JIPFRI. Vol. 8 No. Halaman: 98-110 November 2024 JIPFRI (Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika dan Riset Ilmia. https://doi. org/10. 30599/jipfri. Pengembangan E-modul Multimedia Interaktif Berbasis Model Visual Auditory Kinesthetic untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Penguasaan Materi Fisika Putri Rose Amanda Puri*. Yusman Wiyatmo Program Studi Pendidikan Fisika. Universitas Negeri Yogyakarta Jl. Colombo Yogyakarta No. Karang Malang. Caturtunggal. Depok. Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta 55281. Indonesia * E-mail: putrirose. 2020@student. Abstrak Dalam pembelajaran fisika, salah satu keterampilan yang diperlukan ialah keterampilan proses sains (KPS) karena dapat mempengaruhi tingkat penguasaan materi fisika peserta didik. Namun. KPS dan penguasaan materi fisika peserta didik masih rendah sehingga dilakukannya penelitian ini dengan tujuan menghasilkan e-modul multimedia interaktif fisika berbasis model Visual Auditory Kinesthetic (VAK) yang layak, praktis, dan efektif dalam meningkatkan KPS dan penguasaan materi fisika peserta didik. Metode penelitian R&D dengan desain penelitian 4D digunakan dalam penelitian ini. Kelayakan media dinilai oleh satu dosen ahli dan satu praktisi, kepraktisan media diperoleh dari respon peserta didik terhadap media, dan keefektifan media diukur menggunakan PretestPosttest Control Group design. Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Sanden dengan melibatkan peserta didik kelas XI sebagai sampel penelitian. Adapun teknik analisis data yang digunakan meliputi SBi. PA. N-Gain, uji MannWhitney, dan effect size. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul sangat layak, praktis, dan efektif dalam meningkatkan KPS dengan N-gain sebesar 0,47 . dan effect size sebesar 0,136 . serta penguasaan materi dengan N-Gain sebesar 0,31 . dan effect size sebesar 0,143 . angat tingg. Kata kunci: E-modul Multimedia Interaktif. VAK. KPS. Penguasaan Materi. Abstract In physics learning, one of the skills needed is science process skills (KPS) because it can affect the level of mastery of physics material of students. However, the KPS and mastery of physics material of students are still low so that this research is carried out with the aim of producing physics interactive multimedia e-module based on the Visual Auditory Kinesthetic (VAK) model that are feasible, practical, and effective in improving KPS and mastery of physics material of students. R&D research method with 4D research design was used in this research. The feasibility of the media was assessed by one expert lecturer and one practitioner, the practicality of the media was obtained from students' responses to the media, and the effectiveness of the media was measured using the Pretest-Posttest Control Group design. This research was conducted on February 12 - March 15, 2024 at SMA N 1 Sanden involving class XI students as research samples. The data analysis techniques used include SBi. PA. N-Gain. Mann-Whitney test, and effect size. The results showed that the e-module was very feasible, practical, and effective in improving KPS with an N-gain of 0. and an effect size of 0. and mastery of material with an N-Gain of 0. and an effect size of 0. ery hig. Keywords: Interactive Multimedia E-module. VAK. KPS. Material Mastery. PENDAHULUAN Untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan tuntutan zaman, pembelajaran selalu melibatkan interaksi pendidik, peserta didik, dan perangkat pembelajaran. Memasuki abad p-ISSN 2549-905X. -ISSN 2549-9076 21, pembelajaran saat ini mengarah pada kegiatan untuk melatih keterampilan peserta didik (Syavira et al. , 2. Untuk mencapai tuntutan pembelajaran abad 21, pemerintah melakukan upaya perbaikan mutu pendidikan salah satunya dengan penerapan Kurikulum Merdeka. Pembelajaran Universitas Nurul Huda Pengembangan E-modul Multimedia Interaktif Berbasis Model Visual . Putri Rose Amanda Puri. Yusman Wiyatmo Kurikulum Merdeka menjadikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran sehingga sangat relevan dengan keterampilan abad 21 (Maulidia et al. , 2. Penerapan Kurikulum Merdeka ini dapat menjadi peluang besar agar kualitas pendidikan di Indonesia dapat meningkat. Fisika merupakan salah satu