) p Value 0,019 Berdasarkan Tabel 3 menunjukan bahwa proporsi responden yang bekerja dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sebanyak 18 (58,1%) responden, lebih besar dibandingkan proporsi responden yang tidak bekerja dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi danmulut yaitu sebanyak 11 (27,5%) responden. Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square diperoleh p value 0,019. Maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. 19 Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 3 No 4 Oktober 2023, E-ISSN: 2774-5244 Tabel 4 Distribusi frekuensi Aksesibilitas dengan Pemanfaatan pelayanan kesehatangigi dan mulut Pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut Aksesibilitas Dekat Jauh Jumlah Memanfaatkan 27 (50,9%) 2 (11,1%) 29 (40,8%) Tidak memanfaatkan 26 (49,1%) 16 (88,9%) 42 (59,2%) Jumlah 53 (100%) 18 (100%) 71 (100%) p Value 0,005 Berdasarkan Tabel 4 menunjukan bahwa proporsi responden dengan aksesibilitas dekat dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sebanyak 27 (50,9%) responden, lebih besar dibandingkan dengan proporsi responden dengan aksesibilitas jauh dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yaitu sebanyak 2 (11,1%) responden. Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square diperoleh p value 0,005. Maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara aksesibilitas dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. PEMBAHASAN Hubungan pengetahuan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Jayapura Kabupaten OKU Timur tahun 2023. Dari hasil analisa univariat diketahui dari 71 responden, didapat sebanyak 49 (69%) responden dengan pengetahuan baik lebih banyak dari responden yang pengetahuan kurang baik yaitu 22 (31%) responden. Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square diperoleh p value 0,002. Maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Sejalan dengan hasil penelitian Radiani (2021), hasil uji statistik memperoleh nilai p 0,002 yang menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Karanganyar. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi responden dengan pengetahuan baik dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sebanyak 26 (53,1%) responden, lebih besar dibandingkan dengan proporsi responden dengan pengetahuan kurang baik dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yaitu sebesar 3 (13,5%) responden. Masyarakat yang memiliki pengetahuan yang baik tentang kesehatan gigi dan mulut cenderung lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut untuk mencegah masalah kesehatan yang lebih serius di masa depan. Mereka memahami bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut 20 Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 3 No 4 Oktober 2023, E-ISSN: 2774-5244 berkontribusi pada kualitas hidup secara keseluruhan dan dapat mencegah gangguan kesehatan yang terkait dengan kondisi gigi dan mulut. Dalam penelitian ini juga ditemukan masih ada responden yang tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, menurut asumsi peneliti salah satu alasan utama adalah kurangnya kesadaran dan pengetahuan tentang pentingnya kesehatan gigi dan mulut. Beberapa masyarakat mungkin tidak menyadari bahwa perawatan gigi yang teratur secara berkala merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan gigi dan mencegah masalah kesehatan yang lebih serius. Hubungan pendapatan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Jayapura Kabupaten OKU Timur tahun 2023. Dari hasil analisa univariat diketahui dari 71 responden, didapat responden dengan pendapatan tinggi sebanyak 27 (38%) responden, sedangkan responden dengan pendapatan rendah sebanyak 44 62%) responden. Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square diperoleh p value 0,026. Maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara pendapatan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Variani yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pendapatan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut karena bila seseorang memiliki pendapatan relatif tinggi maka ia akan cenderung memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dibandingkan dengan yang memilikipendapatan rendah. Dalam penelitian ini diketahui bahwa proporsi responden dengan pendapatan tinggi dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sebanyak 16 (59,3%) responden, lebih besar dibandingkan dengan proporsi responden dengan pendapatan rendah dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yaitu sebanyak 13 (29,5%) responden. Masyarakat dengan pendapatan tinggi lebih mudah mengakses fasilitas kesehatan gigi, termasuk puskesmas. Mereka memiliki lebih banyak sumber daya finansial untuk membayar biaya perawatan gigi, bahkan jika tarif di puskesmas lebih terjangkau dibandingkan dengan praktek swasta. Dengan begitu, mereka merasa lebih nyaman dan mampu memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi di puskesmas. Masyarakat dengan pendapatan tinggi cenderung lebih sadar dan memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang fasilitas kesehatan di sekitar mereka, termasuk puskesmas. Mereka dapat menyadari bahwa puskesmas juga menyediakan pelayanan kesehatan gigi yang lengkap dan berkualitas, sehingga lebih memilih untuk memanfaatkan layanan tersebut. Dalam penelitian ini ditemukan juga responden dengan pendapatan tinggi namun tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di puskesmas. Menurut asumsi peneliti, beberapa masyarakat dengan penghasilan tinggi memiliki persepsi bahwa pelayanan kesehatan gigi di puskesmas kurang berkualitas dibandingkan dengan fasilitas swasta. Mereka mungkin beranggapan bahwa fasilitas swasta menawarkan pelayanan yang lebih baik. Beberapa masyarakat memiliki persepsi negatif tentang pelayanan di puskesmas, seperti persepsi bahwa puskesmas hanya 21 Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 3 No 4 Oktober 2023, E-ISSN: 2774-5244 ditujukan untuk masyarakat berpendapatan rendah atau kelas menengah. Persepsi semacam ini dapat menyebabkan stigma terhadap puskesmas dan membuat masyarakat lebih memilih fasilitas swasta. Hubungan pekerjaan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Jayapura Kabupaten OKU Timur tahun 2023. Dari hasil analisa univariat diketahui dari 71 responden yang bekerja sebanyak 31 (43,7%) responden sedangkan responden tidak bekerja sebanyak 40 (56,3%) responden. Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square diperoleh p value 0,019. Maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Sejalan dengan hasil penelitian Supariani (2013) memperoleh hasil p value 0,000. Ada hubungan yang bermakma antara pekerjaan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Artinya seseorang yang bekerja dan berpenghasilan akan termotivasi dan bertindak untuk lebih banyak dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di poliklinik gigi rumah sakit, karena mereka mampu membayar sendiri. Dalam penelitian ini ditemukan proporsi responden yang bekerja dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sebanyak 18 (58,1%) responden, lebih besar dibandingkan proporsi responden yang