65-78 PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah PGMI: JURNAL PENDIDIKAN GURU MADARASAH IBTIDAIYAH VOLUME: 3 NO: 2 TAHUN 2025 E-ISSN https://ejournal. id/index. php/pgmi/index IDENTIFIKASI KETERLAMBATAN SISWA DALAM MENUNTASKAN TARGET HAFALAN JUZ 30 DI MADRASAH IBTIDAIYAH Andryadi1. Azzah Aqila2. Misdarwati3. Yanti Isdahlia4. Hasmiyati Institut Agama Islam Yasni Bungo 1,2,3,4,5 Indonesia Email: andryadi228@gmail. Email: azzahaqila03@gmail. Email: mismisdarwati47@gmail. Email: yantiisdahlia@gmail. Email : haasmyti@gmail. Article history Submitted Accepted Published /06/2025 27/06/2025 28/06/2025 ABSTRACT The delay of students in completing the memorization of Juz 30 is something that should be considered, because it can potentially hinder the continuation of the student's memorization process and reduce the level of enthusiasm of students to continue the memorization caused by it. This study aims to determine what factors cause the delay, especially in the tahfidz class of Madrasah Ibtidaiyah Raudhatul Ma'arif. With a qualitative approach and case study method, data were obtained through interviews and direct observation. The results of the study showed that obstacles came from two sides, namely from within the students themselves and from their surroundings. From the internal side, students tend to be less consistent in repeating memorization, are not yet fluent in reading the Qur'an, and some are too ambitious to add to their memorization without strengthening what has been From the external side, lack of support from home, an unsupportive learning environment, peer influence, and excessive use of gadgets also slow down the memorization process. By understanding these various obstacles, it is hoped that all parties, both teachers, parents, and students themselves can be more sensitive and work together so that memorization of the Qur'an can run smoothly and enjoyably. Key Words: Memorization. Delay. Juz 30. Tahfidz ABSTRAK Keterlambatan siswa dalam menyelesaikan hafalan Juz 30 merupakan hal yang patut diperhatikan, karena bisa berpotensi menghambat kelanjutan proses hafalan siswa dan menurunkan tingkat semangat peserta didik untuk melanjutkan hafalan yang disebebkan . kajian ini memiliki tujuan agar dapat mengetahui berbagai faktor apa saja yang mengakibatkan keterlambatan tersebut, terutama di kelas tahfidz Madrasah Ibtidaiyah Raudhatul MaAoarif. Menerapkan pendekatan berupa kualitatif, disertai dengan penggunaan metode berupa studi kasus, data didapatkan dengan sejumlah dua teknik, yakni pelaksanaan wawancara serta observasi dengan cara langsung. Hasil pelaksanaan penelitian memperlihatkan bahwasanya hambatan datang dari dua sisi, yakni dari dalam siswa sendiri Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah serta dari lingkungan sekitarnya. Dari sisi internal, murid cenderung kurang konsisten dalam mengulang hafalan, belum lancar membaca Al-QurAoan, sekaligus ada yang terlalu berambisi menambah hafalan tanpa menguatkan yang sudah dihafal. Dari sisi eksternal, kurangnya dukungan dari rumah, lingkungan belajar yang tidak mendukung, pengaruh teman sebaya, serta penggunaan gadget yang berlebihan ikut memperlambat proses hafalan. Dengan memahami berbagai kendala ini, diharapkan seluruh pihak mencakup orang tua, guru, bahkan siswa sendiri bisa lebih peka dan bekerjasama supaya hafalan Al-QurAoan mampu berlangsung dengan lancar serta menggembirakan Kata Kunci: Keterlambatan. Hafalan. Juz 30. Kelas. Tahfidz PENDAHULUAN Al- Qur'an berperan sebagai kalam Allah yang diterimanya oleh Nabi Muhammad SAW selaku mukjizat abadi yang tidak lekang oleh waktu. Al- Qur'an tersimpan di lubuk para penghafalnya, dibaca secara lisan, ditulis dalam mushaf, diketahui susunan surat dan ayatnya, serta huruf dan katanya terjaga dari perubahan atau pengurangan. Penurunan AlQur'an terjadi melalui suatu perantara, yakni malaikat jibril, al- qurAoan dilakukan penurunan serta diteruskan kepada kita melalui jalur periwayatan yang mutawatir dalam sejarah. Sebagai umat Islam, kita dituntut untuk mempelajari berbagai ilmu yang bermanfaat dalam kehidupan, termasuk mempelajari Al- Qur'an. Salah satu wujud pembelajaran tersebut berupa menghafalnya. Adanya aktivitas menghafal Al- Qur'an, kita tidak sekadar mempelajarinya, namun turut menjaga kemurniannya, seperti yang sudah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW, tabi'ut tabi'in, tabi'in, para sahabat, serta para ulama terdahulu. Dalam Islam, melakukan harafalan Al- Qur'an masuk dalam lingkup ibadah jikalau dilaksanakan dengan niat ikhlas sebab Allah SWT serta semata- mata mengharap keridhaanNya. Amalan ini termasuk amalan yang mulia dan terpuji. Para ulama setuju bahwasanya menghafal Al- Qur'an memiliki hukum fardhu kifayah. Ada beberapa hadits Nabi Muhammad SAW yang mengulas perihal keutamaan orang yang membaca, melakukan