ilmu yang diterapkan secara nyata sehingga diperlukan KPS peserta didik dalam menguasainya. Kemampuan mengaplikasikan metode ilmiah dikenal sebagai KPS. (Chen et al. , 2. KPS menjadi keterampilan khusus yang diperlukan untuk pembelajaran (Aldila et al. , 2. Namun, faktanya KPS peserta didik tergolong rendah. KPS peserta didik yang tergolong rendah terlihat dari hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian Darmaji et al . menunjukkan perlu dilakukan upaya perbaikan dengan memilih model dan sumber belajar disesuaikan dengan preferensi peserta didik karena KPS peserta didik pada pembelajaran fisika masih tergolong rendah pada indikator meramalkan, mengukur, mengkomunikasikan, mengenali dan menjelaskan variabel, merumuskan jawaban sementara, serta menganalisis Keterampilan proses sains pada indikator memperhatikan, mengajukan dugaan, menyusun penyelidikan, menguraikan data hasil penyelidikan, meramalkan, menerapkan ide, dan mengkomunikasikan sebagian besar peserta didik masih kurang. (Siswanto et al. Kurangnya sarana dan kegiatan praktikum menjadi salah satu penyebab rendahnya KPS peserta didik (Aswar, 2. Wawancara peneliti dengan guru fisika SMA N 1 Sanden menunjukkan jarang dilakukannya kegiatan praktikum fisika karena sarana serta prasarana laboratorium fisika yang kurang akibat kurangnya perawatan sehingga banyak alat yang rusak dan peserta didik kurang aktif dalam proses pembelajaran yang berakibat pada KPSnya yang tergolong rendah. KPS dapat mempengaruhi penguasaan peserta didik terhadap materi fisika yang Hasil penelitian Aini et al . dan Hardiyanto et al . mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh KPS terhadap kemampuan kognitif fisika. Oleh karena itu. KPS mengindikasikan seberapa baik peserta didik dalam menguasai topik fisika. Tujuan pembelajaran fisika dapat tercapai apabila peserta didik mampu menguasai materi. Akan tetapi, penelitian Halmuniati et al . menunjukkan dominasi hasil belajar fisika SMA Negeri 9 Kendari masih rendah dibuktikan dengan nilai tes fisika belum memenuhi KKM. Permasalahan juga dihadapi oleh peserta didik SMA N 1 Galur, yakni rendahnya penguasaan materi pembelajaran fisika yang ditandai dengan capaian KKM yang masih terbilang rendah (Dhitatama & Astono. Hasil penelitian Kawuri et al . juga membuktikan hanya 40% peserta didik dari salah satu kelas di SMA N 1 Piyungan yang mampu memenuhi KKM dalam penilaian mata pelajaran fisika. Wawancara dengan guru fisika SMA N 1 Sanden juga menunjukkan hasil belajar fisika cukup rendah, terbukti dengan hanya separuh peserta didik yang dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan. Peserta didik perlu terlibat aktif dalam proses pembelajaran fisika. Keberhasilan ditentukan salah satunya oleh keaktifan peserta Pembentukan pengetahuan baru dapat terlaksana secara efektif apabila peserta didik menjadi pusat pembelajaran (Nurpriatna et al. Namun, hasil observasi yang dilakukan di SMA N 1 Sanden menyiratkan pembelajaran fisika cenderung dilakukan dengan metode tanya jawab dengan guru sebagai pusat perhatian padahal karakteristik peserta didik Peserta didik akan mengalami kesulitan memahami materi apabila guru karakteristik yang dimiliki peserta didik yang berakibat rendahnya hasil belajar (Septianti & Afiani, 2. Senada dengan Asmin et al . yang membuktikan hasil belajar fisika menggunakan pembelajaran konvensional tergolong rendah. Hasil belajar fisika yang rendah dikarenakan peserta didik mengantuk dan kurang tertarik serta kurang aktif dalam pembelajaran fisika akibat pelaksanaan pembelajaran secara konvensional (Kawuri et , 2. Keberagaman karakteristik yang dimiliki peserta didik harus menjadi acuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. https://doi. org/10. 