tidak bekerja dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yaitu sebanyak 11 (27,5%) responden. Bagi masyarakat yang bekerja, terdapat kemungkinan mereka memiliki akses ke asuransi kesehatan melalui perusahaan tempat mereka bekerja. Asuransi kesehatan ini mungkin mencakup perawatan gigi di puskesmas, sehingga dapat menjadi alasan bagi mereka untuk memanfaatkannya dan mengurangi biaya perawatan gigi secara pribadi. Puskesmas biasanya menawarkan pelayanan kesehatan gigi dengan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan dengan fasilitas swasta. Bagi masyarakat yang bekerja dengan pendapatan terbatas, biaya yang lebih rendah menjadi pertimbangan penting dalam memilih puskesmas sebagai tempat untuk mendapatkan perawatan gigi. Dalam penelitian ini ditemukan juga responden yang bekerja namun tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di puskesmas, menurut asumsi peneliti adalah kebanyakan orang yang bekerja memiliki jadwal yang padat, dan mencari waktu luang untuk mengunjungi puskesmas bisa menjadi sulit. Mereka mungkin enggan mengorbankan waktu kerja atau waktu istirahat mereka untuk pergi ke pelayanan perawatan gigi di puskesmas. Mereka lebih memilih fasilitas swasta yang menawarkan jadwal yang lebih fleksibel dan layanan yang lebih cepat sesuai dengan kebutuhan mereka. Hubungan aksesibilitas dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Jayapura Kabupaten OKU Timur tahun 2023. Dari hasil analisa univariat diketahui dari 71 responden, didapat responden dengan aksesibilitas dekat sebanyak 53 (74,6%) responden, sedangkan responden dengan aksesibilitas jauh sebanyak 18 (25,4%) responden. Berdasarkan hasil uji 22 Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 3 No 4 Oktober 2023, E-ISSN: 2774-5244 statistik Chi-Square diperoleh p value 0,005. Maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara aksesibilitas dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Sejalan dengan hasil penelitian Ningsih (2013) menyatakan ada hubungan yang bermakna antara akses dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. walaupun mayoritas rumah responden berjarak cukup dekat yaitu kurang dari 1 km, namun transportasi menuju ke pelayanan juga menjadi pertimbangan untuk memanfaatkan pelayanan. Dalam penelitian ini ditemukan proporsi responden dengan aksesibilitas dekat dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sebanyak 27 (50,9%) responden, lebih besar dibandingkan dengan proporsi responden dengan aksesibilitas jauh dan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yaitu sebanyak 2 (11,1%) responden. Masyarakat yang tinggal dekat dengan puskesmas memiliki akses yang lebih mudah dan cepat untuk mencapai fasilitas tersebut. Tidak ada kebutuhan untuk melakukan perjalanan jauh atau menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk mencapai lokasi puskesmas. Kemudahan akses ini membuat masyarakat lebih termotivasi untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi di puskesmas. Puskesmas umumnya menawarkan pelayanan kesehatan gigi dengan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan dengan fasilitas swasta. Dengan aksesibilitas dekat, masyarakat dapat menghindari biaya tambahan yang dikeluarkan untuk perjalanan ke fasilitas kesehatan gigi lainnya dan lebih memilih pelayanan yang ekonomis di puskesmas. Dalam penelitian ini juga masih ditemukan responden dengan aksesibilitas dekat namun tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulit di puskesmas, menurut asumsi peneliti adalah beberapa masyarakat merasa tidak nyaman atau ragu-ragu untuk