harafalan, ataupun mempelajari Al- Qur'an. (Al-Hafidz, 2. Melaksanakan penghafalan al-qurAoan dapat mulai diimplementasikan kepada siswa sejak jenjang sekolah dasar. Selain selaku sarana dalam mengkaji isi Al-QurAoan, kegiatan menghafal juga menjadi langkah awal dalam mengenalkan kitab suci tersebut kepada anakanak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan bernuansa nilai-nilai agama akan memiliki pondasi kuat yang berdampak positif terhadap kehidupannya saat dewasa kelak. Pertumbuhan aspek jasmani maupun rohani akan berjalan seimbang, mendukung kesuksesan siswa di masa Sehingga, salah satu bentuk bekal tersebut dapat diwujudkan melalui integrasi program tahfidz juz 30 dalam kegiatan pembelajaran. Secara umum, pelaksanaan program tahfidz dilakukan dengan beragam pendekatan atau metode pembelajaran. Beberapa metode yang telah terbukti efektif antara lain ialah metode talaqqi, yaitu metode di mana siswa menyetorkan hafalannya secara langsung kepada guru, sehingga guru dapat memperbaiki bacaan yang keliru dalam tajwid maupun makharijul Kemudian, ada metode simaAoi yang mengandalkan pendengaran siswa, di mana mereka mendengarkan terlebih dahulu bacaan Al-QurAoan sebelum menghafalnya. Selanjutnya, terdapat metode tikrar, yaitu metode yang dilakukan dengan mengulang-ulang Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah bacaan serta menyetorkan kembali hafalan yang telah dihafal atau pernah disampaikan kepada guru tahfidz. Metode ini secara tidak langsung sudah menjadi bagian dari proses yang ditempuh oleh masing-masing penghafal Al-QurAoan yang dilaksanakan secara sadar maupun (Siregar, 2. Metode murajaAoah secara berkelompok juga merupakan salah satu strategi yang dinilai efektif karena mampu menumbuhkan rasa percaya diri siswa melalui kegiatan mendengarkan hafalan dari teman sebayanya. Di beberapa madrasah, bahkan diterapkan sistem penetapan target hafalan tertentu untuk mendorong motivasi siswa dalam menyelesaikan hafalan Namun, realitas di lapangan memperlihatkan bahwasanya tidak semua siswa dapat menyelesaikan hafalan sesuai target yang sudah ditetapkan. Perihal tersebut dikarenakan oleh beragam faktor, mencakup yang muncul dari dalam diri siswa seperti minimnya motivasi serta daya ingat yang terbatas, maupun dari luar seperti kurang tepatnya metode pembelajaran, lingkungan belajar yang tidak kondusif, serta minimnya dukungan dari orang tua dan guru. Banyak siswa yang menghadapi kesulitan dalam mempertahankan konsistensi menghafal karena kurangnya pendampingan serta metode yang tidak sesuai dengan gaya belajar masing-masing individu. Kondisi serupa juga terjadi di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudhatul MaAoarif. Di madrasah ini, telah ditetapkan target khusus untuk menyelesaikan hafalan AlQurAoan. Namun, tetap ditemukan sejumlah siswa yang belum mencapai target tersebut, sehingga mereka belum dapat mengikuti prosesi wisuda tahfidz. Beberapa siswa menyampaikan bahwa mereka mengalami hambatan dalam menghafal maupun dalam menjaga hafalan yang telah dimiliki, yang sebagian besar disebabkan oleh minimnya bimbingan dan pendampingan. Permasalahan ini semakin kompleks karena dipengaruhi oleh kondisi lingkungan Banyak orang tua yang tidak terlibat secara aktif dalam mendampingi anak-anak mereka menghafal di rumah. Akibatnya, anak-anak mudah terdistraksi oleh aktivitas-aktivitas yang kurang bermanfaat dari lingkungan luar tanpa pengawasan orang tua. Keterlambatan penyelesaian hafalan ini tidak sekadar dipicu oleh ketidakhadiran orang tua di rumah, namun juga oleh kurangnya upaya pendampingan secara intensif. Akibatnya, siswa jarang bahkan tidak pernah melakukan pengulangan hafalan di rumah. Untuk dapat merumuskan solusi yang tepat dalam mendisiplinkan siswa dalam proses menghafal, maka perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam mengenai penyebab keterlambatan tersebut. Sehingga, peneliti memiliki ketertarikan dalam mengulik lebih dalam perihal faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan siswa dalam menyelesaikan target hafalan juz 30 di MI Raudhatul MaAoarif. Kajian ini akan menerapkan pendekatan studi kasus dengan fokus analisis pada berbagai faktor penyebab keterlambatan serta metode pengajaran yang efektif dalam kegiatan pembelajaran tahfidz di MI Raudhatul MaAoarif. Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah METODE PENELITIAN Kajian ini memanfaatkan metode kualitatif serta pendekatan deskriptif. Berdasarkan pemaparan (Tanzeh, 2. , sebagaimana dijelaskan oleh Moleong, penelitian kualitatif ialah jenis penelitian yang hasilnya berupa data deskriptif berwujud uraian secara mendalam, mencakup dalam bentuk tertulis maupun lisan dari individu atau subjek yang dikaji. Pendekatan deskriptif yang diterapkan pada kajian ini memiliki tujuan agar dapat merepresentasikan berbagai fenomena (Moleong, 2. Adapun tahapan pelaksanaan penelitian dimulai dari tahap persiapan, yaitu menyusun rancangan penelitian, menetapkan informan, dan menyiapkan segala perangkat yang Tahap kedua merupakan tahap inti, yakni proses pengumpulan data melalui wawancara dengan seluruh informan yang relevan dengan fokus kajian, untuk memperoleh data yang komprehensif. Setelah itu, dilakukan pengecekan ulang terhadap berbagai data yang sudah didapat guna mengidentifikasi aspek-aspek yang mungkin belum tergali. Tahap selanjutnya adalah penyusunan hasil temuan lapangan. Peneliti kemudian menganalisis data yang terkumpul secara menyeluruh, dilanjutkan dengan proses reduksi data, penyajian data secara sistematis, maupun perumusan kesimpulan akhir dari hasil penelitian. Pengambilan data dilaksanakan dengan memvalidasi informasi yang didapat dari berbagai sumber seperti kepala Madrasah Ibtidaiyah Raudhatul MaAoarif Bungo, wali kelas, guru tahfidz, serta siswa. Langkah ini memiliki tujuan agar dapat menguji validitas data serta membangun kepercayaan terhadap informasi yang diberikan oleh para informan. Teknik pengumpulan data yang diterapkan pada kajian ini mencakup pelaksanaan observasi dengan cara langsung yang dilakukannya di lapangan, wawancara bersifat mendalam dengan para pihak yang menjadi informan utama, serta telaah dihadapkan dengan dokumen-dokumen yang relevan. Informan pada kajian ini mencakup kepala madrasah, wali kelas, guru pengampu tahfidz, dan para siswa. Terkait hal analisis data, kajian ini mengadopsi model dari Miles dan Huberman yang berisi tiga komponen utama, seperti reduksi data, penyajian data, serta perumusan Agar dpat menjamin keabsahan data, digunakan teknik kredibilitas, yang bertujuan memastikan bahwasanya data yang didapat sejalan dengan kenyataan di lapangan (Saadah et al. , 2. Keabsahan hasil juga diuji melalui berbagai teknik seperti pengamatan secara intensif dan penggunaan triangulasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Al-QurAoan Selaku kitab suci dari agama Islam. Al-QurAoan berperan menjadi petunjuk hidup peruntukkannya bagi umat Muslim yang adanya di seluruh dunia, dengan tujuan memperoleh hidayah dari Allah SWT dan menjadi landasan etika dalam kehidupan mereka. Al- qurAoan mampu dimanfaatkan sebagai acuan dalam menghadapi permasalahan dalam hidup. Dengan landasan tersebut Al- qurAoan mampu dimanfaatkan sebagai tuntunan hidup serta mampu menyebar luaskan pesan- pesan yang dimuat di dalamnya. Pada definisi lainnya. Al- QurAoan diterima oleh Nabi Muhammad SAW melalui jalur periwayatan mutawatir, dengan lafaz yang berbahasa Arab, dan umat Islam diperintahkan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah untuk membacanya sebagai bentuk ibadah dan pengamalan ajaran Islam. (Aminuddin, 2. Menurut M. Quraish Shihab. Al-QurAoan ialah wahyu Ilahi yang berwujud mukjizat peruntukkannya bagi Nabi Muhammad SAW serta disampaikan oleh Malaikat Jibril. Baik lafaz maupun makna yang dikandungnya berasal langsung dari Allah SWT. Al- QurAoan turun dengan cara bertahap, dan setiap kali dibaca akan bernilai ibadah. Susunan mushafnya diawali dengan Surah Al- Fatihah serta ditutup dengan Surah An- Nas. (Shihab, 2. Berdasarkan pendapat Abdul Wahab Khallaf sebagaimana dikutip oleh Ngainun Naim. Al-QurAoan diketahui berperan selaku kalam Allah yang Nabi Muhammad SAW terima dengan Malaikat Jibril selaku perantaranya, dengan memakai bahasa Arab serta membawa kebenaran selaku bukti kerasulan beliau. Al-QurAoan turut berfungsi menjadi sarana ibadah serta pendekatan diri kepada Allah SWT. Seluruh isi Al-QurAoan telah dihimpun dalam bentuk mushaf, diturunkan secara berangsur, dan diwariskan secara turun-temurun melalui hafalan maupun tulisan. Kandungannya tetap terjaga secara utuh dari segala bentuk penyimpangan atau perubahan. (Naim, 2. Menurut pembagian periode dalam sejarah turunnya Al-QurAoan, wahyu dibagi ke dalam dua fase utama. Fase pertama terjadi sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW, sekitar tahun 611 M, di mana ayat-ayat yang Allah turunkan saat masa ini dikenal sebagai ayat-ayat Makkiyah. Kandungan ayat Makkiyah umumnya berfokus pada pembinaan keimanan, dengan tujuan untuk memperbaiki dan meluruskan keyakinan masyarakat Arab saat itu yang masih berada dalam era jahiliyah. Fase kedua terjadi setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah di tahun 622 M, dan ayat-ayat yang diturunkan pada periode ini dikenal sebagai Madaniyah. Secara keseluruhan, isi Al-QurAoan mencakup berbagai petunjuk yang meliputi ajaran akidah, prinsip-prinsip akhlak, serta hukum-hukum yang berkaitan dengan aspek amaliah umat Islam. Al-QurAoan ialah kitab suci yang keaslian serta kebenarannya tetap terjaga secara utuh hingga kini. (Effendi, 2. Dari berbagai pandangan yang telah dikemukakan, mampu ditarik kesimpulan bahwasanya Al-QurAoan berperan