30599/jipfri. JIPFRI (Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika dan Riset Ilmia. Vol. 8 No. November 2024 Guru sebagai pendidik dituntut untuk memahami keragaman karakteristik peserta Penggunaan media dan metode yang disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik menentukan keefektifan pembelajaran (Rahmi & Samsudi, 2. Namun, guru sering kali tidak menjadikan beragamnya gaya belajar sebagai dasar untuk menentukan penggunaan media pembelajaran (Dewantara et al. , 2. Terdapat tiga jenis gaya belajar, yakni kinestetik, auditori, dan visual (Azis et al. Melalui model Visualization. Auditory. Kinesthetic (VAK), perbedaan gaya belajar mampu diakomodasi. Model VAK mampu memfasilitasi perbedaan gaya belajar peserta didik. Hariyani dan Sejati . menyatakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran VAK lebih efektif karena melibatkan ketiga gaya belajar. Namun, pengembangan media pembelajaran yang dapat memenuhi ketiga jenis gaya belajar. Emodul multimedia interaktif menjadi salah satu media pembelajaran yang mampu melibatkan ketiga jenis gaya belajar dan sesuai dengan perkembangan teknologi serta tuntutan pendidikan terkini. Sejalan dengan MaAoruf et al . , multimedia interaktif sangat dibutuhkan sesuai dengan tuntutan pendidikan abad 21, khususnya pada pembelajaran fisika. Selain itu, e-modul multimedia interaktif memuat berbagai keberagaman gaya belajar (Rambe & Yarni. Peserta didik dengan gaya belajar kinestetik dapat terfasilitasi melalui fitur games turnamen, kuis, simulasi, dan LKPD praktikum fisika yang terdapat dalam e-modul. E-modul juga memuat musik relaksasi dan audio podcast penjelasan materi untuk memfasilitasi peserta didik dengan gaya belajar auditori. Untuk memfasilitasi peserta didik dengan gaya belajar visual, e-modul didesain secara menarik, penuh warna, rapi, dan dilengkapi dengan media interaktif video dan gambar. Pengalaman dibutuhkan peserta didik dalam mempelajari materi fluida statis. Sejalan dengan Pratiwi dan Nurhidayati . yang mengungkapkan dalam pembelajaran fluida statis, diperlukan keterlibatan aktif peserta didik dengan https://doi. org/10. 30599/jipfri. memberikan pengalaman belajar langsung. Pembelajaran fluida statis perlu didukung pengalaman belajar langsung dapat diperoleh peserta didik (Romadona et al. , 2. Selain itu, pemanfaatan TIK seperti multimedia interaktif dalam bentuk simulasi dapat membantu peserta didik untuk menguasai fluida statis (Kurniawan et al. , 2. Materi fluida statis dalam e-modul multimedia interaktif dapat disampaikan melalui beragam metode yang melibatkan peserta didik secara langsung sehingga mampu meningkatkan KPS dan penguasaan materi. Pengembangan e-modul multimedia interaktif berbasis model VAK merupakan inovasi pembelajaran yang relevan untuk meningkatkan KPS dan penguasaan materi Hal ini relevan dengan beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Hasil penelitian oleh Junaeti et al . menunjukkan persepsi peserta didik terhadap multimedia interaktif yang dikembangkan sangat baik dan media dapat memberikan kemampuan kognitif berupa pemahaman materi peserta didik. Hasil penelitian Putra dan Sujarwanto . juga menunjukkan secara umum bahan ajar multimedia interaktif dapat meningkatkan keterampilan proses sains peserta didik secara signifikan. Selain itu, hasil penelitian Herayanti et al . memaparkan bahan ajar fisika berbasis model VAK yang dikembangkan termasuk dalam kategori sangat valid dan dapat meningkatkan keterampilan proses sains peserta didik. Tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran fisika dapat diatasi melalui e-modul multimetdia interaktif VAK menggabungkan elemen visual, auditori, dan kinestetik untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyeluruh. Dengan demikian, emodul tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi juga sebagai media yang memperkuat keterlibatan peserta didik dalam proses ilmiah secara aktif, sesuai dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21. Pengembangan E-modul Multimedia Interaktif Berbasis Model Visual . Putri Rose Amanda Puri. Yusman Wiyatmo METODE/EKSPERIMEN Metode penelitian R&D dengan desain 4D oleh Maydiantoro . digunakan dalam penelitian ini. Gambar 1 menunjukkan alur yang dilakukan dalam penelitian ini. Gambar 1. Alur Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 12 Februari Ae 15 Maret tahun ajaran 2023/2024 di SMA N 1 Sanden. Terdapat 30 peserta didik kelas XI A terlibat dalam penelitian sebagai sampel uji coba terbatas. Selain itu, 34 dan 31 peserta didik kelas XI F dan XI D dilibatkan dalam penelitian sebagai kelompok eksperimen dan kontrol pada uji coba luas. Pemilihan kelas tersebut didasarkan pada teknik cluster random Berikut ini penjelasan dari setiap tahapan penelitian. Pertama, tahap