pergi ke puskesmas karena alasan tertentu. Mereka mungkin merasa lebih nyaman atau percaya diri mendapatkan perawatan gigi di fasilitas swasta. Selain itu kurangnya informasi dan edukasi tentang manfaat dan keuntungan memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi di puskesmas dapat menyebabkan masyarakat kurang mengetahui pilihan mereka dan lebih memilih fasilitas swasta. Puskesmas harus aktif dalam melakukan edukasi dan kampanye kesadaran tentang pentingnya kesehatan gigi dan perawatan gigi secara teratur. Ini akan membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat pelayanan kesehatan gigi di puskesmas dan menghilangkan stigma negative. Selain itu Puskesmas dapat mengadopsi program kesehatan gigi keliling, di mana tim medis gigi berkunjung ke desa-desa atau wilayah terpencil secara berkala. Program ini akan membantu masyarakat yang berada di daerah yang sulit dijangkau untuk mendapatkan perawatan gigi tanpa harus datang ke puskesmas. 23 Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 3 No 4 Oktober 2023, E-ISSN: 2774-5244 KESIMPULAN Berdasarkan penelitian Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Jayapura Kabupaten OKU Timur tahun 2023 dapat disimpulkan bahwa: 1) pengetahuan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Jayapura Kabupaten OKU Timur tahun 2023 dengan p value 0,002 termasuk dalam kategori kurang. 2) pendapatan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Jayapura Kabupaten OKU Timur tahun 2023 dengan p value 0,026 dalam kategori kurang. 3) pekerjaan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Jayapura Kabupaten OKU Timur tahun 2023 dengan p value 0,019 dalam kategori cukup. 4) aksesibilitas dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Jayapura Kabupaten OKU Timur tahun 2023 dengan p value 0,005 dalam kategori kurang. DAFTAR PUSTAKA Agung, A. A. G., & Dewi, N. K. E. P. (2019). Hubungan Perilaku Menyikat Gigi dan Karies Gigi Molar Pertama Permanen Pada Siswa Kelas V di SDN 4 PendemTahun 2018. Jurnal Kesehatan Gigi, 6(2), 56–62. http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/id/eprint/522%0A Amin, M. K, (2015), Analisis Positioning Pasta Gigi Merek “SIWAK F HERBAL” Terhadap Beberapa Merek Pesaing Studi Kasus Di Kelurahan Keputih Surabaya ,Doctoral dissertation Institut Teknologi Sepuluh November http://repository.its.ac.id/60065/1/1312030073-Non%20Degree.pdf.diakses tanggal 7 Februari 2021,pukul 20.30 WIB Anwar I.R, Lutfiah, Nursyamsi. 2017. Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Remaja Usia 12-15 Tahun di SMPN 4 Watampone Kecamatan Tanate Riattang Kabupaten Bone. Makassar Dent J 2017 ; 6(2): 87 – 90 Astuti, Y. W, (2019), Gambaran Kebiasaan Menyikat Gigi Dan Index OHI-S Pada Siswa Sekolah Dasar, Jurnal teknologi keperawatan, 2(1), 1-33 http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/1039/1/KTI%20FULL.pdf., diakses 5 Februari 2021, pukul 19.40 WIB Basuni, Cholil., Putri, D. K. T., (2014), Gambaran Indeks Kebersihan Mulut Berdasarkan Tingkat Pendidikan Masyarakat di Desa Guntung Ujung KabupatenBanjar, ), Dentino Jurnal Kedokteran Gigi, 2(1), 18-23 http://fkg.ulm.ac.id/id/wp-content/uploads/2016/01/GAMBARANINDEKSKEBERSIHAN-MULUT.pdf, diakses tanggal 10 Februari 2021, pukul 19.30 WIB Blum dalam Notoatmodjo. (2018). No Title. Promosi Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan, 1(1), 138–139 Dr. Vladimir, V. F. (2020). Hubungan Pengetahuan Dengan Kinerja Karyawan. Gastronomía Ecuatoriana y Turismo Local., 1(69), 5–24. Faridah, F., Suyatmi, D., dan Sutrisno, S. (2017). Gambaran Skor Plak dengan Berbagai