selaku firman suci yang diturunkannya oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui suatu perantara, yakni Malaikat Jibril, selaku mukjizat yang menegaskan kerasulannya. Sepanjang sejarahnya. Al-QurAoan berperan menjadi petunjuk hidup bagi seluruh insan yang perlu dipahami, dipelajari, serta diamalkan dalam keseharian hidup umat Islam. Pembelajaran Tahfidz Al-QurAoan Juz 30 Istilah tahfidz dalam bahasa Arab merujuk pada aktivitas menghafal. Secara etimologis, kata ini berawal dari AuhafidzaAeyahfadzuAehifdzanAy, yang mana adalah kebalikan dari AulupaAy (Yunus, 1. Sedangkan, berdasarkan perspektif Abdul Aziz Rauf, aktivitas menghafal adalah suatu proses yang dilakukan dengan mengulang-ulang materi, dengan melalui bacaan maupun pendengaran. Hal ini karena sesuatu yang dilaksanakan dengan konsisten dapat semakin mudah diingat dan dikuasai oleh pelakunya. (Rauf, 2. Juz 30 terdiri dari beragam surah yang adanya di Al-QurAoan yang memiliki ciri khas berupa ayat-ayat yang relatif pendek. Secara umum, jumlah kata dalam ayat-ayat tersebut tidak banyak, sehingga lebih mudah dalam dihafalkan, terutama oleh anak-anak. (Suwais. Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Menurut perspektif Sa'dullah, proses menghafal Al-QurAoan sebaiknya diawali dari tingkatan dasar, yakni dengan menghafal juz Amma terlebih dahulu. Berikutnya, dapat diteruskan dengan melakukan penghafalan beberapa surat pilihan misalnya surat Al-WaqiAoah. Ar-Rahman. Al-Mulk, maupun surat-surat lainnya. (SaAodullah, 2. Program berupa pembelajaran tahfidz juz 30 di Madrasah Ibtidaiyah Raudhatul MaAoarif Bungo dipandu oleh guru tahfidz khusus. Kegiatan tahfidz ini berlangsung setiap hari Senin hingga Kamis pada sesi terakhir, yaitu setelah sholat Dzuhur dan waktu makan siang. Seluruh siswa kelas empat, lima, dan enam di Madrasah Ibtidaiyah Raudhatul MaAoarif Bungo tersebut mengikuti program ini, dengan pembagian surat yang berbeda sesuai tingkatannya agar dapat dihafal. Pada pembelajaran tahfidz juz 30, guru tentu telah menyusun perencanaan pembelajaran supaya target yang hendak digapai mampu terlaksanakan dengan baik. Proses pembelajaran diawali dengan menganalisis kondisi dan kebutuhan siswa sebagai dasar dalam mengembangkan rencana pembelajaran tahfidz. Dengan adanya perencanaan yang sistematis, wali kelas mampu melakukan pemahaman metode serta sasaran yang harus ditempuh agar dapat menggapai kesuksesan dalam pembelajaran. (Supratihaningrum, 2. Untuk menggai target hafalan serta kesuksesan dalam pembelajaran tahfidz juz 30 di Madrasah Ibtidaiyah Raudhatul MaAoarif Bungo, digunakan minimal empat metode hafalan. Metode ialah suatu pendekatan atau cara yang diterapkan agar dapat menggapai tujuan dari pelaksanaan pembelajaran yang terlah dibuat. (Armizi, 2. Metode hafalan yang diterapkan di Madrasah Ibtidaiyah Raudhatul MaAoarif Bungo mencakup talaqqi, simaAoi, tikrar, serta murojaAoah secara kelompok. Pengertian Metode Talaqqi. SimaAoi. Tikrar dan MurojaAoah Berkelompok Metode Talaqqi Secara bahasa. AutalaqqiAy berakar dari istilah Autalaqqa Ae yatalaqqaAy yang berasal dari AufiAoil laqiya Ae yalqa Ae liqaAoanAy, yang memiliki arti berhadapan, menerima, bertemu, ataupun Secara terminologi, talaqqi merujuk pada metode pengajaran Al-QurAoan yang dilaksanakan oleh Malaikat Jibril AS kepada Nabi Muhammad SAW. Metode ini menyampaikan pengajaran Al-QurAoan secara langsung, yaitu melalui proses turun-temurun dari sebuah generasi ke generasi setelahnya, di mana seorang guru membimbing muridnya secara lisan. Sementara. SaAodulloh mengartikan AutalaqqiAy sebagai proses memperdengarkan hafalan baru kepada guru untuk mendapatkan bimbingan dan koreksi. Guru tersebut harus merupakan seorang hafidz Al-QurAoan yang memiliki pemahaman agama serta maAorifat yang secara nilai kuat, sekaligus diketahui dapat melindungi dirinya dengan baik. Berdasarkan pemaparan Hasan bin Ahmad bin Hasan Hamam dijabarkan bahwasanya talaqqi merupakan proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan cara langsung dengan seorang ahli dalam membaca Al-QurAoan. Mengacu penjelasan di atas, mampu ditarik kesimpulan bahwasanya metode talaqqi ialah cara belajar Al-QurAoan yang melibatkan beberapa tahapan, mulai dari mendengarkan, memperhatikan dengan seksama, meniru apa yang diajarkan oleh guru secara lisan, lalu Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah mempraktikkan atau membacakan kembali apa yang telah dipelajari kepada guru tersebut. Pendapat tersebut sejalan dengan Sayyid yang menyatakan bahwasanya metode talaqqi adalah teknik menghafal dengan membacakan ayat-ayat yang hendak dihafal secara berulang kepada siswa. Keunggulan metode talaqqi terletak pada keaslian serta kesinambungan proses pengajaran yang terjaga secara turun-temurun. Melalui metode ini, sanad atau rantai pengajaran Al-QurAoan mampu dipertanggungjawabkan