pendefinisian dilakukan untuk menentukan tujuan dan batasan Selanjutnya, tahap design yang dilakukan dengan merancang produk e-modul multimedia interaktif berbasis model VAK meliputi pemilihan media dan format media. Tahap ketiga, yakni tahap develop untuk menghasilkan e-modul yang layak menurut satu validator ahli dan satu praktisi. Pada tahap ini, e-modul juga diuji coba secara terbatas dan diperbaiki berdasarkan respon peserta didik yang berjumlah 30 peserta didik. Kemudian dilakukan uji coba luas dengan cara kuasi Desain yang digunakan ialah Pretest-Posttest Control Group design. Tabel 1 berikut menunjukkan ilustrasi desain penelitian. Tabel 1. Desain Pretest Posttest Control Group (Rukminingsih et al. , 2. Tahap terakhir, tahap penyebaran, bertujuan untuk menyebarluaskan produk e-modul yang telah layak, praktis, dan efektif untuk meningkatkan KPS dan penguasaan materi Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan teknik tes untuk mengukur peningkatan KPS dan penguasaan materi fisika serta teknik non tes untuk mengetahui permasalahan dalam pembelajaran fisika. Instrumen yang digunakan, yaitu soal pretest & posttest, lembar kelayakan, serta angket Kemudian, data dianalisis secara deskriptif dan inferensial mengunakan SBi. Percentage of Agreement (PA), standar Gain, uji Mann-Whitney, dan analisis keefektifan produk menggunakan effect size. Untuk mengetahui kelayakan e-modul multimedia interaktif dan respon peserta didik e-modul. Simpangan Baku ideal (SB. Kriteria penilaian berdasarkan nilai SBi dapat dilihat pada Tabel Tabel 2. Kriteria Penilaian Simpangan Baku ideal (Mardapi, 2012 :. Rentang Skor Kuantitatif ycU Ou ycAycn 1,5 ycIyaAycn ycAycn 1,5 ycIyaAycn > ycU Ou ycAycn ycAycn > ycU Ou ycAycn Oe 1,5 ycIyaAycn ycAycn Oe 1,5 ycIyaAycn > ycU Kategori Sangat Layak Layak Kurang Layak Tidak Layak Analisis standar gain digunakan untuk mengetahui peningkatan keterampilan proses sains dan penguasaan materi peserta didik sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran e-modul multimedia interaktif fisika berbasis model pembelajaran VAK yang Tabel 3 menyajikan interpretasi dari nilai gain yang diperoleh. https://doi. org/10. 30599/jipfri. JIPFRI (Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika dan Riset Ilmia. Vol. 8 No. November 2024 Tabel 3. Interpretasi Nilai Gain (Hake, 1. Nilai Gain G Ou 0,7 0,7 > G Ou 0,3 G < 0,3 Kualifikasi Tinggi Sedang Rendah Selanjutnya, hasil yang diperoleh dengan menggunakan standar gain dianalisis menggunakan uji normalitas. Data berdistribusi normal apabila nilai signifikansi yang didapatkan dari uji normalitas KolmogorovSmirnov dan Shapiro-Wilk lebih dari 0,05. Apabila data tidak berdistribusi normal, analisis keefektivitasan dilakukan menggunakan uji statistik non prametrik dengan uji MannWhitney. Adapun keputusannya, yakni apabila yaycycycoycy. ycIycnyci. Ae ycycaycnycoyceyc. O yu . , terdapat perbedaan nilai dari kelas eksperimen dan kelas kontrol. Setelah itu, dilakukannya uji effect size. Uji effect size dilakukan untuk mengetahui signifikansi praktis hasil penelitian berupa pengaruh suatu variabel pada variabel Penelitian ini menggunakan uji effect size eta-squared untuk mengukur efektivitas penerapan e-modul multimedia interaktif berbasis model pembelajaran VAK terhadap keterampilan proses sains dan penguasaan materi peserta didik. Hal ini dikarenakan nilai eta-squared mewakili persentase varians dalam peringkat yang diperhitungkan oleh Hasil perhitungan effect size diinterpretasikan berdasarkan Tabel 4 berikut. Tabel 4. Klasifikasi Effect Size (Cohen et al. 2007 : . yuC2 Ou 0,14 yuC2 Ou 0,06 yuC2 Ou 0,01 Interpretasi Sangat Tinggi Sedang Sangat Rendah HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian ini dipaparkan sebagai data kualitatif dan Komentar dan rekomendasi pada lembar hasil validasi dan kelayakan e-modul multimedia interaktif merupakan data kualitatif yang digunakan sebagai bahan perbaikan. HASIL Hasil https://doi. org/10. 