Bentuk Sikat Gigi dan Metode Menggosok Gigi Pada Siswa Kelas V dan VI SD Negeri 1 Sidayu. Journal of Oral Health Care, 5(1) http://www.e24 Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 3 No 4 Oktober 2023, E-ISSN: 2774-5244 journal.poltekkesjogja.ac.id/index.php/JGM/article/view/257 diakses tanggal 25 maret 2021 pukul 08.00 WIB Fatmasari, M., Widodo, & Adhani, R. (2017). Hubungan Antara Tingkat Sosial Ekonomi Orangtua Dengan Indeks Karies Gigi Pelajar Smpn Di Kecamatan Banjarmasin Selatan. Jurnal Kedokteran Gigi, I(1), 62–67. Fedianti, D., Isnanto, & Prasetyowati, S. 2021. Gambaran Pengetahuan Tentang Menyikat Gigi Yang Baik dan Benar Pada Siswa SMP Wachid Hasjim 5 Surabaya Tahun 2020. Indonesian Journal Of Health and Medical, 1(1), 7884.http://ijohm.rcipublisher.org/index.php/ijohm/article/view/16 Gantina, D. putri; S. S. (2017). Gambaran Pengetahuan Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Anak Kelas IV Di SD 1 Demak Ijo. Journal of Oral Health Care, 5(1), 01–09. Herijulianti, S., Pendidikan Kesehatan Hidayat, M., & Dahliana, L. (2021). Efektivitas Dua Tipe Sikat Gigi terhadap Penurunan Indeks Plak pada Pasien Ortodonti Cekat dengan Teknik Penyikatan Horizontal , Vertikal , dan Roll. 3(2), 114–126. Indah,.P.S. N. I., (2018), Gambaran OHI-S Serta Tingkat Pengetahuan Tentang Kebersihan Gigi Dan Mulut Pada Siswa Kelas IV Dan V SDN 4 Sibang Kaja, (Doctoraldissertation, Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar, http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/564/2/BAB%20II.pdf.diakses tanggal 6 Februari 2021 pukul 20.00 WIB June, W. 2018. Penggunaan Fluoride Dalam Pasta Gigi Untuk Anak Usia Dini. May, 0–3.https://www.researchgate.net/profile/WindriJune/publication/325202823_Penggunaan_Fluoride_Dalam_Pasta_Gigi_Untuk_ A nak_Usia_Dini/links/5afd8a41458515e9a5e21d72/Penggunaan-FluorideDalam- Pasta-Gigi-Untuk-Anak-Usia-Dini.pdf Keloay, P., Mintjelungan, C. N., dan Pangemanan, D. H. (2019). Gambaran Teknik Menyikat Gigi dan Indeks Plak pada Siswa SD GMIM Siloam Tonsealama. eGiGi, 7(2). https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/egigi/article/view/24143 diakses 26 maret 2021 pukul 20.00 WIB Khulwani, Q. W., Nasia, A. A., Nugraheni, A., & Utami, A. (2021). Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Kesehatan Gigi dan Mulut Terhadap Status Karies Siswa SMP Negeri 1 Selogiri, Wonogiri. E-GiGi, 9(1), 41– 44. https://doi.org/10.35790/eg.9.1.2021.32570 Listrianah. (2017). Hubungan Menyikat Gigi dengan Pasta Gigi yang Mengandung Herbal terhadap Penurunan Skor Debris pada Pasien Klinik Gigi An-Nisa Palembang. Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Palembang, 12, 83–94. Nagauleng, A., & Studi DIII Kesehatan Gigi STIKES Muhammadiyah Sidrap Alamat Korespondensi, P. (2018). Pengetahuan Ibu Tentang Pemeliharaan Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Anak. JIKI Jurnal Ilmiah Kesehatan IQRA, 6(1), 2089–9408. Notoatmodjo, soekidjo ( 2011 ). Promosi Kesehatan dan Prilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Hal 11 Notoatmodjo, ( 2012 ). Promosi Kesehatan dan Prilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Hal 11 dan 12 25 Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 3 No 4 Oktober 2023, E-ISSN: 2774-5244 Notoatmodjo, S. (2012). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Notoatmodjo, S. 2018. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi (3 ed). Jakarta: PT RINEKA CIPTA. Jakarta. Hal 17 Nugroho, L. S., Femala, D., & Maryani, Y. (2019). Dental Therapist Journal. 