hingga kepada Rasulullah SAW, sehingga menjadikannya sebagai sebuah cara pembelajaran Al-QurAoan yang paling autentik. Metode ini juga menegaskan peran aktif antara guru dan murid, sehingga membentuk kondisi belajar yang interaktif dan efektif. Metode SimaAoi SimaAoi dalam bahasa Arab berarti mendengarkan. Maksud dari mendengarkan di sini adalah saat seseorang ingin menghafal, ia harus mendengarkan bacaan terlebih dahulu. Metode ini biasanya dilakukan dengan bimbingan seorang pendidik yang membacakan ayat untuk dihafal, atau dapat juga menggunakan alat perekam sebagai media bantu. (Ahsin. Metode simaAoi merupakan teknik pembelajaran hafalan Al-QurAoan yang mengutamakan kemampuan mendengar sebagai sarana utama dalam menghafal. Pada metode ini, siswa mendengar secara seksama bacaan Al-QurAoan yang disampaikan oleh guru ataupun melalui rekaman audio, kemudian mengulangi bacaan tersebut secara berulang. Prinsip utama metode simaAoi adalah pengulangan agar siswa dapat menguasai pelafalan dan irama bacaan dengan baik. Metode SimaAoi dirancang agar dapat memperkuat kemampuan hafalan serta pemahaman siswa terhadap Al-QurAoan dengan memadukan pengulangan, pendengaran, serta pengulangan secara visual. Pendekatan ini bertujuan membangun hubungan yang erat antara siswa dan teks Al-QurAoan, mempermudah proses menghafal, dan memberikan peningkatan terhadap mutu bacaan serta pemahaman terhadap ayat-ayat suci. Metode simaAoi memiliki beberapa kelebihan yang menjadikannya efektif untuk pembelajaran Al-QurAoan. Pertama, metode ini menegaskan pada keterampilan mendengar, sehingga siswa dapat belajar secara auditori, yang sangat berguna terutama bagi mereka yang belum lancar membaca. Dengan mendengarkan bacaan dari guru atau rekaman, siswa lebih mudah melakukan penghafalan beragam ayat yang adanya di Al-QurAoan tanpa harus bergantung pada teks, yang sering kali menjadi hambatan bagi pemula. Selain itu, metode simaAoi mendukung pengulangan secara efektif, di mana siswa mendengarkan bacaan berulang kali sehingga memperkuat daya ingat dan meningkatkan kualitas hafalan. Metode Tikrar Menurut SaAodulloh, metode tikrar adalah suatu proses pengulangan hafalan, baik dengan memperdengarkannya kepada guru tahfidz maupun melalui pengulangan mandiri. Tujuan utama dari tikrar adalah untuk menjaga dan mempertahankan hafalan yang telah dikuasai agar tetap kuat dan tidak mudah terlupakan. Ketika dilakukan secara mandiri, tikrar bertujuan untuk memantapkan hafalan agar lebih mutqin dan tertanam dengan baik dalam Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Menurut Saiful Aziz . Tikrar atau pengulangan ayat yang ingin dihafal, dilakukan dengan cara membaca ayat tersebut berulang kali. Pengulangan ini dilakukan setelah membacanya dengan memperhatikan kaidah tajwid serta mengusahakan melantunkannya seindah mungkin sesuai kemampuan. Ulangi ayat tersebut beberapa kali sampai sungguh-sungguh bisa menghafalnya dengan baik. Dapat disimpulkan bahwa metode tikrar merupakan sebuah teknik dalam proses menghafal, terutama di pelaksanaan pembelajaran tahfidz Al-QurAoan. Metode ini menitiberatkan dihadapkan pada pengulangan bacaan secara terus-menerus untuk membantu peserta didik mengingat serta menyimpan hafalan dalam ingatan jangka panjang. Pelaksanaannya dimulai dengan guru yang melafalkan ayat secara jelas dan lantang, lalu peserta didik menirukan atau mengulang bacaan tersebut. Dengan metode ini, tidak hanya hafalan yang diperkuat, tetapi juga peserta didik dapat mengenali kesalahan dalam bacaan mereka dan langsung melakukan perbaikan. Keunggulan metode tikrar terletak pada efektivitasnya dalam membantu hafalan menjadi lebih kuat dan tahan lama. Melalui pengulangan yang dilakukan secara konsisten, siswa lebih mudah mengingat materi yang sudah dipelajari serta merasa semakin percaya diri ketika mengucapkan ayat atau hadis tanpa harus melihat teks. Selain itu, metode ini juga membentuk kedisiplinan dan keteraturan dalam proses menghafal, karena peserta didik dituntut untuk mengulang hafalan secara rutin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang menerapkan metode tikrar mengalami peningkatan kemampuan menghafal secara signifikan dibandingkan dengan metode tradisional lainnya, sehingga menjadikannya pendekatan yang efisien dalam pembelajaran agama. Metode MurojaAoah Berkelompok Iatilah murojaAoah (A (IAialah mashdar yang secara asal dari kata kerja rajaAoa (A( A - yurajiu (A( OA. Istilah tersebut terbentuk dari kata yang terbentuk dari huruf raAo (A(A, jim (A(A, serta ain (A( Ayang diartikan sebagai pulang ataupun kembali. Setelah itu kata AumurojaAoahAy sendiri berati sebagai mengecek, memeriksa kembali, serta meninjau ulang. Mengulang hafalan Al-QurAoan dikenal dengan istilah murojaAoah dikarenakan aktivitas tersebut tidak mampu dilaksanakan kecuali sesudah kembali dulu ke