30599/jipfri. bertahap sesuai dengan desain 4D. Tahap define, hasil analisis awal menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka digunakan untuk kelas X dan XI SMA N 1 Sanden, sedangkan kelas XII SMA N 1 Sanden menggunakan Kurikulum 2013 revisi, metode ceramah sering digunakan guru fisika dalam melaksanakan pembelajaran, dan kegiatan praktikum fisika jarang dilaksanakan serta keterlibatan aktif peserta didik dalam pembelajaran masih kurang sehingga masih tergolong rendah. Hasil belajar fisika juga cukup rendah karena hanya separuh peserta didik yang dapat memenuhi standar. Hasil analisis juga menunjukkan peserta didik tidak akan kesusahan dalam mempelajari materi yang terdapat pada media pembelajaran e-modul multimedia interaktif berdasarkan teori perkembangan kognitif anak Piaget. Selain itu, menurut hasil observasi, keterlibatan peserta didik SMA N 1 Sanden pada kegiatan pembelajaran fisika masih tergolong kurang yang menyebabkan materi yang disampaikan guru susah diterima peserta didik dengan maksimal sehingga akan berpengaruh pada keterampilan proses sains dan penguasaan Oleh karena itu, e-modul ini dapat digunakan sebagai media untuk menunjang pembelajaran fisika yang melibatkan partisipasi pembelajaran karena disesuaikan dengan karakteristiknya masing-masing. Selanjutnya, tahap design diawali dengan pemilihan media berupa e-modul multimedia interaktif berbasis model VAK. Setelah itu, melakukan pemilihan format dan desain awal dari media tersebut. Format pengembangan e-modul dengan sintaks model VAK menurut Rukmana et al . , yakni persiapan, penyampaian, pelatihan, dan penampilan hasil. Pengembangan produk juga disesuaikan dengan karakteristik e-modul sepeti self instructional, self contained, user friendly, dan adaptive (Kosasih, 2022 : 20-. Selain itu, format pengembangan e-modul disesuaikan dengan karakteristik multimedia interaktif yang baik yang disampaikan oleh Ariyanti et al . , meliputi . tampilan menarik, . materi disampaikan dengan jelas, . mudah dipahami, . peserta didik dapat berpartisipasi aktif, . mandiri, dan . sesuai Pengembangan E-modul Multimedia Interaktif Berbasis Model Visual . Putri Rose Amanda Puri. Yusman Wiyatmo dengan karakteristik peserta didik. E-modul multimedia interaktif ini dapat diakses peserta didik melalui website baik menggunakan smartphone maupun laptop dengan tautan https://bit. ly/3ZzR3m7. Hal ini memudahkan peserta didik dalam mengakses e-modul di mana pun dan kapan pun selama terdapat jaringan internet. Gambar 2 menyajikan beberapa contoh hasil dari tahap desain. Namun, sebelum dilakukan analisis SBi, skor yang diperoleh diubah menjadi interval terlebih dahulu menggunakan Metode Suksesif Interval (MSI) dengan batuan Microsoft Office Excel. Adapun hasil kelayakan media e-modul disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Analisis Kelayakan E-Modul Multimedia Interaktif Aspek RataRata Keterangan Isi Skor RataRata Ahli Praktisi Kebahasaan Penyajian Kemudahan Penggunaan Total Rata-Rata Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Berdasarkan analisis kelayakan e-modul kelayakan e-modul berdasarkan penilaian ahli dan praktisi sebesar 4 yang tergolong pada kategori sangat layak menurut kriteria Simpangan Baku ideal (SB. (Mardapi, 2012 : Diketahui pula PA sebesar 100% yang artinya e-modul memiliki tingkat kecocokan penilaian yang sangat tinggi antar validator. Dengan demikian, e-modul sangat layak digunakan untuk uji coba terbatas. Gambar 2. Beberapa Contoh Hasil dari Tahap Desain Setelah tahap desain, dilakukannya tahap develop untuk menghasilkan e-modul yang layak. Pada tahap ini, e-modul multimedia interaktif dinilai kelayakannya oleh satu dosen ahli dan satu praktisi. Dosen ahli ialah dosen pendidikan fisika, sedangkan praktisi ialah guru fisika SMA. Selanjutnya instrumen penelitian diuji coba secara terbatas dengan 30 responden, direvisi berdasarkan angket respon, dan diujicobakan secara luas kepada 65 peserta didik. Kelayakan media e-modul dianalisis menggunakan Simpangan Baku ideal (SB. Pada uji coba terbatas, e-modul diujikan pada peserta didik untuk mendapatkan respon yang akan digunakan sebagai revisi sebelum dilakukannya uji coba luas. Tabel 6 memaparkan hasil analisis respon peserta didik terhadap e-modul. Tabel 6. Analisis Respon Peserta Didik Terhadap Media Pembelajaran Aspek Penilaian Isi Kebahasaan Penyajian Kemudahan Penggunaan Total Rata-Rata Skor 3,742 3,862 3,695 3,889 Keterangan Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak 3,797 Sangat Layak Dari Tabel 3, diketahui hasil rerata dari setiap aspek penilaian respon peserta didik terhadap e-modul tergolong sangat layak karena bernilai lebih dari 3,25. Dapat disimpulkan bahwa emodul sangat layak digunakan dalam uji coba https://doi. org/10. 