1(1), 44– 51. Pratiwi, Donna, S.,,2007. Gigi Sehat, hal. 28,46. PT Kompas Media Nusantara. Jakarta. Priyambodo, R. A., & Musdalifa. 2019. Pengaruh Kekakuan Bulu Sikat Gigi Terhadap Penurunan Jumlah Indeks Plak Pada Anak Sekolah Dasar Kecamatan Iwoimenda Kabupaten Kolaka. 45(45), 95– 98.https://doi.org/10.36082/jdht.v2i2.357 Pusdatin. (2019). Situasi Kesehatan Gigi dan Mulut. Syah, M. 2007. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya. Putri, V. S., Maimaznah, (2021), Efektifitas Gosok Gigi Massal Dan Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Anak Usia 7-11 Tahun Di SDN 174 Kel. Murni Kota Jambi, Jurnal Abdimus Kesehatan (JAK), 3(1), 63-71 http://jak.stikba.ac.id/index.php/jak/article/view/152 diakses 6 Februari 2021 pukul 12.50 WIB Rachmawati, A., Sulastri, S., & Almujadi. (2019). Perbedaan Efektifitas Menyikat Gigi Menggunaka Kayu Siwak Dengan Sikat Gigi Konvensional Terhadap Penurunan Debris Indeks Siswa MI Ma,arif Candran Yogyakarta. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, 4(2), 19–20. Rahmadhani, Y, (2020), Gambaran Lama Waktu Menyikat Gigi Dan Status Kebersihan Gigi Dan Mulut Murid SD Kelas 1 Dan 2 Di SD Negeri Tegal yasa, (Doctoral dissertation, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta) http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/3222/4/Chapter%202.pdf, diakses tanggal P Ria, N. 2019. Pengetahuan Pemilihan Sikat Gigi Terhadap Nilai Kebersihan Gigi Dan Mulut Pada Siswa-Siswi Kelas II C SMP Negeri 31 Jl. Jamin Ginting Km 13,5 Medan. Jurnal Ilmiah PANNMED (Pharmacist, Analyst, Nurse Nutrition, Midwivery, Environment, Dentist), 13(2), 156–158. https://doi.org/10.36911/pannmed.v13i2.406 Reza. F. P., 2010. Gambaran Pengetahuan Kebersihan Gigi dan Mulut Ditinjau dan Menyikat Gigi Pada Murid Kelas V dan VI SD Negeri NO 18 banda Aceh Tahun 2010,, Karya Tulis Ilmiah untuk mendapat gelar Amkg., Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Aceh, 2007, hal. 2. Ruminem, Pakpahan, R. A., & Sapariyah, S. 2019. Gambaran Konsumsi Jajanan dan Kebiasaan Menyikat Gigi Pada Siswa Yang Mengalami Karies Gigi di SDN 007 Sungai Pinang Samarinda. Kesehatan Pasak Bumi Universitas Mulawarman, 2(2), 68.http://dx.doi.org/10.30872/j.kes.pasmi.kal.v2i2.3501 Salamah, Masyitah, H., Isnani, Maulita, I., Mutia, & Khairani. (2020). Penyuluhan Cara Menyikat Gigi Yang Benar Di Tk Dayah Isyrafi Darussa’Dah Alue Kecamatan Bandar Baru Kabupaten Pidie Jaya Counseling the True Dental Brushing At Tk Dayah Isyrafi Darussa’Dah Alue Kecamatan Bandar Baru Pidie Jaya District. Jurnal Pengabdian Masyarakat (Kesehatan), 2(1), 69–72. 26 Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 3 No 4 Oktober 2023, E-ISSN: 2774-5244 http://www.jurnal.uui.ac.id/index.php/jpkmk/article/view/920 Salsabila, M. A., Hidayati, S., Suharnowo, H., & Ibu, P. (2021). GIGI ANAK USIA SEKOLAH DI KELURAHAN KRATON KABUPATEN BANGKALAN TAHUN 2020. 2(2), 254–265. Santi, A. U. P., & Khamimah, S. 2019. Pengaruh Cara Menggosok Gigi Terhadap Karies Gigi Anak Kelas IV Di SDN Satria Jaya 03 Bekasi.https://jurnal.umj.ac.id/index.php/SEMNASFIP/article/view/5109 Sistiani, N. Z., Nurhayati, Y., & Kanita, W. M. (2019). Hubungan Kebiasaan Menggosok Gigi Pada Anak Usia 9 Tahun Dengan Kejadian Karies Gigi di SD Djama’atul Ichwan Surakarta. Digital Library Universitas Kusuma Husada Surakarta, 13, 1–8. Suryani, L. (2018). Gambaran Menyikat Gigi Terhadap Tingkat Kebersihan Gigi Dan Mulut Pada Murid Kelas V Di Min 9 Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh. BIOTIK: Jurnal Ilmiah Biologi Teknologi Dan Kependidikan, 5(2), 149. https://doi.org/10.22373/biotik.v5i2.3024 27