belakang, lalu maju lagi. MurojaAoah adalah metode penting yang dimanfaatkan dalam mempertahankan hafalan Al-QurAoan agar selalu terpelihara sekaligus semakin lancar. Upaya mempertahankan hafalan Al-QurAoan tidak sekadar dilaksanakan dengan cara melakukan pengulangan mandiri, namun juga bisa melalui mendengarkan bacaan dari orang lain, rekaman, atau media audio lainnya. Selain itu, hafalan juga dapat dipelihara dengan cara memperhatikan mushaf secara visual tanpa perlu membacanya dengan suara. Maka dapat disimpulkan Metode MurojaAoah Berkelompok adalah sebuah pendekatan dalam melakukan penghafalan Al-QurAoan yang melibatkan kerja sama antar peserta didik dalam sebuah kelompok. Dalam pelaksanaannya, setiap anggota kelompok secara bergantian menyetorkan hafalan mereka di hadapan rekan-rekan sekelompok yang berperan sebagai Cara ini tidak sekadar memperkuat hafalan secara individu, namun turut membentuk suasana belajar yang saling mendukung. Melalui umpan balik langsung dari Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah anggota kelompok, kesalahan dalam bacaan dapat segera diketahui dan diperbaiki. Di sisi lain, metode ini turut membangun rasa tanggung jawab dan kedisiplinan, karena setiap peserta dituntut untuk menyiapkan hafalannya sebelum sesi murojaAoah berlangsung. Keunggulan Metode MurojaAoah Berkelompok terletak pada efektivitasnya dalam meningkatkan kualitas hafalan secara signifikan. Berdasarkan hasil penelitian, siswa yang menerapkan metode ini menunjukkan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dalam menghafal dibandingkan dengan yang menggunakan pendekatan individual. Hal ini karena adanya dukungan emosional dan motivasi dari sesama anggota kelompok, yang membantu mengurangi rasa gugup atau tekanan selama proses menghafal. Selain itu, interaksi sosial dalam kegiatan murojaAoah mempererat hubungan antar peserta didik serta membangun kondisi belajar yang semakin mengasyikkan. Metode ini juga memudahkan pengajar dalam memantau perkembangan masing-masing siswa dan memberikan bantuan yang sejalan dengan kebutuhannya, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efisien dan terarah. Oleh karena itu. MurojaAoah Berkelompok tidak sekadar berperan sebagai metode penghafalan, namun turut berperan sebagai wadah dalam membentuk komunitas belajar yang kokoh di kalangan para pihak yang menjadi penghafal Al-QurAoan. Penyebab Keterlambatan Siswa Dalam Menuntaskan Hafalan Juz 30 Program melakukan harafalan Al-QurAoan yakni suatu kewajiban yang dibebankan kepada siswa agar melakukan hafalan dihadapkan dengan beragam ayat suci yang adanya di Al-QurAoan. Di pelaksanannya, para penghafal dituntut untuk menjaga perilaku, pikiran, serta kemampuan mereka sebaik mungkin demi mencapai hasil yang diinginkan. Di MI Raudhatul MaAoarif Bungo, siswa menjalankan program hafalan Al-QurAoan khususnya Juz 30, di mana guru berperan sebagai pembimbing dalam proses tersebut. Tentunya, dalam pelaksanaannya terdapat berbagai faktor yang dapat mendukung maupun menghambat jalannya program. Permasalahan yang sering dihadapi oleh guru dalam membimbing hafalan Juz 30 berasal dari dua sumber, yakni faktor berkategori internal yang sumbernya muncul secara asal dari dalam diri siswa, sementara faktor berkategori eksternal yang sumbernya secara asal dari lingkungan luar. Faktor Internal Di bawah ini permasalahan faktor berkategori internal yang dihadapi peserta didik MI Raudhatul MaAoarif Bungo dalam menghafal Juz 30: Tidak Istiqamah MurajaAoah atau mengulang hafalan Dalam aspek bahasa murajaAoah berakar dari bahasa Arab AurajaAoa - yurajiAouAy yang berarti kembali. Sementara dalam aspek istilah berarti mengulang ataupun mengingat berkalikali suatu hal yang sudah dihafalkan. MurajaAoah dapat diartikan sebagai metode pengulangan hafalan yang dilakukan dengan cara berkesinambungan. Sejumlah materi pelajaran, khususnya yang harus dihafal, tidak hanya perlu dihafalkan sekali, tetapi juga diulang kembali secara rutin. Sebuah kendala di cakupan proses melakukan penghafalan Al-QurAoan yakni ketidakkonsistenan siswa dalam memperbanyak hafalan baru maupun dalam melakukan pengulangan terhadap hafalan yang sudah dimiliki, sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga hafalan tetap kuat dan terpelihara. Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Hafalan Al-QurAoan cenderung mudah terlupakan apabila tidak rutin diulang atau dimurajaAoah oleh penghafalnya. Pada dasarnya, keistiqamahan merupakan faktor utama dalam menjaga hafalan agar tetap kuat dan terpelihara. Sehingga, metode yang paling efektif untuk mencegah terjadinya kelupaan dan kesalahan dalam hafalan adalah dengan melakukan pengulangan kembali ayat-ayat yang sudah dihafalkan secara konsisten. (Al-Hafidz M. Oleh karena itu, hafalan yang telah disampaikan kepada guru dan dihafalkan dengan baik terkadang dapat terlupa atau bahkan hilang seiring waktu. Untuk menghindari hal tersebut, sangat krusial bagi seorang individu yang menjadi penghafal Al-QurAoan agar rutin melaksanakan murajaAoah atau pengulangan hafalan. Berlandaskan hasil observasi yang sudah dilaksanakan oleh penulis, tidak sedikit siswa yang masih belum lancar saat melakukan penyetoran hafalan. Perihal ini umumnya disebabkan kurangnya kebiasaan mereka dalam melakukan murajaAoah termasuk di lingkungan sekolah maupun di rumah. Kurang fasih dalam membaca Al-QurAoan suatu tantangan dalam proses melakukan hafalan Al-QurAoan mencakup terdapatnya siswa yang belum dapat membaca Al-QurAoan dengan baik serta sekadar mengandalkan bacaan dalam huruf latin. Hal ini menyebabkan banyak kesalahan saat menyetorkan hafalan kepada guru, baik dalam pelafalan, makhraj huruf, maupun kaidah tajwid. Merujuk hasil wawancara bersama guru Tahfidz. Ibu Putri Putri Purwasih, terungkap bahwasanya satu dari sejumlah rintangan utama dalam melakukan hafalan Al-QurAoan mencakup keterampilan membaca siswa yang masih lemah ataupun terbata-bata. Tidak hanya wawancara, peneliti juga menyelenggarakan observasi saat pelajaran Tahfidz berlangsung. Dalam observasi tersebut, ditemukan sejumlah siswa yang merasa sukar membaca Al-QurAoan dengan lancar sebagian dari mereka hanya mampu mengenali huruf hijaiyah tanpa mengetahui bentuk tulisannya, dan masih menjumpai permasalahan dalam hal membaca teks Al-QurAoan dengan menyeluruh. Melalui hasil wawancara serta observasi tersebut, mampu disimpulkan bahwasanya kurangnya keterampilan membaca Al-QurAoan menjadi sebuah faktor utama yang menghambat proses menghafal bagi siswa. Pada prinsipnya, membaca Al-QurAoan adalah upaya awal sebelum proses melakukan harafalan dilakukan. Meskipun demikian, di Raudhatul MaAoarif masih dijumpai sejumlah siswa yang belum mempunyai kemampuan membaca beragam ayat yang adanya di AlQurAoan dengan cara yang baik. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengajar dalam membimbing peningkatan hafalan, khususnya bagi siswa yang belum memmempunyaiiliki penguasaan terkait keterampilan membaca Al-QurAoan. Kemampuan Setiap siswa mempunyai tingkat keterampilan yang tidak sama. Berdasarkan pernyataan dari guru Tahfidz. Ustadzah Musrifah, terdapat sejumlah siswa yang memiliki keterampilan di bawah rata-rata, oleh karena itu siswa merasa kesulitan dalam melakukan harafalan Al-QurAoan. Sehingga, sebagai guru Tahfidz, beliau wajib semakin sabar dan telaten dalam memberikan bimbingan kepada mereka. Meskipun demikian, peserta didik dengan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah kemampuan yang terbatas tersebut tetap menunjukkan semangat yang tinggi dalam melakukan harafalan Al-QurAoan. Terlalu berambisi untuk menambah hafalan Sebagian siswa menunjukkan semangat tinggi dalam melakukan harafalan Al-QurAoan, dikarenakannya siswa saling berlomba agar dapat segera merampungkan target hafalan Juz Namun, saat menyetorkan hafalan kepada guru, bacaan siswa seringkali belum lancar, bahkan hafalan sebelumnya banyak yang telah terlupakan. Mereka cenderung hanya mengingat hafalan yang baru saja dipelajari. Hasil wawancara dengan wali kelas 4. Ibu Yuni, mengungkapkan bahwa sebagian besar peserta didik hanya fokus pada hafalan terbaru tanpa mengulang kembali hafalan yang telah dipelajari sebelumnya. Banyak dari mereka juga hanya mampu mengingat hafalan untuk sementara waktu, yang disebabkan oleh ambisi yang terlalu besar dalam menambah jumlah Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa ambisi yang berlebihan dalam menambah hafalan justru dapat menghambat proses hafalan itu sendiri. Hal ini menyebabkan peserta didik menjadi kurang lancar dalam menghafal dan harus mengulang kembali hafalan yang sudah pernah mereka pelajari, serta perlu memperbaiki kembali bacaan mereka. Faktor Eksternal Di bawah ini permasalahan faktor berkategori eksternal dalam melakukan hafalan AlQurAoan pada siswa di MI Raudhatul MaAoarif Bungo : Teman Sebaya Keberadaan teman sejawat ataupun teman sekelas ternyata cukup memengaruhi hambatan dalam melakukan harafalan Al-QurAoan, sebagaimana yang terlihat dari hasil observasi penulis. Selama pelaksanaan kelas Tahfidz, guru biasanya menginstruksikan peserta didik untuk terlebih dahulu menghafalkan bagian yang akan disetorkan, dengan tujuan agar mereka dapat menyetorkan hafalannya dengan lancar. Namun, dalam praktiknya, terdapat sejumlah siswa yang tidak mematuhi arahan guru serta justru memilih bermain-main di kelas. Perilaku ini mengganggu konsentrasi peserta didik lain yang sedang menghafal, bahkan tak jarang membuat mereka terdistraksi dan ikut terdorong untuk tidak fokus karena pengaruh dari teman yang tidak tertib. Tempat Menghafal Merujuk hasil wawancara dengan seorang siswa kelas 4. Farid Adrisam, diketahui bahwa proses menghafal Al-QurAoan menjadi terganggu saat