30599/jipfri. JIPFRI (Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika dan Riset Ilmia. Vol. 8 No. November 2024 Dilakukan keterampilan proses sains dan penguasaan materi menggunakan N-gain pada uji coba Hasil analisis peningkatan keterampilan proses sains peserta didik dipaparkan pada Tabel 7. Tabel 7. Analisis Peningkatan Keterampilan Proses Sains Kelas Peningkat -an NGain Keterangan Eksperimen Rata-Rata Tes Pre- Posttest 4,31 6,99 0,47 Sedang Kontrol 3,19 0,25 Rendah 4,95 Tabel 7 menunjukkan kelas eksperimen memiliki peningkatan keterampilan proses sains sebesar 27% dan besar N - Gain 0,47 yang tergolong sedang. Kelas kontrol mengalami peningkatan keterampilan proses sains sebesar 18% dan besar N-Gain 0,25 yang tergolong dalam kategori rendah. Berdasarkan peningkatan KPS peserta didik pada kelas eksperimen lebih besar apabila dibandingkan dengan kelas kontrol. Tabel 8 berikut penguasaan materi fisika. Tabel 8. Analisis Peningkatan Penguasaan Materi Fisika Kelas Peningkat NGain Keterangan Eksperimen Rata-Rata Tes Pre- Posttest 3,90 5,88 0,47 Sedang Kontrol 4,64 0,25 Rendah 5,52 Tabel 8 menunjukkan kelas eksperimen memiliki peningkatan nilai penguasaan materi sebesar 20% dan besar N - Gain 0,31 yang tergolong sedang. Sedangkan, kelompok kontrol memiliki peningkatan penguasaan materi sebesar 9% dan besar N - Gain 0,15 yang tergolong rendah. Berdasarkan hasil tersebut, diketahui peningkatan penguasaan materi fisika kelompok eksperimen lebih baik jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Analisis berikutnya ialah analisis respon peserta didik yang ditunjukkan Tabel 9. https://doi. org/10. 30599/jipfri. Tabel 9. Analisis Respon pada Uji Coba Luas Aspek Penilaian Isi Kebahasaan Penyajian Kemudahan Penggunaan Total Rata-Rata Skor 3,786 3,903 4,149 3,962 Keterangan Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak 3,950 Sangat Layak Dari Tabel 9, hasil rerata dari setiap aspek penilaian angket respon terhadap media tergolong sangat layak karena bernilai lebih dari 3,25. Dapat diperoleh kesimpulan bahwa e-modul layak digunakan dalam pembelajaran Selanjutnya, statistik inferensial dengan menguji prasyarat Tabel 10 menunjukkan hasil uji normalitas peningkatan nilai KPS dan penguasaan materi fisika peserta didik. Tabel 10. Hasil Uji Normalitas Variabel Kelas Keterampilan Proses Sains Eksperimen Sig. Shapiro Wilk 0,000 Kontrol 0,001 Eksperimen Kontrol 0,068 0,000 Penguasaan Materi Keterangan Tidak Normal Tidak Normal Normal Tidak Normal Dari Tabel 10, diketahui terdapat kelas yang tidak berdistribusi normal karena Sig. Shapiro Wilk kurang dari 0,05 sehingga uji MannWhitney digunakan pada penelitian ini. Tabel 11 di bawah ini menyajikan hasil uji MannWhitney. Tabel 11. Hasil Uji Mann-Whitney Variabel Keterampilan Proses Sains Penguasaan Materi yaycycycoycy. ycIycnyci. Ae ycycaycnycoyceyc. 0,003 0,002 Keterangan Terdapat Terdapat Tabel 11 menunjukkan nilai signifikansi pada yaycycycoycy. ycIycnyci. Ae ycycaycnycoyceyc. < 0,05, yakni sebesar 0,003 untuk variabel KPS dan 0,002 untuk variabel penguasaan materi. Hal ini menunjukkan H0 ditolak sehingga terdapat perbedaan peningkatan nilai KPS dan penguasaan materi fisika antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Penelitian ini juga menggunakan uji Pengembangan E-modul Multimedia Interaktif Berbasis Model Visual . Putri Rose Amanda Puri. Yusman Wiyatmo effect size eta-squared untuk mengukur e-modul meningkatkan KPS dan penguasaan materi Hasil uji effect size eta-squared dipaparkan dalam Tabel 12. Tabel 12. Analisis Uji Effect Size eta-squared Variabel Keterampilan Proses Sains Penguasaan Materi Eta Squared 0,136 Keterangan Sedang 0,143 Sangat Tinggi Tabel 12 menunjukkan e-modul efektif dalam meningkatkan KPS dan penguasaan materi fisika. Pengaruh e-modul terhadap KPS sebesar 0,136 yang tergolong sedang. Kemudian e-modul terhadap penguasaan materi fisika sebesar 0,143 yang tergolong sangat tinggi. Dengan demikian, emodul efektif dalam meningkatkan KPS dan penguasaan materi fisika. Tahap