kondisi kelas tidak kondusif, terutama akibat ulah teman-teman yang bermain-main selama pelajaran berlangsung. Sementara itu. Adelia Balqis menyampaikan bahwa ia sering merasa tidak nyaman saat menghafal Al-QurAoan di kelas sebab cuaca yang panas serta waktu pelajaran Tahfidz yang berlangsung pada siang hari, sehingga membuatnya sulit untuk berkonsentrasi. Merujuk hasil wawancara dengan sejumlah narasumber sebelumnya dapat disimpulkan bahwa suasana kelas yang kurang mendukung serta keterbatasan dalam sarana Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah dan prasarana turut menjadi faktor penghambat proses melakukan harafalan Al-QurAoan bagi Lingkungan di rumah Terdapat anjuran bagi penghafal Al-QurAoan agar tetap konsisten dalam melakukan murajaAoah maupun memperbanyak hafalan baru, baik saat di sekolah ataupun di rumah. Guru senantiasa mengingatkan siswa agar tetap melanjutkan hafalan yang dilakukannya saat berada di rumah. Namun, kenyataannya banyak siswa yang tidak meluangkan waktu agar dapat menghafal di rumah. Mereka cenderung lebih memilih bermain di luar rumah daripada menambah hafalan. Salah satu penyebab dari kondisi ini adalah kurangnya dukungan dan perhatian dari orang tua terhadap kegiatan menghafal anak-anak mereka. Penggunaan Media Elektronik /HP Di era modern penuh digitalisasi saat ini, perangkat elektronik seperti handphone berperan sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun penggunaannya idealnya disesuaikan dengan usia, kenyataannya banyak siswa di jenjang Sekolah Dasar sudah mulai menggunakan handphone. Perihal tersebut mampu menjadi sebuah faktor yang mengganggu proses melakukan penghafalan Al-QurAoan. Berlandaskan hasil pelaksanaan wawancara dengan seorang siswa kelas 5 bernama Abiyu, diketahui bahwasanya ia telah menggunakan handphone secara aktif. Perlu diketahui bahwa handphone memancarkan gelombang radio yang mengandung radiasi, dan hal ini dapat berdampak pada tubuh manusia khususnya pada jaringan-jaringan yang memiliki kandungan air tinggi seperti otak, otot, dan bagian tubuh lainnya. (Putra. Penggunaan handphone secara berlebihan, seperti terlalu sering menatap layar untuk menjelajahi media sosial, mampu mengurangi tingkat konsentrasi serta membuat seseorang menjadi kurang fokus. Kebiasaan ini juga berpotensi melemahkan fungsi otak serta menyebabkan ketegangan pada otot mata. Akibatnya, hal tersebut dapat menjadi hambatan bagi peserta didik dalam proses belajar mereka. PENUTUP Penelitian ini memperlihatkan bahwasanya keterlambatan siswa dalam merampungkan hafalan Juz 30 di MI Raudhatul MaAoarif terpengaruh dua faktor utama, antara lain faktor internal serta eksternal. Dari faktor internal, kendala utama terletak pada minimnya rutinitas dalam melakukan pengulangan hafalan . urajaAoa. , kurangnya kelancaran dalam membaca Al-QurAoan, perbedaan tingkat kemampuan antar individu, serta sikap yang terlalu ambisius untuk menyelesaikan target hafalan lebih cepat namun justru membuat hafalan lama menjadi mudah terlupakan. Sementara itu, faktor eksternal meliputi lingkungan belajar yang kurang mendukung, gangguan dari teman sebaya, rendahnya keterlibatan keluarga dalam mendampingi proses hafalan di rumah, serta pengaruh negatif dari media elektronik seperti penggunaan ponsel yang berlebihan. Walaupun siswa memiliki motivasi tinggi dalam menghafal, keterbatasan bimbingan intensif dari guru dan orang tua serta metode pembelajaran yang belum sejalan dengan gaya belajar siswa menjadi kendala utama dalam menggapai target hafalan. Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Agar proses melakukan harafalan Al-QurAoan di tingkat madrasah ibtidaiyah berlangsung lebih optimal, diperlukan sinergi yang kuat antara guru, orang tua, serta siswa. Guru sebaiknya memiliki kepekaan terhadap keragaman kemampuan siswa serta menerapkan pendekatan yang fleksibel. Metode hafalan perlu disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan setiap anak, bukan menggunakan metode tunggal untuk semua. Di sisi lain, orang tua tidak sepatutnya menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab hafalan kepada pihak sekolah, tetapi juga berperan aktif di rumah, misalnya dengan mendengarkan hafalan anak atau memastikan anak melakukan pengulangan hafalan sebelum tidur. Bagi siswa sendiri, penting untuk memahami bahwa hafalan yang kokoh dibentuk melalui kebiasaan yang teratur, bukan dari mengejar banyak ayat dalam waktu singkat. Selain itu, pemakaian media elektronik seperti handphone perlu diawasi secara bijaksana, karena penggunaan yang berlebihan dapat mengganggu konsentrasi dan menghambat proses hafalan. Oleh karena itu, kolaborasi semua pihak sangat penting agar kegiatan menghafal Al-QurAoan tidak sekadar menjadi kewajiban akademik, namun juga pengalaman spiritual yang menyenangkan dan berkesan dalam kehidupan anak. DAFTAR PUSTAKA