terakhir dari desain 4D ialah tahap (Disseminat. memberikan e-modul multimedia interaktif pada peserta didik dan guru fisika kelas XI di SMA N 1 Sanden dalam bentuk tautan website. Penyebarluasan e-modul juga dilaksanakan dengan mempublikasikan dalam e-journal. Hal ini bertujuan untuk memberikan inovasi tentang media pembelajaran berbasis teknologi. PEMBAHASAN Kelayakan Produk Produk yang dikembangkan berupa emodul dinilai kelayakannya oleh validator ahli dan praktisi. Adapun nilai rerata kelayakan media yang diperoleh pada semua aspek meliputi aspek isi, kebahasaan, penyajian, dan kemudahan penggunaan sebesar 4 yang tergolong sangat layak menurut (Retnawati. Hal ini berarti bahwa media e-modul multimedia interaktif telah sesuai dengan tujuan sistematis, lengkap, dan jelas. bahasa yang digunakan sederhana, komunikatif, dan sesuai dengan EYD. mudah diakses. serta sesuai dengan perkembangan IPTEK. Sejalan dengan Kosasih . 2 : 20-. yang menyampaikan bahwa modul yang dikembangkan harus memuat tujuan pembelajaran yang jelas, materi yang lengkap dan sistematis sesuai dengan hierarki keilmuan, menggunakan bahasa yang sesuai PUEBI dan komunikatif, mudah digunakan oleh peserta didik, serta sesuai dengan perkembangan zaman. Kristanto . 6 : . juga mengungkapkan bahwa pendidik harus menggunakan media yang mengikuti perkembangan IPTEK. E-modul ini dapat menjadi alternatif media yang adaptif sesuai dengan perkembangan IPTEK. E-modul multimedia interaktif yang dikembangkan juga memiliki tampilan yang menarik dan dapat mendorong peserta didik Selain itu, media interaktif untuk memfasilitasi PBM berupa gambar, musik relaksasi, audio podcast, video dari YouTube, kuis, games turnamen, simulasi PhET, dan LKPD praktikum yang disajikan pada e-modul multimedia interaktif dapat memfasilitasi perbedaan karakteristik peserta didik. Ariyanti et al . menyatakan bahwa multimedia interaktif yang baik memiliki karakteristik tampilan menarik, materi disampaikan dengan jelas, mudah dipahami, mengutamakan keaktifan peserta didik, mandiri, dan selaras dengan karakteristik peserta didik. Dengan demikian, e-modul multimedia interaktif yang dikembangkan telah memenuhi karakteristik multimedia interaktif yang baik. Kegiatan pembelajaran dalam e-modul juga telah dirancang sesuai dengan sintaks model VAK, sesuai dengan indikator KPS dan penguasaan materi dalam ranah kognitif (C1 Ae C. , serta sesuai dengan materi fluida statis. Pratiwi Nurhidayati . mengungkapkan bahwa keterlibatan peserta didik secara aktif dengan memberikan diperlukan terutama dalam pembelajaran materi fluida statis. Dengan terpenuhinya sintaks model pembelajaran VAK, peserta didik langsung dengan berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran dan belajar sesuai dengan karakteristiknya (Budiyanto, 2016 : . Selain itu, pada uji coba terbatas, diperoleh nilai rerata keempat aspek berdasarkan respon peserta didik sebesar 3,797. Hasil tersebut berdasarkan standar penilaian SBi menurut (Mardapi, 2012 : . tergolong sangat layak https://doi. org/10. 30599/jipfri. JIPFRI (Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika dan Riset Ilmia. Vol. 8 No. November 2024 8,00 6,00 6,99 4,95 4,31 4,00 3,19 2,68 1,76 2,00 penyampaian materi dengan memuat berbagai media interaktif seperti gambar, musik relaksasi, audio podcast, video dari YouTube, kuis, games turnamen, simulasi PhET, dan LKPD praktikum sehingga peserta didik dapat belajar sesuai dengan karakteristiknya dan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Sejalan dengan W. Putri et al . , kegiatan praktikum dapat mengoptimalkan KPS. Hasil penelitian Makiyah et al . dan Warsinah et al . juga menunjukkan pembelajaran berbasis LKPD fenomena virtual mengoptimalkan KPS. Dengan demikian, emodul yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat meningkatkan KPS. Peningkatan Penguasaan Materi Peningkatan penguasaan materi fisika ditentukan berdasarkan perbandingan rerata pretest & posttest kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol yang dipaparkan dalam Gambar 4. Nilai Rata-Rata sehingga e-modul sangat layak untuk uji coba Kepraktisan Produk Kepraktisan produk dapat dilihat dari respon peserta didik kelompok eksperimen saat uji coba luas. Diperoleh skor rata-rata dari keempat aspek meliputi aspek isi, kebahasaan, penyajian, dan kemudahan penggunaan sebesar 3,95. Hasil tersebut berdasarkan kriteria penilaian SBi menurut (Mardapi, 2012 : tergolong sangat layak. Mashuri dan Budiyono . menyatakan kepraktisan media pembelajaran merujuk pada kelayakan media yang diimplementasikan di lapangan. Oleh karena itu, e-modul praktis digunakan untuk meningkatkan KPS dan penguasaan materi fisika. Peningkatan Keterampilan Proses Sains Peningkatan KPS berdasarkan perbandingan nilai rerata pretest dan posttest peserta eksperimen dengan kontrol yang dipaparkan pada Gambar 3. Nilai Rata-Rata 8,00 6,00 4,00 5,88 4,64 3,90 1,98 0,88 2,00 0,00 Eksperimen 0,00 Eksperimen Pretest Kontrol Kelas Posttest 5,52 Pretest Kontrol Kelas Posttest Peningkatan Peningkatan Gambar 3. Perbandingan Peningkatan KPS Gambar 4. Perbandingan Peningkatan Penguasaan Materi Fisika Perbandingan peningkatan rerata KPS kelompok eksperimen dan kontrol, yakni 2,68 dan 1,76. Berdasarkan analisis N-Gain, diketahui bahwa kelas eksperimen memiliki besar N - Gain 0,47 yang tergolong sedang. Sementara itu, kelas kontrol memiliki besar NGain 0,25 yang tergolong pada kategori Berdasarkan uji Mann-Whitney pada Tabel 8 diketahui nilai yaycycycoycy. ycIycnyci. Ae ycycaycnycoyceyc. untuk variabel keterampilan proses sains sebesar 0,003 sehingga terdapat perbedaan peningkatan nilai KPS antara kelompok eksperimen dengan kontrol. Peningkatan KPS yang dialami peserta didik dikarenakan e-modul menggunakan Perbandingan nilai peningkatan rerata eksperimen dan kontrol, yaitu 1,98 dan 0,88. Berdasarkan analisis N-Gain, peserta didik kelompok eksperimen memiliki besar N - Gain 0,31 yang tergolong sedang. Sementara itu, peserta didik kelompok kontrol memiliki besar N - Gain 0,15 yang tergolong rendah. Berdasarkan uji Mann-Whitney pada Tabel 8 diketahui besar yaycycycoycy. ycIycnyci. Ae ycycaycnycoyceyc. untuk variabel penguasaan materi sebesar 0,002 sehingga terdapat perbedaan peningkatan nilai penguasaan materi fisika antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Hal ini dikarenakan e-modul dapat memfasilitasi https://doi. org/10. 30599/jipfri. Pengembangan E-modul Multimedia Interaktif Berbasis Model Visual . Putri Rose Amanda Puri. Yusman Wiyatmo Nilai Eta Squared perbedaan karakteristik yang dimiliki peserta didik karena pusat pembelajaran berada pada peserta didik. Sejalan dengan Nurpriatna et al . , pembelajaran yang berfokus pada peserta didik . tudent centere. menyebabkan pembentukan pengetahuan terlaksana dengan lebih baik. Kristanto . 6 : . juga menjelaskan peserta didik akan mendapatkan manfaat yang besar jika menggunakan media yang sesuai dengan gaya belajarnya karena hasil belajar dipengaruhi oleh keterkaitan antara media pembelajaran yang digunakan dan karakteristik peserta didik. Selain itu. Rahmi dan Samsudi . juga menyatakan bahwa implementasi media dan metode yang selaras dengan gaya belajar peserta didiknya dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran. Oleh karena itu, media yang dikembangkan e-modul penguasaan materi fisika. Efektivitas Produk Keefektifan e-modul untuk meningkatkan KPS dan penguasaan materi fisika dapat diketahui melalui hasil uji effect size yang dilihat dari nilai eta square. Hasil analisis effect size dipaparkan pada Gambar 5. 0,15 0,136 0,143 melibatkan ketiga gaya belajar. Budiyanto . 6 : . juga mengungkapkan bahwa pembelajaran dapat berlangsung efektif melalui model VAK. Dapat diperoleh kesimpulan bahwa e-modul efektif untuk meningkatkan KPS dan penguasaan materi fisika. PENUTUP E-modul multimedia interaktif fisika berbasis model VAK yang dikembangkan layak, praktis, dan efektif dalam meningkatkan KPS serta penguasaan materi fisika peserta Sebaiknya dalam melaksanakan kegiatan praktikum, peserta didik dihadapkan pada masalah terbuka dan dilatih untuk menyajikan data hasil praktikum dalam bentuk grafik agar KPS peserta didik dapat meningkat lebih besar. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Universitas Negeri Yogyakarta dan SMA N 1 Sanden yang telah memberikan izin penelitian melalui surat dengan nomor : B/3842/UN34. 13/TU. 01/2024. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada pihak lain yang membantu terlaksananya penelitian ini. REFERENSI